Jumat, 22 Mei 2026

MEMUNCULKAN KEPEMIMPINAN BARU DALAM KOMUNITAS BASIS GEREJAWI (KBG)

 

Anggota KBG memberikan penghormatan kepada Sang Sabda, Tuhan Yesus yang bangkit hadir ditengah-tengah mereka


PENGANTAR

(wajib dibaca fasilitator)

Tidak lama lagi kepengurusan Dewan Konsultatif Pastoral Paroki (DKPP) periode 2012-2015, selesai masa jabatannya. Karena itu, mau tidak mau kita memerlukan kepengurusan baru untuk periode 2015-2018.

Sesuai dengan organ dan struktur kepengurus DKPP dalam Norma-norma Komplementer Gereja Partisipatif (NKGP) Keuskupan Pangkalpinang, kepengurusan DKPP berasal dari kepengurusan KBG. Untuk itu, proses pemilihan dilakukan di KBG-KBG kita masing-masing.

Untuk dapat melakukan proses pemilihan kepengurusan KBG-KBG kita, modul penyadaran pemilihan ini akan membantu anggota KBG-KBG untuk melakukan proses pemilihan kepengurusan KBG. Modul ini terdiri dari empat kali pertemuan secara berturut-turut. Dalam pertemuan keempat, anggota KBG merencanakan proses pemilihan dan cara melakukan pemilihan yang tepat serta perlengkapan apa saja yang dibutuhkan dalam proses pemilihan tersebut. Bahkan lebih bagus lagi, KBG-KBG menentukan hari khusus untuk pertemuan pemilihan kepengurusan yang baru itu.

Tim AsIPA Paroki berharap, supaya setiap KBG melakukan pemilihan dengan berpegang teguh pada proses penyadaran dalam modul ini. Kami pun menyadari bahwa modul pertemuan ini belum sempurna benar, namun baiklah jika kita mengikuti proses ini dulu, kemudian ada kekurangan sana-sini boleh kita bawakan dalam evaluasi proses ini untuk proses pemilihan kepengurusan KBG-KBG yang akan datang. Selamat menjalankan!

Berikut ini modul Pertemuan kedua:

PERTEMUAN KEDUA: KEPEMIMPINAN DALAM KBG ‘BERGULIR’

Tujuan: anggota KBG menyadarkan dirinya sebagai Umat Allah dipanggil untuk menjadi pemimpin. 

A.        Pembuka

1.  Fasilitator memberikan salam dan mengajak anggota KBG untuk membuka pertemuan ini dengan sebuah lagu pembuka.

2.      Fasilitator meminta salah seorang diantara anggota KBG untuk berdoa mengundang Tuhan.

3.  Fasilitator mengundang anggota KBG untuk terlibat dalam pendalaman materi pertemuan.

B.         Pendalaman Materi

Code: mohon dibaca code berikut ini dengan sungguh-sungguh, bila perlu dibaca bersama sampai semua anggota KBG mengerti dengan lebih baik.

Santo Thomas Rasul, adalah nama sebuah KBG di Paroki St. Fransiskus Xaverius, di bagian selatan Jaftna, Sri Lanka. KBG ini anggotanya terdiri dari para nelayan, pedagang ikan dan sayur, dan petani sayur mayur. Pertemuan Sharing Injil dilaksanakan pada hari Selasa, jam 18.00. Setiap kali pertemuan di KBG, Sharing Injil menjadi agenda utama, termasuk pada bulan khusus Maria, bulan Mei dan Oktober. Sharing Injil menjadi spirit mereka yangdilaksanakan sejak tahun 2004.

Pada bulan Oktober 2011, KBG ini terjadi pergantian kepemimpinan yang terdiri dari para pengurus dan fasilitator. Ketika terjadi pemilihan kepengurusan, muncul orang-orang baru termasuk fasilitator KBG. Semua anggota KBG merasa bangga dan senang, karena muncul orang-orang baru. Tidak hanya merasa bangga dan senang tetapi tidak saling menolak, mereka menerima tugas itu sebagai sebuah pelayanan bersama Kristus.

Tuan Francis Bhayka, ketua KBG lama mengatakan demikian kepada semua anggota KBG-nya. ‘Sharing Injil’ telah menuai banyak hal. Mungkin tanpa Sharing Injil, saya yang sudah 10 tahun jadi ketua KBG, bisa saja masih ditunjuk oleh anggota KBG. Padahal menjadi pemimpin itu tugas semua Umat Allah. Anggota KBG aktif melakukan aksi nyata bersama, mulai dan menjadi terbiasa dalam sharing. Mau ikut terlibat dalam pelatihan walaupun pelatihan itu sederhana dan rela memberikan waktu untuk pelayanan dalam KBG dan Gereja Paroki.’

Salah satu ibu, Shinta Malayka yang duduk pun langsung berkomentar: Sharing Injil, cara paling sederhana orang mau melibatkan diri dalam tugas KBG dan Gereja. Jadi, Sharing Injil telah mendorong saya dan anggota yang lain untuk ‘melakukan apa yang sudah dilakukan oleh Yesus.’ Kamu tidak hanya pendengar Sabda tetapi pelaku Sabda.

Pertanyaan pendalaman code:

a.     Apa yang menjadi spirit dalam KBG St. Thomas Rasul ini?

b.    Mengapa para pengurus baru KBG ini mau memberikan dirinya untuk menjadi pelayan dalam Gereja dan KBG?

c.     Sikap-sikap apa saja yang patut kita petik dari para pengurus baru KBG St. Thomas Rasul ini?

TAMBAHAN:

§  Sharing Injil telah membawa kesadaran baru dalam diri anggota KBG St. Thomas Rasul. Mereka sadar bahwa tugas melayani dalam Gereja termasuk menjadi pemimpin atau pengurus di KBG adalah tugas semua Umat Allah. Tanpa sadar, dengan membaca Kitab Suci, dengan cara Sharing Injil, Kristus mendorong mereka melakukan apa yang dilakukan oleh Kristus. pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” (Mat. 28:19-20).

§  Para pengurus baru KBG St. Thomas Rasul, tidak menolak diri untuk memimpin KBG. Sikap ini muncul dari kesadaran mereka akan kuasa Roh Kudus yang diterima dalam sakramen Permandian dan sakramen Krisma. Yesus telah memberikan Roh Kudus kepada para murid, sehingga para murid mampu untuk mewartakan kabar gembira dengan penuh keberanian dan sukacita, mampu untuk menghadapi penderitaan dengan tabah dan menghadapi segala yang terjadi di dalam hidupnya dengan sukacita, kedamaian, kesabaran, kemurahan hati, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, pengendalian diri, karena apapun yang dilakukannya senantiasa berdasarkan kasih. Karena itu, para pengurus baru KBG St. Thomas Rasul harus menampakkan buah-buah Roh (Gal. 5:22-23), didalam KBG, Gereja Paroki dan dalam hidup sehari-hari.

C.     Teks Kitab Suci: Markus 12: 29-31

29Jawab Yesus: "Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa. 30Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. 31Dan hukum yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada hukum lain yang lebih utama dari pada kedua hukum ini."

Pertanyaan pendalaman teks Kitab Suci:

a.      Apa yang ANDA pahami tentang kasih kepada Allah?

b.     Apa bentuk konkrit dari kasih kepada Allah itu?

c.      Apa yang ANDA pahami tentang kasihilah sesamamu manusia?

d.     Apa bentuk konkrit dari kasihilah sesamamu manusia?

e.  Apakah menjadi pemimpin atau menjadi pengurus dalam KBG dan Gereja Paroki merupakan bentuk hukum utama dan hukum kedua dalam teks Kitab Suci yang kita baca tadi?

D.     Aksi Nyata:

§  Dasar spiritualitas menjadi pemimpin baik dalam KBG maupun dalam Gereja Paroki, berlandas pada hukum kasih yang disampaikan oleh Yesus. Tanpa sadar, kepemimpinan atau kepengurusan dalam KBG dan Gereja Paroki dilakukan secara bergulir. Mengapa hal ini terjadi begitu lamban didalam KBG dan Gereja Paroki kita?

§  Mengapa orang lain memilih kita menjadi pengurus atau pemimpin, tetapi kita menolak dan justru kita yang memilih orang lain? Mohon disharingkan dan berilah solusi untuk perkembangan di KBG dan Gereja Paroki!

E. Penutup:

a. Fasilitator mengundang anggota KBG untuk mengungkapkan doa-doa umat berupa pujian, syukur, dan permohonan.

b. Fasilitator mengajak anggota KBG berdoa Doa Bapa Kami, sebagai doa penyatuan semua doa yang telah diungkapkan secara spontan.

c.   Lagu Penutup

=****=

MEMUNCULKAN KEPEMIMPINAN BARU DALAM KOMUNITAS BASIS GEREJAWI (KBG)

 

KBG berkumpul rutin dan mendalami modul kersiapan pemilihan Pengurus KBG

PENGANTAR

(wajib dibaca fasilitator)

Tidak lama lagi kepengurusan Dewan Konsultatif Pastoral Paroki (DKPP) periode 2012-2015, selesai masa jabatannya. Karena itu, mau tidak mau kita memerlukan kepengurusan baru untuk periode 2015-2018.

Sesuai dengan organ dan struktur kepengurus DKPP dalam Norma-norma Komplementer Gereja Partisipatif (NKGP) Keuskupan Pangkalpinang, kepengurusan DKPP berasal dari kepengurusan KBG. Untuk itu, proses pemilihan dilakukan di KBG-KBG kita masing-masing.

Untuk dapat melakukan proses pemilihan kepengurusan KBG-KBG kita, modul penyadaran pemilihan ini akan membantu anggota KBG-KBG untuk melakukan proses pemilihan kepengurusan KBG. Modul ini terdiri dari empat kali pertemuan secara berturut-turut. Dalam pertemuan keempat, anggota KBG merencanakan proses pemilihan dan cara melakukan pemilihan yang tepat serta perlengkapan apa saja yang dibutuhkan dalam proses pemilihan tersebut. Bahkan lebih bagus lagi, KBG-KBG menentukan hari khusus untuk pertemuan pemilihan kepengurusan yang baru itu.

Tim AsIPA Paroki berharap, supaya setiap KBG melakukan pemilihan dengan berpegang teguh pada proses penyadaran dalam modul ini. Kami pun menyadari bahwa modul pertemuan ini belum sempurna benar, namun baiklah jika kita mengikuti proses ini dulu, kemudian ada kekurangan sana-sini boleh kita bawakan dalam evaluasi proses ini untuk proses pemilihan kepengurusan KBG-KBG yang akan datang. Selamat menjalankan!

Untuk menyiapkan kepegurusan Baru di KBG, selama ini disiapkan modul pemilihan pengurus Baru KBG. Modul persiapan ini dijalankan selama empat kali pertemuan dengan proses-proses yang ada didalam modul pertemuan tersebut.

Modul-modul pertemuan itu sebagai berikut:

Pertemuan Pertama: 

Meningkatkan Partisipasi KBG Dalam Membangun Gereja

Tujuan: anggota KBG dapat memahami dasar partisipasinya dalam membangun Gereja dengan ‘menjadi pemimpin dalam KBG dan Gereja Paroki’.

A.     Pembuka

a.  Fasilitator memberikan salam dan mengajak anggota KBG untuk membuka pertemuan ini dengan sebuah lagu pembuka.

b.  Fasilitator meminta salah seorang diantara anggota KBG untuk berdoa mengundang Tuhan.

c. Fasilitator mengundang anggota KBG untuk terlibat dalam pendalaman materi pertemuan.

B.     Pendalaman Materi

Code: mohon perhatikan dengan sungguh-sungguh dua buah code berikut ini:

Pertanyaan pendalaman code:

1.    Gambar 1: (a).apa yang terjadi didalam gambar pertama ini? (b). Jika yang terjadi didalam gambar ini, orang-orang dibaptis, apa makna Pembaptisan yang diterima didalam Gereja Katolik? (c). Bagaimana cara saya pribadi menghayati Sakramen Baptis ini untuk kepentingan Gereja Katolik?

2.    Gambar 2: (a). Apa yang terjadi didalam gambar kedua? (b). Kalau yang terjadi didalam gambar kedua ini, orang-orang beriman pada Kristus menerima karunia Roh Kudus, apa makna sakramen Krisma didalam Gereja Katolik? (c). Bagaimana cara saya pribadi menghayati sakramen Krisma untuk perkembangan Gereja Katolik?

3.  Apa hubungan antara sakramen Baptis dengan sakramen Krisma dalam membangun partisipasi kita menghidupkan Gereja Katolik?

TAMBAHAN:

§  Orang-orang yang percaya kepada Kristus memberikan dirinya dibaptis. Dengan dibaptis seseorang masuk dalam persekutuan dengan Allah Tritunggal Mahakudus.

§  Dengan menjadi anggota persekutuan dengan Kristus, siap untuk menerima sakramen-sakramen lainnya, dan siap menjalankan tritugas Yesus (nabi, imam, dan raja) dan melaksanakan lima tugas Gereja (koinonia, diakonia, leitourgya, krygma, dan martyria).

§  Dengan dibaptis saya menjadi anggota persekutuan dengan Kristus, dengan ditandai materai Roh Kudus, saya menjadi anggota persekutuan yang matang dan dewasa. Karena itu, bersama nabi Yesaya boleh mengatakan: ‘ini aku utuslah aku!’

 C.     Teks Kitab Suci: 1 Petrus 5: 1-4 dan Roma 12: 9-13

1.    Surat Pertama Rasul Petrus 5: 1-4:

1Aku menasihatkan para penatua di antara kamu, aku sebagai teman penatua dan saksi penderitaan Kristus, yang juga akan mendapat bagian dalam kemuliaan yang akan dinyatakan kelak. 2Gembalakanlah kawanan domba Allah yang ada padamu, jangan dengan paksa, tetapi dengan sukarela sesuai dengan kehendak Allah, dan jangan karena mau mencari keuntungan, tetapi dengan pengabdian diri. 3Janganlah kamu berbuat seolah-olah kamu mau memerintah atas mereka yang dipercayakan kepadamu, tetapi hendaklah kamu menjadi teladan bagi kawanan domba itu. 4Maka kamu, apabila Gembala Agung datang, kamu akan menerima mahkota kemuliaan yang tidak dapat layu.

2.    Surat Rasul Paulus kepada Umat di Roma 12: 9-13:

9Hendaklah kasih itu jangan pura-pura! Jauhilah yang jahat dan lakukanlah yang baik. 10Hendaklah kamu saling mengasihi sebagai saudara dan saling mendahului dalam memberi hormat. 11Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan. 12Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa! 13Bantulah dalam kekurangan orang-orang kudus dan usahakanlah dirimu untuk selalu memberikan tumpangan!

Pertanyaan pendalaman teks Kitab Suci:

1.    Apa saja konsekuensi ‘kasih sepenuh hati’ Yesus kepada Rasul Petrus dan Paulus?

2.  Bagaimana kasih Yesus yang sepenuh hati ini tercermin dalam surat St. Petrus dan St. Paulus?

3. Apa yang mau kita lakukan dengan ‘kasih sepenuh hati’ Yesus dalam partisipasi membangun Gereja kita yang bermula dari KBG kita?

TAMBAHAN:

§  Karena kasih Yesus yang sepenuh hatiinilah maka orang yang berkuasa melayani rakyatnya dan bukan menjadi ”boss” mereka. St. Petrus menggemakan ‘pikiran Kristus’ ini manakala Ia menasihati para penatua Gereja agar jangan ‘berbuat seolah-olah kamu mau memerintah atas mereka yang dipercayakan kepadamu’.

§  Karena kasih Yesus ‘yang sepenuh hati’ inilah maka tugas perutusan perdamaian-Nya dilaksanakan terus di dunia ini oleh para murid-Nya. St. Paulus melihat bahwa semua orang Kristen terlibat dalam ‘pelayanan Tuhan’ manakala mereka saling mengasihi dengan kasih yang mendalam, berbagi rezeki dengan orang-orang yang membutuhkannya serta membawa sukacita dan pengharapan di mana saja mereka berada.

§  Sebagai pribadi, saya dipanggil untuk hidup dalam persekutuan dengan Kristus melalui sakramen Pembaptisan. Dan melalui sakramen Penguatan / Krisma, saya ditandai dengan materai Roh Kudus sebagai anggota persekutuan yang matang dan dewasa. Karena itu, saya siap untuk melayani Kristus sebagai raja (memimpin-pemimpin), sebagai imam (mendoakan-pendoa) dan sebagai nabi (mewartakan-pewarta Sabda Allah).

D.     Aksi Nyata:

§  Diskusikan: apa wujud konkrit pribadi dan sebagai anggota KBG untuk ikut berpartisipasi membangun Gereja Katolik dengan berawal dari KBG?

§  Diskusikan: apa wujud nyata pribadi dan sebagai anggota KBG untuk ikut terlibat dalam KBG dan Gereja Paroki ketika masa bakti pengurus KBG dan DPP periode 2012-2015 selesai?

E.      Penutup:

1.   Fasilitator mengundang anggota KBG untuk mengungkapkan doa-doa umat berupa pujian, syukur, dan permohonan.

2.   Fasilitator mengajak anggota KBG berdoa Doa Bapa Kami, sebagai doa penyatuan semua doa yang telah diungkapkan secara spontan.

3.      Lagu Penutup

=***=


KOMUNITAS BASIS GEREJAWI MENJADI AGEN PERUBAHAN

 

Salah satu cara Menghias Meja Pentakhtaan Kitab Suci dalam Sharing Injil

TOPIK PEMBAHASAN:

  I.         Cara Memelihara Komunitas Kristen Kecil, Atau Komunitas Gerejawi Dasar, oleh Cora Mateo

II.    Komunitas Gerejawi Dasar sebagai Model Gereja untuk Asia, oleh Uskup Agung Orlando B. Quevedo 

----------------------------------------------------

 

I.  CARA MEMELIHARA KOMUNITAS KRISTEN KECIL, ATAU KOMUNITAS DASAR GEREJA OLEH CORA MATEO

PENGANTAR

Sidang Pleno Ketujuh FABC[1] mengajak kita untuk mencermati lebih dekat jejak-jejak Gereja yang diperbarui di Asia sebagai murid-murid Yesus yang dipanggil untuk Misi Kasih dan Pelayanan, tanggapan yang relevan untuk abad baru.

Tiga dekade terakhir menyaksikan munculnya gerakan akar rumput di Asia yang disebut "Komunitas Dasar Gerejawi /Komunitas Kristen Kecil."[2] KBG telah dipuji sebagai harapan baru untuk pembaharuan dalam gereja dan masyarakat, sebagai "realitas gerejawi yang paling mendasar," seperti yang dinyatakan oleh para uskup Asia.[3] Paus Yohanes Paulus II menyebutnya sebagai "tanda vitalitas di dalam gereja, instrumen pembentukan dan penginjilan, dan titik awal yang kokoh untuk masyarakat baru yang didasarkan pada peradaban kasih," karena mereka memberikan  kemungkinan bagi semua orang yang dibaptis untuk berpartisipasi dalam kehidupan gereja dan misi di daerah mereka masing-masing.

Survei tentang KBG di berbagai wilayah Asia yang dilakukan oleh AsIPA Desk dari Kantor Awam FABC menjadi bukti visi "Cara Baru Menjadi Gereja" yang menjadi inti dari Pernyataan Akhir Sidang Pleno Kelima di Bandung.[4]

Ketika ditanya tentang perubahan dalam kehidupan paroki karena upaya untuk membentuk KBG, banyak komentar positif yang disampaikan. Mari kita mendengarkan beberapa suara berikut:

"Orang-orang sudah mulai menggunakan Alkitab" (Sri Lanka).

 

"Mereka mendengarkan Firman Tuhan dengan lebih saksama" (Myanmar).

 

"Firman Tuhan telah menjadi berharga dan bermakna bagi mereka; mereka mulai berdoa secara spontan" (India).

 

"Partisipasi umat dalam liturgi dan hal-hal gereja lainnya telah meningkat" (Bangladesh).

 

"Mereka memikul tanggung jawab yang lebih besar sebagai anggota paroki" (Indonesia).

 

"Terdapat kepedulian yang lebih besar satu sama lain sebagai anggota komunitas yang sama, terutama di saat-saat duka, misalnya kematian" (Malaysia).

 

"Terdapat persatuan, kerja sama, dan kepedulian terhadap sesama" (Filipina).

 

"KBG memiliki tugas bersama di lingkungan sekitar, misalnya, memperbaiki rumah, membersihkan jalan, bangunan" (Sri Lanka).

 

"Beberapa KBG terlibat dalam gerakan antaragama dan antar ras. Anggota mereka lebih mudah didekati dan bersedia berbagi serta membuka rumah mereka" (Malaysia).

 

A. KBG - KELOMPOK-KELOMPOK GEREJA YANG DEDIKASIKAN UNTUK "PELAYANAN KEHIDUPAN"

Pernyataan Akhir FABC VI menyerukan "komunitas murid," yang "hidup oleh Roh Tuhan yang Bangkit dan oleh tuntutan Kerajaan Kehidupan...,"[5] dan merupakan "persekutuan yang membebaskan dan menciptakan kembali di antara sesama."[6]

Banyak KBG di Asia menunjukkan karakteristik "komunitas murid" sejati sejauh:

a.  Mereka berkumpul sebagai kelompok tetangga yang memiliki keprihatinan yang sama terhadap kehidupan sehari-hari dan mencari solusi dalam terang iman (BERTETANGGA).

b.    Mereka menjadikan penyebaran Injil sebagai dasar pertemuan rutin mereka (SHARING INJIL).

c.   Mereka bertindak bersama-sama berdasarkan iman, dan oleh karena itu merupakan ekspresi nyata dari Gereja (AKSI NYATA).

d. Mereka terhubung dengan sebuah paroki dan ikut serta dalam ibadah dan pelayanan. (TERHUBUNGAN DENGAN PAROKI)"[7].

 

Dalam survei tersebut, seluruh anggota kelompok merasa terpanggil untuk "berbagi iman mereka, membangun komunitas, dan mengambil tindakan untuk memenuhi kebutuhan lokal," yang merupakan tujuan dasar dari KBG mereka.

Rasa berbagi dan solidaritas hampir merupakan hasil langsung, tidak hanya di antara anggota satu komunitas tertentu, tetapi juga dengan komunitas lain yang membutuhkan.

KBG, dengan pertemuan dan berbagi, diskusi dan aksi rutin mereka, menyediakan ruang profetik untuk kritik sosial dan transformasi masyarakat.

Selain memperkuat iman dan hubungan satu sama lain, KBG juga menjangkau tetangga yang beragama lain dalam upaya bersama. Mereka merupakan wadah alami untuk mengejar dialog dan kolaborasi antaragama karena mereka berbagi konteks kehidupan yang sama.

Mereka juga menjadi tempat berlang-sungnya inkulturasi. Saat para tetangga berkumpul, mereka berbagi kehidupan sehari-hari dan merayakannya dengan cara yang bermakna bagi mereka.

Seruan mereka untuk inkulturasi adalah seruan untuk "Pelayanan kepada Kehidupan," yang memiliki kekuatan untuk mengatasi kekuatan-kekuatan pembawa kematian di zaman sekarang.

Untuk visi "Cara Baru Menjadi Gereja di Asia," yaitu gereja partisipatif, yang dipromosikan oleh para uskup Asia, proses membangun komunitas sangatlah penting. Aspek partisipatif harus diterapkan dalam semua aspek.

KBG menawarkan kemungkinan partisipasi awam dan tanggung jawab bersama yang paling berkembang. Di masa lalu, partisipasi awam aktif terbatas pada asosiasi, gerakan, atau organisasi yang diberi mandat, yang mengakibatkan hanya beberapa kelompok yang terlibat dalam tugas-tugas khusus. Visi baru tentang partisipasi mencakup semua anggota komunitas untuk misi Gereja secara keseluruhan.

Program pelatihan AsIPA (AsIPA = Asian, Integral, Pastoral, Approach). Program-program ini menawarkan metode kontekstual untuk mendorong proses partisipatif dalam membangun dan memelihara KBG.

"Pendekatan Pastoral Integral Asia adalah sarana untuk pembaharuan," demikian dinyatakan dalam persiapan Sinode Asia.[8] Pendekatan ini bersifat ASIA, untuk membantu umat Kristen Asia menghadapi kehidupan Asia dalam terang Injil. Pendekatan ini merupakan respons terhadap visi Gereja yang diartikulasikan oleh para uskup Asia (FABC V, 1990).

Pendekatan ini INTEGRAL, karena bertujuan untuk mencapai keseimbangan antara "spiritual" dan "sosial," antara individu dan komunitas, dan antara kepemimpinan hierarkis dan tanggung jawab bersama kaum awam. Pendekatan ini PASTORAL, untuk melatih kaum awam dalam misi pastoral di dalam Gereja dan di dunia. Dan untuk melatih para imam bagaimana membangkitkan tanggung jawab bersama kaum awam, dan bagaimana bekerja sebagai tim.

Pendekatan ini adalah sebuah PENDEKATAN, yang merupakan proses yang berpusat pada komunitas Kristus. Pendekatan ini melibatkan peserta dalam lokakarya untuk mencari jati diri, dan memungkinkan mereka untuk mengalami "Cara Baru Menjadi Gereja". Dalam pendekatan ini, "setiap orang adalah seseorang," yang berkontribusi pada pembelajaran satu sama lain. Proses partisipatif ini merupakan pesan yang mencerminkan visi tersebut.

 

B.    KESULITAN UTAMA KBG - BEBERAPA SOLUSI

Meskipun terdapat berbagai macam KBG di seluruh Asia, ada beberapa area yang menjadi perhatian umum. Berikut beberapa pernyataan dari orang-orang yang terlibat dalam KBG:

 

"Setelah periode antusiasme awal, semakin banyak anggota KBG kami yang kehilangan minat—partisipasi menjadi buruk."

 

"Ketika sang penggerak komunitas pindah ke paroki lain, komunitas tersebut berhenti berkumpul."

 

"Banyak orang menjauhi kepemimpinan atau keterlibatan apa pun. Mereka tidak terbiasa memikul tanggung jawab di gereja."

 

"Kerja sama antara pastor dan para biarawan/biarawati di paroki lingkungan kami sangat buruk. Tidak ada antusiasme yang besar di keuskupan kami."

 

"Beberapa kelompok KBG di paroki kami lebih mirip kelompok doa. Mereka tidak menunjukkan minat pada isu-isu sosial atau keterlibatan sosial."

 

Suara-suara ini dan suara-suara lainnya di seluruh Asia menunjukkan bahwa sebagian besar kekhawatiran berkaitan dengan pertanyaan mendasar tentang bagaimana mempertahankan KBG sebagai sel-sel hidup Gereja yang dipanggil untuk Misi Kasih dan Pelayanan.[9]

 

1.    Berbagai Cara Memulai KBG

Pertanyaan tentang bagaimana mempertahankan KBG berkaitan erat dengan pertanyaan bagaimana KBG terbentuk.[10] Ada banyak cara untuk memulai KBG, misalnya, mengembangkan kelompok doa yang sudah ada, atau komite aksi. Namun, pengalaman menunjukkan bahwa cara-cara tertentu pasti akan menyebabkan kegagalan. Dua pendekatan utama harus dibedakan:

 

i)    Mulai dari "Ahli":

ii)   Awal "Komunitas":

Aspek positif dari pendekatan "ahli" adalah permulaan yang cepat dan waktu yang singkat yang dibutuhkan untuk melatih para pemimpin. Aspek negatifnya terkait dengan kesan bahwa KBG adalah "urusan Ayah". Keyakinan batin dan komitmen yang langgeng sulit dikembangkan, para pemimpin mungkin tidak diterima oleh masyarakat, dan beberapa di antaranya mungkin tidak cocok untuk tugas mempromosikan KBG.

Di sisi lain, pendekatan "komunitas" merupakan pendekatan yang lambat dan memakan waktu, tetapi salah satu aspek positifnya adalah proses partisipatif, yang membuat orang merasa dihormati dan dianggap serius. Ada kesempatan untuk mendapatkan pemahaman yang lebih dalam tentang KBG terlebih dahulu, dan kemudian diundang untuk bergabung dengan Tim Paroki atau KBG. Ada dukungan berkelanjutan untuk KBG oleh pastor paroki dan timnya. Pembinaan berkelanjutan bagi para pemimpin, membantu mereka dalam menjalankan tugas di lingkungan sekitar, menawarkan pendekatan dan keterampilan baru, memungkinkan munculnya pemimpin baru, yang membantu mengatasi tanda-tanda kelelahan dalam KBG. Dalam jangka panjang, "pendekatan komunitas" memiliki fondasi yang kokoh yang menjamin keberlanjutan.

 

2.    Bagaimana Melibatkan Seluruh Komunitas: Pentingnya Program Kesadaran

Jika sebuah kursi berkaki tiga ingin dibuat lebih rendah atau lebih tinggi, kita tidak bisa hanya mengubah satu atau dua kaki, tetapi harus mengubah ketiganya. Jika sebuah jemaat ingin menjadi komunitas yang saling berbagi dan peduli, maka ketiga bagian tersebut harus mengalami perubahan:

o   Para pemimpin penuh waktu (imam, diakon, katekis, dll.)

o   Banyaknya pemimpin yang muncul, dan

o   Seluruh jemaah.

Jika salah satu dari tiga bagian tersebut tetap tidak berubah, bagian lainnya tidak akan berhasil bergerak menuju komunitas Kristen yang hidup. Oleh karena itu, proses pembinaan tidak boleh terbatas pada kelompok pekerja sukarela. Jemaat pun membutuhkan pembinaan.

Itulah mengapa program penyadaran sangat penting. Program ini menawarkan salah satu cara agar semua anggota masyarakat dapat memper-oleh kesadaran baru mengenai hubungan mereka dengan para pemimpin lokal dan perlunya upaya bersama.

Kesadaran kita hanya berubah jika kita terlibat. Jika seluruh komunitas ingin mengubah kesadaran kolektifnya, semua anggotanya harus terlibat dalam perubahan tersebut dengan cara tertentu. Tentu saja, sulit untuk melibatkan sejumlah besar orang yang hanya bertemu untuk kebaktian Minggu. Cara yang tepat harus dirancang untuk mencapai setidaknya keterlibatan minimal yang melampaui sekadar mendengarkan secara pasif. [11]

Kesadaran hanya berubah jika informasi lengkap diberikan. Oleh karena itu, seluruh jemaat harus mengetahui sebanyak mungkin tentang gagasan dasar pelayanan di Gereja. Gagasan dasar ini bukan sekadar pengetahuan kering, tetapi merupakan bagian sentral dari pesan kita.

 

3.    Mengembangkan Pelayanan Bersama

Kesulitan bagi banyak paroki dan KBG adalah bagaimana mendapatkan pemimpin yang tepat untuk KBG, atau bagaimana mengganti mereka. Pertanyaan ini berkaitan erat dengan kesadaran akan pelayanan bersama di dalam Gereja. Kesadaran bahwa semua anggota komunitas Kristen dipanggil untuk berbagi dengan orang lain dalam doa, pelayanan, dan pembangunan komunitas tidak dapat dipaksakan kepada mereka. Hal itu harus muncul dari dalam komunitas sebagai hasil dari proses partisipatif.

Ada berbagai cara untuk mendapatkan pemimpin, beberapa di antaranya mendorong proses ini, beberapa lainnya tidak.

 

1)    "Para pemimpin yang ditunjuk" memulai KBG.

2)    "Para pemimpin sukarelawan" memulai KBG.

3)    "Para pemimpin terpilih" memulai KBG.

Ketiga cara untuk mendapatkan pemimpin tersebut semuanya mengandung beberapa risiko bagi keberlanjutan KBG:

Meskipun melalui "pengangkatan" beberapa pemimpin yang luar biasa dapat ditemukan, di sisi lain mereka mungkin tidak diterima oleh masyarakat; atau mungkin tetap menjadi "perpanjangan tangan" pastor, dan menghilang ketika pastor dipindahkan. Beberapa mungkin menganggap KBG mereka sebagai "milik" mereka, dan mengembangkan gaya kepemimpinan yang dominan. Tanggung jawab atas kehidupan dan tindakan kelompok mungkin berada di pundak pemimpin, dan tidak muncul dari komunitas.

"Pemimpin sukarelawan" mungkin adalah pemimpin yang berkomitmen dan termotivasi, tetapi mereka mungkin tidak memiliki pengalaman dalam memimpin komunitas kecil. Beberapa mungkin tidak diterima oleh komunitas. Orang yang salah mungkin menjadi sukarelawan; alasan mereka mungkin salah, misalnya, mencari status di gereja. Seperti para pemimpin yang ditunjuk, mereka mungkin kehilangan minat ketika pendeta dipindahkan. Tanggung jawab atas kehidupan dan tindakan kelompok mungkin berada di pundak pemimpin, dan tidak muncul dari komunitas.

Cara "memilih pemimpin" melibatkan komunitas dalam mendapatkan pemimpin, dan membentuk struktur kepemimpinan. Namun, memulai dengan struktur kepemimpinan yang rumit dapat membuat KBG terlalu formal dan menghambat semangat persaudaraan yang hangat. Orang yang salah mungkin terpilih, misalnya, mereka yang sudah memiliki sejumlah komitmen lain di paroki.

Proses AsIPA mengusulkan cara keempat untuk mendapatkan pemimpin bagi KBG: "Kepemimpinan tim yang bergiliran dan sedang berkembang."[12]

Penjelasan: Bagaimana Para Pemimpin Muncul di KBG "St. Gabriel."

Seluruh komunitas menyadari tanggung jawab mereka untuk memberitakan Injil dan mengunjungi pendatang baru. Dari kesadaran bersama akan kepemimpinan bersama ini, para pemimpin baru muncul dan bertindak atas nama komunitas kecil tersebut. Meskipun para pemimpin ini dipilih, mereka "muncul" dari suasana di mana semua orang merasa: "Ini adalah urusan kita bersama!"

Komunitas kecil ini tahu persis untuk tugas apa pemimpin tertentu dibutuhkan. Hal ini memudahkan untuk memunculkan orang yang tepat. Setidaknya ada dua pemimpin yang dipilih untuk setiap tugas di komunitas, untuk menghindari beban berlebihan pada satu orang, dan untuk mempermudah koreksi bersama. Keuntungan lain dari kerja tim adalah: lebih mudah untuk mengganti seseorang; kaum muda dapat bergabung dengan lebih mudah; orang yang pemalu akan lebih mudah untuk maju; dan beban pelatihan akan dibagi.

Sistem kepemimpinan bergilir mendorong semua anggota KBG untuk aktif berpartisipasi dalam tugas-tugas komunitas. Sistem ini membantu mengembangkan bakat dan kemampuan setiap anggota. Para pemimpin "lama" dapat berbagi kebijaksanaan mereka dengan para pemimpin baru. Orang-orang akan lebih rela memikul tanggung jawab tertentu jika masa komitmen mereka terbatas. Koordinator (atau fasilitator) KBG, misalnya, biasanya akan berganti setelah dua tahun. Tugas-tugas konkret, seperti menyambut pendatang baru di lingkungan sekitar, bahkan bisa berganti setelah enam bulan.

Untuk mewujudkan "kepemimpinan tim yang berkembang dan bergilir" diperlukan pelatihan berkelanjutan di dalam KBG. Proses partisipatif disarankan untuk mengetahui jenis pelatihan apa yang dibutuhkan bagi berbagai pemimpin KBG.

AsIPA Desk dari Kantor Awam FABC dan Lumko Institute menawarkan serangkaian program pelatihan dan pembinaan keterampilan bagi para pemimpin KBG. Sebagian besar program tersebut didasarkan pada prinsip "belajar sambil melakukan".

Perencanaan pastoral di setiap paroki hendaknya mencakup dalam kalender parokinya jadwal pelatihan keterampilan dan pembinaan spiritual para pemimpin selama periode tertentu setiap tahunnya. Merupakan tugas pastor paroki dan tim parokinya untuk mengundang para pemimpin ke retret akhir pekan dan program pembinaan.

Acara tahunan "Pemberkatan Pemimpin Komunitas" akan menjaga minat terhadap KBG tetap hidup, dan memberikan pengakuan publik atas kontribusi mereka terhadap kehidupan paroki.

Perayaan tahunan untuk para pemimpin paroki sebaiknya dirayakan pada hari Minggu khusus dalam setahun di mana semua pemimpin paroki dapat diberi ucapan terima kasih, diperkenalkan dengan tanggung jawab mereka, atau dibebaskan dari tanggung jawab tersebut.

Proses AsIPA menganggap membantu KBG untuk mempertahankan dan menjaga keberlangsungan diri sebagai prinsip yang sangat penting untuk "memelihara KBG."[13] Untuk memperkuat kepercayaan diri dan keyakinan semua anggota KBG, pembinaan berkelanjutan bagi semua anggota sangatlah penting. Teks-teks AsIPA telah ditulis untuk tujuan ini. Seorang fasilitator KBG, tanpa pendidikan teologi tradisional, dapat menggunakan teks-teks AsIPA dalam kelompok masing-masing setelah pelatihan minimal. Teks-teks tersebut tidak hanya berfokus pada beberapa "keterampilan," tetapi juga mencoba untuk berbagi wawasan teologis yang lebih dalam tentang "Cara Baru Menjadi Gereja" dengan umat awam. Ini mungkin menjadi tantangan utama tidak hanya bagi anggota KBG dan para pemimpinnya, tetapi juga bagi para pemimpin penuh waktu (uskup, imam, diakon, katekis, dll.), dan bagi seluruh jemaat, karena mereka dipanggil untuk mengubah sikap mereka dan mengevaluasi peran khusus mereka di Gereja.

Dalam "Cara Baru Menjadi Gereja", para pendeta dan umat awam terus memiliki peran yang berbeda, tetapi terdapat "kesetaraan sejati di antara semua orang dalam hal martabat dan aktivitas yang sama bagi semua umat beriman."[14] Tidak ada golongan "terpelajar" dan "bodoh." Semua orang memiliki pengetahuan dan pengalaman untuk dibagikan.

"Mempertahankan KBG" sangat bergantung pada apakah pastor paroki dan para pemimpin paroki menerima dan menghargai kesetaraan ini, dan bagaimana mereka memahami sifat dan misi KBG. Hal ini akan memengaruhi cara pastor dan timnya menginspirasi dan mendampingi KBG di paroki.

KBG lebih dari sekadar kelompok doa dan/atau aksi. Mereka adalah "ekspresi konkret Gereja."[15] Oleh karena itu, KBG turut serta dalam misi dasar paroki di lingkungan mereka masing-masing dan memungkinkan untuk "mendesentralisasi" tugas-tugas paroki. Anggota KBG turut serta dalam proses konsultasi dan pengambilan keputusan paroki mereka. Tugas pastoral tidak lagi terbatas pada anggota organisasi dan komite yang sudah ada. Asosiasi dan kelompok tradisional lainnya di paroki ditantang oleh KBG untuk memikirkan kembali peran mereka dalam komunitas Kristen.

 

4.    Menuju Kepemimpinan yang Membimbing

Dalam sebuah makalah yang ditulis untuk sesi pelatihan bagi para uskup baru, Uskup Agung Joseph Ti Kang menulis.[16]

Jika kita melihat visi gereja (partisipatif) ini, hubungan uskup-awam kita harus mengalami perubahan dramatis dalam hal penanganan pribadi kita terhadap kaum awam dan dalam perencanaan pastoral. Hal ini akan memengaruhi penugasan personel, keuangan, dan prioritas pastoral kita. Ini akan menuntut pelatihan berkelanjutan bagi kaum awam dan para imam. Tantangan yang paling sulit adalah perubahan gaya kepemimpinan yang diringkas oleh seorang uskup India pada Sidang Umum Pune tahun 1991: "Ini berarti terus-menerus mati terhadap diri kita sendiri."

Berikut adalah latihan singkat untuk merefleksikan gaya kepemimpinan kita sendiri:

Bacalah dalam hati ciri-ciri kepemimpinan seperti yang disajikan dalam dua kolom ini, dan cobalah untuk melihat perbedaan gaya kepemimpinan ketika pendeta berkata: "SAYA adalah Gereja," dan ketika ia yakin dan berkata: "KITA adalah Gereja:"

 

SAYA adalah Gereja

KITA adalah Gereja

"Saya harus menafkahi mereka!"

"Saya ingin membangun potensi orang lain!"

"Saya harus memberi tahu mereka!"

"Saya ingin menginspirasi dan memotivasi orang!"

Saya harus memulai sesuatu!

"Saya suka menemukan bakat-bakat orang!"

"Saya melakukan segalanya untuk rakyatku!"

"Saya percaya pada rakyat, meskipun ada beberapa kekecewaan!"

"Saya telah mempelajari teologi!"

"Salah satu tugas utama saya adalah melatih dan memberdayakan orang!"

"Ini bagus untukmu!" "Diskusi hanya membuang waktu!"

"Aku harus belajar bagaimana mendengarkan!"

"Saya memilih pemimpin ini karena saya mengenal rakyat saya!"

"Saya berbagi tanggung jawab!"

 

"Tolong, jangan kritik!"

"Kami berdoa, berdiskusi, dan memutuskan bersama"

"Saya butuh bantuan untuk tugas saya!"

"Saya menerima kritik meskipun kritik itu tidak menyenangkan!"

"Bagaimana mungkin kamu memberikan saran seperti itu!"

"Saya bekerja dengan orang-orang!"

"Saya adalah pastor paroki!"

"Saya menghormati orang-orangnya!"

Beberapa kesulitan yang ditemukan dalam KBG adalah ketegangan antara pastor paroki dan KBG, atau antara anggota KBG dan koordinator mereka. Mari kita lihat sebuah paroki dengan masalah ini:[17]

Banyak di antaranya disebabkan oleh gaya kepemimpinan yang otoriter. Jemaat St. Simon yang beranggotakan sekitar seribu umat Katolik telah melalui berbagai tahapan membangun komunitas yang terdiri dari berbagai komunitas, ketika muncul masalah bahwa beberapa pemimpin ingin melakukan segala sesuatunya sendiri. Berulang kali, komunitas tersebut harus menentang upaya-upaya ini. Banyak orang menekankan bahwa mereka ingin setiap orang memiliki suara, dan setiap orang menggunakan karisma mereka. Tetapi yang lain mengatakan bahwa mereka menganggap lebih baik jika para pemimpin memiliki hak istimewa dan berbeda dari yang lain.

Suatu hari, seseorang berdiri di salah satu pertemuan ini, dan berkata: "Tidakkah kalian melihat bahwa ini adalah masalah utama seluruh masyarakat kita, bukan hanya Gereja? Kita memiliki pejabat di kantor-kantor pemerintahan kota yang ingin menjadi atasan kita alih-alih melayani kita. Kita memiliki para pemimpin yang bersaing di antara mereka sendiri untuk mendapatkan kekuasaan dan status alih-alih bekerja untuk kebaikan bersama negara. Dan, pada saat yang sama, kita memiliki massa rakyat yang hanya menerima kejahatan dan telah menyerahkan hak mereka untuk mengatakan apa yang mereka rasakan. Mereka serahkan segalanya kepada segelintir orang di puncak. Mereka menyesali dominasi tersebut, tetapi mereka justru mendukungnya melalui sikap pasif mereka. Mereka menderita akibat eksploitasi, tetapi mereka terus melanggengkan hal itu selamanya, karena mereka bersaing dengan cara yang sama di antara mereka sendiri. Ini adalah lingkaran setan dominasi dan penyerahan diri, dan akan terus berlanjut selamanya, kecuali seseorang menemukan sesuatu yang dapat melawannya.

Tidakkah kalian melihat bahwa Tuhan sendirilah yang paling menentang kehidupan seperti ini? Tidakkah kalian melihat bahwa karena itu, keluarga Allah, Gereja, yang harus membuka jalan menuju masyarakat baru yang berlandaskan tanggung jawab bersama? Yang kita butuhkan adalah kombinasi antara komunitas yang nyata dan kepemimpinan yang tidak mendominasi. Kita menginginkan kepemimpinan seperti ini di mana-mana: di kantor-kantor pemerintahan kota, di pabrik-pabrik, di partai-partai politik, dan di pemerintahan negara kita.

Tetapi jika kita menginginkannya di seluruh masyarakat, kita harus memulainya di Gereja. Jika kita tidak dapat mewujudkannya di Gereja, kita tidak dapat membuat pernyataan besar yang mengatakan bahwa itu adalah kehendak Tuhan di dunia. Di Gereja, kita adalah kelompok besar orang. Kita harus menunjukkan di Gereja bahwa kelompok besar seperti itu dapat merasa saling memiliki, menyuarakan pendapat mereka, dan bertanggung jawab bersama. Pada saat yang sama, kita harus menunjukkan bahwa kelompok besar seperti itu dapat memiliki pemimpin yang menjalankan otoritas tanpa menghancurkan tanggung jawab bersama. Jika kita percaya bahwa masyarakat membutuhkan kepemimpinan yang tidak mendominasi, kita harus membuktikan di Gereja bahwa hal ini mungkin. Inilah pelayanan kita kepada dunia.

Sebuah komunitas Kristen membutuhkan pemimpin yang menyerupai Yesus Kristus: Yesus memimpin dan melayani pada saat yang sama. Ia menolak godaan Setan untuk berkuasa dan menyamakan diri-Nya dengan murid-murid-Nya.

Salah satu bagian Injil[18] memberi kita ringkasan yang sangat baik tentang seorang pemimpin yang baik menurut jalan Kristus: Yesus berjalan bersama para murid ke Emaus; mendengarkan alasan kesedihan mereka; membantu mereka menemukan pesan tersebut, sambil menceritakan kembali Kitab Suci dan membangkitkan hati mereka; menerima undangan mereka untuk tinggal dan makan bersama; diakui dalam pemecahan roti; dan menghilang ketika tidak dibutuhkan.

Menurut Injil, ciri-ciri kepemimpinan yang membimbing adalah:

§ seorang pemimpin yang baik membantu orang lain untuk mengetahui apa yang salah dengan diri mereka sendiri.

§  seorang pemimpin yang baik menawarkan visi

§ pemimpin yang baik adalah pemimpin yang tidak mendominasi, yang sabar dan memberikan perasaan kepada anggota kelompok bahwa setiap orang dapat berkontribusi pada solusi.

§  pemimpin yang baik selalu bersama rakyat; perannya adalah membimbing dan memfasilitasi respons kelompok.

§  seorang pemimpin yang baik membangun orang lain, memberi mereka kepercayaan diri.

§  seorang pemimpin yang baik mendorong orang lain untuk melakukan hal yang sama.

§  pemimpin yang baik adalah pemimpin yang menginspirasi.

Di Gereja Partisipatif, selalu ada tim pemimpin yang bekerja sama dengan pastor paroki. Mereka terus-menerus memotivasi semua anggota komunitas untuk memenuhi tanggung jawab mereka. Bersama dengan pastor, dan atas nama beliau, mereka memperhatikan persatuan jemaat.

Di sebagian besar komunitas kita saat ini, tidak satu pun dari para pemimpin ini yang ditahbiskan. Mereka adalah pria dan wanita, umat awam dan rohaniwan, yang bekerja bersama sebagai sebuah tim.

Pastor paroki hendaknya sering bertemu dengan para pemimpin, melatih mereka, dan menjadi bagian dari tim mereka untuk menginspirasi mereka. Bersama para pemimpin, ia memimpin ibadah liturgi, dan memperhatikan persatuan jemaat. Ia menjadi jembatan antara kehidupan berbagai komunitas di dalam paroki, antara parokinya dan paroki-paroki di sekitarnya, antara umat parokinya dan uskup.

 

5.    Pelatihan Berkelanjutan untuk Fasilitator

Salah satu kesulitan KBG, yang kadang-kadang disebutkan, adalah bahwa mereka lebih merupakan kelompok doa yang baik, dan tidak menunjukkan minat atau hanya sedikit minat pada aksi sosial. Hal ini sering kali terkait dengan fakta bahwa tidak ada, atau kurangnya, pembentukan dasar bagi para pemimpin baru. Dalam kebanyakan kasus, sangat sedikit pembentukan berkelanjutan yang dilakukan.

Modul AsIPA disusun sedemikian rupa sehingga mendorong tindakan nyata. Langkah-langkah dasar program kesadaran ini adalah:

o   Perhatikan situasi kehidupan

o   Carilah inspirasi dari firman Tuhan dan dari ajaran Gereja, dan,

o   Rencanakan aksi bersama untuk bergerak menuju visi tersebut.

Sangat penting bagi setiap KBG untuk mengetahui struktur dasar rapat KBG, yang mengikuti Metode Penyebaran Injil 7 Langkah:

o   Langkah 1-5: Bertumbuh secara pribadi dan bersama sebagai komunitas di hadapan Kristus.

o   Langkah 6-7: Melanjutkan misi Kristus di lingkungan khusus ini.[19]

Ketika KBG telah menggunakan Metode 7 Langkah selama beberapa tahun, salah satu cara untuk mempertahankannya adalah dengan membantu mereka tumbuh dalam kesadaran dan kepedulian sosial. Ada metode berbagi kelompok lain yang secara konkret bertujuan untuk hal ini:

Kami akan memberikan dua contoh Metode Penyebaran Injil, yang dapat mengarahkan KBG untuk lebih terlibat dalam aksi sosial:

Metode Respons Kelompok[20]: membahas aspek-aspek sosial Injil Minggu.

Tujuan:

o   Untuk melihat bagaimana situasi dan masalah sehari-hari tercermin dalam teks Alkitab.

o   Untuk membantu kelompok tersebut melihat melampaui kebutuhan spiritual pribadi mereka yang mendesak.

o   Untuk menjadikan Injil sebagai kekuatan pendorong bagi "bantuan diri" dalam mengatasi masalah kehidupan.

 

Lihat-Dengar-Cinta

Tujuan:

o   Untuk memulai dari sebuah isu kehidupan.

o   Untuk berbagi pengalaman hidup di mana anggota kelompok terlibat secara emosional, merasakan kebahagiaan atau ketidakbahagiaan tentang pengalaman tersebut.

o   Untuk mendengarkan panggilan Tuhan mengenai pengalaman atau peristiwa ini, meskipun tidak ada ayat Alkitab yang dapat dikutip.

o   Untuk mencapai tindakan bersama.

 

C. KBG SEBAGAI AGEN PERUBAHAN: DARI PENYEBARAN INJIL HINGGA KETERLIBATAN SOSIAL

KBG tidak hidup hanya untuk diri mereka sendiri, tetapi untuk menjadi komunitas yang menjalankan misi Kerajaan Allah berupa keadilan dan perdamaian di dunia. Tidaklah tepat bagi orang Kristen untuk menyerahkan "analisis sosial" hanya kepada para ahli, atau kepada beberapa kelompok politik militan. Karena alasan inilah berbagai pro-

KBG tidak hidup hanya untuk diri mereka sendiri, tetapi untuk menjadi komunitas yang menjalankan misi Kerajaan Allah berupa keadilan dan perdamaian di dunia. Tidaklah tepat bagi orang Kristen untuk menyerahkan "analisis sosial" hanya kepada para ahli, atau kepada beberapa kelompok politik militan. Karena alasan inilah berbagai panduan ini disusun untuk memberdayakan KBG dan kelompok lain agar terlibat dalam isu-isu sosial.

Salah satu alat yang luar biasa untuk beralih dari penyebaran Injil ke keterlibatan sosial adalah Program Amos.

 

1)   Program Amos: Tujuan dan Fiturnya

Tujuan Program Amos:

Amos adalah seorang nabi Israel. Ia adalah salah satu dari orang-orang yang menggembalakan ternak dan membajak ladang. Diilhami oleh Roh Allah, ia menentang raja dan para imam pada zamannya. Ia mengatakan kepada mereka bahwa Allah menginginkan hukum yang adil, dan ibadah keagamaan yang berasal dari hati yang murni.

Dengan cara yang sama, program-program Amos bertujuan untuk membangkitkan komunitas Kristen, dan membantu mereka untuk melakukan sesuatu terhadap masalah-masalah yang menyiksa mereka. Terlalu sering komunitas Kristen berkata: "Kami tidak berdaya; kami tidak dapat melakukan apa pun; kami hanya duduk dan menunggu." Program-program Amos membantu mengatasi mentalitas ini. Mereka menawarkan cara untuk menghadapi masalah sosial atau ekonomi, menganalisisnya dalam terang Injil dan melakukan sesuatu untuk mengatasinya.

Fitur utama Program Amos:

§  Titik awalnya adalah masalah sosial, ekonomi, atau politik yang "khas", misalnya, "Ketika kaum miskin dipinggirkan."

§  Ada dua "putaran" analisis dalam Program Amos:

o   Pertama, analisis yang agak "dangkal", dengan mengajukan pertanyaan "MENGAPA?"

o   Kedua, analisis yang lebih mendalam, mencari akar penyebab suatu masalah.

o   Skema pemecahan masalah membantu kelompok untuk sampai pada tindakan konkret.

o   "Sudut pandang Tuhan" disertakan melalui penyebaran Injil dan meminta dokumen-dokumen Gereja untuk menyampaikan pendapat mereka tentang masalah tertentu.

Program Amos digunakan dari waktu ke waktu untuk memperluas dimensi visi Kristen suatu kelompok dan memungkinkan mereka untuk mengambil bagian dalam mengubah dunia di sekitar mereka.

Dengan menggunakan Program Amos, komunitas Kristen kita dapat menjadi komunitas profetik.

 

2)   Contoh Program Amos: "Kita Membutuhkan Lebih dari Sekadar Uang”[21]

1)   Lihatlah Kehidupan: Kisah Florence, Sang Pengantin

Suasana di rumah Florence sangat meriah. Tuan Lola berpacaran dengan Florence dan ada harapan bahwa ia ingin menikahinya. Namun, gadis itu tidak terburu-buru untuk mengambil keputusan.

Ayahnya sangat marah. Dia tidak mengerti keraguan putrinya. "Lihat," katanya. "Tuan Lola adalah salah satu pengusaha terkaya di kota ini. Dia tahu cara menghasilkan uang dan dia tidak malas. Bahkan pada Minggu pagi dia bekerja di kantornya. Pada Minggu siang dia mengurus tim sepak bola lokal. Dia adalah pria yang dihormati. Jangan lewatkan kesempatan terbesar dalam hidupmu. Siapa lagi di kota ini yang mengendarai mobil seperti dia? Siapa lagi yang bisa membangun rumah seindah itu untuk dirinya sendiri? Jika kamu ingin bahagia, menikahlah dengannya. Dia akan mampu memenuhi semua keinginanmu dan membelikanmu semua yang kamu inginkan. Apa lagi yang kamu cari dalam hidup?"

Florence hanya menjawab: "Ayah, aku butuh lebih dari sekadar uang." Ayahnya menggelengkan kepala dan pergi dengan marah.

(Bacalah cerita tersebut dua kali. Peragakan percakapan antara Florence dan ayahnya.)

 

2)   Ajukan pertanyaan Mengapa?

(Sesi diskusi kelompok berdua, 2 hingga 4 menit: laporkan kembali kepada seluruh kelompok setelah setiap pertanyaan.)

o   Bagaimana Anda bisa menggambarkan perasaan tentang Florence?

o   Kebahagiaan seperti apa yang ada dalam benak ayahnya?

o   Apa yang dikatakan Florence: "Aku butuh lebih dari sekadar uang?"

o   Apa lagi yang dia inginkan?"

o   Carilah contoh dari kehidupan Anda sendiri di mana Anda menilai dan berperilaku seperti yang dilakukan ayah Florence.

 

3)   Kita mendengarkan Tuhan

Tuhan tertarik pada kebahagiaan Florence dan kebahagiaan kita sendiri. Firman-Nya dapat menerangi situasi kita.

 

a)    Kita membaca teks tersebut:

Lukas 4:1-4 (Manusia tidak hidup hanya dari roti saja.)

 

b)    Kita mendengarkan dalam diam:

Bacalah teks itu lagi, perlahan. Jaga keheningan.

Atau: Pilih satu kata atau frasa pendek. Tetaplah diam setelah setiap kontribusi individu.

 

c)     Kita bisa berbagi bersama:

Kata atau frasa apa yang telah menyentuh hati Anda secara pribadi? (Belum ada diskusi.)

 

d)    Kita mencari bersama:

o   Apa hubungan teks ini dengan Florence?

o   Bagaimana teks ini menantang kehidupan kita sendiri?

 

4)   Mencari Akar Penyebab

Mari kita telusuri alasan yang lebih dalam mengapa banyak dari kita berpikir bahwa satu-satunya hal yang dapat membuat kita bahagia adalah uang.

 

a)    Kita mencari akar penyebab dari sikap kita:

Apa yang memengaruhi kita dan secara diam-diam memaksa kita untuk berpikir bahwa uang dapat membuat kita benar-benar bahagia?

(Pikirkan hal-hal yang membentuk opini publik.)

o   Buatlah daftar hal-hal yang Anda butuhkan agar bahagia.

o   Garis bawahi tiga hal terpenting yang Anda butuhkan untuk bahagia.

o   Manakah dari hal-hal ini yang dapat Anda beli dengan uang; dan manakah yang tidak dapat Anda beli di toko mana pun?

 

b)    Apa yang dikatakan dokumen-dokumen Gereja tentang pertanyaan kita?

"Manusia tidak dapat hidup tanpa cinta. Mereka tetap menjadi makhluk yang tidak dapat dipahami oleh diri mereka sendiri; hidup mereka tidak bermakna jika cinta tidak diungkapkan kepada mereka; jika mereka tidak bertemu dengan cinta; jika mereka tidak mengalaminya dan menjadikannya milik mereka sendiri; jika mereka tidak mengambil bagian secara intim di dalamnya" (Redemptor Hominis, 1979, No.10).

Paus Yohanes Paulus II memuji kemajuan modern yang telah membawa begitu banyak kebaikan bagi banyak orang. Namun, ia melanjutkan: "Tetapi pertanyaan itu terus muncul kembali... Apakah orang-orang dalam diri mereka sendiri benar-benar menjadi lebih baik, yaitu, lebih dewasa secara spiritual, lebih sadar akan "Martabat kemanusiaan mereka, menjadi lebih bertanggung jawab, lebih terbuka kepada orang lain, terutama kepada yang paling membutuhkan dan yang paling lemah, dan lebih siap memberi dan membantu semua orang?" (Redemptor Hominis, No. 15)

5)   Rencanakan dengan Tegas dan Penuh Kasih: beradaptasi, jangan menyerah.

Dunia, orang-orang di sekitar kita, kaum muda kita... bingung tentang kebahagiaan sejati. Kita sebagai orang Kristen memiliki tugas kenabian untuk mewartakan Kabar Baik, kabar yang dapat membuat orang bahagia.

Bagaimana Anda, sebagai sebuah komunitas, dapat memberikan kebahagiaan kepada orang lain yang tidak dapat dibeli dengan uang? Apa yang dapat Anda lakukan untuk membantu kaum muda menemukan jalan menuju nilai-nilai sejati yang hanya dapat membawa kebahagiaan?

Buatlah rencana, meskipun Anda masih bisa melakukan sedikit hal. Gunakan langkah-langkah berikut untuk menyepakati rencana tindakan yang konkret:

KESIMPULAN

Umat ​​awam Gereja telah menunjukkan keinginan mereka untuk berpartisipasi penuh dalam kehidupan Gereja dan misinya di dunia. Dalam beberapa kesempatan dan dalam pernyataan sebelumnya, para Uskup Asia telah mengakui pentingnya memberdayakan seluruh Umat Allah untuk menjadi tanda persekutuan dan menghidupi iman mereka dalam keadaan sehari-hari.

Pembentukan Komunitas Kristen Kecil dan BEC (Komunitas Basis Kristen) serta pertumbuhannya akan mewujudkan persekutuan dan misi yang sangat dirindukan oleh semua orang. Kebutuhan akan dukungan, pelatihan, evaluasi, dan kepercayaan yang berkelanjutan tidak dapat diremehkan. Pekerjaan ini baru saja dimulai.

 

D.   PERTANYAAN REFLEKSI

 

1.    Apa visi keuskupan Anda yang memberikan pencerahan dan arahan bagi semua upaya membangun KBG? Bagaimana visi tersebut diimplementasikan dalam semua program dan kegiatan keuskupan dan paroki?

2.    Bagaimana situasi terkini KBG di keuskupan Anda? Apa saja kesulitan yang mereka hadapi? Pendekatan apa saja yang telah mereka gunakan untuk memperluas dan mempertahankan komunitas tersebut?

3.    Kesulitan apa saja yang pernah Anda alami?

4.    Sebutkan keuntungan dan kerugian dari kedua cara memulai KBG.

 

MULAI DARI 'AHLI'

AWAL "KOMUNITAS"

1. Para pemimpin paroki memutuskan: "Kita harus memiliki KBG!"

1. Akhir pekan retret dengan tema "Jalan Baru"

 

2.  Pastor paroki menunjuk atau meminta sukarelawan untuk bergabung dengan "Tim Paroki." -Ia melatih tim tersebut untuk menyelenggarakan pertemuan KBG.

2.   "Menjadi Gereja" oleh sebuah tim kecil (keuskupan).

 

3. Tim Paroki membagi paroki menjadi zona dan kelompok KBG.

3. Tim Paroki dibentuk dan dilatih untuk memulai KBG.

4. Anggota Tim paroki memulai dan memimpin KBG di semua zona.

4.   Tim paroki dan anggota komite mengunjungi semua rumah.

 

5. Tim paroki melaksanakan AP di aula paroki dan / atau selama liturgi Minggu.

 

6.   Tim Paroki mengadakan 5 hingga 8 pertemuan awal di KBG, berdasarkan permintaan.

 

7.   Para pemimpin baru di KBG dilatih secara berkala.

 

=***=

 

  II.  KOMUNITAS GEREJA DASAR SEBAGAI MODEL GEREJA UNTUK ASIA OLEH USKUP AGUNG ORLANDO QUEVEDO

PENGANTAR

Topik ini telah menjadi perhatian utama pengalaman pastoral saya, dan sangat dekat di hati saya: Komunitas Dasar Gerejawi (BEC) sebagai Model Gereja.

Anehnya, KBG hanya disebutkan secara eksplisit dalam dua kesempatan dalam Instrumentum Laboris dari Sidang Khusus untuk Asia dari Sinode para uskup untuk Asia (sebagai "Komunitas Kristen Dasar"). Namun demikian, dalam kedua kesempatan tersebut Instrumentum Laboris menyebut KBG sebagai elemen positif, dan aspirasi Asia untuk komunitas murid yang benar-benar berbagi dan melayani.

Tugas saya sekarang relatif sederhana. Yaitu membahas KBG sebagai Model Gereja untuk Asia. Saya ingin mengembangkan topik ini dalam tiga langkah umum: (a) Situasi dan Visi Pastoral di Asia; (b) Visi tentang Cara Baru Menjadi Gereja; dan (c) Komunitas Dasar Gerejawi.

SITUASI DAN VISI PASTORAL DI ASIA

Sejak awal berdirinya Federasi Konferensi Uskup Asia (FABC), tiga wawasan utama mengenai situasi pastoral telah membimbing refleksi pastoral di antara para uskup FABC.

Yang pertama adalah kenyataan tragis bahwa Asia adalah benua luas yang dihuni oleh kaum miskin. Hampir tiga perempat dari penduduk miskin dunia berada di Asia (73% pada tahun 1993; Asia Selatan saja memiliki bagian terbesar dari penduduk miskin dunia, yaitu 39%). Meskipun penduduk miskin Asia mungkin bukan yang termiskin dari yang termiskin (karena tampaknya mereka tinggal di Afrika Sub-Sahara), kemiskinan pedesaan tetap merupakan aspek utama kemiskinan di Asia. Di sisi lain, media massa tampaknya lebih banyak membahas migrasi massal penduduk miskin pedesaan ke daerah perkotaan, dan situasi yang tidak manusiawi di mana jutaan orang miskin Asia tinggal di ratusan permukiman kumuh kota yang padat dan penuh kejahatan.

Menghadapi situasi kemiskinan yang sangat parah ini, Gereja Asia membayangkan sebuah Gereja yang berpihak pada kaum miskin, menunjukkan kasih yang istimewa kepada kaum miskin, dan mewartakan Injil keselamatan dan pembebasan yang menyeluruh dari segala bentuk dehumanisasi, terutama dosa. Ini adalah visi Gereja bagi kaum miskin.

Wawasan penting kedua mengenai situasi pastoral adalah kenyataan bahwa Asia merupakan tempat lahirnya agama-agama kuno dunia, termasuk Kristen, Islam, Buddha, Hindu, dan sejumlah agama serta tradisi dan filosofi kuno lainnya. Selama berabad-abad, bahkan sebelum Kristus, beberapa kepercayaan agama dan filosofis ini telah membentuk dan memperkaya peradaban Asia, dan melalui kepercayaan tersebut masyarakat Asia telah percaya pada keselamatan.

Dalam terang realitas pastoral ini, Gereja di Asia membayangkan dirinya sebagai Gereja yang berdialog dengan umat beragama dan berkeyakinan lain, menempuh perjalanan menuju harapan bersama seluruh umat manusia, yaitu untuk memenuhi aspirasi terdalam, terutama aspirasi spiritual, dari hati dan jiwa manusia. Gereja di Asia harus menjadi Gereja yang berdialog.

Wawasan kunci ketiga mengenai situasi pastoral adalah kenyataan bahwa Asia juga merupakan rumah bagi keanekaragaman budaya yang kaya dan kuno, matriks peradaban besar dan abadi. Pola pikir, cara menghargai dan berhubungan, cara hidup, dan semua elemen lain yang membentuk budaya Asia sangat berbeda dari yang membawa Kekristenan ke banyak negara Asia. Meskipun Kekristenan lahir di Asia, di banyak bagian benua ini, kekristenan dianggap sebagai "agama asing." Di beberapa negara, menjadi Kristen bahkan dapat menimbulkan pertanyaan tentang identitas budaya.

Dari pemahaman ini, para uskup Asia membayangkan Gereja untuk sepenuhnya diinkulturasi, sehingga Kristus, kehidupan dan pesan-Nya, Injil dan Kerajaan Allah, Gereja dan ajaran-ajarannya, dan lain-lain, dapat sepenuhnya dipahami dalam konteks budaya masing-masing. Melalui inkulturasi tersebut, Kristus dan Gereja akan benar-benar memiliki Wajah Asia.

Oleh karena itu, situasi pastoral menuntut dialog tiga arah: dengan kaum miskin, dengan keyakinan masyarakat, dan dengan budaya mereka.

Visi yang terkait sangatlah besar, tetapi setiap hari visi tersebut membimbing gereja-gereja lokal di Asia dalam upaya dan program pastoral mereka.

 

VISI TENTANG CARA BARU MENJADI GEREJA

Dalam interaksi dinamis antara situasi pastoral dan refleksi pastoral, telah muncul di Asia sebuah visi tentang "cara baru untuk menjadi Gereja."

Visi semacam itu akan ditemukan dalam sidang pleno FABC, di berbagai lembaga dan program pastoral FABC, seperti BIRA (Institut Uskup untuk Urusan Keagamaan), BILA (Institut Uskup untuk Kerasulan Awam), BIMA (Institut Uskup untuk Animasi Misionaris), dan BISA (Institut Uskup untuk Aksi Sosial).

Bagaimana visi Asia tentang cara baru dalam menjadi Gereja dapat digambarkan secara ringkas? Untuk menggambarkannya secara komprehensif dalam waktu yang tersedia. Hal itu tidak mungkin. Namun izinkan saya memberikan sintesis kasar dari beberapa komponen fundamental visi tersebut untuk keperluan simposium ini:

Mengingat kemiskinan yang sangat besar di kalangan masyarakat Asia, keberagaman kepercayaan mereka, dan kekayaan budaya mereka, Gereja di Asia harus menjadi Gereja bagi kaum miskin, Gereja yang berdialog, dan Gereja yang benar-benar terintegrasi dengan budaya setempat, yaitu Gereja yang sepenuhnya bercirikan Asia.

 

Gereja itu haruslah Gereja Persekutuan, umat yang bersekutu dengan Allah Tritunggal, dengan Gereja universal, dan dengan bangsa-bangsa serta budaya-budaya Asia. Ini adalah persekutuan komunitas-komunitas iman yang partisipatif.

 

Ini adalah Gereja Solidaritas, yang secara aktif bersolidaritas dengan kaum miskin dalam perjuangan mereka untuk meraih kehidupan yang penuh, bersolidaritas dengan ciptaan Tuhan, membela dan mempromosikan keutuhannya.

 

Sebagai umat Allah, Gereja ini dengan rendah hati menyertai, dengan rendah hati berjalan bersama, bangsa-bangsa Asia dalam perjalanan bersama menuju Kerajaan Allah, suatu Pemerintahan keadilan dan perdamaian, kebenaran dan kasih. Gereja ini merupakan tanda dari pemerintahan ilahi ini, dan membawa, sebagai pembawa kabar dan komunitas pelayan, Injil Yesus, Tuhan dan Juruselamat, yang adalah Kabar Baik Keselamatan dan Pembebasan Integral.

 

Oleh karena itu, Gereja di Asia harus berbicara, bertindak, dan hidup berdasarkan persekutuan yang mendalam dengan Roh Tuhan dalam spiritualitas integral yang benar-benar kontemplatif, dan karena itu benar-benar apostolik.

 

Demikianlah "cara baru menjadi Gereja di Asia," dan ini benar-benar tercermin dalam kehidupan Komunitas Gerejawi Dasar yang kini tumbuh seperti benih yang menjadi pertanda kehidupan penuh dalam Kerajaan Allah." (Sebuah kutipan, dengan sedikit perubahan, dari Orlando B. Quevedo, O.M.I., "Gambaran Umum Kolokium tentang Gereja di Asia pada Abad ke-21," Pattaya, Thailand, 25-31 Agustus 1997.)

Komponen utama dari visi tersebut adalah sebagai berikut:

  • Gereja Perjamuan Kudus;
  • Gereja yang berdialog dengan kaum miskin, budaya dan kepercayaan di Asia;
  •  Komunitas Pelayan, melayani dan dengan rendah hati membawa keselamatan dan
  •  Kabar Baik Yesus yang membebaskan;
  • seorang rekan peziarah bersama orang-orang dari agama lain menuju Kerajaan Allah;
  •  persekutuan komunitas-komunitas iman yang partisipatif;
  •  dipimpin oleh Roh Allah dalam spiritualitas integral;
  •  untuk menghidupi iman mereka kepada Yesus melalui perkataan dan kesaksian;
  • Visi tersebut dicontohkan dan diwujudkan dalam Komunitas Gerejawi Dasar.

KOMUNITAS GEREJA DASAR

 Dorongan FABC menuju BEC

 Dalam pemikiran para uskup FABC, Komunitas Gerejawi Dasar (atau di beberapa negara, Komunitas Manusiawi Dasar) jelas memegang tempat istimewa dalam visi mereka tentang cara baru menjadi Gereja.

Sidang Pleno Ketiga FABC, di Sampran, Bangkok, Thailand, pada tahun 1982, memperkuat apa yang telah diindikasikan oleh Kongres Misi Internasional Pertama di Manila (1979). Sidang Pleno mengeluarkan "Daftar Pokok Bahasan" yang mencakup hal-hal berikut:

Bahwa komunitas-komunitas gerejawi kecil di semua tingkatan kehidupan Gereja harus lebih luas dan intensif dipupuk, yang dicirikan oleh keterbukaan dan jangkauan mereka kepada masyarakat melalui penginjilan, pelayanan sosial, dialog, kerja sama ekumenis dan antaragama dengan orang-orang dari semua keyakinan, dan oleh persatuan erat mereka dengan para imam dan uskup mereka. (Gaudencio Rosales dan C.G. Arevalo, S.J., eds., Untuk Semua Orang di Asia, Dokumen FABC dari tahun 1970, 1991, [FAPA], hlm. 63).

Dalam silabus "Keprihatinan Misi" mereka sendiri, para peserta BIMA III, Trivandrum, Kerala, India, (30 November 1980), menyatakan hal-hal berikut:

10. Komunitas Kristen Dasar. Pembentukan komunitas Kristen di semua tingkatan merupakan elemen penting dari upaya gereja-gereja di Asia untuk melanjutkan tugas penginjilan mereka. Para peserta BIMA III sangat mendukung dan mendorong upaya tersebut (FAPA, hlm. 108).

Dengan cara yang lebih tegas, merujuk secara eksplisit pada visi tentang cara baru dalam menjadi Gereja, BISA VI (Levalle, Kandy, Sri Lanka, 4-8 Februari 1983), menekankan hal-hal berikut:

BISA V, ketika membahas masalah, "Apa artinya menjadi Gereja kaum miskin?" melihat Komunitas Kristen Dasar dan Komunitas Manusia Dasar (komunitas dengan non-Umat Kristen) sebagai respons penting dari Gereja. Perkembangan Komunitas Kristen Dasar dan Komunitas Kemanusiaan Dasar merupakan tanda harapan bahwa Gereja akan menjadi Gereja kaum miskin (FAPA, hlm. 225).

Akhirnya, Sidang Pleno FABC Kelima di Bandung, Indonesia, 27 Juli 1990, dengan tema "Berjalan Bersama Menuju Milenium Ketiga," secara eksplisit membahas tentang "cara baru menjadi gereja" sebagai tanggapan "pada tingkat keberadaan" terhadap tantangan milenium ketiga:

8.1.1 1) Gereja di Asia harus menjadi persekutuan komunitas, di mana kaum awam, kaum religius, dan para klerus saling mengenali dan menerima satu sama lain sebagai saudara dan saudari. Mereka dipanggil bersama oleh firman Allah yang, dipandang sebagai kehadiran quasi-sakramental dari Tuhan yang telah bangkit, menuntun mereka untuk membentuk komunitas-komunitas Kristen kecil (misalnya, kelompok-kelompok lingkungan, Komunitas Gerejawi Dasar, dan "komunitas perjanjian"). Di sana, mereka berdoa dan berbagi Injil Yesus bersama-sama, menghidupinya dalam kehidupan sehari-hari mereka sambil saling mendukung dan bekerja bersama, bersatu karena mereka "dalam satu pikiran dan hati" (FAPA, hlm. 287).

Sidang Pleno selanjutnya menyatakan bahwa persekutuan antar komunitas semacam itu harus menjadi saksi bagi Tuhan yang telah bangkit, menjangkau "orang-orang dari berbagai kepercayaan dan keyakinan dalam dialog kehidupan menuju pembebasan integral bagi semua," menjadi "ragi transformasi di dunia ini," dan "berfungsi sebagai tanda kenabian, berani menunjuk melampaui dunia ini kepada Kerajaan yang tak terkatakan yang akan datang sepenuhnya" (lihat FAPA, hlm. 288-89).

Memahami KBG

Mengapa Gereja Asia begitu bersemangat membangun Komunitas Dasar Gerejawi? Alasannya terletak pada hakikat BEC itu sendiri. Pada titik ini kita dapat bertanya: "Apa itu Komunitas Gerejawi Dasar?" Komunitas ini dikenal dengan berbagai nama seperti Komunitas Kristen Dasar, Gereja Lingkungan, Komunitas Kristen Kecil, Komunitas Iman Perjanjian. Di mana orang Kristen hidup bersama dengan orang-orang dari kepercayaan lain, mereka mencoba membangun "Komunitas Kemanusiaan Dasar (KKD)."

Untuk keperluan kita, izinkan saya menggunakan uraian tentang kolega saya sendiri, Uskup Francisco Claver, S.J., sebagai uraian kerja:

KKD (KDI)-nya adalah:

a)    komunitas orang beriman mana pun

b)    yang bertemu secara teratur

c)     biasanya di bawah kepemimpinan awam

d)    untuk menyatakan iman mereka dalam ibadah bersama;

e)    untuk membedakan secara iman mengenai masalah dan peluang dalam hidup mereka; dan

f)      untuk bertindak dengan iman terhadap masalah dan peluang yang sama

g)    dalam komunitas, sebagai komunitas ("Hati yang Baru dan Semangat yang Baru," Makalah Forum Pastoral Luzon Utara Pertama, 23-27 September 1996, hlm. 24).

Penjelasan lebih lanjut mengenai uraian di atas mencakup fakta bahwa KBG adalah komunitas kecil umat beriman (umat beriman yang bersekutu dengan Tuhan, satu sama lain, dengan para pemimpin mereka, dll.), biasanya di tingkat akar rumput. Dengan demikian, anggota komunitas dapat berinteraksi secara teratur satu sama lain, saling mengenal secara pribadi, saling peduli, dan saling berbagi. Mereka menganggap serius gagasan bahwa Gereja adalah "Umat Allah."

Komunitas mereka berpusat pada Firman Tuhan, dengan Ekaristi sebagai puncak perayaan komunitas. Etika partisipatif mengatur pertemuan rutin komunitas. Ada pembagian karunia melalui dialog dan tanggung jawab bersama. Kegiatan difasilitasi dan dipimpin oleh para pemimpin awam mereka sendiri. Pemahaman bersama mengenai kehidupan iman mereka dalam kaitannya dengan isu-isu sosial, ekonomi, dan politik merupakan ciri khas refleksi mereka terhadap Firman Tuhan. Pemahaman tersebut mengarah pada tindakan oleh komunitas, sebagai komunitas, yang melibatkan kesaksian dan tindakan kolaboratif. Perspektif KBG adalah Kerajaan Allah, "sekarang dan belum tiba." Motivasi penginjilan dasarnya adalah kasih, terutama kasih Kristen yang mengekspresikan dirinya dalam "pilihan untuk kaum miskin." Misinya adalah penginjilan integral. Spiritualitasnya berbasis Injil dan apostolik. Dengan demikian, ini adalah komunitas yang diinjili dan menginjili, komunitas yang diperbarui dan memperbarui, ragi Injil yang mengubah masyarakat luas.

Komunitas Dasar Gerejawi seperti yang dijelaskan di atas adalah gambaran kontemporer dari komunitas Kristen awal dalam Kisah Para Rasul. Komunitas Kristen ini berkumpul bersama dalam doa dan ibadah, menaati petunjuk para Rasul, memecah roti bersama, saling mengasihi, dan saling berbagi. Itu adalah komunitas di mana tidak ada seorang pun yang miskin, semua orang saling bersolidaritas.

Proses dan Tahapan Perkembangan

Di Asia, Komunitas Basis Gereja (KBG) biasanya berkembang karena visi dan rencana pastoral, baik di tingkat paroki maupun keuskupan. Langkah pertama adalah proses pen discernment bersama mengenai situasi pastoral (sosial, ekonomi, politik, budaya, dan agama). Analisis sosial, analisis budaya, dan analisis iman digunakan dalam proses pen discernment tersebut.

Proses perumusan visi pun dilakukan. Dalam terang situasi pastoral, komunitas seperti apa yang seharusnya menjadi umat Allah di wilayah geografis tertentu ini? Bagaimana mereka membayangkan diri mereka sebagai gereja? Misi macam apa yang Roh Kudus panggil mereka untuk laksanakan? Perumusan pernyataan visi-misi pun dilakukan.

Visi tersebut kemudian memandu proses pengambilan keputusan dan perencanaan tentang bagaimana visi tersebut dapat diwujudkan dan bagaimana komunitas yang diimpikan dapat menanggapi situasi pastoral dalam terang iman dan sumber daya komunitas.

Proses umum akan membutuhkan komponen-komponen berikut yang diperlukan untuk pembentukan dan pertumbuhan KBG:

§  katekese, pembentukan, dan penyadaran anggota komunitas;

§  pengorganisasian komunitas;

§ seleksi, pembentukan, dan pelatihan pemimpin awam dalam berbagai aspek seperti pengorganisasian dan kepemimpinan komunitas, katekese, liturgi, dan aksi sosial;

§  aksi atau mobilisasi komunitas

Dalam pertumbuhan Komunitas Dasar Gereja (KDG), beberapa tahapan dapat diamati: liturgis, pengembangan, dan pembebasan atau kenabian. Secara umum, KBG pertama-tama melalui tahap liturgis, di mana berkumpul untuk berdoa dan beribadah adalah kegiatan utama, dan terkadang satu-satunya. Ada juga tahap pengembangan, di mana Komunitas Dasar Gereja melampaui tahap doa menuju aksi sosial, untuk memenuhi beberapa kebutuhan sosial dan ekonomi, seperti proyek mata pencaharian. Akhirnya, KBG mungkin mencapai tahap kenabian, di mana ia bergulat dengan akar penyebab masalah sosial dan ekonominya, atau dengan isu-isu keadilan dan perdamaian, seperti masalah ekologi atau ketidakseimbangan struktur ekonomi dan politik. Semua isu dan keprihatinan ini dipahami secara partisipatif, ditangani secara kolaboratif dalam terang tanggung jawab bersama dan subsidiaritas. Dan di semua tahapan, refleksi penuh doa atas Firman Tuhan adalah komponen yang diperlukan.

Suatu metode pengambilan keputusan umumnya diadopsi oleh KBG. Metode ini adalah metode Spiral Pastoral. Metode ini dimulai dengan analisis situasi, berlanjut ke refleksi dalam iman, diikuti oleh pengambilan keputusan dan perencanaan implementasi keputusan. Spiral Pastoral diakhiri dengan tindakan (implementasi keputusan) dan evaluasi. Situasi baru muncul dari proses tersebut, dan spiral pastoral baru dimulai. Di banyak KBG, metode pengambilan keputusan komunitas ini dilakukan secara teratur oleh para anggota dan pemimpin mereka. Hal ini memastikan bahwa respons iman mereka berakar pada doa dan situasi aktual.

"Kebaruan" KBG

Jika KBG dianggap oleh para uskup FABC sebagai perwujudan nyata di tingkat akar rumput dari "cara baru untuk menjadi Gereja," lalu apa yang dimaksud dengan "kebaruan" ini?

Berdasarkan pengalaman saya sendiri dengan KBG, saya menemukan transformasi berikut yang terjadi pada individu dan komunitas:

 

a) Dari individualisme menuju komunitas, anggota BEC secara bertahap melepaskan sikap individualistis terkait keyakinan dan agama mereka (Tuhan dan diri sendiri), dan mulai memahami bahwa hal-hal tersebut memiliki hubungan mendasar dengan sesama (aku-Engkau-kita-dan-Tuhan).

b)  Dari sakramentalisme dan ritualisme menuju iman integral - anggota KBG mempertim-bangkan dan mempraktikkan iman mereka melampaui sekadar perayaan ritual dan sakramen, dan sangat menyadari implikasi sosial iman mereka terhadap misi Kristen dan kehidupan sehari-hari.

c)  Dari ketidakikutsertaan menuju tanggung jawab bersama dan partisipasi dalam KBG (Komunitas Basis Gereja), umat gereja didorong oleh iman mereka untuk berpartisipasi tidak hanya dalam kegiatan internal KBG mereka sendiri tetapi juga dalam jangkauan misi Gereja ke luar ke dalam komunitas sosial-politik, sebagai keharusan dari tanggung jawab bersama dalam misi.

d)  Dari karya belas kasih jasmani menuju keadilan – KBG sangat menyadari pentingnya karya amal tradisional, tetapi iman mereka mendorong mereka untuk berbuat lebih banyak dan, oleh karena itu, bertindak atas nama keadilan dan transformasi sosial.

e) Dari klerikalisme menuju berpusat pada awam di KBG, terjadi pergeseran paradigma mengenai peran klerus dan biarawan/biarawati serta peran kaum awam. Prinsip-prinsip tanggung jawab bersama dan subsidiaritas menentukan baik proses maupun tingkat pengambilan keputusan. Sebuah proses "de-klerikalisasi," dan "pemberdayaan awam" yang sesuai, terjadi di KBG.

Kelima gerakan transformasional ini terlihat jelas di tempat-tempat di mana KBG (Komunitas Basis Gereja) kuat. Kepemimpinan awam yang aktif dan kepemimpinan pelayan rohaniwan yang membangkitkan semangat merupakan ciri khasnya. Juga terlihat tanda-tanda perubahan mentalitas dalam hal pilihan bagi kaum miskin, perspektif Kerajaan Allah, keutamaan kesaksian dan ortopraksis (praktik yang benar), dan sejarah keselamatan sebagai sesuatu yang berkelanjutan. Sosok Yesus dalam Injil dikenal oleh anggota KBG sebagai nabi, penyembuh, pembebas, pendengar Kabar Baik bagi kaum miskin, sebagai "Allah yang menjadi miskin."

Masih banyak lagi hal-hal "baru" dalam Gereja di KBG (Komunitas Basis Gereja), tetapi apa yang telah saya sampaikan, saya harap, sudah cukup untuk keperluan seminar ini.

Kesimpulan

Izinkan saya mengakhiri presentasi saya dengan dua pengakuan resmi dari Komunitas Gerejawi Dasar:

[Komunitas Gerejawi Dasar] adalah tanda vitalitas di dalam Gereja, instrumen pembentukan dan penginjilan, dan titik awal yang kokoh bagi masyarakat baru yang didasarkan pada 'peradaban kasih'...

Komunitas-komunitas ini berakar di daerah-daerah yang kurang beruntung dan pedesaan, dan menjadi ragi kehidupan Kristen, kepedulian terhadap kaum miskin dan terabaikan, serta komitmen terhadap transformasi masyarakat. Di dalamnya, setiap orang Kristen mengalami komunitas, dan karena itu merasa bahwa ia memainkan peran aktif dan didorong untuk berbagi dalam tugas bersama. Dengan demikian, komunitas-komunitas ini menjadi sarana penginjilan dan pemberitaan awal Injil, serta sumber pelayanan baru. Pada saat yang sama, dengan diresapi oleh kasih Kristus, komunitas-komunitas ini juga menunjukkan bagaimana perpecahan, tribalisme, dan rasisme dapat diatasi. (Redemptoris Missio, 1990, no. 51)

Sinode Para Uskup pada tahun 1985 sebelumnya telah memberikan kesaksian:

Karena Gereja adalah persekutuan, "komunitas-komunitas dasar" yang baru, jika benar-benar hidup dalam kesatuan dengan Gereja, merupakan ekspresi sejati dari persekutuan dan sarana untuk membangun persekutuan yang lebih mendalam. Dengan demikian, hal ini menjadi alasan untuk harapan besar bagi kehidupan Gereja (Sidang Luar Biasa tahun 1985, Laporan Akhir, II, C, 6; dikutip dalam RM, no. 51).

Diterbitkan Januari 2000

FABC PAPERS adalah proyek Federasi Konferensi Uskup Asia (FABC), yang dirancang untuk menyampaikan pemikiran para ahli Asia kepada khalayak yang lebih luas dan untuk mengembangkan analisis kritis terhadap masalah-masalah yang dihadapi Gereja di Asia dari orang-orang yang berada di lapangan. Pendapat yang diungkapkan adalah pendapat penulis semata dan tidak selalu mewakili kebijakan resmi FABC atau Konferensi Episkopal anggotanya. Manuskrip selalu diterima dan dapat dikirim ke: FABC, 16 Caine Road, Hong Kong.

Referensi:

https://fabc.org/wp-content/uploads/2022/09/FABC-Papers-92i.pdf


[1]FABC (Federation of Asian Bishops' Conferences)

https://fabc.org

[2]Asian Colloquium on Ministries, 1977.

[3]Redemptoris Missio, N. 51.

[4]FABC V, Sidang Pleno, "Pernyataan Akhir," Bandung, 1990. Panduan diskusi ini telah disiapkan untuk lokakarya Sidang Pleno Ketujuh Federasi Konferensi Uskup Asia (FABC), yang diselenggarakan pada tanggal 3-12 Januari 2000, di "Baan Phu Waan," pusat pembinaan pastoral Keuskupan Agung Bangkok, Sampran, Thailand, dengan tema: "Gereja yang Diperbarui di Asia: Misi Kasih dan Pelayanan."

[5]FABC VI, Sidang Pleno, "Pernyataan Akhir," Manila, 1995, No. 14.1.

[6]Ibid, No. 14.2.

[7]Teks ASIPA, B/3.

[8]Pernyataan Uskup Joseph Kingsley Swampillai dari Sri Lanka, di ASIA FOCUS, 16 Januari 1998, hlm. 8.

[9]FABC VII, Sidang Pleno, Bangkok, 2000.

[10]Teks ASIPA, D/6.

[11]Program Penyadaran untuk Liturgi Minggu: Teks AsIPA, D/3, D/4, D/5.

[12]ASIPA TEXTS, B/4, hlm. 6-12."

[13]TEKS ASIPA, D/7.

[14]Konsili Vatikan II: LG 32.

[15]TEKS AsIPA, B/2.

[16]Joseph, Ti Kang, "Para Uskup dan Lairy," Vatikan, 2 Oktober 1995.

[17]Lobinger, Fritz, Menuju Kepemimpinan yang Tidak Dominan, No. 10 dari Seri Lumko, hlm. 9.

[18]Mrk. 16,12; Lk 24,13.

[19]"Teks ASIPA, A/6".

[20]"Teks ASIPA, A/7".

[21]Hirmer, Oswald, Penggunaan Alkitab dalam Pelayanan Pastoral, Metode Sharing Injil, No. 20, dari Seri Lumko, hlm. 72.