Kamis, 02 September 2010

GUA MARIA: ST. MARIA PENGANTARA SEGALA RAHMAT SUNGAILIAT



Repro: Alfons Liwun
Hantaran
“Santo Petrus heran melihat penghuni Surga begitu banyak. Dia kemudian bertanya kepada Yesus. “Yesus, kok penghuni Surga semakin banyak, padahal saya yang ditugaskan untuk menjaga pintu Surga saya terima sedikit kali yang masuk ke sini.” Yesus kemudian meminta Santo Petrus untuk mengecek kembali daftar hadir. Petrus kembali melaporkan bahwa memang saya terima sesuai dengan amal bakti umat yang telah mendukung Yesus. Mereka itulah yang saya terima untuk hidup berbahagia bersama kita disini. 

Ternyata, masuk ada jalur lain untuk masuk Surga. Jalur manakah itu? Ternyata Yesus tidak menolak jalan melalui Bunda-Nya sendiri, Bunda Maria. Petrus pun pergi bertemu Maria dan bertanya kepada Maria. ”Bu, apakah ada orang yang telah masuk Surga melalui Ibu? Dengan lantang Bunda Maria menjawab Petrus. ”Ya... mereka adalah anak-anakku, yang selalu berdoa Rosario. Mereka berdoa kepada Yesus, anakku melalui saya.”

Petrus pun tidak menjawab apa-apa. Dia kembali kepada Yesus dan berkata. ”Kalau begitu, selama ini percuma kalau diberi tugas untuk menjaga gerbang Surga ini. Ternyata masih ada jalan lain untuk masuk Surga dan hidup bahagia bersama Sang Guru. Jawab Yesus, ”Petrus, saudaraku. Tugasmu tidak sia-sia. Jalan untuk masuk Surga itu terbuka untuk semua orang yang beriman kepada saya. Kamu saya beri kunci untuk membuka pintu Surga. Soal masuk dan mengalami kebahagian adalah pilihan saya.”

Sepenggal ceritera tadi, merupakan sebuah ceritera yang dikisahkan oleh Uskup Pangkalpinang, Mgr. Hilarius Moa Nurak, SVD dalam acara pemberkatan peletakan batu pertama pembangunan Gua Maria Paroki Sungailiat. Paling kurang dengan ceritera ini  menguatkan dan mendorong umat Paroki Sungailiat yang selama ini memiliki kerinduan yang mendalam akan hadirnya gua Maria di Paroki Sungailiat. 

Alasan Hadirnya Gua Maria Paroki Sungailiat
Sesuatu yang telah lama direncanakan pasti akan ada. Apalagi rencana itu selalu dikuatkan dengan pola sosialisasi dan memohon dukungan dari banyak pihak. Bukan hanya itu, apalagi rencana itu selalu didoakan dan diminta secara terus menerus kepada Tuhan. Rencana itu akhirnya terjawab. Jawaban untuk menghadirkan Gua Maria pada moment yang tepat, yaitu sebagai hadiah yang tak terhingga 75 tahun Paroki Sungailiat (26 Juli 2009).

 Selain hadirnya gua Maria Sungailiat sebagai jawaban kerinduan umat yang selama ini mendoakan doa Rosario di depan arca Maria di dalam Gereja, juga sebagai sarana devosi bagi umat. Bahwa sebagai sarana devosi, umat Sungailiat memiliki kedekatan dengan Bunda Maria, dengan pelindung Paroki Sta. Maria Pengantara Segala Rahmat Sungailiat; juga ada banyak umat yang secara khusus masuk dalam anggota kelompok ”bentara Maria” yaitu Legio Maria. 

Pembangunan Gua Maria Sungailiat
Proses pembangunan Gua Maria dimulai dengan pengumuman kepada semua umat untuk memberikan informasi atau menggambar dena gua Maria, yang kemudian diberitahukan ke sekretariat Paroki. Hampir tiga bulan, ternyata tak ada informasi atau gambar dena yang masuk ke Paroki. Jalan lain yang ditempuh adalah koleksi photo-photo gua Maria yang umat kenal, yang selama ini dikunjung umat. Proses ini pun tidak ada informasi yang masuk ke Paroki.
Satu jalan yang ditempuh adalah proses pembangunan diserahkan kepada Panitia Pembangunan yang adalah Seksi Rencana Pembangunan dan Sosial Paroki. Di bawah pimpinan dan komando Carolus Willem Ruddy, (disapa sehari-hari Pak Wilem), proses pembangunan diterlaksana dengan mendatangkan Bruder Januar Husada, SSCC (Br. Yan, SS.CC) untuk melihat fokus penempatan arca Bunda Maria di sebelah kiri halaman rumah Katekis. Sesuai dengan petunjuk sang petunjuk, panitia mulai melaksanakan pembanunan. Maka tepat pada tanggal 27 Juli 2010, para tukang mulai mengukur dan memasang tiang pembangunan.

Mereka mulai dengan membangun tembok, latar belakang arca Maria berbentuk gua. Tukang yang didatangkan Pak Willem adalah kebanyakan adalah orang Melayu-Islam, Madura, tinggal di Kemujan Sungailiat. Hebatnya mereka membangun berdasarkan petunjuk sang panitia. Konsep-konsep yang dikumpulkan dan yang diungkapkan oleh Pak Willem, ternyata para tukang mampu untuk mengikutinya. Setelah gua diselesaikan, Pak Wilem mendatangkan arca Maria dari Serpong – Jakarta. Tinggi arca Maria lebih kurang 3 meter. Setelah selesai gua Maria, para tukang mulai menata halaman gua Maria dengan menanam rumput, bunga dan memasang pipa air. Halaman sekitarnya difinising oleh Pak Yohanes Jusman. Maka selesailah tempat devosi umat. Pembangunan Gua Maria berjalan hampir dua bulan. Umat sudah mulai pakai Gua Maria sejak 1 Oktober 2009. 

Gua Maria - Devosi kepada Bunda Maria
Bertepatan dengan penerimaan krisma sebanyak 185 orang pada tanggal 15 November 2009, Gua Maria dengan nama Sta. Maria Pengantara Segala Rahmat Sungailiat diresmikan dengan berkat oleh Mgr. Hilarius Moa Nurak, SVD. Kehadiran sebagai jawaban atas kerinduan umat Sungailiat bertahun-tahun, tidak hanya sampai disini. Kehadiran Gua Maria bermakna kalau umat selalu memanfaatkannya untuk berdoa dan devosi. Sebagai sarana doa dan devosi, terbuka untuk semua umat untuk melaksanakan peningkatan iman akan Yesus.

Dengan keterbuka kepada umum, maka jelas bahwa Gua Maria Sungailiat harus berada dalam kondisi yang bersih dan nyaman. Untuk mendukung kebersihan disekitar gua, maka kita perlu menjaganya dengan membuang sampah pada tong/kotak sampah yang disediahkan. Untuk kenyamanan, Gua Maria selalu dalam keadaan terang jika malam tiba. Lampu-lampu telah dipasang, tinggal dikontak dan hidup. Ke depan Gua Maria direncanakan akan dilengkapi dengan arca-arca jalan Salib yang cukup permanen dengan slide. Maka jika umat mau jalan salib, umat tidak perlu harus berjalan dan menitip jalan salib. Jalan Salib cukup dibantu dengan infokus dan layar data. Selain itu akan ada ruang doa permanen yang ada di sekitar gua Maria. Ini semua akan dihadirkan untuk mendukung devosi dan doa umat. 

Penutup:
Kehadiran Gua Maria Sungailiat merupakan dukungan banyak pihak baik umat Katolik internal Paroki maupun umat Katolik eksternal dari Paroki lain. Karena didukung oleh banyak pihak, maka Pastor, Suster dan DPP serta umat Paroki mengucapkan banyak terima kasih kepada banyak pihak yang telah dengan caranya masing-masing mendukung kehadiran sarana doa dan devosi ini.

Selain itu, juga dengan lapang hati, segenap umat mengucapkan terima kasih secara khusus kepada Panitia Pembangunan yang dikomando oleh Bapak Carolus Willem Ruddy yang telah terlibat secara penuh dalam proses pembangunan hingga selesai pembangunan. Mudah-mudahan ke depan, Gua Maria Sungailiat, sungguh-sungguh bermanfaat seperti ceritera Uskup Pangkalpinang dalam awal tulisan ini. Selamat memanfaatkan Gua Maria. ***

Jumat, 27 Agustus 2010

"DALAM KEBERSAMAAN MEMBANGUN KOMUNITAS BASIS GEREJANI"


Oleh: Alfons Liwun

Han dari suku Tiong Hoa, Tiara dan Hir dari Jawa dan Markus dari Iria Jaya. Mereka adalah siswa-siswi sekolah dasar negeri. Mereka merupakan murid Yesus. Wujud nyata kemuridan mereka nampak dalam hidup kebersamaan mereka di sekolah. Bahkan Yesus yang mereka ikuti dan imani dinyatakan secara berani dengan membuat tanda salib dalam doa mereka di dalam kelas ketika setiap kali masuk dan pulang sekolah. Suatu hari, sebelum pulang sekolah Han dipanggil guru kelasnya. ”Han, bapak beri waktu selama seminggu ini untuk melunasi SPPmu. Kalau tidak, Han tidak akan mengikuti ujian,”cetus guru kelasnya. Han binggung dan nampak loyo sekali ketika bertemu dengan ketiga temannya yang telah duduk menunggunya di sebuah sudut sekolah. ”Kami siap membantumu Han, kami akan meminta bantuan dari orangtua kami,” sepakat ketiga teman Han itu. Kesepakatan ketiga teman Han ternyata tidak digubris orangtua mereka. Karena kondisi orangtua ketiga teman Han pun, lumayan sulit secara ekonomi.

Cara hidup keempat siswa yang luwes, saling menghargai dan menghormati antara satu dengan yang lain, membuat mereka saling kenal secara mendalam. Cara hidup mereka ini memunculkan ide untuk membuat Barongsai dan mementaskan untuk umum. Tiara dari Jawa membawa kain batik, Markus dari Irian Jaya membawa beberapa warna cat yang diambilnya di bengkel bapaknya, Hir dari Jawa membawa sarang burung milik abangnya dan Han dari suku Tiong Hoa menggambar dan memberikan petunjuk untuk bagaimana cara membuat barongsai. Setelah jadi barongsai, Hir dan Markus dan diikuti kedua teman yang lain menuju tempat bakso yang kebetulan tempat itu ramai dikunjung orang. Di tempat Bakso itulah, barongsai dipentaskan oleh keempat anak sekolah dasar itu.

Pementasan keempat anak dengan keahliannya masing-masing telah mengubah lingkungan itu menjadi sebuah tempat yang hidup, penuh kegembiraan dan mampu menghibur masyarakat yang ada disekitarnya. Bahkan bunyian tutupan panci, pengganti gong yang ditabu Tiara mendorong penabu beduk di sebuah mesjid di dekat situ mengisi bunyian gendang dalam irama barongsai. Partisipasi masyarakat sekitarnya yang menonton pentasan barongsai dengan menyumbangkan dana kepada keempat anak; ternyata cukup untuk membantu Han melunasi SPPnya. Han akhirnya lolos dari tunggakan dan mengikuti ujian seperti anak-anak sekolah lainnya.

Kisah di atas merupakan penggalan film ”Cheng Cheng Po” yang disutradarai oleh B.W Purba Negara; yang dibuka oleh Romo Petrus Santoso, MSF pada acara rekoleksi sehari untuk para anggota DPP, ketua kelompok dan fasilitator Paroki Sungailiat di Aula Hotel Tanjung Pesona pada tanggal 10 Agustus 2010. Pemutaran film yang berdurasi ± 30-an menit itu, memukau ke-37 peserta rekoleksi yang selama ini menjadi aktivis di komunitas basisnya. Untuk menjawab keterpesonaan peserta, mantan sekretaris Uskup Semarang meminta peserta yang terbagi dalam kelompok kaum muda, kelompok keluarga muda dan kelompok keluarga tua untuk berdiskusi dan memberikan tanggapan atas isi ”Cheng Cheng Po” dan diharapkan untuk menemukan masalah apa yang terjadi dalam KBG serta memberikan solusi atas persoalan yang kini dihadapi dalam KBG.

Dalam rapat pleno peserta rekoleksi yang telah belajar bersama atas kisah Cheng Cheng Po, peserta memberikan tanggapan bahwa kisah dalam Cheng Cheng Po memunculkan nilai keprihatinan atas hidup, kepedulian kepada orang lain dalam semangat kebersamaan, berani mengambil resiko dan jeli dalam melihat peluang, daya juang untuk mengatasi masalah dalam kebersamaan yang kreatif.

Selain peserta menemukan nilai-nilai positip yang muncul, ternyata film Cheng Cheng Po yang diproduser oleh Bernadheta Rismisari dan Yosep Anggi Noen itu, membantu peserta menemukan masalah yang dihadapi peserta rekoleksi dalam kelompok basisnya, misalnya masa bodoh dari anggota komunitas mengenai pertemuan kelompok, jarak tempat pertemuan kelompok yang berjauhan, rasa kesukuan: lingkungan tidak mendukung, kendala komunikasi: berupa bahasa, kurang berani untuk sharing, kurang ada rasa semangat untuk berkumpul: karena ekonomi, pertemuan yang relatif lama dan bertele-tele, kurang kepedulian terhadap sesama, perlu regenerasi ketua kelompok apalagi banyak ketua kelompok yang telah lanjut usia, kurang promosi panggilan, keluarga yang tidak semuanya katolik, faktor usia anggota kelompok yang rata-rata tua/lansia, dan masih memilih-milih tempat yang dipakai untuk kumpul (masih pandang orang).

Dari nilai-nilai dan persoalan yang ditemukan itu, peserta juga diajak oleh pastor yang kini menjadi sekretaris Provinsial MSF regio Jawa untuk memecahkan persoalan dalam komunitas basis dalam semangat kebersamaan yang sesuai dengan semangat yang dimiliki oleh komunitas perdana (Kis. 2:41-47). Karena bagaimanapun persoalan yang dihadapi oleh anggota dalam komunitas basis, komunitas basis itu sendiri merupakan ujung tombaknya Gereja. Wajah Gereja sekarang ada di komunitas basis. Karena itu sesuai dengan dasar hukum kanonik kita, “setia anggota berusaha untuk membangun Tubuh Mistik Kristus” yang adalah tugas semua anggota Gereja untuk menyerahkan tenaganya (Kan. 210) yang  dengan “cara masing-masing” (Kan. 209) sesuai dengan situasi yang dihadapi KBG untuk mencapai tujuan yang menjadi cita-cita bersama.

Sebelum akhir rapat pleno rekoleksi, pastor yang sering disapa pastor Santoso ini, memberikan motivasi kepada para aktivis KBG Paroki Sungailiat tentang misi. Dulu, misi untuk bangsa-bangsa lain-mereka yang belum mengenal Kristus. Misi sekarang bukan hanya ini. Misi sekarang juga adalah untuk orang-orang yang sudah mengenal Kristus tetapi tidak mempraktekan cara hidup Kristus, pendampingan iman kepada yang beriman dan praktek imannya. Ini yang sekarang disebut Gereja Reevangelisasi baru. Kobarkan semangat misi dalam KBG dengan situasi KBG masing-masing. Rekoleksi ditutup dengan misa yang dipimpin oleh romo pendamping rekoleksi, Romo Petrus Santoso, MSF. **fbr**

Kamis, 26 Agustus 2010

"SIANTAN: PULAU IMPIAN"


Oleh: Alfons Liwun

Siantan adalah nama sebuah pulau besar dalam gugusan Kepulauan Anambas. Pusat Pulau Siantan berada di Tarempa, kota Kecamatan Siantan, dulu masuk dalam Kabupaten Kepulauan Natuna Propinsi Kepulauan Riau. Namun sejak tahun 2006 pusat Pulau Siantan menjadi pusat Kabupaten Kepulauan Anambas. Pusat Siantan yaitu Terempa terletak dibibit pantai Pulau Siantan. Kota tua sejak jaman Belanda dan Jepang, sebagai pusat kewardanaan Kepulauan Tujuh. Pulau Siantar sendiri dikelilingi oleh banyak pulau kecil. Mungkin inilah yang menjadi salah satu alasan Pulau Sintan menjadi ibu Kota Kabupaten Kepulauan Anambas.

Kepulauan Anambas ada beberapa pulau besar, seperti Pulau Matak, Pulau Jemaja dan Pulau Siantan sendiri. Ketiga pulau besar ini memiliki kedudukan yang sangat penting; yang besar pengaruhnya untuk pulau-pulau kecil di sekitarnya. Pulau Siantan adalah pusat Kabupaten, pusat pelabuhan Pelni dan pusat pangkalan pasukan Angkatan Laut untuk wilayah Laut Cina Selatan. Pulau Matak menjadi pusat pertambangan gas dan minyak bumi yang dikelola oleh perusahan Canoco Philips Indonesia Tbk. Sedang Pulau Jemaja dengan pusatnya di Letung, pusat Kecamatan Jemaja, tempat persinggahan kapal Pelni di tengah laut dan pusat lalu lintas laut untuk keluar masuk ke wilayah Kepulauan Anambas dan Kepulauan Natuna.

Dalam tulisan ini, saya hanya mau mengungkapkan pengalaman saya selama berkarya di Kepulauan Anambas selama akhir Februari 2001 sampai dengan akhir 2004. Dan dalam penjelasan saya selanjutnya, fokus tulisan ini lebih banyak menceriterakan selama saya berada di Pulau Siantan. Untuk pengalamaan di pulau-pulau lain, saya hanya menyentuh sedikit. Tetapi paling kurang bisa memberikan kepada kita informasi dan prospek kita untuk di masa datang.

Geografis:
Banyak ceritera penduduk di Pulau Siantan bahwa bentuk Pulau Siantan jika dipantau dari udara, Pulau Siantan berbentuk Singa yang sedang menerkam. Ceritera yang beredar dikalangan masyarakat luas ini ternyata mencerminkan suasana penduduk penghuni Pulau Siantan ini. Bahwa asal usul penduduk pulau ini berasal dari para ”lanun” atau sering diformulasikan dengan ”pulau bagi para bajak laut”. Tempoe doloe, Pulau Siantan sering menjadi tempat persinggahan bagi para lanun, karena letak dan geografis yang strategis. Terempa, kota bibir pantai, ada sebuah kampung yang disebut masyarakat setempat dengan sebutan “Kampung Teluk”. Di kiri kanan teluk itu, batu-batuan yang cukup besar yang membentuk semacam gua yang mengikuti aliran sungai hingga muara sungai. Tempat inilah menjadi tempat persembunyian dan tempat pengambilan air minum bagi para lanun.

Pulau Siantan bukan tempat yang datar. Dari kejauhan, bila kita menumpang kapal Pelni, kita bisa memandang barisan bukit yang mengelilingi sebuah gunung yang sering disebut penduduk setempat dengan nama Gunung Siantan. Barisan bukit dan gunung Siantan terlihat masih hijau sekali. Hijau karena banyak pohon yang besar. Masih hutan. Tetapi juga ada perkebunan penduduk yang ditanami dengan berbagai jenis tanaman produktif. Karena itu, Pulau Siantan dan sekitarnya masih banyak tercurah hujan dari bulan September hingga bulan April. Klimaks pencurahan hujan terjadi pada bulan Desember dan Januari. Sehingga pada bulan-bulan itu, Terempa yang adalah pusat perkotaan kecil di bibir pantai menjadi pusat pertemuan aliran air hujan dari bukit dan gunung dengan hamparan gelombang dari air laut. 

Demografis
Hikayat yang hidup di kalangan masyarakat, asal usul penduduk Pulau Siantan dan sekitarnya adalah adalah ”suku laut.” Suku Laut adalah suku yang hidup di atas permukaan air laut. Perahu adalah rumah mereka. Selain menjadi rumah juga menjadi sarana mata pencaharian mereka di laut. Maka jelas bahwa pola pikir dan pola peradaban jauh berbeda dengan penduduk di jaman sekarang.

Populasi suku laut yang menghuni di Pulau Siantan dan sekitarnya tersingkir ketika terjadi urbanisasi besar-besar pada jaman penjajahan Belanda dan Jepang. Banyak suku melayu berdatangan yang dibawa para penjajah. Menyusul etnis Tiong Hoa dari suku Hakka (Hek) dan kemudian suku-suku lain. Sedang menurut tuturan Om Johanes (penduduk setempat memanggil Om Pendek) salah seorang warga dari Flores, bahwa dia datang ke Pulau Tujuh sejak tahun 1954. Asimilasi penduduk membawa efek yang cukup berbeda. Suku Laut bergeser semakin jauh. Tempat persinggahan terakhir bagi suku Laut di Pulau Mengkait. Nama Mengkait inilah yang dipersonifikasikan sebagai wajah suku laut yang masih tersisa dan terkait di Pulau berjendela Batu Kembar di tengah laut Pulau Mengkait.

Dari Pulau Mengkait, suku Laut bersinar lagi untuk mencari tempat singgahan dan berasimilasi di Pulau Matak, tepatnya di Dusun Air Sena. Di kedua tempat ini, perahu yang dulunya menjadi rumah, kini hanya menjadi alat pencaharian ikan dan kekayaan laut lainnya. Rumah mereka dibangun di atas permukaan air laut /di bibir pantai dengan bentuk rumah panggung. Walaupun kelihatan Suku Laut itu berkembang, tetapi sangat lamban, karena populasi sedikit dan tersingkir oleh suku yang mayoritas yaitu suku melayu.

Suku Melayu yang menghuni Pulau Siantan dan pulau-pulau sekitarnya jelas berasal dari Melayu Malaysia. Ini merupakan suatu prediksi umum karena bahasa Indonesia-Melayu Malaysia begitu kentara. Selain dari segi linguistik (bahasa), bisa dilihat dari sisi adat istiadat. Suku Melayu menjadi mayoritas. Mereka berkembang selain menempati posisi di struktur kepemerintahan juga menyusup sampai ke daerah bukit dan pedalaman yang rata-rata bermata pencaharian petani, nelayani, pedagang, pegawai baik di kantor pemerintah maupun di sekolah-sekolah.

Edukasi
Penduduk di Pulau Siantan masih jauh dari sistem dan pengelolaan pendidikan yang memadai. Bisa saja karena jauh dari pusat propinsi dan ibu kota negara. Memang, kalau diukur soal bisa atau tidak penduduk Siantan dan sekitarnya memiliki kemampuan membaca, boleh terbilang bisa. Namun jika diukur ratio pengetahuan, hemat saya masih jauh dari harapan. Karena rata-rata orang yang bekerja di perkantoran pemerintah dan sekolah-sekolah, kebanyakan orang yang berasal dari luar daerah, seperti Tanjungpinang, Batam, Sumatera dan Jawa.
Masyarakat Pulau Siantan dan sekitarnya bisa membaca berkat sekolah Tiong Hoa, yang sekarang menjadi SMP Negeri 2 Siantan. Sebuah sekolah lama sejak dari jaman penjajahan Belanda dan Jepang.

Sekarang, di Pulau Siantan dan sekitarnya sudah banyak sekolah dasar milik pemerintah dan di Pulau Siantan sendiri hanya dua sekolah menengah pertama(negeri 1 dan 2)  (SMP) dan satu sekolah menengah atas negeri (SMAN). Kehadiran SMP dan SMA ini dirasakan sangat membantu penduduk. Kalau tidak ada sekolah semacam ini, pasti orangtua akan mengirimkan anak-anak untuk sekolah di Tanjungpinang, Batam, Pekan Baru dan Jawa. Kehadiran SMP dan SMA ini telah mencetak banyak anak dari Kepulauan Anambas yang melanjutkan pendidikan tinggi di Tanjungpinang, Batam, Sumatera dan Jawa. Ini sesuatu yang luar biasa. Hemat saya pada 2015, banyak anak Kepulauan Anambas akan memiliki posisi yang amat penting untuk pemerintahan Kabupaten Kepulauan Anambas apalagi didukung dengan adanya UU Otonomi Daerah. Mengapa tidak? Banyak kekayaan alam yang bisa dimanfaatkan pemerintah dan masyarakat untuk peluang pendidikan bagi anak-anak Kepulauan Anambas.

Harta Karun – pendukung Ekonomi masyarakat
Hampir di semua pulau Kabupaten Kepulauan Anambass, kelihatannya masih hijau karena hutannya masih banyak. Selain itu, hampir seluruh perkebunan masyarakat Siantan ditanami dengan berbagai jenis pohon-pohonan yang menghasilkan buah. Ada beberapa jenis tanaman besar yang menjadi tanaman populer dan sungguh-sungguh menghasilkan komoditi penduduk adalah tanaman cengkeh, kelapa, durian, dan duku. Selain sumber komoditi penduduk Pulau Siantan dan sekitarnya yang telah disebutkan tadi, juga tanaman kecil dari perkebunan berupa nanas, ubi, cabe dan padi yang ditanam di Kampung Batu Tambun dan sekitarnya.

Selain harta karun berupa hasil perkebunan dan pertanian, masih lagi harta karun yang ada di laut berupa ikan dan hewan laut lainnya. Ada banyak ikan yang berkualitas tinggi yang laku di pasaran Singapura, Malaysia, Hongkong, Thailan dan Vietnam. Ada dua jenis ikan yang sering dipelihara masyarakat adalah ikan napoleon dan krapu. Selain kedua jenis ikan ini masih lagi yang juga tidak kalah kualitas adalah jenis teripang/gamad, lovster/udang, akar bahar, sirip hiu putih, jenis siput, tenggiring, kerisi, dan berbagai jenis ikan-ikan karang.

Hasil laut yang dicari penduduk Pulau Siantan dan sekitarnya ini selain dijual juga menjadi konsumsi orang baik sudah diolah dalam bentuk kerupuk dan berbagai jenis olahan lain. Maka jelas, tingkat kualitas orang di pulau-pulau itu sangat tinggi. Hanya sekarang, tinggal bagaimana anak-anak Kepulauan Anambas itu didorong untuk masuk dalam pendidikan yang lebih lanjut. Maka harta karun yang termahal yang merupakan modal dasar daerah yaitu sumber daya manusia.

Harta karun alam yang belum dikelola secara maksimal di Pulau Siantan adalah air terjun Siantan. Keberadaan air terjun berjarak belasan km dari Terempa. Kalau melalui kapal motor/pompong, alat transportasi laut lebih kurang satu setengah jam. Jika memakai speedbod, kapal cepat lebih kurang 45 menit. Air terjun Siantan amat besar. Mata airnya di gunung Siantan dan mengalir sampai ke laut. Airnya putih bersih dan jernih. Garis tengah air terjun lebih kurang 10 meter. Dari air terjun Siantan bisa diola menjadi pembangkit listrik tenaga air (PLTA), irigasi pertanian, bisa menjadi sumber air bersih pengganti air mineral aqua di pasar Terempa dan bisa ditata untuk menjadi obyek pariwisata. Kekayaan alam yang memberikan peluang usaha baik bagi pemerintah maupun para pengusaha Kabupaten Anambas ini hingga sekrang belum diinvestasi dan dikelola secara baik.

Satu lagi harta karun yang begitu populis ceritera dari para penatua penduduk di Pulau Siantan adalah ”harta karun peninggalan jaman dulu.” Harta karun ini ada karena bersangkutpautan dengan letak pulau Siantan dan sekitarnya yang strategis dalam zona internasional, yaitu antara pulau-pulau Timur Jauh. Dalam hubungan perdagangan jaman dulu, banyak kapal dagang baik dari wilayah Cina, Jepang, Malaysia, Brunai Darusalam, Hongkong, Thailan dan Vietnam serta Persia – Arab yang lewati perairan Laut Cina Selatan. Dan ”bajak laut” yang hadir dalam dekade itu telah merampas dan menyembunyikan harta harun di sekitar Pulau Siantan. Maka Pulau Siantan dan sekitarnya serta di kedalaman Laut Cina Selatan masih berjuta-juta harta karun yang masih harus dicari dan diambil untuk kepentingan bangsa dan negara ini.

Sosio Budaya
Populasi mayoritas penduduk Pulau Siantan dan sekitarnya adalah suku Melayu, jelas bahwa mereka beragama Islam dengan budaza khas Melayu. Dalam situasi sosial, jelas bahwa mereka hampir menguasai seluruh bidang kehidupan masyarakat terkecuali bidang perdagangan yang dipegang oleh etnis Tiong Hoa.

Dalam relasi hidup antar masyarakat, boleh terbilang bagus. Karena Kota Kabupaten itu kecil maka terlihat bahwa mereka saling kenal. Selama saya berada di Kepulauan Anambas, tidak ada persoalan dalam hidup sosial. Persoalan yang sering menjadi masalah adalah para pendatang dari luar negeri seperti para nelayan Thailan dan Vietnam yang masuk dan mencuri ikan di perairan Laut Cina Selatan. Mereka ini ditangkap oleh Angkatan Laut dan ditawan di Terempa.

Selain berbudaya khas Melayu, juga etnis Tiong Hoa yang memegang perekonomian masyarakat membawa serta budaya leluhur mereka. Maka di Terempa khususnya di Tanjung Baru, terdapat sebuah Vihara Budha dan Kong Fu Chu yang mendukung hidup iman mereka.

Walaupun di Pulau Siantan dan sekitarnya terdapat beberapa suku, namun jarang terdengar terjadi kawin mawin antar etnis.

Sosio Religius:
Di Pulau Sintan dan sekitarnya, mayoritas agama Islam. Mereka memiliki sebuah mesjid yang cukup besar di perbatasan antara Kampung Teluk dan Kampung Bakar Batu. Sedang di Batu Tambun dan pulau-pulau kecil sekitarnya terdapat banyak surau/langgar.

Selain agama Islam juga ada agama Katolik, Kristen, Budha dan Kong Fu Chu. Untuk kristen terdapat dua buah gereja kristen yaitu di dekat SMP Negeri 2 dan di tepi Jalan Kampung Baru menuju Batu Tambun. Sedangkan untuk Katolik terdapat tiga buah Gereja. Di Terempa Gereja Katolik di Kampung Baru dengan tiga tempat yang berbasis Katolik yaitu Kampung Baru, Kampung Teluk, dan Kampung Tanjung Batu. Dua Gereja Katolik yang lain terdapat di Pulau Mengkait dan di Dusun Air Sena, Pulau Matak.

Dicatat secara khusus di sini bahwa pemeluk agama Katolik adalah penduduk setempat yaitu dari etnis Tiong Hoa dan suku Laut. Menurut tuturan Om Johanes (Om Pendek), Katolik berada di Pulau Tujuh karena ada perantauan orang Maumere – Flores. Mereka kemudian menikah dengan penduduk setempat dan menetap di beberapa tempat seperti di Letung, Mengkait, Air Sena dan Terempa. Walaupun menetap di beberapa tempat tadi, tetapi dalam perayaan-perayaan besar Gereja, mereka berkumpul di Gereja Katolik Terempa, yang dibangun pada tahun 1972 (bdk. buku Sejarah Gereja Indonesia II, hal. 302).

Sedang untuk agama Budha dan Kong Fu Chu, mereka punya satu tempat ibadat di Terempa khususnya di Kampung Tanjung-Batu Balai. Tempat ibadat mereka ini cukup bagus dan strategis, karena berada di tempat yang tinggi dan dibangun di atas batu besar, menghadap ke Laut Cina Selatan.

Dalam setiap perayaan besar agama masing-masing, hemat saya mereka saling mendukung. Artinya mereka saling memberikan ruang dan waktu serta peluang untuk menjalankan ibadat. Syukur bahwa tidak terjadi apa-apa. Relasi antar pemeluk agama terlihat begitu rukun.

Kompendium:
Tulisan yang disampaikan ini berupa informasi yang saya alami selama berada di Pulau Siantan dan sekitarnya. Rasanya bahwa kalau berada di wilayah ini, ”terasa begitu terasing”, baik secara informasi maupun transportasi. Padahal, wilayah ini amat-sangat potensial dari segi harta karun.

Karena itu, tulisan ini membantu siapa saja, untuk menoleh ke wilayah ini, agar program pembagunan untuk wilayah-wilayah RI perbatas cukup diperhatikan dan mendapat prioritas yang cukup. Sayang, kalau wilayah yang potensial ini tidak ditataola dengan maksimal.

Satu hal yang harus diprioritas dalam pembangunan adalah ”membuka jejaringan melalui sarana prasarana transportasi baik laut maupun udara untuk akses horison dari dalam keluar atau sebaliknya. Kapal Pelni yang selama ini beroperasi ke wilayah ini tidak terlalu cukup. Padahal kebutuhan untuk keluar-masuk cukup banyak dimanfaatkan masyarakat setempat dan para pengusaha yang mau berinvestasi di wlayah ini.

Akhirnya, saya ucapkan terima kasih atas kebaikan dan toleran untuk banyak masyarakat yang ada di Pulau Siantan dan sekitarnya. ***


Kamis, 29 Juli 2010

BOPENG WAJAH BANGKA

oleh: Alfons Liwun
Bangka dalam peta nasional.Posisinya strategis yaitu antara negara-negara tetangga seperti Singapura, Malaysia, Brunai Darussalam, Muangthai. Posisi ini membuat Bangka menjadi daerah yang cocok untuk pariwisata. Tulisan atas komentar beberapa foto di bawah ini sebenarnya mau menampilkan wajah Bangka yang tidak ramah lingkungan.

Bangka Pulau Timah. Itulah yang sering disebut banyak orang. Dan memang benar! Tapi coba perhatikan wajah pulau ini kalau tambang timah semakin marak mengakibatkan wajah Bangka "Bopeng" yang hampir tidak bisa diperbaiki lagi. Bahkan kalau perbaiki menjadi kesulitan.

 Bekas tambang timah, menjadi kolong yang seakan-akan menjadi "danau buatan" Timah telah diambil, tinggal kolong yang hampir tidak terawat.

 Rumah/kamp tambang timah yang ada di samping kolong. Sebuah pemandangan yang menghiasi wajah bopeng pulau Timah.
Alat berat yang membedah wajah pulau Bangka. Hanya menggali tapi sulit untuk revitalisasi. Hanya mengoperasi tapi tidak mampu menjahit kembali.
Tanah yang ditinggalkan seperti inilah. Tidak ada lagi kehidupaan baru. Hanya mengandalkan proses alamiah. Tanah tersobek, bio-hayati mati. Mau apakah wajah Bangka ini? Mudah-mudahan ke depan semua warga memperhatikannya dan merevitalisasi lagi. Bangunlah bumi selaras lingkungan dan ramah kehidupan

Wajah bopeng Bangka hanya bisa diperbaiki lagi oleh para penghuninya. Jangan pernah masa bodoh dengan lingkungan. Pemanasan global semakin menjadi, lapisan O3 (ozon) semakin lebar, dan hayati di bumi semakin tidak nyaman. Ayo...tanamlah pohon sebanyak-banyaknya baik di rumah, di tempat kerja maupun di kebun sendiri. Tanaman sengon, salah satu tanaman yang cocok untuk kondisi tanah di Pulau Bangka. Mau buktikan silakan. Saya sudah buktikan di kebun saya. **












Minggu, 18 Juli 2010

BUNDA MARIA: PEREMPUAN YANG REFORMIS SEPANJANG MASA

oleh: Alfons Liwun

Pengantar

Masih ingat dibenak saya, bahwa pada tanggal 29 Oktober 2005 lalu, sebuah peristiwa yang tak terlupakan yaitu bersama rombongan kelompok basis Sta. Theresia I berziarah ke gua Maria Belinyu. Ziarah kami kali ini begitu istimewa karena bisa bermalam di perumahan Pomal, di Belinyu. Ziarah kami dimulai pukul 20.00, yang diawali dengan meniti Jalan Salib Maria menuju puncak Kalvari, tempat Yesus Disalibkan. Di atas puncak inilah kami dihantar oleh Rm. Felix Atawollo, Pr dalam sebuah renungan dengan topik ”Balada Penyaliban”. Renungan itu membongkar kasak-kusuk hati kami, melerai benang kusut perjuangan hidup manusia yang pada akhirnya bermuara pada kemenangan akan kebangkitan Tuhan. Bahwa kebangkitan Yesus mengangkat kembali kemanusiaan kita yang rapuh menjadi manusia sejati, asal mampu mengampuni sesama, menolong orang dalam kesusahan dan menguatkan sesama yang dilanda krisis dalam hidup. Ziarah kami berlanjut lagi hingga merenung peristiwa-peristiwa Rosario di depan arca Bunda Maria Tak Bercela.
Dihadapan arca Bunda Maria, para peziarah kelut, meniti rangkaian rosario hingga selesai. Dalam doa-doa rosario itu, para peziarah begitu khuzuk, saya sendiri dengan mata menatap tajam ke arca Maria. Saya melihat raut wajahnya yang berseri, parasnya begitu cantik dan halus, berwibawa penuh keibuan dan terberesit suatu kekuatan yang begitu revolusioner. Saya sungguh kagum ketika itu dihubungan dengan realitas hidup sehari-hari. Bahwa begitu banyak kaum ibu, lebih luas kaum perempuan belum maksimal terbebaskan dari kungkungan patriarkat. Muncul dalam benak saya, pertanyaan begini: Apakah kaum perempuan mampu meneruskan semangat reformis Bunda Maria? Kemanakah makna sebuah panggilan hidup doa rosario yang selama ini didaraskan? Untuk membantu perjuangkan hidup kita sehari-hari, tulisan kecil ini mengajak kita untuk membaca kembali magnificat Maria (Luk. 1: 46–55) sambil menimbah semangat hidup Bunda Maria yang penuh reformis; yang pernah dilaksanakannya dalam karyanya untuk mendampingi Yesus Puteranya.

Belajar dari Semangat Reformasi Bunda Maria:
Sejak lama Gereja Katolik menghormati Bunda Maria. Karena Maria adalah Bunda Tuhan Yesus, Juruselamat kita dan Bunda Gereja. Gereja Katolik sejagat mengkhususkan dua bulan sepanjang tahun untuk menghormati Maria-Ibu Yesus, yaitu bulan: Mei dan Oktober. Dalam kedua bulan itu umat Gereja Katolik seluruh dunia secara khuzuk dan terus menerus berdoa kepada Yesus melalui Bunda Maria (per Mariam Ad Jesu), berdoa rosario secara bergilir dari rumah ke rumah, membaca dan merenung kitab suci, dan berziarah ke gua-gua Maria. Itu berarti, Gereja melaksanakan isi Kitab Suci, khususnya dalam Injil Yohanes 2: 1-11, yang didalamnya Maria mengambil peranan sebagai pengantara antara tuan pesta dengan Yesus dalam krisis kekurangan anggur, sebuah simbol kewibawaan suatu perjamuan bagi si tuan pesta. 

Selain dua bulan khusus tadi, Gereja juga menghadirkan patung atau gambar Maria untuk dipajang di rumah-rumah kita ataupun di tempat ibadat dan gua. Ini sarana yang membantu kita dalam doa kepada Yesus melalui Maria. Dalam doa, kita tidak menyembah arca-patung (Maria atau Yesus atau santo-santa).
Jika kita melihat dan meneliti secara benar, semua arca dan gambar Maria yang ada dan beredar ditangan kita adalah lukisan Maria sebagai sosok perempuan yang halus, cantik, yang seringkali dengan tangan terkatup atau merentang terbuka, seolah-olah hidupnya diisi dengan doa dan pemberi rahmat melulu. Ini suatu lukisan seorang figur ibu Maria dari suatu zaman religius-devosional. Gambaran itu seakan-akan kita mengkotakkan ibu Maria, yang sejalan dengan perempuan dalam struktur patriarkat. Bahwa peran seorang ibu hanya terbatas pada urusan rumah tangga, mendidik, dan membesarkan anak, memasak dan mencuci, serta melayani suami. Betulkah bahwa lukisan Bunda Maria, sosok perempuan di zaman itu dan sekarang hanya memiliki kredibilitas yang demikian kaku?

Membaca, merenung, menafsir, dan mengambil langkah Baru
Hidup adalah suatu perjuangan untuk melewati proses. Didalam proses hidup itu, kita menenun jaringan peristiwa menjadi proses yang utuh. Kita kembali melihat pada Kitab Suci, Lukas, 1:46 – 55 bahwa lukisan Maria disana berbeda sekali dengan apa yang kita lihat dan perhatikan pada arca-patung. Maria juga melewati proses hidup. Maria berjuang untuk mendukung karya puteranya. Bunda Maria adalah seorang perempuan, seorang ibu yang perkasa, seorang tokoh reformis dari kelas bawah yang amat membantu kita dalam revolusi hidup baik secara rohani, politik, maupun ekonomi kita, yang diperjuangkan oleh Yesus Puteranya. Melalui madah Maria yang mengagumkan dalam Injil Lukas, 1:46—55, kita menemukan sebuah nyanyian pembebasan-revolusi.

Pertama: Revolusi Rohani: “Ia memperlihatkan kuasa-Nya dengan perbuatan tangan-Nya dan menceraiberaikan orang yang congkak hatinya.” Sebaliknya “rahmatnya turun-temurun bagi orang yang takwa. Maria memuji kebesaran kuasa Allah, karena rahmat penebusan yang diterimanya, yang membuat dirinya yang berasal dari kaum lemah menjadi manusia yang takwa, hanya percaya pada Allah.

Kedua, Revolusi politik: “Ia menurunkan orang-orang yang berkuasa dari takhtanya dan meninggikan orang yang rendah. Maria menunjukan visinya dengan menatap jauh akan kejadian yang sedang berlangsung dalam dunia dan dirinya. Bahwa akan terjadi pembalikkan arah kuasa duniawi kepada ”sisi kaum lemah.”

Ketiga, revolusi sosial-ekonomi: “Ia melimpahkan segala yang baik kepada orang yang lapar dan menyuruh orang kaya pergi dengan tangan hampa.” Setelah Maria menegaskan kebesaran Allah yang sudah terjadi dalam dirinya, karya Allah bukan hanya sampai disitu, tetapi Allah terus menerus bekerja dan masuk dalam sejarah hidup dunia. Allah mau dunia menjadi kerajaan-Nya, mau berkuasa atas dunia, didalamnya termasuk hidup sosial dan ekonomi dunia.

Penutup
Bunda Maria telah memberikan yang terbaik bagi dunia. Maria sudah lebih dulu menunjukkan jalan reformasi dalam hidup, baik rohani, politik, maupun sosial-ekonomi, yang dilihatnya bahwa didalamnya peran utamanya adalah Allah. Semangat Maria yang demikian ini, sebenarnya juga adalah semangat kita.

Karena telah lama kita sudah menggali semangat Maria dalam doa-doa dan devosi kita. Maria telah memberikan kita jalan keluar sebuah pembebasan dalam hidup baik secara rohani, politik, dan sosial-ekonomi. Masih beranikah kita untuk hidup dalam keterikatan sebuah struktur yang tanpa kompromistis? Kita terus menghormati Maria dalam hidup dengan meretas jalan pembebasan Maria, sambil bersama Maria kita menyanyikan pujiannya, ”Jiwaku memuliakan Tuhan, hatiku bergembira karena Allah Juruselamatku.” ***

Rabu, 07 Juli 2010

CURHAT PEREMPUAN YANG BERZINA DAN RELEVANSINYA DALAM PENGEOLAHAN MAKNA SEBUAH KONFLIK

Repro oleh: Alfons Liwun


”Jika anda tidak mau orang lain menceriterakan rahasia anda,
maka jangan ceriterakan rahasia anda pada mereka” (Seneca)

Hantaran:

Dalam dunia dewasa ini, banyak orang dengan berbagai macam cara mau mengekspresikan dirinya. Mengekspresian diri adalah suatu proses sadar untuk mengungkapkan diri (interen) keluar (eksteren) baik kepada orang dekatnya maupun kepada publik, kebanyakan orang. Yang terpenting dalam pengekspresian diri bukan cara/sarana yang dipakai tetapi apa yang terkandung didalam dirinya keluar kepada orang, dengan tujuan tertentu.

Penulis merepro kembali berkas-berkas ekspresi diri seorang perempuan yang berzina (boleh dibaca: Maria Magdalena) yang telah diungkapkannya pada proses penangkapannya yang menakutkan dirinya. Repro ceritera yang akan dirangkaikan di bawah ini dimaksudkan untuk mengajak para pembaca, untuk membaca dan menilainya sendiri. Ceritera ini mungkin kurang lengkap atau belum terlalu menukik untuk menjadi sebuah refleksi bagi kita. Namun lebih dari itu, ini hanya curhat. Mungkinkah sebuah curhat mampu mengubah hidup kita? Sekali lagi, tergantung kita yang menilai dan menjalaninya.

Curahan hati (curhat) sering kita lakukan. Curhat punya nilai dan tujuan tersendiri. Curhat perempuan yang berzina yang direpro kembali disini, jauh berbeda dengan curhat kebanyakan orang dewasa ini. Bedanya ialah mendapat pencerahan khusus dan tujuan yang dicita-citakan tercapai yaitu menemukan kembali jati dirinya yang tersobek dan hilang. Penemuan kembali jati dirinya bukan karena semata-mata berbela rasa si pendengar curhat, tapi karena sisa-sisa kekuatan yang ada dari si pencurhat mengola dirinya dan berjuang secara radikal untuk bangkit dan bergerak menuju Sang Guru. Curhat menjadi kekuatan yang mahadahsyat karena mampu mengubah habitus lama menjadi habitus baru. Mampu bangkit dari rutinitas hidupnya yang lama kepada permukaan realitas luas untuk memulai realitas baru yang sama sekali lain dari yang lain. Inilah repronya, selamat membaca semoga berguna gana bagi perjalanan hidup kita semua.

Waduh...Saya tertangkap
”Saya merasa sangat bosan dan tidak bahagia sama sekali; jiwa saya begitu kosong dan hampa, sampai-sampai saya tidak dapat membayangkan apa yang dapat memuaskannya-oh, bahkan kebahagiaan surgawai pun tidak (the Journals of Kierkegaard)

Isinkanlah saya mengungkapkan isi hati saya. Saya tidak tahu memulai curhat saya ini dari mana dan mau kemana. Namun yang terpenting bagi saya adalah saya telah ditangkap basah kuyup oleh ahli-ahli Taurat dan kaum Farisi.

Saya ditangkap karena saya kedapatan berzina. Saya dibawa ke hadapan Sang Guru. Dihadapan Sang Guru saya diadili dengan hukum Taurat Musa bahwa harus dihukum rajam dengan batu hingga mati. Mendengar gugatan para kaum elite Yahudi, sekujur tubuh saya gemetar ketakutan. Seluruh anggota tubuh saya dibasahi keringat panas dingin. Dalam benak hati saya muncul kalimat ini. “Ini saatnya saya harus mati, karena sungguh saya telah melanggar hukum Taurat.” Dibalik pengadilan saya, sebenarnya Sang Guru pun diadili. Mengapa? Karena kaum elite meminta jawaban Sang Guru yang sebenarnya. Pro terhadap hukum Taurat atau pro terhadap saya. Ini yang saya maksudkan Sang Guru pun diadili.

Ketika kaum elite meminta jawaban Sang Guru, telinga saya sungguh-sungguh berada dalam kondisi volume yang paling tinggi untuk stand by mendengar jawaban Sang Guru, walaupun saat itu saya telah memastikan bahwa Sang Guru akan pro terhadap hukum Taurat. Saya tahu ini karena Sang Guru termasuk orang yang taat pada hukum. Mau tahu buktinya? Ingat bahwa ketika genap delapan tahun, orangtua Sang Guru membawa-Nya menghadap Nabi Simeon di Bait Allah untuk disunat menurut Hukum Yahudi. Bahkan seterusnya Sang Guru selalu hadir dalam perayaan-perayaan kaumnya, menurut hukum budaya mereka. Misalnya umur dua belas tahun ikut perayaan paskah di Yerusalem.

Ternyata jawaban Sang Guru lain dari yang saya harapkan; yang membuat saya malu. Namun dalam balutan rasa malu itu, muncul dalam jiwaku suatu “tunas penyesalan” yang mempunyai kekuatan tersendiri dan mulai menjalar ke sekujur ragaku. Tanpa sadar, aku bangkit dari kenistaan dan tanpa malu lagi meransek maju duduk bersanding dengan Sang Guru. Kaum elite Yahudi perlahan-lahan mundur dari kerumunan dan pergi - tanpa menoleh dengan hati gusar, entah ke mana. Jawaban Sang Guru meneguhkan “arsip-arsip dalam bejana jiwaku” yang menggoreskan memori kelam kaum elite yang selama ini juga berrelasi dengan saya. Kenapa ya, Sang Guru tahu? Kenapa ya Sang Guru bisa memberikan jawaban seperti itu? “Barangsiapa yang tidak pernah bersalah, dia-lah yang lebih dulu melempari dengan batu?” Sebuah kalimat yang mencorengkan wajah kaum elite dan memotivasi saya untuk bangkit.

Setelah kejadian di siang bolong itu, saya pun disuruh Sang Guru untuk pergi, dengan pesan. “Pergilah, Aku pun tidak menghukumi engkau.” Sekali lagi, sebuah frase pengutusan bukan bebas untuk tetapi bebas dari. Dengan sisa rasa malu, saya pun pergi. Saya pun tidak mengeluarkan kata-kata untuk Sang Guru.

Qua Vadis?

“Kemanakah saya harus pergi?”, inilah sebuah pertanyaan yang terus menerus muncul dalam pikiranku. Kalau saya pergi ke tempat itu lagi, pada satu saat saya pun akan ditangkap lagi. Mungkin langsung dirajam dengan batu hingga babak belur dan mati, tanpa punya masa depan yang jelas, tanpa dibawa lagi ke hadapan Sang Guru.

Dalam kebingungan, saya lari ke padang gurun melewati aliran sungai dan menepi di sebuah gua di seberang sungai itu. Saya telah basah. Saya buka seluruh pakaian saya. Saya menyandar tubuh saya di tepi pintu gua. Dalam kesendirian itu, saya mengutuk diri saya. Saya minta agar ular-ular piton padang pasir datang dan menelan saya hidup-hidup. Saya biarkan tubuh saya digigit dan dimakan binatang-binatang buas padang pasir.

Di pintu masuk sebuah gua

Desiran angin padang pasir menerpa sekujur tubuh saya. Rasanya butiran angin padang pasir ada yang menyeruak masuk ke dalam pori-pori kulit saya. Bukan hanya masuk namun perlahan-lahan merambat ke kaki, tangan, dada, dan kepala saya. Akhirnya seluruh diri saya terasa dingin dan gemetaran. Saya perlahan-lahan membuka mata dan berusaha bangun untuk mengambil pakaian yang saya jemur tetapi rasanya semakin dingin dan berat. Saya pasrahkan diri, seperti seorang bayi mungil dan dalam hati saya bergeming “biarlah saya mati dengan cara demikian.”

Lalu apa yang terjadi? Seberkas cahaya terfokus pada mata saya. Silau sinar seakan menguatkan saya. Sesosok manusia dalam cahaya itu mendatangi saya. Saya bangkit dari tidur saya, tanpa sadar saya menggerakan tangan saya ke kepala, mengatur rambut saya, agar rambut saya yang terurai panjang bisa menutup seluruh tubuh saya. Mata saya tertuju pada cahaya dan sesosok manusia yang melangkah perlahan-lahan menuju saya. Saya melihat, biasan sinar yang menerangi pintu dan diri saya itu bergerak keluar masuk dalam tubuh sosok manusia itu, seperti bola pijar. Sosok manusia itu semakin mendekat dan saya pun merasa seperti terbakar. Dalam kesakitan karena sinar itu, saya bergeming “Jangan datangilah aku, aku telanjang! Biarkanlah aku berpakian dulu agar seluruh jubah yang pernah saya pakai habis terbakar bersama seluruh diri saya.”

Dengan berseleroh seperti itu, saya lalu mengambil baju dan saya memakainya. Sosok manusia itu berdiri di hadapan saya. Saya pun tidak segan-segan menatap-Nya. Perpaduan sinar mata memunculkan gelora jiwa saya. Dulu tatapan yang sama muncul gelora napsu, kini terasa perih yang menyakitkan karena terasa seperti distrum, yang menghangatkan jiwa saya yang terkulai. Strumnya bukan menghanguskan tetapi menyegarkan daun-daun hati yang akan melahirkan daun-daun muda yang segar dan menghijau. Perpaduan tatapan melahirkan inspirasi hidup baru.

Perpaduan tatapan, memberikan kepada saya untuk menjatuhkan pilihan “Kabar yang Baik atau kembali kepada hidup lamaku.” Dalam membuat pilihan, ternyata Kabar yang Baik, yang mendorong saya untuk tampil di depan umum sebagai tanda pertobatan saya. Perpaduan tatapan menggertakan saya untuk memulihkan sikap dan nilai hidup saya dari yang “bejat” kepada kesempurnaan hidup. Perpaduan tatapan menguatkan saya untuk menunjukkan sikap metanoia.
Di sebuah rumah – di Betania
“Ketololan seseorang merupakan keuntungan bagi yang lain;
karena tidak ada seorang pun sedemikian mendadak
menjadi makmur tanpa melalui kesalahan-kesalahan orang lain”(Francis Bacon)

Inilah saatnya bagi saya untuk memulihkan sikap-sikap saya yang merupakan hasil dari pengadilan dan perpaduan tatapan di sebuah gua di tepi sungai. Dengan keberanian, saya masuk ke dalam sebuah rumah di Betania, tempat Sang Guru datang melawati kaum elite Yahudi. Di depan kaum elite Yahudi, saya mencurahkan seluruh diri dan segala kekayaan yang saya miliki bagi Sang Guru. Dengan sikap berlutut disampaing balai, saya menunduk kepala, mencium kaki Sang Guru. Air mata saya tercurah di atas kakinya yang setiap hari berjalan kemana-mana membawa Kabar Keselamatan.

Lalu saya melap kakinya dengan minyak wangi yang termahal sebagai hadiah pertobatan saya di depan Sang Guru dan kaum elite Yahudi. Tentu kaum elite tercengang bahkan mengerti apa artinya perbuatan saya. Dengan perbuatan saya, kaum elite bukannya memuji dan membanggakan, tetapi malahan cemburu dan “berkilau-kilau seperti burung kutilang” terhadap Sang Guru. ”Mengapa ia lakukan ini semua? Minyak wangi yang termahal ini, kenapa ia tidak menjualnya untuk orang-orang kecil dan menderita? Suatu sikap kepalsuan untuk membela kaum pinggiran. Memang kaum elite hidupnya seperti itu. Mereka tidak mau bertobat walaupun sering kali mereka menjumpai Sang Guru. Keseringan menjumpai Sang Guru semestinya memunculkan sikap baru yang positip bukan sikap baru yang negatip dan berniat buruk. Sebenarnya tanpa sadar Sang Guru menjadikan saya alat pertobatan bagi mereka, tetapi mereka sendiri tidak sadar. Mereka mengerti tetapi tidak membiarkan hati mereka untuk menerima hal baru. Mereka menutup diri rapat-rapat. Benar bahwa mereka adalah seonggok mayat yang berjubah putih tetapi berjiwa harimau.

Pengalaman saya di Betania, telah mengubah hidup saya untuk hidup dalam mental set yang baru. Saya mulai berpakaian yang rapih dan bersih sebagai simbol ungkapan hati saya yang sudah bertobat. Rambut saya yang dulu terurai kini terikat rapi berkepang-kepang (plegmasin) bahkan ditutup dengan selembar kain sebagai tanda saya mulai menghargai diri saya dan hakekat kehadiran saya sebagai citra Tuhan. Pundi-pundi berisi minyak wangi yang mahal yang selama ini saya pakai untuk mewangi tubuh saya sebagai penggoda, kini saya jual dan saya mau memakainya untuk aroma spirit saya (spirit faitting) dalam karya pelayanan.

Tatapan mata saya yang selama ini hiruk pikuk memantau hal-hal yang sensual, kini dengan keredupan saya merenung dan memantau situasi riil seperti kemiskinan, kemelaratan, penderitaan, dan kekerasaan hidup yang karena kuasa kaum elite, untuk berani tampil dan membela setiap orang dalam tekanan hidup baik karena politik, budaya, sosial, ekonomi dan hukum.

Iluminasi sampai ke radix
”Saya tidak peduli apa yang akan terjadi pada diri saya,
selama perubahan itu menuju arah yang lebih baik” (William Feather)
Pengalaman perjumpaan dengan Sang Guru mulai dari pengadilan saya ketika ditangkap kaum elite, “pertemuan mistis di pintu sebuah gua di seberang sungai” dan di rumah seorang kaum elite Yahudi, mengusik saya untuk selalu keluar dan mengintip perjalanan Sang Guru, kemana dan dimana serta berkumpul dengan siapa. Pengalaman perjalanan Sang Guru bersama para murid-Nya, perlahan-lahan membekas dalam diri saya. Pengalaman yang membekas itu bukan hanya sebuah pengalaman biasa. Namun pengalaman itu luar biasa sebab selalu mendorong saya untuk semakin kuat menyaksikan pengalaman dahsyat yang terjadi mulai dari “ruang makan Yesus” hingga ke taman Getsemani. Dan dari Getsemani ke istana Pilatus menuju Golgota.

Saya mencatat dalam lubuk hati saya, semua pengalaman yang saya alami ketika mengikut Sang Guru dari jauh. Kenapa saya mengikut-Nya dari jauh? Inilah sifat hakiki seseorang yang minder yang barusan menghadapi sebuah pengalaman yang memilukan. Untuk mengikut Sang Guru dengan latar belakang saya yang demikian apalagi pada waktu itu saya cukup terkenal, maka saya pun menyadari diri bahwa mengikuti Sang Guru membutuhkan waktu dan modal yang cukup. Mengapa saya menyebutkan demikian?

Alasan waktu adalah sebuah argumen alternatif. Mengapa alasan ini merupakan argumen alternatif? Waktu merupakan tridimensi - masa lalu, sekarang dan akan datang. Dalam hubungan dengan perjumpaan yang mengubah hidup yang terpuruk menjadi hidup baru, waktu bisa menjadi sebuah alat argumen pembelaan diri. Ya…kapan-kapan lah, baru bisa berubah, misalnya. Pernyataan seperti inilah yang saya sebut argumen alternatif. Jadi waktu bisa dipakai oleh banyak orang menjadi argumen pembelaan diri untuk tidak memulai dalam hidup baru. Yang saya mau katakan, yang terpenting sebenarnya tobat untuk keselamatan bukan tunggu dulu atau nanti. Tetapi justru “sekarang dan disini” (haec et nunc).

Alasan bahwa harus cukup modal merupakan suatu alasan primer. Apa yang harus menjadi modal untuk mengikut Sang Guru? Pertama-tama saya harus katakan bahwa mengikut Sang Guru harus ada penyangkalan diri. Penyangkal diri ini penting. Penyangkal diri artinya pergeseran hidup secara perlahan-lahan menuju hidup baru. Didalamnya punya niat yang bening, memiliki jiwa besar dan punya orientasi yang jelas. Perubahan hidup secara radikal memang tidaklah gampang. Bagi saya perubahan hidup secara radikal merupakan sebuah iluminasi yang berakar dalam suatu ruang khusus jiwa saya. Tanpa iluminasi ini dan hanya iluminasi biasa, hanya akan terjadi perubahan hidup yang sesaat saja. Maksudnya, sekali berubah untuk kebaikan, kebenaran, dan keadilan tidak akan berpulang lagi pada manusia lama yang terpuruk dalam jeratan dosa.

Mengikut Sang Guru dari jauh
”Dari jauh ketatap penuh pesona, pesona itu ternyata objek
yang mengintimkan diri demi suatu pergeseran nilai untuk kebaikan” (NN)
Hidup baru berarti hidup dalam relasi intim dengan Sang Guru. Bagi saya, perjumpaan dengan Sang Guru telah memacu saya untuk memulai babak baru. Mengikut Sang Guru mulai dari jauh itulah langkah kedua saya setelah merasa tergerak hati untuk keluar dari sikap keterpurukkan yang saya alami. Dalam pengalaman perjalanan saya mengikut Sang Guru dari jauh selama ini, rasanya seperti ceritera seorang buta yang disembuhkan-Nya bahwa secara perlahan-lahan, ia mulai melihat seperti bayangan pepohonan yang bergerak sampai melihat secara jelas dan terang.

Dengan spirit ala orang buta, saya pun merasa diri bahwa cara mengikut Sang Guru dari jauh, harus diubah dengan model pendekatan persuasif - memberanikan diri untuk bergabung dalam kelompok keduabelas orang. Dengan spirit ala orang buta, saya mulai mendekati diri dengan kelompok duabelas. Dan mulai saat itu, kemana Sang Guru pergi, saya selalu ikut dan belajar melayani dan belajar untuk hidup di depan publik. Saya menyadari bahwa dengan cara beginilah, saya selain semakin dekat dengan Sang Guru, mengenal kelompok 12 tetapi lebih jauh dari itu didalamnya saya berproses menggali potensi saya untuk mengarungi samudera hakikat kemanusiaan saya dan orang lain.

Mendekatkan diri dalam kelompok 12.

Kelompok 12 maksudnya jumlahnya ada 12 orang. Kelompok 12 adalah kelompok inti. Kelompok 12 adalah orang-orang pilihan Sang Guru sendiri melalui suatu proses pembelajaran yang cukup panjang. Kelompok 12 merupakan orang-orang yang setia, penuh kerelaan hati, dan rela berkurban setiap saat untuk mengikuti Sang Guru. Walaupun diantara mereka terkadang kurang kompak. Ijinkanlah saya menyebut kelompok 12 ini sebagai kelompok ”elite.” Karena selama saya mendekati dan bergaul dengan mereka, ternyata dari kelompok ini, mereka adalah orang-orang kecil, orang-orang pinggiran, orang-orang anonim yang memiliki semangat juang yang tinggi dan punya jaminan hidup yang layak di kemudian hari. Mereka memiliki materai hidup, sebagai tanda pengenal yang selalu melekat di hati mereka. ’Tiba saatnya, Aku akan pergi. Dan dimana Aku pergi, di situpun kamu ada bersama aku.” Karena ”bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu.” Jaminan seperti ini memotivasi saya juga untuk semakin erat melekat pada Sang Guru dan kelompok 12. ”Akulah pokok anggurnya, dan kamulah ranting-rantingnya.”

Jaminan bagi mereka yang dijanjikan Sang Guru, terus terang saja bahwa saya pun betul-betul tertarik. Karena itu, mulai saat itu, saya menghubungkan peristiwa perjumpaan ”sinar mistik” di depan pintu sebuah gua. Semakin dalam saya menerawang memikirkan pengalaman itu, juga sikap-sikap yang dimiliki kelompok 12, rasanya bagaikan struman listrik yang menyengat saya tetapi sekaligus juga mengundang saya untuk masuk dalam kelompok mereka yaitu ”dunia perjanjian dan jaminan mereka.”

Semakin jauh saya menerawang, semakin mengerti apa makna sebuah kehidupan yang tengah dijalani. Ternyata hidup yang ditempuh ini, hanya sebentar. Karena itu, hidup yang hanya sebentar itu, diisi dengan kegiatan-kegiatan yang bermakna baik bagi diri sendiri maupun bagi sesama yang ada di sekitar kita. Ketenggelaman saya dalam rutinitas hidup, kini saatnya untuk bangkit dan bergerak ke permukaan realitas hidup yang lebih luas. Dengan demikian, hidup adalah perjuangan memaknai apa yang telah ditenunin dan menjahit makna hidup yang telah koyak. ***
”Jangan pernah berhenti menyakini,
kalau hidup ini akan menjadi lebih baik,
baik bagi kehidupan anda sendiri
maupun bagi kehidupan orang lain” (André Gide)


Refleksi kita, apa?
”Larilah sekuat tenagamu untuk mencapai tujuan yang diimpikan;
lalu tanyakan pada dirimu, kemana engkau harus tuju?” (NN)
Jahitan repro ceritera tadi, penuh dengan konflik batin dari tokoh utama Perempuan berzina (Maria Magdalena). Konfliknya bersettingkan kecemasan yang tertaut dalam ketakutan. Konflik inilah yang kita refleksikan untuk memaknai suatu perjalanan hidup yang tengah kita lalui. Saya tidak menampilkan teori tentang konflik yang sering dipelajari di bangku studi.

Dari ceritera tadi, kita diberi peluang untuk merumuskan kembali konflik dan bagaimana mengola konflik itu menjadi sebuah peluang yang membongkar kecemasan dan memecahkan ketakutan yang meliliti diri. Agar kita pun mampu untuk menyikapi persoalan-persoalan hidup yang kita hadapi dalam dunia dewasa ini.

Saya dan anda ataupun siapa saja, dalam perjalanan waktu selalu tenggelam dalam realitas hidup. Realitas hidup yang saya maksudkan disini adalah rutinitas kerja ataupun kegiatan yang dilakukan secara terus menerus. Rutinitas setiap hari seseorang adalah perjuangan untuk memuaskan keinginan biologis dan psikologis. Dalam perjuangan ini, jati diri menjadi pertarungan sebuah makna yang hanya sesaat. Seluruh rangkaian potensi yang menyelimuti jati diri tersobek hanya karena suatu keinginan. Hidup yang sebenarnya merupakan suatu anugerah dan tugas yang harus diberi makna secara positip malahan menjadi sebuah asesoris palsu yang perlahan-lahan memudarkan jati diri.

Dengan begitu, manusia menjadi alienasi dengan jati dirinya tapi sekaligus memaknai jati dirinya secara lain dengan menerobos ke dalam suatu realitas hidup yang majemuk. Martin Heidegger (1889-1976) menyebutnya sebagai suatu ”keterlemparan” ke dalam sebuah kanal yang mahadashyat yang pada gilirannya menyebabkan manusia menjadi cemas dan takut untuk hidup. Kecemasan manusia akan hidupnya seakan tidak memiliki ”objek” yang jelas. Seakan-akan ”kosong”, ”gelap”, dan ”tanpa dasar.” Sedangkan dalam ketakutan manusia, objek yang ditakuti jelas. Memiliki dasar yang kuat yang dalam perjalanan hidup, manusia bisa mengatasinya. Dengan kata lain, kecemasan manusia jauh lebih luas ketimbang ketakutan manusia itu sendiri. Karena itu, hidup yang adalah perjuangan pemaknaan hidup, sebenarnya mencari solusi mengatasi ketakutan dan memaknai secara baru realitas kecemasan manusia itu sendiri.

Kembali kepada konflik Perempuan berzina, ia sendiri disadarkan dengan peristiwa penangkapan dirinya oleh kaum Farisis. Apakah tanpa tindakan kaum Farisi, ia mampu menemukan kembali jati dirinya yang sebenarnya? Entahlah! Satu hal yang pasti adalah peristiwa penangkapan Maria Magdalena telah membuat dirinya sadar akan seluruh rangkaian perbuatan yang selama ini dilakukannya. Penangkapan adalah suatu moment pemenggalan sinetron hidup dirinya. Penangkapan dirinya merupakan moment pengesetan kembali ”balada penyaliban dirinya” menjadi ”mazmur teduh” yang menghanyutkan dirinya untuk menggapai cita-cita, yaitu menenun kembali jati diri yang tersobek.

Apa yang ditenun Maria Magdalena? Menyusun kembali sejarah hidupnya dengan berlari mendiamkan diri sejenak di depan sebuah gua, di pinggiran sungai. Disinilah ia memulai membuat peta pengolahan konflik. Dalam kasah kusuk penyusunan peta pengolahan konflik, ia dibantu oleh pencerahan sinar misterius. Pencerahan di depan gua menjadi pemotivasi yang mengubah pola pikir dan pola bertindak yang lama menjadi pola pikir dan cara bertindak yang baru (habitus baru).

Peta pengolahan dirinya berproses dilaluinya. Mendekatkan diri pada Sang Guru yang dimulainya dari kejauhan, mengintip setiap gerak gerik perjalanan Sang Guru. Untuk mencapai kepada Sang Guru, pendekatannya dengan para murid dilakukankannya. Berdialog dan berusaha untuk memahami kelompok 12. Dan pada akhirnya, ia mampu mencapai garis terdepan, yang selalu duduk dekat kaki Sang Guru mendengarkan dan melaksanakan suara Sang Guru. Bahkan dalam penggalan repro ceritera lanjutan dari sumber kepingan repro, ia mampu meraih hati Sang Guru untuk menjadi seorang murid perempuan yang lebih dahulu mendapat rahmat kebangkitan.

Tanpa sadar atau tidak, peta perjalanan hidup kita dalam rutinitas, kita hampir setara dengan perempuan berzina. Karena terlalu tenggelam dalam rutinitas, kita lupa akan realitas luas yang ada di sekitar kita. Realitas yang luas itu, bisa menawarkan sesuatu yang lain, yang lebih baik tapi tidak terlalu buruk seperti rutinitas yang ada. Bagaimana kita bisa keluar dari rutinitas, yang seakan-akan mendera jati diri menjadi berkeping-keping untuk mengatasi rutinitas yang menakutkan dan menjembatani rutinitas agar kita tidak terlalu cemas? Kierkegaard (1813-1855) mengajak kita untuk menjembatan kecemasan yang gelap itu dengan membangun kembali relasi kita dengan Sang Guru. Atau istilah filsuf eksistensialis dengan ber-iman kepada Sang Guru. Dalam waktu menjawabi solusi rutinitas agar keluar dari kecemasan diri, Perempuan yang berzina dan Kierkegaard sama. Sebab dalam berrelasi dengan Sang Guru, proses pencerahan ada. Pencerahan yang ada itu mengisi kecemasan diri yang gelap sehingga menjadi pelaku baru yang terus memotivasi untuk beralih dari pola pikir dan bertindak yang lama menjadi pola pikir dan bertindak yang baru. ***

Sumber Kepingan Repro:
1.Yoh. 8:1-11: Perempuan yang berzina – Maria Magdalena.
2.Yoh. 12:1-8; Mat. 26:6-13; Mrk. 14:3-9; Luk. 7: 36-50: Yesus diurapi di Betania
3.Luk. 8: 1-3: Perempuan-perempuan yang melayani Yesus, termasuk Maria Magdalena
4.Mrk. 15: 42-47; Mat. 27:57-61; Luk. 23: 50-56; Yoh. 19:38-42.: Yesus dikuburkan, Maria Magdalena dan perempuan yang lain melihat Yesus dibaringkan.
5.Mrk. 16:1-8; Mat. 28:1-10; Luk. 24:1-12; Yoh. 20:1-10: Kebangkitan Yesus-Maria Magdalena pergi ke kubur Yesus membawa rempah2 untuk meminyaki jenazah Yesus.
6.Mrk. 16: 9-20: Yesus menampakan diri beberapa kali termasuk kepada Maria Magdalena.
Sumber Buku: Gudang Ilmu:
Thomas Hidya Tjaya, Kierkegaard dan Pergulatan Menjadi Diri Sendiri, Jakarta: KPG-PT. Gramedia, 2010.
=****=