Selasa, 28 Agustus 2012

OMONG DOANK: SUKARELA...


Kata “SUKA RELA” mempunyai nilai yang luar biasa dalam. Suka rela sama katanya dengan gratis. Bila kita memaknai kata ini maka suka rela adalah pemberian diri secara gratis. Wah…sama dengan Yesus. Memberikan diri-Nya secara gratis kepada manusia, menebus dosa-dosa manusia, yang seharusnya ditanggung manusia sendiri.

Coba kata SUKA RELA itu, tidak ada RELA hanya ada SUKA saja, maka secara perlahan-lahan makna yang muncul adalah tidak gratis. Suka mempunyai nilai, mau, perlu dibayar, perlu ada imbalan. Apalagi dunia sekarang, tenaga, pikiran dan waktu selalu diperhitungkan.

Coba kata SUKA RELA itu, tidak ada SUKA, hanya ada RELA aja. Maka yang ada dalam hati kita adalah suatu ketulusan, ikhlas. Rela, jarang terjadi. Tidak mungkin setiap kali, selalu rela. Artinya miskin-lah, tidak punya apa-apa. Jika tidak ada SUKA-RELA, sia-sia-lah penebusan Yesus bagi kita. Suka rela yang ditunjukkan-Nya, tidak kita teruskan. Maka pertanyaannya: bagaimana dengan misi kita sebagai orang kristen? ***

Selasa, 21 Agustus 2012

GUNAKAN WAKTU YANG ADA


Orang Yahudi kuno mempunyai dua pandangan terhadap waktu. Waktu sebagai Chronos dan waktu sebagai Chairos. Waktu sebagai chronos, sederhananya adalah waktu secara kronologis. Misalnya waktu pagi, siang, senja, malam, dini hari, pagi lagi....dan seterusnya. Waktu sebagai chairos, saat di dalamnya dimaknai sebagai waktu keselamatan. Disaat-saat itu setiap peristiwa yang terjadi dan terlaksana dengan baik dimaknai sebagai waktu penyelamatan.

Berlatar belakang atas waktu ini, kita diundang untuk melihat peristiwa yang terjadi dalam bacaan-bacaan suci kita hari ini. Kitab Amsal adalah sebuah kitab nasihat dengan pola bahasa sastra yang dalam. Undangan untuk menikmati perjamuan makan, dimaknai sebagai sebuah peristiwa keselamatan (Ams, 9:1-6). Di dalamnya Allah yang mengundang umat-Nya untuk duduk makan bersama. Kepada setiap undangan, Allah meminta untuk menanggalkan  pola pikir yang lama (kebodohan) dan hendaknya mengikuti jalan pikiran yang baru. Itu artinya, manusia diundang untuk hidup dalam persekutuan dengan Allah.

Paulus dalam pidotonya kepada umat di Efesus (Ef. 5:15-20), meminta supaya memanfaatkan waktu yang diberikan Tuhan dengan sebijaksana mungkin. Paulus menyebutnya ”waktu yang ada itu diusahakan dipakai untuk mengerti kehendak Allah.”

Yohanes memaknai kebersamaan hidup dalam persekutuan dengan perjamuan bersama. Dalam perjamuan itu, Allah memberikan diri-Nya, wujudnyata dalam diri Yesus (Yoh.6:51-58). Yesus, roti yang hidup. Makan bersama merupakan peristiwa pemenuhan waktu chronos dan chairos. Waktu dimana Allah mewujudkan diri secara nyata dalam diri Yesus Kristus. Maka percaya kepada-Nya, kita akan selamat. Dengan percaya, kita berpusat pada Yesus. Dalam waktu chronos dan chairos, Yesus kita jumpai dan menyertai kita. ***

Sabtu, 18 Agustus 2012

MASYARAKATKU RESAH DAN GELISAH: TANAH ULAYAT MENJADI MEDAN PEMBANGUNAN


Kawaliwu, itulah desaku. Kawaliwu, desa gaya baru ”Sinar Hading”. Di Teluk Hading lah, desaku itu tegak berdiri dan kokoh kuat menghadapi laut lepas, Laut Flores, yang berhadapan dengan Ujung Pandang atau Makasar, bila kita menarik sebuah garis lurus.

Sinar Hading, kini telah menjadi ibu kota kecamatan, Kecamatan Lewolema.
Kecamatan ini dimekarkan lebih kurang pada tahun 2006. Usianya kini (2012) masih enam tahun. Masih relatif muda. Apabila kita membandingkan dengan umur seseorang, ya...masih kelas 1 Sekolah Dasar. Jadi, masih belajar membaca dan menulis, menyebut huruf dan angka. Belum mahir.
 
Dalam perjalanan waktu ini, arah pembangunan daerah Flotim tertuju ke sana. Satu hal yang menarik di sana karena masih terbilang aman, bahkan amat strategis bila Sinar Hading menjadi tempat penghubung Kota Larantuka dan Kota Maumere dengan  Kecamatan Tanjung Bunga, sebuah kecamatan paling timur di pulau Flores.

Dalam derap langkah pembangunan Flotim, Pemkab Flotim, bagian Pelayan Listrik Negara (PLN) berencana untuk membuka pembangunan PLTU/PLTB (Pembangkit Listrik Tenaga Uap / Tenaga Batu Bara). Membangun itu penting. Karena mau memajukan masyarakat. Meningkatkan hajat hidup bagi banyak orang. Adalah suatu tujuan yang mahamulia yang terkandung dalam cita-cita negara Indonesia ini berdiri. Membangun, mengubah hidup yang lama menjadi hidup yang baru. Tentu ini nilai positip. Nilai ini bila ditawarkan kepada semua orang, pasti tidak akan satu pun yang menolaknya. Mau menerimanya.
 
Membangun PLTU/PLTB yang direncanakan Pemkab Flotim di Sinar Hading, bila dilihat dalam kacamata ’lokasi’, tentu hal ini perlu dipertimbangkan dengan baik dan matang. Lokasi di Kawaliwu itu bukan daerah datar dan rata relief buminya. Kawaliwu, daerah pesisir pantai dan juga daerah pegunungan.
 
Luas lahannya tidak seberapa. Begitu juga luas pesisir pantainya. Jika kita mengkalkulasi secara kasar dengan pertumbuhan penduduk akhir-akhir ini, 10 tahun ke depan, Kawaliwu telah sempit sekali baik untuk lahan tempat tinggal maupun lahan pertanian atau perkebunan. Itu artinya, masyarakat Kawaliwu sudah terbatas lahan untuk mencari hidup. Jalan keluar, perantauan semakin besar. Konsekuensi atas perantauan itu, begitu banyak penyakit baru masuk ke kampung-kampung.
 
Lahan Sinar Hading yang terdiri dari "Etang" – dengan kepemilikannya adalah adat, hukum adat, sangat sulit untuk mendapatkannya untuk keperluan tempat membangun PLTU / PLTB. Karena lahan itu merupakan wilayah hukum ”rajatua”. Hak lahan, hak ”huke nuke”.  Hak huke nuke, hak pemberian hasil etang kepada Rera Wulan, Tana Ekan. Jika lahan ”Keleka Wutu sampai Ema Hingi” menjadi lahan pembangunan PLTU/PLTB, lalu dimana masyarakat Kawaliwu mencari makan untuk hidup? Karena itu amat sulit untuk menjadi tempat pembangunan ini. Mengapa sulit? Inilah pertimbangannya:
1. Lahan "Mutalaka", yang jauh dari perkampungan Kawaliwu tetapi dekat dengan "perutnya" Masyarakat Kawaliwu. Mengapa? Karena sepanjang lahan yang direncanakan itu adalah kebun-kebun masyarakat. Tempat berharapnya masyarakat untuk hidup. Jadi, jika lahan itu dipakai untuk pembangunan itu, dimana lagi masyarakat Sinar Hading mencari makan? Kemana, mereka harus hidup?
2.    Lahan yang dimaksudkan itu berdekatan dengan daerah pantai-laut. Tempat, masyarakat Kawaliwu mencari lauk-pauk walaupun dengan cara memancing yang masih tradisional. Jika tempat itu menjadi daerah pembangunan, air laut akan tercemar lalu dimanakah masyarakat mencari makan?
3.  Pembangunan PLTU / PLTB, mempunyai konsekuensi yang besar, padahal listrik telah masuk di Kawaliwu. Pembangunan listrik dengan kekuatan uap atau batu bara, memiliki efek ke depan terhadap lingkungan hidup yang kurang sehat. Mengapa? Rencana pembangunan itu persis di tepi pantai. Kawaliwu termasuk, cerobong angin di musim barat untuk daerah ”Lewolema” lainnya. Jika pembangunan itu terlakna, corobong asap batu bara akan dibawah angin dan terbang begitu jauh. Riangkotek, Lewotala, desa-desa Baipito dan bahkan Kota Larantuka akan menjadi tempat leandingnya asap-asap hitam batu bara. Apakah ini berdampak positip bagi kehidupan?
 
Dengan memikirkan tiga alasan pertimbangan di atas, saya, anak Kawaliwu yang berada di tanah perantauan memohon agar pembangunan yang direncanakan itu, dipikirkan dan dipertimbangan dengan maksud untuk dibatalkan pembangunan itu. Saya pun berharap agar para pencinta lingkungan hidup, pencinta kehidupan, dan pencinta keadilan terpanggil juga untuk memberi pertimbangan kepada Pemkab Flotim, khususnya PLN. Sehingga mampu mengambil keputusan yang bijaksana, berdampak ”pro life” bukan hanya saat ini tetapi di masa yang akan datang.
 
Dengan pertimbangan penulis ini, sebagai anak yang lahir dan dibesarkan dari ”perut Kawaliwu” secara jujur saya katakan, saya menolak pembangunan PLTU/PLTB di Kawaliwu dengan beberapa pertimbangan tadi. Bagi saudara-saudari saya yang setuju dengan pembangunan ini, saya berharap perlu pertimbangkan lagi ke depan. Persetujuan saudara-saudari untuk mendukung pembangunan PLTU/PLTB mudah-mudahan murni mendukung dengan memperimbangkan kepentingan umum, bukan mempunyai muatan keinginan yang lain. ***

Sabtu, 04 Agustus 2012

DUDUK...


Duduk... apa itu? Duduk, meletakkan ”kedudukan” kita di atas sebuah tempat yang datar seperti kursi, bangku, atau tempat lain yang datar yang menjadi tempat untuk duduk.

Duduk... adalah sebuah sikap bertahan, berkanjang terhadap suatu prinsip. Duduk...adalah posisi tubuh kita, bisa mendengarkan suatu ajaran atau kotbah atau wejangan dari seseorang. Duduk adalah penyerahan diri seutuh kepada pribadi yang sedang mengadakan sesuatu.

Temu Fasilitator waktu luang Sinode II
Makna duduk yang telah dipresentasikan diatas, termaktub juga dalam bacaan-bacaan suci dalam minggu biasa ini (4-5 Agustus 2012). Kitab Keluaran (16: 2—4), menceriterakan secara tersirat, Israel tidak bertahan dalam perjalanannya menuju Tanah Terjanji. Tidak bertahan karena mereka sendiri tidak mau menderita terlebih dahulu. Tidak bertahan, menandakan kerapuhan dalam prinsip dan karena itu lebih sering mengeluh. ”Lebih baik kami mati di Mesir ketika duduk berhadapan dengan kuali...”, lebih baik mati karena kegembiraan dalam penjajahan dari pada mati karena penderitaan yang berkepanjangan di Padang Gurun.

Kebertahanan dalam iman menandakan bahwa kita telah menjadi pengikut Kristus, tegas Paulus kepada umat di Efesus (Ef. 4: 17, 20—24). Kebertahanan adalah suatu sikap teguh dalam duduk. Kebertahanan, sikap komit. Mau merasakan kekuatan Allah.

Dan lebih bernilai lagi, ketika kebertahanan itu terungkap dalam mujizat, 5 roti dan 2 potong ikan, yang membuat banyak orang menjadi kuat. Bertahan duduk, seperti yang diminta Yesus dalam Injil Yohanes (Yoh. 6: 24—35), menegaskan, mau mengalami rahmat Allah. Rahmat Allah yang turun dari surga untuk umat-Nya, sehingga semua orang yang hadir menjadi satu saudara-saudari, satu Gereja yang teguh dalam beriman.
Terkadang, kita pun tidak bertahan untuk ”duduk”. Kita ingin cepat-cepat. Yesus mengajak kita untuk tetap duduk, dan teguh dalam iman, agar kita mengalami rahmat Allah. Mujizat dalam hidup. ***

Jumat, 03 Agustus 2012

PESTA PERAK 25 TAHUN MENJADI USKUP KEUSKUPAN PANGKALPINANG


Bapa Uskup Keuskupan Pangkalpinang, Mgr. Hilarius Moa Nurak, SVD menjadi uskup di Keuskupan Pangkalpinang sejak 2 Agustus 1987, 25 tahun yang lalu. Dan sejak tanggal 2 Agustus 1972, Mgr. Hila genap 40 tahun menjadi imam di Tarekat SVD (Societas Verbum Dei).

Saat Kunjung di KBG Sta. Elisabeth Sungailiat
Menjadi uskup di wilayah Keuskupan Pangkalpinang dengan beberapa pulau, Mgr. Hila dikenal dengan sebutan “Bishop of Sea”. Seorang uskup di wilayah kepulauan memang tidak gampang. Tuntutannya adalah fisik dan mental yang kuat dan tangguh. Selama 25 tahun, Mgr. Hila telah menghadapi semuanya ini. Tidak heran jika fisiknya sudah menurun, kelihatannya rambut mulai beruban, dan sudah beberapa kali sakit, sehingga operasi ganti klip jantung. Walau demikian Bapa Uskup sampai dengan saat ini tegar dalam berkarya dan dengan tekun mengunjungi umatnya dari setiap paroki. Spiritnya ini justru meneladani Ibu Maria, yang selalu peduli dan setia mengunjungi saudara-saudarinya.

Saat kunjung ke KBG St. Dominikus Sungailiat
Dalam karya Mgr. Hila selama 25 tahun ini, beliau telah begitu gegap gempita membangun apa yang selama ini telah kita sebut Komunitas Basis Gerejawi (KBG). Perjuangannya supaya KBG-KBG mekar di paroki-paroki Keuskupan Pangkalpinang. Bahkan sejak Sinode I KBG menjadi prioritas utama karya pastoral Gereja Keuskupan Pangkalpinang. Perjuangannya terhadap KBG lebih teguh lagi ketika KBG dibakukannya dalam Sinode II.

Dalam berbagai kunjungannya ke paroki-paroki, Mgr. Hila selalau menekankan dan mengajak umatnya untuk memprioritaskan hidup pada KBG. Karena KBG itu sendiri adalah Rumah dan Sekolah bagi Umatnya. KBG sebagai rumah, didalamnya tiap anggota saling kenal satu sama lain dan bahkan saling membangun persaudaraan baik antar umat di KBG maupun lintas KBG. KBG sebagai sekolah, didalamnya tiap-tiap anggota mendapat pendidikan dan memberikan karisma-karismanya untuk karya pelayanan bersama. Ad multos annos, Mgr. Hila. We love you, we need you. ***

Sabtu, 28 Juli 2012

MUJIZAT ITU NYATA


Adolf. Heuken SJ dalam Ensiklopedi Gereja III (1993) memberikan pemahaman kepada kita tentang mujizat sebagai berikut. ”Mujizat adalah tanda yang menampakan kekuasaan Allah yang menyelamatkan. Selain itu, mujizat adalah kejadian yang tidak dapat diterangkan oleh pengalaman kita yang berdasarkan pengamatan alam dan karena itu bersifat luar biasa.”

Lebih lanjut, pastor SJ itu menegaskan, ”Peranan mujizat ialah membuka hati dan akalbudi manusia supaya mengambil sikap positif terhadap tindakan dan Sabda Allah. Mujizat tidak memaksa orang untuk percaya namun memanggil manusia untuk menerima pesan Allah.”

Bacaan-bacaan suci minggu ini (HM. Biasa XVII-28-29/7/2012) mengedepankan suatu peristiwa harian yang direfleksi lebih dalam mengandung suatu mujizat. Kejadian yang begitu manusiawi sekali itu adalah ”makan - makanan.” Dalam peristiwa makan itulah, Allah hadir dan menyertakan campurtangan-Nya. Allah hadir dan membuka mata hati setiap manusia untuk menerima pesan yang disampaikan Allah melalui peristiwa makan.

Makan, secara biologis dipaham untuk mengeyangkan rasa lapar. Bunyinya pemahaman ini agak duniawi. Tetapi makan sebenarnya adalah Allah mau membagi kemurahan-Nya melalui bahan makanan bagi manusia yang sudah kooperatif dengan Allah dalam membangun dunia, begitulah bacaan pertama menegaskan (2Raja-raja 4:42-44).

Selain itu, dalam bacaan kedua (Ef. 4:1-6) melukiskan, peristiwa makan, menunjukkan Allah hadir dan bersama manusia memelihara ikatan kesatuan, baik antar sesama maupun dengan Allah sendiri. Dan dengan lebih tegas, Yohanes (6:1-15), menunjukkan suatu kejadian yang luar biasa dalam tulisannya bahwa makan bersama yang diadakan Yesus di Gunung Horeb itu telah mendatangkan kebersamaan, persatuan, dan komunio yang saling berbagi.

Dalam kebersamaan-Nya dengan khalak ramai yang datang, termasuk perempuan dan anak-anak kecil yang hadir, Yesus mau menyatakan bahwa kebersamaan umat dengan diri-Nya adalah sebuah Gereja. Gereja perlu pemersatu. Dan pemersatu yang inti itu adalah ”makan bersama” dan ’kesatuan Gereja dengan hierarkinya” yaitu para rasul dan pendiri Gereja itu sendiri.

Mujizat 5 ketuk roti dan 2 potong ikan, sama dengan 5000 laki-laki menunjukkan bahwa kehadiran Kristus dalam peristiwa itu menghadirkan anugerah yang luar biasa bagi manusia, bagi Gereja-Nya. Memang benar bgeitulah, mujizat itu nyata! Maka pertanyaan refleksi untuk kita adalah ”apakah sebagai orang Katolik yakin bahwa Allah dalam diri Yesus selalu hadir dalam hidup kita? Apakah kita selalu berpusat pada-Nya, membangun communio dengan Yesus dan sesama serta bermisi bagi dunia seperti anak kecil yang sanggup memberi dari kepunyaannya sendiri? ***

Sabtu, 21 Juli 2012

BELARASA


Hati terpanggil untuk melakukan tindakan menolong, merasakan, keberpihakan, dan mau membantu. Semua makna ini, dilakukan dengan kejujuran, ketulusan, dan niat yang jernih.

Yeremia dalam (23:1-6) menerawang jauh, bahwa akan genap janji Allah. Janji Allah yang dimaksudkan itu ialah ”Tunas Daud.” Tunas Daud yang belarasa, yang bersikap adil terhadap bangsa-Nya. Bersikap peduli dan mau mengangkat derajad umat-Nya yang sedang dalam penindasan.

Tunas Daud yang disampaikan Yeremia, ternyata memiliki kepribadian yang unik. Paulus kepada umat di Efesus (2:13-18), memberikan ciri keunikkan itu. Bahwa unik karena keberanian-Nya menyatukan segala konflik perbedaan, segala persoalan hidup yang tercerai berai dengan darah-Nya sendiri. Bahwa kalian yang dulu jauh, kini dekat karena darah Kristus. Darah pemersatu dan darah perdamian bangsa. Darah-Nya mengingatkan suatu kedekatan umat dengan diri-Nya sendiri. Darah-Nya adalah pengorbanan untuk banyak perbedaan, persoalan dalam hidup dan memberikan meterai untuk tetap berjuang bersama dengan Dia.


Belarasa, yang diungkapkan-Nya dalam pengorbanan, darah-Nya sendiri itu, hidup terus dan menyegarkan umat-Nya. Markus dalam Injil, melukiskan kerinduan umat-Nya untuk tetap hadir dan ada bersama-Nya dalam makan bersama.

Karena, makanan yang dikonsekrirkan adalah diri-Nya sendiri. Dari pada-Nya mengalir aliran-aliran air yang menyegarkan jiwa-jiwa yang letih lesuh. Maka pertanyaannya adalah ”apakah darah-Nya yang mengalir dalam jiwa kita, memberikan kehidupan juga bagi orang lain yang ada di sekitar kita?” Lima roti dan dua potong ikan, (Mrk.6:30-34) telah memberikan kehidupan baru, maka kita pun harus berani memecah-mecahkan diri dan memberikan kepedulian bagi sesama kita. ***