Sabtu, 21 November 2015

KELUARGA KATOLIK: SUKACITA INJIL



Hasil Sidang Agung Gereja Katolik Indonesia IV
Via Renata – Cimacan, 2-6 November 2015

Testimoni Beberapa Pasutri dalam SAGKI 2015

 Pengantar

1.      Sidang Agung Gereja Katolik Indonesia (SAGKI) IV yang diadakan pada 2–6 November 2015 di Via Renata – Cimacan mengambil tema “Keluarga Katolik: Sukacita Injil, Panggilan dan Perutusan Keluarga dalam Gereja dan Masyarakat Indonesia yang Majemuk”.

Dengan mengangkat tema itu, Gereja Katolik Indonesia bersehati dan seperasaan dengan Gereja Universal yang membahas tema keluarga dalam Sinode Para Uskup (2015) kelanjutan Sinode Luar Biasa Para Uskup (2014). SAGKI yang mendalami tema keluarga sebagai hal penting dan mendesak ini diikuti oleh 569 peserta yang terdiri dari uskup, imam, biarawan-biarawati, perwakilan umat dari 37 keuskupan, perwakilan keuskupan TNI, dan kelompok kategorial.

2.      Keluarga sebagai “sel pertama dan sangat penting bagi masyarakat” (Familiaris Consortio42) dan “sekolah kemanusiaan” (Gaudium et Spes 52) menjadi tempat pertama seseorang belajar hidup bersama orang lain serta menerima nilai-nilai luhur dan warisan iman. Di situlah seseorang menjadi pribadi matang yang menggemakan kemuliaan Allah. Keluarga katolik menjadi tempat utama, dimana doa diajarkan, perjumpaan dengan Allah yang membawa sukacita dialami, iman ditumbuhkan, dan keutamaan-keutamaan ditanamkan.

3.    SAGKI 2015 mendalami kehidupan keluarga melalui kesaksian beberapa keluarga tentang buah-buah sukacita Injil dalam keluarga dan tantangan keluarga ketika memperjuangkan sukacita Injil serta melalui paparan tentang membangun wajahecclesia domestica di Indonesia. Pengalaman tersebut diteguhkan oleh para ahli, didiskusikan dalam 17 kelompok dari segi spiritual, relasional, dan sosial, dipresentasikan dalam pleno, dan akhirnya dipersembahkan dengan penuh syukur dalam Perayaan Ekaristi.

4.   Selama SAGKI 2015, dialami rasa syukur dan gembira serta rasa haru dan air mata saat mendengarkan dan menyaksikan sukacita dan pengalaman jatuh-bangun keluarga-keluarga katolik dalam memperjuangkan kekudusan perkawinan dan keutuhan keluarga.

Buah-buah Sukacita Injil dalam Keluarga
5.  Dengan penuh iman, Gereja mensyukuri perkawinan katolik sebagai sakramen, yaitu tanda kehadiran Allah Tritunggal dalam hidup berkeluarga. Perjumpaan dengan Kristus membawa sukacita Injil (bdk.Evangelii Gaudium1). Pasangan suami-istri percaya bahwa Allah menghendaki, memberkati, dan mencintai keluarganya. Keyakinan ini meneguhkan suami-istri untuk setia dalam untung dan malang serta menambah sukacita dalam keluarga baik secara spiritual, relasional, maupun sosial.

6.      Bercermin dari hidup Keluarga Kudus Nazaret, keluarga katolik dihayati sebagai ladang sukacita Injil yang paling subur, tempat Allah menabur, menyemai, dan mengembangkan benih-benih sukacita Injil. Di dalam keluarga, suami-istri dan anak-anak saling mengasihi, membutuhkan, dan melengkapi. Kesabaran, pengertian, dan kebersamaan saat makan, doa, dan pergi ke gereja adalah wujud nyata kasih sayang tersebut. Kasih yang dibagikan tidak pernah habis, tetapi justru meningkatkan sukacita dalam keluarga. Oleh karena itu, ketika para anggota keluarga terpaksa terpisah dari pasangan atau dari anak-anak karena alasan pekerjaan atau sekolah, mereka berusaha mencari cara bagaimana kasih satu sama lain tetap dapat terjalin dan keutuhan keluarga dapat diwujudkan.

7.      Sukacita keluarga dialami secara spiritual dalam hubungan dengan Allah melalui kegiatan rohani sehingga kerinduan akan Sabda Allah tumbuh, iman makin tangguh, kepasrahan meningkat, dan pengalaman dicintai Allah dirasakan. Sukacita keluarga dialami secara relasional saat menjalin perjumpaan dan kebersamaan hidup yang bermutu, mempererat relasi kasih, saling memaafkan, menunjukkan sikap tenggang-rasa dan keberanian berkorban, serta sadar akan tanggungjawab pada generasi selanjutnya. Sukacita keluarga dialami secara sosial melalui kepedulian terhadap orang lain, pelayanan tulus terhadap sesama, pekerjaan sesuai panggilan, dan keteladanan hidup. Sukacita makin sempurna saat keluarga disapa dan diteguhkan oleh Gereja dalam pelayanannya.

8.      Sukacita yang dinikmati di dalam keluarga juga menjadi kekuatan untuk mengasihi Allah dan sesama melalui pelayanan di Gereja dan masyarakat tanpa memperhitungkan perbedaan suku, agama, ras, dan antargolongan serta kepentingan material. Keyakinan ini diteruskan kepada anak-anak lewat pendidikan iman yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan agar mereka mencintai Allah dan sesama.

Tantangan Keluarga dalam Memperjuangkan Sukacita Injil
9.   Sukacita dialami oleh keluarga yang mewujudkan rencana Allah atas perkawinan dan keluarganya. Sebagian keluarga membutuhkan perjuangan lebih karena menghadapi aneka tantangan dan kelemahan. Tantangan itu antara lain: kesulitan ekonomi, situasi sosial, budaya, agama dan kepercayaan yang tidak selaras dengan nilai-nilai perkawinan katolik seperti poligami, mahalnya mas kawin, dan kuatnya tuntutan pernikahan adat, hidup sebagai keluarga migran atau rantau, perkembangan media informasi yang menggantikan perjumpaan pribadi, dan pemujaan kebebasan serta kenikmatan pribadi. Kelemahan itu antara lain: kekurang-dewasaan pribadi dan kepicikan wawasan, penyakit dan meninggalnya pasangan, keterbatasan kemampuan orang tua untuk mengikuti perkembangan dan pendidikan anak-anak, ketidak-tahuan tentang makna dan tujuan perkawinan katolik, kesulitan dan ketidakmampuan untuk hidup bersama karena perbedaan agama dan budaya, hidup dalam perkawinan tidak sah, ketidak-setiaan dalam perkawinan, hadirnya orang ketiga (idaman lain atau keluarga besar pasangan), dan perpisahan yang tak terelakkan. Tantangan dan kelemahan ini menyebabkan perasaan terbeban, bingung, sedih, sepi, dan bahkan putus-asa bagi anggota keluarga. Tantangan dan kelemahan itu bisa membawa keluarga pada krisis iman yang merintangi, membatasi, dan bahkan menghalangi keluarga untuk setia kepada iman katolik dan untuk menghidupi nilai-nilai luhur perkawinan.

10. Di tengah pergumulan memperjuangkan sukacita Injil, keluarga mesti datang penuh kerendahan-hati untuk dikuduskan oleh Allah yang berbelas-kasih yang melampaui kelemahan dan kedosaan manusia. Pembelaan Allah yang begitu besar ini merupakan sukacita yang patut disadari dan disyukuri. Kekudusan keluarga merupakan rahmat sekaligus tugas bagi keluarga untuk dipertahankan. Oleh karenanya, keluarga diundang untuk bersikap dewasa, bertindak bijaksana, dan tetap beriman dengan tidak menyalahkan situasi, tetapi setia mencari kehendak Allah melalui doa dan Sabda Allah, mengutamakan pengampunan dan peneguhan di antara anggota keluarga, serta pergi menjumpai pribadi atau komunitas beriman yang mampu membangkitkan harapan. Keluarga yang mengandalkan Allah percaya bahwa Allah tidak pernah meninggalkannya. Selalu ada jalan keluar. Tantangan adalah kesempatan untuk bertumbuh dalam kepribadian serta iman, harapan, dan kasih. Tantangan tidak harus menyuramkan nilai-nilai perkawinan dan hidup berkeluarga. Melalui tantangan itu, Allah mengerjakan karya keselamatanNya di dalam dan melalui keluarga.

11. Gereja terpanggil untuk bersama-sama mencari, menyapa, mendengarkan dan bersehati dengan keluarga yang sedang menghadapi tantangan, termasuk mereka yang tidak sanggup mempertahankan nilai-nilai hidup perkawinan dan keluarga. Di sinilah Gereja hadir untuk menampilkan wajah Allah yang murah hati dan berbelas kasih, terutama bagi keluarga yang berada dalam situasi sulit. Dalam kemurahan dan belas kasih Allah, keluarga-keluarga tidak akan mengalami kebuntuan dalam perjalanannya meraih kebahagiaan.

Gerak Bersama: Membangun Ecclesia Domestica di Indonesia

12. “Keluarga merupakan buah dan sekaligus tanda kesuburan adikodrati Gereja serta memiliki ikatan mendalam, sehingga keluarga disebut sebagai Gereja Rumah-Tangga (ecclesia domestica). Sebutan ini sudah pasti memperlihatkan eratnya pertalian antara Gereja dan keluarga, tetapi juga menegaskan fungsi keluarga sebagai bentuk terkecil dari Gereja. Dengan caranya yang khas keluarga ikut mengambil bagian dalam tugas perutusan Gereja, yaitu karya keselamatan Allah” (Pedoman Pastoral Keluarga KWI 2010, No 6). Sebagai Gereja Rumah-Tangga, keluarga menjadi pusat iman, pewartaan iman, pembinaan kebajikan, dan kasih kristiani dengan mengikuti cara hidup Gereja Perdana (Kis 2: 41-47; 4: 32-37). Gereja Rumah-Tangga mengambil bagian dalam tiga fungsi imamat umum Yesus Kristus, yaitu guru untuk mengajar, imam untuk menguduskan, dan gembala untuk memimpin. Gereja Rumah-Tangga di Indonesia dibangun berdasarkan nilai-nilai kristiani yang diwujudkan dalam masyarakat yang majemuk.

13. Dalam reksa pastoral keluarga, Gereja mesti berangkat dari keprihatinan dan tantangan keluarga zaman ini yang semuanya membutuhkan kerahiman Allah. Gereja dipanggil untuk menunjukkan wajah Allah yang murah hati dan berbelas kasih melalui pelayanan, terutama kepada mereka yang paling lemah, rapuh, terluka, dan menderita. Kerahiman Allah tidak pernah bertentangan dengan keadilan dan kebenaran, tetapi bergerak melampauinya karena “Allah adalah kasih” (1Yoh 4: 8).

14. Demi menggiatkan pastoral keluarga yang berbelas kasih dan penuh kerahiman, Gereja dipanggil melakukan pertobatan pastoral secara menyeluruh. Pertobatan dimulai dari pelayan-pelayan pastoral yang berkarya dalam pelbagai lembaga pelayanan. Dengan demikian, pastoral keluarga dapat menanggapi persoalan keluarga secara tepat. Untuk itu:

a.   Pedoman Pastoral Keluarga KWI yang diterbitkan tahun 2010 harus diperhatikan dan dilaksanakan;
b.  Reksa pastoral keluarga terpadu dan berjenjang mulai dari persiapan perkawinan sampai pada pendampingan keluarga pasca nikah, termasuk pertolongan pada keluarga dalam situasi khusus harus dibentuk dan dihidupkan kembali;
c.   Katekese keluarga harus dikembangkan;
d.  Kebijakan dan koordinasi perangkat pastoral keluarga baik di tingkat KWI, regio, keuskupan, maupun paroki harus ditegaskan dan disosialisasikan;
e.   Keuskupan-keuskupan se-Indonesia harus bekerjasama dan solider dalam sumber daya manusia, ilmu pengetahuan dan teknologi, serta keuangan;
f.    Pelayanan perangkat pastoral seperti Komisi Keluarga dan Tribunal Gerejawi harus mendapat perhatian dan diberdayakan;
g.  Lembaga dan pelayan pastoral keluarga, termasuk kelompok-kelompok kategorial dan pemerhati keluarga serta para ahli harus diikutsertakan;
h.  Komunitas basis keluarga dan institusi pendidikan katolik harus dilibatkan;
i.    Ekonomi keluarga harus ditingkatkan melalui lembaga-lembaga ekonomi dan keuangan;
j.    Data-data yang berkaitan dengan kepentingan pastoral keluarga harus dimanfaatkan;
k.  Lembaga Hidup Bakti harus diikut-sertakan dalam pastoral keluarga dengan tetap menghormati kekhasan karismanya.

Dalam gerak bersama tersebut, kita perlu juga terbuka untuk bekerja-sama dengan lembaga swadaya masyarakat, lembaga adat, lembaga keagamaan, dan bahkan pemerintah.

15. Keluarga katolik dipanggil untuk mewartakan sukacita Injil dengan kesaksian hidupnya dan kepeduliannya kepada keluarga-keluarga lain. Dengan demikian, keluarga sungguh menjadi Gereja Rumah-Tangga yang tidak terkungkung dalam dirinya sendiri, tetapi menjalankan tugas perutusannya dalam memajukan Gereja dan menyejahterakan masyarakat (bdk.Familiaris Consortio 42).

Penutup

16. Kekayaan pengalaman dan aneka diskusi selama SAGKI 2015 tak mungkin dirangkum seluruhnya dalam rumusan hasil Sidang ini. Namun, kesaksian keluarga, diskusi kelompok, peneguhan dari ahli, kebersamaan, dinamika kerja panitia, dan kreasi bersama tim animasi dalam SAGKI tetap akan terdokumentasikan dalam bentuk buku, video, dan foto. Kita semua yakin bahwa para peserta SAGKI IV inilah yang sepantasnya berperan sebagai “dokumen” dan saksi hidup yang kaya akan pengalaman sukacita Injil dalam keluarga.

17. Pada akhir Sidang Agung Gereja Katolik Indonesia ini, marilah kita semakin percaya bahwa Allah menjumpai para anggotanya untuk membimbingnya menuju kesempurnaan kasih dan kepenuhan hidup kristiani. Kita bersyukur kepada Allah karena keluarga katolik mengalami sukacita baik dalam kesetiaan perkawinannya maupun dalam perjuangan menghadapi tantangan. Kita percaya bahwa Roh Kudus menyertai keluarga memelihara dan merawat kesuciannya. Kita turut prihatin bersama keluarga yang berada dalam situasi sulit. Semoga Gereja sebagai sumber air hidup dapat menjadi Guru bijaksana dan Ibu pemberi harapan bagi keluarga.

Keluarga Kudus Nazaret, doakanlah kami untuk mewujudkan keluarga katolik yang memancarkan sukacita Injil.

Peserta SAGKI 2015

Via Renata Cimacan Jabar

Senin, 07 September 2015

Fasilitator Wilayah Toboali Belajar Bersama Modul Sharing Injil Tujuh Langkah



RD. Stanis Bani Pemimpin Misa Pembuka Bulan Kitab Suci Nasional, 6 September 2015

Toboali di Bangka Selatan masuk dalam wilayah Gerejawi Keuskupan Pangkalpinang Paroki Santo Fransiskus Xaverius Koba di Bangka Tengah. Di wilayah Toboali sebuah gedung Gereja Katolik berpelindungkan Santa Maria Stella Maris, Bintang Laut. Wilayah Toboali terdiri dari lima Komunitas Basis Gerejawi.


Ibadat Pentakhtaan KS Seminar AsIPA
Pada tanggal 5-6 September 2015, sebanyak 23 fasilitator dari lima KBG berkumpul di salah satu ruang kelas SD Katolik Karya Toboali untuk belajar bersama modul-modul AsIPA tentang Sharing Injil Tujuh Langkah. Belajar bersama modul-modul ini dimulai dengan Ibadat Pembuka yang dipimpin oleh Romo Vikep Bangka Belitung dan sekaligus parocus Paroki Koba, RD. Stanis Bani. Setelah Ibadat Pembuka, acara dilanjutkan dengan kata pengantar oleh parocus Paroki Koba. Selanjutnya para peserta fasilitator dibagi dalam tiga kelompok kecil yang didamping oleh Tim Kevikepan Bangka Belitung (RD. Stanis Bani dan Bpk. Agus Supriyanto).

Di hari pertama, Sabtu tanggal 5 September 2015 para peserta mendalami dua modul (A1-A2) hingga pukul 21.30 wib. Maklumlah, peserta begitu antusias giat mendalami pertanyaan yang dituntun oleh modul-modul dan sekaligus berkeinginan untuk meminta masukan lebih dalam lagi dari pendalaman modul-modul tersebut. Walau hingga jam sebegitu, fasilitator masih tetap bertahan dan tekun bertanya.

Di hari kedua, Minggu, 6 September 2015, setelah Misa Pembuka Bulan Kitab Suci Nasional 2015, para fasilitator mulai bergumul lagi modul selanjutnya, modul A3-A5, dari pukul 10.00 wib hingga 16.15 wib. Petrus Marbun, ketua wilayah Toboali di kelompok kecil ketiga, mengakui bahwa terkadang pertanyaan-pertanyaan didalam modul A3 dan A4 dirasanya begitu sulit. Perlu menganalisa lagi pertanyaan-pertanyaan tersebut. Jika tidak dibaca dengan baik, pasti dalam praktek akan sangat keliru dan salah.

Bahkan lebih lanjut diakuinya bahwa ternyata langkah 4 dan langkah 5 sharing Injil Tujuh Langkah ini, tidak gampang. Pantasan, banyak anggota KBG saya, memprakteks saat hening dan sharing jauh berbeda seperti yang dimaksudkan isi dari modul-modul ini. Petrus Marbun sendiri sangat berharap bahwa setelah pendalaman modul-modul ini, ia akan berniat untuk menularkan langkah demi langkah ini secara bertahap di dalam KBG-KBG di wilayah Toboali.

Sebelum pulang fasilitator mendapat peneguhan dari RD. Stanis Bani
Setelah para peserta secara bertahap mendalami modul A (A1-A5), seluruh peserta diajak untuk berkumpul bersama lagi untuk merefleksikan kembali seluruh proses dan sekaligus mendapat peneguhan dari RD. Stanis Bani selaku parocus Koba. Suster, bapak, dan ibu, kita telah mengakhir pendalaman modul Sharing Injil ini, tentu kita mau mempraktekannya, namun jangan lupa nanti para fasilitator ini akan rutin berjumpa untuk mempraktekannya sendiri baru sesudah itu akan diteruskan di KBG-KBG kita, tegasnya dengan penuh senyum.

Teman-teman fasilitator, kegiatan hari ini semacam kita giat belajar lagi. Belajar tanpa batas. Kami Tim sendiri hampir belasan kali belajar modul ini, walaupun modul-modul ini sering kami bawakan untuk fasilitator di Babel ini.  Itu artinya, kita mau belajar terus. Ini yang patut kita syukuri, ungkap Pak Agus. Kita, Fasilitator bagaikan sesiung bawang, yang ditutupi oleh kulit luar, yang menyatukan titik tumbuh setiap bawang dalam satu siung pada satu pusat, dan kulit luar siung bawang itu perlahan-lahan akan hancur-robek, hancur-robek kulit luar siung bawang itu bukan karena dirusak dari luar, tetapi karena bawang-bawang didalamnya mulai tumbuh secara perlahan-lahan. Selanjutnya jika bawang-bawang itu dipindahkan ke lahan tanah yang subur, akan menghasilkan bawang-bawang lagi yang banyak dan berkualitas. Mungkin begitulah kita fasilitator, semua kita akan disatukan oleh kulit luar bawang, itu sama dengan Sharing Injil Tujuh Langkah, yang mampu mengarahkan semua fasilitator pada Kristus yang bersabda dalam Kitab Suci, dan dengan itu setiap fasilitator akan tumbuh dan sharing Injil tujuh langkah menjadi milik pribadi, yang siap untuk ditanam di KBG-KBG masing-masing. Dan diharapkan di KBG-KBG itu dari fasilitator yang satu akan melipatgandakan orang-orang lain – anggota KBG menjadi fasilitator baru. Tentu KBG-KBG akan menghasilkan anggota-anggota KBG yang berkualitas. Anggota KBG yang berkualitas karena Kristus menjadi pusat, anggota KBG mampu berkomunio dan dengan itu KBG mampu membawa misi Kerajaan Allah. Bawang-bawang akan menjadi berdayaguna bagi semua orang. ***

Kamis, 27 Agustus 2015

Belajar Spiritualitas pada Dua Murid dalam Perjalanan ke Emaus

Setelah semua KBG-KBG di Paroki Sungailiat memilih pengurus KBG-KBGnya berdasarkan modul Pemilihan Pengurus KBG, seluruh pengurus KBG didampingi oleh Tim PIPA Paroki ke beberapa KBG gabungan untuk belajar Spiritualitas pada Dua Murid dalam Perjalanan ke Emaus. 

A. Teks Kitab Suci Injil Lukas 24: 13-35
13 Pada hari itu juga dua orang dari murid-murid Yesus pergi ke sebuah kampung bernama Emaus, yang terletak kira-kira tujuh mil jauhnya dari Yerusalem,
14 dan mereka bercakapc-cakap tentang segala sesuatu yang telah terjadi.
15 Ketika mereka sedang bercakap-cakap dan bertukar pikiran, datanglah Yesus sendiri mendekati mereka, lalu berjalan bersama-sama dengan mereka.
16 Tetapi ada sesuatu yang menghalangi mata mereka, sehingga mereka tidak dapat mengenal Dia.
17 Yesus berkata kepada mereka: "Apakah yang kamu percakapkan sementara kamu berjalan?" Maka berhentilah mereka dengan muka muram.
18 Seorang dari mereka, namanya Kleopas, menjawab-Nya: "Adakah Engkau satu-satunya orang asing di Yerusalem, yang tidak tahu apa yang terjadi di situ pada hari-hari belakangan ini?"
19 Kata-Nya kepada mereka: "Apakah itu?" Jawab mereka: "Apa yang terjadi dengan Yesus orang Nazaret. Dia adalah seorang nabi, yang berkuasa dalam pekerjaan dan perkataan di hadapan Allah dan di depan seluruh bangsa kami.
20  Tetapi imam-imam kepala dan pemimpin-pemimpin kami telah menyerahkan Dia untuk dihukum mati dan mereka telah menyalibkan-Nya.
21 Padahal kami dahulu mengharapkan, bahwa Dialah yang datang untuk membebaskan bangsa Israel. Tetapi sementara itu telah lewat tiga hari, sejak semuanya itu terjadi.
22 Tetapi beberapa perempuan dari kalangan kami telah mengejutkan kami: Pagi-pagi buta mereka telah pergi ke kubur,
23 dan tidak menemukan mayat-Nya. Lalu mereka datang dengan berita, bahwa telah kelihatan kepada mereka malaikat-malaikat, yang mengatakan, bahwa Ia hidup.
24 Dan beberapa teman kami telah pergi ke kubur itu dan mendapati, bahwa memang benar yang dikatakan perempuan-perempuan itu, tetapi Dia tidak mereka lihat."
25 Lalu Ia berkata kepada mereka: "Hai kamu orang bodoh, betapa lambannya hatimu, sehingga kamu tidak percaya segala sesuatu, yang telah dikatakan para nabi!
26 Bukankah Mesias harus menderita semuanya itu untuk masuk ke dalam kemuliaan-Nya?"
27 Lalu Ia menjelaskan kepada mereka apa yang tertulis tentang Dia dalam seluruh Kitab Suci, mulai dari kitab-kitab Musa dan segala kitab nabi-nabi.
28 Mereka mendekati kampung yang mereka tuju, lalu Ia berbuat seolah-olah hendak meneruskan perjalanan-Nya.
29 Tetapi mereka sangat mendesak-Nya, katanya: "Tinggallah bersama-sama dengan kami, sebab hari telah menjelang malam dan matahari hampir terbenam." Lalu masuklah Ia untuk tinggal bersama-sama dengan mereka.
30 Waktu Ia duduk makan dengan mereka, Ia mengambil roti, mengucap berkat, lalu memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka.
31 Ketika itu terbukalah mata mereka dan merekapun mengenal Dia, tetapi Ia lenyap dari tengah-tengah mereka.
32 Kata mereka seorang kepada yang lain: "Bukankah hati kita berkobar-kobar, ketika Ia berbicara dengan kita di tengah jalan dan ketika Ia menerangkan Kitab Suci kepada kita?"
33 Lalu bangunlah mereka dan terus kembali ke Yerusalem. Di situ mereka mendapati kesebelas murid itu. Mereka sedang berkumpul bersama-sama dengan teman-teman mereka.
34  Kata mereka itu: "Sesungguhnya Tuhan telah bangkit dan telah menampakkan diri kepada Simon."

35 Lalu kedua orang itupun menceriterakan apa yang terjadi di tengah jalan dan bagaimana mereka mengenal Dia pada waktu Ia memecah-mecahkan roti.

B. Penjelasan Teks: Satu hal yang diperlukan
1.    Ayat 13-14: perhatikan kalimat: (1). ‘pada hari itu juga...’ Kalimat ini mau mengatakan kepada kita bahwa pada hari yang sama terjadi rentetan peristiwa peristiwa pertama (bdk. Yoh. 20: 1-10), ketika malaikat menyampaikan kabar kepada Maria Magdalena bahwa Yesus sudah bangkit, Maria dan perempuan yang lain serta Petrus dan kawan-kawannya keluar dari rumah Markus Yohanes, murid Rasul Petrus, anak Maria di Yerusalem (Kis. 12:12,12:25, 13:5; Kol. 4:10), ke kubur untuk melihat Yesus yang bangkit. Dan pada saat yang sama itu juga, Dua orang murid ini pun keluar dari rumah tempat tinggal mereka, tetapi bukan ikut ke kubur Yesus namun keduanya ini justru pergi ke Emaus.
(2). ‘Lukas menyebut jarak Yerusalem ke Emaus kira-kira 7 mil. Satu mil sama dengan 1,6 km, jadi kalau 7 mil sama dengan 11,2 km. (3). Dalam pengertian orang Yahudi, kata Emaus artinya: ‘sumber air panas’ atau ‘kolam air panas’. Secara tidak langsung arti kata Emaus ini mau mengatakan bahwa di Emaus pun suasana panas, termasuk jiwa para penghuninya. Maka jiwa dua murid ini, pun ‘panas’, ‘menggelora’, ‘emosional’ sehingga sangat mempengaruhi perjalnan hidup dan segala keputusan yang mereka ambil. Dalam sejarah Yahudi, Emaus adalah salah satu kota jajahan Romawi.
Lalu pada ayat 14, perhatikan kalimat: ‘bercakap-cakap’. Bercakap-cakap berarti berbicara tanpa putus. Isi percakapan mereka ialah tentang situasi yang sedang terjadi pada diri Yesus: ditangkap, didera, disalibkan, wafat, dan dikuburkan. Juga kedua murid itu pun membicarakan situasi apa yang terjadi dan akan terjadi, jika Yesus sudah tidak ada lagi di antara mereka (dibaca: para rasul dan para murid). Sangat boleh jadi bahwa mereka melihat situasi para rasul dan murid yang lain, bahwa belum siap kepergian Yesus. Sehingga secara emosional dua murid ini mengambil keputusan untuk berbelok arah, bukannya ke kubur Yesus melainkan pulang kampung halaman mereka.

2.    Ayat 15-24: pada bagian ini saya membagi penjelasan dalam beberapa bagian.
Pertama, ayat 15-16: kedua murid yang sedang bercakap-cakap tentang situasi yang terjadi pada Yesus dan situasi yang sedang dan akan mereka alami itu, seseorang (dibaca: Yesus) datang kepada mereka. Inisiatip datang kepada dua murid dalam perjalanan ini adalah seseorang tersebut. Tanpa dua murid ini mengundangnya, Dia datang dan mau mengetahui apa yang sedang dua murid itu perbincangkan.
Seseorang itu kemudian jalan bersama mereka. Dua murid sedang bercakap-cakap artinya mereka sedang berdiskusi, tukar pikiran apa yang mereka pahami tentang kematian Yesus dan kebangkitan-Nya. Dalam diskusi itu topiknya tentu kejadian yang sedang terjadi dengan Yesus dan peristiwa terbaru yang dialami Yesus yaitu peristiwa kebangkitan Yesus. Peristiwa kebangkitan Yesus mereka diskusikan karena mereka mendengar dari para perempuan yang pulang dari kubur.
Orang asing yang jalan bersama dengan dua murid itu, tidak mereka tahu bahwa itu Yesus. Satu pertanyaan sederhana yang boleh kita munculkan disini: mengapa dua murid itu tidak tahu bahwa itu Yesus?
Disebut Lukas pada ayat 16, bahwa ‘ada sesuatu yang menghalangi mata kedua murid tersebut’. Dialog diantara mereka yang serius pun salah satu penyebab kedua murid ini tidak mengetahui dan mengenal dengan serius kehadiran ‘Yesus yang bangkit.’ Secara sederhana, bisa jadi ada yang mengatakan bahwa karena fisik Yesus telah berubah dengan fisik rohani (makna kebangkitan, bdk. Luk. 9:18-36). Bentuk fisik rohani inilah yang tidak mereka kenal. Namun, alasan ini rasanya kurang mendasar. Yang lebih mendasar ialah bahwa kedua murid itu: pertama, ‘tidak paham atau tidak percaya akan kebangkitan’. Sangat tampak jelas bahwa dua murid ini tidak percaya akan kebangkitan Yesus seperti yang diwartakan para nabi dalam kitab-kitab dan apa yang disampaikan oleh Yesus sendiri: ‘pada hari ketiga Aku akan bangkit kembali.’ Namun, secara teori, dua murid ini mampu berdiskusi, soal hal ini. Inilah trend dewasa ini, secara teori kita memiliki kemampuan untuk menyampaikan kepada orang lain, namun jauh dari itu, tidak yakin dan tidak percaya akan apa yang disampaikan itu sebagai sebuah kebenaran iman. Kedua, keseriusan dua murid yang sedang berbicara dengan topik yang hangat tentang Yesus yang bangkit, sehingga ketika ada yang datang jalan bersama dengan mereka, kedua murid itu kurang serius juga menaruh hati. Apalagi mengenal. Mungkin saja seperti bayang-bayang, persis seperti orang buta ketika disembuhkan Yesus, proses penyembuhan dimulai dengan melihat bayang-bayang setelah itu baru melihat secara normal. Ketiga, kegalauan hati dua murid karena motivasi dua murid untuk mengikuti Yesus tidak terjawab oleh Yesus. Yesus yang dipandang dua murid ini sebagai pembebas mereka dari penjajah Romawi, tidak terjawab. Malahan Yesus keburu ditangkap dan dihukum mati. Karena motivasi dua murid ini tidak terjawab maka secara logis dua murid ini mengambil keputusan untuk pulang ke kampung halaman, Emaus. Ada banyak kita dijaman ini yang menjadi murid Yesus pun memiliki motivasi yang macam-macam. Bahkan terkadang memaksa motivasi sendiri kepada Yesus.  Sehingga ketika motivasi sendiri ini tidak dijawab Yesus, maka secara perlahan-lahan atau frontal untuk meninggalkan Yesus.
Kedua, ayat 17-18: dua murid yang serius berdialog soal Yesus itu, malahan mendapat tanggapan dari orang asing (dibaca: Yesus). Orang asing itu bertanya kepada mereka: apa yang sedang kalian perbincangkan itu?. Pertanyaan Yesus direspons oleh dua murid dengan berhenti sesaat dan wajah dua murid itu terlihat muram. Wajah muram menunjukkan sikap dua murid tersebut, yaitu terlihat ‘marah, kesal, heran, dan lebih dari itu mereka mengatakan kepada Yesus sebagai orang asing / pendatang baru di Yerusalem’.
Namun, sejatinya pertanyaan Yesus itu mau mengalihkan percakapan mereka, supaya pusat percakapan mereka itu, jangan mengawang-awang, sekaligus Yesus mau menegaskan bahwa sekarang yang kalian percakapan itu, kini ada di tengah kalian. Karena itu Yesus sebenarnya meminta dua murid itu untuk memfokuskan perhatian mereka sekarang juga kepada Yesus, bukan pada diskusi-dialog atau tukar pikiran seputar ilmu-ilmu pengetahuan tentang Yesus dan kebangkitan-Nya. Hebatnya dua murid ini ialah walau mereka tidak paham benar soal kebangkitan Yesus atau tentang Yesus, namun mereka mau berbicara tentang Yesus dalam ‘perjalanan mereka ke Emaus’. Untung mereka tidak begosip tentang situasi persekutuan mereka di Yerusalem atau hal-hal lain yang terjadi didalam perjalanan mereka.
Ketiga, ayat 19-24: Isi dialog dua murid dalam perjalanan itu, diperdalam oleh Yesus dengan mengajukan pertanyaan singkat: apa itu? Pertanyaan singkat yang diajukan Yesus itu, dijawab dengan memberikan penjelasan oleh dua murid seperti yang mereka tahu, selama mereka mengikuti Yesus. Kita boleh belajar satu hal lagi disini yaitu Yesus hadir sebagai penguji penjelasan mereka. Bahkan bukan hanya itu, tetapi Yesus pun tahu motivasi awal kedua murid mengikuti Dia, yaitu mereka mengharapkan supaya Yesus sebagai pembebas mereka dari penjajahan Romawi.
Penjelasan dua murid dalam      ayat 20-24 mirip seperti kita baca dalam Injil Yohanes 20: 1-10. Menarik dari penjelasan dua murid ini, kita pun belajar ‘motivasi kita untuk menjadi murid Yesus.’ Maka patut kita bertanya diri: apa motivasi saya menjadi murid Yesus?’. ‘Apa motivasi saya menjadi pengurus KBG, pengurus PIPA Paroki, dan DPP serta menjadi fasilitator dalam KBG dan menjadi anggota fasilitator PIPA Paroki?’

3. Ayat 25-28: Yesus mengecam kedua murid di perjalanan itu, sebagai ‘orang bodoh’. Secara ilmu pengetahuan dua murid itu boleh dibilang lulus. Lulus karena secara teori mereka mampu menyampaikan hal yang mereka alami bersama Yesus itu kepada Yesus sendiri. Tetapi, apa yang mereka percakapkan, apa yang mereka diskusikan itu hanya sebatas ilmu pengetahuan. Namun, tidak mereka yakin dan percaya. Tidak mereka hayati sebagai iman. Karena itu, layaklah Yesus mengecam mereka sebagai ‘orang bodoh’. Disini juga boleh kita belajar, bahwa jika yang kita ajarkan tentang Yesus namun tidak kita percaya, maka Yesus pun tidak segan-segan mengecem kita sebagai ‘orang bodoh’.

Mengapa kedua murid itu tidak percaya akan sabda para nabi? Padahal para nabi adalah utusan Allah. Lalu sabda para nabi adalah Sabda Allah dalam Perjanjian Lama. Rasanya kedua murid ini masih dalam cara berpikir seperti bangsa mereka sendiri, mereka belum berubah motivasi menjadi murid Yesus. Justru mereka mengharapkan Yesus-lah harus mengikuti motivasi mereka, yaitu pembebas mereka dari para penjajah Romawi. Cara berpikir ini sangat keliru sekali. Semestinya dua murid ini harus mengubah motivasi mereka dengan motivasi Yesus, sehingga mereka sungguh menjadi murid Yesus. Mana ada guru di dunia ini yang mau mengikuti kemauan muridnya?
Namun, ada baiknya juga kita pun boleh belajar juga dari dua murid ini. Bahwa dengan mereka mengungkapkan motivasi mereka menjadi murid Yesus, untuk dibebaskan Yesus dari para penjajah Romawi, maka kita pun mau belajar lagi pada dua murid ini dengan membuka hati, menerima penjelasan kembali Yesus. Yesus hadir untuk memberikan HER ulang soal apa yang mereka tahu dan alami selama ini.
Pada ayat 27, kita tahu bahwa Yesus kembali (review-renewal) menjelaskan kehadiran seluruh hidup-Nya mulai dari Kitab-kitab Musa hingga Kitab-kitab para nabi (Kitab Perjanjian Lama). Disini sebenarnya, Yesus mau meyakinkan dua murid bahwa Sabda Para Nabi yang mengharapkan kehadiran seorang Mesias, itu kini hadir ditengah-tengah mereka. Karena itu, semestinya harus percaya akan Sabda Para Nabi.
Dalam ayat 28, kita baca bahwa rupanya kampung yang dituju dua murid itu, diketahui juga oleh Yesus. Yesus buat seolah-olah mau melewati kampung Emaus. Disini, Yesus mencoba dua murid, bagaimana respons sikap dua murid ketika Yesus berbuat demikian. Ujian kepada dua murid memiliki dua makna: pertama, apa dua murid ini membiarkan orang asing (dibaca: Yesus) pergi begitu saja? ataukah kedua, mau berbagi ilmu pengetahuan tentang Kitab Suci dengan mengundang orang asing (dibaca: Yesus) untuk tinggal bersama mereka?

4.  Ayat 29: respons dua murid pada ayat ini sangat menarik. Bahkan hemat saya, merupakan sangat mendasar. Mengapa? Pertama, respons dua murid mengundang orang asing (dibaca: Yesus) untuk tinggal bersama dengan mereka, adalah luar biasa dan sangat tepat. Bagi kebanyakan orang mengundang orang asing untuk tinggal di rumah karena hari sudah gelap, itu hal yang biasa. Makna sosialitas yang dihayati oleh kebanyakan masyarakat. Apalagi, di dalam perjalanan itu, orang asing sudah menjelaskan kepada mereka tentang isi Kitab Suci dari Kitab-kitab Musa hingga kitab-kitab para nabi. Namun disatu sisi, jika ditelaah lebih pada ekonomis, boleh jadi undangan kepada orang asing ini, dilihat sebagai upah. Apalagi undangan itu sangat mendesak, dirasa dua murid sebagai utang budi atau utang ilmu Kitab Suci.
Kedua, jika kita melihat dari konsep ‘orang asing’ (dibaca: Yesus), undangan dua murid itu memberikan kesempatan atau waktu kepada Yesus untuk membuka misteri Allah bagi kedua murid untuk mengambil sikap percaya akan Allah dalam diri-Nya. Maksud undangan inilah yang benar dan sungguh terjadi. Bahwa misteri Allah tentang kebangkitan Yesus itu terungkap. Sehingga kedua murid itu merasa menyesal, malu, ‘bodoh’ karena Yesus dibilang mereka orang asing. Sikap mereka selanjutnya mengambil keputusan untuk percaya akan kebangkitan Yesus. Ada sikap tobat dari dua murid tersebut.
Ketiga, dalam banyak hal, orang yang menjadi murid Yesus selalu mengatakan bahwa Yesus selalu menyertai orang yang menjadi murid-Nya. Ini benar sekali. Namun, kalau hanya berargumen sebatas ini saja, tidak cukup. Yesus yang selalu menyertai orang yang mengikuti-Nya itu, harus perlu diundang. Maksud undangan ini ialah supaya Yesus menjadi fokus, pusat hidup kita. Kehadiran Yesus itu bukan menjadi penonton atau penilai hidup kita. Undang Yesus hadir bukan juga hanya terjadi pada malam hari. Yesus justru sangat mengharapkan dan menghendaki supaya Dia menjadi pusat seluruh hidup kita.

5.    Ayat 30-31: Yesus yang diundang dengan sangat mendesak mampu berbuat sesuatu untuk membuka mata hati mereka. Disini kita boleh belajar makna terdalam dari Ekaristi. Pertama, sebelum Yesus membuka misteri diri, Ia mau supaya dua murid harus mendengarkan pengajaran Yesus melalui Sabda dalam Kitab Perjanjian Lama (Kitab-kitab Musa hingga kitab-kitab para nabi). Karena itu dalam Ekaristi kita ada Liturgi Sabda, sebelum Liturgi Ekaristi. Maka liturgi Sabda dalam Ekaristiti tidak bisa diabaikan, atau pura-pura datang terlambat sehingga melewati bagian Sabda dalam perayaan Ekaristi dengan alasan kotbah tidak menarik, atau alasan lainnya.
Kedua, Ekaristi adalah puncak, pusat, dan sumber hidup dua murid tersebut. Sebagai puncak, karena sebelumnya mereka mendengarkan Sabda. Sebagai pusat karena sebelumnya mereka dalam berziarah menuju Emaus. Dalam ziarah perjalanan itu, mereka belum mengenal Yesus secara utuh. Mereka baru kenal Yesus melalui Sabda. Ternyata hanya Sabda saja dua murid itu tidak percaya akan Yesus. Di puncak itu yaitu Ekaristi menjadikan dua murid yakin dan percaya akan kehadiran Yesus. Sebagai pusat, Ekaristi membuat orang berubah motivasi, bahkan mengikut Yesus bukan untuk mencari makan, popularitas, kaya, kelancaran dalam bisnis, dll, tetapi menjadikan Yesus pusat seluruh hari-hari hidup seseorang sehingga hidupnya adalah hidup Yesus. Bukan memisahkan hidup: dari pagi-hingga sore hidup saya, nanti malam baru hidup untuk Yesus, atau sebaliknya. Atau dalam hidup, Yesus dianggap menjadi orang asing. Ingat, ketika kita menjadikan Yesus orang asing, Yesus akan mengecam kita sebagai ‘orang bodoh’.

6.    Ayat 32-35: setelah dua murid mengalami Yesus yang bangkit yang selalu menyertai mereka itu, dua murid pun berani mengambil keputusan untuk kembali ke Yerusalem. Kembali ke Yerusalem berarti: (1). kembali kedalam persekutuan dengan para rasul dan murid yang lain. (2). kembali ke Yerusalem berarti dua murid itu percaya akan kebenaran Firman Yesus, yaitu pada hari ketiga Yesus bangkit dari kematiannya, dan seluruh Kitab Musa dan para nabi. (3). Kembali ke Yerusalem berarti kembali untuk memulai mewartaan Yesus sampai ke ujung bumi.
Ketika dua murid sampai di Yerusalem, para rasul dan murid yang lain menceriterakan kepada dua murid bahwa Yesus telah bangkit. Dua murid itu pun, menceriterakan juga bahwa Yesus juga menampakan diri-Nya kepada mereka. Disini mereka saling berbagi atas pengalaman kebangkitan Yesus yang mereka alami. Pusat saling berbagi mereka ialah Sabda dan Ekaristi, bukan mereka berbagi soal kegalauan hidup, pribadi-pribadi orang tertentu, keburukan atau kejelekan orang lain, atau lebih para gosip-gosip tentang orang lain atau keburukan para pemimpin kita.
Disinilah, makna Sharing Injil: saling berbagi tentang pengalaman kebangkitan Yesus yang dialami oleh setiap orang yang percaya kepada Yesus yang bangkit.

C.  Belajar Spiritualitas dari Dua Murid ke Emaus
Di bawah ini saya membuat enam fase untuk membantu kita memahami perjalanan dua murid ke Emaus. Didalam bagian-bagian itu, kita patut belajar semangat dari dua murid sehingga kita semakin dikuatkan untuk hidup dalam persekutuan sebagai Gereja Kristus.
Pembagian fase pemahaman ini, berdasarkan pemahaman pribadi tentang ceritera Injil Lukas ini. Jadi pembagian fase pemahaman ini, bisa didiskusikan lagi. Namun, pembagian fase ini hanya sekedar mau membantu kita belajar menemukan dan menimbah spiritualitas hidup dari dua murid ini.
Pembagian fase pemahaman ini terdiri dari enam fase. Fase pertama ‘kehangatan pertama bersama Yesus’, fase kedua ‘kebingungan dalam bersama Yesus’, fase ketiga ‘Idealisme mengenal Yesus’, fase keempat ‘kehangatan kedua bersama Yesus’, fase kelima ‘kerendahan hati mengenal Yesus’, dan fase keenam ‘keputusan untuk kembali ke ‘Yerusalem’.
Pendalaman setiap fase ini akan dilalui sebagai berikut:

1.  Kehangatan Pertama bersama Yesus
Mari, kita membuka Kitab Suci, kita membuka Injil Lukas 24: 13-14.
Salah seorang dari kita membacakan ayat dari teks ini dengan suara lantang dan keras. Kita yang lain ikut membacanya dengan diam dalam hati.
Kita sudah membaca teks Lukas tadi, sekarang coba kita perhatikan secara saksama gambar berikut ini.
·    Apa yang terjadi dalam gambar ini?
·    Gambar siapa di sudut kiri atas itu? Lalu apa maksud gambar itu?
·    Apa isi dari percakapan dua murid ini?

Baca secara bergilir berikut ini:
§  Setelah Yesus wafat, para rasul dan murid Yesus kembali ke Yerusalem.
§  Mereka tinggal di Yerusalem. Mereka takut, cemas, kuatir, putus asa, putus harapan, dan bingung. Karena sang guru sudah tidak ada lagi. Harapan dan gantungan hidup mereka telah mati sebagai penjahat.
§  Dua murid dalam ketakutan, kecemasan, dan kekuatiran itu ‘lari’ dari Yerusalem ke Emaus. Mereka mengenal Yesus namun mereka tidak percaya Yesus telah bangkit.
§  Emaus artinya ‘sumber air panas’ atau ‘kolam air panas’. Ini menggambarkan suatu suasana yang panas, tidak nyaman, tidak bersahabat.

Pertanyaan:
  • Mengapa ke dua murid ini nekad ‘lari’ ke Emaus, padahal suasana saat itu mencekamkan?
  • Apakah kita juga lari ke Emaus ketika kita menemukan suatu suasana dalam komunitas (KBG, Pengurus KBG, Pengurus PIPA Paroki dan Pengurus DPP) kita yang kurang mendukung kehadiran kita?
 Tambahan:
§  Mengambil keputusan untuk pergi ke Emaus adalah sebuah keputusan manusiawi sekali. Bisa saja dengan mengambil keputusan itu, mereka sendiri merasa aman dari situasi yang sedang terjadi di Yerusalem.
§  Namun, hebatnya bahwa dalam perjalanan itu dua murid masih mau bertukar pikiran tentang Yesus dan peristiwa yang sedang terjadi pada diri Yesus. Itu artinya mereka tidak percaya pada kebangkitan Yesus, tapi dua murid itu masih mau berbicara tentang Yesus.
§  Belajar dari dua murid ke Emaus ini, harusnya para pengurus KBG, PIPA Paroki, Pengurus DPP pun perlu duduk bersama untuk membicarakan bagaimana Yesus diwartakan dalam konteks KBG dan Paroki, sehingga Yesus menjadi sebuah refleksi hidup yang membawa pertobatan hidup sehingga hidup lebih diperbaharui lagi.
  
2.    Kebingungan dalam bersama Yesus
Mari, kita membuka Kitab Suci, kita membuka Injil Lukas 24: 15-24.
Salah seorang dari kita membacakan ayat dari teks ini dengan suara lantang dan keras. Kita yang lain ikut membacanya dengan diam dalam hati.
Kita baca sekali lagi teks yang sama, dengan orang yang berbeda. Mohon supaya membacanya dengan suara yang lantang dan jelas.
Kita sudah membaca teks Lukas tadi, sekarang coba kita perhatikan secara saksama gambar berikut ini.



§ Apa yang sedang terjadi didalam gambar ini?
§ Apakah dua murid mengenal seseorang yang datang kepada mereka itu Yesus?
§ Apa respons dua murid ketika ada seseorang (dibaca: Yesus) itu datang kepada mereka?
§ Mengapa dua murid itu tidak mengenal bahwa itu Yesus?
§ Apa saja yang diceriterakan dua murid kepada seorang (dibaca: Yesus) yang datang kepada mereka?

Peserta baca secara bergilir berikut ini:
§  Dua murid dalam perjalanan itu bertukar pikiran soal keadaan yang mereka alami di Yerusalem.
§  Yesus datang kepada mereka. Tapi, mereka belum sadar saat itu, bahwa itu Yesus.
§  Mereka mengira yang datang itu seorang pengganggu percakapan mereka, tidak pernah tahu apa yang sedang terjadi dengan Yesus.
§  Mereka adalah murid Yesus tapi belum percaya-yakin akan adanya kebangkitan Yesus.
§  Mereka mengira bahwa motivasi mereka mengikuti Yesus, dijawab sepenuhnya oleh Yesus.

Pertanyaan:
§  Apa motivasi kita menjadi murid Yesus? Apakah motivasi kita menjadi murid Yesus sungguh-sungguh dijawab sepenuhnya oleh Yesus selama ini?
§  Apa yang menjadi penghalang bagi kita untuk mengenal Yesus dalam perjalanan hidup kita, baik sebagai anggota KBG, anggota Gereja maupun menjadi pengurus KBG, PIPA Paroki dan DPP?
§  Apakah dalam kebingungan kepercayaan kebangkitan Yesus, kita masih membutuhkan orang lain? Atau mengambil keputusan untuk ‘lari’ dari persekutuan kita seperti kedua murid tadi?

Tambahan:
§  Walau motivasi dua murid tidak dijawab sepenuhnya oleh Yesus, tapi dua murid ini selalu berusaha untuk memahami Yesus dengan bertukar pikiran.
§  Kehadiran Yesus dalam perjalanan dua murid, menandakan bahwa Yesus selalu menyertai umat-Nya, walau tidak mereka sadar.
§  Kehadiran Yesus dalam rupa berbeda. Itulah Yesus yang bangkit. Yesus dapat hadir dalam diri setiap orang yang percaya kepada-Nya.
§  Kehadiran-Nya menuntut keterbukaan hati kita, supaya lebih dekat memahami Dia. Dengan memahami-Nya, motivasi kita pun berubah mengikuti motivasi Yesus. Bukan menuntut kepada Yesus mengikuti motivasi kita.

3.  Idealisme Mengenal Yesus
Coba kita perhatikan secara saksama gambar berikut ini.
Sambil kita perhatikan gambar ini, kita minta salah seorang dari kita membaca teks Injil Lukas 24: 25-28 dengan suara yang keras dan jelas.
§  Apa yang terjadi didalam gambar ini?
§  Apa respons dua murid dalam perjalanan itu?
§  Mengapa dua murid dalam perjalanan itu memberi posisi orang asing ditengah-tengah mereka?
§  Apa yang sedang dilakukan orang asing dalam gambar ini?


Peserta baca secara bergilir berikut ini:
§  Dua Murid mengenal Yesus, tetapi bisa saja mereka mengenal dan ikut Yesus dengan motivasi lain: motivasi pribadi belum tertranformasi dengan motivasi Yesus sendiri.
§  Sehingga semangat dua murid ini jauh berbeda dengan semangat para rasul dan murid yang lain yang tetap tinggal di Yerusalem.
§  Walau semangat mengenal Yesus secara idealis tapi ternyata dua murid ini ‘masih membuka hati’ untuk menerima orang lain (dibaca: Yesus).
§  Yesus hadir di tengah perjalanan mereka dan meluruskan motivasi mereka.

Pertanyaan:
§  Apa peran ‘orang lain’ (dibaca: Yesus) bagi mereka?
§  Bagaimana dengan disposisi batin-ekspresi diri dua murid ketika menerima menjelasan ‘orang lain’?
§  Dalam penghayatan iman yang idealis, apakah kita pun mau menerima orang lain untuk berbagi dengan kita?
§  Sebagai pengurus KBG, PIPA Paroki, dan anggota DPP, kita membutuhkan orang lain. Apa saja yang perlu kita lakukan supaya kita tetap dalam satu persekutuan?

Tambahan:
§  Dalam satu persekutuan baik sebagai pengurus KBG, pengurus PIPA Paroki, dan anggota DPP, perjumpaan kita untuk saling berbagi adalah salah satu unsur yang mendasar dalam sebuah persekutuan.
§  Dalam saling berbagi, kita menjadikan Yesus (Kitab Suci) sebagai pusat di tengah-tengah persekutuan kita. Dari Yesus kita menimbah rahmat. Dari Yesus kita belajar memahami motivasi-Nya dan karena itu motivasi kita pun berubah mengikuti motivasi Yesus.
§  Maka Sharing Injil Tujuh Langkah adalah cara yang tepat, kita belajar spiritualitas Yesus, untuk berbagi kepada sesama kita.
§  Menjadi pengurus KBG, anggota PIPA Paroki dan anggota DPP, tugas ini adalah tugas pelayanan. Maka tugas melayani mengalir dari motivasi Yesus, bukan motivasi diri sendiri.

4.  Kehangatan Kedua Bersama Yesus (ayat 29)
Coba perhatikan gambar berikut ini secara teliti.
 Sementara kita perhatikan bersama gambar ini, kita minta salah seorang dari kita membaca teks Injil Lukas 24: 29 dengan suara yang lantang dan jelas.


§  Apa yang terjadi dalam gambar ini?
§  Apa yang dilakukan dua murid kepada ‘orang asing’ (dibaca: Yesus)?
§  Mengapa mereka mau mengundang orang asing (dibaca: Yesus) dengan begitu mendesak?
§  Pernahkah kita mengundang orang asing untuk singgah atau tinggal di rumah kita? Jika ada coba sharingkan secara singkat pengalaman ini!

Peserta membaca secara bergilir berikut ini:
§  Kehadiran Yesus dalam perjalanan dua murid, memberi angin segar bagi hidup mereka. Mereka mengundang ‘orang lain’ (dibaca: Yesus) untuk tinggal bersama mereka.
§  Saking merasa ‘bahagia’ (karena orang asing itu mampu menjelaskan Kitab Suci), mereka mengundang ‘orang lain” (dibaca: Yesus) untuk tinggal bersama dengan mereka.
§  Orang lain (dibaca: Yesus) telah meluluhkan hati dan seluruh diri mereka. Motivasi mereka awal mulai berubah. Mengenal Yesus yang idealis ‘runtuh’.

Pertanyaan:
§  Dua Murid ke Emaus, ternyata menemukan jati diri mereka bahwa ‘ke Emaus’ dapat berjumpa dengan ‘orang lain’ (dibaca: Yesus) yang mampu menjawabi idealis mereka. Dalam kebingungan memahami Yesus yang bangkit, kegalauan bekerja untuk Gereja, dll, apakah masih ada ruang hati kita membutuhkan orang lain? Walau orang lain itu tidak pandai, sederhana, tidak kaya ilmu, dll.
§  Kerindauan dua murid ke Emaus terhadap Yesus, adalah kerinduan kita juga. Beranikah kita mau mengungkapkan kerinduan kita dengan mengundang Yesus untuk singgah dan berkarya di hati dan di rumah, serta didalam komunitas kita, bahkan seluruh hidup kita?

Tambahan:
§  Inisiatip kehadiran Yesus dalam dua murid di perjalanan itu, datang dari Yesus. Kehadiran-Nya tidak dikenal dua murid itu. Bagaimana kalau dua murid itu tidak mengundang orang asing itu untuk tinggal bersama mereka? Jelas orang asing tetap orang asing. Dua murid itu tetap kebingungan dan tetap tinggal mengenal dan tidak percaya Yesus yang bangkit.
§  Walau kehadiran Yesus di tengah dua murid dan di tengah kita adalah inisiatip-Nya, tanpa kita mengundang-Nya, Yesus tetap menjadi orang asing. Bisa saja Dia menjadi penonton dan penilai hidup kita.
§  Kehadiran Yesus yang sudah bangkit, perlu kita undang. Ini sangat urgen sekali. Dengan kita mengundang Dia, Dia menjadi pusat hidup kita. Dia akan selalu menyertai kita, mengajar kita, membimbing kita, dan menuntun kita kepada kebenaran dan kebaikan.
§  Mengundang Yesus yang bangkit, tidak hanya pada malam hari. Justru mengundang Yesus sepanjang hidup kita.
  
5.  Kerendahan hati untuk Mengenal Yesus
Coba perhatikan gambar berikut ini secara teliti.
Sementara kita perhatikan bersama gambar ini, kita minta salah seorang dari kita membaca teks Injil Lukas 24: 30-31 dengan suara yang lantang dan jelas.
  



§  Apa yang terjadi didalam gambar ini?
§  Apa yang dilakukan Yesus dalam gambar ini?
§  Apa respons dua murid dalam gambar ini?

Peserta baca secara bergilir berikut ini:
§  Dua murid di Emaus, baru mengenal bahwa ‘orang lain’ (dibaca: Yesus) yang ada dalam perjalanan mereka adalah Yesus ketika makan bersama. Yesus mengambil roti dan mengucapkan berkat.
§  Perjamuan Kudus adalah perayaan misteri Allah dalam diri Yesus. Melalui Yesus, Allah membuka hati dan seluruh diri kedua murid itu untuk mengenal kehadiran Tuhan Yesus.
§  Didalam Ekaristi inilah ‘persekutuan’ hidup antara Allah dengan manusia terlaksana. Disinilah, Yesus menjadi pusat hidup kedua murid ke Emaus.

Pertanyaan:
§  Walau dua murid itu kurang paham dan tidak percaya, mereka masih mau bercakap-cakap soal Yesus. Itu artinya Yesus masih tetap menarik bagi mereka. Di zaman ini, sebagai orang dibaptis, masihkah kita mempunyai waktu untuk berbicara soal Yesus?
§  Dua murid hanya mengenal Yesus secara ilmu pengetahuan dan tidak mengubah motivasi mereka sendiri. Mereka masih terkungkung dalam motivasi awal mengikuti Yesus, sebagai Yesus Mesias dan Yesus sebagai ‘knowledge oriented of life’ atau information oriented, dan bukan Yesus sebagai ‘focus oriented of life’. Adakah diantara kita yang memiliki pengalaman hidup yang demikian? Coba disharingkan pengalaman hidup itu!
§  Apa yang patut kita lakukan agar Yesus menjadi puncak, pusat, dan sumber hidup kita?

Tambahan:
§  Belajar dari perjalanan dua murid ke Emaus, kita menemukan dua bagian besar yang menjadi pokok penting dalam perayaan Ekaristi kita. Bagian Liturgi Sabda: dimana Yesus berbicara langsung kepada dua murid. Bagian Liturgi Ekaristi: dimana Yesus membagikan diri-Nya, dua murid pun terbuka mata hati mereka untuk mengenal lebih dekat Yesus yang bangkit.
§  Di dalam ‘makan bersama’ itu dua murid menemukan isi terdalam dari kebangkitan Yesus. Bahwa Yesus yang bangkit senantiasa menyertai para pengikut-Nya, kapan dan dimana saja.
§  Yesus yang bangkit tidak hanya dibicarakan, didiskusikan panjang lebar. Tetapi disadari selalu dengan mengundang Dia untuk menjadi puncak, pusat, dan sumber hidup kita.

6.  Keputusan untuk Kembali ke ‘Yerusalem’
Mari, kita membuka Kitab Suci, kita membuka Injil Lukas 24: 32-35.
Salah seorang dari kita membacakan ayat dari teks ini dengan suara lantang dan keras. Kita yang lain ikut membacanya dengan diam dalam hati.
Kita sudah membaca teks Lukas tadi, sekarang coba kita perhatikan secara saksama gambar berikut ini.

 §  Apa yang terjadi dalam gambar ini?
§  Coba bandingkan gambar bagian F ini dengan gambar pada bagian C dan E. Apa makna dari setiap gambar itu untuk kita?

Peserta baca secara bergilir berikut ini:
§  Ketika dua murid itu tahu bahwa ‘orang lain’ didalam perjalanan mereka ke Emaus adalah Yesus, mereka menyesal. Mereka menyesal karena mereka bilang Yesus sebagai orang asing, orang yang tidak tahu situasi hidup Yesus di Yerusalem pada akhir-akhir ini.
§  Dua murid ke Emaus mengambil suatu keputusan pasti untuk kembali ke Yerusalem. Kembali ke Yerusalem berarti mereka kembali ke dalam ‘persekutuan’ bersama para rasul dan murid yang lain. Kembali ke Yerusalem berarti juga kembali kepada paham Firman Yesus yang benar.
§  Dan kembali ke Yerusalem berarti kembali menjadikan Yesus yang bangkit sebagai puncak, pusat, dan sumber seluruh hidup mereka.

Pertanyaan:
§  Kedua murid ke Emaus mengambil suatu keputusan yang hebat, yaitu kembali ke Yerusalem. Apa yang terjadi jika mereka mengambil keputusan untuk tetap tinggal di Emaus walaupun Yesus yang bangkit sudah mereka tahu dan mengalami kebersamaan dengan Yesus?
§  Dalam situasi kebingungan dan kegaluan kita sebagai pengurus KBG, pengurus PIPA Paroki, dan anggota DPP, keputusan bijaksana apa, yang mesti kita ambil supaya persekutuan kita tetap terjaga dengan baik?

Tambahan:
§  Setelah Ekaristi diadakan dua murid itu sadar bahwa orang asing yang jalan bersama mereka adalah Yesus yang bangkit. Mungkin saja dua murid ini merasa malu, ketika dikecam Yesus sebagai orang bodoh.
§  Sabda dan Ekaristi, dua bagian hakiki yang tak bisa diubah dan tak bisa dipisahkan. Dua bagian, dimana yang satu kita mendengarkan pengajaran Yesus dan bagian lain kita bersama Yesus mengalami persekutuan cinta Bapa yang tak pernah selesai.
§  Kembali ke Yerusalem berarti kembali ke dalam persekutuan dengan para rasul dan para murid yang lain. Juga kembali kepada pemaham Sabda Yesus yang benar dan percaya akan Kitab Suci.
§  Kembali ke Yerusalem juga berarti kembali menjadikan Yesus sebagai puncak, pusat, dan sumber seluruh hidup kita.

D. Penegasan:
Dari enam tahapan yang kita lalui, kita boleh memahami apa sebenarnya yang perlu kita ambil nikmahnya. Ada lima pesan yang patut kita belajar dari dua Murid ke Emaus.

1.  Persekutuan Hidup (communio)
§  Persekutuan adalah salah satu dasar dalam hidup Gereja, selain focus oriented dan mision oriented. Para rasul dan murid yang lain memilih tetap di Yerusalem adalah keputusan untuk tetap tinggal dalam persekutuan.
§  Dua murid ke Emaus dilihat sebagai ‘lari’ dari persekutuan seperti dijanjikan Yesus. Karena itu, Yesus hadir dan menegur kebodohan mereka yang lari dari tanggungjawab.
§  Kedua murid ke Emaus dilihat sebagai ‘lari’ dari kebenaran-tidak percaya akan apa diajarkan oleh para nabi bahwa yesus harus menderita, wafat, dan bangkit pada hari ketiga.

2.  Yesus adalah Firman Kebenaran
§  Kedua murid ke Emaus tidak atau kurang percaya akan Sabda Yesus selama Yesus hidup bersama dengan mereka.
§  Mereka pikir Yesus yang mereka ikut itu sebagai pembebas mereka dari penjajahan Romawi, kenyataan Yesus ditangkap dan dihukum mati sebagai penjahat.
§  Motivasi awal mengikuti Yesus ternyata mempengaruhi keyakinan / kepercayaan mereka kepada Yesus ketika mengambil keputusan dalam tindakan hidup meninggalkan Yerusalem.

3.  Yesus selalu ada dan hadir setiap saat
§  Tindakan meninggalkan Yerusalem dan pergi ke Emaus, jauh dari persekutuan dengan ‘sesamanya’ ternyata juga Yesus menyertai mereka.
§  Kehadiran Yesus dalam perjalanan mereka justru mengecam keputusan mereka: ‘Wahai orang bodoh’!
§   Yesus selalu ada hadir dalam perjalanan hidup orang beriman, asalkan selalu disadari.

4.  Kita harus selalu mengundang Yesus
§  Kehadiran Yesus yang bangkit perlu selalu kita undang. Undang hadir untuk selalu menyertai adalah kesadaran yang harus dibangun terus menerus selama kita masih hidup. Undang Yesus hadir sepanjang hidup bukan hanya diwaktu malam.
§  Dua Murid ke Emaus berani mengundang Yesus untuk tinggal bersama mereka justru mendapat berkat Yesus, sehingga mata mereka terbuka. Dua murid itu pun berkobar-kobar berbicara soal kebenaran kebangkitan Yesus.
§  Kita mengundang Yesus sepanjang saat untuk menyertai perjalanan hidup kita: memberkati apa yang benar kita lakukan, pelayanan kita, keluarga kita, dll.

5.  Yesus mengubah cara beriman yang kita miliki
§  Kedua murid ke Emaus karena mereka mengikuti Yesus: untuk hanya mengalami mujizat Yesus, makan bersama, berjalan bersama, melihat penyembuhan dan kebangkitan orang mati, dll. Tetapi, mereka tidak percaya akan Sabda Yesus: pada hari ketiga akan bangkit kembali.
§  Kebangkitan Yesus di perjalanan hidup dua murid ke Emaus, mengubah cara beriman mereka: dari information oriented dan ‘knowledge oriented’ menjadi ‘focus orientied’ dan basic oriented’.
§  Yesus pun mengubah cara beriman kita, kalau kita pun belajar dari dua murid ke Emaus ini. Kita selalu mengundang Yesus, kita selalu hidup dalam persekutuan, dan kita percaya akan Yesus yang sudah bangkit.

Bahan ini merupakan sessi pertama. Sessi kedua berbicara tentang peran, fungsi, dan tanggungjawab pengurus KBG termasuk seksi-seksinya berdasarkan Norma-norma Komplementer Gereja Partisipatif (NKGP) Keuskupan Pangkalpinang. Sedangkan disessi ketiga, secara khusus memberikan pemahaman kepada para pengurus KBG dan wilayah yang akan menjadi anggota Dewan Konsultatif Pastoral Paroki tentang makna 'konsultatif' dalam organ dan struktur Dewan Konsultatif Pastoral Paroki dalam wilayah Gereja Keuskupan Pangkalpinang. ***