Rabu, 02 Juli 2014

Hidup adalah Pilihan: Mau selamat atau Terus Dikuasai Setan?

(refleksi hidup hari ini dan besok)

1.   Teks Kitab Suci Matius 8: 28-34:
28Setibanya di seberang, yaitu di daerah orang Gadara, datanglah dari pekuburan dua orang yang kerasukan setan menemui Yesus. Mereka sangat berbahaya, sehingga tidak seorangpun yang berani melalui jalan itu. 29Dan mereka itupun berteriak, katanya: "Apa urusan-Mu dengan kami, hai Anak Allah? Adakah Engkau ke mari untuk menyiksa kami sebelum waktunya?"

30Tidak jauh dari mereka itu sejumlah besar babi sedang mencari makan. 31Maka setan-setan itu meminta kepada-Nya, katanya: "Jika Engkau mengusir kami, suruhlah kami pindah ke dalam kawanan babi itu." 32Yesus berkata kepada mereka: "Pergilah!" Lalu keluarlah mereka dan masuk ke dalam babi-babi itu. Maka terjunlah seluruh kawanan babi itu dari tepi jurang ke dalam danau dan mati di dalam air.

33Maka larilah penjaga-penjaga babi itu dan setibanya di kota, diceriterakannyalah segala sesuatu, juga tentang orang-orang yang kerasukan setan itu. 34Maka keluarlah seluruh kota mendapatkan Yesus dan setelah mereka berjumpa dengan Dia, merekapun mendesak, supaya Ia meninggalkan daerah mereka.

2.     Penjelasan Teks Kitab Suci:
Matius menulis kisah Yesus dan para rasul-Nya secara berurutan dalam peristiwa perjalanan berkarya. Mulai dari Yesus berdialog dengan seorang ahli Taurat yang datang untuk menjadi murid-Nya lalu ada ‘orang lain’ juga yang datang memohon supaya menjadi murid Yesus’. Ini terjadi sebelum Yesus menyeberangi danau Genasaret ke Gadara. Berarti peristiwa ini terjadi di tepi danau Genasaret.

Setelah berdilog dengan kedua orang itu, Yesus naik ke perahu lalu menyeberang danau itu. Lalu teks Injil Matius kemarin (Selasa, 1 Juli 2014), mengisahkan angin ribut di tengah danau diredahkan Yesus. Ketika angin ribut itu menghantam perahu dan terombang ambing, perahu mau tenggelam, Yesus sedang tidur. Karena itu para murid-Nya meminta Yesus untuk bangun dan menyelamatkan situasi itu.

Teks Injil Matius hari ini (Rabu, 2 Juli 2014), menceritakan Yesus sampai di seberang danau, nama tempat yang dituju itu adalah ‘Gadara’. ‘Gadara’ lebih dekat dengan ‘Garasa’ (Mrk 5:1). Jadi berbeda dengan Injil Markus dalam bab 5:2, dimana Markus menyebut satu orang kerasukan setan sedang Matius menyebutnya dua orang kerasukan setan yang datang menjumpai Yesus. Perbedaan jumlah orang kerasukan ini, tidak terlalu dihiraukan, tetapi yang terpenting fokus kedua penginjil ini mau menyampaikan apa sebenarnya yang terjadi untuk para pembaca yang beriman.

Ketika Yesus sampai di Gadara, (ayat 28), datang dua orang kerasukan itu menjumpai Yesus. Kedua orang yang kerasukan itu datang dari pekuburan. Kita tentu tahu, pekuburan itu tempat untuk orang-orang yang sudah meninggal. Mengapa kedua orang kerasukan itu berada di pekuburan? Jelas bahwa orang kerasukan setan, seluruh diri orang itu dikuasai oleh setan, si jahat. Setanlah yang menjadi raja dalam hidup kedua orang itu. Karena itu, setan akan mengantar si kerasukan itu kemana saja ia pergi. Bukan hanya itu saja, tetapi menakutkan dan sangat berbahaya bagi siapa saja yang melintasi jalan itu.

Maka disini, kita dapat pahami bahwa, ternyata setan mampu menguasai diri orang lain bahkan apa saja termasuk babi-babi pada ayat berikutnya dan mampu memisahkan si kerasukan dengan orang yang ‘waras’, orang yang tidak kerasukan. Kejahatan mampu memisahkan dari kebaikan, keadilan, kejujuran, dan kesetiaan. Kejahatan memiliki sifat ‘menular’, iya...menular kedalam kawanan babi, pejaga kawanan babi dan masyarakat Gadara. Dengan keberadaan kedua orang kerasukan di pekuburan, menandakan bahwa keduanya itu sudah diambang liang lahat. Kematian sudah dekat. Keselamatan tentu tidak akan mereka alami.

Supaya mereka selamat, ternyata kekuatan dan kekuasaan Yesus mampu mengalahkan si jahat yang ada di dalam diri kedua orang tadi. Mereka datang menjumpai Yesus. Perjumpaan dengan Yesus terjadi dialog yang sangat menarik disini. Dialog itu hemat saya merupakan dialog persuasif. Hebatnya dalam dialog persuasif itu, terkesan terjadi tawar menawar, namun Yesus walaupun ‘ikut’ tetapi tidak merasa dirugikan. Karena dalam diri Yesus, keselamatan harus terjadi agar misi-Nya selalu terrealisasi dalam dunia ini.

Dalam perjumpaan dengan Yesus, si jahat berteriak (ayat 29). Teriakan mereka mengindisikan bahwa mereka menyesal Yesus datang terlalu cepat, padahal kerajaan mereka belum terpenuhi. Maksudnya adalah bahwa kejahatan yang mereka hadirkan untuk kedua orang itu belum sampai pada kematian, si jahat masih dalam proses penyiksaan, masih diambang pintu gerbang pekuburan, sehingga ‘kerajaan si jahat’ belum terpenuhi. Sebelum kedua orang kerasukan itu mati karena si jahat, Yesus menyelamatkan mereka.

Satu hal lagi yang boleh kita pahami disini ialah, bahwa hebatnya, si jahat mengenal Yesus. Bukan hanya mengenal tetapi menyapa dan mengakui kehebatan Yesus dengan memakai kata sapaan ‘Anak Allah’. Itu artinya bahwa Yesus dikenal untuk menyelamatkan manusia yang berasal dari Allah sendiri. Yesus wujudnyata Allah yang sedang berkarya, menghadirkan Kerajaan Allah. Karena itu, apapun bentuk halangan yang merintangi hadirnya Kerajaan Allah, akan dibasmi oleh Yesus.
Ketika terjadi dialog Yesus dengan kedua orang kerasukan setan, rupanya ada di dekat situ, sekelompok babi yang sedang mencari makan (ayat 30). Yang jelas bukan babi hutan. Karena ayat berikutnya kita bisa dapat informasi bahwa kawanan babi itu ada penjaganya. Maka jelas, kawanan babi itu adalah babi peliharaan orang, ada pemiliknya yang jelas. Masyarakat Yahudi tidak memelihara babi, karena menurut peraturan mereka, babi adalah binatang yang najis, kotor, babi termasuk kuku berbelah. Karena itu mereka tidak makan daging babi.

Tetapi kenapa ada yang pelihara babi itu? Hemat saya, ada dua kemungkinan yang boleh kita hadirkan disini. Pertama, Gadara, tidak termasuk dalam wilayah Yahudi. Sehingga masyarakatnya bisa diijinkan untuk memelihara babi. Kedua, Gadara masih dalam wilayah Yahudi. Tetapi ada masyarakat yang memelihara babi bukan untuk dikonsumsikan tetapi hanya untuk dijual, untuk mendatangkan in come keluarga (sisi ekonomis). Mungkin hal kedua ini masuk akal karena kawanan babi itu selalu dikawal oleh penjaganya sehingga kawanan babi itu tidak sembarangan kemana-mana.

Pada ayat 31, para pembaca perlu membaca dan menyimak dengan teliti, sehingga tidak salah memahami ayat ini. Mengapa? Pertama, inisiatip setan-setan adalah mereka mau diusir. Itu artinya bahwa kuasa Yesus jauh melebihi kuasa jahat. Yesus mengalahkan kejahatan. Tanpa inisiatip dari setan-setan itupun, pasti Yesus akan mengusir mereka, mengalahkan mereka. Karena untuk itu pula, misi keselamatan Allah yang dihadirkan oleh Yesus bagi manusia.

Kedua, inisiatip setan-setan itu supaya Yesus memindahkan mereka ke dalam kawanan babi yang ada didekat situ. Inisiatip yang kedua ini memiliki keterkaitan dengan ayat 32. Sekali lagi, para pembaca perlu teliti disini. Jika tidak teliti, terkesan pembaca mengiyakan setan. Bahwa ternyata Yesus mengikuti keinginan setan. Sehingga berdampak negatif bahwa setan-setan itu benar masuk ke dalam kawanan babi.

Kalimat Yesus, ‘pergilah!’ Kata ini tersirat perintah untuk keluar. Perintah pengusiran yang sangat kasar. Tetapi dalam kata ‘pergilah’ Yesus tidak menyebut tujuan bahwa kemana setan-setan itu akan pergi. Yang terpenting bagi Yesus adalah bahwa setan-setan itu harus keluar dari diri kedua orang yang sedang kerasukan itu. Kalau setan-setan itu sudah keluar, jelas bahwa Yesus akan menjadi Raja dalam diri orang-orang itu. Lalu pertanyaannya, mengapa setan-setan itu masuk ke dalam babi? Masuk ke dalam kawanan babi, adalah inisiatip ketiga setan, yaitu kemauan, keinginan dan niat setan-setan sendiri. Ini taktik setan-setan yang cerdik pandai yang bisa merusak relasi baik manusia. Sehingga terlihat kerajaannya sudah kalah atau hilang bersama kematian kawanan babi namun sebenarnya belum selesai. Setan-setan masih ada, masih merajalelah dalam situasi dunia.

Efek dari taktik setan-setan yang cerdik pandai itu ialah penjaga lari terbirit-birit ke dalam kota (ayat 33). Jelas disini bahwa penjaga akan menyampaikan hal buruk kepada masyarakat, bahwa babi-babi yang dijaganya itu, sudah mati semua oleh karena Yesus. Persis, penjaga juga boleh kita sebut ‘sedang kerasukan setan-setan’ itu. Karena penyampaian penjaga yang sedang kerasukan setan itu, membuat masyarakat datang berdialog lagi dengan Yesus (ayat 34).

Hasil dialognya adalah masyarakat lebih memilih percaya kepada penjaga kawanan babi daripada Yesus. Sehingga mereka tidak mau Yesus masuk ke dalam kota mereka untuk berkarya menyelamatkan mereka. Yesus mau masuk ke dalam kota dan menghalaukan pimpinan setan-setan dalam kota itu, tetapi masyarakat lebih memilih untuk menutup diri. Masyarakat menutup diri, tidak mau menerima tawaran keselamatan Allah yang hadir dalam diri Yesus.

Dengan menolak Yesus untuk berkarya di dalam kota itu, jelas bahwa kota dan masyarakatnya tidak mau selamat. Mereka mau lebih memelihara setan-setan. Memang benar, bahwa keselamatan Allah khusus bagi orang-orang yang sungguh-sungguh percaya danmau membuka hati dan seluruh dirinya kepada Yesus. Keselamatan Allah sebuah tawaran, tetapi jika tawaran itu ditolak, jelas bahwa orang-orang tidak mau memilih keselamatan tetapi lebih memilih kemauan setan-setan.

3.     Implementasinya Untuk Hidup Hari ini:
a.    Yesus sampai dengan sekarang dan yang akan datang, masih tetap berkarya di dalam diri orang yang percaya dan menerima tawaran keselamatan Allah. Syaratnya adalah membuka hati, menerima rahmat Allah dan menyakinkan diri bahwa Yesus sedang berkarya dalam hidup kita. Ini sungguh terrealisasi dalam doa-doa, ekaristi dan sakramen yang lain serta perbuatan amal baik kita dengan tulus ikhlas.

b.   Setan-setan bisa saja merasuk setiap orang, baik yang beriman kepada Kristus, ketika lengah maupun orang yang tidak beriman kepada Kristus. Karena setan-setan memiliki kemampuan ‘menular’ baik melalui orang-orang seperti penjaga kawanan babi maupun masyarakat Gadara tadi ataupun melalui barang dan apapun bentuknya. Karena itu, waspadalah...berdirilah teguh dalam iman!

c.    Keselamatan Allah adalah sebuah tawaran bagi siapa saja. Karena merupakan tawaran, maka kita hanya diminta memilih. Pilihan kita memiliki konsekuensi dua sisi. Sisi mau selamat atau sisi tidak mau selamat. Mau selamat berarti akan mengalami kebahagian bersama Allah, tidak mau selamat berarti mau menghidupi cara setan, ‘menular’ kemana-mana, terserah setan.


Akhirnya, Yesus mau mengajak kepada kita yang percaya kepada-Nya, dengan mengatakan ‘pergilah’. Pergilah menjadi kalimat yang menarik untuk orang yang percaya kepada-Nya. Supaya orang yang percaya kepada-Nya itu mampu menularkan keselamatan bagi siapapun juga yang tidak percaya kepada Yesus dan yang sudah percaya kepada Yesus namun masih dalam kungkungan setan. Selamat menempuh karya keselamatan Allah dalam hidup kita masing-masing. **al**

Jumat, 27 Juni 2014

Mari, Belajar dari Yesus Supaya Mampu Bersyukur kepada Bapa

(refleksi hidup hari ini)

1.     Teks Kitab Suci Hari Ini: Matius 11: 25-30
25Pada waktu itu berkatalah Yesus: "Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil. 26Ya Bapa, itulah yang berkenan kepada-Mu. 27Semua telah diserahkan kepada-Ku oleh Bapa-Ku dan tidak seorangpun mengenal Anak selain Bapa, dan tidak seorangpun mengenal Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakannya.

28Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. 29 Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. 30Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Kupun ringan."

2.     Penjelasan Teks Kitab Suci:
Membaca dan merenungkan teks ini, termaktub dua hal yang mendasar. Pertama, tentang ajakan bersyukur kepada Allah (ayat 25-27). Ajakan ini telah ditunjukkan Yesus dalam doa-Nya kepada Bapa di Surga. Isi doa-Nya adalah ucapan syukur, karena Bapa telah mengutus Dia sebagai Anak-Nya yang hidup bersama dengan manusia dan makhluk ciptaan Bapa. Kedua, setelah Yesus berdoa kepada Bapa-Nya, Ia mengajak kita untuk belajar dari Dia (ayat 28-30). Tujuan dari belajar dari Dia adalah supaya mampu bersyukur kepada Bapa, karena dengan belajar dari Dia, kita umat-Nya telah diberi kuasa yang kuat.

Dalam ayat 25, terbaca doa syukur Yesus. Doa syukur Yesus itu dialamatkan kepada Bapa. Sapaan Bapa, mengungkapkan rasa keakraban, kedekatan, sahabat karip, sudah saling kenal secara lebih mendalam satu sama lain. Karena sudah saling kenal maka tidak ada rahasia (Yunani: mysterion) lagi. Dan Bapa yang diungkapkan oleh Yesus itu adalah Penguasa langit dan bumi. Menjadi Penguasa langit dan bumi berarti Bapa menjadi Pemilik tunggal seluruh alam semesta. Ketersingkapan misterion Allah itu, disebut Yesus bukan untuk orang yang bijak dan pandai tetapi justru untuk orang kecil.

Disini Yesus membedakan orang bijak dan pandai, dengan orang kecil. Maksud Yesus orang bijak adalah orang yang mempunyai pengetahuan atau orang yang berilmu. Sedang orang pandai adalah orang yang pintar atau orang yang ber-IQ (intelek). Mengapa Yesus mengapakan bahwa misterion Allah tidak disingkapkan untuk mereka ini? Jelas bahwa dalam hidup mereka, karena merasa sudah bijak dan pandai, mereka tidak lagi mengandalkan Bapa di Surga. Bahkan mereka tidak lagi mengucapkan syukur kepada Bapa, mereka lebih mengandaikan kemahiran, kepintaran, kebijaksanaan diri sendiri, ketimbang mau mendengarkan dari Bapa.

Misterion Allah dinyatakan kepada orang kecil. Maksud Yesus orang kecil adalah orang-orang yang tertindas, tak berdaya, tidak memiliki kekuatan untuk berkarya, apalagi berkuasa. Dan dalam diri orang-orang seperti inilah, Yesus mengungkapkan diri sebagai Pembela dan bersedia membuka hati untuk mendengar dan mau menyelamatkan mereka. Tujuan misterion Allah tadi supaya rahasia Bapa yang menjadi Pemiliki alam semesta itu juga akan mereka rasakan juga. Ini sikap belarasa Yesus terhadap orang-orang kecil. Sikap belarasa Yesus terhadap orang-orang kecil inilah, ditegaskan oleh Yesus kepada Bapa-Nya sebagai sesuatu yang menyenangkan Bapa (ayat 26).

Yesus memiliki sikap belarasa kepada orang-orang kecil ini, karena Dia sendiri mengenal Bapa-Nya. Yesus dan Bapa benar-benar saling kenal, terungkap dalam ayat 27: bahwa Bapa menyerahkan semuanya kepada Yesus, Hanya Bapa yang mengenal Yesus, dan hanya Yesus yang mengenal Bapa, karena itu hanya Yesus-lah yang mengenal Bapa sehingga apa yang diungkap-Nya itu adalah ungkapan Bapa-Nya.

Karena misterion Bapa hanya Yesus yang mengenal dan mengungkapkan-Nya, Yesus lalu mengajak para murid-Nya untuk datang belajar dari Dia bagaimana mengenal Bapa yang dikenal Yesus itu. Ajakan Yesus ini ternyata ditujukan kepada para murid-Nya yang letih lesu dan berbeban berat; iya...ajakan untuk orang kecil supaya datang kepada-Nya. Karena Yesus tahu bahwa dalam diri mereka yang letih lesu dan berbeban berat ini, mereka sedang menginginkan-memimpikan kelegaan, kepuasan fisik dan mental, keselamatan secara keseluruhan dalam hidup mereka (ayat 28).

Kepada orang-orang kecil ini, Yesus meminta supaya belajar dari Yesus. Tidak hanya datang diberi makan-minum lalu pulang, setelah puas tidak datang lagi. Ini bukan maksud Yesus. Yang dimaksudkan Yesus ialah datang, duduk dekat kaki Yesus, belajar bagaimana menjadi murid yang setia dan taat kepada Sabda-Nya lalu pulang menjadi pelaksana Sabda-Nya yang setia dan taat. Setelah itu datang dan menimbah lagi kekuatan dari Yesus. Sebuah proses belajar yang terus menerus-tidak terputuskan oleh situasi apapun. Proses belajar lalu melaksanakan secara terus menerus adalah sebuah ‘kuk’. Yesus memakai kata ‘kuk’, kata ini sebenarnya cocok dipasang pada leher kerbau, agar kerbau itu bisa memikul beban sehingga bisa berjalan, tanpa beban itu jatuh dan menimpah kerbau (ayat 29).

Proses belajar pada Yesus yang terus menerus ini merupakan ‘kuk’ yang dipasang Yesus. Sehingga Sabda Yesus yang ada didalam hati dan pikiran kita menjadi penuntun dalam hidup dan bertahan dalam segala badai yang menghadangi kita. Karena dalam proses belajar pada Yesus bukan dengan cara kekerasaan tetapi dengan cara lemah lembut dan rendah hati. Sikap Yesus ini pun menjadi pedoman hidup kita ketika kita melaksanakan Sabda-Nya dalam hidup kita. Melaksanakan Sabda-Nya dengan lemah lembut dan rendah hati, bukan secara fanatik dan apalagi fundamentalis. Dengan menjadi pelaksana Sabda-Nya yang bersikap lemah lembut dan rendah hati, tentu diri sendiri pun merasa aman dan nyaman bahkan orang-orang yang kita jumpapun akan mengalami ungkapan sikap kita dengan rasa yang sama. Ketika kita murid-Nya memiliki kemampuan yang demikian ini, tentu Yesus pun akan merasa senang dan bahagia. Karena proses belajar pada Dia, tidak sia-sia (ayat 30).

3.     Implementasi Untuk Hidup Kita:
a.    Banyak orang beriman rajin berdoa kepada Yesus. Namun doa-doa mereka itu dengan topik utama ‘meminta dan memohon’. Bisa jadi jarang tema doanya ucapan syukur kepada Dia. Hari ini Yesus mengajak kita untuk selalu bersyukur kepada-Nya atas apa yang diperoleh dari Dia. Syukur karena kepada saya dan anda, diajak-Nya untuk selalu bersyukur kepada Bapa-Nya. Juga bersyukur karena dalam diri Yesus, satu-satunya orang yang mengenal secara mendalam tentang Bapa. Bersyukur kepada Yesus karena dalam diri-Nya, wujud Bapa yang tak kelihatan itu menjadi nampak nyata.

b.    Cara berdoa yang baik. Bahwa doa yang baik adalah doa kepada Bapa di Surga melalui Anak-Nya, Yesus. Dan isis doa yang pertama adalah ucapan syukur setelah itu mengungkapkan isi-isi doa yang lain.

c. Menjadi murid Yesus adalah datang kepada-Nya, belajar dari kelemahlembutan-Nya dan sikap kerendahan hati-Nya. Dengan begitu, kita murid-Nya menjadi pelaku Sabda-Nya dengan sikap dan cara yang sama seperti yang ditunjukkan kepada kita. Karena apa yang ditunjukkan-Nya itu berasal dari Bapa di Surga. Hanya Dia-lah yang menjadi wujud Allah yang dekat dengan kita umat-Nya.

d.  Menjadi murid-Nya, bukan hanya sekali saja datang kepada Dia. Sekali datang kemudian menghilang. Tidak seperti ini. Yesus justru mengajak para murid-Nya untuk datang dan belajar secara terus menerus, kapan dan dimana saja. Karena Dia ada melintasi segala ruang dan waktu. Belajar daripada-Nya tidak mengenal her atau remedial atau karena gagal lalu Dia berhentikan atau dipecat. Tidak. Sikap lemah lembut dan rendah hati-Nya akan menjadi ‘rahim’ yang mampu membuat para murid-Nya merasa aman dan nyaman menjadi pelajar dan pelaku Sabda-Nya.

e.  Datang dan belajar pada Yesus bukan seperti orang bijak dan pandai, tetapi seperti orang kecil, yang polos, yang mau belajar tanpa berkomentar dan protes kepada Yesus. Sikap rendah hati, itulah yang menjadi tuntutan ‘sekolah’ Yesus.

f.  Bagaimana cara kita datang dan belajar pada Yesus? St. Hieronimus mengatakan, barangsiapa tidak membaca Kitab Suci, ia tidak mengenal Kristus. Dalam Kitab Suci, Yesus sedang berbicara kepada kita. Ia sedang mengajarkan kita tentang Sabda-Nya. Karena mengenal Kristus jauh lebih mulia daripada segala pengenalan kita yang lain.


Akhirnya, kita mau menjadi ‘pelajar’ yang tanpa mengenal remedial dan menjadi pelaku Sabda-Nya dalam hidup penuh perjuangan ini. Karena dengan menjadi ‘pelajar’ yang setia dan rajin, tentu akan dipasang ‘kuk’ yang kuat sehingga mampu menjadi pelaku Sabda Yesus tanpa mengalami kesulitan dalam hidup ini. **al**

Bukan Hanya Sebatas Mendengar Tapi Melakukan

(refleksi hidup hari ini)

1.  Teks Kitab Suci Hari ini Matius 19: 21-29:
21Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga. 22Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga? 23Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!"

24"Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu. 25Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu. 26Tetapi setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan tidak melakukannya, ia sama dengan orang yang bodoh, yang mendirikan rumahnya di atas pasir. 27Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, sehingga rubuhlah rumah itu dan hebatlah kerusakannya."

28Dan setelah Yesus mengakhiri perkataan ini, takjublah orang banyak itu mendengar pengajaran-Nya, 29sebab Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat mereka.

2.  Penjelasan Teks Kitab Suci:
Ketika membaca dan merenungkan Sabda Yesus ini dengan lebih teliti, secara garis besar, muncul dalam benak saya pertanyaan berikut ini yang menggesek hati saya. ‘Siapa sih sebenarnya menjadi murid Yesus?’ ‘Apakah murid Yesus itu adalah pendengar setia Sabda-Nya atau pelaksana yang rajin dan setia Sabda Yesus, ataukah menjadi pendengar dan pelaksana Sabda Yesus itu?’

Ternyata seorang murid Yesus rupanya tidak hanya sebatas ‘berdoa’ melulu. Memang dalam ‘doa-doa’ baik doa secara pribadi atau doa-doa dalam kebersamaan, selalu kita menyapa Yesus dengan sapaan yang khas. Ayat 21 teks ini, Yesus menyebut bahwa dalam doa-doa itu kita menyapa-Nya dengan Tuhan. Menyapa-Nya dengan Tuhan, tidak salah. Tepat sekali, karena ketika kita mengucapkan ini, Yesus telah dimuliakan dalam Surga. Dan tentu ucapan atau sapaan kita ini berangkat dari ungkapan hati yang tulus ikhlas sebagai berimanan kita.

Kata Tuhan yang dipakai Matius berasal dari kata Yunani ‘kyrios’ yang artinya ‘tuan.’ Kata kyrios disebut Matius dalam hubungan dengan penghakiman. Maka pada ayat ke-22-23, Yesus menyebut ‘pada hari terakhir’... Itu artinya bahwa sebagai murid Yesus selama hidupnya, titik ukur keberimanan kita kepada Yesus, hanya Dia-lah yang tahu. Namun titik ukur ini secara jelas sudah ditegaskan pada awal ayat 21. Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, Tuhan, masuk ke Surga tetapi mereka yang melakukan Sabda Tuhan. Disini jelas sekali, Yesus mengetahui siapa sih sebenar menjadi murid-Nya. Maka kita boleh merumuskan disini, siapa sih menjadi murid Yesus itu? Murid Yesus sejati ialah mereka yang beriman kepada-Nya dengan sepenuh hati. Maksud adalah mereka yang tidak hanya mendengarkan Sabda Tuhan dengan setia tetapi dengan setia juga melaksanakan dalam hidup riil setiap hari. Lalu menjadi murid Yesus hanya sebatas mendengar atau melakukan saja, ia bukan menjadi murid Yesus yang sejati. Karena titik ukurnya ialah mendengar dan melakukan sebagai suatu kesatuan proses yang nyata-dan timbal balik, maka boleh jadi siapapun boleh menyatakan diri sebagai murid Yesus, namun titik ukuran ini terbongkar ketika hari penghakiman. Di hari inilah, kesejatian sebagai murid akan diketok palu, masuk surga atau neraka.

Lalu pada ayat 24-27, Yesus menyampaikan kejelasan lagi soal menjadi murid-Nya dengan membandingkan orang yang membangun rumah di atas batu atau di atas pasir. Yesus memuji kesejatian murid-Nya bahwa siapa pun murid-Ku yang mendengar dan melakukan Firman, dialah orang yang bijaksana. Karena apa yang dilakukannya itu sama dengan orang yang membangun rumah di atas batu. Pasalnya, ia sudah melihat ke depan situasi hidupnya. Bahwa selama hidup ini pasti saja ada tantangan dan halangan yang bisa saja datang baik secara alamiah maupun secara buatan tangan orang-orang lain atau nabi-nabi palsu. Dengan cara berpikir dan berpola hidup untuk masa depan, jelas bahwa apa yang telah dilakukannya itu mampu mengatasi segala cobaan dalam hidup.

Hal ini jauh berbeda sekali dengan orang yang mengatakan diri sebagai murid Yesus, tetapi ia hanya mendengarkan Sabda Tuhan atau hanya melakukan Sabda Tuhan. Lalu ia berpresiden bahwa Yesus itu adalah mahakasih karena itu Yesus pasti mengampuni kesalahan orang. Orang yang hanya mampu memilahkan ini, Yesus menyamakannya dengan orang bodoh, yang memabngun rumah di atas pasir. Dan jelas bahwa ketika rintangan dan halangan apa saja yang datang, tentu akan roboh dan hancur berantakan. Biasanya orang seperti ini lalu memiliki kemampuan untuk menyalahkan Tuhan. Mengapa Tuhan tidak ada saat aku mengalami situasi seperti ini? Dan lain-lain lagi pertanyaan yang memojokan Tuhan.

Pengajaran Yesus tentang siapa sih murid-Nya ternyata membuka mata hati para pendengar-Nya, tentu termasuk kita-kita ini. Sikap para pendengar yang muncul adalah mengagumi dan tercengang akan pengajaran Yesus, karena pengajaran-Nya itu amat berwibawa, punya otoritas yang berasal dari Bapa-Nya. Sikap ini mau menyampaikan kepada kita bahwa ternyata menjadi murid-Nya tidak hanya sebagai pendengar setia dan rajin berdoa, tetapi sebenarnya setia dan rajin juga dalam melaksanakan Sabda Tuhan yang sudah didengar itu. Bisa beriman kepada Yesus karena mendengarkan, tetapi iman tanpa berbuatan adalah mati. Dengan pengajaran Yesus ini, sebenarnya mau mengkritik para ahli Taurat yang hanya hebat membuat banyak aturan dan menjadi pengajar yang hebat tentang Taurat tetapi tidak mampu melakukannya dalam hidup mereka.

3.  Relevansinya Untuk Hidup Kita:
a.    Berdoa yang terus menerus dan rajin, ternyata tidak menjamin masuk Surga. Berdoa yang terus menerus dan rajin itu sangat baik. Tetapi bukan hanya sebatas itu. Berdoa adalah menambah ‘amunisi’ untuk menjadi kekuatan dalam melakukan isi doa. Atau dengan bahasa Matius tadi, bukan hanya mengambil Tuhan, tetapi juga melakukan Sabda Tuhan. Hubungan doa dan kenyataan hidup adalah satu kesatuan yang utuh.

b.    Kesejatian menjadi murid Yesus hanya diketahui oleh Yesus ketika kita sudah meninggal. Tidak ada orang yang mampu mengetahui atau mengukurnya. Ukurannya memang jelas ‘mendengar dan melakukan Sabda Tuhan secara nyata dalam hidup. Tetapi untuk mengetahui, hanya pada Yesus sendiri. Kalau dipikir-pikir menjadi murid Yesus yang sejati (bijaksana-orang yang membangun rumah di atas batu) dan menjadi murid Yesus yang tidak sejati (bodoh-orang yang membangun rumah di atas pasir), hanya ukuran tipis didalam batin setiap orang. Karena ukurannya ada didalam batin, sangat sulit diketahui oleh sesama, hanya dapat diketahui oleh Yesus sendiri.

c.    Perziarahan hidup manusia beriman kepada Yesus, tentu mengimpikan keselamatan abadi. Supaya dapat mencapai hal itu, Yesus mengatakan seorang murid-Nya harus mendengarkan dan menjadi pelaku Sabda-Nya. Yang mendengar dan menjadi pelaku Sabda-Nya adalah orang yang bijaksana, sedang yang tidak melakukan kedua-duanya atau hanya satu diantara keduanya itu disebut-Nya sebagai orang bodoh.

Orang bijak akan masuk Surga dan orang bodoh akan diusir-Nya. Bukan hanya diusir-Nya tetapi bahkan Yesus pun tidak mengenal orang itu atau menyangkalnya. Kalau dipikir-pikir, sudah menjadi murid-Nya: sudah hanya mendengarkan Sabda-Nya atau hanya melakukan Sabda-Nya, malah diusir dan disanksikan-Nya serta dianggap sebagai pelaku kejahatan pula. Untuk hal ini, yang mau ditegaskan Yesus disini ialah bagaimana cara berpikir dan memahami secara mendalam menjadi murid Yesus secara holistik.


Akhirnya, dengan kita membaca dan memahami dengan lebih baik Sabda Tuhan hari ini, kita dapat menghayati bagaimana menjadi murid-Nya yang sejati. Bahwa kesejatian menjadi murid Yesus ialah mendengarkan Sabda-Nya dan melakukan Sabda-Nya itu dalam hidup sehari-hari. **al**

Senin, 23 Juni 2014

Yesus Memberikan Peringatan kepada Manusia yang tidak mau Mengintrospeksi Dirinya

(refleksi hidup hari ini)

Teks Kitab Suci hari ini: Matius 7: 1-5
1"Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi. 2Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu. 3Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui? 4Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: Biarlah aku mengeluarkan selumbar itu dari matamu, padahal ada balok di dalam matamu. 5Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu."

Penjelasan Teks Kitab Suci:
‘Menghakimi’ sama katanya dengan ‘mendiskreditkan’, ‘menghukumi’, dan ‘membuat seseorang malu atau terpojok’. Apalagi, tindakan ini dilakukan di depan beberapa orang atau publik. Perilaku semacam ini tentu tidak bersikap bijak, intoleran, dan lebih dari itu memunculkan sikap sombong angkuh, dan mau menang sendiri dari orang yang melakukan, disatu sisi. Dan disisi yang lain, akan memunculkan sikap benci, jengkel, amarah, dan dendam kusumat dari yang mengalami tindakan itu. Tidak heran, jika Yesus memberikan peringatan kepada kita pada ayat 1, ‘Jangan kamu menghakim, supaya kamu tidak dihakimi.’ Pernyataan Yesus ini terasa sepele namun memiliki efek yang besar untuk hidup sebagai satu masyarakat Allah.

Tindakan menghakimi, akan memunculkan efek balas dendam di masa yang akan datang (ayat 2). Seolah-olah, seseorang yang mengalami akibat penghakiman itu, dalam hati dan pikirannya akan berkata, ‘tunggu saatnya kamu, pasti kamu akan mengalami hal yang sama pada suatu saat’. Ungkapan ini pun terlihat sepele. Namun, punya efek juga pembalasan yang akan dialami. Jika ungkapan ini didengung terus menerus, iya....semacam ‘doa’ yang berisi negatif-kutukan yang akan terjadi. Mengapa? Dalam hidup manusia tidak terlepas dari gejolak hal positip dan negatif. Bagaikan sebuah roda yang terus berputar dan pada saatnya akan mengalami sikap hidup negatif.

Karena itu, harus perlu bersikap hati-hati dan bijaksana dalam hidup ini. Sikap hati-hati ialah sikap diri yang mampu mengendalikan sesuatu keinginan. Sikap hati-hati sama dengan sikap waspada. Ini hal positip yang perlu dilakukan. Karena itu, dalam mengungkapkan atau mengambil tindakan sesuatu kepada orang lain, perlu dipikirkan dan dibarengi dengan sebuah pertimbangan yang matang, soal efektivitas hidup ke depan. Sikap bijaksana ialah sikap mempertimbangkan hal positip yang seharusnya lebih banyak dari pada hal negatif, sehingga yang muncul adalah positip thinking. Terhadap sikap hati-hati dan bijaksana ini, (ayat 3-4), Yesus mendukung dengan mendalami kedua sikap ini dengan sebuah solusi yang amat efektif, yaitu lebih baik dan bijak bila diri sendiri mengoreksi diri terlebih dahulu, sebelum keluar dari diri mengoreksi orang lain yang ada disekitar kita. Karena bukan orang lain tidak mampu mengoreksi diri orang lain, tetapi justru dia tahu diri, bahwa dirinya juga tidak lebih baik dari orang lain.

Jika sikap keberanian kita tidak mengoreksi diri sendiri, itu artinya bahwa kita membiarkan diri untuk tetap berada dalam ‘lumpur’ lalu tanpa sadar mengajak orang lain, masuk dalam lumpur yang sama. Jika inilah yang dilakukan, Yesus akan menyapa kita dengan sebutan yang sangat tidak manusiawi: ‘hai kamu orang munafik’ (ayat 5). Munafik adalah sikap menggeneralisasi kebenaran dalam dirinya dan dengan sikap berani mempersalahkan orang lain.

Relevansinya Untuk Hidup kita hari ini:
a.     Introspeksi diri sama dengan memeriksa batin. Introspeksi diri ialah usaha untuk masuk ke dalam diri sendiri. Masuk ke dalam diri lalu mengenal diri dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Keduanya harus diakui, harus diterima dengan sikap jujur dan tawakhal. Kelebihan ditingkatkan dalam membangun relasi baik dengan Tuhan maupun dengan sesama. Kekurangan diri juga harus berani untuk diperbaiki. Memperbaiki sendiri tentu banyak orang akan berpikir gampang. Jika ini yang selalu dipikirkan maka perbaikan tidak akan terjadi. Memperbaiki diri pun harus dalam relasi dengan Allah, sehingga kita mampu dan jujur dihadapan Allah. Perbaikan diri dalam relasi dengan Allah itu, harus nyata bahwa benar sudah diperbaiki dalam hidup dengan sesama. Ini wujud konkrit.

Ternyata tindakan mengintrospeksi diri tidak gampang dilakukan. Bahkan tidak terus menerus dijalankan. Ini kesulitan. Sehingga terkadang banyak orang jatuh dalam sikap lebih mudah menghakimi atau mempersalahkan orang lain, ketimbang diri sendiri. Lebih parah lagi, karena situasi menjepitnya, seseorang lalu mempermalukan seseorang atau orang lain di depan publik. Tidak mudah orang mempersalahkan dirinya sendiri. Selalu mencari jalan untuk mempersalahkan orang lain.

Hari ini, warta Yesus mengingatkan kita, supaya lebih giat berusaha untuk mengenal diri sendiri sebelum mengenal diri orang lain. Memang terkadang orang lain terlihat lebih ‘menarik’, lebih dibilang ‘seksi’ karena gemuk, kurus, ramping sehingga mau mengenal orang lain lebih dalam lagi. Namun, ini terasa hanya lahiriah saja. Lebih bijaksana diri sendiri perlu berusaha untuk mengenal diri sendiri. Mungkin lebih baik dan bermartabat, semestinya setiap saat selalu mempunyai waktu luang walau hanya sedetik atau semenit melihat dan memahami diri dan tindakan kita. Sehingga apa yang dibuat nanti, tidak menjadi batu sandungan untuk orang lain bahkan bagai bumerang yang kembali menghantam diri sendiri.

b.     Introspeksi diri bukan kemudian menjadi bersikap egoisme diri atau menjadi orang yang tertutup. Karena itu, dalam berpola pikir tentang manusia, manusia adalah dinamis bukan statis. Manusia dinamis, adalah manusia yang berziarah meningkatkan kelebihan dan memperbaiki kekurangan. Tidak ada manusia yang tidak mampu memperbaiki kelemahan atau meningkatkan kelebihan. Yang tidak mampu itu adalah makhluk infrahuman. Karena itu, tentu membutuhkan orang lain untuk menyemangati bukan mengkerdilkan atau mengotak-kotaknya.

Akhirnya, selamat mengintrospeksi diri dan selamat berziarah untuk menjadi manusia yang dinamis yang melihat kehidupan baru di masa depan.***

Sabtu, 21 Juni 2014

Pilihlah Yang Terpenting Dalam Hidup Ini

(refleksi hidup hari ini)

Teks Kitab Suci
25"Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian? 26Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di sorga. Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu? 27Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya?

28Dan mengapa kamu kuatir akan pakaian? Perhatikanlah bunga bakung di ladang, yang tumbuh tanpa bekerja dan tanpa memintal, 29namun Aku berkata kepadamu: Salomo dalam segala kemegahannyapun tidak berpakaian seindah salah satu dari bunga itu. 30Jadi jika demikian Allah mendandani rumput di ladang, yang hari ini ada dan besok dibuang ke dalam api, tidakkah Ia akan terlebih lagi mendandani kamu, hai orang yang kurang percaya? 31Sebab itu janganlah kamu kuatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai?

32Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu. 33Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu. 34Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari."

Penjelasan Teks Kitab Suci dan Relevansinya Untuk Hidup kita:
Teks Kitab Suci hari ini dikisahkan oleh Penginjil Matius dengan amat menarik. Amat menarik karena Yesus berbicara soal hidup yang menyentuh kebutuhan pribadi seseorang. Apa kebutuhan pribadi seseorang itu? Perhatikan pada ayat 25. Bahwa disana Yesus membicarakan soal makan-minum dan pakaian. Makan minum menyangkut kebutuhan lahiriah supaya tubuh kita tidak merasa lapar dan haus secara alamiah. Selain itu diayat yang sama ini, Yesus pun berbicara soal pakaian yang dipakai untuk menutup tubuh. Ada korelasi antara tubuh dan pakaian. Relasi erat itu menyangkut, tubuh kita yang semakin besar dan subur oleh karena makanan dan minuman perlu ditutupi dengan pakaian agar tidak dianggap pornografi. Tidak dianggap tidak sopan santun. Kalau tidak ditutupi, akan memunculkan persoalan baru. Persoalan menyangkut pelanggaran tatakrama hidup sebagai makhluk sosial.

Karena tuntutan menyangkut hal ini, orang lalu ribut-bersungut-sungut tentang mana yang lebih penting. Kepentingan atau kebutuhan hidup lalu bergeser. Pergeseran nilai hidup inilah yang mengundang Yesus untuk angkat bicara dengan meminta tiap-tiap orang melihat, memahami, dan merefleksikan lebih dalam soal pilihan hidup mana yang lebih diutamakan dalam hidup ini.

Yesus mengundang para pendengar-Nya dengan membuat perbandingan. Perbandingan yang diangkat Yesus pun, secara alamiah yang ada disekitar kita. Itu artinya Yesus mau supaya kita manusia pun perlu mempelajari apa yang diberikan Allah melalui alam ciptaan-Nya. Terlihat sangat lucu bahwa manusia yang berakal budi, diminta Yesus untuk belajar dari burung-burung, yang tidak berakal. Sebuah kritikan besar Yesus untuk manusia. Bahwa sebetulnya, tidak perlu kuatir akan hidup soal makan dan minum. Manusia dengan akal budi yang diberikan Allah harus jauh lebih hebat: hebat dalam pengaturan hidup, hebat dalam membuat pilihan yang lebih penting, dan hebat dalam pengelolaan ekonomi hidup yang ada; yang dimiliki manusia.

Untuk melihat, memahami dan merefleksikan soal pengutamaan kebutuhan makan-minum, Yesus memberi contoh tentang burung-burung di langit (ayat 26-27). Bahwa burung-burung itu, tidak bekerja tetapi justru bisa hidup. Hidup burung-burung ternyata disediakan juga oleh Allah. Bahkan burung-burung pun tidak banyak memikirkan hal soal makan dan minum, tetapi dengan cara mereka, mereka bisa hidup. Mereka terbang kesana kemari, dan hinggap. Mereka lalu dipelajari oleh manusia modern sehingga menghasilkan ‘burung-burung besi.’ Ha..., ternyata berguna juga iya burung-burung ini.

Hal yang sama soal makan minum, Yesus pun menekankan soal pakaian (ayat . 28-31). Jelas bahwa Yesus tidak meminta bahwa manusia harus berpakaian yang mewah dan yang berkualitas tinggi. Karena apa? Karena Yesus lebih menekankan kekudusan dan kesucian tubuh manusia. Mengapa? Karena didalam tubuh manusia itu ‘kemah Allah’. Allah yang sedang bekerja-mendorong manusia untuk lebih hidup, hidup yang mengutamakan diri-Nya sendiri, bukan soal makan minum dan pakaian. Maka tidak heran, Yesus meminta kita manusia untuk belajar dari bunga bakung. Juga belajar dari kemewahan Salomo tidak tertandingkan dengan keindahan dan keelokan bunga bakung di ladang.

Setiap perbandingan yang diangkat Yesus, selalu diakhiri dengan pertanyaan untuk para pendengarnya. Mana yang lebih diutamakan, makan-minum atau hidup, pakaian atau tubuh manusia? Pertanyaan ini sudah jelas bahwa Yesus meminta kita memilih soal hidup dan tubuh. Bahwa hidup itu perlu dimaknai secara luas, bukan hanya berjuang untuk mendapatkan makan-minum dan pakaian. Bahwa hidup itu adalah proses. Proses untuk sampai pada persekutuan dengan Allah dalam Yesus. Bukan hidup itu proses hanya sampai pada makan-minum dan berpakaian saja.

Memang hidup itu adalah sebuah pencarian. Pencarian hanya untuk mencapai makan minum dan pakian adalah hidup bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah (ayat 31). Mereka lupa bahwa apa yang dibutuhkan itu telah disediakan oleh Allah. Tinggal bagaimana manusia yang memiliki akal budi itu mengatur, mentana, mengola, dan mengendalikan diri atas segala kepentingan atau kebutuhan tambahan dalam hidup ini. Bisa jadi bukan mereka lupa, tetapi mereka tidak mengenal Allah, karena makan minum dan pakaian adalah ‘topeng’ yang menutup mata mereka untuk melihat dan berjumpa dengan Allah.

Bagi orang yang memaknai hidup dengan mengutamakan hidup sebagai perjuangan dan pencarian makna hidup hingga ber-communio dengan Allah dan memaknai tubuh sebagai ‘kemah Allah’ yang hidup dari tubuh dan darah Kristus, boleh mengutama Kerajaan Allah. Karena mengutamakan Kerajaan Allah (ayat 33-34), Allah dengan tidak henti-hentinya senantiasa menyertai, membimbing dan menuntun kita untuk kuat dan sehat dalam bekerja dan menjadikan kita berkat bagi sesama kita (Mat. 1:23; 18: 20; 28: 20). Karena itu, jangan kuatir soal makan-minum dan pakaian, tetapi gunakan hidup sebagai baiknya untuk merawat tubuh, karena tubuh adalah ‘kemah Allah’, ‘kemah rohani’ yang melaluinya kita manusia mencapai hidup sempurna dalam Yesus. ***

Jumat, 20 Juni 2014

Fokus Pengabdian Manusia: Kepada Allah atau Kepada Harta?

(Reflection of life today)

Text from Matthew 6: 19-24:
19 "Do not lay up treasures on earth, where moth and rust earth destroy, and where thieves break in and steal. 20th but for yourselves treasures in heaven, where moth and rust do not destroy, and where thieves do not break in and steal. 21 For where your treasure is, there will your heart be. 22nd eye is the lamp of the body. If your eyes are good, your whole body of light; 23 if your eye is bad, your whole body gelaplah. So if the light in you is darkness, how great is that darkness. 24 No one can serve two masters ., for either he will hate the one and love the other, or he will be devoted to the one and despise the other. Ye can not serve God and Mammon to. "

Explanation Text:
Evangelist Matthew remind everyone in this life. Firstly , verse 19, which begins with the phrase 'please'. Do not collect treasure on earth. Why? Because the treasure in the earth will gradually destroyed by moth and rust and will be an attraction of others so that others do not have good intentions to come steal it. Secondly, verse 20, Jesus encouraged people to collect treasures in heaven. Because, the treasure which has been 'deposited' man in heaven, will not moth, will not rust, and will not be stolen oranga another. Because only God who determines the pin and guard our deposit.

Collecting treasure for life is a positive attitude and a way of life. But keep in mind that how to get the treasure and the way we behave towards property, that is what needs to be seen again, so do not bring bad effect either for themselves or for others. Because of the way we behave to the property, this is particularly emphasized in this text in paragraph 21. Attitude is too focused and forgotten treasures will be other things that his own spiritual life.

It turns out, how do I get the treasure on earth would make someone else to arouse the desire of all sorts. In fact people will be jealous and have a nasty strategy to get the treasure collected. God will bind us again this attitude, which is contrary to the Law of God himself, 'do not steal' (7), 'do not wish to have your neighbor unjustly' (10).

Of our attitude toward wealth and how we get it, God confirmed to us about ourselves, that within us there are two attitudes are always at odds with each other, ie between 'light and dark' (cf. verse 22). That attitude and how to obtain a true treasure comes from the 'bright' glowing from within. That the light that comes out of us that have been placed by God since man was created. So human beings are basically good and spiritual. His body needs a 'treasure' for life. But the spirit or light given by God it will redirect his life to the Giver of Life.

The darkness of life will emerge if people just focus on collecting treasures alone (cf. verse 23) He no longer directs his life to follow the direction of light that continues to direct his life towards communion with the Eternal Light. Even the attitude that focuses on property, gradually, will cover the divine light that always leads to the treasure of his life. So that the whole self and life, treasure the primary focus in life.

Jesus at the end of this text asking people to make accurate choices in life. Preference will be determined humans, are clearly demonstrated by Jesus himself. That man can not serve two masters (cf. verse 24). Because if you serve two masters, will bring that attitude to love one and hate the other. If this attitude is maintained in life, fairness, honesty, virtue love law, be gone.

Meaning Text For Life Struggle:
Life is a struggle (est vitae militia). Everyone struggles lead to happiness in life. Outer and inner happiness. Happiness was born when basic needs are met such as food, clothing, shelter, and others exist. Inner happiness, such as serenity, comfort, and life rohanih also be a balancing outward life. Both happiness is not dilepaspisahkan each other. It takes what we often call the harmony or conformity.

The struggle of life to gain happiness, of a claim of Jesus. Jesus wanted the life that used not only for self, family and tribal interests, but also to the interests of many people, across families, tribes, and cultures. Therefore, counsel of Jesus in order to put God first is the basic thing. Why? In order not to bring up the attitude of envy, jealousy, pride, and greed both from themselves and from others around us. In other words, promoting the property for a happy life it is okay, but that's not important.


Foremost of these are treasures gained through with a fine and dignified, able to share, to help one another, as the way we deposit a heavenly life. Because it will not moths, will not rust, and will not be stolen by others. The more we deposit to God, multiplies interest. Here may we sandingkan with a servant who received two talents received two talents more profit and a servant who received five talents gained five talents more. God with an attitude to the Fatherhood will invite servant two talents and five as' O good and faithful servant .... come and obey what the master's happiness. (Matt. 25:21, 23). 'For every person who has, to him shall be given, so it abundantly. But who does not have, anything that belongs to him would be taken from him "(Matthew 25:29). ***

Rabu, 14 Mei 2014

Paskah Ekuimene Bersama SMK Negeri 1 Sungailiat Kabupaten Bangka



Hidup rukun dan toleransi umat beragama di SMK Negeri 1 Sungailiat, sangat dijunjung tinggi oleh para guru, karyawan, dan para siswa-siswi SMK Negeri 1 Sungailiat, Kabupaten Bangka, kian tampak. Pasalnya, untuk perayaan Paskah Ekuimene tahun 2014 ini, justru masuk dalam program kegiatan OSIS SMK Negeri 1 yang bersangkutan. Sekolah melalui OSIS-nya memfasilitasi kegiatan ini. Pengurus OSIS terlihat sibuk mempersiapkan ini tatkala berada di lokasi Paskah Ekuimene bersama antar siswa-siswi dan para guru kristen, di Pantai Matras, salah satu pantai yang menjadi ajang pariwisata bagi masyarakat Pulau Bangka.

Keterlibatan pengurus OSIS mendukung kegiatan Paskah Ekuimene, antara lain: ketika siswa-siswi dan para guru kristen beribadah, mereka mengambil telur paskah lalu menyembunyikan di beberapa titik tempat, yang akan menjadi acara cari telur bersama antar siswa-siswi kristen. Selain itu, keterlibatan pengurus OSIS juga nampak dalam menyiapkan makanan untuk makan bersama dan memanggang ikan untuk menjadi santap bersama, ungkap Elias Sitinjak, S.Ag, guru agama Katolik di SMK Negeri 1 dan sekaligus menjadi ketua panitia Paskah Ekuimene bersama.

Lebih lanjut, Pak Elias, menegaskan bahwa kegiatan ini didukung oleh Kepsek dan para guru yang lain. Dukungan sekolah itu berupa dana. Dana itulah yang kami kelola untuk melaksanakan kegiatan ini. Bagi saya, ini sesuatu yang luar biasa. Karena sekolah memberikan kesempatan bagi anak-anak didik kami yang beragama kristen untuk merayakan Paskah Ekuimene ini (29/4). Inilah yang patut kami banggakan.

Kegiatan Paskah Ekuimene bersama bertempat di Pantai Matras itu, diikuti oleh lebih kurang 40-an siswa-siswi yang beragama kristen dan ditambah dengan tiga guru yang mengajar agama kristen di SMK Negeri 1. Paskah Ekuimene diawali pada pukul 09.30 yang dimulai dengan ibadat ekuimene bersama. Lagu-lagu pujian kepada Tuhan Yesus dikomandankan bersama-sama, kemudian doa, dan selanjutnya pembacaan Firman bersama lalu pujian dan doa penutup. Dalam pembacaan Firman bersama yang dipimpin oleh Alfons Liwun, katekis di Paroki Sungailiat, diambil dari Injil Yohanes 20: 24-29. Setelah baca Firman bersama, Alfons Liwun mengajak siswa-siswi untuk memetik ayat-ayat, atau kata-kata yang mengesan atau menantang atau menarik untuk dibaca secara lantang, supaya para peserta lain ikut merasakan ayat atau kata-kata itu. Setelah proses itu berakhir, baru diberikan penegasan tentang teks Injil yang dibacakan bersama itu.

Alfons Liwun mengajak para siswa-siswi yang merayakan Paskah Ekuimene bersama itu untuk melihat dan memahami tiga hal pokok yang disampaikan Penginjil Yohanes. Pertama, tentang Rasul Tomas. Tomas adalah salah satu dari deretan ke-12 rasul. Tomas memiliki kepribadian yang berbeda dengan ke-11 rasul lain. Kepribadian macam mana yang ditunjukan Tomas ketika Yesus menampakan diri-Nya kepada para rasul lain? Tomas, seorang yang bersikap ragu-ragu. Ia mau melihat Yesus yang bangkit jika ada buktinya. Dan buktinya itu, tidak main-main. Yesus harus menampakan diri-Nya lagi, supaya ia bisa menyentuh  luka-luka Yesus. Meminta bukti menandakan bahwa Tomas tidak bersikap rendah hati. Tomas terkesan orang sombong, tidak mau mendengarkan pewartaan para rasul yang lain. Ia merasa diri lebih hebat, ketimbang para rasul lain. Pertanyaan refleksi untuk kita adalah adakah diantara kita yang bersikap dan berjiwa seperti Tomas? Memang terkadang, kita merasa bahwa kita memiliki ilmu yang hebat. Ilmu yang menunjukkan kebenaran jika ada bukti yang pasti. Ilmu semacam ini baik, tetapi ada ilmu keimanan yang terkadang tidak perlu bukti, tetapi kita perlu menerima pewartaan kebenaran dari orang lain.

Kedua, membangun persekutuan atau dalam ilmu ekklesiologi sering disebut membangun communio. Unsur ‘communio’ ini sangat penting. Tomas dalam Injil Yohanes tadi, dia tidak ada ketika Yesus menampakkan diri-Nya. Penginjil Yohanes tidak menyebutkan pada waktu itu Tomas pergi ke tempat lain. Namun, satu hal yang pasti bahwa dalam persekutuan yang dijanjikan Yesus, Tomas tidak ada. Karena tidak ada maka ketika Yesus yang sudah bangkit itu menampakkan diri-Nya, Tomas tidak tahu.

Efek dari ketidakhadiran Tomas dalam persekutuan itu ialah bahwa Tomas tidak dapat menerima karya pewartaan para rasul lain bahwa Yesus sudah bangkit. Selain itu, syallom yang dibawakan Yesus pun tidak dialami Tomas. Tidak heran kalau hati Tomas mengalami kegetiran, ketakutan, dan kecemasan. Perasaan Tomas ini diungkapkannya, dengan bersikap tidak percaya. Kalau pun percaya, ia butuh bukti.

Pertanyaan refleksi untuk kita adalah apakah ‘percaya’ perlu membutuhkan bukti-fakta nyata? Tidak! Percaya adalah ungkapkan hati kepada Yesus Kristus. Percaya memang terkadang butuh bukti. Tetapi berbeda dengan ‘percaya’ yang satu ini. Percaya ini membutuhkan ‘persekutuan’ atau ‘communio’. Selain itu, pertanyaan refleksi lain adalah apakah kita sering hadir sebagai umat kristen, dalam ibadat pada hari Minggu atau hari-hari lain yang diperintahkan oleh Gereja kita masing-masing? Kehadiran kita bersama adalah wujudnyata dalam membangun persekutuan. Dalam persekutuan itulah, Yesus yang bangkit itu hadir dan membawa syallom untuk kita. Dalam persekutuan, itulah Kristus menunjukkan janji-Nya yang tak pernah dibatalkan oleh kuasa manusia. Janji Yesus boleh kita baca dalam Mat. 1: 23; 18: 20; 28: 20b.

Terkadang, kita banyak omong tentang Yesus, tetapi tidak percaya, tidak beriman. Omong tentang Yesus hanya sebatas ilmu yang kita peroleh. Bukan berasal dari ungkapan iman kita. Orang yang banyak omong tentang Yesus, mengatakan bahwa ia percaya, tanpa berkomunio dengan Yesus dan sesama adalah plin plan. Ia sama dengan Tomas.

Ketiga, Berbahagialah orang yang tidak lihat namun percaya. Perkataan Yesus ini, bertolak belakang dengan sikap dan cara berpikir Tomas. Tentu, Yesus yang bangkit juga mau mengkritik kita yang hanya mengandalkan ilmu pengetahuan dan pembuktian-pembuktian ilmu yang rational. Pernyataan Yesus ini mengetuk pintu hati kita dengan satu pertanyaan ini. Apakah para pengikut Yesus zaman sekarang ini pernah melihat Yesus secara langsung? Jelas bahwa hanya para rasul dan murid perdana Yesus, yang mengalami kehadiran Yesus secara langsung. Tentu kita pengikut-Nya zaman ini, tidak. Tetapi mengapa kita mau menjadi pengikut Yesus atau mengapa kita percaya kepada Yesus? Hal ini karena janji-Nya. Bahwa janji-Nya untuk senantiasa menyertai orang yang percaya kepada-Nya selalu tepat. Janji-Nya tidak pernah terbatalkan oleh siapapun dan oleh apapun. Janji-janji Yesus itu, seperti dikisahkan penginjil Matius dalam Injil, 1:23; 18: 20, dan 28: 20b. Dia senantiasa menyertai umat-Nya sampai akhir zaman. Dengan janji-Nya ini, banyak orang menaruh harapan, menaruh kepercayaan bahwa akan selamat setelah hidup ini.

Acara Paskah Ekuimene bersama anak-anak SMK Negeri 1 yang beragama Katolik dan Kristen itu, kemudian dilanjutkan dengan pelbagai games yang telah disiapkan oleh Panitia. Selanjutnya, sebagai tanda kebersamaan sebagai satu komunitas SMK Negeri 1, mereka makan bersama. Makan bersama membangun keutuhan persaudaraan dan sekaligus meningkatkan toleransi antar siswa-siswi Kristen dan OSIS SMK Negeri 1 Sungailiat. Syallom dan terima kasih SMK Negeri 1 Sungailiat Kabupaten Bangka. ***