Selasa, 20 Februari 2018

MODUL 3 AKSI PUASA PEMBANGUNAN (APP) 2018 KEUSKUPAN PANGKALPINANG


Pertemuan Ketiga:
KEGAGALAN KBG MEMELIHARA
KEUTUHAN CIPTAAN

Persiapan:
§  Fasilitator perlu sediakan waktu untuk menganimasi modul pertemuan ini.
§  Bawa Kitab Suci dan Puji Syukur

Tujuan:
§  Anggota KBG menyadari diri sebagai pelaku perusakan keutuhan ciptaan Alah.
§  Anggota KBG memahami bahwa kegagalan KBG memelihara keutuhan ciptaan  adalah karena keserakahan dan ketamakan kita dalam mengeksploitasi alam tanpa bertanggung jawab.

PENGANTAR
F     Bapak-ibu, saudara-saudari sekalian yang terkasih!
Kita telah memasuki masa prapaskah yang ketiga.Subtema yang akan kita dalami,  tentang “Kegagalan Komunitas (KBG) Memelihara Keutuhan Ciptaan”. Subtema ini diangkat setelah kita disadarkan pentingnya membangun solidaritas sosial demi menjaga keutuhan ciptaan. Kenyataan bahwa kita manusia merupakan satu kesatuan dengan alam telah dinodai dengan kerusakan alam yang semakin parah. Apa yang menyebabkan kita gagal memelihara keutuhan Ciptaan?
Yesus dalam Yohanes 2: 13-35, menuntun kita untuk paham apa yang harus kita lakukan dalam menyikapi kebutuhan jasmani dengan penuh tanggung jawab.
Mari kita siapkan hati untuk buka pertemuan ketiga kita ini, dengan menyanyikan Lagu dari Puji Syukur No. ......

PENGHORMATAN KEPADA SABDA
(di rumah, tempat pertemuan doa, tuan rumah telah menyiapkan pentakhtaan Kitab Suci).

F       Mari kita bangkit berdiri, dalam Nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus. Kita memberikan penghormatan kepada Kristus, Sang Sabda, yang hadir di tengah-tengah kita, lewat Firman-Nya yang akan kita dalami bersama nanti.
(semua anggota KBG memberikan hormat dengan membungkukkan badan ke arah Kitab Suci yang ditakhtakan!).

LANGKAH-LANGKAH SHARING KITAB SUCI

1.       DOA MENGUNDANG TUHAN
F     Saya persilahkan salah seorang dari kita untuk mem-buka pertemuan ini dengan doa mengundang ke-hadiran Tuhan!

2.              2. CODE
F       Mari kita dengarkan sebuah puisi dari Khalil Gibran yang mengisahkan tentang “Rintihan Alam Semesta”.

“Rintihan Alam Semesta”
Aku mendengar anak sungai merintih
bagai seorang janda yang menangis
meratapi kematian anaknya 
dan aku kemudian bertanya,
"Mengapa engkau menangis, sungaiku  yang jernih?'
Dan sungai itu menjawab,

'Sebab aku dipaksa mengalir kekota
tempat manusia merendahkan dan
mensia-siakan diriku dan menjadikanku minuman-minuman keras dan mereka memperalatkanku bagai pembersih sampah, meracuni kemurnianku
dan mengubah sifat-sifatku yang baik
menjadi sifat-sifat buruk."....

Dan aku mendengar burung-burung menangis,
dan aku bertanya, "Mengapa engkau menangis,
burung-burungku yang cantik?"

Dan salah satu dari burung itu terbang mendekatiku, dan hinggap dihujung sebuah cabang pohon dan berkata....

Anak-anak Adam akan segera datang
di ladang ini dengan membawa senjata-senjata pembunuh dan menyerang kami seolah-olah kami adalah musuhnya.

Kami sekarang terpisah di antara satu
sama yang lain, sebab kami tidak tahu siapa di antara kami yang bisa selamat dari kejahatan manusia.
Ajal memburu kami kemana pun kami pergi."
Kini, matahai terbit dari balik puncak pergunungan, dan menyinari puncak-puncak pepohonan dengan rona mahkota.

Kupandangi keindahan ini dan aku bertanya kepada diriku sendiri, 'Mengapa manusia mesti menghancurkan segala karya yang telah diciptakan oleh alam!!!!'

Pertanyaan pendalaman code:
a.    Apa yang dikisahkan puisi di atas?
b.    Mengapa manusia menghancurkan segala karya yang telah diciptakan oleh alam?
c.     Bagaimana respon alam terhadap perilaku perusakan oleh manusia?
d.    Apakah perilaku manusia terhadap alam di dalam puisi tersebut, juga kita lakukan terhadap alam? Berikan contohnya?

TAMBAHAN:
a.         Puisi diatas menceritakan keindahan alam yang hancur akibat ulah manusia yang tidak bertanggung jawab. Air sungai yang bersih tercemar. Kemurnian air dimanfaatkan manusia untuk memperkaya diri. Kerakusan manusia merusak ekosistem alam juga menyebabkan kepunahan satwa. Semestinya alam adalah bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Kenyataan yang terjadi manusia justru menjadi pemangsa rakus bagi ciptaan Allah lainya.
b.        Kerusakan alam terjadi karena manusia menempatkan diri sebagai subyek atas ciptaan. Atas nama pembangunan, manusia menjadikan alam sebagai obyek untuk mencapai tujuan ekonomis manusia. Pemanfaatan sumber daya alam dengan tidak memperhatikan kelestariannya  dan bahkan cenderung memanfaatkan sebanyak-banyaknya, manusia menjadi perusak alam. Budaya konsumtif memperparah kerakusan manusia dalam mengekspoitasi alam. Dengan tidak lagi memandang alam  sebagai subyek, namun sebagai obyek pemenuhan kebutuhan manusia yang tanpa batas, inilah kegagalan manusia dalam memelihara keutuhan ciptaan.
c.         Alam sebagai lingkungan hidup mendukung kehidupan manusia dengan menyediakan air bersih, udara segar, tumbuhan hijau, dll, fungsi ini hilang ketika alam sudah tercemar atau sudah dirusak oleh manusia.Perubahan respon alam setara dengan perilaku buruk manusia.
d.        Tidak bisa dipungkiri, kita ikut ambil bagian dalam merusak alam semesta. Beberapa bentuk kegagalan kita dalam memelihara keutuhan alam ciptaan: terjadinya pencemaran seperti pencemaran udara, air, tanah, dan  suara. Adanya kawasan industri memunculkan limbah industri, adanya penambangan liar menghilangkan lahan pertanian, hutan lindung, seperti tambang timah di Kep. Babel dan tambang pasir dan bauksit di Kep. Riau. Konsekuensi lanjut dari ekspoitasi alam berdampak buruk pada banjir, tanah longsor, ekosistem tepi sungai, sungai, dan laut menjadi rusak.

3.       KITA MEMBACA KITAB SUCI
F     Mari kita membuka Kitab Suci Perjanjian Baru (2x)
Kita membuka Injil Yohanes 2 : 13-25.
Kita mencari Injil Yohanes bab 2
Kita mencari Injil Yohanes bab 2 ayat 13-25.
(diulangi sampai semua peserta mendapatkan teks Yohanes ).
Saya persilahkan salah seorang dari kita membacakan teks tadi, dengan suara lantang, dan tidak tergesa-gesa.
Adakah di antara kita yang membawa Kitab Suci dari versi lain, (misalnya Alkitab Kabar Baik Dalam Bahasa Indonesia sehari-hari)?

Jikalau ada, saya persilahkan untuk membacakan teks Yohanes 2: 13-25 tersebut dari versi yang ada dalam Alkitab-nya, dengan suara lantang dan tidak tergesa-gesa!

Pertanyaan Pendalaman
a.    Apa yang dilakukan Yesus di Bait Allah?
b.    Mengapa Yesus marah?
c.     Pesan apakah yang bisa kita petik dari teks tersebut?
d.    Apakah kaitan pesan teks ini dengan sikap kita terhadap alam semesta?

PENEGASAN
a.    Orang-orang Yahudi datang dari segala penjuru ke Bait Allah untuk merayakan paskah. Yesus melakukan hal yang sama. Melihat banyak penjual berdagang di sekitar Bait Allah, Yesus marah. Ia membalikkan meja-meja dan uang yang diatasnya diserakkannya. Ia juga membuat cambuk dari tali dan mengusir semua binatang. Ia memerintahkan orang-orang yang menjual burung merpati: ‘Bawa semua itu ke luar! Jangan lagi membuat rumah Bapaku tempat berjualan.
b.    Rumah Allah dijadikan rumah bisnis atau pasar oleh para pedagang dan penukar uang. Pengalihfungsian rumah Allah ini menyebabkan Yesus marah. Disisi lain, ‘Rumah Bersama’ atau bumi yang kita diami selama ini pun rusak karena salah pemanfaatan. Hal ini disebabkan oleh perilaku tamak dan sikap rakus  manusia. Paus Fransiskus menegaskan bahwa efek paling parahdari semua perusakan lingkungan diderita oleh kaummiskin” (LSart. 48).
c.     Kegagalan manusia dalam memelihara keutuhan ciptaan dewasa ini, semakin meluas karena manusia menggunakan alat-alat teknologi dalam mengeksploitasi alam (Redemptor Hominis art.15). ‘Makhluk-makhluk hidup lainnya memiliki nilai intrinsik di hadapan Allah, dan dengan keberadaannya pun mereka sudah memuji dan memuliakan-Nya’. (LS, art. 69), namun eksploitasi alam oleh manusia yang berlebihan itu, menyebabkan fungsi intriksik alam menjadi sirna. Disisi lain, dalam teks Kitab Suci tadi kita pahami bahwa terjadi eksploitasi fungsi Bait Allah, dari tempat doa menjadi pasar, yang menyebabkan hilangnya fungsi intrinsik dari makhluk ciptaan untuk memuji dan memuliakan Allah.Karen itulah manusia dipanggil bukan hanya untuk memulihkan kembali fungsi alam  tetapi juga fungsi rumah ibadat.
d.    Manusia memang diberi kuasa untuk mengatur (memelihara, merawat dan mengolah) alam ciptaan (Kej. 1: 28), dengan memperhatikan kemauan sang pemilik, yaitu Allah. Namun, manusia bukan sang penguasa tunggal Alam Ciptaan. Allah-lah sang pemilik. Allah menolak setiap klaim kepemilikan mutlak: “Tanah jangan dijual mutlak, karena Akulah pemilik tanah itu, sedang kamu adalah orang asing dan pendatang bagi-Ku” (Imamat 25:23). (LS art. 67).

4.       KITA MELAKUKAN AKSI NYATA
F     Bapak-ibu, saudara-saudari yang terkasih!
Mari, kita rembug beberapa aksi nyata berikut ini yang berhubungan erat dengan aksi nyata dalam pertemuan prapaskah ke-3 ini.

Sering kali, kita gagal dalam menjaga keutuhan alam ciptaan seperti merusak alam, eksploitasi alam dan tempat doa, dll.
a.    Apa yang semestinya kita (keluarga dan KBG) lakukan untuk menghentikan perlakuan kita yang merusak alam semesta, eksploitasi alam,  tempat doa, dll.
b.    Apa yang semestinya Paroki lakukan untuk menghentikan perlakuan kita yang merusak alam semesta, eksploitasi alam,  tempat doa, dll.
c.     Buatlah pedoman ekologi dalam keluarga dan KBG untuk mengurangi keterlibatan kita merusak lingkungan!

5.       DOA SPONTAN
F     Bapak-ibu, saudara-saudari yang terkasih. Mari kita ungkapkan doa-doa spontan kita yang keluar dari hati kita, berupa: doa permohonan, syukur, dan pujian.

Mari, kita satukan semua doa dengan berdoa bersama dari Teks DOA MOHON PENYERTAAN ALLAH BAGI UMAT KEUSKUPAN PANGKALPINANG DALAM MEWUJUDKAN IDENTITAS KEUSKUPAN.

Dan kita tutup pertemuan kita dengan menyanyikan sebuah lagu!

=***=

MODUL 2 AKSI PUASA PEMBANGUNAN (APP) 2018 KEUSKUPAN PANGKALPINANG


Pertemuan Kedua
KBG SEBAGAI BAGIAN INTEGRAL
DARI ALAM CIPTAANIKUT BERTANGGUNGJAWAB MENJAGA DAN MEMELIHARANYA

Persiapan:
§  Fasilitator perlu sediakan waktu untuk menganimasi modul pertemuan ini.
§  Bawa Kitab Suci dan Puji Syukur

Tujuan: supaya anggota KBGmenyadari diri sebagai bagian integral dari Alam Ciptaan, dan bertanggung-jawab untuk menjaga serta memelihara keutuhannya.

PENGANTAR
F     Bapak-ibu, saudara-saudari yang terkasih dalam Kristus,
Selamat malam dan Shalom! Pada pertemuan doa kita malam ini, kita akan mendalami subtema kedua Masa Persiapan Paskah.Pada pertemuan pertama, kita telah mendalami tema tentang KBG Membangun Solidaritas demi Keutuhan Ciptaan, meneladani sikap solider yang mengalir dari misteri inkarnasi Yesus Kristus, Putera Allah yang menjadi manusia.
Pada pertemuan kedua ini, kita akan bergerak lebih jauh mengikuti gerak dan pelayanan Sang Sabda, yang menjadi manusia itu. Sebagaimana Putera Allah rela mengenakan kemanusiaan kita dan hidup sebagai salah seorang di antara kita, dan dalam kemanusiaan-Nya itu Diapun terhubung secara hakiki dengan alam ciptaan-Nya, demikianlah hubungan yang ada antara kita dengan alam ciptaan ini: kita bukanlah orang asing, atau alien (makhluk asing) tetapi kita adalah bagian dari alam ciptaan ini. Inilah subtema kedua untuk pertemuan doa kita, yang akan kita renungkan bersama pada malam ini:KBG Menyadari Diri Sebagai Bagian Dari Alam Ciptaan dan Ikut Bertanggung-jawab Untuk Menjaga dan Memeliharanya.
Mari, kita buka pertemuan kedua ini dengan sebuah lagu pembuka: PS. No. ...........
Penghormatan kepada Sabda Allah
(di rumah, tempat pertemuan doa, tuan rumah telah menyiapkan pentakhtaan Kitab Suci).

F     Mari, kita berdiri:Dalam nama Bapa, dan Putra, dan Roh Kudus... lalu dilanjutkan dengan mengajak anggota KBG untuk memberikan penghormatan kepada Kristus, Sang Sabda yang hadir di tengah-tengah kita.
       (semua anggota KBG memberikan hormat dengan menundukan kepala).

LANGKAH-LANGKAH SHARING INJIL:

1.       DOA MENGUNDANG TUHAN:
F     Saya persilahkan salah seorang dari kita mengundang Tuhan dalam doa pembuka. Sekali lagi, saya persilakan!

2.     CODE
F    Bapak-Ibu, saudara-saudariyang terkasih, mari kita dengarkan sebuah kisah berikut ini, sebagai CODE untuk mendalami subtema kedua pertemuan kita ini.

TAMU DARI JERMAN
Pastor Paul Klein SVD pernah bertugas sebagai Dosen Teologi Moral di Seminari Tinggi Santo Paulus, di Ledalero, Maumere, Flores.Pada setiap akhir Pekan, ia pergi melayani Umat di Stasi Sta. Maria Fatima, di Nara, bagian dari Paroki Hati Kudus, Ili, Keuskupan Maumere. Selain sebagai dosen, Pastor Paul juga menjadi Pastor untuk Stasi Santa Maria ini.
Suatu kali beliau dikunjungi oleh dua keponakannya, yang datang dari kampungnya di Freisen, Jerman. Kedua ponakan Pastor ini berprofesi sebagai perawat, dan mereka datang ke Flores masing-masing dengan mengajak pacarnya.
Untuk ponakan dan tamunya, Pastor Paul merancang wisata ke danau triwarna Kelimutu. Rombongan yang berangkat terdiri dari Pastor Paul, empat tamunya, seorang frater yang sedang study Teologi, dan seorang sopir dari LK3I Keuskupan Agung Ende di Maumere. Dari ketujuh anggota rombongan wisata ini, hanya sopir yang merokok yang lainnya tidak!
Di jalan menuju Kelimutu, terjadilah bahwa rokok sang sopir sudah habis. Bungkusnya diserahkan kepada frater, dan frater ini secara spontan mau membuang bungkus rokok itu keluar mobil. Namun ketika tindakan itu mau dilakukan, tangan frater itu ditangkap oleh salah seorangtamu dari Jerman, sambil memberi tanda larangan, “Tidak boleh membuang sampah sembarangan!”
Kejadian serupa terulang kembali, ketika rombongan selesai mengunjungi Kelimutu dan kembali ke Maumere. Dalam perjalanan pulang ini, kembali frater yang memegang bungkus rokok yang kosong, bersiap membuangnya keluar dari mobil. Dan sekali lagi, ada tangan yang kuat menangkap tangan frater tersebut, dan peringatan yang sama bergema kembali, “Tidak boleh membuang sampah sembarangan!”

Pertanyaan pendalaman:
a.    Apa yang terjadi dengan frater dan tamu dari Jerman yang menangkap tangan frater?
b.    Mengapa tamu Jerman tadi mau konsisten menangkap tangan frater?
c.     Apakah pengalaman dalam cerita tadi,  ada juga dengan situasi kita di jaman sekarang ini? (mohon satu atau dua orang dapat mensyeringkan pengalamannya).

TAMBAHAN:
·      Frater membuang bungkus rokok sebanyak dua kali. Dan sebanyak dua kali pula,  salah seorang tamu Jerman itu menangkap tangan sang frater. Secara tidak langsung, sang frater seakan terlepas dari lingkungan hidup, menjadikan alam itu penuh sampah, seakan alam itu ‘kotak sampah’ sedang tamu Jerman secara konsisten merasa bahwa lingkungan hidup dengan dirinya, terikat erat, alam dan dirinya adalah satu alam ciptaan.
·      Manusia adalah bagian dari Alam Ciptaan. Karena itu, menjaga dan merawat alam ciptaan sesungguhnya adalah juga menjaga dan merawat diri sendiri. Atau membiarkan alam ciptaan dipenuhi sampah, sama saja artinya dengan memperlakukan Alam Ciptaan itu sebagai sesuatu yang asing (bukan bagian dari diri sendiri). Ketika sampah itu menghasilkan limbah yang berbahaya, manusia jugalah yang ikut merasakan dan menanggung akibatnya.
·      Membuang sampah sembarangan, dalam arti tertentu menjadikan alam sebagai tempat sampah, mencemarkan situs rahmat, tempat perjumpaan manusia dengan Allah. Dan dengan demikian, hubungan antara manusia dengan alam ciptaan, tidak lagi berlangsung dalam kondisi saling mendukung kehidupan masing-masing…

3.   MEMBACA KITAB SUCI :
F    Mari kita membuka Kitab Suci Perjanjian Lama
Kita membuka dari teks Kitab Kejadian
Kita mencari bab1, ayat 1 sampai dengan ayat 31
Kita mencari Kitab Kejadian1:1 - 31.
(diulangi sampai semua peserta mendapatkan teks Kitab Kejadian1: 1-31.

Saya persilahkan seorang dari kita membacakan teks tadi, dengan suara yang lantang dan tidak tergesa-gesa.

Adakah di antara kita yang membawa Kitab Suci dari versi lain? Jikalau ada, saya persilahkan untuk membaca-kan teks yang sama dariKitab Kejadian 1: 1-31.

Pertanyaan pendalaman:
a.    Apa tujuan Allah menciptakan alam ciptaan dengan kondisi yang begitu baik dan teratur?
b.    Apa sumbangan alam ciptaan untuk kehidupan manusia?
c.     Mengapa manusia ditugaskan Allah untuk memelihara dan mengolah alam ciptaan?

PENEGASAN:
§  Kondisi Alam Ciptaan ini, sejak hari pertama diciptakan oleh Allah adalah baik dan teratur (Kej.1: 4), dan berkembang dengan tetap baik dan tetap teratur dari hari ke hari hingga menjadi “sungguh amat baik” pada hari terakhir karya penciptaan Allah (Kej. 1: 31).
§  Kondisi yang melekat pada Alam Ciptaan, yaitu sungguh amat baik, menuntun manusia untuk menjaga dan merawatnya. Karena hanya manusia-lah diberi sebagai ‘mahkota Allah’.Kondisi Alam Ciptaan yang sungguh amat baik, tidak memberi peluang kepada kita, apa yang sering diyakini orang sebagai hari baik dan atau hari buruk. Konsep ‘hari baik dan atau hari buruk’ justrumelawan tujuan penciptaan Allah.
§  Kesadaran bahwa Manusia dihidupi dan dipelihara oleh Alam Ciptaan (Kej.1:29), harus diimbangi dengan semangat bertanggung-jawab untuk menjaga dan memelihara Alam Ciptaan. Atau dengan kata lain, menolak untuk memelihara Alam Ciptaan akan berarti menolak untuk dipelihara atau dihidupi oleh Alam Ciptaan, dan hal itu akan sama saja dengan bunuh diri!
§  Kata “berkuasa”yang diberikan kepada manusia dalam Kitab Kejadian 1: 26 tadi, tidak boleh dilepaskan maknanya dari status yang diterimanya dari penciptaannya, yaitu sebagai “gambar dan rupa Allah.”
§  Kita tidak akan pernah bisa menjadi sepenuhnya gambar dan rupa Allah, kalau kita menolak Allah yang adalah Pencipta kita termasuk Alam. Namun, kepada kita Allah memberi kemampuan, untuk menghadirkan karakter atau sifat Allah, yakni ketika kita saling mengasihi, ketika kita bersikap sabar atau mengampuni seseorang, dan ketika kita bersikap baik dan setia, serta ketika kita bersahabat dengan alam.
§  Pada kita ada rupa dan gambar Allah, karena itu, kita wajib saling menjaga, saling menghargai dan saling menghormati, termasuk juga kepada Alam ciptaan-Nya. Dengan merendahkan Alam ciptaan atau mengeritik diri kita dalam konteks bahwa kita adalah gambar dan rupa Allah ini, akan berarti bahwa kita tidak menghargai aneka kemampuan yang diberikan Allah ke dalam diri kita.
§  Karena gambar dan rupa Allah ini juga diberikan kepada sesama kita, maka bukan hanya diri pribadi kita yang harus kita jaga dan kita hormati, tetapi juga terhadap sesama manusia, semua orang, harus kita berikan perlakuan yang sama! Karena kita semua mengambil-bagian dalam gambar dan rupa-Nya itu!
§  Tugas manusia terhadap Alam Ciptaan, yang sekalipun digambarkan dengan ungkapan “berkuasa” tersebut di atas, tidak dimaknai sebagai eksploitasi melainkan sebagai tugas untuk pemeliharaan dan perawatan terhadap Alam Ciptaan (Kej. 2: 15). KGK Nomor 378 menegaskan hal ini, “Bukti hubungan baik dengan Allah ialah bahwa Allah menempatkan manusia dalam ‘kebun’. Ia hidup di dalamnya, ‘untuk mengusahakan dan memelihara’ taman itu (Kej. 2: 15). Pekerjaan itu untuk pria dan wanita bukan kerja paksa, melainkan kerja-sama dengan Allah demi penyempurnaan ciptaan yang kelihatan.”

4.       AKSI NYATA:
a.    Keluarga: apa yang dilakukan keluarga untuk menunjukkan bahwa para anggotanya adalah bagian integral dari Alam Ciptaan: sikap terhadap lingkungan di sekitar rumah dan halaman?
b.    KBG: Apa yang dilakukan oleh KBG supaya menjadi bagian integral dari Alam Ciptaan?
c.    Paroki: Apa yang diusahakan oleh paroki agar lingkungan pastoran yang berwawasan ekologis atau lingkungan pastoran yang selaras dengan Alam Ciptaan?

5.       DOA SPONTAN
F     Bapak-ibu, saudara-saudari yang terkasih. Mari kita secara spontan menyampaikan doa-doa pujian, ucapan syukur ataupun permohonan sehubungan tugas & tanggung-jawab kita  terhadap Alam Ciptaan :

Kita mulai dengan Ujud-ujud pribadi (kalau ada!) :
a)       ...............................................................................................................................
b)       ..............................................................................................................................
c)        ..............................................................................................................................

Mari, kita satukan semua doa dengan berdoa bersama dari Teks DOA MOHON PENYERTAAN ALLAH BAGI UMAT KEUSKUPAN PANGKALPINANG DALAM MEWUJUDKAN IDENTITAS KEUSKUPAN.

Mari, kita tutup Doa kita untuk Pertemuan Kedua ini, dengan menyanyikan Lagu dari PS 706 atau 707 (Pilih salah satu!).

=***=