Rabu, 02 Maret 2011
KABARI: PEDULI ANAK BEDUKANG
BEDUKANG – SUNGAI LIAT KABUPATEN BANGKA
”Jangan lihat barang atau harga dari barang yang diberikan oleh Kabari, karena itu bukan tujuan. Lihatlah tujuannya, yaitu mendukung dan mendorong anak-anak dan orangtua supaya setiap bulan giat menabung”, ungkap John Djanu Rombang kepada orang tua anak-anak yang hadir dalam temu anak-anak yang selama ini menabung di Kopdit Kabari Pangkalpinang (1/3/2011)
Anak-anak Bedukang sebanyak 8 orang yang selama ini dengan tekun setiap bulan menabung di Kopdit Kabari Pangkalpinang. Kedelapan anak itu terdiri dari: 3 anak sekolah di SD Negeri 8 Bedukang dan 5 orang lainnya masih anak-anak yang belum sekolah.
Afraela Ivemia Lala atau sering disapa Welci, salah seorang anak perempuan SD Kelas 3 mengungkapkan pengalaman menabung yang selama ini digelutinya sebagai berikut. ”Saya menabung hampir setahun. Sama dengan teman-teman saya yang lain. Saya menabung dari uang saya. Uang, saya dapat dari pemberian bapak dan ibu karena saya membantu mereka mengangkat tandan sawit untuk dijual. Nanti, kalau duit saya sudah banyak, akan saya pakai untuk biaya sekolah saya. Kan saya mau jadi perawat. Itu cita-cita saya.”
Beda dengan Lukas John, anak SD Kelas 5. John, yang sering disapa oleh teman-temannya itu menceriterakan ”Saya bisa menabung karena pulang sekolah saya ikut bapak dan ibu ke TI. Di sana saya ngelimbang timah. Timah yang saya dapat, saya jual dan kemudian saya menabung. Paling kurang setiap bulan Rp. 50.000 saya tabung. Mudah-mudahan uang itu bisa membiayai sekolah saya yang lebih tinggi lagi.”
Acara ”Kopdit Kabari Peduli Anak Bedukang” itu dihadiri belasan anak-anak dan orangtua anak. Kepedulian Kabari kepada anak-anak yang selama ini menabung berupa pemberiaan meja kecil untuk belajar kepada Lukas John, Welci dan Diana Mardiana. Juga berupa alat-alat makan-minum bagi Martinus Riandika Ariel, Elisabeth Lia Yunita, Romanus Viki Farel, Maria Nona Fransika, dan Claudya Yuni Asticha, anak-anak yang belum sekolah. Anak-anak itu, selama ini aktif menabung. Perlengkapan itu semua diserahkan Ibu Bie Lie kepada anak-anak di rumah Ibu Maria Bona di Bedukang.
Wajah anak-anak begitu antusias menerima pemberiaan Kabari. Bahkan setelah menerima pemberiaan, barang-barang yang diterimakan itu langsung diperagakan di depan orangtua dan para peserta yang hadir.
”Menabung itu penting. Kalau sejak kecil sudah terbiasa dengan menabung, kalau anak-anak sudah besar, pasti tidak akan boros, ungkap Ibu Bie Lie ketika memberikan semua perlengkapan itu kepada anak-anak.
Maria Bona, ketua KBG di St. Yohanes Pemandi, respons dengan begitu baik akan acara sederhana itu. Bona menegaskan bahwa menabung untuk anak-anak di sini, dalam waktu akan datang kami usahakan agar, semakin giat. Bukan hanya jumlah delapan orang saja, tetapi akan ada beberapa anak lagi yang akan bergabung di Kabari. Kalau untuk orangtua, kami punya tempat menabung sendiri yaitu di ”CU Sako Seng” yang setiap bulan dengan iuran bulanan Rp. 15.000.
Selasa, 18 Januari 2011
AKSI TIGA RAJA PAROKI SUNGAILIAT
AKSI TIGA RAJA
“JADILAH PEWARTA CILIK DI KOMUNITAS BASIS”
“Pembaptisan merupakan penyucian dosa atas seseorang. Pembaptisan sah secara Katolik terdiri dari dua unsur. Unsur format (rumusan dalam nama Bapa, Putra dan Roh Kudus) dan material (air mengalir, dan air yang dikucurkan). Pembaptisan bukan hanya dilakukan oleh imam tetapi bisa juga oleh orang awam, bila dalam keadaan mendesak. Misalnya seorang bayi yang terlahir lemah dan tidak dapat hidup lama lagi, dapat dibaptis oleh orangtuanya ataupun orang lain, bila orang itu dalam satu iman dan ini merupakan pembaptisan darurat,” ungkap Romo Aloysius Kriswinarto, MSF, dalam kotbahnya pada misa Pembaptisan Tuhan Yesus (9/1/2011).
Lebih lanjut, Romo Kris, yang telah dua tahun berkarya di Paroki Sungailiat itu, dihadapan umat Katolik Sungailiat mengungkapkan bahwa bacaan Injil pada pesta Penampakan Tuhan menunjukan kepada kita dilematis. Yohanes berkata kepada Yesus, ”Akulah yang seharusnya dibaptis oleh Engkau, bukan Engkau yang harus kubaptis.” Yohanes menganggap bahwa Yesus adalah seorang Mesias yang tak berdosa. Jadi tidak pantas Yesus dibaptis oleh Yohanes. Namun demikian, dengan pembaptisan Yesus oleh Yohanes, Yesus ”seolah-olah berdosa”. Hal yang sama pun ketika Yesus disalibkan. Bagi orang Pelestina, seseorang mati disalibkan adalah penjahat. Yesus, dianggap sebagai seorang penjahat. Dengan ungkapan yang demikian, Injil Matius mau mengungkapkan bahwa solidaritas atau kesetiakawanan Allah dengan manusia terlaksana dalam seluruh hidup manusia. Allah selalu hadir dalam hidup manusia. Allah menyertai umat-Nya.
Sebelum berkat penutup, Rm. Kris memanggil anak-anak yang selama ini aktif sekolah minggu baik di paroki maupun stasi untuk tampil di depan altar. Romo mengajak mereka berdoa bersama Doa Anak Misioner Indonesia. Setelah itu, pastor paroki memberikan berkat perutusan sambil berpesan anak-anak dan remaja yang terkasil, jadilah pewarta kecil di komunitas masing-masing.
Menjadi Misionaris Cilik di KBG
Semangat Natal bagi anak-anak dan remaja di paroki yang berpelindungkan Sta. Maria Pengantara Segala Rahmat, berkelanjutan dalam acara Pesta Keluarga Kudus. (26/12/2010). Semangat yang sama, anak-anak dibawah bimbingan orangtua diajak untuk membawakan nyayian dan tarian dalam pesta bersama kelaurga besar MSF.
Bukan hanya itu saja, tetapi lebih lanjut lagi, semangat anak-anak dan remaja itu berkesinambungan untuk menjadi misionaris cilik di komunitas basis, setelah misa pesta penampakan Tuhan Yesus (9/12/2010).
Untuk menjadi pewarta kecil di KBG, anak-anak sekolah minggu dan remaja dibagi dalam beberapa kelompok. Setiap kelompok didampingi oleh para pembina masing-masing. Kelompok St. Dominikus dan Yohanes Pemandi, langsung menjalankan misinya setelah pulang dari Gereja Paroki. Begitupun kelompok basis Sta. Maria Goretti, St. Theresia 1, St. Vincentius, St. Don Bosco, dan Stasi Pemali. Sedangkan kelompok St. Yosep, St. Petrus, St. Fransiskus Xaverius, Sta. Elisabeth, melaksanakan misinya pada sore hari.
Berdasarkan laporan Ibu Yovita Djanu Rombang, salah seorang pendamping aksi tiga raja, bahwa anak-anak yang berumur SEKAMI begitu banyak di KBG. Aksi tiga raja mereka begitu antusias. Mereka pingin tampil. Mereka pingin menyanyi bersama-sama. Dan bahkan mereka pingin untuk bersama dengan teman-temannya yang lain dari komunitas lain. Ke depan, aksi tiga raja perlu didamping dengan baik. Sejak kecil dilatih untuk membawa misi Yesus. ***maya – alf***
Selasa, 23 November 2010
RESENSI BUKU 75 TAHUN JUBILEE PAROKI SUNGAILIAT
Buku Kenangan 75 Thn. Paroki Sungailiat.
Ukuran: Panjang: 20 cm dan lebar: 14 cm.
Jumlah halaman: 256 dan 12 halaman plus iklan.
Percetakan: Sumber Sarana Prima (SSP)
Jl. Melintang 49, Telp. 0717-432134 Pangakalpinang Bangka
Harga per buku: Rp. 50 ribu rupiah, belum ditambah biaya ongkos kirim
Suara dari editor:
Sejarah Gereja Katolik Sungailiat:
Anugerah dan Tanggungjawab
In Memoriam 75 tahun Paroki Sungailiat dibawah perlindungan Sta. Maria Pengantara Segala Rahmat (Sta. Maria PSR Sungailiat) merupakan suatu anugerah dan tanggungjawab. Anugerah Allah menuntut tanggungjawab manusia yang menjawab panggilan-Nya. Sebagai suatu anugerah karena didalam perjalanan sejarahnya, walaupun ada begitu banyak kerikil-kerikil tajam baik yang datang dari dalam (internal) maupun dari luar (ekternal) namun semuanya itu telah menuai kesuksesan yang gemilang. Kesuksesan yang gemilang karena anugerah Allah. Kesuksesan telah dibuktikan dengan kekokohan kesatuan umat sebagai satu komunitas paroki yang besar, juga sampai dengan sekarang arah prioritas pembangunan umat jelas kepada keluarga, komunitas basis, kaum muda dan anak dan remaja (BIAR). Itu artinya bahwa dalam sejarah pembangunan, kita telah menempatkan subyek-subyek sebagai prioritas utama. Sebab subyek-subyek (manusia) adalah makhluk bermartabat yang mengarah pada tiga dimensi masa (masa lalu, masa sekarang, dan masa depan). Atau dengan kata lain, prioritas pembangunan jemaat telah menghidupkan manusia yang menyejarah yang mengarah kepada sebuah masa depan, namun tidak mengabaikan masa lalu dan saat ini. Kesuksesan juga telah dibuktikan dengan kehadiran secara fisik sebuah gereja paroki dan stasi yang kokoh, yang membuat kita merasa nyaman dalam setiap kegiatan perayaan gerejani.
Dari perjalanan ziarah umat dalam sejarah yang menuai keberhasilan, tentu kita yang menjadi anak-anak sejarah saat ini, dituntut untuk bertanggungjawab. Tanggungjawab kita pertama-tama melanjutkan karya perutusan Kristus bagi sesama sesuai dengan tritugas Kristus yang telah kita terima dalam Sakramen Pembaptisan. Tanggungjawab kita juga perlu diejawantahkan dalam keikutsertaan kita dalam proses pembangunan hidup iman baik secara pribadi maupun komunal di paroki dan di komunitas basis. Tanggungjawab kita pun dinyatakan secara jelas dalam pemeliharaan secara fisik gedung gereja dan sekitarnya sebagai wujud rasa hormat perjuangan para tokoh terdahulu yang dengan susah payah mendapat sebuah gedung gereja. Juga tanggungjawab kita tunjukkan dalam kebersamaan sebagai satu keluarga iman yang selalu menghormati heterogen bakat-talenta, suku, ras, dan golongan. Dan dalam segala tanggungjawab positif yang lain, kita perlu nyatakan kepada sesama kita yang lebih luas.
Buku Kenangan Jubille 75 Tahun Paroki Sungailiat
Proses Hadirnya Buku Kenangan:
Berawal dari keprihatinan para mantan panitia 68 tahun Paroki Sungailiat yang mengumpulkan data-data dan gambar-gambar kenangan paroki beberapa tahun terdahulu bahwa penyimpanan data dan gambar tidak maksimal baik. Banyak data dan gambar kenangan tidak terurus bahkan berserakan. Keprihatinan ini kemudian diungkapkan oleh Bpk. Cornelius Yohanan, salah seorang panitia pameran 68 tahun dalam rapat panitia jubilee 75 tahun. Bahwa ada baiknya juga dalam peristiwa jubilee 75 tahun paroki kita, diterbitkan semacam ”album kenangan” untuk peristiwa-peristiwa sejarah gereja kita yang telah lewat. Ide yang menarik ini ternyata mendapat sambutan hangat dari panitia jubilee 75 tahun. Ide tadi kemudian berkembang dalam rapat panitia menjadi sebuah diskusi hebat.
Memang diakui bahwa ada beberapa anggota panitia jubilee 75 tahun yang pro dan kontrak akan ide tadi. Pihak yang pro mendukung penerbitan album kenangan. Sedangkan pihak lain yang kontra, bukan album kenangan tetapi lebih baik dan bermutu jika diterbitkan ”buku kenangan”, sebagai hadiah untuk umat. Album kenangan yang dimaksud ialah proses pengumpulan/penyatuan kembali data-data dan gambar dengan menyusun setiap peristiwa dan diberi catatan refleksi atas peristiwa-peritiwa dan gambar yang mendukung. Dan proses ini dirasa tidak terlalu susah amat dalam pengerjaan. Sedang ”buku kenangan” adalah proses penulisan kembali sejarah Gereja Katolik Sungailiat baik berupa ceritera-ceritera lepas narasumber maupun studi pustaka (tertulis) yang dilengkapi data-data, gambar-gambar, dan komentar umat tentang kehidupan menggereja selama ini dan harapan kehidupan menggereja di masa depan.
Entah bagaimana terjadi sampai kehadiran buku kenangan, ini suatu proses yang menurut hemat saya merupakan tuntutan keberanian panggilan jiwa saya untuk membuat sebuah terobosan. Terobosan yang saya lalui pertama-tama membuat kerangka atas buku kenangan. Kerangka yang dibuat disidangkan didepan para Tim Buku. Ada beberapa pergeseran kerangka, namun tidak menjadi masalah. Intinya kerangka yang diajukan itu, tidak ada yang hilang. Hasil kerangka buku seperti terlihat dalam daftar isi buku kenangan ini.
Kerangka Buku Kenangan
Kerangka yang ada didalam daftar isi buku ini, hemat saya merupakan sebuah kerangka yang cukup sistimatis. Kerangka yang sistimatis itu mempunyai tekanan utama pada bagian ”Napak Tilas Sejarah Gereja Katolik Paroki Sungailiat” dan ”Pasca 75 Tahun Gereja Paroki Sungailiat:
Komentar, Kesan, Pesan, Dan Harapan Ke Depan Bagi Gereja Kita.” Kedua inti tulisan ini dilengkapi dengan “Arti Logo Sta. Maria Pengantara Segala Rahmat Sungailiat dan Visi - Misi Paroki Sungailiat” dalam bagian pendahuluan.
Selain itu, juga dilengkapi dengan bagian sambutan-sambutan dari beberapa tokoh Gereja kita dan bagian Sekilas Jejak Sta. Maria Pengantara Segala Rahmat berupa “Doa Sta. Maria Pengantara Segala Rahmat Sungailiat” yang diedit kembali oleh Pastor Aloysius Kriswinarto, MSF dan “Lagu Himne Sta. Maria Pengantara Segala Rahmat karya Rm. Frans Mukin, Pr” Hemat saya kerangka Buku Kenangan semakin sempurna lagi ketika ditambah photo-photo kenangan beberapa tahun yang silam yang menggambarkan bahwa ada berbagai kegiatan yang pernah dilaksanakan umat dalam paroki, juga data-data pembaptisan, krisma, perkawinan, dan lain-lain. Dan untuk mengenangkan para donatur baik dari kelompok basis maupun pribadi umat dalam dan luar paroki, dimasukkan juga ucapan selamat jubilee 75 tahun dan iklan-iklan Usaha Kecil dan Menengah (UKM) komunitas tertentu ataupun pribadi.
Membaca Buku Kenangan Jubilee 75 Tahun Paroki Sungailiat:
Isi, bahasa, bentuk tulisan, dan penulis:
Dalam bagian napak tilas sejarah Gereja Katolik Sungailiat secara umum, tercatat ada tiga belas tulisan. Tulisan (1-2) mengulas sepintas sejarah berupa terlibatan kaum tertahbis dan awam dalam mengokohkan kiprah Gereja Katolik di Sungailiat walaupun ada begitu banyak halangan baik secara interen maupun eksteren terkhusus dari pemerintah penjajah saat itu. Setiap kejadian yang dilengkapi dengan penyebutan tempat menandakan bahwa penulis memberikan suatu ingatan kepada kita bahwa di tempat itu, pernah direncanakan dan dilaksanakan oleh umat suatu karya sosial karikatip Gereja berdasarkan petunjuk hierarkis kita.
Tulisan (3-5) menceriterakan bahwa sekitar tahun 60-an, Gereja sungguh-sungguh hadir dengan bidang karya nyata untuk membantu kehidupan sosial ekonomi umat dan masyarakat pada umumnya, dan karya itu kini sirna. Selain itu, dengan karya karikatip yang sirna, pastoral Gereja kembali mengambil arah baru dalam keterlibatan umat. Penulis menceriterakan karya pastoral baru itu dengan keterlibatan umat yang nyata untuk membantu umat sendiri. Hal yang tidak kala penting juga adalah bahwa keterlibatan umat ternyata membuahkan hasil yang gemilang yaitu mengurus proses pendapatan sebuah gedung gereja.
Tulisan (6-12) memberikan kita satu hal penting bahwa ketika kita terlibat dalam membangun diri kita, kita punya arah yang jelas. Kemana kita tuju dan bagaimana cara kita mencapai tujuan itu. Ada beberapa karya nyata berupa DPP, jadwal pelayanan kelompok, Kartu Persembahan, Kesejahteraan, dan pelayanan kepralayaan, dan lain-lain sebagai bukti karya kita mendukung tujuan yang mau dicapai.
Tulisan (13), penulis adalah seoarang tertahbis yang pernah bertugas di Sungailiat. Beliau menceriterakan bahwa umat Sungailiat sungguh-sungguh peduli dengan karya Gereja baik karya kecil maupun karya besar. Dengan mengatakan bahwa umat Sungailiat sungguh-sungguh terlibat dalam karya pastoral, penulis ingin menyampaikan bahwa keterlibatan awam dan kaum tertahbis merupakan doa Bunda Maria. Hal ini ditegaskannya dalam ”Madah Sta. Maria PSR Sungailiat.”
Dalam bagian komentar, kesan, pesan, dan harapan umat Katolik dan beberapa pihak lain yang mengetahui karya pastoral Gereja Katolik Sungailiat, lebih banyak mempunyai komentar, kesan, dan pesan serta harapan yang cukup positip untuk kita. Para pembaca akan menemukan komentar umat kelompok seputar keterlibatan umat sendiri di kelompok basis dan paroki. Banyak tulisan komentar umat dalam bentuk tulisan hasil wawancara. Hanya ada beberapa saja yang berhasil ditulis oleh umat sendiri. Bagian ini pembaca juga akan menemukan suatu harapan umat akan karya pastoral Gereja yang semestinya mengena pada umat sendiri. Keterlibatan kaum tertahbis sangat dirindukan umat di kelompok hingga saat ini. Umat masih sangat menunggu kunjungan pastor dan petugas pastoral yang lain. Kunjungan bagi mereka adalah sebuah sapaan kedekatan yang mampu ”memuaskan” dahaga iman.
Tentang bahasa dan bentuk tulisan dari keseluruhan isi buku kenangan boleh terbilang sederhana. Secara linguistiknya, kadang struktur bahasanya merupakan struktur dan bahasa populer. Struktur dan bahasa yang mudah dimengerti oleh para pembaca. Hal ini dilatar belakangi oleh para penulis sendiri lebih banyak berpengalaman di Paroki Sungailiat. Karena pengalaman itu, para penulis bisa mengetahui situasi Sungailiat dan umat serta masyarakat pada umumnya.
Tentang para penulis buku ini, lebih banyak ditangani oleh kaum awam dengan latar belakang pendidikannya sendiri. Sehingga hasil tulisan mereka adalah khas mereka sendiri. Para penulisan sendiri adalah orang-orang dalam, orang-orang yang pernah berkarya di Sungailiat. Kepada para penulis dan responden yang telah diwawancarai, kita patut mengacungkan jempo karena mereka sendiri telah ikutserta dalam mengumpulkan data, sebagai pemerhati dan peduli akan situasi Gereja kita.
Sebagai akhir dari ”Suara Editor”, saya mengajak para pembaca untuk lebih tekun membaca, merenung, dan mudah-mudahan apa yang menjadi harapan untuk karya Gereja kita ke depan, bisa terjawab dan menjadi tanggungjawab bersama. Karya kita adalah karya Gereja, wujud penghayatan iman kita. Karya Gereja adalah suatu anugerah Allah. Dan karena suatu anugerah, maka menuntut tanggungjawab bersama dari kita. Akhir kata, saya atas nama seluruh panitia Tim Buku dan para panitia jubilee 75 tahun mengucapkan banyak terima kasih kepada bapa uskup, bimas katolik, para pastor, suster, bruder, tim percetakkan SSP Pangkalpinang, redaktur tabloi BERKAT, dan segenap umat. Mereka telah membantu TIM buku dengan caranya masing-masing. Selain itu, saya atas nama semua teman-teman Panitia Jubilee 75 memohon maaf atas segala kekurangan informasi dan yang menjadi isi buku ini. Kami mengharapkan ada kritik dan saran yang membangun yang bisa menyempurnakan buku ini.
Sungailiat, 17 Juli 2009
Editor: Alfons Liwun
Rabu, 17 November 2010
PHOTO-PHOTO REHAB TEMPAT IBADAT SEKAMI UMAT KATOLIK ST. YOHANES PEMANDI BEDUKANG -SUNGAILIAT
Dena rehab bangunan tempat doa SEKAMI-Umat Katolik St. Yohanes Pemandi, Paroki Sungailiat.
Bahan material untuk rehab tempat doa SEKAMI-Umat Katolik Bedukang Sungailiat. Tampak tukang, Bpk. Silvester Nong Manis, umat setempat.
Fondasi mulai dibangun. Lihat juga beberapa gambar berikutnya.
Perehaban tempat doa ini, mendapat gotongroyong dari umat setiap hari, dengan jadwal khusus. Sehaari umat yang membantu tukang sebanyak 5/6 orang. Semoga sukses selalu. **fbr**
PHOTO-PHOTO TEMPAT IBADAT SEKAMI UMAT KATOLIK ST. YOHANES PEMANDI BEDUKANG -SUNGAILIAT
Tampak dari depan. Dibangun oleh umat Katolik St. Yohanes Pemandi Bedukang Paroki Sungailiat.
Tampak dari samping kiri
Tampak dari samping kanan
Tampak dari dalam.
Partisipasi umat dari yang sederhana ini ditanggapi oleh Gereja Paroki. Dengan berusaha kembali merehabnya. rehabnya kini sejak 15 November 2010 sedang dalam perehaban.
Mudah-mudahan proses rehab berjalan dengan lancar. ***
TEMPAT IBADAT SEKAMI-UMAT KATOLIK ST. YOHANES PEMANDI BEDUKANG
Gereja Katolik Paroki Sta. Maria Pengantara Segala Rahmat Sungailiat, dalam pemetaan wilayah kepemerintahan, Paroki Sungailiat termasuk dalam wilayah pemerintahan Kabupanten Bangka Propinsi Kepulauan Bangka Belitung. Dalam pembagian wilayah karya pastoral, Paroki Sungailiat terdiri dari 15 Komunitas Basis Gerejani (KBG) dan 4 stasi. Salah satu stasinya adalah Stasi Bedukang yang masuk dalam wilayah Kecamatan Riau Silip Kabupaten Bangka.
Dari segi geografisnya, Stasi Bedukang terletak ± 20 km dari Kota Sungailiat, Kabupaten Bangka. Dari segi demografisnya, anggota Stasi Bedukang terdiri dari orang-orang perantauan asal Maumere Flores NTT, yang mayoritasnya beragama Katolik. Sehari-hari, masyarakat ini bekerja sebagai penambang timah inkonvensional (TI). Boleh dibilang kehidupannya pas-pasan. Jumlah anggota Stasi Bedukang : ± 32 KK dengan 120 jiwa.
Dalam pemetaan karya pastoral Gereja Paroki Sungailiat, Stasi Bedukang memiliki satu KBG yang disebut KBG St. Yohanes Pemandi. Pelayanan iman khususnya Misa untuk anggota stasi ini, dilaksanakan pada setiap Hari Minggu ke-2 setiap bulan. Sedangkan pertemuan KBG dilaksanakan pada setiap minggu pada Hari Sabtu Sore, jam 16.00.
Sedangkan pelayanan khusus kepada Anak dan Remaja yaitu SEKAMI adan BIAR dilaksanakan pada setiap Hari Jumat dan Sabtu Sore. Awalnya pertemuan ini dilaksanakan di rumah ketua KBG. Tetapi seiring dengan semangat Sinode I dan Sinode II yang akan dilaksanakan pada 2011, sejak Januari 2010, umat Stasi Bedukang berencana untuk membangun sebuah ”tempat ibadah SEKAMI”. Rencana itu semakin diperteguhkan pada bulan Maret 2010. Dan akhirnya pada April 2010, rencana itu terrealisasi dengan membangun ”tempat ibadah SEKAMI” dalam kondisi apa adanya.
Ketika ”tempat ibadah SEKAMI” itu telah berdiri dan telah dipakai, rasanya tempat ibadah ini kurang memadai, karena kondisi tempat ibadah itu cukup memprihatinkan. Pertama, karena kondisi atapnya mudah rusak ketika dihantam angin dan hujan. Kedua, tempat ibadah itu tidak memiliki fondasi sehingga kalau ada hujan, banjir akan masuk di daalam tempat itu. Ketiga, pintu dan jendelanya belum memiliki daunnya sehingga sering menjadi tempat bermainnya binatang-binatang sehingga kondisinya kotor.
Tempat Ibadat ini dibangun oleh umat sendiri, sebagai bentuk partisipasi mereka sebagai anggota Gereja yang berwajah partisipatif. Dengan dimulai dari umat, para pimpinan Paroki menanggapinya sebagai suatu partisipasi yang positif. Maka tanggapan paroki ialah memotivasi seluruh umat untuk kembali merehabnya kembali. dan sejak awal November 2010 rencana perehaban kembali terorganisir. Mudah-mudahan berjalan dengan baik berdasarkan rencana yang telah digariskan. ***
Langganan:
Postingan (Atom)
-
Catatan kecil ini dibuat oleh Alfons Liwun dari Pengantar RD. Frans Mukin pada pelatihan fasilitator KBG-KBG Paroki Regina Pacis-T...
-
Isi tulisan Mas Bambang Harsono: Saya kutip kembali isi tulisan Mas Bambang Harsono berikut ini: DOA HORMAT THS-THM. Manakah yang be...
-
(sebuah catatan kritis terhadap tulisan Mas Bambang Harsono tentang: DEMO (Pertunjukan) sebagai sarana Promosi THS-THM) Tulisan ...



