Jumat, 17 Februari 2012

KOMUNITAS BASIS ST. THOMAS AQUINO – CHOI HIN PAROKI SUNGAILIAT

Komunitas Basis yang berpelindungkan St. Thomas Aquino ini meliputi wilayah dusun Choi Hin, Merawang, Rebo, dan Si Hin. Sebagian besar anggota komunitas ini adalah saudara kita dari suku Tiong Hoa, satu keluarga dari Jawa dan beberapa keluarga dari Flores. Pekerjaaan rata-rata buruh (TI, pelabuhan, petani, peternak, dll). Komunitas ini anggota kebanyakkan perempuan. Selama ini seluruh kegiatan kelompok diprakarsai oleh Bapak Agus Suratidjo, seorang guru SD di SD Negeri 17 Tanjung Ratu. Kesulitan yang dialami kelompok ini selain pekerjaan yang memakan waktu hingga malam dan bahkan kerjanya sampai pada hari Minggu, juga karena wilayahnya terlalu luas dan jarak tempat tinggal yang berjauhan  satu dengan yang lain.


Komunitas St. Thomas Aquino hingga saat ini diketuai oleh bapak Agus Suratidjo. Beliau seorang guru SD di Tanjung Ratu. Sensus Paroki mencatat, komunitas St. Thomas mempunyai 22 kepala keluarga, dengan jumlah anggota anak-anak sampai dewasa sebanyak 40 jiwa yang terdiri dari 20 laki-laki dan 20 perempuan. Dari jumlah umat yang tinggal di komunitas St. Thomas itu, 19 jiwa menamatkan sekolah dasar, 4 jiwa SMP, 7 jiwa SMP dan PT sebanyak 3 jiwa; sedang 7 jiwa tidak memberikan data pribadinya.

Keterlibatan umat dalam berbagai kegiatan komunitas, paling banyak yaitu mengikuti perayaan ekaristi bulanan. Sedangkan kegiatan yang lain sangat sulit karena jarak tempat tinggal lumayan jauh dan juga karena wilayah ini sangat luas. Dari segi umur kita bisa membaca bahwa orang-orang yang terlibat dalam kegiatan komunitas berkisar umur 31-50 tahun yaitu 17 jiwa. Sedangkan umur 50 ke atas hanya 7 orang dan umur remaja hanya 2 orang.

Komunitas St. Thomas Aquino memiliki kegiatan rutin antara lain: (1). Misa komunitas yang dilaksanakan pada Minggu IV dalam bulan (2). Ibadat Tobat  pada adven dan Prapaskah, sedang tobat mingguan dapat dilaksanakan di gereja paroki (3). Ibadat lain, sesuai dengan bahan dari paroki (APP, Bulan Rosari, Bulinas, PDPL, Bulan Kibab Suci, Bulan Maria, Adven dll) (4). Pesta Pelindung, 28 Januari setiap tahun (5). Program khusus, dapat dilihat dalam program tahunan komunitas. (*)

Kamis, 16 Februari 2012

KOMUNITAS BASIS GEREJANI ST. YOHANES PEMANDI PAROKI SUNGAILIAT

Wilayah komunitas basis ini meliputi lingkungan Bedukang dan Air Hantu. Komunitas ini terdiri dari orang-orang yang berasal dari suku Flores dan satu-dua keluarga suku Tiong Hoa di Air Hantu. Hampir seluruh anggota kelompok adalah para pekerja TI, maka sulit diajak untuk berkumpul. Mereka lebih sibuk dengan kerja menambang timah. Apalagi pulang kerjapun sudah terlalu malam. Dengan alasan seperti ini maka rasanya sulit untuk mereka hadir dalam setiap kali ada pertemuan doa, bahkan misa kelompok. Sampai dengan saat ini, sudah ada keluarga yang menetap di komunitas ini.

Berdasarkan sensus umat yang dilaksanakan oleh paroki pada akhir tahun 2010 sampai dengan awal 2011, KBG St. Yohanes Pemandi memiliki 28 Kepala Keluarga, dengan jumlah umat 72 jiwa; 42 jiwa laki-laki dan 30 jiwa perempuan. Dari jumlah umat itu, umur 0-10 tahun sebanyak 23 jiwa, umur 10-20 tahun, 7 jiwa, 21-30 tahun 21 jiwa, 31-40 tahun ada 16 jiwa, umur 41-50, sebanyak 4 jiwa dan umur 51-60 ada 3 jiwa dan 61 tahun ke atas ada 2 jiwa. Data sesuai dengan umur ini sebenarnya mengindikasikan bahwa umur anak-anak merupakan terbanyak di komunitas ini. Setelah itu umur produktif, umur yang aktif bekerja. Dengan begitu ada konsekuensi logisnya bahwa kegiatan-kegiatan komunitas tidak banyak yang terlibat karena lebih sibuk bekerja.

Dari jumlah umat yang ada itu, umur SD berjumlah 24 jiwa, SMP sebanyak 11 jiwa, SMA berjumlah 6 orang, dan 39 jiwa tidak memberikan data tentang pendidikan. Jika kita melihat jumlah pendidikan yang ada di komunitas ini, maka komunitas ini sebenarnya punya tenaga untuk menjadi fasilitator dan pemimpin, namun karena kesibukan bekerja, komunitas ini cukup sulit untuk melakukan suatu kegiatan yang melibatkan banyak umat. Tenaga fasilitator di komunitas ini dibantu oleh Bapak Yohanes Djanu Rombang dari paroki.

Komunitas Basis St. Yohanes Pemandi selama ini dipimpin oleh bapak Mateus Modang dan operasional kegiatan dijalankan oleh isterinya, ibu Maria Bona. Kegiatan rutin: (1). Misa komunitas Minggu II dalam bulan (2). Ibadat tobat, pada adven dan pra paskah, sedang mingguan dilaksanakan di gereja paroki. (3). Ibadat lain, sesuai dengan bahan / kegiatan dari paroki (APP, Bulan Maria, Bulinas, PDPL, Bulan Kibab Suci) (4). Pesta Pelindung, 24 Juni setiap tahun (5). Kegiatan khusus, dapat dilihat dalam program tahunan. Sejak 2011, komunitas basis ini mempunyai sebuah kapel dan sekaligus difungsikan untuk tempat sekolah minggu bagi anak-anak dari komunitas ini. (*)

KOMUNITAS BASIS GEREJANI ST. DOMINIKUS DENIANG PAROKI SUNGAILIAT

Sampai dengan Desember 2007, komunitas ini dipimpin oleh seorang guru SD, Bapak Agustinus Wuriyanto. Setelah itu tampuk pimpinan diganti oleh bapak Vincentius Edie Amuk, sampai dengan 21/2/2008. Kemudian sejak Mei 2008 sampai dengan saat ini, KBG yang berjarak lebih kurang 20-an kilometer dari paroki pusat ini diganti lagi oleh bapak Petrus Don Pedro. Seorang MC yang bagus dan cukup cekatan dalam setiap kegiatan yang direncanakan bersama.

Mgr. Hilarius bersama umat KBG St. Dominikus (februari 2008)
Berdasarkan sensus umat yang dilaksnakan pada akhir 2010 sampai awal 2011, komunitas St. Dominikus mempunyai 21 Kepala Keluarga; dengan jumlah anggota umat Katolik sebanyak 64 jiwa yaitu 30 laki-laki dan 34 perempuan. Dari jumlah ini, dapat diklasifikasikan bahwa umur sekolah mulai dari TK atau Play Gorup, berjumlah 6 jiwa, SD: 17 jiwa, SMP: 11 jiwa, SMA: 17 jiwa dan PT: 1 jiwa. Lebih kurang 12 jiwa tidak mau memberikan data soal pendidikan yang dijalankannya.

Keterlibatan umat dalam kegiatan komunitas ini, masih sebatas misa komunitas. Kegiatan lain belum banyak. Kendalanya jarak antar tempat tinggal umat lumayan jauh. Selain itu, kita boleh memahaminya dari sisi umur umat yang menetap di komunitas ini. Dari sisi umur, umat Komunitas St. Dominikus berkisar 61 ke atas sebanyak 10 jiwa, 51-60 tahun berjumlah 11 jiwa, umur 41-50 tahun sebanyak 8 jiwa, 31-40 tahun berjumlah 8 jiwa, 21-30 tahun, 7 jiwa; 10-20 tahun, 10 jiwa dan 0-10 tahun, 6 jiwa. Maka diprediksikan partisipasi umat untuk kegiatan misa, pendalaman iman umat dan kegiatan lain-lain berkisar umur 31-50 tahun. Sedang umur muda dan tua jarang mengikuti kegiatan komunitas.

Jadwal rutin kegiatan rutin komunitas ini adalah (1). Misa Minggu I dalam bulan, (2). Ibadat tobat yaitu adven dan pra paskah, sedangkan setiap minggu boleh hanya dilaksanakan di gereja paroki. (3). Ibadat lain, sesuai dengan bahan dari paroki (APP, Bulan Maria, Bulinas, PDPL, Bulan Kitab Suci,dll) (4). Pesta Pelindung, setiap tahun tanggal 8 Agustus. (5). Kegiatan khusus           lain dapat dilihat dalam program tahunan komunitas.

Komunitas basis ini memiliki wilayah paling luas di paroki ini. Wilayahnya meliputi Simpang Bedukang, Deniang, Kayu Arang sampai Mapur. Sedangkan situasi umat, sebagian besar adalah umat sederhana yang saling berjauhan antara yang satu dengan yang lainnya. Ketika ketua kelompok masih dipimpin oleh almahrum bapak Agus Wuriyanto,  kelompok ini cukup aktif dan tekun baik dalam rutinitas pertemuan umat maupun dalam perayaan ekaristi. Semangat ini pun tidak pudar ketika ketua kelompok digantikan oleh Bpk. Vincentius Eddy (Ko Amuk) dan sekarang Bpk. Don Pedrosa. (*)

Sabtu, 11 Februari 2012

SAMBUT-PISAH ROMO MSF SUNGAILIAT

Kendaraan parkir di depan gereja dengan rapi, seperti misa pada malam minggu. Umat dari komunitas-komunitas berdatangan. Mereka menempatkan kursi-kursi yang telah disusun di lapangan badminton, depan aula paroki. Tidak disangka bahwa antusias umat pada acara pisah-sambut pastor MSF yang bertugas di Paroki Sungailiat, begitu banyak. Lebih kurang tiga ratusan umat yang hadir pada Rabu malam (1/2/2012)

“Kami bersyukur atas kehadiran umat yang begini banyak. Acara ini tidak ada panitia khusus. Protokolnya pun main tembak saja tadi. Kami senang dan bangga karena umat menanggapi undangan kami walaupun hanya lewat warta paroki saja”, ungkap Pastor Kris, parochus Sungailiat dalam kata sambutan pisah-sambut Rm. Vincentius Wahyu Harjanto MSF dan Rm. Fransiscus Asisi Budyono MSF.

Sejak 1 Maret 2011, Rm. Vincentius Wahyu Harjanto, MSF bertugas di Sungailiat, sebagai pastor pembantu paroki. Rm. Wahyu, begitulah yang sering disapa umat, lebih kurang setahun bertugas di Paroki yang berpelindungkan Santa Maria Pengantara Segala Rahmat. Walau hampir setahun menjalankan tugas, sudah merasa krasan. Sudah betah. Karena Sungailiat cukup menarik, cetus romo doktor spiritualitas ini.
  
”Saya teringat Rm. Wahyu, setiap kali kalau mau misa komunitas di St. Gabriel. Romo selalu telephon saya. Karena, romo belum hapal jalan dan rumah-rumah umat komunitas Gabriel,” ungkap Paulus, seorang fasilitator dari Bukit Betung, ketika memberikan kesan dan pesannya. ”Apalagi Rm. Wahyu seorang figur kebapaan yang dekat dengan umat, humor dan penyampaian kotbahnya singkat namun berisi,” lanjut seorang anggota umat yang hadir, enggan disebut namanya. Tidak heran jika ada banyak simpatisan yang hadir.

Rm. Wahyu pandai masak. Ketika ibu masak di pastoran libur imlek, romo yang pernah bertugas di Filipina ini berinisiatip untuk mengurus dapur dan masak. Selain hobi masak, juga berbakat seni. Bakat seni dapat dirasakan ketika natal 2011 yang lalu. Rm. Wahyu mengolah secara kreatif kertas-kertas dan barang-barang plastik yang telah dibuang menjadi bermacam barang-barang hiasan di gereja. Bahkan barang-barang bekas seperti kertas-kertas itu dihancurkan atau dipadatkan lalu dibentukya menjadi arca-arca Yesus, Maria, Tiga Raja, gembala, dan lain-lain lalu dicat kemudian diletakkan di kandang natal.

Bakat seninya diterima bukan hanya orang tua tapi juga anak-anak. Anak-anak rajin mengikuti latihan tablo natal dan dengan percaya diri tampil pembuka upacara natal 2011. Sehingga tidak heran, ketika acara penyerahan kado, Lorens Djanu Rombang (4) dengan senyum menyerahkan kado keluarganya untuk Rm. Wahyu. Sebuah ungkap perhatian dan daya tarik tersendiri baginya.

”Rasanya begitu cepat kebersamaan Rm. Wahyu dengan umat Sungailiat. Bagiamana pun ada saat untuk perjumpa, ada saatnya untuk berpisah, pindah tugas. Pindah tugas, suatu hal yang biasa. Artinya dengan pindah tugas, umat di tempat lain mendapat pelayanan.

Kata Wililem, salah seorang peserta komunitas St. Theresia 1 yang hadir, “Iyalah, mana mau lagi romo disini. Apalagi di Tarakan romo ini bukan kapten, tapi seorang jendral. Lebih tinggi pangkatnya. Makanya perlu pindah.” Mungkin inspirasi ini muncul ketika kata sambutan Rm. Wahyu yang menyampaikan tugasnya di Tarakan, yaitu sebagai pastor di paroki dan menjadi staf pengajar di seminari. Wah...benar juga kata pak Wililem tadi. Rm. Wahyu akan mengajar calon pastor. Benar, sesuai dengan bidang Rm. Wahyu yang selama ini menjadi dosen untuk para calon imam.

Rm. Wahyu telah berangkat ke Jakarta (2/2/2012) dan akan ke Keuskupan Tanjung Selor Kalimantan Timur. Tapi kita ingat bahwa Rm. Wahyu telah menjadi teladan bagi kita, kata pak Ardijanto. Romo telah menunjukan banyak hal untuk umat Sungailiat. Tidak heran kalau malam itu anak muda jadi iklan di baju yang kemudian diberikan kepada Rm. Wahyu biar ketika Rm. Wahyu di Tarakan tidak melupakan mereka. Bukan hanya anak muda St. Aloysius Gonzaga, ibu-ibu paroki tampil dengan suara emasnya untuk memberi kenangan tersendiri bagi romo. Hanya satu ucapan untuk Rm. Wahyu, terima kasih dan Tuhan memberkati. Untuk Rm. Budi, selamat datang dan selamat bertugas di Paroki Sungailiat. *al*

Kamis, 02 Februari 2012

DESTINATION KE SITUS MEGALITIK KAWALIWU

Jalan masuk ke "Lango Bele" hampir 1,5 kilo meter dari jalan raya Kawaliwu-Larantuka.Pohon-pohon di sekitarnya masih asli. Kata orang Kawaliwu, pohon-pohon itu secara alamiah tidak pernah ditebang atau disentuh oleh tangan manusia. Kalau pohon-pohon itu tumbang artinya secara alamiah karena sudah rapuh dan mati sendiri.

Rata-rata pohon-pohon itu terdiri dari pohon beringin, rita, dan pohon-pohon lain yang ditanam oleh orang Kawaliwu, termasuk pohon kepala, jambu mete dan kemiri.

Perjalanan dari jalan raya ke lango bele, lebih kurang 20 menit, jika kita berjalan santai. Kalau mau cepat mungkin hanya 10 menit. Jalan masuk ke lango bele, jalan setapak, berbatu-batu dan lumayan mendaki. Jika kita sudah masuk dalam "kawasan hutan asli" dari jauh kita sudah mendengar suara-suara alam semakin terasa, seperti di hutan belantara. Dari jauh kita melihat atap "koko" atau korke dan "Lango Bele". Juga ada sebuah rumah klan di sebelah kanan, rumah klan larita (Lango suku Ritan). Selain lango dan koko, juga ada hoku. Hoku adalah rumah kecil yang dipakai untuk menyimpan hasil kebun.

Koko atau korke, rumah tua, peninggalan nenek moyang Kawaliwu. Rumah ini sebagai tempat "penyatuan ide, pikiran, dan membuat kesepakatan." Atau sekarang boleh kita sebut sebagai "rumah demokrasi". Rumah "pupu taan uin tou, gaan taan gewahan ehan." Artinya di dalam rumah ini, seluruh kepala klan yang hadir membuat sepakat untuk suatu keputusan. Setelah keputusan itu sudah diputuskan oleh pemimpin lewotana atau kepala penatua, keputusan itu diangkat ke pada Rera wulan Tana Ekan. Seluruh kepala klan mengangkat keputusan kepada Tuhan untuk diberkati, dilindungi dan direstui sehingga dapat terlaksana dengan baik dan lacar.

Keputusan yang telah menjadi sebuah kesepakatan dinyatakan dalam suatu upacara khusus di dalam "megalitik Kawaliwu". Tempat menyembahkan kepada nenek moyang. Agar keputusan yang sudah diambil tadi direstui.

 Sebuah upacara khusus yang didalamnya, para penatua yang berkumpul, mengangkat doa-doa secara ceremonial. Doa-doa itu biasanya dipimpin oleh pemimpin, atau penatua yang mampu "mara".

Ceremonial ini disertai dengan pemecahan telur dan pemotongan binatang. Suatu upacara korban yang menyatakan bahwa Rera Wulan dan Tana Ekan, bertautan erat yang tak boleh dipisahkan. Tautan erat ini melambangkan persatuan dan karena itu, persatuan Rera Wulan Tana Ekan, perlu diikuti oleh seluruh klan (suka) yang ada di Kawaliwu. Meminjam kalimat biblis, "barangsiapa yang melekat dengan Aku, ia berbuah banyak. Barangsiapa yang menjauh dari Aku, akan Kubuang."

Situs megalitik, sebuah situs prasejarah di Kawaliwu. Batu-batu tipis yang berukuran besar, disusun membentuk sebuah ruang dengan ukuran yang diperkirankan lebar 13 meter dan panjang 25 meter dengan ketinggian 1,5  meter. Ruang seluas ini sebagai tempat pemujaan terhadap nenek moyang Kawaliwu.

Dikeliling ruang megalitik itu berdiri batu-batu yang dipasang tegak disetiap sudut dan pertengahan situs. Situas megatilik Kawaliwu diperkiran berumur 4.0000 tahun. Sampai dengan saat ini banyak wisatawan asing datang melihat dan sekaligus merayakan pemujaan bersama di dalam situas ini. Orang Kawaliwu, hampir setiap tahun menerima wisatawan asing yang berkunjung ke situs Kawaliwu.

Bagi wisatawan asing yang mau berkunjung bisa dengan pesawat terbang dari Den Pasar ke Maumere kemudian dengan mobil ke Larantuka. Dari Larantuka ke Kawaliwu hanya 15 km. Di Kawaliwu wisatawan dapat menikmati panorama alam situs Kawaliwu, Sun Set Kawaliwu dan Air Panas Kawaliwu dengan pemandangan indah pantai Kawaliwu. Selamat datang dan menikmatinya. ***

Jumat, 13 Januari 2012

KUNJUNGAN PROVINSIAL MSF KE PAROKI SUNGAILIAT

Kunjungan Romo Provinsial MSF ke Sungailiat mulai 9-12 Januari 2012. Kunjungan pimpinan MSF bermaksud untuk membangun relasi antar sesama anggota MSF. Sehingga persaudaraan antar mereka tetap terjalin. 

Selain Rm. Purnomo juga bertemu dengan kedua rekannya, Rm. Kriswinarto dan Rm. V. Wahyu, juga pada malam 11 Januari 2012, Rm. Pur pun sempat bertemu dengan anggota Dewan Pastoral Paroki Sungailiat. Dalam kesempatan itu, Rm Pur mengucapkan terima kasih kepada anggota DPP dan umat yang telah menerima kedua rekannya dengan baik secara lebih kurang 4 tahun untuk Rm Kris dan hampir setahun untuk Rm. Wahyu. Rm. Pur mengharapkan supaya kehadiran kedua rekan dapat membantu umat untuk menghayati imannya agar mampu hidup seturut teladan Keluarga Kudus Nasaret.

Pada kesempatan itu juga Rm. Pur menginformasikan bahwa Rm. Wahyu akan berpindah ke Keuskupan Tanjung Selor pada bulan Fberuari 2012.  ***



Senin, 21 November 2011

AsIPA II INTERNATIONAL DI BATAM (13-21 NOVEMBER 2011)

SHARING PENGALAMAN
“VISITASI PESERTA AsIPA II INTERNASIONAL
KE KBG BATAM”

AsIPA II di Batam Harumkan Nama Keuskupan Pangkalpinang di Level International” saya ingin mensharingkan pengalaman selama mengikuti proses pertemuan AsIPA II tersebut. Mudah-mudahan sharing pengalaman saya ini berguna bagi kita semua yang membacanya.

Pertemuan AsIPA II di Batam

Selama ini pertemuan AsIPA berpindah-pindah dari satu negara ke negara lain di Asia. Tanggal 13-21 Oktober 2011, Indonesia khususnya Keuskupan Pangkalpinang didaulatkan menjadi tuan rumah temu AsIPA II. Karena menjadi tuan rumah, maka tuan rumah pun membutuhkan waktu dan tenaga untuk pelaksanaan temu AsIPA II. Rm. Frans Mukin dan Rm. Poya selaku Deken Selatan dan Utara ditugaskan Bapa Uskup untuk menyiapkan kepanitiaan pelaksanaan pertemuan. Tidak heran, pertemuan yang berlevel International itu berjalan dengan lancer dan aman-aman saja.

Pertemuan dilaksanakan di Hotel Pasific Sei Jodoh Batam. Peserta pertemuan sebanyak 62 orang yang berasal dari 11 negara di Asia seperti Korea, Singapura, India, Srilanka, Taiwan, Philipina, Thailand, Malaysia, Hongkong, Mynmar dan Indonesia. Peserta terbanyak yang diutus dari Indonesia, Pangkalpinang, 18 orang, menyusul dari Thailand sebanyak 16 orang. Sedangkan negara-negara lain hanya mengirim 1 sampai 5 orang. Banglades yang seharusnya mengutus 9 orang, dinyatakan batal karena terkendala visa masuk ke Indonesia.

AsIPA: apa itu?

Asian, Integral, Pastoral, Approach atau sering disebut Pendekatan Pastoral secara Integral di Asia. AsIPA lahir pada tahun 1993 di Malaysia. Produk dari kerjasama Federation Asian Bishop’s of Conferences (FABC) khususnya Komisi Perkembangan Manusiawi dan Komisi Awam. Lahirnya AsIPA mendukung pernyataan akhir para uskup Asia  dalam Sidang Paripurna kelima di Bandung, Indonesia tahun 1990.

Hampir kebanyakan orang di komunitas basis kita ketika mendengar AsIPA, pikiran terarah kepada metode sharing Injil 7 Langkah. Benar! Tapi, sebenarnya sharing Injil 7 langkah hanyalah satu bagian kecil dari modul-modul yang disiapkan oleh para anggota tim AsIPA.

Dalam AsIPA, dikenal empat modul yaitu modul A-D. Modul A sebanyak delapan kali pertemuan yang membahas langkah demi langkah sharing Injil, metode bercermin pada Kitab Suci dan metode melihat-mendengar-mencintai Sharing Injil atau sering dikenal kesadaran-refleksi-aksi. Modul B sebanyak dua belas kali pertemuan. Modul ini mengajak peserta mengerti dan memahami apa itu Komunitas Basis Gerejawi. Bagaimana sebuah komunitas basis dikelola dengan baik dan bertumbuh dalam relasi dengan Allah dan keterkaitannya yang erat dengan Gereja universal.

Selain modul tadi, masih ada modul C dan D. Modul C mengajak para peserta pelatihan untuk mengerti dan memahami sebuah Gereja Partisipatif. Bahwa Gereja Partisipatif adalah Umat Allah. Para pastor, biarawan-biarawati, dan kaum awam bersama-sama dalam persekutuan mengambil bagian dalam tugas perutusan Kristus baik di komunitas basis maupun di paroki. Bersama-sama mempunyai tanggung jawab untuk mengembangkan dan mewujudkannyatakan Gereja Partisipatif. Dalam kebersamaan itu, karunia-karunia Roh yang ada dalam diri tiap-tiap pribadi memungkinkan untuk berpartisipasi dalam sebuah Gereja Partisipatif. Dan modul D berbicara tentang Kepemimpinan dalam Gereja Partisipatif. Modul ini tidak mengenal kepemimpinan otoriter atau yang mendominasi, namun kepemimpinan yang partisipatif, yang memberi arah. Kepemimpinan yang mampu mengumpulkan banyak kharisma dan mampu membedakan kemampuan setiap anggota untuk menangani bermacam karya pelayanan berdasrkan kharisma-kharisma yang diterima dari Allah.

Dari modul-modul yang disiapkan oleh Tim AsIPA, cocok untuk kita di Keuskupan Pangkalpinang. Cocok karena hasil Sinode II kita pun mempunyai arah yang sama yaitu pemberdayaan Komunitas Basis sebagai bagian yang utuh dari paroki dengan berpusat pada Tritunggal Maha Kudus. Modul ini hemat saya, sangat cocok untuk membangun kesadaran agen pastoral khususnya para pastor yang menangani parokial. Tanpa keterlibatan para pastor akan kesadaran baru dalam modul-modul AsIPA, saya pikir agen pastoral yang lain akan “macet.”


Visitasi Peserta AsiPA II ke Paroki dan KBG Paroki Damian

Ke-62 peserta AsIPA II dibagi dalam tiga kelompok, berdasarkan tiga paroki di Batam yang mau dikunjungi. Ada 16 peserta mengungjungi KBG-KBG di Paroki Damian. 16 peserta lagi mengunjungi paroki Tembesi dan 23 peserta yang lain mengungjungi paroki Tiban.

Kunjungan peserta AsIPA ke ketiga paroki disambut hangat oleh umat di masing-masing paroki. Mengana tidak? Peserta dijemput pakai mobil-mobil pribadi di hotel pada minggu pagi (16/10). Setelah sampai di paroki, disambut oleh para penerima tamu di gereja. Ada peserta yang masih menunggu waktu misa sambil duduk di pastoran, tapi ada yang langsung masuk ke dalam Gereja. Tempat duduk pun disiapkan secara khsusus. Sedangkan peserta pastor langsung masuk sakristi memakai perlengkapan misa untuk misa konselebran. Suasana di dalam Gereja menjadi lain. Apalagi koor misa minggu itu, misalnya di Paroki Damian begitu merdu dan membahana dalam Gereja. Sampai-sampai Rm. Frans Mukin pun mengakui kehebatan koor yang menyanyikan lagu-lagu Gregorian. “Koor itu begitu hebat, tapi bukan koor paroki. Koor itu dari Stasi Kabil."


Kunjung ke KBG-KBG

Kunjung ke KBG-KBG adalah suatu kesempatan yang bagus. Mengapa? Karena di sana, di KBG-KBG kami menyaksikan kehidupan berkomunitas secara lebih dekat. Kami melihat bahwa umat yang tiap hari minggu ke gereja paroki, mereka menjalankan misi hidup sebagai satu anggota komunitas. Misalnya, tiap-tiap anggota bekerjasama untuk mensukseskan sharing Injil di komunitas dengan keterlibatan semua anggota keluarga untuk hadir dalam sharing Injil, orangtua mengantar anak-anak mereka untuk mengikuti sekolah minggu di komunitas pada setiap hari minggu siang atau sore. Bp. Ruben Tarigan, salah satu anggota dan pengurus KBG St. Kanisius Botanawa, menceritakan seputar keterlibatannya. "Saya sudah aktif di KBG sejak 1989 saat itu saya dan tiga keluarga lain membentuk KBG Kanisius ini. Waktu itu kami baru empat KK sekrang sudah 90-an KK. Komunitas ini semakin berkembang. Disamping itu kami juga tiap sore antar anak-anak untuk ikut sekolah minggu. Kelihatan kami begitu sibuk, tetapi kami percaya bahwa Allah selalu hidup dalam diri kami."

Berbeda dengan pengalaman Bp. Ruben, Bp. Marianus Aritonang, salah seorang pengurus KBG Kanisius bahwa ketrlibatan kami karena panggilan Yesus terhadap diri saya. Saya bekerja dan bekerja tetapi tidak melupakan Tuhan, juga kegiatan KBG. 

Mudah-mudahan kedepan KBG St. Kanisius pun semakin berkembang.
Salam!