Selasa, 04 September 2012

OMONG DOANK: SHARING INJIL


Kelompok IV Bahas Sidang Sinode II Tingkat Paroki
Agenda utama di setiap Komunitas Basis Gerejawi Paroki-paroki Keuskupan Pangkalpinang yang sekarang diminta oleh “Pedoman Pastoral Keuskupan Pangkalpinang, Post Sinode II adalah “Sharing Injil.” Sharing Injil bukan ibadat sabda. Sharing Injil amat jauh berbeda dengan ibadat Sabda. Sharing Injil, sebuah cara kita secara partisipatif membaca, merenung, menghayati dan melaksanakan Sabda Allah. Dalam sharing Injil ada banyak metode. Namun, berdasarkan Pedoman Pastoral Keuskupan Pangkalpinang No. 206.3 Metode 7 Langkah adalah cara bagi KBG untuk membaca, merenung, menghayati dan melaksanakan Injil.

Sharing Injil, cara kita terhubung dengan Yesus. Hubunganya, kita membaca, merenung, menghayati dan melaksanakan Sabda Allah dalam tindakan nyata. Langkah demi langkah dalam sharing Injil adalah sharing. Jika sharing maka kita memakai kata aku atau saya. Karena yang disharingkan adalah pengalaman pribadi. Bukan pengalaman orang lain.

Karena sharing injil merupakan agenda utama KBG, maka peran fasilitator dan pengurus KBG sangat penting. Karena mereka adalah ujung tombaknya KBG. Firman Allah itu, dinyatakan dalam tindakan, tergantung komitmen anggota KBG. ***

Sabtu, 01 September 2012

LAKUKAN DENGAN SETIA...

Bersama anak TK berdoa di depan altar
Kitab Suci adalah Allah yang menjelmah dalam Sabda, dan Sabda itu telah hidup dalam diri Yesus, wahyu Allah yang hidup. Maka ketika kita membaca dan mendengarkan Sabda Allah, sebenarnya Allah yang hidup dalam diri Yesus yang sedang bersabda dan mengajarkan kepada kita ajaran-Nya.

Dengan kita membaca, merenungkan, menghayati dan melaksanakan Sabda Allah, Kitab Ulangan (4:1 - 2, 6 – 8) memuji kita sebagai orang yang memelihara Hukum Allah. Kita adalah orang yang meneruskan Sabda Allah itu dalam hidup.

Sepadan dengan Kitab Ulangan, Rasul Yakobus (1:17-18,21b-22,27) pun menekankan makna terdalam dari membaca Kitab Suci. Kita tidak hanya membaca, tetapi hendaklah menjadi pelaku firman Allah. Jika kita hanya sebatas membaca tanpa merenung, menghayati dan melaksanakan firman Allah, kita adalah penipu. Disini, Rasul Yakobus meminta kita, bukan hanya mengajar tetapi teladan hidup,  jauh  lebih  bernilai  bila disandingkan dengan hanya membaca atau pengajar. Dengan kita melakukan Sabda Allah dengan setia dalam tindakan kita, kita adalah murid-Nya.

Mendengar keluh-kesah Lanzia
Injil Markus menyebut kelompok Farisi dan ahli Taurat sebagai contoh pelaku yang tidak melaksanakan Sabda Allah walaupun mereka sendiri penjaga Hukum Taurat. Karena itu Farisi dan ahli Taurat bukan pelaku sabda tetapi pemonitoring yang berhati busuk, yaitu selalu mencari titik cela untuk menghina orang. 

Di zaman ipad ini, banyak sekali orang katolik yang begitu sibuk bekerja lupa akan sesuatu hal yang dibutuhkan dalam hidup, yaitu Kristus yang hidup dan menyertainya. Ini saja susah, apalagi membaca dan seterusnya menjadi pelaku firman Allah. Bisa saja menjatuhkan dan memilih bersikap seperti Farisi dan ahli Taurat modern.

Dengan mengutip nabi Yesaya, Markus mau menegaskan kepada para pengikut Yesus, bahwa percuma bila beribadah dengan mengikuti peraturan yang detail tetapi tidak melakukan hukum Allah itu dalam tindakan nyata. Maka Markus mau menegaskan bahwa teladan hidup itu amat penting bila hanya membaca dan mengajar dengan kata-kata. Aksi nyata, jauh lebih penting. Bukan hanya dengan bibir saja kita mengumandangkan pujian kepada Kristus tetapi lebih jauh dari itu, dengan teladan yang nyata. Tanpa itu pengikut Yesus hanyalah pengajar yang penipu, kata Yakobus. ***

Kamis, 30 Agustus 2012

PERBAHARUI HATI DENGAN ROH KUDUS



Refleksi atas perjalanan hidup bangsa Israel ditemukan ada pasangan surut dalam menjalin hubungan dengan Allah. Ketika mereka hidup dalam sukacita, gembira ria dan hidup dalam kemewahan karena kerja berhasil, Allah menjadi fokus utama dalam relasi hidup mereka.

Misa Pentekosta di Paroki Belinyu Bangka 2012
Namun ketika hidup itu dipenuhi dukacita, penderitaan, dan banyak tantangan untuk meraih kesuksesan, mereka lupa akan Allah. Bahkan mereka mengutuk Allah, karena Allah tidak menolong mereka.

Kitab Yosua (. 24:1-2a, 15-17, 18b) dalam bacaan pertama mengisahkan bagaimana Yosua menjadi pemimpin yang mengatur bangsa Israel untuk kembali membangun ibadah kepada Allah, walaupun hidup selalu dialami tidak seperti yang diharapkan. Membangun perjanjian dengan Allah berarti kembali kepada manusia baru seperti pada awal ciptaan Allah.

Untuk bertahan dalam martabat ciptaan Allah, Paulus (Ef. 5: 21—32) memberikan sekurangnya dua tips dasar agar perjanjian dengan Allah tetap bertahan. Dua tips itu aadalah rendah hati dan saling mengasihi seperti relasi suami isteri. Rendah hati sama dengan tidak sombong. Bisa dijalankan. Tetapi bertahankah kita untuk bersikap rendah hati? Saling mengasihi seperti hidup suami isteri, begitu relasi yang diajar Paulus dan mudah untuk diikuti. Namun, bertahankah kita dalam saling mengasihi satu terhadap yang lain walau dalam penderitaan?

Agar tetap bertahan dalam relasi dengan Allah, Yesus (Yoh. 6: 60—69) tampil dan memberikan diri-Nya. Diri-Nya adalah Roti hidup; yang memberikan semangat untuk tetap bertahan dalam kasih dengan Allah. Roti hidup yang telah disantap akan mengalirkan kekuatan bagi jiwa. Jiwa seperti disegarkan kembali. Roh yang beri hidup. Dalam Roh, raga tertopang dan tegak berdiri dan berkarya. Tanpa Roh, raga tidak mempunyai nilai guna. Karena itu, hendaknya selalu perbaharui hidup dalam Roh. ***

Selasa, 28 Agustus 2012

OMONG DOANK: SUKARELA...


Kata “SUKA RELA” mempunyai nilai yang luar biasa dalam. Suka rela sama katanya dengan gratis. Bila kita memaknai kata ini maka suka rela adalah pemberian diri secara gratis. Wah…sama dengan Yesus. Memberikan diri-Nya secara gratis kepada manusia, menebus dosa-dosa manusia, yang seharusnya ditanggung manusia sendiri.

Coba kata SUKA RELA itu, tidak ada RELA hanya ada SUKA saja, maka secara perlahan-lahan makna yang muncul adalah tidak gratis. Suka mempunyai nilai, mau, perlu dibayar, perlu ada imbalan. Apalagi dunia sekarang, tenaga, pikiran dan waktu selalu diperhitungkan.

Coba kata SUKA RELA itu, tidak ada SUKA, hanya ada RELA aja. Maka yang ada dalam hati kita adalah suatu ketulusan, ikhlas. Rela, jarang terjadi. Tidak mungkin setiap kali, selalu rela. Artinya miskin-lah, tidak punya apa-apa. Jika tidak ada SUKA-RELA, sia-sia-lah penebusan Yesus bagi kita. Suka rela yang ditunjukkan-Nya, tidak kita teruskan. Maka pertanyaannya: bagaimana dengan misi kita sebagai orang kristen? ***

Selasa, 21 Agustus 2012

GUNAKAN WAKTU YANG ADA


Orang Yahudi kuno mempunyai dua pandangan terhadap waktu. Waktu sebagai Chronos dan waktu sebagai Chairos. Waktu sebagai chronos, sederhananya adalah waktu secara kronologis. Misalnya waktu pagi, siang, senja, malam, dini hari, pagi lagi....dan seterusnya. Waktu sebagai chairos, saat di dalamnya dimaknai sebagai waktu keselamatan. Disaat-saat itu setiap peristiwa yang terjadi dan terlaksana dengan baik dimaknai sebagai waktu penyelamatan.

Berlatar belakang atas waktu ini, kita diundang untuk melihat peristiwa yang terjadi dalam bacaan-bacaan suci kita hari ini. Kitab Amsal adalah sebuah kitab nasihat dengan pola bahasa sastra yang dalam. Undangan untuk menikmati perjamuan makan, dimaknai sebagai sebuah peristiwa keselamatan (Ams, 9:1-6). Di dalamnya Allah yang mengundang umat-Nya untuk duduk makan bersama. Kepada setiap undangan, Allah meminta untuk menanggalkan  pola pikir yang lama (kebodohan) dan hendaknya mengikuti jalan pikiran yang baru. Itu artinya, manusia diundang untuk hidup dalam persekutuan dengan Allah.

Paulus dalam pidotonya kepada umat di Efesus (Ef. 5:15-20), meminta supaya memanfaatkan waktu yang diberikan Tuhan dengan sebijaksana mungkin. Paulus menyebutnya ”waktu yang ada itu diusahakan dipakai untuk mengerti kehendak Allah.”

Yohanes memaknai kebersamaan hidup dalam persekutuan dengan perjamuan bersama. Dalam perjamuan itu, Allah memberikan diri-Nya, wujudnyata dalam diri Yesus (Yoh.6:51-58). Yesus, roti yang hidup. Makan bersama merupakan peristiwa pemenuhan waktu chronos dan chairos. Waktu dimana Allah mewujudkan diri secara nyata dalam diri Yesus Kristus. Maka percaya kepada-Nya, kita akan selamat. Dengan percaya, kita berpusat pada Yesus. Dalam waktu chronos dan chairos, Yesus kita jumpai dan menyertai kita. ***

Sabtu, 18 Agustus 2012

MASYARAKATKU RESAH DAN GELISAH: TANAH ULAYAT MENJADI MEDAN PEMBANGUNAN


Kawaliwu, itulah desaku. Kawaliwu, desa gaya baru ”Sinar Hading”. Di Teluk Hading lah, desaku itu tegak berdiri dan kokoh kuat menghadapi laut lepas, Laut Flores, yang berhadapan dengan Ujung Pandang atau Makasar, bila kita menarik sebuah garis lurus.

Sinar Hading, kini telah menjadi ibu kota kecamatan, Kecamatan Lewolema.
Kecamatan ini dimekarkan lebih kurang pada tahun 2006. Usianya kini (2012) masih enam tahun. Masih relatif muda. Apabila kita membandingkan dengan umur seseorang, ya...masih kelas 1 Sekolah Dasar. Jadi, masih belajar membaca dan menulis, menyebut huruf dan angka. Belum mahir.
 
Dalam perjalanan waktu ini, arah pembangunan daerah Flotim tertuju ke sana. Satu hal yang menarik di sana karena masih terbilang aman, bahkan amat strategis bila Sinar Hading menjadi tempat penghubung Kota Larantuka dan Kota Maumere dengan  Kecamatan Tanjung Bunga, sebuah kecamatan paling timur di pulau Flores.

Dalam derap langkah pembangunan Flotim, Pemkab Flotim, bagian Pelayan Listrik Negara (PLN) berencana untuk membuka pembangunan PLTU/PLTB (Pembangkit Listrik Tenaga Uap / Tenaga Batu Bara). Membangun itu penting. Karena mau memajukan masyarakat. Meningkatkan hajat hidup bagi banyak orang. Adalah suatu tujuan yang mahamulia yang terkandung dalam cita-cita negara Indonesia ini berdiri. Membangun, mengubah hidup yang lama menjadi hidup yang baru. Tentu ini nilai positip. Nilai ini bila ditawarkan kepada semua orang, pasti tidak akan satu pun yang menolaknya. Mau menerimanya.
 
Membangun PLTU/PLTB yang direncanakan Pemkab Flotim di Sinar Hading, bila dilihat dalam kacamata ’lokasi’, tentu hal ini perlu dipertimbangkan dengan baik dan matang. Lokasi di Kawaliwu itu bukan daerah datar dan rata relief buminya. Kawaliwu, daerah pesisir pantai dan juga daerah pegunungan.
 
Luas lahannya tidak seberapa. Begitu juga luas pesisir pantainya. Jika kita mengkalkulasi secara kasar dengan pertumbuhan penduduk akhir-akhir ini, 10 tahun ke depan, Kawaliwu telah sempit sekali baik untuk lahan tempat tinggal maupun lahan pertanian atau perkebunan. Itu artinya, masyarakat Kawaliwu sudah terbatas lahan untuk mencari hidup. Jalan keluar, perantauan semakin besar. Konsekuensi atas perantauan itu, begitu banyak penyakit baru masuk ke kampung-kampung.
 
Lahan Sinar Hading yang terdiri dari "Etang" – dengan kepemilikannya adalah adat, hukum adat, sangat sulit untuk mendapatkannya untuk keperluan tempat membangun PLTU / PLTB. Karena lahan itu merupakan wilayah hukum ”rajatua”. Hak lahan, hak ”huke nuke”.  Hak huke nuke, hak pemberian hasil etang kepada Rera Wulan, Tana Ekan. Jika lahan ”Keleka Wutu sampai Ema Hingi” menjadi lahan pembangunan PLTU/PLTB, lalu dimana masyarakat Kawaliwu mencari makan untuk hidup? Karena itu amat sulit untuk menjadi tempat pembangunan ini. Mengapa sulit? Inilah pertimbangannya:
1. Lahan "Mutalaka", yang jauh dari perkampungan Kawaliwu tetapi dekat dengan "perutnya" Masyarakat Kawaliwu. Mengapa? Karena sepanjang lahan yang direncanakan itu adalah kebun-kebun masyarakat. Tempat berharapnya masyarakat untuk hidup. Jadi, jika lahan itu dipakai untuk pembangunan itu, dimana lagi masyarakat Sinar Hading mencari makan? Kemana, mereka harus hidup?
2.    Lahan yang dimaksudkan itu berdekatan dengan daerah pantai-laut. Tempat, masyarakat Kawaliwu mencari lauk-pauk walaupun dengan cara memancing yang masih tradisional. Jika tempat itu menjadi daerah pembangunan, air laut akan tercemar lalu dimanakah masyarakat mencari makan?
3.  Pembangunan PLTU / PLTB, mempunyai konsekuensi yang besar, padahal listrik telah masuk di Kawaliwu. Pembangunan listrik dengan kekuatan uap atau batu bara, memiliki efek ke depan terhadap lingkungan hidup yang kurang sehat. Mengapa? Rencana pembangunan itu persis di tepi pantai. Kawaliwu termasuk, cerobong angin di musim barat untuk daerah ”Lewolema” lainnya. Jika pembangunan itu terlakna, corobong asap batu bara akan dibawah angin dan terbang begitu jauh. Riangkotek, Lewotala, desa-desa Baipito dan bahkan Kota Larantuka akan menjadi tempat leandingnya asap-asap hitam batu bara. Apakah ini berdampak positip bagi kehidupan?
 
Dengan memikirkan tiga alasan pertimbangan di atas, saya, anak Kawaliwu yang berada di tanah perantauan memohon agar pembangunan yang direncanakan itu, dipikirkan dan dipertimbangan dengan maksud untuk dibatalkan pembangunan itu. Saya pun berharap agar para pencinta lingkungan hidup, pencinta kehidupan, dan pencinta keadilan terpanggil juga untuk memberi pertimbangan kepada Pemkab Flotim, khususnya PLN. Sehingga mampu mengambil keputusan yang bijaksana, berdampak ”pro life” bukan hanya saat ini tetapi di masa yang akan datang.
 
Dengan pertimbangan penulis ini, sebagai anak yang lahir dan dibesarkan dari ”perut Kawaliwu” secara jujur saya katakan, saya menolak pembangunan PLTU/PLTB di Kawaliwu dengan beberapa pertimbangan tadi. Bagi saudara-saudari saya yang setuju dengan pembangunan ini, saya berharap perlu pertimbangkan lagi ke depan. Persetujuan saudara-saudari untuk mendukung pembangunan PLTU/PLTB mudah-mudahan murni mendukung dengan memperimbangkan kepentingan umum, bukan mempunyai muatan keinginan yang lain. ***

Sabtu, 04 Agustus 2012

DUDUK...


Duduk... apa itu? Duduk, meletakkan ”kedudukan” kita di atas sebuah tempat yang datar seperti kursi, bangku, atau tempat lain yang datar yang menjadi tempat untuk duduk.

Duduk... adalah sebuah sikap bertahan, berkanjang terhadap suatu prinsip. Duduk...adalah posisi tubuh kita, bisa mendengarkan suatu ajaran atau kotbah atau wejangan dari seseorang. Duduk adalah penyerahan diri seutuh kepada pribadi yang sedang mengadakan sesuatu.

Temu Fasilitator waktu luang Sinode II
Makna duduk yang telah dipresentasikan diatas, termaktub juga dalam bacaan-bacaan suci dalam minggu biasa ini (4-5 Agustus 2012). Kitab Keluaran (16: 2—4), menceriterakan secara tersirat, Israel tidak bertahan dalam perjalanannya menuju Tanah Terjanji. Tidak bertahan karena mereka sendiri tidak mau menderita terlebih dahulu. Tidak bertahan, menandakan kerapuhan dalam prinsip dan karena itu lebih sering mengeluh. ”Lebih baik kami mati di Mesir ketika duduk berhadapan dengan kuali...”, lebih baik mati karena kegembiraan dalam penjajahan dari pada mati karena penderitaan yang berkepanjangan di Padang Gurun.

Kebertahanan dalam iman menandakan bahwa kita telah menjadi pengikut Kristus, tegas Paulus kepada umat di Efesus (Ef. 4: 17, 20—24). Kebertahanan adalah suatu sikap teguh dalam duduk. Kebertahanan, sikap komit. Mau merasakan kekuatan Allah.

Dan lebih bernilai lagi, ketika kebertahanan itu terungkap dalam mujizat, 5 roti dan 2 potong ikan, yang membuat banyak orang menjadi kuat. Bertahan duduk, seperti yang diminta Yesus dalam Injil Yohanes (Yoh. 6: 24—35), menegaskan, mau mengalami rahmat Allah. Rahmat Allah yang turun dari surga untuk umat-Nya, sehingga semua orang yang hadir menjadi satu saudara-saudari, satu Gereja yang teguh dalam beriman.
Terkadang, kita pun tidak bertahan untuk ”duduk”. Kita ingin cepat-cepat. Yesus mengajak kita untuk tetap duduk, dan teguh dalam iman, agar kita mengalami rahmat Allah. Mujizat dalam hidup. ***