Kamis, 15 September 2011

SOSIALISASI KEPENDUDUKAN DAN KELUARGA BERENCANA DI GEDUNG WANITA KABUPATEN BANGKA

Gudung Wanita di Jalan Pemuda Sungailiat Kabupaten Bangka masih terlihat sepi. Padahal waktu pertemuan yang telah diinformasikan yaitu pukul 07.15 sudah lewat 45 menit. Bahkan jarum pendek tepat angka delapan dan jarum panjang menunjuk angka 12, pukul 08.00 wib pun belum ada panitia penyelenggara pertemuan sosialisasi kependudukan dan keluarga berencana. Herannya, rencana pertemuan yang mulai pukul 07.15 berjalan begitu saja tanpa diisi dengan kegiatan. Waktu yang disediakan untuk dimanfaatkan, rasanya begitu terbuang. Terabaikan.

Carpe Diem - Tangkaplah hari:
“Carpe diem”, tangkaplah hari – manfaatkan waktu yang berguna, rasanya telah terabaikan oleh banyak pihak, termasuk penyelenggara pertemuan itu.Tepat pukul 08.15, para peserta mulai berbondongan datang ke halaman Gedung Wanita. Para peserta mulai bertanya satu sama lain, jam berapa pertemuan itu dimulai. Rasanya tidak mungkin, para peserta bertanya soal waktu memulai pertemuan, sedang para penyelenggaranya belum juga muncul. Rupanya waktu pertemuan yang disampaikan melalui SMS dari satu peserta kepada peserta yang lain, berbeda.

Halim Setiawan, utusan Kong Fu Chu,  mengungkapkan bahwa memulai pertemuan yang disampaikan kepada saya pukul 08.00 wib. Para ibu, utusan Islam yang berada di dekat itu, menyatakan bahwa kepada kami diberitahu bahwa mulai pertemuan pukul 07.30 wib. Sedang kepada Lusia, utusan Katolik diberitahu bahwa mulai pertemuan pukul 07.15 wib. Dari segi waktu saja, pertemuan sosialisasi itu penuh ketidakpastian. Bahkan ketika memulai pertemuan pada pukul 08.30 ruang pertemuan di Gedung Wanita, belum dibuka dan masih dalam keadaan berantakan. Ruang belum diatur untuk siap pertemuan. Beruntung, ada beberapa ibu yang inap bersebelahan dengan Gedung Wanita itu datang untuk membersihkan.

Terhadap situasi awal semacam ini, saya mau katakan bahwa pertemuan sosialisasi itu, benar-benar miss comunication antara panitia penyelenggara dengan pengatur atau pelaksana lapangan bahkan telah membuat para peserta kebingungan untuk mengikuti sosialisasi. Apa yang mau diharapkan yaitu supaya pertemuan itu berbuah yang lebih lebat, mungkin hanya idealisme. Realisasi dari hasil pertemuan menjadi sebuah permenungan bagi saya secara pribadi.

Peserta Pertemuan :
Pertemuan sosialisasi itu baru dimulai pada pukul 09.15 wib. Peserta yang diundang 18 orang utusan dari Islam. Utusan Kristen Protestan dan HKBP sebanyak 5 orang. Kongfu Chu mengutus 10 orang sedang Katolik 2 orang. Perwakilan dari Departemen Kementerian Agama Kabupaten Bangka 5 orang. Sedangkan peserta lain yaitu 5 orang merupakan staff dari Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Propinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Pertemuan yang diwarnai urutan protekoler itu dimulai dengan sambutan dari wakil Departemen Kementerian Agama Kkabupaten Bangka. Warna khas yang terungkap adalah mohon maaf karena terlambat memulai pertemuan dan ketidakjelasan dalam waktu yang tidak disampaikan dalam surat undangan pertemuan. Karena memang informasi yang diterima dari propinsi belum jelas juga. Lebih jelas ketika lagi dua hari mulai mengedar surat undangan baru mendapat faxkan surat dari propinsi. Kami bersyukur bahwa kegiatan ini bisa dilaksanakan dan ini karena dukungan peserta yang bersedia hadir dan ikut sosialisasi ini.

Lebih lanjut, wakil Depag Kabupaten Bangka itu mengungkapkan penduduk Kabupaten Bangka 299.109 orang. Laju pertumbuhan penduduk pun begitu cepat. Pertumbuhan penduduk semakin bertambah dari tahun ke tahun karena ada yang kawin resmi, kawin tidak resmi dan migrasi dari daerah lain, karena mencari pekerjaan. Dengan melihat persoalan ini, kami mengundang tokoh agama di Kabupaten Bangka untuk hadir dalam sosialisasi kependudukan dan keluarga berencana. Maksudnya supaya setelah selesai pertemuan nanti, tokoh agama dengan bahasa yang lemah lembut akan mengajak umat beragama untuk memikirkan pertumbuhan dan perlambat penduduk sehingga hidup semakin sejahtera. Karena pertumbuhan dan pengaturan pendudukan dan keluarga berencana yang hidup sejahtera, tentu merupakan keinginan kita semua.

Kependudukan dan Keluarga Berencana:
Mediheryanto, SH mengawali penjelasan tentang Kependudukan dan Keluarga Berencana di depan 40-an peserta yang hadir di Gedung Wanita Sungailiat (12/9/2011) bahwa pembangunan Kependudukan dan Keluarga Berencana 2010-2014 merupakan salah satu program strategis. Hal ini dimaksudkan untuk menyiapkan sumber daya manusia yang berkualitas, berdaya saing dan berkarakter. Diakuinya bahwa hasil sensus penduduk 2010 mengindikasikan bahwa pertambahan dan pertumbuhan penduduk melebihi proyeksi maka perlu upaya percepatan dan strategi yang lebih inovatif.

Untuk mengendalikan kuantitas penduduk, Kabid Advokasi Penggerakan dan Informasi Perwakilan BKKBN Propinsi Babel, menyebutkan bahwa supaya visi BKKN yaitu penduduk tumbuh seimbang 2015, bisa dicapai, diperlukan pengendalian kelahiran, penurunan angka kematian, pengarahan mobilitas penduduk. Berbeda dengan kependudukan, Mediheryanto yang telah dikaruniahi dua anak, meyakinkan para peserta bahwa untuk kependudukan yang tumbuh seimbang maka diperlukan keluarga berencana yang mampu meningkatkan ketahanan keluarga dan meningkatkan kesejahteraan keluarga.

Mediheryanto mengingatkan peserta bahwa Propinsi Kep. Bangka Belitung, sebuah propinsi baru. Tentu banyak ”gulanya” sehingga tidak heran ada begitu banyak orang yang datang dari luar masuk ke propinsi kita. Sebelum tahun 2000-an tidak banyak orang menjual bakso di pinggir jalan macam sekarang ini. Sekarang, hampir dimana-mana selalu ada orang yang mendorong gerobak untuk menjual bakso, memikul tempat sol sepatu untuk sol sepatu dan di pinggir jalan telah begitu banyak para penjual pecel lele dan lebih dari itu di lobang camuy ada banyak orang yang menggali timah. Sykur kalau yang mengerjakan ini hanya beberapa orang. Jika mereka ini datang membawa keluarga artinya bahwa laju pertumbuhan penduduk di propinsi Babel sangat tinggi. Ini sebuah tantangan tetapi perlu diperhatikan supaya ditanggunglangi dengan baik.

Lebih lanjut, Mediheryanto menjelaskan bahwa masalah kependudukan bukan masalah yang gampang. Karena kependudukan adalah hal ihwal yang berkaitan dengan jumlah penduduk, struktur penduduk, pertumbuhan penduduk, mobilitas penduduk, kualitas penduduk dan kondisi kesejahteraan yang menyangkut: poleksosbud, agama serta lingkungan penduduk setempat.

Karena berhubungan dengan masalah kependudukan ini, akan berdampak pada penyediaan pangan, penyediaan perumahan, penyediaan sarana kesehatan, penyediaan sarana pendidikan dan penyediaan kesempatan kerja.

Terhadap permasalahan itu, setiap orang perlu diberikan sosialisasi menyangkut kependudukan dan keluarga berencana. Misi BKKN yaitu mewujudkan pembangunan yang berwawasan kependudukan dan mewujudkan keluarga kecil bahagia sejahtera, perlu digaungkan sampai ke pelosok-pelosok daerah sehingga lebih dikenal seperti pada masa ORDE BARU.

Untuk perkembangkan kependudukan dan pembangunan keluarga berencana, BKKN memiliki strategi pokok yaitu Menekan Laju pertumbuhan penduduk, dan merencanakan kelahiran dengan mewujudkan Keluarga Kecil Sehat Bahagia dan Sejahtera (KKSBS).

Dari strategi pokok ini kemudian dirumuskan beberapa strategi secara lebih rinci sebagai berikut: (1). Menggerakkan dan memberdayakan seluruh masyarakat dalam program Kependudukan dan Keluarga Berencana. Untuk mensukseskan strategi tadi diperlukan kegiatan advokasi dan KIE, penguatan lini lapangan, perkuatan kemitraan antar lembaga dan penyebarluasan data dan informasi.

(2). Penataan pengendalian kependudukan, perlu dijalankan penyerasian program kependudukan, penyiapan indikator dan parameter kependudukan yang akurat, penguatan analisis dampak kependudukan dan pemantapan program pendidikan kependudukan. (3). Peningkatan akses dan kualitas KB-KR, dibutuhkan kegiatan berupa: peningkatan akses dan kualitas pelayanan KB jalur pemerintah, peningkatan akses dan kualitas KB jalur swasta, peningkatan akses dan kualitas pelayanan KB di galcitas dan pengangulangan masalah-masalah kesehatan reproduksi.

(4). Memperkuat SDM operasional program KKB, untuk bisa menjalankan strategi di atas dibutuhkan pengelolaan SDM yang profesional dan penguatan SDM lini lapangan. (5). Meningkatkan ketahanan dan kesejahteraan keluarga,diperlukan kegiatan berupa membina keluarga Balita, membina keluarga remaja, membina keluarga lansia, dan meningkatkan usaha keluarga melalui pemberdayaan ekonomi keluarga.  (6). Meningkatkan pembiayaan program KKB, diperlukan prioritas anggaran pemerintah pusat dan daerah, terciptanya sistem jaminan pembiayaan program kependudukan dan KB khususnya bagi rakyat miskin, dan terjaminnya ketersediaan alat / obat kontrasepsi.

Peran Tokoh Agama dalam Kependudukan dan Keluarga Berencana
Mengapa para tokoh agama di Kabupaten Bangka diundang oleh Departemen Kementrian Agama Bangka untuk bertemu di Gedung Wanita? Ini satu pertanyaan yang muncul dalam diri dua peserta dari Katolik, Alfons Liwun dan Theresia Lusia Napitupulu.

Pertanyaan itu rupanya dijawab dalam paparan makalah H. Suhadi, S. Ag yang berjudul Peran Tokoh Agama dalam Program Kependudukan dan Keluarga Berencana. Dalam penjelasan ketua FAPSEDU Propinsi Kep. Babel, program kependudukan dan keluarga berencana yang dicanangkan dengan sasaran langsung PUS dan sasaran tidak langsung pada kelompok remaja dengan usia 15-19 tahun, organisasi-organisasi, tokoh agama, dan wilayah dengan laju pertumbuhan penduduk yang tinggi, perlu melibatkan para tokoh agama di Kabupaten Bangka. Peran tokoh agama sangat penting. Karena mereka mempunyai akses langsung kepada umat beragama baik melalui pendampingan sebelum menikah maupun berbagai kegiatan pembinaan seperti dakwah, kotbah, dan lain-lain.

Suhadi, yang sehari-hari bekerja di Depag Propinsi itu mendorong para tokoh agama untuk terlibat dalam program kependudukan dan keluarga berencana melalui tugas sebagai bidan KB, suatu tugas untuk membidani kelahiran keluarga baru. Selain tugas tadi, para tokoh agama pun bisa terlibat sebagai pelopor KB, sosialisator KKB, sebagai opinion leader KKB dan bisa sebagai tempat bertanya bagi keluarga-keluarga. Disinilah peran sesungguhnya, tokoh agama sebagai married conseling, sebagai penasihat bagi remaja atau keluarga atau pasangan yang akan menikah dengan harapan pasangan akan mempunyai pengetahuan dan pemahaman yang cukup dalam membentuk keluarga yang bahagia dan kualitas.

Pertemuan sosialisasi Kependudukan dan Keluarga Berencana selesai pada pukul 15.30. Sebelum pertemuan itu ditutup, BKKN Propinsi dan ketua Forum Antaragama Peduli Kesejahteraan dan Kependudukan (FAPSEDU) Propinsi menghendaki membentuk FAPSEDU Kabupaten Bangka, yang pertama di Indonesia untuk tingkat kabupaten. Rencana ke depan, para pengurus FAPSEDU Kabupaten Bangka akan menindak lanjuti hasil pertemuan sosialisasi ini. Semoga forum peduli kependudukan dan kesejahteraan bagi semua masyarakat ini dapat berjalan dan membantu banyak pihak. ***

Sabtu, 10 September 2011

SEMINARI MENENGAH MARIO JOHN BOEN KEUSKUPAN PANGKALPINANG

PENDIRI SEMINARI MENENGAH MARIO JOHN BOEN (SMMJB): Seminari Menengah Mario John Boen didirikan oleh Uskup Pangkalpinang, Mgr. Hilarius Moa Nurak SVD melalui SK nomor: 100/A.1b/2011 yang dikeluarkan di Pangkalpinang tanggal 30 Maret 2011.
SPIRITUALITAS SMMJB: Seminaris menjadi Garam dan Terang Dunia, mengikuti Cara hidup Rm. Mario John Boen dan Bp. Paulus Cen On Ngie yaitu: (1). openness, sacrifice and adventure; (2). fortiter in re (3). suaviter in modo.
VISI SMMJB: (1). Mengembangkan kualitas hidup fisik dan mental (sanitas / sebagai wujud kasih kepada diri sendiri) (2). Mengembangkan kualitas hidup spirualitas (sanctitas = hidup beriman / sebagai wujud kasih kepada Allah) (3). Menguasai ilmu pengetahuan (scientia = sebagai wujud kasih kepada ilmu pengetahuan dan peradaban) (4). Mengembangkan hidup berkomunikasi (socialites / sebagai wujud kasih kepada sesama).

TUJUAN SMMJB: (1). Seminaris menjadi pribadi yang sehat secara mental. (2). Seminaris menjadi pribadi yang matang dalam hidup doa dan kesaksian iman. (3). Seminaris menjadi pribadi yang memiliki ilmu pengetahuan dan menguasai teknologi. (4). Seminaris mampu menghayati hidup sosial, baik dalam hidup berkomunitas maupun hidup bermasyarakat.
STRATEGI SMMKB: Strategi untuk mencapai visi, misi dan tujuan tersebut tadi, diperjuangkan melalui bidang-bidang berikut: (a). Kesehatan Fisik dan Mental, melalui (1). Kurikulum pendidikan jasmani, kesehatan dan olaraga (2). Bimbingan dan konseling (3). Pendidikan seni dan budaya (4). Latihan kepemimpinan. (b). Kematangan dalam hidup rohani, meliputi: (1). Pembinaan rohani pribadi dan bersama-sama via rekoleksi dan retret (2). Pendalaman iman, KS, hidup doa, meditasi dan latihan rohani.
Memiliki ilmu pengetahuan dan menguasai teknologi, meliputi: (1). Kurdiknas dan kurikulum seminari (2). Kegiatan ilmiah: diskusi, seminar, dll. (c). Kemampuan Hidup Sosial, meliputi: (1). Pendidikan etika, disiplin dan tanggungjawan (2). Pendidikan karakter bangsa (3). Pendidikan ekologi (mulok) (4). Pendidikan budaya dan bahasa daerah. (d). Penyediaan sarana dan prasarana, melalui: (1). Sarana fisik (2). AD+ART dan pedoman hidup seminari (e). Tenaga pendidikan dan kependidikan, melalui: (1). Staff (2). Guru /tenaga pendidi (3). Tenaga kependidikan. (f). Pembiayaan, melalui: (1). Orangtua siswa/masyarakat (2). Bantuan pemerintah (3). Bantuan lembaga-lembaga gereja (4). Donatur tetap dan tidak tetap. (g). Proses, meliputi: (1). Proses belajar mengajar (2). Semua kegiatan extra kurikuler (3). Planning monitoring-supervise.

PENDAFTARAN: Pendafataran dimulai Agustus 2011 sampai dengan Januari 2012 di paroki masing-masing. Informasi selanjutnya melalui pastor/sekretariat paroki. Pendaftaran bagi siswa tamatan SMP***

Kamis, 08 September 2011

MARILAH KITA BERUBAH...

Kita berubah dalam hidup rohani, dalam hidup ekonomi, dan lain-lain”, ajak Bapa Uskup Pangkalpinang untuk umat Paroki Sungailiat, khususnya ke-43 penerima Sakramen Krisma, dalam kata pengantar misa Krisma di Gereja Paroki Sungailiat (28/8/2011). Ajakan Bapa Uskup berlandas pada surat rasul Paulus kepada umat di Roma. “Persembahkan dirimu untuk kemuliaan Allah.” (Rm. 12:1).

Lebih lanjut dalam kotbah, Mgr. Hila menjelaskan bahwa persembahkan diri merupakan ungkapam cinta, yaitu cinta kepada Allah dan cinta kepada manusia. Cinta diungkapkan dengan pelayanan. Dan pelayanan membutuhkan pengorbanan. Seseorang yang telah menerima sakramen krisma, ia telah dewasa. Ia secara penuh menjadi anggota Gereja. Maka ia mengungkapkan tanggungjawabnya dalam pelayananya dengan penuh pengorbanan.

Misa Krisma yang dipimpin Bapa Uskup Pangkalpinang itu dihadiri oleh umat Paroki Sungailiat termasuk umat yang berasal dari Stasi Pemali dan Bedukang. Karena minggu itu hanya ada sekali misa di Gereja Paroki.

Setelah misa, ke-43 penerima Krisma melanjutkan ramahtamah sederhana dengan Bapa Uskup, anggota DPP dan para pelayan tak lazim di aula paroki. Acara ramahtamah, diisi dengan dialog – persuasif antara Bapa Uskup dan peserta yang hadir. Dialog itu lebih pada umat bertanya, Bapa uskup menjawab.

Dialog persuasif: mendidik anak hingga tobat dan ekaristi
Peserta penerima sakramen Krisma telah berkumpul di aula. Juga anggota DPP Sungailiat dan beberapa pelayan tak lazim, terlihat di sana. Mudika St. Aloysius Gonzaga pun tak ketinggalan, walaupun masih duduk nongol di bangku luar aula sambil main hape. Bahkan anak SMP Maria Goretti yang berseragam sekolah pun hadir untuk mengisi acara dengan tarian dan nyanyian.

Walau demikian, pastor paroki dan Mgr. Hila belum sempat hadir. Yosef Syukur, juru photo moment krisma itu, kemudian menyampaikan kepada beberapa umat yang hadir bahwa pastor dan bapa uskup masih istirahat sebentar. Bapa Uskup masih capek. Mendengar itu, Paulus Pie Pie, koordinator sound system merespons dengan menghibur umat yang hadir dengan beberapa tembang lagu rohani. Tidak terasa bahwa hari itu sudah cukup siang.

Setengah jam kemudian, rombongan bapa uskup bersama para pastor dan ketua DPP pun memasuki aula. Umat yang hadir menyambut kehadiran bapa uskup dengan memberikan salam. Protokol, mas Wawan Kristian mempersilakan bapa uskup dan para pastor serta umat untuk duduk. Acara dialog antara Bapa uskup dan umat pun dimulai.

Leo Rahmat Wisman, salah seorang peserta asal komunitas St. Thomas Aquino, mengungkapkan suka duka yang dialami dalam mendidik anak bersama isterinya, Anastasia Marlita, juga peserta penerimaan krisma. Bahwa selama ini kami sudah mendidik anak kami dengan banyak cara namun hasilnya belum terlalu diharapkan. Kira-kira menurut bapa uskup, apa tips yang perlu untuk orang katolik dalam mendidikan anak? ”Banyak orang tua selama ini sudah rajin mendidik anak-anaknya. Hal ini saya yakin sekali. Namun hal yang lain yang tidak kalah penting adalah bahwa bagaimana pun juga kita perlu membuka hati, membiarkan Roh Kudus bekerja untuk kita. Dia datang ke dalam hati dan keluarga kita dan akan mengubah hidup kita. Kita perlu percaya akan hal ini”, tegas Mgr. Hila untuk untuk mensuport para bapa dan ibu.

Berbeda dengan Leo tadi, ketua DPP, Leo Agung Heriyanto meminta Bapa Uskup memberikan motivasi kepada umat supaya lebih rajin lagi melakukan pengakuan dosa secara pribadi. Karena menurut ketua DPP, yang akrab disapa Pak Heri, pengakuan dosa pribadi kelihatannya semakin mundur. Pastor sudah menyediakan waktu 45 menit sebelum misa, tetapi rata-rata umat tidak mengiyakan kesempatan ini. Pengakuan dosa pribadi bukan hanya sebelum natal dan paskah.

Terhadap pertanyaan Pak Heri, Bapa Uskup menjelaskan. ”Kalau kita lapar, kita butuh makanan dan minuman. Kita makan-minum bukan hanya untuk memuaskan rasa lapar tetapi untuk sehat. Ketika kita makan atau minum, makanan atau minuman kita, ditaruh ditempat (piring-glas) yang bersih. Tidak mungkin di tempat yang kotor. Tentu hal yang sama juga kalau kita mau menyantap tubuh Kristus.

Tentu,  kita membutuhkan hati yang bersih. Untuk itu, kita yang berdosa perlu tobat atau melakukan pengakuan dosa pribadi sehingga tubuh Kristus pun masuk ke dalam hati yang bersih.  Setiap kita pasti ada dosanya. Kata rasul Yohanes, barangsiapa yang mengatakan bahwa dia tidak berdosa, adalah pembohong.

Tanya jawab bapa uskup siang itu semakin menarik perhatian umat. Tanya jawab yang dipandu John Djanu Rombang ternyata mengugah Jesica, anak kelas 2 SMP Maria Goretti untuk bertanya. ”Kalau sakit kita butuh doa pada Tuhan. Teman saya orang Budha pernah sakit dan mendoakannya. Tapi Tuhan belum juga menjawabi doanya.” ”Memang, Tuhan berikan bantuan kepada siapa saja dan kapan saja kita tidak tahu. Sakit bukan kutukan Allah. Tetapi kita perlu mengambil hikmah dari sakit. Orang kaya dan miskin semuanya dikasih Allah,” ungkap Bapa Uskup dengan senyum.

”Kenapa waktu sinode 2 tidak ada misa pada malam minggu dan hari minggu. Dengan itu, umat tidak terima tubuh dan darah Kristus”, tanya Kristi, salah seorang anak SMP Margot kepada Bapa Uskup. ”Umat yang tidak sinode meeka ibadat Sabda. Dalam misa selain kita terima tubuh dan darah Kristus, kita juga menerima Sabda Allah. Sabda Allah lebih dahulu kita terima baru sesudah itu kita terima tubuh Kristus. Sinode itu, 10 tahun sekali, jadi karena itu seluruh imam harus ikut, acara per acara.” jelas Mgr. Hila dengan penuh kebapaan.

Berlanjut dari pertanyaan Kristi, Sr. Greegoriana, AK kemudian meminta kejelasan Mgr. Hila mengenai pembagian komuni kudus pada hari minggu oleh prodiakon, tanpa misa. Kenyataannya bahwa sudah beberapa kali prodiakon bisa membagi komuni suci. Apakah diperbolehkan? Bagaimana peraturan dari Bapa Uskup?

Dihadapan para pastor, DPP, dan seluruh umat yang hadir, Mgr. Hila  menjelaskan bahwa hal ini sudah ditegaskan dalam instruksinya yang ke-2 tentang Tata Perayaan Ekaristi 2005. Pertanyaan suster tadi, komuni boleh dibagikan asalkan komuni suci itu telah dikonsekrir dalam misa pada hari  minggu itu. Misalnya, pada hari minggu itu ada misa, lalu di stasi tidak ada misa, maka komuni suci bisa dibagikan prodiakon di stasi. Para pastor perlu membaca kembali instruksi itu. Sayang kalau pastornya gak baca.

Acara ramahtamah itu diselangselingi dengan beberapa acara hiburan baik dari kaum muda St. Aloysius Gonzaga maupun dari SMP Maria Goretti untuk mengisi acara makan bersama. Sebelum acara ramahtamah itu berakhir, bapa uskup memberikan kado dan piagam krisma secara simbolis kepada Andreas Laurentius Ten Yung sambil berpesan. “Saudara Andreas, kamu adalah pengikut Kristus. Kamu pun memakai nama Laurentius, seorang martir yang dibunuh dengan cara digoreng. Saudara adalah pengikut Kristus. Amin? Ten Yung pun menjawab dengan ksatria, amin. Peserta yang hadir pun bertepuk tangan dan sambil memberikan salam kepada peserta penerima krisma. ***al**

Rabu, 07 September 2011

SERAHTERIMA PAROKI SUNGAILIAT KE KONGREGASI KELUARGA KUDUS (MSF)

Congregatio  Missonariorum a Sacra Familia (MSF) merupakan sebuah kongregasi baru yang berkarya di Keuskupan Pangkalpinang khususnya di Paroki Sungailiat. Demi pengesahan karya pewartaan MSF di Keuskupan Pangkalpinang, 7 September 2008 Bapa Uskup Pangkalpinang memberikan “serahterima” kegembalaan umat Katolik Sungailiat dari pastor projo kepada para pastor Keluarga Kudus. Serahterima dilaksanakan dalam Misa Kudus di Gereja Paroki Sungailiat. Hadir dalam peristiwa itu pemimpin MSF propinsi Jawa, Pater Y.M. Mulyono, Bapa Uskup Pangkalpinang, Mgr. Hilarius Moa Nurak, SVD, Pastor Andreas Naraama Lamoro, Pr (Ketua Komisi PSE Keuskupan Pangkalpinang), Pastor Pieter, Pr (Ketua YTK Pangkalpinang), Pastor Daniel Dionisius (pastor paroki Sungailiat) dan pastor Stefanus Ruswan Budi Sunario, MSF dan Pastor Aloysius Kriswinarto, MSF (pastor Paroki Sungailiat). Serahterima Paroki Sungailiat disaksikan oleh Umat Katolik Sungailiat.

Bapa Uskup dalam kotbahnya menegaskan latar belakang pemikiran tentang kehadiran para pastor MSF di Keuskupan Pangkalpinang. “Selama ini keuskupan kita kurang sekali adanya pelayanan umat dalam bidang-bidang khusus. Dulu memang ada SSCC, namun sekarang mereka sudah berpindah ke wilayah utara. Maka di wilayah selatan tidak ada pelayanan dari para pastor seperti SSCC. Maka dicari dan kemudian diadakan kerjasama. Syukurlah MSF mau untuk ke keuskupan kita. Saya bersama Pater Mul sudah keliling Paroki di Keuskupan Pangkalpinang, kami mencari tempat yang cocok untuk para pastor MSF. Pilihannya jatuh pada paroki Sungailiat. Dengan demikian, ada warna yang lain (variasi) dalam pelayanan untuk umat, khususnya Paroki Sungailiat. Para pastor MSF pelayanan khusus pada kerasulan keluarga sesuai dengan spirit mereka. Mudah-mudahan pelayanan mereka khusus untuk keluarga bisa mewarnai keuskupan kita. Dari Sungailiat mampu mewarnai keuskupan Pangkalpinang. (Sliat 7/09/2008) ***

Sabtu, 03 September 2011

JADWAL MISA HARI MINGGU BIASA PAROKI SUNGAILIAT

Misa Mingguan
Misa Sabtu, Jam 18.00 wib. : Di Gereja Paroki
Sebelum Misa umat diberi kesempatan untuk Pengakuan Dosa pribadi, Jam 17.00-17.45 wib.
Misa Minggu, Jam 07.45 wib. : di Gereja Paroki
Misa Minggu, Jam 08.00 wib. : di Gereja Stasi Pemali




Catatan: Jadwal misa hari raya dan pesta akan diatur tersendiri oleh panitia.

Misa Harian
Misa hari Senin, Jam 05.45 wib : di Susteran AK
Misa hari Selasa, Rabu, Jumat, Sabtu, Jam 05.45 wib: di Kapel Gereja Paroki
Misa hari Kamis, Jam 17.00: di Kapel Gereja Paroki
Misa hari Kamis minggu ke-4, Jam 17.00 : di Gua Maria Paroki Sungailiat.

Keterangan:
Gua Maria Paroki Sungailiat berpelindungkan Sta. Maria Pengantara Segala Rahmat Sungailiat.Jl. Jend. Sudirman No. 36 / 87 Telp. 0717-92268.

Biara Susteran di Sungailiat adalah Biara Susteran Abdi Kristus (AK) berada di Jl. Maria Goretti 5 Sungailiat 33211 Bangka Telp. (0717) 93458

Sabtu, 20 Agustus 2011

BUDAYA LOKAL KAWALIWU: " LODO ANA"


Photo / Leo Hurit (8/2011)
Bangsa Indonesia mempunyai banyak sekali budaya daerah. Hampir di setiap daerah di pelosok Nusantara ini memiliki budaya tersendiri. Budaya daerah itu kini mati suri dan bahkan telah tergusur oleh nikmatnya budaya moderen seperti materialisme, hedonisme, apatisme, dan lain-lain. Dan anak-anak muda zaman sekarang, lebih in dengan budaya moderen dan lupa akan budaya asal sendiri. Bagaikan sumur tanpa dasar, begitu bila saya mengandaikan hidup anak-anak moderen sekarang.

Masyarakat Kawaliwu di Flores Timur, sampai dengan saat ini boleh terbilang masih setia pada budaya daerahnya sendiri. Kadang-kadang, memang menjadi kesulitan dalam mewariskan budaya daerah, karena ada banyak hal yang menjadi kendala, selain sikap apatis anak-anak muda moderen yang mempunyai pola pandang tersendiri dengan budaya daerah versus budaya moderen yang lebih pada happy always ketimbang hidup perlu perjuangan.

Photo Leo Hurit (8/2011)
Kawaliwu, masyarakat Lamaholot, hampir setiap tahun mempublikasikan sebuah budaya daerah yang melibatkan banyak suku-suku didalam masyarakat itu. Budaya daerah itu dalam masyarakat Kawaliwu disebut 'Lodo ana'. Lodo berarti dikeluarkan, Ana berarti anak. Lodo anak berarti proses dikeluarkan anak yang telah 1-2 bulan dilahirkan dan yang terkurung dari ruang persalinan, ruang terkurung kepada publik. Anak yang sudah hampir 2 bulan dikurung dibawa keluar untuk diperlihatkan kepada masyarakat. Anak digendong oleh bibi (isteri opu) dan diantar oleh ibunya (ibu anak) ke sebuah halaman luas yang telah dipersiapkan oleh masyarakat. Halaman luas itu berada di rumah besar (lango bele) suku Liwun, kalau di Kawaliwu.

Photo Leo Hurit (8/2011)
Lodo Ana, merupakan sebuah budaya, mengapa? Karena upacara ini telah diturun temurunkan dari nenek moyang Kawaliwu. Selain itu, dengan upacara lodo ana, anak-anak Kawaliwu yang belum sah secara adat untuk suatu "wungu nuran" maka pada kesempatan itu anak-anak yang belum sah adat itu boleh disahkan. Anak-anak duduk berbaris/berkumpul dan ditutup dengan kewatek dan kemudian diatas kepala anak-anak tadi seseorang memecahkan buah kelapa. Fungsinya adalah agar air buah kelapa tadi menyirami kepala anak-anak, mendinginkan kepala-agar anak tumbuh dan berkembang dalam budaya Kawaliwu. Selain itu, secara sosial, anak-anak dapat bergaul dengan siapa saja dalam masyarakat itu tanpa ada rasa takut dan cemas. Karena anak-anak itu sama-sama lahir dari suatu budaya yang sama, Lamaholot.

Photo Leo Hurit (8/2011)
Budaya Lodo Ana di Kawaliwu selalu dilaksanakan pada bulan Juli atau Agustus setiap tahun. Upacara sebelum Lodo Anak adalah upacara mura hama, di elabele (di suatu halaman yang luas) di lango bele (rumah besar suku Liwun). Upacara mura bre itu dilakukan oleh tua-tua / ibu-ibu masyarakat Kawaliwu. Dalam upacara itu, tua-tua / ibu-ibu menceritakan sejarah lodo ana dan sejarah anak yang akan dilodo. Upacara ini dilakukan satu malam dan paginya orang tua masak laki rusa untuk siap disantap, sebagai upacara penutup. 

Lebih lanjut Upacara Lodo Ana, saya serahkan kepada para peneliti budaya atau agama yang berminat untuk mendalami upacara ini. Saya berharap para generasi muda Kawaliwu terlibat untuk mewariskan budaya ini. ***

Selasa, 16 Agustus 2011

SIDANG SINODE II TINGKAT PAROKI STA. MARIA PSR SUNGAILIAT

Sidang Sinode II Tingkat Paroki, khususnya Paroki Sta. Maria Pengantara Segala Rahmat Sungailiat dilaksanakan pada hari Minggu sore, jam 17.00 - 22.30 di Aula Paroki Sungailiat pada tanggal 5 Juni 2011. Sidang itu dihadiri oleh 28 orang yang terdiri dari utusan komunitas basis, biara suster Abdi Kristus, kelompok kategorial dan kaum muda serta anggota DPP. Rm. Dr. Vincentius Wahyu Hardijanto MSF membuka dan memimpin secara langsung Sidang Sinode II Paroki Sungailiat.

Acara Sidang Sinode II Paroki Sungailiat dibuka dengan doa pembuka dari Doa Sinode II Keuskupan Pangkalpinang dari Juni - Desember 2011. Kemudian ada pengantar dari Rm. Dr. Vincent Wahyu H MSF dan selanjutnya peserta Sidang Sinode II Paroki dibagi dalam kelompok kecil untuk mendalami Instrumen Laboris yang telah disiapkan oleh Tim perampung dan Sekretaris Jenderal Sinode II, Rm. Beni Balun, Pr.

Setiap kelompok yang dibagikan itu mendalami subtema sinode II. Pembagian Kelompok diskusi itu sebagai berikut:

Kelompok 1 terdiri dari Rm. Wahyu MSF, Bp. Paulus Benediktus, Bp. Leo Agung Heriyanto, Bp. Sitanjak, Bp. Parulian Silalahi. Kelompok ini mendiskusikan materi Gereja Partisipatif dalam kaitannya dengan Visi Keuskupan Pangkalpinang dan Kristus adalah Pusat Hidup Gereja Partisipatif.










Kelompok 2 terdiri dari Bp. Kristiawan Wardana, Bp. Yulianus Susantoyo, Bp. Yohanes sagyo, Ibu Sri Winarti, Bp. Slamet Sudharso, dan Bp. Alfons Liwun. Kelompok ini berdiskusi tentang subtema "Meneladani Communio Allah Tritunggal dan Gereja Partisipatif dan Kepemimpinannya."





Kelompok 3 terdiri dari Bp. John Lasong, Bp. Napitupulu, Nn. Yovita Yati, Sdr. Hilarius Asta, Bp. Bernardus Djaimin, dan Bp. Slamet Martin. Kelompok ini berdiskusi tentang "Gereja Partisipatif dan Pengelolaan Harta Benda."










Kelompok 4 terdiri dari Bp. John Djanu Rombang, Bp. Yosef Ardyanto Totong, Bp. Servinus Sero, Sr. Gregoriana Ak dan sdri. Dewi Susanti. Kelompok ini membahas tentang Kristus Pusat Hidup Gereja Partisipatif dan Komunitas Basis Gerejani.






Setelah dibahas di kelompok kecil, kemudian diplenokan. Didalam pleno ini anggota kelompok memberikan menajaman dan berdiskusi lagi. hasil diskusi dari setiap subtema akan menjadi hasil definitif Sidang Sinode tingkat Paroki. Hasil dari Sidang Paroki ditandatangani atau disahkan oleh tiga orang: Rm. Dr. Vincentius Wahyu H MSF, Bp. Leo Agung Heriyanto dan Bp. John Djanu Rombang. Hasil sidang Sinode II tingkat paroki kemudian menjadi bahan laporan dalam Sidang Sinode II tingkat Dekenat (Selatan atau Utara). ***