Rabu, 29 Mei 2013

RUMUSAN HASIL AKHIR DAN REKOMENDASI PERTEMUAN ANIMATOR DAN ANIMATRIS KBG

KBG: Cara Baru Hidup Menggereja Abad 21

Dengan Semangat Konsili Vatikan II, Kita Mengungkapkan
dan Mewujudkan Iman Melalui Komunitas Basis

Komisi Kateketik KWI mengadakan pertemuan animator dan animatris Komunitas Basis Gerejawi (KBG) di Wisma Kare – Makasar selama empat hari, Senin – Kamis,  20-23 Mei 2013. Pertemuan ini diikuti oleh 42 peserta dari 15 Keuskupan di Indonesia, yaitu Keuskupan Agung Makasar, Keuskupan Agung Jakarta, Keuskupan Agung Semarang, Keuskupan Agung Ende, Keuskupan Agung Pontianak, Keuskupan Pangkalpinang, Keuskupan Tanjung Karang, Keuskupan Bandung, Keuskupan Purwokerto, Keuskupan Denpasar, Keuskupan Banjarmasin, Keuskupan Tanjung Selor, Keuskupan Manado, Keuskupan Larantuka, Keuskupan Jayapura. Para peserta dari 15 Keuskupan ini diundang untuk merefleksikan bagaimana KBG dihidupi.

A.  LATAR BELAKANG PERTEMUAN
Tahun ini, Gereja Katolik mencanangkan Tahun Iman untuk memperingati 50 tahun Konsili Vatikan II. Salah satu buah pemikiran dari Konsili Vatikan II adalah Gereja sebagai Umat Allah. Untuk melihat Gereja sebagai Umat Allah, kita melihatnya secara konkrit dalam pertemuan-pertemuan di mana jemaat berkumpul dalam komunitas basis. Namun tidak semua pertemuan kelompok kecil adalah yang dicita-citakan sebagai KBG.

Yohanes Paulus II mengatakan bahwa KBG adalah cara hidup menggereja abad 21 yang didasarkan cara hidup Jemaat Perdana. Cara hidup gereja perdana adalah cara hidup menggereja yang otentik. Maka, KBG bukanlah organisasi namun suatu cara hidup menggereja. Tentang sebutannya, bisa bermacam-macam. Intinya, yang disebut KBG adalah kelompok kecil, umat di tingkat akar rumput yang berupaya menghidupi cara hidup sebagaimana ditunjukkan oleh cara hidup Jemaat Perdana. Itulah yang kami gumuli dalam pertemuan ini. Dari proses tersebut, kami diharapkan semakin memahami KBG sebagai cara hidup menggereja.

Komunitas Basis di tingkat ASIA lahir dalam pertemuan FABC di Bandung pada tahun 1990-an dengan istilah communion of communities. FABC membentuk suatu desk untuk mengembangkan komunitas basis. Desk ini dinamakan AsIPA (Asian Integral Pastoral Approach). Karena di tingkat ASIA saja ada koordinasi, maka di tingkat nasional pun kita perlu membentuk semacam ‘kepengurusan’ yang mengelola dan mengembangkan gerakan KBG.

SAGKI 2000 mengamanatkan pengembangan Komunitas Basis Gerejawi sebagai cara hidup menggereja menuju Indonesia baru. Karena itu, dibentuklah Lembaga Pelayanan Komunitas Basis (LPKB). Namun pada tahun 2005, LPKB dibubarkan dan kemudian pengelolaan KBG menjadi salah satu desk dari Komisi Kateketik KWI. Sejak itu, pengembangan KBG secara nasional tidak terkoordinasikan dengan baik. Disadari bahwa setelah 12 tahun berjalan, ternyata perkembangan sangat beragam dan cenderung stagnan. Berdasarkan keprihatinan tersebut, Komisi Kateketik KWI mengundang para animator dan animatris KBG dari 15 Keuskupan untuk berproses dalam sharing, refleksi, dan penyegaran kembali tentang KBG.

B.   TUJUAN PERTEMUAN
1.   Penyegaran kembali para animator dan animatris KBG dari 15 Keuskupan dalam proses sharing dan refleksi untuk menemukan hal-hal pokok yang bisa ditimba untuk mengembangkan KBG.
2.  Membangun koordinasi dan komitmen untuk menghidupkan kembali KBG sebagai cara hidup menggereja dengan berpedoman pada cara hidup Jemaat Perdana.

C.  PROSES PERTEMUAN
Pertemuan diawali dengan perayaan ekaristi yang dipimpin oleh Mgr. John Liku Ada’ (Ketua Komisi Kateketik KWI) didampingi Rm. FX. Adisusanto, SJ (mewakili Sekretaris Eksekutif Komkat KWI) dan Rm. Sani Saliwardaya, MSC (Ketua Komkat Keuskupan Agung Makasar).

Mengawali keseluruhan proses sharing dan refleksi, Ibu Affra Siowarjaya dan Rm. Lucius Poya, Pr menjelaskan alat yang simpel namun terbukti berhasil membangun KBG. Alat itu berupa metode yang dikembangkan oleh AsIPA, yaitu Sharing Injil 7 langkah. Sharing injil 7 langkah menjadi salah satu cara untuk menumbuhkan 3 bintang dalam KBG: persaudaraan mendalam, berpusat pada diri Yesus dalam Sabda-Nya, dan melaksanakan aksi bersama dalam kehidupan sehari-hari. Maka, aksi yang dibuat oleh KBG sungguh berhubungan dengan inspirasi dari Sabda Allah sendiri.

Proses hari kedua diawali dengan Sharing Injil 7 Langkah dalam kelompok-kelompok kecil dengan mengambil bacaan dari Markus 9:30-37. Kemudian kami melanjutkannya dengan perayaan ekaristi. Sesi pertama hari ini diawali dengan ibadat singkat penghormatan Kitab Suci. Lalu kami dibagi dalam enam kelompok untuk mensharingkan pengalaman menghidupi dan mengembangkan KBG di masing-masing keuskupan. Hasil dari sharing itu kami bawa dalam pertemuan pleno. Dari hasil pertemuan pleno, ditemukan hal-hal pokok pemahaman dan penghayatan ber-KBG. Sore harinya, kami diajak untuk mendalami bersama dalam kelompok besar modul AsIPA model B/1 tentang “Jemaat Kristen Basis adalah Sebuah Rumah Tangga dan Keluarga bagi Siapa pun juga”. Kemudian dalam kelompok kecil, kami diajak mendalami modul AsIPA model B/2 tentang “Komunitas Basis Gerejawi Merupakan Suatu Perwujudan Konkrit Gereja”.

Malam harinya, Rm. Lucius Poya, Pr menyampaikan sharing pergulatannya merintis dan mengembangkan KBG di paroki tempat tugasnya. Beliau adalah seorang Imam Diosesan Keuskupan Pangkalpinang yang sekarang bertugas di Paroki Tembesi, pulau Batam, dan menjadi Pastor Vikep Kevikepan Kepulauan Riau. Dalam merintis dan mengembangkan KBG di tengah situasi umat parokinya yang kebanyakan merupakan kaum buruh dan berpendidikan rendah, beliau menemukan nilai-nilai pelayanan imamatnya, makna kepemimpinan partisipatif dan juga semangat Gaudium et Spes dari Konsili Vatikan II. Kemudian, Rm. Purwatma, Pr memberikan refleksi teologis tentang KBG berdasarkan dokumen-dokumen FABC dan Ecclesia in Asia (EA). Menurut Rm. Purwatma, Pr, KBG sebagai cara baru hidup menggereja dimaksudkan agar Gereja lebih mampu menghadirkan Kerajaan Allah di tengah dunia. Maka indikator yang ditunjukkan FABC maupun EA perlu dipertimbangkan secara serius dalam pengembangan KBG. KBG berpusat pada iman. KBG harus menjadi persekutuan yang berdialog dan bekerjasama dengan semua orang, bahkan persekutuan yang menjadi ragi yang merubah masyarakat dari dalam.

Proses hari ketiga diawali dengan perayaan ekaristi yang digabungkan dengan Sharing Injil 7 Langkah. Kemudian kami dibawa kepada pendalaman tentang kepemimpinan partisipatif dengan modul AsIPA model B/7b tentang “Sikap-sikap dari Seorang Pemimpin yang Memberi Arah”. Dalam modul ini, kami pertama-tama diajak menimba inspirasi sikap-sikap kepemimpinan yang memberi arah dari Yesus berdasarkan beberapa teks Kitab Suci (Mat. 20:25-26; 2Kor. 1:24; Gal. 2:11; Luk. 23:34; Mrk. 3:20). Ketika sungguh didalami dalam kebersamaan, teks-teks Kitab Suci tersebut sungguh kaya inspirasi akan sikap-sikap pemimpin yang memberi arah. Selanjutnya, kami diajak berproses membangun sikap-sikap dari pemimpin yang melihat dirinya sebagai pemimpin yang memberi arah atau animator. Lalu sikap-sikap tersebut kami sampaikan dalam role play. Setelah penampilan role play masing-masing kelompok, kami berdialog tentang berbagai hal tentang KBG.

Proses hari keempat diawali dengan merancang tindak lanjut dari pertemuan ini bagi pengembangan KBG di masing-masing keuskupan. Setelah itu, kami pun menyepakati rekomendasi-rekomendasi untuk pengelolaan dan pengembangan KBG selanjutnya.

D.  HAL-HAL POKOK YANG KAMI TEMUKAN
Berdasarkan proses sharing dan refleksi selama pertemuan ini, kami menemukan beberapa hal pokok, yaitu:
1.    Pemahaman dan penghayatan ber-KBG di masing-masing Keuskupan sangat beragam
a.  Beragamnya istilah untuk menyebut KBG: KBG, KUB (Kelompok Umat Basis), Kombas (Kelompok Basis), Mawar (Lima Warga), Lingkungan, Kring, Blok, Rukun, WR (Wilayah Rohani), Kampung, Sektor, Komsel (Komunitas Sel).
b.  Beragamnya penghayatan KBG: ada yang memahami KBG sebagai cara hidup menggereja dalam lingkup teritorial tertentu dan tempatnya berdekatan, ada pula yang memahami KBG sebagai cara hidup menggereja berdasarkan kategori tertentu dan lintas teritori.
c.   Meskipun ada beragam pemahaman dan penghayatan tentang KBG, namun ada modal untuk mengembangkan KBG, yaitu kemauan untuk berkumpul secara rutin dalam kelompok kecil.
2.    Ciri-ciri pokok KBG
Meneladan cara hidup Gereja Perdana sebagai cara hidup menggereja yang otentik, ada 4 ciri pokok KBG, yaitu:
a.    Anggota KBG hidup dalam suatu lingkungan tertentu.
b.    Sharing Injil sebagai dasar pertemuan dalam KBG.
c.  KBG bertindak secara nyata dan melakukan segala sesuatu secara bersama berdasarkan iman.
d.    KBG harus berhubungan dengan Gereja Universal.
3.  Perlunya kepemimpinan yang partisipatif dan memberi arah untuk menggerakkan dan mengembangkan KBG
Beberapa unsur sikap kepemimpinan semacam itu yang kami pandang penting untuk dikembangkan oleh para fasilitator KBG:
a. Seorang pemimpin suka melatih orang-orang meskipun memakan banyak waktu dan sering kali mengalami kegagalan.
b. Seorang pemimpin mempercayai orang lain. Ia yakin semua orang bahkan orang yang sangat miskin sekalipun memiliki banyak talenta (kharisma) dan kehendak baik.
c. Seorang pemimpin mengisi suatu komunitas dengan semangat antusiasme, keyakinan dan komitmen. Ia memberi jiwa dan roh ke dalam komunitas.
4.    Perlunya dukungan penuh dari seluruh lapisan umat beriman
Belajar dari beberapa keuskupan yang telah mengembangkan dan menghidupi KBG dengan baik, ternyata kunci keberhasilannya terletak pada adanya dukungan penuh dari seluruh lapisan umat beriman, mulai dari Uskup, para imam, para fasilitator / penggerak KBG dan umat beriman lainnya. Hal tersebut nampak dalam:
a. Dukungan penuh Uskup menggerakkan para imam dan umat untuk mengembangkan dan menghidupi KBG.
b. Sinode atau Musyawarah Pastoral se-keuskupan menyepakati KBG sebagai cara hidup menggereja yang mau diterapkan di keuskupannya. Sehingga, disusun pula strategi-strategi pastoral yang relevan, misal: pembentukan kelompok, pelatihan fasilitator terus menerus, mendorong para imam dan calon imam untuk menggerakkan KBG.
c.  Kunjungan, sapaan dan kehadiran para imam di tengah jemaat memberikan dukungan dan menggerakkan umat untuk membentuk KBG.
d.  Dukungan segenap lapisan umat beriman secara konsisten mendukung tetap diupayakannya pembentukan KBG meski harus melalui proses dan perjuangan yang tidak mudah dan memakan waktu yang lama, entah lima atau sepuluh tahun.
5.    Hal-hal positif yang terjadi dengan bertumbuhkembangnya KBG
Dengan bertumbuhkembangnya KBG, ada beberapa hal positif yang sungguh dirasakan di paroki-paroki yang mengembangkan KBG:
a. Semangat persaudaraan dan saling memperhatikan dalam kehidupan jemaat di paroki semakin kuat.
b.    Keberanian anggota KBG untuk mengemukakan pendapat dan memimpin orang lain.
c.    Saling mengenal satu sama lain antar anggota KBG.
d.    Keterlibatan dan partisipasi umat dalam kehidupan menggereja semakin meningkat.
e.  Solidaritas internal jemaat paroki maupun eksternal dalam kehidupan masyarakat semakin bertumbuh.
f.   Terjadi kemandirian ekonomi dan pemberdayaan masyarakat yang sangat nyata.
6.    Tantangan ke depan bagi pengembangan KBG
a.    Mobilitas tinggi
Globalisasi yang dimotori oleh dunia komunikasi membuat percepatan dalam banyak hal. Orang dengan mudah bergerak dari tempat yang satu ke tempat yang lain, orang menjadi tidak mudah menetap di suatu tempat. Ini tentu menjadi suatu tantangan dalam membangun KBG yang didasarkan pada lingkup teritorial tertentu dan tempatnya berdekatan.
b.    Generasi informasi di era digital.
Umat di masa depan adalah generasi informasi di era digital, dengan model perjumpaan yang baru dan cara komunikasi baru. Era digital menawarkan semua dalam genggaman, informasi dapat diakses di manapun juga, tanpa perlu perjumpaan langsung. Ini tentu menjadi tantangan dalam komunikasi iman, khususnya komunikasi iman dalam KBG yang mengandalkan perjumpaan secara langsung.

E.   RENCANA TINDAK LANJUT
Setelah mengalami proses melalui sharing dan refleksi selama empat hari, para peserta pertemuan animator dan animatris KBG merencanakan tindak lanjut sebagai berikut:
1.    Keuskupan Agung Makasar
·   Menyampaikan hasil pertemuan kepada Uskup, Vikep dan Pastor Paroki.
·   Mempraktekkan pengembangan KBG dan menambah jumlah fasilitator.
·   Pembekalan fasilitator di tingkat Kevikepan dan Paroki.
2.    Keuskupan Agung Jakarta
·  Membawa hasil refleksi bersama tentang KBG ini untuk disampaikan kepada Uskup, Kuria dan Tim Pastoral Keuskupan.
·  Visitasi ke dekenat untuk mengumpulkan ketua-ketua lingkungan untuk mensosialisasikan kepada ketua-ketua lingkungan tentang Sharing Injil 7 langkah.
·     Meningkatkan intensitas pelatihan fasilitator.
3.    Keuskupan Agung Semarang
·   Memperkenalkan dan melatih metode AsIPA sebagai modul pertemuan-pertemuan kelompok kecil.
·    Menyampaikan hasil pertemuan ini kepada Dewan Karya Pastoral Keuskupan.
·   Membuat tulisan berdasarkan pengalaman dalam pertemuan ini: “Metode AsIPA sebagai roh dan penggerak paguyuban umat di tingkat basis”.
4.    Keuskupan Agung Ende
·      Menyampaikan hasil pertemuan ini kepada Uskup.
·      Mengadakan pelatihan fasilitator KBG dengan metode AsIPA.
·      Mendampingi fasilitator KBG.
5.    Keuskupan Agung Pontianak
·      Merevitalisasi kelompok-kelompok KBG yang sudah ada.
·      Mengadakan pelatihan dan kaderisasi fasilitator KBG dengan menggunakan metode AsIPA.
6.    Keuskupan Pangkalpinang
·      Memantapkan hasil sinode kedua yang sudah memberi isyarat bahwa KBG menjadi prioritas Keuskupan.
·      Sharing Injil menjadi agenda wajib pertemuan KBG. Maka, metode AsIPA menjadi metode utama pertemuan KBG.
·      Mengoptimalkan tempat pelatihan KBG yang sudah ada.
7.    Keuskupan Tanjung Karang
·      Menyampaikan hasil pertemuan ini kepada Uskup dan para imam.
8.    Keuskupan Bandung
·      Menyampaikan hasil pertemuan kepada Dewan Karya Pastoral.
·      Mengintensifkan lagi gerakan KBG yang sudah dimulai tahun 2011.
·      Menentukan paroki/lingkungan tertentu sebagai pilot project.
·      Menyelenggarakan pelatihan dan pendampingan penggerak KBG.
9.    Keuskupan Purwokerto
·     Sejalan dengan arah haluan Keuskupan dan fokus pastoralnya, tahun 2014 menjadi titik tolak mengembangkan KBG sebagai gerakan bersama di seluruh Keuskupan Purwokerto.
·  Mengusulkan untuk dibentuknya desk KBG di bawah Dewan Pastoral Keuskupan yang memelihara pengembangan KBG secara berkesinambungan di Keuskupan Purwokerto.
·    Mengusulkan kepada Dewan Imam untuk memasukkan tema “Kepemimpinan dan Peran Imam dalam KBG” sebagai bahan retret, pelatihan maupun triduum persiapan pembaharuan janji imamat.
·      Metode AsIPa menjadi model bagi modul-modul pertemuan KBG.
10.    Keuskupan Denpasar
·      Mensosialisasikan hasil pertemuan ini lewat majalah Keuskupan (Agape).
·   Mengadakan training fasilitator tingkat keuskupan: “Pemberdayaan dan Pengembangan KBG melalui metode AsIPA”.
·    Mengembangkan metode AsIPA sesuai konteks Keuskupan Denpasar.
11.    Keuskupan Banjarmasin
·      Melaporkan hasil pertemuan kepada Bapa Uskup dan para Pastor Paroki.
·      Mengadakan pelatihan fasilitator di tingkat Keuskupan dan paroki.
·      Mengadakan evaluasi hasil yang telah dicapai.
·      Menerapkan metode AsIPA.
12.   Keuskupan Tanjung Selor
·      Melaporkan hasil pertemuan kepada Uskup.
·      Menyampaikan hasil pertemuan ini pada para Imam dan Dewan Pastoral Paroki.
·      Membentuk tim pelatih fasilitator dan mengadakan pelatihan fasilitator di tingkat Keuskupan dan Dekenat.
13.    Keuskupan Manado
·      Melaporkan hasil pertemuan ini kepada Uskup.
· Memulai pembentukan dan membina KBG sampai jadi dengan pilot projectparoki Kakaskasen.
·      Menggunakan metode AsIPA untuk pengembangan KBG.
14.    Keuskupan Larantuka
·  Menambah tim fasilitator dengan pelatihan-pelatihan AsIPA di tingkat Keuskupan dan Dekenat.
·      Mendampingi fasilitator di KBG.
15.    Keuskupan Jayapura
·      Penguatan KBG di setiap paroki dengan mengadakan pelatihan penggerak KBG.
·      KBG menggunakan metode AsIPA.
·      Komitmen terus mengembangkan KBG sebagai cara baru hidup menggereja.

F.   REKOMENDASI
Para peserta pertemuan animator dan animatris KBG menyampaikan rekomendasi sebagai berikut:
1.    Untuk Keuskupan-keuskupan:
·      Uskup dan para Imamnya mendukung dan memfasilitasi pengembangan KBG dan penggunaan metode AsIPA serta menjadikannya sebagai prioritas dan fokus pastoral Keuskupan.
·   Membentuk divisi / desk yang secara khusus menangani KBG. Divisi / desk ini tidak cukup hanya di bawah Komkat Keuskupan namun perlu di bawah Tim / Dewan yang mempunyai jaringan langsung dengan para pastor Paroki.
·      Mengadakan pelatihan fasilitator KBG di tingkat Keuskupan / Kevikepan / Dekenat / Paroki.
·      Memberikan dukungan dana untuk pengadaan modul dan pelatihan.
·    Dewan Imam Keuskupan memasukkan tema “Kepemimpinan dan Peran Imam dalam KBG” sebagai bahan retret, pelatihan maupun triduum persiapan pembaharuan janji imamat.
2.    Untuk Komkat KWI:
·      Menyampaikan hasil pertemuan ini kepada semua Uskup se-Indonesia.
·  Memberi dukungan dana dan memfasilitasi pelaksanaan pengembangan KBG di setiap Keuskupan.
·      Mengembangkan metode AsIPA sesuai konteks Indonesia.
·      Menyiapkan materi / bahan-bahan AsIPA yang lengkap untuk pelatihan-pelatihan Fasilitator.
·      Secara berkala, mengevaluasi pelaksanaan KBG di tingkat nasional.
·      Secara berkala, mengadakan pertemuan dan pelatihan fasilitator KBG di tingkat nasional.
·      Melibatkan diri secara serius dalam pengelolaan dan pengembangan KBG secara nasional.
·      Bekerja sama dengan Komisi Seminari untuk memperkenalkan KBG kepada Seminari-seminari Tinggi sebagai cara bereklesiologi, merenungkan Kitab Suci, mempersiapkan homili dan mengembangkan spiritualitas.
3.    Untuk KWI:
·   Perlu lembaga / komisi khusus yang mengembangkan KBG atau menghidupkan kembali LPKB.
·  Para Uskup yang berhasil mengembangkan KBG mensharingkan kepada semua Uskup buah perkembangan KBG bagi dinamika hidup menggereja di Keuskupannya.

Demikian rumusan hasil akhir dan rekomendasi pertemuan animator dan animatris KBG. Semoga berguna bagi pengembangan dan pengelolaan KBG yang lebih baik lagi di Keuskupan-keuskupan Indonesia. Tuhan memberkati.
                               
Wisma Kare – Makasar, 23 Mei 2013
Para Peserta Pertemuan Animator dan Animatris KBG KomKat KWI

Selasa, 14 Mei 2013

CU KABARI YANG BERBASIS KBG KINI MEMBUKA CABANG DI SUNGAILIAT




Koperasi Kredit Karya Bersama Lestari yang dikenal dengan nama Kopdit Kabari yang berkedudukan di Pangkalpinang merupakan salah satu jaringan CU dan Perkoperasian di Indonesia. Dalam undang - undang Perkoperasian Indonesia Nomor 17 Tahun 2012, pada pasal 82 dan 83 menyebut ada empat jenis koperasi: koperasi konsumen, produsen, jasa dan simpan pinjam. Berdasarkan UU Koperasi tersebut, Credit Union termasuk dalam Koperasi Simpan Pinjam. Kabari lahir pada 15 Februari 1989 dari rahim Bangka dengan awal mula terdiri dari 33 orang di KBG St. Lukas, Jl. Koba Pangkalpinang dengan modal simpanan awal lima ratus rupiah. Awalnya pelayanan perpindah dari satu rumah ke rumah yang lain. Dan sejak 2001 Kabari mendapat lisensi berdiri dengan nomor badan hukum: 001/BH/IX/2001, ungkap Yakobus Widodo, dalam kata sambutannya sebagai ketua Kabari di Sungailiat (5/5/2013).

Kabari kini telah berkembang pesat baik jumlah anggota maupun jumlah asset. Tercatat pada rapat anggota tahun buku 2012, jumlah asset 30-an miliar, jumlah anggota 2125 orang, dan jumlah calon anggota 590 orang serta rutin menjalankan Rapat Anggota (RAT) setiap tahun.

Pertumbuhan Kopdit Kabari begitu pesat karena didukung oleh berbagai produk yang ditawarkan kepada anggota dan calon anggota. Produk Simpanan Saham, simpanan kepemilikan anggota yang terdiri dari simpanan pokok, simpanan wajib, dan simpanan investasi aman (simivan). Simpanan saham ini dijamin Daperta atau Daperma. Simpanan ini mempunyai balas jasa simpanan 13%-15%. Simpanan Bunga Harian (Sibuhar) merupakan sebuah simpanan yang bisa disetor dan ditarik setiap saat dengan suku bunga 4%-7%, dan tidak ada potongan administrasi. Simpanan pendidikan (Simpandik), sebuah tabungan yang diperuntukkan putera-puteri anggota yang menyiapkan diri untuk mengenyam pendidikan yang lebih tinggi. Kabari memberi tabungan sipandik dengan bunga 8%-10% dengan besar setoran Rp. 10.000 sampai dengan Rp. 350.000 tiap bulan.

Selain anggota menabung, anggota yang sudah mendapat pendidikan mempunyai hak meminjam. Kopdit Kabari menawarkan empat jenis pinjaman. Pinjaman umum dengan bunga 1,8 % menurun per bulan dan maksimal meminjam Rp. 100.000.000,- Pinjaman khusus maksimal anggota meminjam 150.000.000,- dengan bunga 2% menurun per bulan. Pinjaman perumahan maksimal meminjam 150.000.000,- dengan bunga 1% flat per bulan. Dan terakhir pinjaman kapitalisasi, dengan bunga 2% menurun per bulan dan maksimal meminjam 10.000.000,- per tahun. Lama jangka waktu pengembalian setiap pinjaman maksimal 5 tahun dan diangsur disetiap bulan. Yang menarik ialah selain anggota mendapat Sisa Hasil Usaha (SHU) yang dibagikan kepada anggota setiap tahun, juga anggota yang meminjam mendapat Balas Jasa Pinjaman (BJP) sebesar 6% dari total bunga yang dibayar peminjam selama setahun.

Kopdit Kabari merupakah satu-satunya Credit Union atau Koperasi di Bangka yang telah membuka kantor cabang di Jl. Jenderal Sudirman No. 236 Kelurahan Parit Padang Sungailiat. Kabari yang pada tahun 2007 mendapat juara sebagai koperasi berprestasi di Indonesia. Dan tahun 2012, menjadi Koperasi unggul di Indonesia. Kini, saatnya kita mau sejahtera, mulailah bergabung dengan Kopdit Kabari baik di Pangkalpinang maupun di Sungailiat.

Ignatius Sumardi, ketua Pra-Puskopdit wilayah Pangkalpinang yang hadir dalam acara pembukaan tempat pelayanan Kabari di Sungailiat mendorong peserta yang hadir untuk masuk Kabari. Karena Kabari, salah satu CU yang berani membuka cabang di Sungailiat. Kehebatan dan kelebihan CU terletak pada pendidikan, swadaya dan solidaritas. Ketiga fondasi CU merupakan bagian pokok yang dialami oleh anggota. Karena itu, tempat pelayanan di Sungailiat bukan hanya sebagai wadah anggota simpan dan pinjam, tetapi menjadi tempat anggota belajar untuk menghidupkan CU, tegas mantan katekis keuskupan Pangkalpinang. ***

Sabtu, 20 April 2013

RP. LEBUINUS SPELTHUIS, SS.CC: SEORANG GEMBALA YANG BAIK

Di pekuburan Katolik Paroki Sungailiat Bangka Indonesia, Keuskupan Pangkalpinang terdapat sebuah kubur dengan tulisan nama RP. Lebuinus Spelthuis, SS.CC pada tiap salib berwarna putih. Pastor Spelthuis, itulah nama yang sering disapa umat. Lahir di Zwolle, 14 Oktober 1906, dengan nama kecil Wim. Umat Katolik Sungailiat mengenalnya dan sekaligus mengingat pastor ini bukan hanya pastor paroki tetapi seorang pastor yang berjuang supaya parokinya memiliki tempat pekuburan bagi umat Katolik yang meninggal dunia.

Pastor ini dikenal oleh konfraternya sebagai seorang pastor yang memiliki dedikasi dalam kerja. Beliau meninggal dan dikuburkan di pekuburan Katolik Paroki Sungailiat, 20 Januari 1979.

Pastor Spelthuis pernah bertugas di Paroki Sungailiat, dari tahun 1946-1951 dan tahun 1971-1979. Beliau bertugas selama dua periode. Banyak umat menceriterakan bahwa beliau begitu mencintai umatnya. Cintanya itu dibuktikan dengan semangat kebertahanan dalam hidupnya sebagai pastor, gembala umat.

Ketika sakit, beliau tidak mau menyerah untuk melayani umat. Bahkan diminta supaya untuk pergi berobat, beliau tidak mau. Dia mau merasakan bagaimana bersama umat yang digembalakannya. Karena sudah parah dalam sakit, pastor ini disuruh untuk berobat ke negeri kelahirannya, Belanda. Beliau dengan senang menjawab, tidak mau untuk pergi kemana-mana. Saya mau mati bersama umat di Paroki Sungailiat, ungkap salah seorang umat.

Sungguh, gembala yang baik mau menderita bersama umatnya. Bahkan mau mati bersama umatnya. Gembala yang baik, mengenal suara umatnya. Bahkan sederhana sekali Ia mengunjung dan menjumpai umatnya. Memberikan semangat hidup, mendorong untuk hidup dalam iman dan menguatkan bila umat jatuh dan berantakkan. Masih adakah gembala yang baik di dunia ini? Ingat, kita semua dipanggil untuk menjadi imam, nabi dan raja dalam hidup karena baptisan yang kita terima. Sekurang-kurangnya, anda dan saya berjuang untuk menjadi gembala yang baik kapan dan dimana saja.***

Sabtu, 13 April 2013

“BELAJAR PADA SANTA PERAWAN MARIA PENGANTARA SSEGALA RAHMAT (PSR) UNTUK MEMBANGUN KELUARGA DAN KBG”

Modul Katekes Umat, 8 Mei 2013
Pesta Pelindung Paroki Sungailiat, Santa Perawan Maria “PSR”

Pengantar
Tema umum modul ini adalah “Belajar pada Santa Perawan Maria “PSR” untuk Membangun Keluarga dan KBG.” Didalam tema umum ini termaktup dua hal, yaitu (1). diajak untuk kita membangun keluarga dan KBG dan (2). kita bisa membangun keluarga dan KBG bila kita belajar dari santa pelindung paroki kita, Santa Perawan Maria Pengantara Segala Rahmat.


Mgr. Hilarius Moa Nurak SVD resmi Gua Maria PSR Sungailiat
Walau ada dua hal yang boleh kita dapat dari tema umum ini, tetapi harus dipikirkan bahwa tema umum itu pun harus dilihat dalam konteks kekinian. Apa yang dimaksudkan dengan konteks kekinian? Bahwa tema itu dibicarakan dalam kurun waktu bulan Mei 2013. Di bulan Mei, tuntutan universal adalah Tahun Iman, karena itu dalam tema itu perlu disandingkan dengan Tahun Iman yang sudah dimulai oleh Paus Emiritus Benediktus XVI pada tahun 2012. Selain Tahun Iman, bulan Mei pun bulan Maria. Dalam konteks nasional, bulan Mei adalah bulan liturgi (Bulinas). Karena itu, tema umum tadi diharapkan mencakup pula beberapa tema khusus yang telah disampaikan itu.

Berdasarkan tema umum, modul pertemuan dibuat dalam empat subtema sekaligus empat kali pertemuan. Pertemuan pertama dengan subtema pertama terjadi tanggal 8 Mei diseluruh KBG. Artinya pertemuan pertama ini sekaligus menjadi kebersamaan untuk kita dalam KBG. Di tiap-tiap KBG serentak diadakan pertemuan dan karena itu akan ada juga pendamping tambahan yang berasal dari KBG lain jika di KBG bersangkutan tidak ada atau ada fasilitator tetapi dalam arti belum siap.

Keempat subtema itu adalah: (1). “Maria PSR : Teladan Orang Yang Beriman” (2). “Maria: Ibu Yang Berani Membuka Hati” (3). “Keluarga Katolik Dewasa ini Bercermin pada Keluarga Kudus Nasareth” (4). “Maria: Teladan Partisipatif dalam Komunitas Basis Perdana” Dalam konteks keempat subtema inilah, harus kita sadar bahwa kita patut belajar dari Maria tentang pengalaman-pengalaman hidupnya baik bersama Yesus, Puteranya maupun bersama para rasul dan para gembala serta masyarakat Yahudi pada umumnya.

Makna dan Nilai:
Belajar berarti mau menjadi murid. Dalam belajar, murid sungguh-sungguh ikutserta dalam pertemuan dan pokok pembicaraan yang dibahas. Sehingga makna dari belajar betul-betul dihayati dan nilai-nilai dari belajar bisa dihidupkan dalam setiap perjalanan hidup yang dijalankan oleh orang tersebut. Dalam konteks belajar, sesuai dengan tema umum kita, kita mempunyai dua hal dasar yaitu diajak untuk membangun keluarga dan KBG dan sebelumnya kita belajar dari Santa Maria PSR.

Belajar pada Santa Perawan Maria PSR, sesuatu yang semestinya dilakukan. Sehingga semangat pelindung menjadi semangat semua umat katolik Paroki Sungailiat. Terus terang saja bahwa, sejak saya datang ke Paroki Sungailiat (3/1/2005), belum pernah Paroki Sungailiat merayakan pesta pelindungnya, apalagi dengan katekese tentang pelindung paroki. Mungkin ini baru pertama kali. Selama ini yang sering kita rayakan adalah pesta ulang tahun paroki yang biasanya jatuh pada tanggal 16 Juli. Pesta ini konon, sebagai pesta “peletakan batu pertama pembangunan gereja” Paroki Sungailiat. Peletakkan batu yang pertama pembangunan gereja itu ternyata bukan sesungguh gereja sebagai bangunan. Namun, justru pada tanggal itu orang katolik yang pertama dibaptis di Stasi Sungailiat (16/7/1933). Waktu itu Sungailiat masih sebagai salah satu stasi Paroki Katederal St. Yosep Pangkalpinang.

Belajar pada Santa Perawan Maria, kita memulainya dengan “Maria PSR: Teladan Orang Beriman.” (Yoh.2:1-11). Maria, orang pertama yang beriman kepada Yesus. Tanpa beriman pada Yesus, tidak ada kata-kata Maria yang diucapkan kepada para pelayan. Maria bisa berkata-kata kepada para pelayan, “apa yang dikatakan kepadamu, buatlah itu”, lahir dari bukan karena kedekatan biologis tetapi karena percaya kepada Yesus. Kepercayaannya membakar semangat untuk berani mengatakan kepada para pelayan. Dan hebatnya, para pelayan pun melakukan apa yang diperintahkan kepada Yesus. Maria sungguh beriman, dan imannya telah membawa para pelayan, tuan pesta serta para tamu undangan untuk bertemu dengan Yesus. Mereka semua menyadari bahwa dalam pesta itu, ternyata Yesus hadir dan menyertai mereka. Iman tumbuh dalam diri sendiri berkat orang lain. Iman menghantar orang lain bertemu dengan Yesus. Iman, menyelamatkan diri sendiri dan sesama.


KBG Sta. Theresia 2 Pemali
Selain kita belajar pada Maria soal bagaimana iman atau beriman, kita pun belajar lagi pada Maria tentang iman atau beriman itu, semestinya sampai pada membawa perubahan didalam diri sendiri. Iman menggoncangkan diri sendiri dan berakar didalam diri sendiri. Iman atau beriman membawa perubahan yang positif. Perubahan itu adalah “Maria: Ibu Yang Berani Membuka Hati”. (Luk.2:13-20). Dalam kesederhanaannya, Maria mau menerima para tamu yang datang mengunjunginya. Dalam situasi yang miskin dan tidak punya apa-apa, keluarga kudus khususnya Maria mau menerima para gembala yang datang menemui Yesus. Kekuatan iman Maria, mengubah cara pikirnya untuk menerima siapa saja yang mau datang kepada Yesus. Dan ini ditiru Yesus selama hidupnya. Yesus mau menerima dan bergaul dengan siapa pun juga, baik yang baik dan bijak maupun yang kotor dan bodoh. Benarkah bahwa iman atau beriman membawa perubahan dalam diri sendiri seperti Maria?


Aksi Tiga Raja di KBG-KB
Dari hasil belajar “Maria PSR: Teladan Orang Beriman” dan “Maria: Ibu Yang Berani Membuka Hati” , kita coba melihat situasi keluarga katolik dalam paroki kita dewasa ini. (sejenak merenungkan keadaan keluarga masing-masing). Dari hasil permenungan sejenak, kita diajak sebagai satu keluarga untuk mengupas “Keluarga Katolik Dewasa ini Bercermin pada Keluarga Kudus Nasareth”. (Mat. 2:13-15). Ternyata untuk membuktikan iman itu kuat atau tidak, keluarga kudus Nasareth dituntut oleh kekuatan dan kekuasaan Herodes untuk mengungsi ke Mesir. Mengungsi ke Mesir dalam waktu yang singkat, sebuah perjuangan yang tidak mudah. Apalagi jalannya jauh dan menjadi orang asing disana. Karena itu, Maria dan Yusuf sekali-kali harus berjuang untuk merawat dan menjaga sang bayi Yesus. Jika “kekuatan dan kekuasaan Herodes” diandaikan dengan kekuatan dan pengaruh globalisasi dewasa ini yang menerobos masuk ke dalam keluarga katolik, apa yang terjadi? Apakah keluarga katolik harus membiarkan begitu saja? Tentu tidak! Keluarga katolik dewasa ini perlu dan harus membutuhkan “payung” yang tahan uji.

Terakhir yang patut kita belajar dari Maria adalah “Menjadi Teladan Partisipatif dalam Komunitas Basis Perdana” (Kis.2:41-47). Memang peran Maria tidak banyak dikisahkan dalam Kitab Suci kita, setelah Yesus naik ke Surga. Namun, kita perlu menggalinya dengan lebih jauh lagi. Kisah “Cara Hidup Jemaat Perdana” merupakan cara hidup yang didorong dan didukung oleh kehadiran Maria dalam setiap perjalanan hidup komunitas basis perdana. Kehadiran Maria disana, tentu membangkitkan semangat hidup para rasul dan keluarga Maria. Sehingga mereka sehati sejiwa membangun komunitas basis bahkan membawa misi keluar dari Yerusalem untuk bangsa-bangsa lain. Sekali lagi, semangat Marianis mengantar orang lain untuk berjumpa dengan Yesus, Sang Juruselamat.

Spiritualitas
Makna dan nilai-nilai yang kita belajar dari Maria, kita boleh merumuskan apa yang sebenarnya menjadi spiritualitas atau semangat Marianis untuk kita melanjutkan karya sebagai satu umat Paroki Sungailiat yang berpelindungkan Maria. Rumusan spiritualitas Marianis boleh kita deretkan satu persatu di bawah ini:

1. ....................................................................................................................................

2. ....................................................................................................................................

3. ....................................................................................................................................

4. ....................................................................................................................................

5. ....................................................................................................................................

Pastoral Gereja / Katekese Berlanjut...
Setelah kita belajar pada Maria dari subtema yang satu ke subtema yang lain, sampai subtema ke-4, satu pertanyaan dasar untuk kita “apa yang semestinya kita buat bersama-sama” untuk membangun hidup beriman dalam keluarga dan komunitas basis kita dewasa ini? Rencanakan dengan matang apa yang perlu dilakukan.

Rencana itu harus berjangka pendek dan panjang sehingga merangkul semua keluarga dan anggota KBG. Bila ini diperhatikan dan tekun untuk membicarakan rencana serta dengan sekuat tenaga mau maju membangun KBG, maka saya dan anda yakin KBG kita akan setara dengan Komunitas Basis Perdana.

Penutup
Belajar pada Maria adalah suatu pekerjaan yang mudah. Merasa sulit bila hasil dari belajar berupa makna dan nilai-nilai dipraktekkan dalam hidup. Lebih banyak berjalan dijalan Tuhan tetapi berjalan dalam kesendirian. Merasa sulit jika semangat hidup Maria yang sudah kita akui dan paham, tidak dilaksanakan baik dalam keluarga maupun dalam KBG. Jika dalam keluarga dan KBG tidak dijalankan, apakah betul bahwa dalam diri kita sungguh-sungguh dijalankan? Mari, kita terus menerus belajar pada Maria. Biar iman kita semakin hari semakin maju, berubah dalam deretan waktu. **al**

Selasa, 26 Maret 2013

PRA-RAT DAN RAT KOPDIT KABARI 2013:“SALING MELAYANI”

‘Saling melayani’, itulah tema Pra-RAT dan Rapat Anggota Tahun (RAT) tahun buku 2012 Koperasi Kredit Karya Bersama Lestari (Kopdit Kabari) Pangkalpinang Bangka. Pra-RAT dilaksanakan pada 12 Maret 2013 bertempat di gedung Setya Bhakti Kelurahan Pasir Putih Pangkalpinang. Pra-RAT yang dihadiri sekitar 600-an anggota dari total keseluruhan anggota Kopdit Kabari 2012, 1.599 orang. Sedang RAT diselenggarakan pada 24 Maret 2013 di Hotel Aston Pangkalpinang, dari pukul 13.00-15.00 wib. Target jumlah anggota yang hadir dalam RAT sebanyak 200-an orang, namun kenyataannya hanya hadir sekitar 100-an orang.

Melayani dalam kebersamaan
Pendaftaran peserta RAT pada saat Pra-RAT
Dalam acara pra-RAT, anggota diajak untuk menikmati kebersamaan dengan sambil makan bersama ada sosialisasi beberapa hal seperti investasi tanah kavling, kepengurusan baru 2013-2015, pengundian beberapa doorprize dan informasi lain berupa pelaksanaan RAT Kopdit Kabari. Siang itu (12/3/2013) nampak berdatangan anggota Kabari ke gedung Setya Bhakti Kelurahan Pasir Putih, baik orang per orang maupun rombongan dengan menumpang mobil atau motor. Mereka adalah anggota yang menetap di beberapa daerah di sekitar Pangkalpinang dan Sungailiat. Mereka datang dan mau merasakan kebersamaan setahun sekali sebagai satu anggota dibawah naungan Kopdit Kabari yang sudah berbadan hukum sejak tahun 9 Agustus 2001.

Rasa kebersamaan itu bukan hanya dalam acara-acara yang diatur para pengurus tetapi juga suatu kesempatan kebersamaan antar anggota yang mungkin saja sudah lama tidak berjumpa. Mengobrol begitu asyik namun telinga tetap bersending selalu untuk mendengar suara panggilan undian doorprize, sehingga tidak ada yang terlewatkan. Soalnya jika dipanggil satu sampai tiga kali, tidak maju, maka nomor undian yang bersangkutan dinyatakan hangus. Asyik mengobrol namun mulut tetap merasakan makanan khas Bangka, sehingga para anggota tidak saling mengeluh. Satu hal yang menarik dari obrolan itu, tentu sama-sama berharap agar anggota pun selalu mempunyai komitmen untuk saling melayani dengan rajin menabung, mengangsur, dan meminjam. Acara pra-RAT berakhir pada jam 15.30. wib. Para anggota pun pulang dengan wajah penuh kegembiraan. Mukin servive pra-RAT sangat membanggakan anggota apalagi ketika pulang membawa kado menang undian berupa kulkas, tv, happy call, dll.

Melayani dengan adil
Rapat Anggota Tahunan (RAT) merupakan suatu kesempatan tiap tahun untuk anggota menjalankan hak suaranya dalam forum resmi sebagai anggota sah Kabari. Bapak Ignasius Sumardi, wakil BK3D Pangkalpinang, dalam kata sambutan RAT Kabari di Hotel Aston (24/3/2013) mengetengahkan prinsip dasar jati diri koperasi. Mardi, yang biasa disapa sehari-hari, lebih lanjut mengungkapkan bahwa RAT adalah kesempatan semua anggota menjalankan prinsip jati diri kopdit.

Skors minum setelah sidang I setelah
Bahwa dalam Kopdit, anggota menginves uang. Uang lalu dikembangkan. Perkembangannya itu dinilai sehat atau tidak bila dianalisa melalui analisa PEARLS (Protection, effective financial, asset quality, rates retur and costs, liquidity, dan sign of Growth). Selain uang, prinsip dasar Kopdit juga adalah jati diri orang. Orang bukan modal. Persatuan orang secara suka rela mau menjadi anggota kopdit. Orang-orang itu memiliki mimpi. Mimpi setiap orang itulah yang perlu diberdayakan sehingga Kopdit hidup dan mempunyai pertumbuhan yang mantap. Pemberdayaan didalam Kopdit muncul dari suatu keprihatinan. Keprihatinan itulah yang menjadi daya dorong insan Kopdit untuk tumbuh dan maju bersama.

Sementara itu wakil Dinas Koperasi dan UKM Propinsi Kepulauan Bangka Belitung, bapak Nazir mengungkapkan bahwa peserta RAT Kabari terlihat banyak anggota yang hadir. Kursi-kursi terisi penuh, apalagi RAT diselenggarakan di hotel. Memang tidak banyak koperasi yang menjalankan RAT. Harapan Nazir, mudah-mudahan kehadiran anggota yang ada saat ini adalah bisa mewakili suara dari anggota-anggota yang tidak hadir sekarang.

Suasana ruang pertemuan menjadi diam, setelah RAT dinyatakan bapak Nazir dibuka. Kadang terdengar suara tepuk tangan. Namun suara tepuk tangan itu, tidak terlalu lama terdengar. Mungkin peserta kedinginan karena AC. Tepuk tangan dan sedikit yel-yel yang dibawakan oleh Ignasius Sumardi dan pemimpin sidang RAT, Andreas Budiono sebagai olah tangan-penghangat badan yang lagi diselimuti dinginnya AC.

RAT menjadi ramai kembali ketika peserta diberi kesempatan oleh pemimpin sidang untuk mengajukan bertanyaan atas presentasi laporan yang dibawakan oleh F. Darmanto (bendahara), Y. Widodo (ketua pengawas), A. Lioe Men Kie (ketua tim kredit), T. Lioe Na Wie (ketua proyek tanah kavling), dan Pascal Joemadi (ketua pengurus) tentang sasaran, strategi dan kegiatan yang direncanakan pada tahun 2013.

Peserta RAT dalam ruang Hotel Aston
Nampak bahwa ada banyak anggota yang tidak bertanya. Hanya beberapa anggota yang bertanya soal mengapa dana cadangan umum, khusus, dan resiko dimasukan menjadi satu dana cadangan yaitu cadangan resiko. Juga ada yang bertanya soal mengapa Simpanan Hari Tua Indah (SIMPHATI) mulai 2013 ditutup dan yang sudah berjalan selama ini terus berjalan? Quo vadis dengan produk Kabari semacam ini? Menawarkan produk kepada anggota tetapi belum matang dianalisa dengan baik, sehingga terkesan hanya satu saja jalannya, dihapus! Apakah hanya dengan jalan dihapus? Padahal bisa saja persentasinya diturunkan dan batasi anggota membuka simpanan ini selama tahun, atau dengan cara lain yang mungkin diusul oleh anggota lain. Produk semacam ini menjadi nilai jual bagi anggota. Mudah-mudahan saja, pengurus tidak mencari jalan lain dengan “mengasurasikan” simpanan anggota di asurasi-asurasi swasta.

Bahkan ada anggota sampai meminta supaya Bab II, pasal 5 ayat 6 yang tertulis ‘dipilih mana lebih kecil’ dihapuskan. Karena tulisan itu mengganggu pemikiran anggota bahwa BJS atau BJP selalu dipilih untuk dibagi kepada anggota yang paling kecil. Diskusi menjadi hangat. Jawaban yang diberikan beberapa pengurus belum memuaskan anggota. Terasa bahwa banyak anggota tidak paham benar dengan nilai perhitungan semacam ini. Mengapa? Apakah anggota masa bodoh dengan nilai-nilai perhitungan itu? Tidak! Justru anggota percaya kepada pengurus. Percaya bukan meyakini. Percaya terberesit nilai mendidik. Disinilah pola pikir yang harus dibentuk bahwa pendidikan itu penting. Sehingga anggota pun tahu dan paham akan hitung-menghitung anggka yang ada didalam laporan bahkan menghitung analisa PEARLS.
Skors pengurus lagi diskusi kecil
Dalam kebingungan anggota yang diselimuti suasana yang dingin didalam ruang itu, muncul pemikiran bapak Ignasius Sumardi, salah seorang aktifis koperasi di Pangkalpinang, memberikan dasar pemikiran tentang empat rasa keadilan yang harus dipikirkan Kabari. Keempat rasa keadilan itu adalah rasa keadilan untuk lembaga dan jaringan kerja, rasa keadilan untuk anggota, rasa keadilan untuk karyawan/wati dan rasa keadilan untuk para pengurus. Kita tentu berharap, buah-buah pemikiran semacam ini direnungkan dan dihayati sebagai insan koperasi yang bersama-sama saling melayani.

Selain peserta bertanya soal beberapa hal tadi, masih ada anggota lain lagi yang mencoba menajamkan lagi dengan bertanya, melalui pertanyaan yang sederhana ‘mengapa uang disimpan di bank begitu besar?’ Ini menandakan Kabari untung atau rugi? Memang, pertanyaan semacam ini, sudah mudah ditebak jawabannya, bahwa yang jelas, Kopdit untung. Namun sebenarnya bukan itulah yang dimaksud. Jika diteliti dengan saksama, bukan sebenarnya begitu, yang harus dijawab. Maksudnya ialah mengapa uang begitu banyak “tidur” di bank? Apa usaha dari pengurus supaya uang tidak terlalu banyak disimpan di bank? Karena sekitar 7M lebih di bank, tentu pajak dan biaya administrasi pun besar, bisa saja potongan di bank mampu untuk satu orang meminjam. Bagi si penanya, semestinya lebih banyak yang meminjam itu lebih bagus daripada lebih banyak disimpan.

Peminjam tahun 2012, menurut laporan Tim Kredit sebanyak 815 orang (bdk laporan hal. 5). Namun setelah diteliti dan dihitung lagi jumlah peminjam 2012 sebesar 818 orang (bdk. Laporan hal. 8), kekurangan atau salah catat dihalaman 5, terletak pada bulan Juli, sebenarnya 133 orang bukan 130 orang. Dan rata-rata peminjam lebih banyak pada bulan Juli untuk keperluan beli laptop, tv, dll dan modal operasional kerja. Dan herannya tidak banyak peminjam memanfaatkan pinjaman untuk modal usaha.

Ada dua poin lagi yang harus dipikirkan dengan matang. Pertama, ketika para pengurus mengajak anggota lama untuk membawa calon anggota baru lagi. Metode AMAL tetap menjadi prioritas. Metode AMAL dulunya amal, sekarang metode AMAL akan tidak amal lagi. Karena setiap anggota lama yang akan membawa satu calon anggota baru akan dihargai tiga puluh ribu rupiah. Jadi jika satu anggota selama setahun membawa 10 calon anggota, akan mendapat tiga ratus ribu rupiah. Dulu, AMAL, selalau dipercaya. Saling percaya menguatkan komitmen AMAL tapi jika AMAL, tidak beramal lagi, tapi dihargai, apakah masih ada rasa saling percaya diantara satu anggota dengan anggota yang lainnya? Saling percaya ternyata berubah menjadi saling “menghargai” yaitu dengan “bayaran.” Maka pertanyaan muncul, apakah yang dibawa itu, calon anggota yang nantinya tidak bermasalah dalam mengangsur bila meminjam dan mengeluh dan ngotot mengancam keluar dari anggota bila pinjamannya tidak dicairkan atau dicairkan tapi tidak sesuai dengan jumlah pinjaman?

Pengurus baru periode 2013-2015 siap-siap membaca Pakta Integritas
Kedua, model RAT yang sekarang dipakai. Jujur bahwa setiap kali RAT dengan jumlah anggota yang hadir sebanyak itu, saya selalu bertanya didalam hati: apakah kehadiran anggota dalam RAT sungguh mewakili anggota lain yang tidak hadir? Karena keputusan yang diambil dalam RAT dengan jumlah kehadiran anggota demikian, ternyata jauh sekali dari kuorum yang semestinya diharapkan. Coba cara semacam ini diubah dengan membuat RAT diwilayah-wilayah. RAT diwilayah-wilayah mengandaikan ada pemetaan wilayah tempat tinggal anggota. Wilayah anggota ialah tempat tinggal anggota yang berdekatan baik dalam satu wilayah kelurahan/desa atau kecamatan. Jika pemetaan wilayah ini sudah dibuat maka pengurus bisa mendampingi anggota per setiap wilayah. Pembagian berdasarkan wilayah sangat membantu koordinasi dalam pendidikan anggota, kontrol pinjaman, dan mudah membangun relasi antar anggota. Walau demikian, ini tidak gampang. Tergantung keberanian dan komitmen pengurus untuk membuat terobosan semacam ini. Jika tidak, tidak akan membantu pengurus yang akan datang. Atau bisa juga cara lain, yang terpenting ketika RAT, suara untuk mengambil keputusan benar-benar mewakili anggota.

Sebelum berakhir acara RAT, para pengurus baru diajak untuk berdiri di depan ruang sidang. Para pengurus baru periode 2013-2015 akan dikukuhkan dihadapan anggota dengan membuat pernyataan komitmen “Pakta Integritas” sebagai berikut:

Saya yang bertanda tangan dibawah ini, berkaitan dengan kesediaan saya mengemban tugas sebagai Pengurus/Pengawas Koperasi Kredit (Kopdit) KABARI  yang dipercayakan oleh Anggota kepada saya, maka dengan ini  menyatakan  bahwa saya :
1.      Akan melaksanakan tugas dan fungsi saya sebagai Pengurus/Pengawas secara profesional dan bertanggung jawab.
2.      Tidak akan melakukan praktek Nepotisme atau bersekongkol demi keuntungan keluarga, saudara, maupun rekan se-daerah.
3.      Tidak akan melakukan praktek Kolusi  atau bekerjasama dengan pihak/anggota lain dengan tujuan untuk memperoleh  keuntungan pribadi dan merugikan Kopdit Kabari.
4.       Tidak akan melakukan praktek Korupsi atau mengambil barang atau uang milik Kopdit Kabari dengan niat untuk kepentingan pribadi, dengan cara  mark up pembelian barang  dan cara-cara yang lainnya.
5.      Akan mematuhi dan menjalankan ketentuan/ketetapan serta kewajiban sebagai Pengurus/Pengawas dalam hal : rapat-rapat, survey/tinjauan lapangan.
6.      Akan berperan aktif dalam rapat-rapat dengan memberikan masukkan dan sumbang saran yang positif demi kemajuan dan perkembangan Kopdit Kabari.
7.      Akan mengundurkan diri apabila secara berturut-turut ..... kali tidak dapat hadir dalam rapat-rapat Pengurus.
8.      Apabila saya melanggar hal-hal yang telah saya nyatakan dalam PAKTA INTEGRITAS ini, saya bersedia dikenakan sanksi moral, sanksi administratip dan dituntut ganti rugi serta  diberhentikan sebagai Pengurus/Pengawas.


                                                                         Pangkalpinang, 24 Maret 2013.
                                                  
                                                    Nama, meterai, td,tangan
Saya yang menyatakan :  .................................................

Saksi – saksi :
1.Ketua Kopdit (periode 2013-2015)                : ................................. Yakobus Widodo.

2.Ketua Formatur pemilihan calon                  : .................................. YD. Irwanto.

3.Ketua  Kopdit (periode 2010-2012)               :................................... Pascal Joemadi

**catatan , untuk ketua yang baru, saksinya di tanda tangani oleh
     Ketua Formatur dan Ketua lama.

Tentu anggota berharap komitmen yang bersama-sama diucapkan ini, akan bersama-sama pula dihayati dan ditaati pula. Karena apalah gunanya, jika diucapkan dan dihayati tapi tidak dihidupkan dan tidak ditaati. Acara RAT kemudian diakhir dengan doa penutup dan peserta satu per satu keluar dari ruang ber-AC. Modal lima puluh ribu rupiah untuk ongkos pulang ke rumah masing-masing. Semoga RAT tahun buku 2013 masih tetap berjalan dan di ruang tidak ber-AC. ***