Selasa, 29 April 2014

Paroki Sungailiat Menghayati 'Communion of Communities' Dalam Paskah Bersama Antar KBG-KBG

Memaknai Gereja tidak hanya sebatas fisik. Diharapkan pemaknaan Gereja harus sampai pada Gereja adalah 'communio', persekutuan umat Allah yang telah dibaptis dalam Nama Bapa, Putera dan Roh Kudus. Sebagai sebuah persekutuan, Kristus adalah pusatnya. Kristus adalah fokus yang daripada-Nya umat Allah belajar tentang berpusat pada Allah, communio, dan bermisi. Belajar pada Allah berarti belajar bagaimana Allah Bapa, Putera dan Roh Kudus bersekutu dan hidup sepanjang masa dalam wujudnya Cinta Kristus yang telah tanpa pamrih menebus dosa umat manusia.

Sebagai sebuah persekutuan yang menghidupkan Cinta Kasih Kristus yang bangkit, Paroki Sungailiat melaksanakan aksi nyata bersama yaitu perayakan paskah bersama. Paskah bersama tahun ini (2014) bernuasa agak lain. Bahwa setiap umat yang ada di dalam KBG-KBG membangun kebersamaan dalam melaksanakan Aksi Puasa Pembangunan (APP) melalui puasa dan pantang serta mati raga. Jalan yang diambil ini sebagai ungkapan fisik umat KBG untuk bersekutu dalam Kristus menyongsong Paskah 2014.

Kebersamaan dalam KBG-KBG terungkap secara nyata dalam kebersamaan selama pekan suci. Kebersamaan ini tidak hanya sampai disitu. Kebersamaan berlanjut terus hingga puncak kebersamaan yang dirayakan pada 'pesta paskah bersama' di Tanjung Pesona pada minggu, 27 April 2014. Acara kebersamaan ini dimulai pukul 10.00 wib. Acara kebersamaan itu terungkap dalam partisipasi dari setiap KBG-KBG baik KBG yang berdekatan dalam kota hingga KBG-KBG yang berada di luar kota Sungailiat. KBG Sta. Lucia dari Tuing hadir dengan lima mobil. KBG St. Yoh. Pemandu Bedukang hadir dengan dua mobil. Sedangkan KBG-KBG dalam kota dan sekitarnya hadir baik dengan kendaraan pribadi maupun dengan kendaraan carteran KBG-KBG yang bersangkutan.

KBG-KBG datang dengan baju berwarna merah, sehingga Pantai Tanjung Pesona siang itu disulap menjadi 'Pantai Merah Meriah' alias laskar Roh Kudus. Tidak hanya itu, 'laskar merah' hadir dan membangun kebersamaan melalui berbagai game yang disiapkan oleh Panitia Paskah, yang dikomando oleh Bpk. Leo Rachman, cs. Tim game yang dipimpin oleh Bpk. Adrianus Djanu Rombang terlihat tersenyum ria pratanda bahwa kegembiraan dan harapan adalah kegembiraan dan harapan bersama. Kebersamaan dalam game menandakan kebersamaan dalam membangun KBG-KBG. Dengan kebersamaan membangun KBG-KBG, maka secara tidak langsung wajah KBG adalah juga wajah Paroki. Iya...begitulah Paroki adalah communio of communities, persekutuan dari komunitas-komunitas yang ada didalam paroki. 

Dalam kebersamaan ini hadir anggota KBG tua-muda, anak dan remaja dan kaum muda, merasakan sebuah persekutuan yang telah lebih dahulu ditunjukkan oleh Kristus sendiri. Kebersamaan itu tidak hanya sampai pada kebersamaan di Pantai Tanjung Pesona. Kebersamaan itu terus menerus dibangun dan dihidupkan sehingga Gereja yang adalah communio terus eksis sebagai ungkapan communio abadi kita kelak di Surga. Hallelu......




Photo-photo lain dalam Perayaan paskah bersama KBG-KBG Paroki Sungailiat di Pantai Tanjung Pesona 27 April 2014:

Paskah Merah Ibu2 Paroki Sungailiat



Panitia Perayaan Paskah Bersama Paroki 2014

KBG-KBG berpartisipasi dalam game2




Sabtu, 26 April 2014

Kanonisasi Paus Yohanes XXIII dan Paus Yohanes Paulus II Oleh Paus Fransiskus 27 April 2014 Di Vatikan Roma



(Tulisan ini hanya mengenal pribadi kedua pribadi Paus)
 
Paus Yohanes XXIII lahir di Sotto il Monte, Italia, 25 November 1881 dengan nama aslinya Angelo Guiseppe Roncali. Paus Yohanes XXIII dipilih menjadi Paus menggantikan Paus Pius XII, 28 Oktober 1958 dalam usia 77 tahun, dan menjadi Paus dalam Gereja Katolik ke-261. Setelah menjadi Paus, ia sendiri merasa bahwa Gereja Katolik yang dipimpinnya ‘pengap’ karena itu Gereja akan menjadi lebih segar jika ‘jendela-jendela dibuka’ ungkap Paus Yohanes XXIII kepada salah seorang stafnya, pada awal 1959, ketika ia sedang membuka jendela-jendela di kamarnya.

Gagasannya untuk membuka jendela-jendela, ternyata bukan hanya sebuah gagasan kosong. Dalam bimbingan Roh Kudus, bertempat di Basilika St. Paulus, 25 Januari 1959, Paus Yohanes XXIII mengumumkan akan diadakan sebuah Konsili. Maka mulailah ia membentuk komisi-komisi untuk persiapan Konsili. Setelah semua komisi menyiapkan diri dengan matang, tepat pada tanggal 11 Oktober 1962, bertempat di Basilika St. Petrus-Roma,  Konsili dinyatakan secara resmi dibuka. Konsili yang kita kenal sampai dengan sekarang ini adalah Konsili Vatikan II.

Namun, sementara Konsili Vatikan II sedang berlangsung, pada tanggal 3 Juni 1963, Paus Yohanes XXIII meninggal dunia. Pada tanggal 3 September 2000, bersama dengan Paus Pius IX, ia dibeatifikasi oleh Paus Yohanes Paulus II, peringatan Paus Yohanes XXIII, setiap tahun tanggal 11 Oktober, sekaligus peringatan pembukaan secara resmi Konsili Vatikan II. Dokumen-dokumen Konsili Vatikan II hingga sekarang menjadi sebuah dokumen Gereja Katolik yang sangat terkenal baik bagi umat Katolik maupun bagi umat dari agama-agama lain.

Paus Yohanes Paulus II, lahir di Wadowice-Polandia, 18 Mei 1920, dengan nama kecil Karol Jozef Wojtyla. Selama menjadi Uskup Polandia, Paus Yohanes Paulus II turut berpartisipasi dalam Konsili Vatikan II. Dua dokumen hasil Konsili Vatikan II yang merupakan pokok-pokok pikirannya yang berdasarkan pengalaman hidupnya selama masa Nazi di Polandia adalah ‘pernyataan tentang kekebasan beragama’ (Dignitatis Humanae) dan ‘Konstitusi Pastoral tentang Gereja dalam dunia modern (Gaudium et Spes). Kedua dokumen ini sangat aktual untuk dunia dewasa ini.

Karol Jozef Wojtyla atau Paus Yohanes Paulus II dipilih menjadi Paus sejak 16 Oktober 1978. Dalam sejarah Gereja Katolik, Paus Yohanes Paulus II adalah Paus ke-264. Dan selama menjadi Paus, Karol Jozef Wojtyla merupakan Paus yang paling banyak berkunjung ke negara-negara lain. Ada sekitar 129 negara yang dikunjunginya selama menjadi Paus. Termasuk didalamnya negara Indonesia, yang dikunjungi Paus Yohanes Paulus II pada tanggal 8-12 Oktober 1989 di beberapa kota di Indonesia: Jakarta, Medan, Maumere, Yogjakarta, dan Dilli (sekarang Timor Leste). Ketika kunjungannya ke Indonesia, Paus memuji toleransi hidup beragama di Indonesia. Katanya, ‘Di muka bumi ini, tidak ada negara yang begitu toleransi seperti Indonesia.’

Selama menjadi Paus, Paus Yohanes Paulus II membeatifikasi 1.340 orang dan mengkanonisasi 483 beata-beato, dan ini merupakan yang paling banyak selama lima abad terakhir. Paus Yohanes Paulus II, meninggal pada tanggal 2 April 2005, dalam usia 84 tahun, 319 hari. Belum sampai 5 tahun, penggantinya, Paus Benediktus XVI memberikan sebuah gelar venerabillis kepadanya. Dan bertepatan dengan pesta Kerahiman Ilahi, kedua Paus, Paus Yohanes XXIII dan Paus Yohanes Paulus II dikanonisasi menjadi santo oleh Paus Fransiskus, 27 April 2014 di Vatikan Roma.

Kita sebagai satu Umat Allah dalam bahtera Santo Petrus, patut bersyukur dan bersukacita kepada Allah atas karya agung yang dialami oleh kedua Paus kita. Kepada kedua Paus kita, telah berkarya dalam Kristus dan keduanya telah menjawabi panggilan suci Allah untuk melayani seluruh umat manusia. Kita patut berdoa bagi kedua paus ini dan sekaligus kita mohon kepada kedua Paus ini untuk terus mendoakan Gereja kita.

*). dari berbagai sumber.

Rabu, 23 April 2014

Fasilitator KBG Perlu Menghindari Sikap Kesombongan dan Keangkuhan Diri



(materi pertemuan KBG, hasil 2 Tim AsIPA Paroki Sungailiat)
Tujuan Pertemuan: mendorong fasilitator untuk menyiapkan diri sebelum melaksanakan tugasnya dalam pertemuan di KBG.
 A.  Pembuka:
1. Fasilitator mengajak anggota KBG untuk membuka pertemuan ini dengan sebuah lagu pembuka.
2.   Fasilitator meminta salah seorang diantara anggota KBG untuk berdoa mengundang Tuhan.
3.   Fasilitator mengundang anggota KBG untuk terlibat dalam pendalaman materi pertemuan.

B.  Pendalaman Materi:















CODE




















Perhatian Fasilitator untuk ‘code’ ini antara lain: (1). Pelaku yang berpakaian yang sama menandakan bahwa mereka mempunyai tugas yang sama, yaitu sebagai seorang fasilitator. Semestinya sebagai seorang fasilitator dia menjalankan tugasnya dimulai dengan menyiapkan diri-membaca dan memahami materi pertemuan sehingga dia tidak ‘meraba-raba’ atau ‘menduga-duga’ tentang isi modul yang akan dibawakan. Fasilitator yang tidak menyiapkan diri sama dengan pelaku dalam modul yang menutup matanya dengan kain pengikat. (2). Bagi fasilitator yang merasa diri sudah tahu segalanya, sebenarnya memunculkan sikap kesombongan dan keangguhan dirinya. Menjadi fasilitator tidak boleh menganggap reme akan bahan yang akan dibawakannya. (3). ‘Gajah’ melambangkan kondisi/situasi KBG yang terkadang sulit dipahami oleh fasilitator.
DECODE
1.  Apa yang ANDA lihat dalam ‘code’ ini? Apa yang sedang terjadi?
2.  Mengapa fasilitator bisa berpendapat yang berbeda tentang seekor gajah?
3. Mengapa fasilitator menutup dirinya dengan mengikat selembar kain pada matanya, padahal ia pun sudah tahu tugasnya di KBG?
4.    Apa makna sikap menutup diri seorang fasilitator KBG?
TEKS KITAB SUCI
Teks Kitab Suci: Yesaya 2: 11 – 12.
PENDALAMAN TEKS
KITAB SUCI
1. Apa akibatnya jika seseorang (fasilitator) merasa diri sombong dan angkuh?
2.   Apa makna kata ‘direndahkan’ dan ‘ditundukan’?
3.  Bagaimana supaya kita semua baik anggota KBG maupun fasilitator) hidup sebagai satu Umat Allah?
TAMBAHAN
1.    Sejak kita hidup dalam Kristus, kita telah menerima karunia dari Allah. Kita telah menerima karunia berlain-lainan menurut kasih karunia yang dianugerahkan kepada kita. Karunia untuk melayani baiklah kita melayani. Karunia untuk mengajar baiklah kita mengajar. Karunia untuk menasihati baiklah kita menasihati. (Rm. 12:6-8). Semuanya ini dapat dijalankan jika kita memiliki kerelaan hati, meluangkan waktu dan tenaga untuk menyiapkan diri sebelum menjalankan tugas perutusan, sebagai keikutsertaan kita dalam tritugas (nabi, imanm, dan raja) Yesus.
2.  Kompendium Katekismus Gereja Katolik (KKGK No. 67): Allah menciptakan manusia untuk mengenal, melayani, dan mencintai Allah, untuk mempersembahkan semua ciptaan di dunia ini sebagai rasa syukur dan berterima kasih kepada-Nya dan untuk mengangkatnya ke dalam hidup bersama Dia di sorga. Pelaksanaan tugas kita yang dimulai dari persiapan diri hingga selesai menjalankan tugas, adalah tujuan Allah menciptakan manusia.
3.    Konsili Vatikan II, khususnya dalam dekrit tentang Kerasulan Awam (Apostolicam Actuositatem-AA, art. 6) mengajak kaum awam, masing-masing menurut bakat-pembawaan dan pendidikan pengetahuannya, supaya lebih sungguh menjalankan peran dalam menggali dan membela azaz-azaz kristiani serta menerapkannya dengan cermat pada masalah-masalah dewasa ini. Artinya, tugas fasilitator sebagai pemandu dalam KBG, sungguh-sungguh dijalankan dengan cermat dan baik.
4.  Amanat Sinode II dalam MGK No. 180-1187: jika sikap sombong dan angkuh masih menggerogoti hati fasilitator dan anggota KBG maka tugas sebagai Umat Allah untuk melanjutkan misi Kristus membangun Kerajaan Allah, pengembangan eksistensi sakramental persekutuan dengan Kristus, dan mengembangkan misi Gereja sebagai Tubuh Mistik Kristus yang terwujud didalam KBG, hampir pasti tidak akan tercapai dan tidak akan Menjadi Gereja Partisipatif seperti yang kita impikan bersama.
5.Dalam ‘Berpastoral Secara Integral Untuk Mengembangkan KBG’ khusus bagian tentang Fasilitator Ujung Tombak KBG, kita bisa mengetahui bagaimana menjadi seorang fasilitator yang baik yang dimulai dari awal sebelum pertemuan hingga akhir pertemuan di KBG, apa yang mau dilakukan seorang fasilitator.
 C.  Penutup:
1.   Fasilitator mengundang anggota KBG untuk mengungkapkan doa-doa umat berupa pujian, syukur, dan permohonan.
2.   Fasilitator mengajak anggota KBG berdoa Doa Bapa Kami, sebagai doa penyatuan semua doa yang telah diungkapkan secara spontan.
3.   Lagu Penutup
=****=