Sabtu, 04 Agustus 2012

DUDUK...


Duduk... apa itu? Duduk, meletakkan ”kedudukan” kita di atas sebuah tempat yang datar seperti kursi, bangku, atau tempat lain yang datar yang menjadi tempat untuk duduk.

Duduk... adalah sebuah sikap bertahan, berkanjang terhadap suatu prinsip. Duduk...adalah posisi tubuh kita, bisa mendengarkan suatu ajaran atau kotbah atau wejangan dari seseorang. Duduk adalah penyerahan diri seutuh kepada pribadi yang sedang mengadakan sesuatu.

Temu Fasilitator waktu luang Sinode II
Makna duduk yang telah dipresentasikan diatas, termaktub juga dalam bacaan-bacaan suci dalam minggu biasa ini (4-5 Agustus 2012). Kitab Keluaran (16: 2—4), menceriterakan secara tersirat, Israel tidak bertahan dalam perjalanannya menuju Tanah Terjanji. Tidak bertahan karena mereka sendiri tidak mau menderita terlebih dahulu. Tidak bertahan, menandakan kerapuhan dalam prinsip dan karena itu lebih sering mengeluh. ”Lebih baik kami mati di Mesir ketika duduk berhadapan dengan kuali...”, lebih baik mati karena kegembiraan dalam penjajahan dari pada mati karena penderitaan yang berkepanjangan di Padang Gurun.

Kebertahanan dalam iman menandakan bahwa kita telah menjadi pengikut Kristus, tegas Paulus kepada umat di Efesus (Ef. 4: 17, 20—24). Kebertahanan adalah suatu sikap teguh dalam duduk. Kebertahanan, sikap komit. Mau merasakan kekuatan Allah.

Dan lebih bernilai lagi, ketika kebertahanan itu terungkap dalam mujizat, 5 roti dan 2 potong ikan, yang membuat banyak orang menjadi kuat. Bertahan duduk, seperti yang diminta Yesus dalam Injil Yohanes (Yoh. 6: 24—35), menegaskan, mau mengalami rahmat Allah. Rahmat Allah yang turun dari surga untuk umat-Nya, sehingga semua orang yang hadir menjadi satu saudara-saudari, satu Gereja yang teguh dalam beriman.
Terkadang, kita pun tidak bertahan untuk ”duduk”. Kita ingin cepat-cepat. Yesus mengajak kita untuk tetap duduk, dan teguh dalam iman, agar kita mengalami rahmat Allah. Mujizat dalam hidup. ***

Jumat, 03 Agustus 2012

PESTA PERAK 25 TAHUN MENJADI USKUP KEUSKUPAN PANGKALPINANG


Bapa Uskup Keuskupan Pangkalpinang, Mgr. Hilarius Moa Nurak, SVD menjadi uskup di Keuskupan Pangkalpinang sejak 2 Agustus 1987, 25 tahun yang lalu. Dan sejak tanggal 2 Agustus 1972, Mgr. Hila genap 40 tahun menjadi imam di Tarekat SVD (Societas Verbum Dei).

Saat Kunjung di KBG Sta. Elisabeth Sungailiat
Menjadi uskup di wilayah Keuskupan Pangkalpinang dengan beberapa pulau, Mgr. Hila dikenal dengan sebutan “Bishop of Sea”. Seorang uskup di wilayah kepulauan memang tidak gampang. Tuntutannya adalah fisik dan mental yang kuat dan tangguh. Selama 25 tahun, Mgr. Hila telah menghadapi semuanya ini. Tidak heran jika fisiknya sudah menurun, kelihatannya rambut mulai beruban, dan sudah beberapa kali sakit, sehingga operasi ganti klip jantung. Walau demikian Bapa Uskup sampai dengan saat ini tegar dalam berkarya dan dengan tekun mengunjungi umatnya dari setiap paroki. Spiritnya ini justru meneladani Ibu Maria, yang selalu peduli dan setia mengunjungi saudara-saudarinya.

Saat kunjung ke KBG St. Dominikus Sungailiat
Dalam karya Mgr. Hila selama 25 tahun ini, beliau telah begitu gegap gempita membangun apa yang selama ini telah kita sebut Komunitas Basis Gerejawi (KBG). Perjuangannya supaya KBG-KBG mekar di paroki-paroki Keuskupan Pangkalpinang. Bahkan sejak Sinode I KBG menjadi prioritas utama karya pastoral Gereja Keuskupan Pangkalpinang. Perjuangannya terhadap KBG lebih teguh lagi ketika KBG dibakukannya dalam Sinode II.

Dalam berbagai kunjungannya ke paroki-paroki, Mgr. Hila selalau menekankan dan mengajak umatnya untuk memprioritaskan hidup pada KBG. Karena KBG itu sendiri adalah Rumah dan Sekolah bagi Umatnya. KBG sebagai rumah, didalamnya tiap anggota saling kenal satu sama lain dan bahkan saling membangun persaudaraan baik antar umat di KBG maupun lintas KBG. KBG sebagai sekolah, didalamnya tiap-tiap anggota mendapat pendidikan dan memberikan karisma-karismanya untuk karya pelayanan bersama. Ad multos annos, Mgr. Hila. We love you, we need you. ***

Sabtu, 28 Juli 2012

MUJIZAT ITU NYATA


Adolf. Heuken SJ dalam Ensiklopedi Gereja III (1993) memberikan pemahaman kepada kita tentang mujizat sebagai berikut. ”Mujizat adalah tanda yang menampakan kekuasaan Allah yang menyelamatkan. Selain itu, mujizat adalah kejadian yang tidak dapat diterangkan oleh pengalaman kita yang berdasarkan pengamatan alam dan karena itu bersifat luar biasa.”

Lebih lanjut, pastor SJ itu menegaskan, ”Peranan mujizat ialah membuka hati dan akalbudi manusia supaya mengambil sikap positif terhadap tindakan dan Sabda Allah. Mujizat tidak memaksa orang untuk percaya namun memanggil manusia untuk menerima pesan Allah.”

Bacaan-bacaan suci minggu ini (HM. Biasa XVII-28-29/7/2012) mengedepankan suatu peristiwa harian yang direfleksi lebih dalam mengandung suatu mujizat. Kejadian yang begitu manusiawi sekali itu adalah ”makan - makanan.” Dalam peristiwa makan itulah, Allah hadir dan menyertakan campurtangan-Nya. Allah hadir dan membuka mata hati setiap manusia untuk menerima pesan yang disampaikan Allah melalui peristiwa makan.

Makan, secara biologis dipaham untuk mengeyangkan rasa lapar. Bunyinya pemahaman ini agak duniawi. Tetapi makan sebenarnya adalah Allah mau membagi kemurahan-Nya melalui bahan makanan bagi manusia yang sudah kooperatif dengan Allah dalam membangun dunia, begitulah bacaan pertama menegaskan (2Raja-raja 4:42-44).

Selain itu, dalam bacaan kedua (Ef. 4:1-6) melukiskan, peristiwa makan, menunjukkan Allah hadir dan bersama manusia memelihara ikatan kesatuan, baik antar sesama maupun dengan Allah sendiri. Dan dengan lebih tegas, Yohanes (6:1-15), menunjukkan suatu kejadian yang luar biasa dalam tulisannya bahwa makan bersama yang diadakan Yesus di Gunung Horeb itu telah mendatangkan kebersamaan, persatuan, dan komunio yang saling berbagi.

Dalam kebersamaan-Nya dengan khalak ramai yang datang, termasuk perempuan dan anak-anak kecil yang hadir, Yesus mau menyatakan bahwa kebersamaan umat dengan diri-Nya adalah sebuah Gereja. Gereja perlu pemersatu. Dan pemersatu yang inti itu adalah ”makan bersama” dan ’kesatuan Gereja dengan hierarkinya” yaitu para rasul dan pendiri Gereja itu sendiri.

Mujizat 5 ketuk roti dan 2 potong ikan, sama dengan 5000 laki-laki menunjukkan bahwa kehadiran Kristus dalam peristiwa itu menghadirkan anugerah yang luar biasa bagi manusia, bagi Gereja-Nya. Memang benar bgeitulah, mujizat itu nyata! Maka pertanyaan refleksi untuk kita adalah ”apakah sebagai orang Katolik yakin bahwa Allah dalam diri Yesus selalu hadir dalam hidup kita? Apakah kita selalu berpusat pada-Nya, membangun communio dengan Yesus dan sesama serta bermisi bagi dunia seperti anak kecil yang sanggup memberi dari kepunyaannya sendiri? ***

Sabtu, 21 Juli 2012

BELARASA


Hati terpanggil untuk melakukan tindakan menolong, merasakan, keberpihakan, dan mau membantu. Semua makna ini, dilakukan dengan kejujuran, ketulusan, dan niat yang jernih.

Yeremia dalam (23:1-6) menerawang jauh, bahwa akan genap janji Allah. Janji Allah yang dimaksudkan itu ialah ”Tunas Daud.” Tunas Daud yang belarasa, yang bersikap adil terhadap bangsa-Nya. Bersikap peduli dan mau mengangkat derajad umat-Nya yang sedang dalam penindasan.

Tunas Daud yang disampaikan Yeremia, ternyata memiliki kepribadian yang unik. Paulus kepada umat di Efesus (2:13-18), memberikan ciri keunikkan itu. Bahwa unik karena keberanian-Nya menyatukan segala konflik perbedaan, segala persoalan hidup yang tercerai berai dengan darah-Nya sendiri. Bahwa kalian yang dulu jauh, kini dekat karena darah Kristus. Darah pemersatu dan darah perdamian bangsa. Darah-Nya mengingatkan suatu kedekatan umat dengan diri-Nya sendiri. Darah-Nya adalah pengorbanan untuk banyak perbedaan, persoalan dalam hidup dan memberikan meterai untuk tetap berjuang bersama dengan Dia.


Belarasa, yang diungkapkan-Nya dalam pengorbanan, darah-Nya sendiri itu, hidup terus dan menyegarkan umat-Nya. Markus dalam Injil, melukiskan kerinduan umat-Nya untuk tetap hadir dan ada bersama-Nya dalam makan bersama.

Karena, makanan yang dikonsekrirkan adalah diri-Nya sendiri. Dari pada-Nya mengalir aliran-aliran air yang menyegarkan jiwa-jiwa yang letih lesuh. Maka pertanyaannya adalah ”apakah darah-Nya yang mengalir dalam jiwa kita, memberikan kehidupan juga bagi orang lain yang ada di sekitar kita?” Lima roti dan dua potong ikan, (Mrk.6:30-34) telah memberikan kehidupan baru, maka kita pun harus berani memecah-mecahkan diri dan memberikan kepedulian bagi sesama kita. ***

Kamis, 19 Juli 2012

"KITA DIPANGGIL SEPERTI AMOS"


Pernahkah kita menyadari diri sebagai orang yang terpanggil, untuk menjadi seorang nabi? Lalu ingatkah kita, kapan dan dimana, kita dipanggil Tuhan untuk tugas seorang nabi?Adalah Amos, dia seorang pemungut buah ara hutan. Bukan hanya itu, dia juga seorang peternak domba. Dia berasal dari Tekoa (1:1). Latar belakang hidupnya seperti ini, Amos tetap menyadari hidupnya sebagai seorang nabi. Seorang yang ditugaskan Tuhan untuk mewartakan kebenaran dan keadilan Allah di Kerajaan Israel yang waktu itu dalam situasi sosial yang kacau balau.

Rupanya pewartaannya, menjadi kontroversial dengan para imam di Betel, yang mengangap Amos sebagai seorang nabi bayaran. Karena itu kehadiran Amos menjadi saingan bagi mereka. Sehingga tidak heran, Amos pun diusir dari Israel untuk pergi ke Yehuda. ”Pelihat, pergilah, enyahlah ke tanah Yehuda. Carilah makananmu di sana ...”(7:12). Nabi, dianggap melawan tatanan sosial yang sudah ada. Dianggap merusak situasi yang sudah baku.

Kehadiran Amos, membuka ruang bagi hadirnya kebenaran dan keadilan. Kehadiran Amos, mau memberikan terang Sabda Allah bagi Raja Yerobeam yang tengah hidup dalam kemewahan.

Kehadiran Amos, menyadari kita bahwa sesulit apapun dalam hidup setiap hari, nilai keadilan dan kebenaran, tidak dapat direduksi dengan nilai-nilai ekonomis. Keadilan dan kebenaran adalah keutamaan secara sosial dan edukasi dalam mewujudkan perdamaian yang beradab.

Nilai-nilai ini pun diperjuangkan oleh Rasul Paulus dalam bacaan kedua. Bahwa kebenaran dan keadilan hadir saat ini jika orang harus bertobat, memberi pengampunan terhadap setiap orang yang bersalah, berdosa. Dan membuka ruang hati kita untuk penerima masukan dari Yesus, sehingga karya perutusan-Nya menjadi tidak sia-sia. ***

Senin, 09 Juli 2012

"Negative Thinking"


Sebuah Pabrik di Simpang Bedukang Kab. Bangka (2011)
Negative thinking, diartikan sebagai pikiran negatif. Apa yang dipikirkan seseorang itu memiliki nilai-nilai yang negatif, baik maksudnya maupun tujuannya. Negative thinking dari seseorang dapat dipahami oleh orang lain, bila sudah diungkapkan entah itu melalui verbal ataupun melalui non verbal.

Negative thinking pun rupanya ada dipikiran seorang nabi, namanya Yehezkiel (bdk. Yeh. 2: 2 – 5). Ketika ia diutus oleh Allah untuk mewartakan Sabda Allah kepada umat Israel, Yehezkiel sendiri menolak. Dia menolak karena negative thinking terhadap umat Israel. Bahwa Israel sendiri adalah bangsa pemberontak.

Karena itu, ia takut bila diutus Allah ke Israel. Tetapi, Allah tetap meyakinkan Yehezkiel agar tugas perutusan itu dilaksanakan. Allah meyakinkannya bahwa misi tetap dijalankan, tidak bisa tidak. Walaupun umat Israel dengan situasi semacam itu. Soal Israel, yang pemberontak itu mendengar Sabda Allah atau tidak, itu bukan urusan Yehezkiel.

Brisur ancaman menjelang Pilgub Babel 2007
Negative thinking juga ada didalam diri rasul Paulus (2Kor. 12: 7 – 10). Paulus merasa bahwa apa yang dipikirkan secara negatif itu, merupakan ”beban dalam karya perutusan”. Karena itu, dia meminta kepada Kristus agar diambil dari dirinya sehingga ia mewartakan Sabda Allah dengan lebih tenang.

Negative thinking juga adalah dalam diri umat Nazareth yang sedang mendengarkan pewartaan Yesus. Mereka bukan mengagumkan kehebatan Yesus, tetapi berpikir negatif terhadap latar belakang Yesus.

Negative thinking, sering ada dan berakar dalam diri umat katolik. Sehingga terkadang muncul ketakutan, kecemasan dan kecut terhadap keputusan/hambatan yang dihadapi dalam hidup. Apalagi dalam hubungan dengan hidup sebagai anggota gereja. Banyak orang takut, cemas, dan malu menjalankan tugas perutusan Kristus. Seperti Yehezkiel dan Paulus, kita pun hendaknya semakin dekat dengan Kristus agar terus menerus dimotivasi Kristus untuk hidup dalam ”Positive thinking.” ***

Sabtu, 30 Juni 2012

“Maut Masuk ke dalam dunia”

Maut atau sering disebut dengan kematian, adalah kepastian. Karena kepastian, semua yang diciptakan akan mengalaminya. Namun, mesti diingat bahwa maut atau kematian, tidak diciptakan oleh Allah.

Kitab Kebijaksanaan Salomo dalam bacaan pertama (Keb. 1:13-15;2:23-24), mengatakan kepada kita bahwa ”kesucian itu kekal. Maut tidak dibuat oleh Allah. Maut, upah dari dosa. Maut, milik setan.”

Karena ciptaan-Nya itu tidak patuh, tidak taat, tidak setia pada-Nya, maut menyusup masuk ke dalam hidup ciptaan itu. Melalui maut itu, setan berusaha untuk masuk ke dalam dunia, dan mau menguasai dunia.

Untuk menguatkan diri bahwa karya Allah itu suci, dan karena itu kesucian perlu dipertahankan, sehingga maut tidak membinasakan kita, rasul Paulus dalam bacaan kedua (2Kor. 8: 7, 9, 13—15) menasihati kita agar pola hidup harus seimbang, antara yang rohani dan yang duniawi. Paulus menegaskan, berusaha untuk kaya dalam kemiskinan karena Kristus Yesus itu membawa kasih didalam diri kita.

Kasih Allah yang sempurna nyata dalam pribadi Yesus. Kasih Allah itu mengobarkan semangat hidup, mendorong kemauan untuk melangkah maju dan membangkitkan belarasa terhadap sesama.

Markus melukiskan Kabar Sukacita hari ini dalam Injil (Mrk. 5: 21—43) dengan pribadi Yesus yang peduli terhadap orang lain, mau menyelamatkan nyawa orang, mau supaya maut tidak hidup lagi didalam diri orang, didalam dunia ini.

Yesus memberantas maut, Yesus menghancurkan kejahatan setan dalam dunia, dengan cara membangkitkan Anak Yairus dan menyembuhkan seorang perempuan yang telah 12 tahun sakit.

Maut adalah kepastian. Karena itu, hidup yang tersisa sekarang dimanfaatkan dengan pola hidup yang seimbang, antara rohani dan duniawi. Hidup dalam kasih Allah. Hidup, menghidupkan kasih Allah yang ada didalam diri untuk sesama kita. Begitulah, kita menghindari maut, untuk keselamatan  kekal. ***