Sabtu, 22 September 2012

MENJADI BIJAKSANA


Tiga serangkai tumbuh dalam kebersamaan
Bagi orang Katolik, hidup yang kini dijalani bukan sebuah takdir. Hidup yang dijalani adalah sebuah proses menyatakan secara jelas rencana-rencana Allah yang sudah diberikan kepada tiap-tiap orang sejak dalam kandungan ibunya.

Karena itu, hidup itu sendiri harus selalu dimaksimalkan, baik untuk kepentingan diri sendiri, keluarga, gereja maupun negara. Hidup bukan untuk diri sendiri tetapi juga untuk orang-orang lain.

Kitab Kebijaksanaan Salomo dalam 2:12,17-20, meminta kita memakai hidup itu untuk mencari kebijaksanaan atau hikmat Allah. Kebijaksanaan atau hikmat itu perlu diuji, supaya kebijaksanaan atau hikmat itu sendiri sungguh-sungguh bertahan. Seperti emas betul-betul murni diuji dalam peleburan demikian juga hikmat yang ada didalam diri tiap-tiap orang, harus perlu diuji agar kemurniaan betul-betul tampak.

Kebijaksanaan itu betul-betul diuji dalam hidup untuk mencapai kemuliaan. Karena bagi Yakobus, dalam bacaan 3:16-4:3, kebijaksanaan itu mendatangkan hidup murni, pendamai, peramah, penurut, penuh belas kasihan, buah-buah  yang  baik,  tidak  memihak dan tidak munafik. Kebijaksanaan membuat hidup yang dijalani semakin dewasa dalam iman, semakin mengenal sesama sebagai perwujudan wajah Allah itu sendiri. Dengan begitu, kebijaksanaan tidak mencari kuasa, tidak mencari tampilan lahir malahan diharapkan seperti seorang anak kecil.

Yesus dalam Markus 9:30-37, menuntut kita untuk memanfaatkan hidup dengan lebih bijaksana. Yesus minta kita untuk belajar dari anak kecil, yang jujur, tidak tendeng aling-aling, polos dan kerendahan hati.

Karena dengan sikap-sikap kristiani demikian, kita sungguh-sungguh memahami rencana Allah yang sejak awal ada dalam kandungan ibu, sudah dicatat dengan rapih. Sehingga apa pun yang menjadi dorongan dalam diri sungguh-sungguh dimaknai sebagai kebijaksanaan yang menghidupkan. Maka pertanyaannya, sungguhkah kita memahami diri sendiri sebagai taman kebijaksanaan Allah? Menjadi bijaksana itu butuh waktu, waktu untuk belajar banyak hal terkhusus belajar dari Tuhan Yesus sendiri.***

Kamis, 20 September 2012

BERTAHAN MENJADI MURID YESUS


Sikap dasar yang dibangun agar tetap menjadi murid Yesus adalah patuh, setia, berani, rela berkorban, dan pasrah. Dengan sikap ini, Yesaya dalam 50: 5—9a mengungkapkan, jika seorang hamba Tuhan menjalankan tugasnya, yakin bahwa Tuhan akan menolongnya baik dalam kesehatan fisik maupun keselamatan jiwanya.

Sikap dasar di atas tadi, oleh rasul Yakobus dalam 2: 14—18 merampunginya dengan satu kalimat yang bernas, iman tanpa action adalah mati. Iman tidak diungkapkan dalam kenyataan hidup, iman tidak mempunyai nilai apa-apa.

Itu artinya bahwa rasul Yakobus mau menekankan kepada umat yang mendengarkan suratnya yang adalah pengikut Yesus. Bahwa menjadi murid bukan hanya seorang murid yang lemah, yang tidak berdaya dan hanya diajar meluluh. Seorang murid diharapkan setia pada ajaran Yesus, pasrah kepada belas kasih Allah, berani dan rela berkorban untuk menyatakan iman dalam kenyataan hidup. Ini semua merupakan penghayatan iman yang diungkapkan kepada sesama, menjalankan misi kita.

Dalam menjalankan misi hidup Yesus sebagai murid Yesus, Markus dalam  8: 27—35 mengungkapkan tiga syarat untuk bertahan menjadi murid-Nya, yaitu menyangkal diri, memikul salib, dan setia mengikuti Yesus.

Menyangkal diri, suatu sikap kerendahan hati. Memikul salib adalah handal dalam penderitaan. Mengikut Yesus adalah cara kita setia dan pasrah dalam jalan salib Yesus, karena Dia adalah pusat dan sumber hidup kita.

Maka refleksi kita adalah: seberapa dalam kita selama ini menjadi murid Yesus? Seberapa tahan kita diterpa derita, banyak keluh kesah atau mencoba untuk berpasrah diri pada Kristus?

Yesus meneguhkan harapan hidup kita bila sebagai murid-Nya bertahan dalam jalan salib-Nya. ”Barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku dan Injil, ia akan selamat.” Berbahagia dalam kemuliaan Bapa. ***

Jumat, 07 September 2012

EFATA: TERBUKALAH...


Pastoran Stasi Air Sena Paroki Tanjungpinang
Dalam Lukas 11:20 bdk. Matius 12:28, terdapat kalimat Yesus yang mengagumkan soal jawaban-Nya terhadap tuduhan orang Farisi ketika Yesus mengajar dan membuat mukjizat. Kalimatnya demikian: ”Tetapi jika Aku mengusir setan dengan kuasa Allah, maka sesungguhnya Kerajaan Allah sudah datang kepadamu.”

Kalimat yang diucapkan Yesus di atas sinkron dengan kalimat yang ada didalam bacaan pertama yang diambil dari Kitab Yesaya (Yes. 35: 4—7a). Bahwa keselamatan itu terjadi jika Allah hadir didalam peristiwa dunia. Tanda-tandanya ialah orang lumpuh berjalan, orang buta melihat, orang tuli mendengar... Tindakkan nyata dialami oleh manusia, selamat dari suatu peristiwa.

Tanda-tanda yang diberikan Yesaya, tertuju pada pribadi Yesus. Kehadiran-Nya menandakan bahwa Allah yang diimani itu hadir dan berada didalam peristiwa hidup manusia. Karena itu, manusia yang beriman seperti yang dikisahkan Yakobus (Yak. 2: 1—5) dalam bacaan kedua hendaknya tidak boleh takut dengan apa yang sudah dimiliki didalam dirinya yaitu iman itu sendiri. Iman membantu kita untuk hidup bersama walaupun berasal dari berbegai latar belakang hidup. Iman mempersatukan kita semua dalam satu kawanan Kristus yaitu Gereja.

Iman, sejatinya mengundang kita untuk ”efata”, terbukalah dengan diri sendiri dan dengan Allah (Mrk. 7: 31—37) yang senantiasa hadir dan berada menyertai Gereja-Nya. Dengan iman, kita membuka diri, untuk bermisi.

Dalam kehidupan nyata kita, sesering mungkin kita lupa akan hal ini, iman kita. Kita menjadi tuli, tuli terhadap jeritan sesama kita yang meminta pertolongan dan tuli terhadap sapaan/undangan Yesus untuk bersama Dia. Kini, saat-Nya Yesus hadir dan menyapa kita ”terbukalah...” kepada sesama dan kepada Allah. Dengan kita membuka hati, kita mampu mengaamalkan iman kita,  dalam kata dan perbuatan. ***

Selasa, 04 September 2012

OMONG DOANK: SHARING INJIL


Kelompok IV Bahas Sidang Sinode II Tingkat Paroki
Agenda utama di setiap Komunitas Basis Gerejawi Paroki-paroki Keuskupan Pangkalpinang yang sekarang diminta oleh “Pedoman Pastoral Keuskupan Pangkalpinang, Post Sinode II adalah “Sharing Injil.” Sharing Injil bukan ibadat sabda. Sharing Injil amat jauh berbeda dengan ibadat Sabda. Sharing Injil, sebuah cara kita secara partisipatif membaca, merenung, menghayati dan melaksanakan Sabda Allah. Dalam sharing Injil ada banyak metode. Namun, berdasarkan Pedoman Pastoral Keuskupan Pangkalpinang No. 206.3 Metode 7 Langkah adalah cara bagi KBG untuk membaca, merenung, menghayati dan melaksanakan Injil.

Sharing Injil, cara kita terhubung dengan Yesus. Hubunganya, kita membaca, merenung, menghayati dan melaksanakan Sabda Allah dalam tindakan nyata. Langkah demi langkah dalam sharing Injil adalah sharing. Jika sharing maka kita memakai kata aku atau saya. Karena yang disharingkan adalah pengalaman pribadi. Bukan pengalaman orang lain.

Karena sharing injil merupakan agenda utama KBG, maka peran fasilitator dan pengurus KBG sangat penting. Karena mereka adalah ujung tombaknya KBG. Firman Allah itu, dinyatakan dalam tindakan, tergantung komitmen anggota KBG. ***

Sabtu, 01 September 2012

LAKUKAN DENGAN SETIA...

Bersama anak TK berdoa di depan altar
Kitab Suci adalah Allah yang menjelmah dalam Sabda, dan Sabda itu telah hidup dalam diri Yesus, wahyu Allah yang hidup. Maka ketika kita membaca dan mendengarkan Sabda Allah, sebenarnya Allah yang hidup dalam diri Yesus yang sedang bersabda dan mengajarkan kepada kita ajaran-Nya.

Dengan kita membaca, merenungkan, menghayati dan melaksanakan Sabda Allah, Kitab Ulangan (4:1 - 2, 6 – 8) memuji kita sebagai orang yang memelihara Hukum Allah. Kita adalah orang yang meneruskan Sabda Allah itu dalam hidup.

Sepadan dengan Kitab Ulangan, Rasul Yakobus (1:17-18,21b-22,27) pun menekankan makna terdalam dari membaca Kitab Suci. Kita tidak hanya membaca, tetapi hendaklah menjadi pelaku firman Allah. Jika kita hanya sebatas membaca tanpa merenung, menghayati dan melaksanakan firman Allah, kita adalah penipu. Disini, Rasul Yakobus meminta kita, bukan hanya mengajar tetapi teladan hidup,  jauh  lebih  bernilai  bila disandingkan dengan hanya membaca atau pengajar. Dengan kita melakukan Sabda Allah dengan setia dalam tindakan kita, kita adalah murid-Nya.

Mendengar keluh-kesah Lanzia
Injil Markus menyebut kelompok Farisi dan ahli Taurat sebagai contoh pelaku yang tidak melaksanakan Sabda Allah walaupun mereka sendiri penjaga Hukum Taurat. Karena itu Farisi dan ahli Taurat bukan pelaku sabda tetapi pemonitoring yang berhati busuk, yaitu selalu mencari titik cela untuk menghina orang. 

Di zaman ipad ini, banyak sekali orang katolik yang begitu sibuk bekerja lupa akan sesuatu hal yang dibutuhkan dalam hidup, yaitu Kristus yang hidup dan menyertainya. Ini saja susah, apalagi membaca dan seterusnya menjadi pelaku firman Allah. Bisa saja menjatuhkan dan memilih bersikap seperti Farisi dan ahli Taurat modern.

Dengan mengutip nabi Yesaya, Markus mau menegaskan kepada para pengikut Yesus, bahwa percuma bila beribadah dengan mengikuti peraturan yang detail tetapi tidak melakukan hukum Allah itu dalam tindakan nyata. Maka Markus mau menegaskan bahwa teladan hidup itu amat penting bila hanya membaca dan mengajar dengan kata-kata. Aksi nyata, jauh lebih penting. Bukan hanya dengan bibir saja kita mengumandangkan pujian kepada Kristus tetapi lebih jauh dari itu, dengan teladan yang nyata. Tanpa itu pengikut Yesus hanyalah pengajar yang penipu, kata Yakobus. ***

Kamis, 30 Agustus 2012

PERBAHARUI HATI DENGAN ROH KUDUS



Refleksi atas perjalanan hidup bangsa Israel ditemukan ada pasangan surut dalam menjalin hubungan dengan Allah. Ketika mereka hidup dalam sukacita, gembira ria dan hidup dalam kemewahan karena kerja berhasil, Allah menjadi fokus utama dalam relasi hidup mereka.

Misa Pentekosta di Paroki Belinyu Bangka 2012
Namun ketika hidup itu dipenuhi dukacita, penderitaan, dan banyak tantangan untuk meraih kesuksesan, mereka lupa akan Allah. Bahkan mereka mengutuk Allah, karena Allah tidak menolong mereka.

Kitab Yosua (. 24:1-2a, 15-17, 18b) dalam bacaan pertama mengisahkan bagaimana Yosua menjadi pemimpin yang mengatur bangsa Israel untuk kembali membangun ibadah kepada Allah, walaupun hidup selalu dialami tidak seperti yang diharapkan. Membangun perjanjian dengan Allah berarti kembali kepada manusia baru seperti pada awal ciptaan Allah.

Untuk bertahan dalam martabat ciptaan Allah, Paulus (Ef. 5: 21—32) memberikan sekurangnya dua tips dasar agar perjanjian dengan Allah tetap bertahan. Dua tips itu aadalah rendah hati dan saling mengasihi seperti relasi suami isteri. Rendah hati sama dengan tidak sombong. Bisa dijalankan. Tetapi bertahankah kita untuk bersikap rendah hati? Saling mengasihi seperti hidup suami isteri, begitu relasi yang diajar Paulus dan mudah untuk diikuti. Namun, bertahankah kita dalam saling mengasihi satu terhadap yang lain walau dalam penderitaan?

Agar tetap bertahan dalam relasi dengan Allah, Yesus (Yoh. 6: 60—69) tampil dan memberikan diri-Nya. Diri-Nya adalah Roti hidup; yang memberikan semangat untuk tetap bertahan dalam kasih dengan Allah. Roti hidup yang telah disantap akan mengalirkan kekuatan bagi jiwa. Jiwa seperti disegarkan kembali. Roh yang beri hidup. Dalam Roh, raga tertopang dan tegak berdiri dan berkarya. Tanpa Roh, raga tidak mempunyai nilai guna. Karena itu, hendaknya selalu perbaharui hidup dalam Roh. ***

Selasa, 28 Agustus 2012

OMONG DOANK: SUKARELA...


Kata “SUKA RELA” mempunyai nilai yang luar biasa dalam. Suka rela sama katanya dengan gratis. Bila kita memaknai kata ini maka suka rela adalah pemberian diri secara gratis. Wah…sama dengan Yesus. Memberikan diri-Nya secara gratis kepada manusia, menebus dosa-dosa manusia, yang seharusnya ditanggung manusia sendiri.

Coba kata SUKA RELA itu, tidak ada RELA hanya ada SUKA saja, maka secara perlahan-lahan makna yang muncul adalah tidak gratis. Suka mempunyai nilai, mau, perlu dibayar, perlu ada imbalan. Apalagi dunia sekarang, tenaga, pikiran dan waktu selalu diperhitungkan.

Coba kata SUKA RELA itu, tidak ada SUKA, hanya ada RELA aja. Maka yang ada dalam hati kita adalah suatu ketulusan, ikhlas. Rela, jarang terjadi. Tidak mungkin setiap kali, selalu rela. Artinya miskin-lah, tidak punya apa-apa. Jika tidak ada SUKA-RELA, sia-sia-lah penebusan Yesus bagi kita. Suka rela yang ditunjukkan-Nya, tidak kita teruskan. Maka pertanyaannya: bagaimana dengan misi kita sebagai orang kristen? ***