| KUNJUNGAN KE KBG-KBG PAROKI SUNGAILIAT | ||||||
| 01-Agust-14 | ||||||
| KBG TUJUAN | WAKTU | TEMPAT | NO | NAMA PESERTA | ASAL PAROKI | KETERANGAN |
| Sta. Elisabeth | 17.00 | Ibu Afan | 1 | RD. Fidelis S. Atawollo | Mentok | |
| 2 | Nn. Cintiawati | Bernardeth | ||||
| 3 | Bpk. Petrus Kusnadi | Belinyu | ||||
| St. Yosep | 19.00 | Bpk. Yosep Servino | 1 | Sr. Blandina | Katedral | |
| 2 | Bpk. Pagar A. Tamanggor | Koba | ||||
| 3 | Sdri. Monike | Belinyu | ||||
| St. Antonius | 18.00 | dr. Mulyono | 1 | RD. Yosef Setiawan | Belinyu | |
| 2 | Ibu Theresia Fani | Koba | ||||
| 3 | Ibu Shito | Katedral | ||||
| St. Petrus | 18.00 | Bpk. Yohanes | 1 | Sr. Eligia | Katedral | |
| 2 | Bpk. Antonius Siagian | Tanjung Pandan | ||||
| Sta. Theresia 1 | 18.00 | Bpk. Guntoro | 1 | Bpk. Ignasius Sunarno | Bernardeth | |
| 2 | Ibu Agustina Nona Sina | Koba | ||||
| 3 | Sr. Anjelina Sinaga | Tanjung Pandan | ||||
| Sta. Maria Goretti | 17.00 | Ibu Diana | 1 | RD. Stanis Bani | Koba | |
| 2 | Sdri. Katarina Ratih | Belinyu | ||||
| 3 | Bpk. Yohanes Mudadi | Tanjung Pandan | ||||
| St. Fransiskus Xaverius | 19.00 | Bpk. Bambang R | 1 | RD. Vincent Tamba | Bernardeth | |
| 2 | Bpk. Herman | Mentok | ||||
| 3 | Bpk. Marcel Supartono | Bernardeth | ||||
| St. Vincentius | 18.30 | Bpk. Simon | 1 | Sr. Ernesta, PRR | Koba | |
| 2 | Bpk. Michael Bekti | Katedral | ||||
| 3 | Bpk. Agust Supriyanto | Bernardeth | ||||
| St. Sisilia | 18.00 | Ibu F. Cit Lan | 1 | Bpk. Tarsisius Sumarlan | Belinyu | |
| 2 | Elisabeth Erny Susanto | Tanjung Pandan | ||||
| 3 | Bpk. Alfons Liwun | Sungailiat | ||||
| St. Don Bosco | 18.00 | Ibu Afa | 1 | RD. Markus Malu | Tanjung Pandan | |
| 2 | Ibu Agnes Ese Bolen | Koba | ||||
| St. Dominikus | 16.00 | Bpk. V. Edie Amuk | 1 | Ibu Indri | Katedral | |
| 2 | Bpk. Silvester | Mentok | ||||
| 3 | Bpk. Yohanes | Bernardeth | ||||
| St. Gabriel | 19.00 | Bpk. F. Edi | 1 | RD. Frans Mukin | Katedral | |
| 2 | Bpk. Alfin | Mentok | ||||
| 3 | Ibu Veronika Yuliana | Belinyu | ||||
| Sta. Theresia 2 | 18.00 | Ibu Abi | 1 | Nn. Kristina Roulina B. | Katedral | |
| 2 | Bpk. Adi | Mentok | ||||
| 3 | Bpk. Stefanus Sutikno | Tanjung Pandan | ||||
| St. Yohanes Pemandi | 16.30 | Kapel | 1 | Bpk. Thomas Sugito | Bernardeth | |
| 2 | Bpk. Hartono | Mentok | ||||
| 3 | Fr. Alfons | Mentok | ||||
Rabu, 06 Agustus 2014
Peserta Pertemuan Fasilitator Sekevikepan Bangka Belitung Kunjung Ke KBG-KBG Paroki Sungailiat
Selasa, 05 Agustus 2014
Membangun Gereja Partisipatif Melalui Sharing Injil
(Pemberdayaan
Fasilitator Se-Bangka Belitung)
Hari Pertama, Kamis 31
Juli 2014
| Sun Jaya Hotel Sungailiat, Hotel ditengah Kota Sungailiat |
Sun
Jaya Hotel, yang terletak di belakang SPBU Kota Sungailiat atau di samping tugu
Pahlawan Kota Sungailiat, siang itu (31/7) mulai dipadati para peserta
fasilitator yang berasal dari paroki-paroki sekevikepan Selatan, Bangka
Belitung. Para peserta fasilitator sebanyak lima orang setiap paroki bersama
pastor parokinya, memasuki pintu gerbang Sun Jaya Hotel. Mereka disambut oleh
Panitia Organizing Commitee (OC) Paroki Sungailiat, yang dikomandani oleh Bpk.
John Djanu Rombang. Para peserta dipersilakan meregistrasi dan kemudian panitia
mengantar satu persatu peserta menuju kamar penginapan masing-masing.
Selanjutnya para peserta diantar untuk makan siang bersama. Suasana hotel siang
itu, begitu ramai.
| Peserta yang hadir diajak untuk melihat pameran photo turba Mgr. Hilarius Moa Nirak SVD |
Candatawa
memecahi suasana panas siang bolong itu. Pasalnya, dari sekian banyak peserta
yang berkumpul, mereka saling bertemu kangenria karena hampir beberapa tahun
belakangan ini baru ketemu lagi. Persaudaraan terlihat begitu indah. Mereka
saling merangkul, cipika-cipiki, ketika saling berjumpa satu sama lain. Panitia
OC terus menerus melayani para peserta yang datang. Ada peserta yang langsung
diantar masuk kamar makan, dan yang lainnya mulai istirahat siang untuk
siap-siap melanjutkan acara pada pukul 16.00wib yang diawali pertemuan
fasilitator ini dengan misa pembukaan.
| Konsebrasi para pastor bersama Bapak Uskup |
Sekitar
pukul 16.00 wib, para peserta sudah berkumpul di ruang metting, siap-siap untuk
membuka pertemuan fasilitator se-kevikepan Bangka Belitung dengan misa
pembukaan. Misa pembukaan langsung dipimpin oleh Mgr. Hilarius Moa Nurak, SVD,
Uskup Keuskupan Pangkalpinang dan didampingi oleh para pastor paroki
se-kevikepan Bangka Belitung; Pastor RD. Markus Malu, pastor paroki Sta. Regina
Pacis-Tanjungpandan Belitung, Pastor RD. Stanis Bani, pastor paroki St.
Fransiskus Xaverius Koba, sekaligus sebagai Ketua Komisi KBG Kevikepan Bangka
Belitung, Pastor RD. Vincentius Tamba, pastor paroki Sta. Bernardeth
Pangkalpinang, pastor RD. Frans Mukin, pastor Paroki Katedral St. Yosep,
sekaligus sebagai Vikep Kevikepan Selatan, Bangka Belitung, RD. Fidelis Serani
Atawollo, pastor Paroki Sta. Maria Pelindung Para Pelaut Mentok, Pastor RD.
Yosef Setiawan, pastor Paroki Sta. Maria Dikandung Tanpa Noda Belinyu, RP.
Bernardus Windyatmo, MSF, pastor Paroki Sta. Maria Pengantara Segala Rahmat
Sungailiat, dan hadir juga pastor RD. Philipus Seran, sekretaris Uskup dan
sekaligus sekretaris Pangkalpinang Integral Pastoral Approach (PIPA).
| Bpk Uskup Keuskupan Pangkalpinang, Mgr. Hilarius Moa Nurak, SVD |
Dalam
kata pengantar misa pembukaan, Mgr. Hila, mengucapkan selamat datang para bapak
dan ibu, suster dan pastor yang mau datang untuk mengikuti acara pertemuan
fasilitator ini. Kehadiran kita saat ini merupakan suatu bentuk partisipasi
kita. Lebih jauh, kehadiran kita ini merupakan tanda bahwa kehidupan Gereja
saat ini dan akan datang, membutuhkan keterlibatan kita semua. Apalagi, visi
Gereja kita adalah ‘Menjadi Gereja Partisipatif’’. Melalui visi ini, arah misi
kita adalah memberikan peluang pengembangan KBG-KBG di Paroki kita.
Pengembangan KBG-KBG saat ini dan ke masa depan, akan membutuhkan kita-kita ini
menjadi fasilitator. Fasilitator menjadi ujung tombaknya KBG-KBG kita. Karena
itu, kehadiran kita ini juga adalah tanda bahwa kita mau belajar, mau
meningkatkan kualitas sebagai seorang fasilitator KBG.
| Bpk Uskup memotong tumpeng HUT |
Setelah
selesai misa pembukaan, acara dilanjutkan dengan makan bersama. Kesempatan
makan bersama inilah, para fasilitator membangun keakraban dan persaudaraan
dengan bapak Uskup Keuskupan Pangkalpinang, yang pada tanggal 2 Agustus
merayakan 27 menjadi Uskup Keuskupan Pangkalpinang dan 43 tahun tahbisan
Imamat, serta berumur 72 tahun. Kesempatan ini juga diberi kesempatan bagi
seorang imam, seorang suster, dan seorang awam berbagi pengalaman perjumpaan
mereka bersama bapak Uskup selama ini. Panitia OC dengan dukungan KBG Paroki Sungailiat telah menyiapkan tumpeng HUT dan kue HUT.
| Bpk. Uskup, Narasumber Fasilitator se-Babel |
Rangkaian
acara pertemuan ini kemudian dilanjutkan pada pukul 19.00 wib dengan narasumber
Mgr. Hilarius Moa Nurak, SVD. Mgr. Hila membawakan tema ‘Gereja bagai Pohon’
yang diinspirasi dari dogmatik Gereja, Lumen Gentium No. 6. Seperti dalam Perjanjian Lama wahyu tentang
Kerajaan sering disampaikan dalam lambang-lambang, begitu pula sekarang makna
Gereja yang mendalam, kita tangkap melalui pelbagai gambaran. Gambaran-gambaran
itu diambil entah dari alam gembala atau petani, entah dari pembangunan ataupun
dari hidup keluarga dan perkawinan. Semua itu telah disiapkan dalam kitab
-kitab para nabi. .... Gereja itu
tanaman atau ladang Allah (lih 1Kor 3:9). Diladang itu tumbuhlah pohon
zaitun bahari, yang akar Kudusnya ialah para Bapa bangsa. Disitu telah terlaksana
dan akan terlaksanalah perdamaian antara bangsa Yahudi dan kaum kafir (lih Rom
11:13-26). Gereja ditanam oleh Petani Sorgawi sebagai kebun anggur te rpilih
(lih Mat 21:33-43 par.; Yes 5:1 dst.). Kristuslah pokok anggur yang sejati.
Dialah yang memberi
hidup dan kesuburan kepada cabang-cabang, yakni kita, yang karena Gereja
tinggal dalam Dia, dan yang tidak mampu berbuat apa pun tanpa Dia (lih Yoh 15:1
-15).
| Ekspresi Bpk. Uskup, mengajak fasilitator untuk melihat Gereja secara baru |
Sebuah
pohon itu kuat jika ditopang oleh akar yang kuat. Kalau akar sudah kuat, maka
batang, cabang, ranting-ranting, daun akan subur dan akan menghasil buah-buah
yang baik. Gereja bagai pohon, akar-akar pohon adalah KBG-KBG. KBG-KBG akan
hidup dari Kitab Suci, Yesus Kristus, Allah Tritunggal Mahakudus. Persekutuan
Trinitas, Bapa, Putra dan Roh Kudus menjadi persekutuan yang hendak dibangun
dalam KBG-KBG. Model Gereja yang mendapat perwujudan konkrit dalam KBG-KBG
adalah juga inspirasi dari LG No. 1-4, dimana dalam dokumen ini kita temukan
fungsi Tritunggal. KBG-KBG mendapat inspirasi Trinitas sebagai model
persekutuan. Supaya KBG-KBG itu dapat hidup, Sharing Injil harus dijalankan
dengan baik. Sehingga akar-akar pohon yang kuat yang mampu menopong batang, cabang,
ranting, daun dan buah bagaikan KBG-KBG pun harus melaksanakan Sharing Injil
yang baik sehingga bukan buah yang memberi makan akar, tetapi akar-akar atau
KBG-KBG-lah yang memberi makan batang, cabang, ranting, daun, dan buah. Dalam
hal ini, KBG akan dapat menjalan missio ke dalam (missio ad intra) dan missio
ke luar (missio ad extra).
Diakhir
sesi Mgr. Hila, kembali beliau menegaskan bahwa aneka gambaran Gereja, tergantung
pola pandang kita tentang Gereja. Sudah saatnya, Gereja mengutamakan communio.
Communio itu mulai dari akar hingga batang, cabang, ranting, daun dan buah.
Sehingga buah-buah yang nyata akan nampak menjadi misi Gereja yang nampak pula.
Jika kita mengutamakan struktur, maka akan berpengaruh juga pada cara pandang
kita tentang struktur.
Dalam
proses sehari ini, terlihat fasilitator begitu antusias karena acara dikemas
dengan baik dan berjalan dengan lancar. ***
Rabu, 02 Juli 2014
Hidup adalah Pilihan: Mau selamat atau Terus Dikuasai Setan?
(refleksi
hidup hari ini dan besok)
1. Teks Kitab Suci
Matius 8: 28-34:
28Setibanya di seberang, yaitu di daerah orang
Gadara, datanglah dari pekuburan dua orang yang kerasukan setan menemui Yesus.
Mereka sangat berbahaya, sehingga tidak seorangpun yang berani melalui jalan
itu. 29Dan mereka itupun berteriak, katanya: "Apa urusan-Mu dengan kami,
hai Anak Allah? Adakah Engkau ke mari untuk menyiksa kami sebelum
waktunya?"
30Tidak jauh dari mereka itu sejumlah besar babi
sedang mencari makan. 31Maka setan-setan itu meminta kepada-Nya, katanya:
"Jika Engkau mengusir kami, suruhlah kami pindah ke dalam kawanan babi
itu." 32Yesus berkata kepada mereka: "Pergilah!" Lalu keluarlah
mereka dan masuk ke dalam babi-babi itu. Maka terjunlah seluruh kawanan babi
itu dari tepi jurang ke dalam danau dan mati di dalam air.
33Maka larilah penjaga-penjaga babi itu dan
setibanya di kota, diceriterakannyalah segala sesuatu, juga tentang orang-orang
yang kerasukan setan itu. 34Maka keluarlah seluruh kota mendapatkan Yesus dan
setelah mereka berjumpa dengan Dia, merekapun mendesak, supaya Ia meninggalkan
daerah mereka.
2.
Penjelasan Teks Kitab Suci:
Matius menulis
kisah Yesus dan para rasul-Nya secara berurutan dalam peristiwa perjalanan berkarya.
Mulai dari Yesus berdialog dengan seorang ahli Taurat yang datang untuk menjadi
murid-Nya lalu ada ‘orang lain’ juga yang datang memohon supaya menjadi murid
Yesus’. Ini terjadi sebelum Yesus menyeberangi danau Genasaret ke Gadara.
Berarti peristiwa ini terjadi di tepi danau Genasaret.
Setelah berdilog
dengan kedua orang itu, Yesus naik ke perahu lalu menyeberang danau itu. Lalu
teks Injil Matius kemarin (Selasa, 1 Juli 2014), mengisahkan angin ribut di
tengah danau diredahkan Yesus. Ketika angin ribut itu menghantam perahu dan
terombang ambing, perahu mau tenggelam, Yesus sedang tidur. Karena itu para
murid-Nya meminta Yesus untuk bangun dan menyelamatkan situasi itu.
Teks Injil Matius
hari ini (Rabu, 2 Juli 2014), menceritakan Yesus sampai di seberang danau, nama
tempat yang dituju itu adalah ‘Gadara’. ‘Gadara’ lebih dekat dengan ‘Garasa’
(Mrk 5:1). Jadi berbeda dengan Injil Markus dalam bab 5:2, dimana Markus
menyebut satu orang kerasukan setan sedang Matius menyebutnya dua orang
kerasukan setan yang datang menjumpai Yesus. Perbedaan jumlah orang kerasukan
ini, tidak terlalu dihiraukan, tetapi yang terpenting fokus kedua penginjil ini
mau menyampaikan apa sebenarnya yang terjadi untuk para pembaca yang beriman.
Ketika Yesus
sampai di Gadara, (ayat 28), datang dua orang kerasukan itu menjumpai Yesus.
Kedua orang yang kerasukan itu datang dari pekuburan. Kita tentu tahu,
pekuburan itu tempat untuk orang-orang yang sudah meninggal. Mengapa kedua
orang kerasukan itu berada di pekuburan? Jelas bahwa orang kerasukan setan,
seluruh diri orang itu dikuasai oleh setan, si jahat. Setanlah yang menjadi
raja dalam hidup kedua orang itu. Karena itu, setan akan mengantar si kerasukan
itu kemana saja ia pergi. Bukan hanya itu saja, tetapi menakutkan dan sangat
berbahaya bagi siapa saja yang melintasi jalan itu.
Maka disini, kita
dapat pahami bahwa, ternyata setan mampu menguasai diri orang lain bahkan apa
saja termasuk babi-babi pada ayat berikutnya dan mampu memisahkan si kerasukan
dengan orang yang ‘waras’, orang yang tidak kerasukan. Kejahatan mampu
memisahkan dari kebaikan, keadilan, kejujuran, dan kesetiaan. Kejahatan
memiliki sifat ‘menular’, iya...menular kedalam kawanan babi, pejaga kawanan
babi dan masyarakat Gadara. Dengan keberadaan kedua orang kerasukan di
pekuburan, menandakan bahwa keduanya itu sudah diambang liang lahat. Kematian
sudah dekat. Keselamatan tentu tidak akan mereka alami.
Supaya mereka
selamat, ternyata kekuatan dan kekuasaan Yesus mampu mengalahkan si jahat yang
ada di dalam diri kedua orang tadi. Mereka datang menjumpai Yesus. Perjumpaan
dengan Yesus terjadi dialog yang sangat menarik disini. Dialog itu hemat saya
merupakan dialog persuasif. Hebatnya dalam dialog persuasif itu, terkesan
terjadi tawar menawar, namun Yesus walaupun ‘ikut’ tetapi tidak merasa
dirugikan. Karena dalam diri Yesus, keselamatan harus terjadi agar misi-Nya
selalu terrealisasi dalam dunia ini.
Dalam perjumpaan
dengan Yesus, si jahat berteriak (ayat 29). Teriakan mereka mengindisikan bahwa
mereka menyesal Yesus datang terlalu cepat, padahal kerajaan mereka belum
terpenuhi. Maksudnya adalah bahwa kejahatan yang mereka hadirkan untuk kedua
orang itu belum sampai pada kematian, si jahat masih dalam proses penyiksaan,
masih diambang pintu gerbang pekuburan, sehingga ‘kerajaan si jahat’ belum
terpenuhi. Sebelum kedua orang kerasukan itu mati karena si jahat, Yesus
menyelamatkan mereka.
Satu hal lagi
yang boleh kita pahami disini ialah, bahwa hebatnya, si jahat mengenal Yesus.
Bukan hanya mengenal tetapi menyapa dan mengakui kehebatan Yesus dengan memakai
kata sapaan ‘Anak Allah’. Itu artinya bahwa Yesus dikenal untuk menyelamatkan
manusia yang berasal dari Allah sendiri. Yesus wujudnyata Allah yang sedang
berkarya, menghadirkan Kerajaan Allah. Karena itu, apapun bentuk halangan yang
merintangi hadirnya Kerajaan Allah, akan dibasmi oleh Yesus.
Ketika terjadi dialog
Yesus dengan kedua orang kerasukan setan, rupanya ada di dekat situ, sekelompok
babi yang sedang mencari makan (ayat 30). Yang jelas bukan babi hutan. Karena
ayat berikutnya kita bisa dapat informasi bahwa kawanan babi itu ada
penjaganya. Maka jelas, kawanan babi itu adalah babi peliharaan orang, ada
pemiliknya yang jelas. Masyarakat Yahudi tidak memelihara babi, karena menurut
peraturan mereka, babi adalah binatang yang najis, kotor, babi termasuk kuku
berbelah. Karena itu mereka tidak makan daging babi.
Tetapi kenapa ada
yang pelihara babi itu? Hemat saya, ada dua kemungkinan yang boleh kita
hadirkan disini. Pertama, Gadara,
tidak termasuk dalam wilayah Yahudi. Sehingga masyarakatnya bisa diijinkan
untuk memelihara babi. Kedua, Gadara
masih dalam wilayah Yahudi. Tetapi ada masyarakat yang memelihara babi bukan
untuk dikonsumsikan tetapi hanya untuk dijual, untuk mendatangkan in come
keluarga (sisi ekonomis). Mungkin hal kedua ini masuk akal karena kawanan babi
itu selalu dikawal oleh penjaganya sehingga kawanan babi itu tidak sembarangan
kemana-mana.
Pada ayat 31,
para pembaca perlu membaca dan menyimak dengan teliti, sehingga tidak salah
memahami ayat ini. Mengapa? Pertama,
inisiatip setan-setan adalah mereka mau diusir. Itu artinya bahwa kuasa Yesus
jauh melebihi kuasa jahat. Yesus mengalahkan kejahatan. Tanpa inisiatip dari
setan-setan itupun, pasti Yesus akan mengusir mereka, mengalahkan mereka.
Karena untuk itu pula, misi keselamatan Allah yang dihadirkan oleh Yesus bagi
manusia.
Kedua, inisiatip
setan-setan itu supaya Yesus memindahkan mereka ke dalam kawanan babi yang ada
didekat situ. Inisiatip yang kedua ini memiliki keterkaitan dengan ayat 32. Sekali
lagi, para pembaca perlu teliti disini. Jika tidak teliti, terkesan pembaca
mengiyakan setan. Bahwa ternyata Yesus mengikuti keinginan setan. Sehingga
berdampak negatif bahwa setan-setan itu benar masuk ke dalam kawanan babi.
Kalimat Yesus, ‘pergilah!’ Kata ini tersirat perintah
untuk keluar. Perintah pengusiran yang sangat kasar. Tetapi dalam kata ‘pergilah’
Yesus tidak menyebut tujuan bahwa kemana setan-setan itu akan pergi. Yang
terpenting bagi Yesus adalah bahwa setan-setan itu harus keluar dari diri kedua
orang yang sedang kerasukan itu. Kalau setan-setan itu sudah keluar, jelas
bahwa Yesus akan menjadi Raja dalam diri orang-orang itu. Lalu pertanyaannya,
mengapa setan-setan itu masuk ke dalam babi? Masuk ke dalam kawanan babi,
adalah inisiatip ketiga setan, yaitu kemauan, keinginan dan niat setan-setan
sendiri. Ini taktik setan-setan yang cerdik pandai yang bisa merusak relasi
baik manusia. Sehingga terlihat kerajaannya sudah kalah atau hilang bersama
kematian kawanan babi namun sebenarnya belum selesai. Setan-setan masih ada,
masih merajalelah dalam situasi dunia.
Efek dari taktik
setan-setan yang cerdik pandai itu ialah penjaga lari terbirit-birit ke dalam
kota (ayat 33). Jelas disini bahwa penjaga akan menyampaikan hal buruk kepada
masyarakat, bahwa babi-babi yang dijaganya itu, sudah mati semua oleh karena
Yesus. Persis, penjaga juga boleh kita sebut ‘sedang kerasukan setan-setan’ itu.
Karena penyampaian penjaga yang sedang kerasukan setan itu, membuat masyarakat
datang berdialog lagi dengan Yesus (ayat 34).
Hasil dialognya
adalah masyarakat lebih memilih percaya kepada penjaga kawanan babi daripada
Yesus. Sehingga mereka tidak mau Yesus masuk ke dalam kota mereka untuk
berkarya menyelamatkan mereka. Yesus mau masuk ke dalam kota dan menghalaukan
pimpinan setan-setan dalam kota itu, tetapi masyarakat lebih memilih untuk
menutup diri. Masyarakat menutup diri, tidak mau menerima tawaran keselamatan Allah
yang hadir dalam diri Yesus.
Dengan menolak
Yesus untuk berkarya di dalam kota itu, jelas bahwa kota dan masyarakatnya
tidak mau selamat. Mereka mau lebih memelihara setan-setan. Memang benar, bahwa
keselamatan Allah khusus bagi orang-orang yang sungguh-sungguh percaya danmau
membuka hati dan seluruh dirinya kepada Yesus. Keselamatan Allah sebuah
tawaran, tetapi jika tawaran itu ditolak, jelas bahwa orang-orang tidak mau
memilih keselamatan tetapi lebih memilih kemauan setan-setan.
3. Implementasinya
Untuk Hidup Hari ini:
a.
Yesus sampai dengan sekarang dan yang akan datang,
masih tetap berkarya di dalam diri orang yang percaya dan menerima tawaran
keselamatan Allah. Syaratnya adalah membuka hati, menerima rahmat Allah dan
menyakinkan diri bahwa Yesus sedang berkarya dalam hidup kita. Ini sungguh
terrealisasi dalam doa-doa, ekaristi dan sakramen yang lain serta perbuatan
amal baik kita dengan tulus ikhlas.
b.
Setan-setan bisa saja merasuk setiap orang, baik
yang beriman kepada Kristus, ketika lengah maupun orang yang tidak beriman
kepada Kristus. Karena setan-setan memiliki kemampuan ‘menular’ baik melalui
orang-orang seperti penjaga kawanan babi maupun masyarakat Gadara tadi ataupun
melalui barang dan apapun bentuknya. Karena itu, waspadalah...berdirilah teguh
dalam iman!
c.
Keselamatan Allah adalah sebuah tawaran bagi siapa
saja. Karena merupakan tawaran, maka kita hanya diminta memilih. Pilihan kita
memiliki konsekuensi dua sisi. Sisi mau selamat atau sisi tidak mau selamat.
Mau selamat berarti akan mengalami kebahagian bersama Allah, tidak mau selamat
berarti mau menghidupi cara setan, ‘menular’ kemana-mana, terserah setan.
Jumat, 27 Juni 2014
Mari, Belajar dari Yesus Supaya Mampu Bersyukur kepada Bapa
(refleksi hidup hari ini)
1.
Teks Kitab Suci Hari Ini: Matius 11:
25-30
25Pada waktu itu berkatalah Yesus:
"Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu
Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan
kepada orang kecil. 26Ya Bapa, itulah yang berkenan kepada-Mu. 27Semua telah
diserahkan kepada-Ku oleh Bapa-Ku dan tidak seorangpun mengenal Anak selain
Bapa, dan tidak seorangpun mengenal Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya
Anak itu berkenan menyatakannya.
28Marilah kepada-Ku, semua yang
letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. 29 Pikullah
kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah
hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. 30Sebab kuk yang Kupasang itu enak
dan beban-Kupun ringan."
2.
Penjelasan Teks Kitab Suci:
Membaca
dan merenungkan teks ini, termaktub dua hal yang mendasar. Pertama, tentang ajakan bersyukur kepada Allah (ayat 25-27). Ajakan
ini telah ditunjukkan Yesus dalam doa-Nya kepada Bapa di Surga. Isi doa-Nya
adalah ucapan syukur, karena Bapa telah mengutus Dia sebagai Anak-Nya yang
hidup bersama dengan manusia dan makhluk ciptaan Bapa. Kedua, setelah Yesus berdoa kepada Bapa-Nya, Ia mengajak kita untuk
belajar dari Dia (ayat 28-30). Tujuan dari belajar dari Dia adalah supaya mampu
bersyukur kepada Bapa, karena dengan belajar dari Dia, kita umat-Nya telah
diberi kuasa yang kuat.
Dalam
ayat 25, terbaca doa syukur Yesus. Doa syukur Yesus itu dialamatkan kepada
Bapa. Sapaan Bapa, mengungkapkan rasa keakraban, kedekatan, sahabat karip,
sudah saling kenal secara lebih mendalam satu sama lain. Karena sudah saling
kenal maka tidak ada rahasia (Yunani: mysterion) lagi. Dan Bapa yang diungkapkan
oleh Yesus itu adalah Penguasa langit dan bumi. Menjadi Penguasa langit dan
bumi berarti Bapa menjadi Pemilik tunggal seluruh alam semesta. Ketersingkapan
misterion Allah itu, disebut Yesus bukan untuk orang yang bijak dan pandai
tetapi justru untuk orang kecil.
Disini
Yesus membedakan orang bijak dan pandai, dengan orang kecil. Maksud Yesus orang
bijak adalah orang yang mempunyai pengetahuan atau orang yang berilmu. Sedang
orang pandai adalah orang yang pintar atau orang yang ber-IQ (intelek). Mengapa
Yesus mengapakan bahwa misterion Allah tidak disingkapkan untuk mereka ini? Jelas
bahwa dalam hidup mereka, karena merasa sudah bijak dan pandai, mereka tidak
lagi mengandalkan Bapa di Surga. Bahkan mereka tidak lagi mengucapkan syukur
kepada Bapa, mereka lebih mengandaikan kemahiran, kepintaran, kebijaksanaan
diri sendiri, ketimbang mau mendengarkan dari Bapa.
Misterion
Allah dinyatakan kepada orang kecil. Maksud Yesus orang kecil adalah
orang-orang yang tertindas, tak berdaya, tidak memiliki kekuatan untuk
berkarya, apalagi berkuasa. Dan dalam diri orang-orang seperti inilah, Yesus
mengungkapkan diri sebagai Pembela dan bersedia membuka hati untuk mendengar
dan mau menyelamatkan mereka. Tujuan misterion Allah tadi supaya rahasia Bapa
yang menjadi Pemiliki alam semesta itu juga akan mereka rasakan juga. Ini sikap
belarasa Yesus terhadap orang-orang kecil. Sikap belarasa Yesus terhadap
orang-orang kecil inilah, ditegaskan oleh Yesus kepada Bapa-Nya sebagai sesuatu
yang menyenangkan Bapa (ayat 26).
Yesus
memiliki sikap belarasa kepada orang-orang kecil ini, karena Dia sendiri
mengenal Bapa-Nya. Yesus dan Bapa benar-benar saling kenal, terungkap dalam
ayat 27: bahwa Bapa menyerahkan semuanya kepada Yesus, Hanya Bapa yang mengenal
Yesus, dan hanya Yesus yang mengenal Bapa, karena itu hanya Yesus-lah yang
mengenal Bapa sehingga apa yang diungkap-Nya itu adalah ungkapan Bapa-Nya.
Karena
misterion Bapa hanya Yesus yang mengenal dan mengungkapkan-Nya, Yesus lalu
mengajak para murid-Nya untuk datang belajar dari Dia bagaimana mengenal Bapa
yang dikenal Yesus itu. Ajakan Yesus ini ternyata ditujukan kepada para
murid-Nya yang letih lesu dan berbeban berat; iya...ajakan untuk orang kecil
supaya datang kepada-Nya. Karena Yesus tahu bahwa dalam diri mereka yang letih
lesu dan berbeban berat ini, mereka sedang menginginkan-memimpikan kelegaan,
kepuasan fisik dan mental, keselamatan secara keseluruhan dalam hidup mereka (ayat
28).
Kepada
orang-orang kecil ini, Yesus meminta supaya belajar dari Yesus. Tidak hanya
datang diberi makan-minum lalu pulang, setelah puas tidak datang lagi. Ini
bukan maksud Yesus. Yang dimaksudkan Yesus ialah datang, duduk dekat kaki
Yesus, belajar bagaimana menjadi murid yang setia dan taat kepada Sabda-Nya
lalu pulang menjadi pelaksana Sabda-Nya yang setia dan taat. Setelah itu datang
dan menimbah lagi kekuatan dari Yesus. Sebuah proses belajar yang terus
menerus-tidak terputuskan oleh situasi apapun. Proses belajar lalu melaksanakan
secara terus menerus adalah sebuah ‘kuk’. Yesus memakai kata ‘kuk’, kata ini
sebenarnya cocok dipasang pada leher kerbau, agar kerbau itu bisa memikul beban
sehingga bisa berjalan, tanpa beban itu jatuh dan menimpah kerbau (ayat 29).
Proses
belajar pada Yesus yang terus menerus ini merupakan ‘kuk’ yang dipasang Yesus.
Sehingga Sabda Yesus yang ada didalam hati dan pikiran kita menjadi penuntun
dalam hidup dan bertahan dalam segala badai yang menghadangi kita. Karena dalam
proses belajar pada Yesus bukan dengan cara kekerasaan tetapi dengan cara lemah
lembut dan rendah hati. Sikap Yesus ini pun menjadi pedoman hidup kita ketika
kita melaksanakan Sabda-Nya dalam hidup kita. Melaksanakan Sabda-Nya dengan
lemah lembut dan rendah hati, bukan secara fanatik dan apalagi fundamentalis. Dengan
menjadi pelaksana Sabda-Nya yang bersikap lemah lembut dan rendah hati, tentu
diri sendiri pun merasa aman dan nyaman bahkan orang-orang yang kita jumpapun
akan mengalami ungkapan sikap kita dengan rasa yang sama. Ketika kita murid-Nya
memiliki kemampuan yang demikian ini, tentu Yesus pun akan merasa senang dan
bahagia. Karena proses belajar pada Dia, tidak sia-sia (ayat 30).
3.
Implementasi Untuk Hidup Kita:
a. Banyak orang beriman rajin berdoa
kepada Yesus. Namun doa-doa mereka itu dengan topik utama ‘meminta dan memohon’.
Bisa jadi jarang tema doanya ucapan syukur kepada Dia. Hari ini Yesus mengajak
kita untuk selalu bersyukur kepada-Nya atas apa yang diperoleh dari Dia. Syukur
karena kepada saya dan anda, diajak-Nya untuk selalu bersyukur kepada Bapa-Nya.
Juga bersyukur karena dalam diri Yesus, satu-satunya orang yang mengenal secara
mendalam tentang Bapa. Bersyukur kepada Yesus karena dalam diri-Nya, wujud Bapa
yang tak kelihatan itu menjadi nampak nyata.
b. Cara berdoa yang baik. Bahwa doa
yang baik adalah doa kepada Bapa di Surga melalui Anak-Nya, Yesus. Dan isis doa
yang pertama adalah ucapan syukur setelah itu mengungkapkan isi-isi doa yang
lain.
c. Menjadi murid Yesus adalah datang
kepada-Nya, belajar dari kelemahlembutan-Nya dan sikap kerendahan hati-Nya.
Dengan begitu, kita murid-Nya menjadi pelaku Sabda-Nya dengan sikap dan cara
yang sama seperti yang ditunjukkan kepada kita. Karena apa yang ditunjukkan-Nya
itu berasal dari Bapa di Surga. Hanya Dia-lah yang menjadi wujud Allah yang
dekat dengan kita umat-Nya.
d. Menjadi murid-Nya, bukan hanya
sekali saja datang kepada Dia. Sekali datang kemudian menghilang. Tidak seperti
ini. Yesus justru mengajak para murid-Nya untuk datang dan belajar secara terus
menerus, kapan dan dimana saja. Karena Dia ada melintasi segala ruang dan
waktu. Belajar daripada-Nya tidak mengenal her atau remedial atau karena gagal
lalu Dia berhentikan atau dipecat. Tidak. Sikap lemah lembut dan rendah
hati-Nya akan menjadi ‘rahim’ yang mampu membuat para murid-Nya merasa aman dan
nyaman menjadi pelajar dan pelaku Sabda-Nya.
e. Datang dan belajar pada Yesus bukan
seperti orang bijak dan pandai, tetapi seperti orang kecil, yang polos, yang
mau belajar tanpa berkomentar dan protes kepada Yesus. Sikap rendah hati,
itulah yang menjadi tuntutan ‘sekolah’ Yesus.
f. Bagaimana cara kita datang dan
belajar pada Yesus? St. Hieronimus mengatakan, barangsiapa tidak membaca Kitab
Suci, ia tidak mengenal Kristus. Dalam Kitab Suci, Yesus sedang berbicara
kepada kita. Ia sedang mengajarkan kita tentang Sabda-Nya. Karena mengenal
Kristus jauh lebih mulia daripada segala pengenalan kita yang lain.
Akhirnya,
kita mau menjadi ‘pelajar’ yang tanpa mengenal remedial dan menjadi pelaku
Sabda-Nya dalam hidup penuh perjuangan ini. Karena dengan menjadi ‘pelajar’
yang setia dan rajin, tentu akan dipasang ‘kuk’ yang kuat sehingga mampu
menjadi pelaku Sabda Yesus tanpa mengalami kesulitan dalam hidup ini. **al**
Bukan Hanya Sebatas Mendengar Tapi Melakukan
(refleksi hidup hari ini)
1. Teks
Kitab Suci Hari ini Matius 19: 21-29:
21Bukan setiap orang yang berseru
kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang
melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga. 22Pada hari terakhir banyak orang
akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan
mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga?
23Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku
tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!"
24"Setiap orang yang mendengar
perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang
mendirikan rumahnya di atas batu. 25Kemudian turunlah hujan dan datanglah
banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab
didirikan di atas batu. 26Tetapi setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini
dan tidak melakukannya, ia sama dengan orang yang bodoh, yang mendirikan
rumahnya di atas pasir. 27Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu
angin melanda rumah itu, sehingga rubuhlah rumah itu dan hebatlah
kerusakannya."
28Dan setelah Yesus mengakhiri
perkataan ini, takjublah orang banyak itu mendengar pengajaran-Nya, 29sebab Ia
mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat
mereka.
2. Penjelasan
Teks Kitab Suci:
Ketika
membaca dan merenungkan Sabda Yesus ini dengan lebih teliti, secara garis
besar, muncul dalam benak saya pertanyaan berikut ini yang menggesek hati saya.
‘Siapa sih sebenarnya menjadi murid
Yesus?’ ‘Apakah murid Yesus itu adalah pendengar setia Sabda-Nya atau pelaksana
yang rajin dan setia Sabda Yesus, ataukah menjadi pendengar dan pelaksana Sabda
Yesus itu?’
Ternyata
seorang murid Yesus rupanya tidak hanya sebatas ‘berdoa’ melulu. Memang dalam
‘doa-doa’ baik doa secara pribadi atau doa-doa dalam kebersamaan, selalu kita
menyapa Yesus dengan sapaan yang khas. Ayat 21 teks ini, Yesus menyebut bahwa
dalam doa-doa itu kita menyapa-Nya dengan Tuhan. Menyapa-Nya dengan Tuhan,
tidak salah. Tepat sekali, karena ketika kita mengucapkan ini, Yesus telah
dimuliakan dalam Surga. Dan tentu ucapan atau sapaan kita ini berangkat dari
ungkapan hati yang tulus ikhlas sebagai berimanan kita.
Kata
Tuhan yang dipakai Matius berasal dari kata Yunani ‘kyrios’ yang artinya
‘tuan.’ Kata kyrios disebut Matius dalam hubungan dengan penghakiman. Maka pada
ayat ke-22-23, Yesus menyebut ‘pada hari terakhir’... Itu artinya bahwa sebagai
murid Yesus selama hidupnya, titik ukur keberimanan kita kepada Yesus, hanya
Dia-lah yang tahu. Namun titik ukur ini secara jelas sudah ditegaskan pada awal
ayat 21. Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, Tuhan, masuk
ke Surga tetapi mereka yang melakukan Sabda Tuhan. Disini jelas sekali, Yesus
mengetahui siapa sih sebenar menjadi murid-Nya. Maka kita boleh merumuskan
disini, siapa sih menjadi murid Yesus itu? Murid Yesus sejati ialah mereka yang
beriman kepada-Nya dengan sepenuh hati. Maksud adalah mereka yang tidak hanya
mendengarkan Sabda Tuhan dengan setia tetapi dengan setia juga melaksanakan
dalam hidup riil setiap hari. Lalu menjadi murid Yesus hanya sebatas mendengar
atau melakukan saja, ia bukan menjadi murid Yesus yang sejati. Karena titik ukurnya
ialah mendengar dan melakukan sebagai suatu kesatuan proses yang nyata-dan
timbal balik, maka boleh jadi siapapun boleh menyatakan diri sebagai murid
Yesus, namun titik ukuran ini terbongkar ketika hari penghakiman. Di hari
inilah, kesejatian sebagai murid akan diketok palu, masuk surga atau neraka.
Lalu
pada ayat 24-27, Yesus menyampaikan kejelasan lagi soal menjadi murid-Nya
dengan membandingkan orang yang membangun rumah di atas batu atau di atas
pasir. Yesus memuji kesejatian murid-Nya bahwa siapa pun murid-Ku yang
mendengar dan melakukan Firman, dialah orang yang bijaksana. Karena apa yang
dilakukannya itu sama dengan orang yang membangun rumah di atas batu. Pasalnya,
ia sudah melihat ke depan situasi hidupnya. Bahwa selama hidup ini pasti saja
ada tantangan dan halangan yang bisa saja datang baik secara alamiah maupun
secara buatan tangan orang-orang lain atau nabi-nabi palsu. Dengan cara
berpikir dan berpola hidup untuk masa depan, jelas bahwa apa yang telah
dilakukannya itu mampu mengatasi segala cobaan dalam hidup.
Hal
ini jauh berbeda sekali dengan orang yang mengatakan diri sebagai murid Yesus,
tetapi ia hanya mendengarkan Sabda Tuhan atau hanya melakukan Sabda Tuhan. Lalu
ia berpresiden bahwa Yesus itu adalah mahakasih karena itu Yesus pasti
mengampuni kesalahan orang. Orang yang hanya mampu memilahkan ini, Yesus
menyamakannya dengan orang bodoh, yang memabngun rumah di atas pasir. Dan jelas
bahwa ketika rintangan dan halangan apa saja yang datang, tentu akan roboh dan
hancur berantakan. Biasanya orang seperti ini lalu memiliki kemampuan untuk
menyalahkan Tuhan. Mengapa Tuhan tidak ada saat aku mengalami situasi seperti
ini? Dan lain-lain lagi pertanyaan yang memojokan Tuhan.
Pengajaran
Yesus tentang siapa sih murid-Nya ternyata membuka mata hati para
pendengar-Nya, tentu termasuk kita-kita ini. Sikap para pendengar yang muncul
adalah mengagumi dan tercengang akan pengajaran Yesus, karena pengajaran-Nya
itu amat berwibawa, punya otoritas yang berasal dari Bapa-Nya. Sikap ini mau menyampaikan
kepada kita bahwa ternyata menjadi murid-Nya tidak hanya sebagai pendengar
setia dan rajin berdoa, tetapi sebenarnya setia dan rajin juga dalam
melaksanakan Sabda Tuhan yang sudah didengar itu. Bisa beriman kepada Yesus
karena mendengarkan, tetapi iman tanpa berbuatan adalah mati. Dengan pengajaran
Yesus ini, sebenarnya mau mengkritik para ahli Taurat yang hanya hebat membuat
banyak aturan dan menjadi pengajar yang hebat tentang Taurat tetapi tidak mampu
melakukannya dalam hidup mereka.
3. Relevansinya
Untuk Hidup Kita:
a. Berdoa yang terus menerus dan rajin,
ternyata tidak menjamin masuk Surga. Berdoa yang terus menerus dan rajin itu
sangat baik. Tetapi bukan hanya sebatas itu. Berdoa adalah menambah ‘amunisi’
untuk menjadi kekuatan dalam melakukan isi doa. Atau dengan bahasa Matius tadi,
bukan hanya mengambil Tuhan, tetapi juga melakukan Sabda Tuhan. Hubungan doa
dan kenyataan hidup adalah satu kesatuan yang utuh.
b. Kesejatian menjadi murid Yesus hanya
diketahui oleh Yesus ketika kita sudah meninggal. Tidak ada orang yang mampu
mengetahui atau mengukurnya. Ukurannya memang jelas ‘mendengar dan melakukan
Sabda Tuhan secara nyata dalam hidup. Tetapi untuk mengetahui, hanya pada Yesus
sendiri. Kalau dipikir-pikir menjadi murid Yesus yang sejati (bijaksana-orang
yang membangun rumah di atas batu) dan menjadi murid Yesus yang tidak sejati
(bodoh-orang yang membangun rumah di atas pasir), hanya ukuran tipis didalam
batin setiap orang. Karena ukurannya ada didalam batin, sangat sulit diketahui
oleh sesama, hanya dapat diketahui oleh Yesus sendiri.
c. Perziarahan hidup manusia beriman
kepada Yesus, tentu mengimpikan keselamatan abadi. Supaya dapat mencapai hal
itu, Yesus mengatakan seorang murid-Nya harus mendengarkan dan menjadi pelaku
Sabda-Nya. Yang mendengar dan menjadi pelaku Sabda-Nya adalah orang yang
bijaksana, sedang yang tidak melakukan kedua-duanya atau hanya satu diantara
keduanya itu disebut-Nya sebagai orang bodoh.
Orang
bijak akan masuk Surga dan orang bodoh akan diusir-Nya. Bukan hanya diusir-Nya
tetapi bahkan Yesus pun tidak mengenal orang itu atau menyangkalnya. Kalau
dipikir-pikir, sudah menjadi murid-Nya: sudah hanya mendengarkan Sabda-Nya atau
hanya melakukan Sabda-Nya, malah diusir dan disanksikan-Nya serta dianggap
sebagai pelaku kejahatan pula. Untuk hal ini, yang mau ditegaskan Yesus disini
ialah bagaimana cara berpikir dan memahami secara mendalam menjadi murid Yesus
secara holistik.
Akhirnya, dengan kita
membaca dan memahami dengan lebih baik Sabda Tuhan hari ini, kita dapat
menghayati bagaimana menjadi murid-Nya yang sejati. Bahwa kesejatian menjadi
murid Yesus ialah mendengarkan Sabda-Nya dan melakukan Sabda-Nya itu dalam
hidup sehari-hari. **al**
Senin, 23 Juni 2014
Yesus Memberikan Peringatan kepada Manusia yang tidak mau Mengintrospeksi Dirinya
(refleksi
hidup hari ini)
Teks Kitab Suci hari ini: Matius 7: 1-5
1"Jangan
kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi. 2Karena dengan penghakiman yang
kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai
untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu. 3Mengapakah engkau melihat selumbar di
mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui?
4Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: Biarlah aku mengeluarkan
selumbar itu dari matamu, padahal ada balok di dalam matamu. 5Hai orang
munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan
jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu."
Penjelasan Teks
Kitab Suci:
‘Menghakimi’
sama katanya dengan ‘mendiskreditkan’, ‘menghukumi’, dan ‘membuat seseorang
malu atau terpojok’. Apalagi, tindakan ini dilakukan di depan beberapa orang
atau publik. Perilaku semacam ini tentu tidak bersikap bijak, intoleran, dan
lebih dari itu memunculkan sikap sombong angkuh, dan mau menang sendiri dari
orang yang melakukan, disatu sisi. Dan disisi yang lain, akan memunculkan sikap
benci, jengkel, amarah, dan dendam kusumat dari yang mengalami tindakan itu.
Tidak heran, jika Yesus memberikan peringatan kepada kita pada ayat 1, ‘Jangan
kamu menghakim, supaya kamu tidak dihakimi.’ Pernyataan Yesus ini terasa sepele
namun memiliki efek yang besar untuk hidup sebagai satu masyarakat Allah.
Tindakan
menghakimi, akan memunculkan efek balas dendam di masa yang akan datang (ayat
2). Seolah-olah, seseorang yang mengalami akibat penghakiman itu, dalam hati
dan pikirannya akan berkata, ‘tunggu saatnya kamu, pasti kamu akan mengalami
hal yang sama pada suatu saat’. Ungkapan ini pun terlihat sepele. Namun, punya
efek juga pembalasan yang akan dialami. Jika ungkapan ini didengung terus
menerus, iya....semacam ‘doa’ yang berisi negatif-kutukan yang akan terjadi.
Mengapa? Dalam hidup manusia tidak terlepas dari gejolak hal positip dan
negatif. Bagaikan sebuah roda yang terus berputar dan pada saatnya akan
mengalami sikap hidup negatif.
Karena
itu, harus perlu bersikap hati-hati dan bijaksana dalam hidup ini. Sikap
hati-hati ialah sikap diri yang mampu mengendalikan sesuatu keinginan. Sikap
hati-hati sama dengan sikap waspada. Ini hal positip yang perlu dilakukan.
Karena itu, dalam mengungkapkan atau mengambil tindakan sesuatu kepada orang
lain, perlu dipikirkan dan dibarengi dengan sebuah pertimbangan yang matang,
soal efektivitas hidup ke depan. Sikap bijaksana ialah sikap mempertimbangkan
hal positip yang seharusnya lebih banyak dari pada hal negatif, sehingga yang
muncul adalah positip thinking. Terhadap sikap hati-hati dan bijaksana ini, (ayat
3-4), Yesus mendukung dengan mendalami kedua sikap ini dengan sebuah solusi
yang amat efektif, yaitu lebih baik dan bijak bila diri sendiri mengoreksi diri
terlebih dahulu, sebelum keluar dari diri mengoreksi orang lain yang ada
disekitar kita. Karena bukan orang lain tidak mampu mengoreksi diri orang lain,
tetapi justru dia tahu diri, bahwa dirinya juga tidak lebih baik dari orang
lain.
Jika
sikap keberanian kita tidak mengoreksi diri sendiri, itu artinya bahwa kita
membiarkan diri untuk tetap berada dalam ‘lumpur’ lalu tanpa sadar mengajak
orang lain, masuk dalam lumpur yang sama. Jika inilah yang dilakukan, Yesus
akan menyapa kita dengan sebutan yang sangat tidak manusiawi: ‘hai kamu orang
munafik’ (ayat 5). Munafik adalah sikap menggeneralisasi kebenaran dalam
dirinya dan dengan sikap berani mempersalahkan orang lain.
Relevansinya Untuk
Hidup kita hari ini:
a. Introspeksi diri
sama dengan memeriksa batin. Introspeksi diri ialah usaha untuk masuk ke dalam
diri sendiri. Masuk ke dalam diri lalu mengenal diri dengan segala kelebihan
dan kekurangannya. Keduanya harus diakui, harus diterima dengan sikap jujur dan
tawakhal. Kelebihan ditingkatkan dalam membangun relasi baik dengan Tuhan
maupun dengan sesama. Kekurangan diri juga harus berani untuk diperbaiki.
Memperbaiki sendiri tentu banyak orang akan berpikir gampang. Jika ini yang
selalu dipikirkan maka perbaikan tidak akan terjadi. Memperbaiki diri pun harus
dalam relasi dengan Allah, sehingga kita mampu dan jujur dihadapan Allah.
Perbaikan diri dalam relasi dengan Allah itu, harus nyata bahwa benar sudah
diperbaiki dalam hidup dengan sesama. Ini wujud konkrit.
Ternyata tindakan mengintrospeksi diri
tidak gampang dilakukan. Bahkan tidak terus menerus dijalankan. Ini kesulitan.
Sehingga terkadang banyak orang jatuh dalam sikap lebih mudah menghakimi atau
mempersalahkan orang lain, ketimbang diri sendiri. Lebih parah lagi, karena
situasi menjepitnya, seseorang lalu mempermalukan seseorang atau orang lain di
depan publik. Tidak mudah orang mempersalahkan dirinya sendiri. Selalu mencari
jalan untuk mempersalahkan orang lain.
Hari ini, warta Yesus mengingatkan kita,
supaya lebih giat berusaha untuk mengenal diri sendiri sebelum mengenal diri
orang lain. Memang terkadang orang lain terlihat lebih ‘menarik’, lebih
dibilang ‘seksi’ karena gemuk, kurus, ramping sehingga mau mengenal orang lain
lebih dalam lagi. Namun, ini terasa hanya lahiriah saja. Lebih bijaksana diri
sendiri perlu berusaha untuk mengenal diri sendiri. Mungkin lebih baik dan
bermartabat, semestinya setiap saat selalu mempunyai waktu luang walau hanya
sedetik atau semenit melihat dan memahami diri dan tindakan kita. Sehingga apa
yang dibuat nanti, tidak menjadi batu sandungan untuk orang lain bahkan bagai
bumerang yang kembali menghantam diri sendiri.
b. Introspeksi diri
bukan kemudian menjadi bersikap egoisme diri atau menjadi orang yang tertutup.
Karena itu, dalam berpola pikir tentang manusia, manusia adalah dinamis bukan
statis. Manusia dinamis, adalah manusia yang berziarah meningkatkan kelebihan
dan memperbaiki kekurangan. Tidak ada manusia yang tidak mampu memperbaiki
kelemahan atau meningkatkan kelebihan. Yang tidak mampu itu adalah makhluk
infrahuman. Karena itu, tentu membutuhkan orang lain untuk menyemangati bukan
mengkerdilkan atau mengotak-kotaknya.
Langganan:
Postingan (Atom)
-
Catatan kecil ini dibuat oleh Alfons Liwun dari Pengantar RD. Frans Mukin pada pelatihan fasilitator KBG-KBG Paroki Regina Pacis-T...
-
Isi tulisan Mas Bambang Harsono: Saya kutip kembali isi tulisan Mas Bambang Harsono berikut ini: DOA HORMAT THS-THM. Manakah yang be...
-
(sebuah catatan kritis terhadap tulisan Mas Bambang Harsono tentang: DEMO (Pertunjukan) sebagai sarana Promosi THS-THM) Tulisan ...