Senin, 17 November 2014

SHARING INJIL TUJUH LANGKAH DALAM AKTIVITAS PAROKI, KOMUNITAS BASIS GEREJAWI DAN KELOMPOK-KELOMPOK KATOLIK LAIN



Ketika Sharing Injil Tujuh Langkah menjadi pokok pembicaraan baik di tingkat paroki maupun di tingkat KBG atau kelompok lain, banyak orang seakan kaget dan malahan bingung. Dalam kebingungan itu, ada banyak orang juga bertanya, kalau Sharing Injil digalakan, bagaimana dengan doa Ibadat Sabda yang selama ini sudah sering dilakukan? Apakah Sharing Injil bisa atau boleh untuk setiap ibadat doa yang lain seperti doa Rosario, doa arwah, doa HUT Santo-santo pelindung KBG, HUT anggota KBG, dan lain-lain? Lalu bagaimana cara mempraktekan Sharing Injil Tujuh Langkah ini dalam setiap kesempatan ini?
Sharing Injil merupakan Cara Baru Hidup Menggereja (a New Way of Being Church) saat ini. Cara baru ini menyangkut perubahan cara berpikir (habitus lama-habitus baru), berkarya (kerja prioritas dan terprogramkan),  dan  cara berdoa dari Ibadat Sabda menjadi Sharing Injil. Cara Baru ini yang dibawakan oleh Yesus sendiri.
Berdasarkan catatan di atas tadi dan proses belajar bersama Sharing Injil 7 Langkah maka diberi beberapa masukan ini sebagai berikut:

A.  SHARING INJIL 7 LANGKAH DALAM AKTIVITAS PAROKI
Aktivitas Paroki hampir dilaksanakan setiap minggu dengan kelompok yang berbeda-beda. Hampir setiap pertemuan kelompok-kelompok di tingkat paroki, memulainya dengan doa. Pertanyaan dasar yang mau diajukan adalah bagaimana dengan isi doa-doa kita itu? Apakah doa-doa kita itu telah menempatkan Kristus sebagai pusat hidup kita atau Kristus hanya kita minta dan minta untuk menyertai kita?
Kristus mau diundang untuk hadir dalam setiap pertemuan itu. Kehadiran-Nya bukan sebagai penonton. Kehadiran-Nya mau dirasakan sebagai sosok yang hidup dan terus berkarya bersama kita. Maka tuntutannya adalah Sharing Injil menjadi prioritas dan spiritualitas setiap pertemuan kita itu.
Karena itu, Sharing Injil 7 Langkah harus dipakai dan dilaksanakan. Cara memakai Sharing Injil 7 Langkah dalam setiap pertemuan kelompok: DPP, DPHBG, kelompok ibu-ibu, kelompok anak-anak, kelompok remaja dan OMK, dll adalah:
Kelompok-kelompok yang berkumpul di tingkat paroki, memulainya: dengan pentahtaan Kitab Suci lalu masuk ke langkah 1-4 Sharing Injil 7 Langkah. Langkah ke-5 diisi dengan topik pembahasan dari pertemuan itu (agenda utama pertemuan). Setelah agenda utama dibahas, masuk pada langkah ke-6. Langkah 6a dibuat bila sebelumnya kelompok sudah pernah menjalankan pertemuan dan ada tugas yang mau dilaporkan. Langkah 6b harus dibuat berdasarkan hasil pertemuan yang baru, supaya pertemuan berikutnya ada laporan. Maksudnya supaya hasil pertemuan itu tidak didiamkan. Langkah 6c dibuat supaya hasil pertemuan itu selalu dijalankan dengan dorongan Sabda Kehidupan. Sabda Kehidupan menjadi kekuatan yang selalu mendorong kita untuk melaksanakan tugas baru. Setelah itu masuk langkah ke-7 (doa penutup), bukan doa umat.Pertemuan diakhiri dengan memberi hormat kembali pada Sabda Allah.

B.  SHARING INJIL 7 LANGKAH DALAM AKTIVITAS KBG
Sharing Injil adalah agenda utama KBG, sejalan dengan visi keuskupan kita Menjadi Gereja Partisipatif. Sharing Injil dilakukan dalam setiap pertemuan KBG.
Biasanya, pertemuan KBG selain Misa juga ada pertemuan rutin atau pertemuan untuk mendoakan suatu ujud tertentu. Dalam hal ini Sharing Injil 7 Langkah wajib dilakukan. Pertanyaannya, bagaimana cara untuk melakukan Sharing Injil 7 Langkah dalam pertemuan itu?
1.   Sharing Injil 7 Langkah menjadi agenda utama kegiatan KBG. Untuk itu, langkah demi langkah harus dilakukan dengan tekun dan rutin. Karena Sharing Injil 7 Langkah merupakan spiritualitas KBG.
2.   Sharing Injil 7 Langkah dilakukan dalam kegiatan Doa Rosario, baik di KBG maupun ketika ziarah ke gua-gua Maria. Caranya: (1). Di KBG. Mulailah dengan pentahtaan Kitab Suci dan penghormatan kepada Sabda Allah lalu masuk langkah 1-5. Masuk langkah ke-6 diganti dengan doa Rosario. Teks Kitab Suci yang dibacakan adalah teks Kitab Suci yang diambil dari salah satu peristiwa Rosario yang akan didoakan.Lalu ditutup dengan penghormatan kepada Sabda Allah. (2). Di Gua Maria. Mulailah dengan penghormatan kepada Arca Maria lalu masuk ke langkah 1-4, kemudian dilanjutkan dengan doa Rosario. Teks Kitab Suci yang dibacakan adalah salah satu teks Kitab Suci yang diambil dari peristiwa Rosario yang mau didoakan. Setelah itu diakhiri dengan penghormatan kepada Arca Maria.
3.   Sharing Injil 7 Langkah dijalankan dalam Doa Arwah. Mulailah dengan pentahtaan dan penghormatan terhadap Kitab Suci. Lalu masuk ke langkah 1-5. Kemudian dilajutkan dengan langkah ke-7, dengan doa umat dan diakhiri doa penutup dan penghormatan kepada Sabda Allah. Teks Kitab Suci diambil dari buku-buku doa arwah.
4.   Sharing Injil 7 Langkah dilakukan dalam HUT anggota KBG. Mulailah dengan pentahtaan dan penghormatan terhadap Kitab Suci. Lalu masuk ke langkah 1-5, kemudian dilanjutkan dengan langkah ke-6, dan diakhiri dengan doa umat dan doa penutup lalu penghormatan kepada Sabda Allah.
5.   Sharing Injil 7 Langkah dilakukan pada setiap pertemuan pengurus KBG untuk mengambil sebuah keputusan. Mulailah dengan pentahtaan dan penghormatan Kitab Suci, lalu masuk ke langkah 1-4, lalu bahas agenda pertemuan setelah itu masuk dalam langkah ke-6, a,b,c dan diakhiri dengan langkah ke-7, doa penutup bukan doa umat. Lalu diakhiri dengan penghormatan kepada Sabda Allah.

C.  SHARING INJIL 7 LANGKAH DALAM AKTIVITAS KELOMPOK LAIN GEREJAWI
Sharing Injil 7 Langkah dalam aktivitas kelompok gerejawi dapat mengikuti bagian B.

'Batu Hitam' Dari Sawah Lunto Sumatera Barat


'Batu Hitam' Disimpan Dalam Kotak

Disebut ‘Batu Hitam’ sebetulnya bukan berasal dari batu. Menurut cerita salah satu keluarga yang tinggal di Paroki St. Barbara Sawah Lunto, ‘Batu Hitam’ itu berasal dari tulang sapi, dengan proses pembakaran yang cukup memakan waktu selama empat hari.

Proses pembakaran
Tulang sapi dicampur dengan batu-batu dan serbuk-serbuk kayu, kemudian diletakan diatas tanah, lalu ditutup dengan pasir. Diatas pasir ditumpuk kayu-kayu kemudian dibakar. Proses pembakaran demikian terjadi selama empat hari.

Setelah empat hari, tulang sapi yang sudah terbakar yang dalam bentuk arang hitam, digergaji dalam berbagai bentu, misalnya berbentuk segi empat, dan lain-lain, dalam ukuran kecil. Potongan-potongan kecil itu kemudian diambil dan disimpan didalam sebuah kotak untuk dijualkan kepada publik.

Mengapa dijual?
Rupanya ‘Batu Hitam’ ini memiliki khasiat yang cukup ampuh. Menurut kisah salah satu keluarga yang dijumpai di Pastoran Sawah Lunto (13/11/14) yang lalu mengatakan bahwa ‘Batu Hitam’ ini berkhasiat untuk menyembuhkan bagi korban gigitan ular berbisa atau gigitan hewan lain yang berbisa. Juga termasuk orang-orang yang menginjak paku atau duri-duri yang dapat menyebabkan tetanus. Bahkan keluarga itu menegaskan bahwa tidak hanya binatang berbisa, tetapi kena pisau atau parang pun bisa menyembuhkan, bekas-bekas terkena pisau atau parang pun dapat hilang. Tutur keluarga tersebut sambil menunjukkan jati tangannya yang pernah disembuhkan akibat kena pisau dapur.

Binatang Berbisa yang disembuhkan Batu Hitam
Cara Pemakaiannya
Bisa terkenal pisau atau parang, luka yang keluar darah itu langsung ditempelkan dengan ‘Batu Hitam’ tersebut. Batu Hitam itu akan mengisap racun atau kotoran yang mengakibatkan infeksi untuk keluar dari tubuh kita. Untuk gigitan ular atau binatang berbisa, dibantu dengan menggoreskan bekas gigitan sedikit dengan kuku supaya ada luka yang mengeluarkan darah. Bekas goresan yang mengeluarkan darah itu, ditempelkan dengan ‘Batu Hitam’ tersebut sehingga ‘Batu Hitam’ akan meneltralkan atau mengisapkan keluar racun-racun gigitan binatang berbisa hingga Batu Hitam terlepas sendiri. Dijamin akan sembuh dari gigitan ular berbisa atau binatang berbisa.

Cara Merawat ‘Batu Hitam’
Supaya ‘Batu Hitam’ yang sudah dibeli itu tidak pecah dan retak, ‘Batu Hitam’ disimpan didalam sebuah kantong kain atau plastik yang sudah diisi serbuk kayu atau serbuk lainnya. Fungsi serbuk kayu atau serbuk lainnya ini adalah menahan ‘Batu Hitam’ agar ketika kena benturan barang lain, ‘Batu Hitam’ tidak pecah atau retak.

Ketika sudah dipakai untuk mengobati korban gigitan ular atau binatang berbisa atau kena pisau atau parang, ambil ‘Batu Hitam’ tersebut lalu direbuskan kembali dengan air hingga titik didih yang paling maksimal. Sambil ‘Batu Hitam’ direbus, kita menyediahkan sebuah wadah yang berisi air susu asli (ASI, atau susu sapi, dll). Didalam wadah yang terisi susu tadi, kita memasukan ‘Batu Hitam’.

Jual Beli Batu Hitam
Rendamkan ‘Batu Hitam’ lebih kurang satu jam, lalu mengangkatnya dan langsung disampan dalam tempat penyimpanan yang aman, dalam sebuah kotak atau kantong yang berisi serbuk tadi. Ingat, ‘Batu Hitam’ yang sudah direbuskan dan dibersihkan racun dengan susu asli tadi, tidak boleh terkena sinar matahari. Menurut B. Karyadi, salah satu Panitia Pertemuan KomKat seregio Sumatera, jika terkena sinar matahari, bisa-bisa khasiatnya hilang.

Kini ‘Batu Hitam’ dari Sawah Lunto ini sudah terkenal sampai di Kalimantan. Karena dari Kalimantan, ada banyak yang memisannya dan bisa dikirim melalui jasa pengiriman, yang terpenting, alamat tujuan pengiriman diberikan dengan jelas. ‘Batu Hitam’ di Sawah Lunto, merupakan hasil karya RP. Feraro, SX yang kini bertugas di Kalimantan. Harga sekeping ‘Batu Hitam’ sebesar lima puluh ribu rupiah. Yang membutuhkan dapat pesan melalui alamat: Pastoran Katolik Sawah Lunto, Jl. Yos Sudarso 45, Sawah Lunto 27411, Sumatera Barat. Ditunggu ya, pasti sampai tujuan, jika dipesan dengan harga terserah tadi.***

Sabtu, 15 November 2014

Pertemuan Komisi Kateketik se-Regio Sumatera 2014 Di Padang Keuskupan Padang


Latarbelakang Bandara Minangkabau

Tanah Minang, sungguh elok ketika dipandang dari ketinggian udara dengan besi terbang, Lion Air. Bagi saya yang baru pertama kali, masuk Tanah Minang, ini sebuah berkat Tuhan. Karena, saya yang berasal dari Pulau Flores, yang dulu masa belajar hanya tahu dari peta Indonesia, ternyata bisa menginjakan kaki di Tanah Minang, tanah leluhur pahlawan nasional Muh. Yamin, dan penulis terkenal Hamka.

Dari ketinggian udara, terpancar bukit dan gunung yang menghijau mengelilingi Kota Padang. Hamparan tanah leluhur Muh. Yamin, menghijau karena hutan masih terlihat banyak, ketimbang Pulau Bangka. Hamparan sawah yang hijau dan kuning kemuningan, dan rumah-rumah penduduk yang tersusun rapih. Jalur kaki sungai terlihat berkelok mengalir tenang. Padang, kami peserta pertemuan Komisi Kateketik se-regio Sumatera datang, menjumpaimu dalam hening dan tenang.

Ketika pesawat landing di Bandara Minangkabau, terlihat sepi saat itu. Namun, dalam kesepiaan itu, terdengar gelak tawa para tamu dan tuan rumah di bandara dan bunyi gaduh kendaraan yang penuh aktivitas. Sungguh, suatu situasi yang terpancar yang memberikan rasa damai. Saya pun dengan tenang dan penuh semangat turun dari pesawat, lantaran dalam pesawat Lion Air sudah mendapat informasi banyak dari salah seorang penumpang orang Padang yang duduk bersebelahan dengan saya. Ketika turun dari Boeng 737-800 Lion Air, saya meminta Pak Agust Supriyanto, teman seperjalanan utusan Keuskupan Pangkalpinang memotret saya untuk menjadi kenangan di Bandara Minangkabau dengan latar belakang tulisan Bandara Internasional Minangkabau.

Keluar dari bandara, telah ditunggu Pak Eko Cahyo Rudiyanto, siap untuk mengantar kami (bersama RP. Cornelius F, SVD, Yohanes Caesar Kriswanto P) menuju tempat pertemuan, di Puri Dharma Katedral Keuskupan Padang. Rupanya para peserta lain, sudah berada dalam ruang pertemuan, sehingga kami yang datang terlambat gara-gara besi terbang dilay, hanya mengikut dari belakang pserta pertemuan yang lain.

Namun, kami disambut hangat oleh panitia, narasumber dan peserta yang lain. Terlihat di ruang pertemuan, semua peserta masing-masing menghadap laptop yang sedang aktif. RP. HJ. Suhardiyanto, SJ menyapa kami dengan penuh senyum. Peserta yang baru hadir, silakan meletakan tas, ambil laptop dan silakan membuka laptop masing-masing. Tidak usah bingung, buka saja laptop dan silakan ikuti saja. Kami pun baru mulai.....

Peserta Pertemuan dari Tujuh Keuskupan Seregio Sumatera
Saya pun mengikuti saja. Meletakan tas, mengambil laptop dan membukanya. Karena hanya pengenalan saja, saya justru tidak konsen. Menunggu laptop berproses saya mencoba mengangkat muka ke narasumber, terlihat sebuah tulisan dipamflet yang tergantung didinding. Rupanya pertemuan KomKat seregio Sumatera kali ini dengan tema: ‘Menjadi Katekis Handal di Era Digital Lewat Penguasaan Gadget dan Penyiasatan Budayanya.’

Ketika membaca tema ini, dalam hati kecil muncul ide, ini hal baru. Pasalnya selama ini, kalau ikut pertemuan apa saja, paling-paling berhadapan dengan narasumber yang memberikan masukan berupa gagasan dan ide-ide. Kali ini rasanya agak berbeda. Bukan hanya mendengarkan saja, tetapi langsung mempraktekan, berhadapan dengan laptop dan langsung online dan membuka apa yang diberikan. Sungguh, menarik dan bermanfaat. Memang, sudah saatnya, katekispun harus berani masuk dalam dunia baru, dunia belantara, dunia maya, sambil memberikan isi yang berguna dalam dunia maya (dumay). Prinsipnya, warta Yesus yang selama ini diproklamasikan dihadapan komunitas basis, umat di dalam gereja dan dihadapan kelompok kategorial, harus juga disebarkan kepada semua umat Katolik bahkan semua manusia melalui dunia maya. Bahkan lebih dari itu, melalui dunia maya, kita saling berbagi, saling belajar dan memanfaatkan sarana dunia maya sebagai sarana pewartaan Firman Yesus.

Narasumber berbaju putih dan diapiti oleh dari kiri Romo Alex dandari kanan RP. Cornel, SVD
Maka, selama tanggal 10-12 November 2014, para peserta berjumlah 24 orang berasal dari tujuh Keuskupan seregio Sumatera dilatih oleh tiga orang narasumber RP. HJ. Suhardiyanto, SJ (dosen di STKAT Yogjakarta), Mas Djaziudin Ahmad (ahli TI), dan Yohanes Caesar Kriswanto Priatmaja, calon Katekis di STKAT Yogjakarta. Menariknya bahwa semua peserta begitu konsen dengan laptop masing-masing. Sibuk mengikuti tutorial pembuatan email, gmail, blogspot, presentasi melalui powerpoit dengan variasa gambar, lagu dan video, latihan video catter, dan operasi maindmaneger. Lebih menarik lagi, ada peserta yang baru pemula membuka email pun bertanya kepada tetangga tempat duduknya, password email, saya apa ya? Ha.... memang lucu, tapi menarik karena dari pernyataan ini, kita dapat informasi bahwa ada peserta yang baru, benar-benar pemula. Pengalaman lain ialah rupanya selama ini bisa memberi presentasi ke publik melalui power poin tetapi juga ada banyak fasilitas power poin yang belum ditahu dengan baik. Kesempatan itulah, para peserta sungguh-sungguh serius mau belajar, sehingga dalam beberapa hari itu, tidak ada peserta pertemuan yang bolos dan meninggal ruang pertemuan untuk jalan-jalan. Luar biasa, konsen dan serius.

Keluar dari Lubang Mbah Soero Sawah Lunto
Keseriusan pelatihan selama beberapa hari itu, ternyata sudah dibaca oleh Panitia pertemuan. Untuk mencairkan keseriusan beberapa hari pertemuan itu, tanggal 13 November 2014, seharian penuh, para peserta dengan bus pariwisata berekreasi ke Sawah Lunto. Disana peserta diajak Panitia untuk melihat tempat-tempat sejarah seperti Lubang Tambang Embah Soero, markas dapur makan para pekerja tambang Batu Bara zaman Belanda, dan kemudian ke Istano Basa Pagaruyung, Batu Sangkar, Kabupaten Tanah Rata.  Perjalanan yang jauh namun tidak membosankan karena panorama sekeliling Padang yang menghijau memberikan kesejukan baru bagi peserta yang dua tiga hari kemarin penuh keseriusan mengikuti pelatihan.

Akhirnya, seharian penuh dalam perjalanan rekreasi, kembali juga ke Puri Dharma Katedral Padang, langsung makan malam dan kemudian dilanjutkan dengan pertemuan ketua-ketua Komisi Kateketik setiap Keuskupan seregio Sumatera untuk memilih ketua KomKat regio Sumatera yang baru. RP. Octavianus Situngkit, OFMCap dari Keuskupan Agung Sumatera menjadi ketua KomKat Regio Sumatera menggantikan RP. Cornelius Fallo, SVD dari Keuskupan Sibolga. Semua peserta bergembira menerima ketua baru yang begitu energik dan semangat. Pertemuan KmKat Regio Sumatera 10-14 November 2014, akhirnya ditutup pada pagi 14 November 2014. Berpisah dan salam jumpa melalui blog-blog masing-masing. ***

Kamis, 06 November 2014

Kartu Sharing Injil Tujuh Langkah






















































































































Catatan atas sharing Injil Tujuh Langkah:
Membaca Alkitab dengan Metode Sharing Injil Tujuh Langkah, hampir pasti bahwa semua umat Katolik telah mengetahuinya. Namun, satu pertanyaan ini yang boleh saya ajukan disini: apakah setiap orang atau komunitas basis yang menjalankan sharing Injil Tujuh Langkah ini dengan maksimal, yaitu mengikuti langkah demi langkah secara utuh dan penuh kesadaran? 

Jika membaca Alkitab dengan metode ini tidak dijalankan dengan baik, maka hampir pasti orang per orang atau komunitas basis, cepat atau lambat akan merasakan cepat bosan dan mau mencari metode lain lagi. Ingat, metode apapun jika tidak dilaksanakan dengan baik dan tekun, akan sama dengan mentalitas kita yang selalu berubah-ubah. Sharing Injil Tujuh Langkah: duduk bersama Yesus yang bangkit, belajar dari Yesus, membangun komitmen dihadapan Yesus, untuk dengan berani melaksanakan Sabda Yesus. Sehingga Yesus yang sudah bangkit itu yang kini hadir dan menyertai kita, akan selalu hadir dan menyertai kita, ketika Sabda-Nya dilaksanakan dalam hidup baik secara pribadi maupun secara komunitas.

Jika metode ini sudah dijalankan dengan baik dan giat, tentu kita merasakan bahwa metode Sharing Injil Tujuh Langkah, akan kita merasakan bahwa Sabda Tuhan itu sungguh banyak buah, dan buah-Nya itu sangat berguna baik secara pribadi maupun secara komunitas.

Memang bahwa ketika kita tidak tekun menjalankan maka Sabda Tuhan, dirasakan tidak berbuah, kalau berbuah pun, itu hanya pada taraf untuk diri sendiri. ***

Rabu, 24 September 2014

FKUB Bangka Belitung dan FKUB Kabupaten Propinsi Kep. Bangka Belitung

Kegiatan Anjangsana dan Studi Banding yang dilaksanakan pada tanggal 22 September 2014 oleh para tokoh agama yang bergabung dalam FKUB Propinsi Kepulauan Bangka Belitung adalah kegiatan yang diselenggarakan oleh biro Kesra Pronpinsi Kepupauan Bangka Belitung dibawah pimpinan Ibu Sulfa Kalsum, S. Pd., M. Si, cs. Studi Banding tidak selamanya harus pergi ke daerah-daerah lain diluar propinsi. Studi Banding juga dapat dijalankan dalam wilayah-wilayah sendiri. Inilah yang merupakan suatu perhatian yang boleh dibilang jarang dilakukan. Belajar dari dalam dulu, mungkin jika ada kesempatan lain, boleh belajar di tempat-tempat lain dalam wilayah propinsi yang lain.

Tempat anjangsana dan studi banding di Kabupaten Bangka. Kabupaten Bangka dinilai sebagai sebuah kabupaten yang layak dikunjungi dengan alasan yang sederhana, kabupeten yang kondusif, koordinasi antar tokoh agama yang bergabung dalam FKUB Kabupaten Bangka mudah dan cepat menanggapi kegiatan ini. Selain itu juga tempat-tempat ibadah agama-agama pun banyak dan menjadi ajang wisata bagi masyarakat umum.

FKUB Propinsi Kep. Babel pertama berkunjung ke Mesjid Al' Ittihad di Jl. Senang Hati Sungailiat
FKUB Babel diterima dengan hangat dan penuh persaudaraan oleh para pengurus Mesjid Al' Ittihad. Sebuah kebanggaan bagi kami. Diterima dan mendapat informasi yang sangat berarti di aula mesjid ini.

FKUB Babel berpose bersama di depan Gereja Katolik Paroki Sungailiat. Gereja tua yang berawal dari bioskop dan dibeli untuk menjadi Gereja sejak 22 September 1968.
Di Gereja Katolik para rombongan diterima oleh para pastor MSF dan DPP Paroki Sungailiat di aula paroki.

FKUB Babel berkunjung ke GPKris di Jl. Jend. Sudirman Sungailiat.
Di GPKris para rombongan diterima oleh para pendeta dan majelis serta jemaat-jemaat GPKris.

Kebersamaan kami terajut dalam panorama Pantai Tanjung Pesona. Wujud kebersamaan ialah makan bersama. Dalam makan bersama kami saling berbagi satu sama lain.
Dari Pantai Tanjung Pesona anggota FKUB Babel berkunjung ke Rumah Ibadah Cong Fu Chu Pantai Rebo, yang terletak di bukit Rebo Sungailiat. Dari bukit ini kita dapat menikmat panorama pantai tikus.
Dari Pantai Rebo, anggota FKUB Babel berkunjung ke Vihara Air Kenanga Sungailiat di Jl. Depati Amir-Jl. Umum ke Pangkalpinang. Disini para anggota FKUB diterima dengan hangat oleh para penguruh vihara.

FKUB Babel berkunjung ke Kelenteng Kwan Tie Miau Baturusa, sebuah kelenteng tua yang dibangun sejak 1887 baru dipakai pada tahun 1896. Disini juga FKUB Babel diterima dengan hangat oleh para pengurus kelenteng ini.
Tujuan dari anjangsana dan studi banding FKUB Babel ini ditegaskan oleh Ibu Sulfa Kalsum, S.Pd., M.Si bahwa para peserta FKUB Babel menggali sebanyak mungkin informasi yang bisa diperoleh secara teknis real dan empiris, kemudian dapat dijadikan barometer dan pembanding yang kemudian dianalisis untuk menemukan sebuah pembaharuan yang aplikatif, baik untuk depan dalam jangka pendek dan jangka panjang secara futuristik. 

Akhirnya, terima kasih banyak untuk pemerintahan Propinsi Kepulauan Bangka Belitung khususnya Biro Kesra Pemerintah Proponsi Kep. Babel yang berinisiatip mengadakan kegiatan semacam ini. Dengan acara ini, secara pribadi saya mengenal sesama saya dari berbagai agama yang bergabung dalam FKUB Propinsi dan FKUB Kabupaten-kabupaten di Propinsi Kep. Babel. Terima kasih khusus untuk Ibu Sulfa Kalsum, S. Pd., M.Si, dan kawan-kawan di Biro Kesra. Mohon maaf atas kekurangan dalam pelayanan kami di rumah-rumah ibadah yang menjadi tempat kunjungan kali ini. Salam hormat saya. ***