Kamis, 29 Maret 2012

JADWAL MISA TRI HARI SUCI 2012 PAROKI SUNGAILIAT KEUSKUPAN PANGKALPINANG


Kamis Putih           : Kamis, 5 April 2012.
Waktu Misa               : Pukul 18.00 - 21.00 WIB.
Jadwal adorasi per KBG akan dibaca di papan pengumuman di depan gereja paroki.
Jumat Agung           : Jumat, 6 April 2012.
Waktu Misa               : Pukul 15.00 - 18.00 WIB.

Malam Paskah       : Sabtu, 7 April 2012.
Waktu Misa              : Pukul 19.00 - 21.00 WIB.

Minggu Paskah     : Minggu, 8 April 2012.
Waktu Misa               : Pukul 07.45 - 10.00 WIB.

SELAMAT PASKAH

Senin, 26 Maret 2012

PENGURUS DAN STAFF KOPDIT KABARI KE PANTAI RAMBAK

Pantai Rambak terdapat di Rambak, Kabupaten Sungailiat, Bangka, Propinsi Kepulauan Bangka Balitung. Pantai Rambak, obyek wisata baru yang akhir-akhir ini muncul ke publik. Pantai yang berpasir putih dengan panjang hampir belasan kilo meter ini mengundang banyak wisatawan lokal untuk tiap minggu bertandan ke pantai itu.

Tidak heran, ketika libur Nyepi, (23/3/2012), pengurus dan staff  Kopdit Kabari pergi ke pantai itu untuk membuang suntuk dari rutinitas setiap hari dan membangkitkan semangat baru untuk optimis bekerja di dalam lingkungan Kabari Pangkalpinang.

Bukan hanya pengurus dan staff saja. Tapi bagi pengurus dan staff yang sudah berkeluarga, diharapkan membawa keluarganya. Dan karena itu, terlihat di halaman Kopdit sebelum pergi ke pantai, ada beberapa keluarga dari pengurus dan staff hadir untuk mengikuti liburan itu.

Siang itu, terasa panas sekali. Apalagi ketika berada di tepi pantai. Panas matahari yang menyenyat dan ditambah lagi panas yang terpantul dari butiran pasir-pasir putih. Walau demikian, para pemanggang ikan yang berada di bawah pohon pandan itu, bertahan dan tetap semangat bahkan tak terasa panas lagi karena gurauan yang dimunculkan oleh berapa orang begitu lucu, seakan-akan menghilangkan sengatan sinar mentari.

Sedang para ibu dan beberapa bapak memanggang ikan, Om Pendi, menebarkan pukat di pesir pantai Rambak. Om Pendi yang sehari-hari sebagai satpam Kopdit itu berharap, agar hasil pukatnya dapat menyumbang ikan atau sotong satu atau dua ekor untuk lauk siang itu. Namun, harapan itu pupus, karena telah membuang tenaga dan waktu, tetapi seekor pun tidak dapat. Maka spirit yang harus kita katakan kepada om Pendi, ”Bertolaklah lebih ke dalam lagi”, karena ikan atau sotong pasti ada di laut yang dalam. Laut yang dangkal itu, tidak ada ikan atau sotong lagi. Sebab TI apung adalah penyebab, pengusiran ikan dan sotong. IT apung, perusak ekosistem tepi pantai dan pantai itu sendiri.

Memukat tidak selalu dapat. Tidak mendapat ikan atau sotong, siang itu, bukan berarti makan siang tidak ada lauk. Tetap ada lauk ikan tenggiring, kerisi, jebung dan sotong yang dibeli di pasar pagi Pangkalpinang oleh Novi, seorang pengurus yang dipercayakan untuk mengurus lauk makan siang di Pantai Rambak bagi pengurus dan staff Kabari.

Jam makan siang 14.15. Pencinta Kabari, sibuk mencari tempat duduk untuk menikmati hidangan makan siang. Ada yang di dalam pondok yang disewa, ada juga di bawah pohon-pohon yang ada di sekitar pondok. Tidak ada restoran di pantai itu. Yang ada hanya pondok-pondok sederhana dengan fasilitas serba kayu yang bisa dipakai untuk tempat duduk. Pondok-pondok itu, buatan satu atau dua keluarga masyarakat Rambak, untuk mencari sepeser ketika hari minggu atau hari libur tiba. Walau demikian, banyak orang berbondong-bondong ke pantai itu untuk menikmati panorama pantai yang indah nan pesona serta mandi di laut yang lumayan bersih dari limbah industri domestik.

Setelah santap siang, terlihat ada beberapa anggota yang mandi. Mandi, bukan hanya karena menikmati laut yang masih jernih, tapi mungkin lebih dari itu mendinginkan kulit yang berjam-jam tersengat mentari di siang bolong itu. Mandi, tak terbilas. Karena serba terbatas. Kalau bilas, sebotol air biasa bayar dua ribu rupiah, kalau mau butuh air yang banyak satu jerigent, dengan harga 15 ribu rupiah. Maka jika anda punya kesempatan ke Pantai Rambak, siaplah ”payung” sebelum hujan.

Setelah mandi, para pengurus dan staff mengikuti beberapa permainan yang disiapkan oleh Novi dan Mumui, Instruktur permainan. Permainan, simbol kebersamaan. Karena di dalam permainan itu, banyak pengurus dan staff serta keluarga yang ikut berpartisipasi dalam permainan itu. Diakhir permainan itu, ada lomba lari cepat 20-an meter. Pak Widodo, salah satu peserta yang lumayan gemuk, yang telah berjuang sungguh-sungguh lari, ya...akhirnya menerima kekalahannya. Karena, mana bisa yang tua dapat mengalahkan yang masih mudah, yang fullpower dan gesit berlari. Yang terpenting, Pak Wid, yang sering disapa anggota kabari itu, telah memotivasi para peserta lomba.

Sebelum pulang ke Pangkalpinang, para pengurus dan staff serta anggota keluarga, berpose bersama-sama di tepi pantai. Photo, kenangan indah untuk masa depan. Kenangan, yang mengingatkan kita bahwa kita pernah bersua di Pantai Rambak. Kenangan, yang menandakan bahwa kebersamaan pernah terjalin; tak akan ada yang mengingkari. Semua akan mengagumi dan terbangun dari dan oleh serta untuk kebersamaan. Bahwa kebersamaan itu ada juga dalam membangun satu tema pokok: Kopdit Sehat, Anggota Sejahtera!

Selasa, 13 Maret 2012

MEMBANGUN KEAKRABAN PUTERA PUTERI ALTAR


Sebuah bus pariwisata berwarna biru berpaduan hijau meluncur ke arah bukit Fat Chin San. Sebuah bukit yang dikenal oleh warga Sungailiat sebagai tempat wisata alam yang bernuansa religi Kong Fu Chu. Bus yang mengantar lebih kurang 70-an putera puteri altar Paroki Sungailiat itu diiringi empat buah mobil avanza dan belasan kendaraan beroda dua. Iring-iringan kendaraan itu, akhirnya berhenti di kaki bukit.

Rombongan putera-puteri altar atau yang sering disebut PA-PI, kemudian ramai-ramai mendaki ke atas bukit. Putera-puteri altar yang terdiri dari anak-anak SD dan SMP itu, setelah sampai di atas bukit, mereka saling sharing soal perjalanan itu. Banyak anak yang selama ini tidak berjalan kaki sejauh itu, ngomel dan mengeluh letih. Namun, satu hal yang menarik dari itu adalah mereka begitu bersemangat mencapai puncak bukit dan menikmati panorama alam nan sejuk.

Mereka datang ke bukit Fat Chin San, tidak untuk berwisata ria. Mereka datang untuk mengalami kebersamaan yang selama ini terputus oleh karena rutinitas kegiatan sekolah masing-masing dan sibuk dengan berbagai privat mata pelajaran. Putera-puteri altar paroki dan stasi berkumpul, membangun komitmen menjalankan tugas pelayanan membantu imam di altar ketika misa.

Komitmen putera-puteri altar semakin kuat karena mereka didampingi oleh dua pastor dan satu suster, para guru pastoral sekolah serta para senior putera-puteri altar yang kini tergabung dalam Mudika St. Aloysius Gonzaga. Pastor paroki Sungailiat yang sering disapa umat, Rm. Kris, dalam kesempatan itu mendorong putera puteri altar dengan menceriterakan semangat pelayanan St. Tarsisius.

Lebih lanjut, pastor MSF yang sudah empat tahun berkarya di Sungailiat ini menuturkan bahwa St. Tarsius menjadi pelindung putera-puteri altar karena dia berani mempertahankan tubuh Kristus yang dibawanya dari sergapan penjahat. Tubuh Kristus yang dibawanya itu, untuk paus dan uskup yang ada didalam penjara karena ditawan oleh tentara.

Diakhir ceritera tentang St. Tarsisius, Rm. Kris menantang ke-70-an putera-puteri altar yang antusias mendengar itu dengan sebuah pertanyaan. Apakah kalian pun berani seperti St. Tarsisius untuk melayani Tuhan?  Paduan suara PA-PI pun bergema, kami siap melayani! Sebagai sebuah refleksi atas jawaban PA-PI, kami siap melayani, prochus Sungailiat meminta mereka untuk menulis satu jawaban atas pertanyaan mengapa selama ini putera puteri altar mulai berkurang menjalankan tugas pelayanan dalam misa?

Harus diakui bahwa jawaban terbanyak yang ditulis putera-puteri altar yang rata-rata anak-anak SD dan SMP, bahwa mereka capek, malas dan bangun tidur kesiangan. Jelas bahwa anak-anak terbebani karena dari senin sampai sabtu, sibuk sekolah dan sorenya harus mengikuti pelajaran tambahan. Selain itu, ada pula anak-anak yang memberikan jawaban bahwa mereka malu, takut salah, kurang tahu urutan misa, dan kurang ada latihan. Semua jawaban PA-PI itu, kembali ditegaskan oleh Ibu Yovita Djanu Rombang, mantan pendamping PA-PI Sungailiat, bahwa ke depan seluruh jawaban tadi akan diperhatikan oleh kakak-kakak pendamping PA-PI. Kesempatan yang bagus itu juga, diberikan kepada para senior PA-PI untuk menceritera semangat mereka dalam pelayanan yang sudah mereka laksanakan dalam beberapa tahun yang lalu. Hadir dalam sharing pengalaman itu seniores PA-PI seperti dr. Aditya, Nora Sylvia, Agustina Erawati, Asta Hilarius dan Rm. Budiyono MSF.

Semangat putera-puteri altar di atas bukit itu, seakan-akan direstui oleh Tuhan. Mengapa tidak, hari minggu siang (4/3/2012) itu panas, tiba-tiba mendung dan hujan pun mengguyur bukit Fat Chin San. Hujan rahmat memberikan harapan baru, bahwa putera-puteri altar siap melayani Tuhan dan siap untuk mengikuti temu akrab berikutnya di Belinyu setelah paskah nanti.

Acara membangun keakraban PA-PI, diakhir dengan makan bersama dan berkat perutusan oleh Rm. Kris. Selamat bertugas PA-PI, sampai jumpa setelah paskah. ***

Senin, 12 Maret 2012

GEREJA PASCA SINODE II PANGKALPINANG: "COMMUNION OF COMMUNITIES"

Dihadapan anggota Dewan Pastoral Pleno Paroki Sungailiat (26/2/2012) Bapa Uskup Mgr. Hilarius Moa Nurak, SVD menjelaskan rencana ke depan Gereja Katolik Keuskupan Pangkalpinang pasca Sinode II, (1-8 Agustus 2011). Bahwa ke depan, Gereja Katolik Keuskupan Pangkalpinang, pasca Sinode II merupakan 'Communion of Communities", atau dalam bahasa kita yang selama ini telah mulai dibangun "persekutuan komunitas-komunitas." Komunitas Basis Gerejawi, tetap merupakan prioritas utama. Communion of Communities adalah harapan para uskup Asia, yang telah dimulai pada tahun 1990. 

Dalam rencana perkembangan Gereja ke depan, Komunitas Basis Gerejawi (KBG) menjadi prioritas karena didalam KBG-KBG karisma-karisma umat perlahan-lahan dibangun, ditingkatkan dan dalam kehidupan Gereja, karisma-karisma umat yang sudah ada itu digunakan untuk karya pelayanan. Gereja memberi tugas kepada umat berdasarkan karisma-karisma yang dimiliki oleh umat. Karisma umat digunakan untuk pelayanan bersama.

Untuk membangun KBG sampai pada tingkat itu, Mgr. Hilarius yang pada 21 Februari 2012 genap 69 tahun menjelaskan lebih lanjut, "Gereja Asia sekarang dikenal dengan metode AsIPA (Asian Integral Pastoral Approach). Dulu Asia belajar dari Afrika Selatan yang dikenal dengan Lumko. Nanti untuk Keuskupan Pangkalpinang akan membentuk sebuah pastoral yang integral yang paling kurang setaraf AsIPA atau Lumko, yang disebut PIPA (Pangkalpinang Integral Pastoral Approach). PIPA ini merupakan alat atau sarana yang dipakai untuk mencapai Visi yang diharapkan bersama. PIPA juga penyalur, sebagai penyalur untuk mengantar umat menjadi komunio berpusat pada Kristus.

Mgr. Hila berkomitmen untuk membangun KBG supaya Visi Keuskupan Pangkalpinang tercapai yaitu Gereja yang berpartisipatif dan berpusat pada Kristus. Dan untuk mencapai visi tadi, Bapa Uskup pun memberikan informasi tentang perubahan stuktural pastoral Keuskupan dan Paroki.
Struktur yang baru, ada perubahan dekenat menjadi kevikepan. Maksud perubahan ini adalah supaya dalam hal karya pastoral langsung diatur secara otonom oleh kevikepan. Selain itu juga di paroki akan ada pemisahan antara Dewan Pastoral Paroki (DPP) dan Dewan Keuangan Paroki (DKP). DKP akan bekerja secara khusus untuk mengelola harta benda gereja. Sedangkan DPP khusus untuk bagian pastoral. Merencanakan dan melaksanakan hal-hal seputar karya pastoral. Keduanya DPP dan DKP berkaitan erat.
Selain ada Kevikepan, DKP juga untuk seksi-seksi tidak lagi di DPP tetapi berada di KBG. Maksudnya karena KBG-KBG lah yang mengetahui kebutuhan apa yang dibutuhkan oleh umat. Untuk KBG-KBG yang masih mempunyai keterbatasan tenaga dalam seksi-seksi, bisa bergabung dengan beberapa KBG dan membentuk satu seksi.

Hal-hal baru yang diharapkan oleh Mgr. Hila ini tidak lain, agar Gereja Katolik ke depan lebih berkualitas, lebih maju dalam hidup iman, karya pastoral (misi) dan jauh lebih penting dari itu adalah terwujudnya impian bersama "Gereja Partisipatif dan berpusat pada Kristus."

Mgr. Hila yang mendapat gelar sebagai "Bishop of Islands" ini tetap berkomitmen untuk membangun Gereja melalui KBG karena komunitas-komunitas itu mempunyai peran yang sangat penting. Pentingnya KBG bagi umat disampaikan Bapa Uskup dalam pertemuannya dengan umat Katolik Sungailiat dari tanggal 23-25 Februari 2012.

Kunjungan Mgr. Hila ke Komunitas Basis Gerejawi (23/2/2012): St. Yosep, St. Gabriel, St. Petrus, Sta. Theresia 2 dan Sta. Elisabeth, dengan berpusat di rumah Bp. Andreas Amin, anggota KBG Sta. Elisabeth, di Kenanga Sungailiat. Pertemuan yang dihadiri lebih kurang 100-an umat itu, dengan beragam tema yang muncul dari umat. Walau demikian, bapa uskup memprioritaskan pada pengembangkan KBG. Karena KBG adalah medan katekese umat. Didalamnya Kitab Suci diwartakan. Selain itu, KBG adalah tempat pemberdayaan bagi umat. Mgr. Hila memberi contoh Mohammad Yunus yang mampu memberdayakan ibu-ibu. Ibu-ibu diberdayakan supaya lebih berkualitas, sehingga mereka pun mampu dalam hidup menggereja. Dalam KBG erat kaitan dengan fasilitator, karena itu fasilitatornya sendiri perlu diberdayakan dengan pertemuan rutin, sehingga mereka mampu memfasilitasi kegiatan komunitas dengan baik dan lancar.

Jumad, 24/2/2012, Mgr. Hila berkunjung ke Sta. Theresia 1, St. Fransiskus Xaverius, Sta. Sisilia, Sta. Maria Goretti, dan St. Vincentius. Mgr. Hila menekankan pemberdayaan kelompok yang ada yang betul-betul sebagai sebuah KBG. Supaya bisa sebagai sebuah KBG, Syering Injil dalam AsIPA adalah metodenya. Komunitas berjalan tetapi tiru Ibadat Sabda, belum disebut KBG. KBG sesungguhnya adalah duduk bersama, membaca Kitab Suci, menjawab apa yang disampaikan oleh Kristus. KBG adalah keluarga besar berdasarkan iman. KBG mau menciptakan suatu kebersamaan dari berbagai perbedaan seperti suku, ras, dll untuk menjadi saudara-saudari dalam iman, untuk tugas pembinaan khusus bagi anak-anak dari anggota komunitas. KBG menjadi titik penting pemberdayaan iman baik bagi orang dewasa maupun bagi anak-anak.

Setelah mengunjungi umat seputar kota, saatnya Mgr.Hila mengunjungi umat di pinggiran kota Sungailiat, umat St. Yoh. Don Bosco, St. Dominikus dan St. Yoh. Pemandi. Sekali lagi, Mgr. masih tetap konsen pada KBG. KBG, tempat pendidikan iman baik bagi umat dewasa maupun anak-anak. Untuk pembinaan iman anak, KBG adalah tempatnya. Dimana, di dalam KBG, umat yang mempunyai karisma untuk mengajar memberi dirinya. Anak-anak didalam KBG diberi dorongan untuk menjadi putera-puteri altar. Dan karena itu, mereka ini akan terpanggil untuk masuk ke seminari. Terhadap panggilan khsusus ini Mgr. menegaskan, selama ini "kita panen dari kebun orang. Mulai 2012, kita berusaha untuk memulai seminari menengah di kebun sendiri." Itu artinya, anak-anak kita dibina, diarahkan untuk panggilan khusus itu. Selain itu, Mgr juga menekakan KBG diharapkan untuk peduli kepada sesama. Umat KBG bahu membahu membantu umatnya sendiri. Seperti dulu Credit Union yang dibangun karena situasi masyarakat saat itu yang miskin, demikian juga saat ini, anggota KBG yang kurang mampu dibantu oleh anggota KBG sendiri. Saling membantu satu sama lain.

Dengan demikian, Gereja yang kita harapkan "Communion of Communities" sungguh-sungguh nyata sebagai Gereja Partisipatif dan Berpusat pada Kristus. ***


Jumat, 09 Maret 2012

RAT KOPDIT KABARI: KOPDIT SEHAT ANGGOTA SEJAHTERA

"Kopdit Sehat, Anggota Sejahtera", itulah tema khusus yang diusung dalam rapat anggota tahunan (RAT) Koperasi Kredit Karya Bersama Lestari (KOPDIT KABAR) Pangkalpinang. RAT yang dilaksanakan di Hotel Grand Mutiara, Kampung Bintang Pangkalpinang pada minggu, 4 Maret 2012 dari jam 10.00 sampai dengan 14.30 wib. 

RAT kali ini sebelum dilaksanakan, didahului dengan Pra-RAT yang dilaksanakan pada minggu, 26 Februari 2012 di Green Garden Jl. Koba Pangkalpinang. Dalam Pra-RAT, lebih kurang 800 peserta yang hadir. Dalam Pra-RAT ditawarkan kepada anggota untuk mengikuti RAT. Namun hanya seratusan anggota yang bisa ikut RAT.

"Kopdit Sehat, Anggota Sejahtera", benarkah itu? Tema ini yang diperjuangkan anggota untuk tahun buku 2012. Mudah-mudahan anggota sejahtera, dan secara organisasi, Kopdit bisa sehat. Dalam pengantar RAT, Bp. Andreas Budiono, wakil BK3D Pangkalpinang, menyampaikan beberapa hal agar Kopdit bisa sehat, yaitu (1). Managemen, coba untuk ditingkatkan (2). Efisiensi dalam keluar masuk uang (3). Pinjaman Liquiditas (4). Kemandirian (5). Jati diri Kopdit: prinsip-prinsip Kopdit diteguhkan kembali. (6). Pinjaman: pinjaman dengan kesadaran perlu dikembalikan. Tahu hak dan kewajiban.

Dalam RAT Kopdit kali ini, anggota memfokuskan pembahasan pada pendidikan bagi anggota, kredit lalai (macet) dan program Kopdit 2012 untuk menaikan asset. Memang benar, RAT kesempatan untuk anggota "bersekolah". Di dalamnya anggota mengerti laporan, bertanya yang kurang jelas menurutnya, dan mampu untuk masuk dalam sebuah sistem pembelajaran. Dalam pembahasan-pembahasan program, anggota yang hadir cukup teliti untuk bertanya dan memohon penjelasan lebih detail. Bukan hanya itu, anggota pun semakin teliti membahas laporan yang disampaikan para pengurus. Dengan begitu, anggota mempunyai kepeduliaan untuk membangun dan meningkatkan Koperasi Kreditnya sendiri. ***

Selasa, 28 Februari 2012

KOMUNITAS BASIS GEREJAWI ST. FRANSISKUS XAVERIUS KAMPUNG JAWA - PAROKI SUNGAILIAT

Daerah Kampung Jawa, termasuk wilayah Kota Sungailiat. Disebut kampung Jawa karena  anggota komunitas ini hampir semuanya adalah orang Jawa. Komunitas memiliki fasilitator yang cukup dan baik. Fasilitator lebih baik dan berkualitas lagi jika pemberdayaan kualitas keluarga muda dikelompok ini ditingkatkan lagi. Artinya bahwa perhatian pada keluarga-keluarga muda akan membantu terlibatan mereka dalam berbagai kegiatan komunitas.

Ada kaum muda tapi kini tidak banyak lagi. Anak-anak dan remaja minim sekali. Kelompok ini merupakan teritorial yang bernuansa kategorial – budaya (Jawa). Ada beberapa anggota keluarga yang berasal dari kelompok St. Yosep dan St. Petrus yang sering mengikuti kegiatan kelompok St. Fransiskus Xaverius, hal ini karena ”kedekatan emosional budaya”. Sedangkan kelompok teritorialnya sendiri, tidak mengikutinya. Maka dalam pertemuan kelompok, perlu penyadaran tentang KBG—teritorial. St. Fransiskus Xaverius sejak 2008, telah dibentuk Credit Union.

Bapak Yohanes Sagiyo adalah ketua Komunitas Fransiskus Xaverius. Komunitas ini memiliki umat sebanyak 49 jiwa yang terdiri dari 28 laki-laki dan 21 perempuan dengan 17 Kepala Keluarga. Komunitas ini pun mempunyai bebrbagai macam kegiatan antara lain: (1). Misa komunitas setiap hari Kamis Minggu I dalam bulan. (2). Ibadat tobat yang dilaksanakan di komunitas yaitu tiap masa Adven dan masa Prapaskah. (3). Ibadat / pendalaman iman meliputi: APP, Bulan Rosari, PDPL, Bulinas, Bulan Kitab Suci, dll. Pertemuan setiap hari Kamis jam: 19.00 setiap minggu. (4). Pesta Pelindung, tiap tahun tanggal 3 Desember. (5). Kegiatan khusus yang diprogramkan sepanjang tahun.

Dalam sensus Paroki Sungailiat, jumlah umat komunitas yang sudah disebutkan tadi, dapat dirincikan berdasarkan umur dan pendidikan sebagai berikut:

Dari Segi Umur:

UMUR
JUMLAH UMAT
0-10 TAHUN
8
11-20 TAHUN
3
21-30 TAHUN
7
31-40 TAHUN
11
41-50 TAHUN
6
51-60 TAHUN
9
61 > KE ATAS
5
TBD (=TIDAK BERI DATA
0


Dari segi Pendidikan:

PENDIDIKAN
JUMLAH UMAT
TK
2
SD
8
SMP
4
SMA
17
PT
14
TBD (=TIDAK BERI DATA
0

Berdasarkan segi umur ini, kita dapat melihat seberapa jauh keterlibatan anggota komunitas ini dalam berbagai kegiatan komunitas. Setiap kegiatan lebih kurang 20-an orang yang aktif, masih banyak anggota yang belum terlibat, apalagi anak-anak dan kaum muda.
Sedangkan berdasarkan pendidikan, komunitas ini mempunyai tenaga yang lumayan berkualitas, namun juga masih banyak anggota umat yang belum maksimal memberikan diri dalam karya pelayanan dalam komunitas. ***

Senin, 27 Februari 2012

KOMUNITAS BASIS STA. THERESIA 1 PAROKI SUNGAILIAT

Wilayah kelompok ini meliputi daerah Sinkai Melintang (Jl. Sam Ratulangi), Air A Haw, Pelabuhan Ikan, Jelitik,  Rambak, dan Teluk Uber. Kelompok ini amat beruntung, di samping menjadi tempat bernaung bagi para donator di paroki ini, juga memiliki banyak fasilitator yang handal. Situasi di dalam kelompok amat bagus, kreatif dan kompak penuh keakraban. Hanya dirasakan terasa amat ekskusif, banyak tenaga yang mampu menjadi anggota koor, fasilitator, tapi masih sebatas untuk kebutuhan kelompoknya sendiri, belum tergerak untuk membantu kepada kelompok lain yang membutuhkan. Situasi kelompok ini, sejak bulan November 2007, mulai pasang surut dalam keterlibatannya baik di kelompok maupun di Paroki. Namun keadaan ini telah dipulihkan sehingga telah memiliki prospek baru untuk merangkul anggota kelompok lain dalam hal kegiatan-kegiatan umum, seperti retret / rekoleksi, dan pertanian kacang kedelai serta pengobatan gratis.

Ketua komunitas bapak Yosef Ardiyanto Totong, seorang guru di Yayasan Budi Mulia, Pangkalpinang. Komunitas Sta. Teheresia 1 memiliki beberapa kegiatan yang lazim dilaksanakan: (1). Misa kelompok setiap bulan pada hari Selasa dalam minggu I. (2). Ibadat tobat, yang rutin dilaksanakan masa adven dan masa prapaskah.  (3). Kegiatan lain Aksi Puasa Pembangunan, Bulan Rosari, Bulan Dana Pestari, Bulinas, Bulan Kitab Suci dan pendalaman iman mingguan yang dilaksanakan pada harri selasa. (4). Pesta Pelindung setiap tahun tanggal 1 Oktober (5). Kegiatan khusus, merupakan kegiatan program tahunan yang disusun oleh komunitas. Kegiatan itu melibatkan umat komunitas atau lintas komunitas.

Berdasarkan sensus Paroki 2011, komunitas ini memiliki 31 Kepala Keluarga, jumlah umatnya 91 jiwa yang terdiri dari 43 laki-laki dan 48 perempuan. Sedangkan sensus berdasarkan pendidikan terlihat di bawah ini:

TINGKAT PENDIDIKAN
JUMLAH UMAT
TK
2
SD
19
SMP
12
SMA
20
PT
16
TBD (=TIDAK BERI DATA)
22

Kemudian jumlah umat berdasarkan umur, dapat diterlihat sebagai berikut:

TINGKATAN UMUR
JUMLAH UMAT
0-10
15
11-20
13
21-30
18
31-40
11
41-50
5
51-60
6
60 > KE ATAS
15
TBD (=TIDAK BERI DATA)
8

Dari data yang ada ini, komunitas Sta. Theresia 1 merupakan komunitas yang kualitas baik menyangkut sumber daya manusia maupun dalam pengembangan sumber ekonomi. Ke depan komunitas ini diharapkan untuk terbuka dengan komunitas-komunitas basis yang lain. ***