Senin, 09 Juli 2012

"Negative Thinking"


Sebuah Pabrik di Simpang Bedukang Kab. Bangka (2011)
Negative thinking, diartikan sebagai pikiran negatif. Apa yang dipikirkan seseorang itu memiliki nilai-nilai yang negatif, baik maksudnya maupun tujuannya. Negative thinking dari seseorang dapat dipahami oleh orang lain, bila sudah diungkapkan entah itu melalui verbal ataupun melalui non verbal.

Negative thinking pun rupanya ada dipikiran seorang nabi, namanya Yehezkiel (bdk. Yeh. 2: 2 – 5). Ketika ia diutus oleh Allah untuk mewartakan Sabda Allah kepada umat Israel, Yehezkiel sendiri menolak. Dia menolak karena negative thinking terhadap umat Israel. Bahwa Israel sendiri adalah bangsa pemberontak.

Karena itu, ia takut bila diutus Allah ke Israel. Tetapi, Allah tetap meyakinkan Yehezkiel agar tugas perutusan itu dilaksanakan. Allah meyakinkannya bahwa misi tetap dijalankan, tidak bisa tidak. Walaupun umat Israel dengan situasi semacam itu. Soal Israel, yang pemberontak itu mendengar Sabda Allah atau tidak, itu bukan urusan Yehezkiel.

Brisur ancaman menjelang Pilgub Babel 2007
Negative thinking juga ada didalam diri rasul Paulus (2Kor. 12: 7 – 10). Paulus merasa bahwa apa yang dipikirkan secara negatif itu, merupakan ”beban dalam karya perutusan”. Karena itu, dia meminta kepada Kristus agar diambil dari dirinya sehingga ia mewartakan Sabda Allah dengan lebih tenang.

Negative thinking juga adalah dalam diri umat Nazareth yang sedang mendengarkan pewartaan Yesus. Mereka bukan mengagumkan kehebatan Yesus, tetapi berpikir negatif terhadap latar belakang Yesus.

Negative thinking, sering ada dan berakar dalam diri umat katolik. Sehingga terkadang muncul ketakutan, kecemasan dan kecut terhadap keputusan/hambatan yang dihadapi dalam hidup. Apalagi dalam hubungan dengan hidup sebagai anggota gereja. Banyak orang takut, cemas, dan malu menjalankan tugas perutusan Kristus. Seperti Yehezkiel dan Paulus, kita pun hendaknya semakin dekat dengan Kristus agar terus menerus dimotivasi Kristus untuk hidup dalam ”Positive thinking.” ***

Sabtu, 30 Juni 2012

“Maut Masuk ke dalam dunia”

Maut atau sering disebut dengan kematian, adalah kepastian. Karena kepastian, semua yang diciptakan akan mengalaminya. Namun, mesti diingat bahwa maut atau kematian, tidak diciptakan oleh Allah.

Kitab Kebijaksanaan Salomo dalam bacaan pertama (Keb. 1:13-15;2:23-24), mengatakan kepada kita bahwa ”kesucian itu kekal. Maut tidak dibuat oleh Allah. Maut, upah dari dosa. Maut, milik setan.”

Karena ciptaan-Nya itu tidak patuh, tidak taat, tidak setia pada-Nya, maut menyusup masuk ke dalam hidup ciptaan itu. Melalui maut itu, setan berusaha untuk masuk ke dalam dunia, dan mau menguasai dunia.

Untuk menguatkan diri bahwa karya Allah itu suci, dan karena itu kesucian perlu dipertahankan, sehingga maut tidak membinasakan kita, rasul Paulus dalam bacaan kedua (2Kor. 8: 7, 9, 13—15) menasihati kita agar pola hidup harus seimbang, antara yang rohani dan yang duniawi. Paulus menegaskan, berusaha untuk kaya dalam kemiskinan karena Kristus Yesus itu membawa kasih didalam diri kita.

Kasih Allah yang sempurna nyata dalam pribadi Yesus. Kasih Allah itu mengobarkan semangat hidup, mendorong kemauan untuk melangkah maju dan membangkitkan belarasa terhadap sesama.

Markus melukiskan Kabar Sukacita hari ini dalam Injil (Mrk. 5: 21—43) dengan pribadi Yesus yang peduli terhadap orang lain, mau menyelamatkan nyawa orang, mau supaya maut tidak hidup lagi didalam diri orang, didalam dunia ini.

Yesus memberantas maut, Yesus menghancurkan kejahatan setan dalam dunia, dengan cara membangkitkan Anak Yairus dan menyembuhkan seorang perempuan yang telah 12 tahun sakit.

Maut adalah kepastian. Karena itu, hidup yang tersisa sekarang dimanfaatkan dengan pola hidup yang seimbang, antara rohani dan duniawi. Hidup dalam kasih Allah. Hidup, menghidupkan kasih Allah yang ada didalam diri untuk sesama kita. Begitulah, kita menghindari maut, untuk keselamatan  kekal. ***

Selasa, 26 Juni 2012

KRISTUS: PENGANTARA PERJANJIAN BARU


Misa sore di Gua Maria Sungailiat
Musa, pengantara bangsa Israel dengan Allah dalam Perjanjian Lama (PL). Kitab Keluaran dalam bacaan pertama (Kel. 24: 3—8)  melukiskan perjanjian bangsa Israel dengan Allah; dengan pengantaraan Musa. Perjanjian itu dengan darah korban. Korban yang disembelih kemudian darahnya dicurahkan diatas mesbah. Ketika darah kurban itu tertumpah di atas mesbah, umat Israel yang hadir menyerukan sikap setia mereka terhadap Allah. Korban lalu dibakar, asapnya membubung tinggi ke atas tanda bahwa Allah merestui perjanjian kesetiaan mereka.

Perjanjian Lama oleh bangsa Israel dengan Allah itu, gagal ketika bangsa Israel tidak setia, tidak taat pada perjanjian. Kesetiaan Allah terhadap umat, dinodai oleh ketidaksetiaan manusia. Surat kepada umat Ibrani (Ibr. 9: 11—15) mengisahkan bahwa Perjanjian Lama itu telah diganti dengan Perjanjian Baru. Kristus-lah pengantara Perjanjian Baru itu. Kristus menebus Perjanjian Lama dalam darah korban dengan darah Yesus sendiri. Darah-Nya tertumpah di atas salib menjadi tebusan dosa-dosa bagi seluruh umat manusia. Bahkan bukan hanya itu, Kristus menyucikan fisik dan hati nurani umat-Nya, supaya umat-Nya selamat dan hidup bersama Dia.

Kunjungan TK Bhayangkari ke Gereja Katolik Sungailiat (29/2/2012)
Penyuciaan Kristus bagi umat-Nya dalam ”Tubuh dan Darah-Nya” (Mrk. 14: 12—16, 22—26), yang setiap kali kita terima. Inilah bukti kesetiaan Allah dan cinta ke-Putra-an-Nya untuk umat-Nya. Setiap kali kita merayakan Ekaristi, kita menerima Tubuh dan Darah Kristus, menandakan bahwa kita membangun kesetiaan dan menyucikan diri kita dihadapan Allah. Kita tetap berpusat pada Kristus, ber-communio dengan-Nya dan akan ber-communio dengan sesama sebagai bukti kesetiaan umat beriman kepada Kristus.

”Inilah Tubuh-Ku... dan Inilah Darah-Ku, Darah Perjanjian Baru yang ditumpahkan bagi banyak orang. Lakukanlah ini sebagai peringatan Daku.” Pesan Yesus ini mengingatkan kita akan peristiwa hidup kita setiap hari, setiap kali kita hidup dalam persaudaraan dengan orang lain, itulah makna kebersamaan kita dalam satu meja perjamuan Kristus. Itulah bukti bahwa kita menghidupkan kesetiaan-persaudaraan dengan Allah dan sesama.  ***

Senin, 25 Juni 2012

”ITAE MISSA EST"


Gereja St. Agustinus - Kawaliwu Keuskupan Larantuka Flores
Judul di atas boleh diterjemahkan secara harafiah, ”Pergilah, kamu diutus.” Persis kita dengar dalam Injil Matius hari minggu (2-3 Juni 2012). Tanpa perutusan, sikap sosial kita lemah. Bisa saja dibilang kurang gaul atau kuper. Tanpa mempunyai sikap keterbukaan dengan dunia luar, ”seperti kodok di dalam tempurung.” Berteriak terus menerus tetapi tidak diketahui sumber bunyinya. Gereja dalam dirinya sendiri, tanpa terbuka dengan dunia luar, Gereja sebatas altar. Gereja lengkap jika altar dan pasar, bertautan secara koheren-kompherensif. Tautan secara erat-tak terpisahkan.

Karena itu, perayaan kebersamaan, yaitu Ekaristi mewujudkan persatuan dengan Allah Tritunggal Mahakudus dan mempunyai nilai ”Itae Missa Est.” Pergilah, kamu diutus.” Itu artinya bahwa setelah kita bersatu dengan Allah Tritunggal, kita bertemu dengan Allah, kita diharapkan membawa damai sukacita bersama Allah tadi dalam kehidupan nyata kita. Almahrum, Rm. Mangun Wijaya menyebutnya dengan Gereja yang hidup jika dirayakan dalam kebersamaan sekeliling altar dan dalam kebersamaan pula Gereja hidup di dalam dunia nyata (pasar).

Nilai perutusan itu oleh Paulus merupakan makna terdalam dari apa yang disebutnya dalam bacaan kedua dalam surat kepada umat di Roma (Rm. 8:14-17), sebagai ”anak-anak Allah.” Sebagai anak-anak Allah, didalam dirinya, Allah hidup dan Allah sendiri memakainya sebagai utusan-Nya di tengah dunia.

Bie Lie ngobrol bersama pengurus Kopdit Obor Mas Maumere Flores
Sebagai utusan-Nya, Kitab Ulangan (4: 32—34, 39—40) memberikan kekuatan bagi kita bahwa orang beriman perlu menyadari dan memahami dirinya kapan dan dimanapun ia ada Allah adalah pimpinan-Nya. Allah hidup didalam dirinya, dalam untung dan malang, dalam suka dan duka. Karena itu, entah  dalam kecemasan atau dalam kegembiraan, Allah adalah Allah yang hidup, yang mendorong umat-Nya untuk tetap hidup dalam persatuan dengan Allah Tritunggal Mahakudus. Allah yang telah hidup dalam diri kita – komuni suci yang kita terima, menyertai dan hadir nyata dalam kehidupan nyata kita setiap hari. Communio dengan Allah, nyata dalam communio dengan sesama. Makna communio ini dinyatakan secara real dalam hidup kemasyarakatan kita. Dengan begitu, kita melakukan perinta Yesus, ”Itae Misa Est.” ***

Jumat, 22 Juni 2012

"AKU ADALAH HAMBA ALLAH"


Renungan Minggu 23-24 Juni 2012

Pemandangan dari Terempa ke Air Sena Kep. Anambas Kep. Riau
Nabi Yesaya dalam Yes. 49: 1- 6, menceriterakan bahwa sejak dalam kandungan ibunya, ia telah dipanggil Allah. Panggilan Allah atas dirinya dimaksudkan untuk sebagai seorang hamba Allah, yaitu nabi Allah. Seorang hamba Tuhan, dipanggil Tuhan mewartakan kabar sukacita kepada semua orang. Yesaya tampil kehadapan Israel dengan banyak keraguan. Bahwa ia masih kecil, tidak mampu berbicara, dan takut dengan situasi bangsanya saat itu.

Namun dalam situasi demikian, Allah yang memanggilnya itu senantiasa mendampinginya. Sehingga, ia sendiri dalam pewartaannya, tanpa sadar laksana ”anak panah yang runcing” yang mampu menembus keresahan hati umatnya dan mendorong umatnya untuk keluar dari belenggu hidup mereka. Dalam situasi demikian, banyak godaan dan tantangan, ia sendiri dilindungi Tuhan seperti anak panah ada didalam kotaknya. Dalam keadaan yang maha berat yang menghadapi situasi umat yang tegar tengkuk, Yesaya mau melayani Tuhan dengan banyak kekurang dalam dirinya.

Pemuda Kawaliwu di Pantai Sinar Hading Kawaliwu
Seperti Nabi Yesaya, Para rasul pun dipanggil Yesus untuk menjadi hamba-Nya. Mereka dipanggil dari situasi keluarga dan latar belakang budaya yang berbeda. Dalam perbedaan itu, mereka tetap setia dan bersatu dengan Kristus Yesus. Seperti Daud keturunan Isa, (Kis. 13: 22-26) mereka pun menyatakan diri bahwa mereka adalah saksi Yesus. Dan karena itu pewartaan mereka adalah pewartaan Kabar Gembira dari Allah.

Penginjil Lukas, (Luk. 1: 57-66,80), melukiskan secara eksplisit, Yohanes Pembaptis sebagai nabi terakhir Perjanjian Lama dan mengawali Perjanjian Baru. Bukan hanya itu, ia adalah seorang hamba Allah. Sebagai seorang hamba Allah, ia meninggalkan keluarganya dan pergi ke padang gurun.

Ia pergi ke padang gurun untuk menyiapkan dirinya, untuk menjadi seorang hamba Allah. Di padang gurun, ia mengikuti sekolah iman dari Allah. Di padang gurun, ia melatih pastoralnya untuk bagaimana berbicara dan menampilkan diri di depan umum. Maka dengan semangat dari perjuangannya di padang gurun, Yohanes muncul tema ”pertobatan” yang diusunginya ketika ia berkatekese dengan orang di sungai Yordan. "Bertobatlah...berilah dirimu dibaptis...Allah akan mengampuni dosamu." Tobatnya, pembaharuan hidup dari hidup usang menjadi hidup baru. Dan hidup baru yang dikehendakinya itu adalah hidup dalam 'Roh Kudus dan air" yang diperbaharui oleh Yesus.

Seperti Yesaya, para rasul, dan Yohanes Pemandi, kita pun telah mengambil tugas dari Yesus untuk menjadi seorang nabi, hamba Allah. Bersedia mewartakan Kabar Gembira kepada sesama kita di dalam masyarakat yang lebih luas. Beranikah kita menjadi hamba Allah dengan harta yang terpendam dalam diri kita? ***

Sabtu, 26 Mei 2012

HIDUPLAH DALAM ROH


Yang dimaksudkan dengan Roh disini adalah ’Roh Kudus, Roh Kebenaran’, Roh Penghibur, yang kita dengar dalam bacaan-bacaan suci pada Hari Raya Pentekosta. Roh Kudus berlawanan dengan roh jahat, setan, iblis, atau dalam bahasa Rasul Paulus ”perbuatan daging.”

Hiduplah menurut Roh.” Itu berarti hidup menurut daya karya Roh Kudus, Roh Kebenaran. Karena Roh Kudus itu telah ada didalam diri setiap orang beriman yang sudah dibaptis dan diteguhkan oleh penguatan atau krisma.
Roh Kudus mempersatukannya

Bagaimana hidup menurut Roh Kudus, Roh Kebenaran, Roh Penghibur? Yohanes memberikan penegasan kepada kita bahwa, Bapa di Surga telah mengutus Roh Penghibur ke dalam dunia untuk mendampingi para murid Yesus, untuk memberikan kesaksian. Kesaksian yang dimaksud itu, dimaknai oleh Paulus, rasul para bangsa dalam bacaan kedua yaitu supaya setiap orang yang percaya kepada Kristus hidup dalam kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri, tidak berbuat cabul, tidak hawa napsu, tidak menyembah berhala, tidak mabuk dan pesta pora.

Keutamaan-keutamaan yang ditegaskan rasul Paulus diatas hanya mampu dijalankan dalam hidup orang kristiani jika setiap orang yang percaya kepada Kristus, didalam dirinya dituntun oleh Roh Kebenaran. Didalam diri orang yang percaya itu, membuka hatinya, membiarkan Roh Kudus bekerja dengan lebih leluasa, biarlah Roh Kebenaran mengubah cara hidup kita menuju kebenaran dalam Roh.

Hidup menurut Roh, memaknainya dengan cara hidup yang nyata, bukan hanya dengan kata-kata. Artinya, kata-kata diwujudnyatakan antar sesama. Kata-kata dieksplisitkan didalam saling membantu satu sama lain. Dengan cara demikian, kita yang adalah murid-murid Yesus, sungguh-sungguh menghidupkan daya karya Roh Kudus di dalam dunia. Begitu cara kita bersaksi.**

Senin, 21 Mei 2012

MEMBANGUN KEBERSAMAAN-KEADABAN CINTA

Membangun sebuah jati diri yang kokoh dan kuat ditengah arus globalisasi dewasa ini, rasanya sulit sekali. Hampir semua unsur yang dipandang mapan dan bertahun-tahun tahan uji dalam badai zaman selama ini, seakan-akan mulai rontok dan pelahan-lahan roboh! Lalau pertanyaannya, apa yang menjadi dasar untuk sebuah kepribadian yang kokoh dan kuat untuk hidup era sekarang ini?

Dalam buku Alexander Paulus yang berjudul "Success in Life Through Positive Words", mengatakan "pikiran dan kata-kata" sangat mempengaruhi paradigma baru dewasa ini. Dengan mengutip pokok pikiran William James, Paulus mau mengatakan bahwa sebuah ide atau pikiran yang muncul akan melahirkan suatu perasaan atau emosi atas apa yang dipikirkan dan baru kemudian perilaku. Jadi suatu perkataan sebagai akibat dari perasaan atau emosi. Emosi menggerakkan perasaan dan dari perasaan yang dinyatakan dalam tindakan, kita menemukan perilaku.

Jadi, jika kita mau membangun sebuah jadi diri yang kokoh dan kuat dewasa ini, ingat dimulai dari pikiran, emosi dan berperilaku. Jika tiga hal pokok ini selalu disadari, maka jati diri yang ada, yang melekat pada diri seseorang akan selalu disadarinya selama dia bergaul dengan sesama.

Lihatlah serumpun bambu, mereka kokoh dan kuat karena mereka berdiri bersama, berdekatan satu sama lain dan saling menguatkan jika ada bahaya laten dari luar diri mereka. Pikiran, emosi, dan berperilaku hendaknya menjadi satu rantai yang bertautan erat satu sama lain. Kebersatuan didalam satu tubuh, menguatkan diri seseorang. Dengan kuat dan kokoh, seseorang itu memberikan perilaku yang baik kepada sesamanya. Dengan begitu, kita telah membangun sebuah keadaban baru, yaitu keadaban cinta. ***