Selasa, 08 Oktober 2013

WORKSHOP III AsIPA DI BANGKOK THAILAND




(Laporan Hari Pertama-7 Oktober 2013)



Bangkok, Ibu Kota negara Thailand atau yang dulu sering kita kenal Muangthai. Sebuah negara di Asia Tenggara yang tidak pernah dijajah oleh bangsa manapun. Thailand, negara penghasil beras di Asia Tenggara, termasuk pengekspor beras untuk Indonesia.

Ketika rombongan Indonesia sampai bandara Bangkok (7/10/2013), jam menunjukkan pukul 16.15. Waktu Bangkok sama dengan waktu Jakarta, wib. Tidak ada perbedaan waktu dengan Jakarta.

Rombongan Indonesia ada lima orang, Rm. Frans Mukin, (Vikep Babel), Rm. Stanis Bani (Pastor Paroki Koba), Mbah Indri (Paroki Katederal Pangkalpinang), Pak Anton Sudarmedi (Paroki Tembesi Batam) dan Alfons Liwun (Paroki Sungailiat). Kami dijemput oleh Panitia Workshop ke-3 AsIPA di bandara Bangkok. Kami kemudian diantar Panitia menuju tempat pertemuan di Camillian Pastoral Care Center, Bangkok. Bangkok, ibu kota negara yang dikelilingi sungai-sungai kecil. Sungai-sungai inilah yang menjadi sumber air bagi pertanian masyarakat Thailand. Tidak heran jika Thailand menjadi penghasil terbesar pertanian, perkebunan, dan perikanan.

Acara Workshop mulai jam 19.30 (7/10/2013), yang dihadiri oleh beberapa negara Asia, yaitu Taiwan: 12 peserta, Sri Lanka: 3 peserta, Banglades: 2 peserta, Korea: 6 peserta, Pakistan: 3 peserta, Vietnam: 3 peserta, Myanmar: 5 peserta, dan Indonesia 5 peserta, serta Thailand, negara tuan rumah: 26 peserta. Narasumber AsIPA Trainning: 5 orang.

Bangkok, kota yang bersih dan rapih. Sebuah ibu kota negara yang lumayan modern bila dilihat dari arsitektur penataan kotanya. Masyarakat setempat lebih menghormat rajanya, karena Bangkok merupakan negara kerajaan. Salam harmoni, dari Bangkok-Thailand. Salam harmoni dari Bangkok-Thailand. ***

Kamis, 26 September 2013

KBG ST. DOMINIKUS SHARING INJIL TUJUH LANGKAH BERSAMA TIM AsIPA PAROKI SUNGAILIAT



Rencana Tim AsIPA Paroki Sungailiat untuk berkumpul bersama anggota KBG St. Dominikus terwujud pada Selasa, 24 September 2013, dari pukul 16.00-17.30 wib.KBG St. Dominikus adalah sebuah wilayah di Paroki Sungailiat yang cukup luas. Wilayah ini terbentang dari Kampung Deniang hingga Kampung Kayu Arang, terletak di sepanjang jalan Sungailiat menuju Kota Belunyu. Wilayah ini terdiri dari tiga kampung yaitu Kampung Deniang, Kampung Cit dan Kampung Kayu Arang. KBG yang dipimpin oleh Don Pedro Efendi ini dihuni oleh 21 Keluarga dengan jumlah anggota umat 63 orang. Di wilayah Kampung Dening ada 10 KK, Kampung Cit ada 6 KK dan Kampung Kayu Arang ada 5 KK. 

Rupanya masih ada lagi yang belum terdaftar di statistik Paroki Sungailiat. Menurut ibu Agnes Mang Sioe Ngian, salah satu anggota KBG yang hadir saat itu, menyampaikan bahwa sebenarnya lebih kurang ada satu atau dua KK yang belum terdaftar. Mungkin terlupakan. Walau demikian, dalam perayaan ekaristi sebulan sekali pada selasa minggu ketiga, satu atau dua keluarga ini sering mengikutinya. Jadi mungkin ke depan akan didaftarkan ulang lagi anggota KBG St. Dominikus supaya jumlah KK dan umatnya diketahui secara pasti.

Sharing Injil 7 Langkah, satu cara yang simpel untuk anggota KBG membaca, merenungkan dan mensharingkan pengalaman Injil dan hidup sehari-hari. Dengan sharing Injil ini kita dibantu untuk terlibat dalam doa dan sharing Injil di KBG. Maka pemimpin yang selama ini ditugaskan memimpin ibadah hanya sebagai fasilitator, pemandu atau pelancar saja. Tidak ada kotbah lagi dalam ibadah. Kotbah hanya saat misa, begitulah isi singkat yang disampaikan Alfons Liwun dalam pengantar memulai Sharing Injil bersama umat KBG St. Dominikus.

Rm. Koko hadir mendampingi Tim AsIPA Paroki
Sharing Injil 7 langkah berjalan lancar. Dilangkah keenam tentang tugas apa yang mau dilaksanakan, umat KBG St. Dominikus sepakat untuk menjalankan Sharing Injil pada selasa kedua dan keempat tiap bulan. “Sharing semacam ini perlu dilakukan terus. Dengan kita melakukan sharing injil, tiap-tiap anggota KBG akan berjumpa terus untuk saling berbagi pengalaman. Dengan begitu, kita akan saling kenal satu sama lain,” ungkap ibu Franses Kabrini Novialy, ibu Alexander Giovanini yang sedang belajar di SMA St. Yosep Pangkalpinang. Lebih lanjut, ibu yang sering disapa Novi ini meminta kepada Tim AsIPA Paroki agar KBG St. Dominikus harus didampingi terus hingga bisa melakukan sendiri Sharing Injil 7 Langkah. Harapan KBG ini disambut baik oleh Tim AsIPA.

Sharing Injil dengan topik Yesus berumur 12 tahun diajak orangtua-Nya merayakan paskah di Yerusalem (Luk.2:41-52), kemudian KBG St. Dominikus memilih Sabda Kehidupan, “pergilah jadikanlah Keluarga Kudus Nazaret menjadi teladan hidup”. Melalui Sabda Kehidupan yang dipilih ini, Romo Bernardus Windyatmo, MSF, Romo yang sering dikenal kartunis di Majalah Hidup dengan nama Romo Koko ini, menegaskan bahwa kita adalah saudara-saudari Yesus. Menjadi saudara-saudari Yesus adalah mereka yang melakukan Sabda-Nya dalam hidup setiap hari. Rupanya Sharing Injil kali ini terhubung dengan bacaan harian pada hari Selasa (2/09/2013).Sharing Injil 7 langkah kemudian ditutup dengan berkat penutup oleh Romo Koko, yang hadir mendampingi Tim AsIPA Paroki Sungailiat. **al**

Kamis, 12 September 2013

PENGALAMAN PERDANA DI DANAU TOBA - PRAPAT SUMATERA UTARA



Danau Toba di Sumatera Utara itu benar bahwa sebuah keajaiban dunia. Danau terbesar dan mungkin terindah yang pernah saya lihat selama hidup saya. Di tepi danau ini terbentang berbagai hotel dan rumah penduduk. Mereka mengalami kelimpah Tuhan melalui danau itu. Air yang bagus untuk diminum, untuk mengaliri pertanian, untuk memelihara ikan air tawar dan lain-lain. Keindahan danau ini lebih nampak lagi bahwa di tengah danau itu ada Pulau Samosir dengan luas panjang 150 km dan lebarnya 75 km. Pulau Samosir kini menjadi sebuah Kabupaten Samosir. Dan di puncak Pulau Samosir itu masih ada danau lagi yang merupakan sumber air untuk masyarakat Samosir juga, selain Danau Toba.

Di danau Toba itulah, saya ikut berlayar bersama rekan-rekan peserta temu Kitab Suci seregio Sumatera mengalami kebaikan Tuhan. Berlayar dengan kapal motor yang besar dan berbagai kapal motor lain yang memuat hasil bumi masyarakat serta kapal motor penumpang dan kapal motor besar yang memuat mobil dan kendaraan bermotor lainnya. Seakan-akan saya berada di tengah laut mengelilingi Kabupaten Flores Timur, dari Larantuka menuju Solar, Adonara, dan Lembata.

Untuk mengeliling Pulau Samosir yang seluas itu, kita dengan kapal motor dengan kecepatan tinggi selama satu hari penuh, dari jam 6 pagi dan ketemu lagi di tempat yang sama pada jam 6 sore. Wah....danau kok luas begini? Hebat ya? Bukan hanya itu, masih ada keajaiban lain yang diberikan oleh danau Toba itu. Disekitar danau itu terbentang dinding-dinding bukit barisan yang mengeliling danau itu. Bukit-bukit itu ada yang sudah dimanfaatkan untuk lahan pertanian dan perkebunan tapi ada juga yang belum, masih ditumbuhi pohon-pohon besar yang menjadi hutan lindung negara.
Hutan lindung itu ditumbuhi pohon-pohon yang mungkin akan menjadi bahan baku kertas dan triplex.

Di tepi danau hidup masyarakat suku Batak dengan marga yang berbeda-beda bahkan dengan pluralis agamanya. Luar biasa indah dan mengagumkan. Relasi terlihat harmonis dengan rumah berdempetan dan jalinan kerja yang saling membangun. Marga-lah yang menjadi pengikat hubungan kekeluargaan. Alangkah indahnya, Tuhan, Engkau memberikan keharmonisan dalam bentuk marga-marga yang terikat dengan relasi budaya yang bagus.
 
Akhirnya saya bermimpi, jika danau ini ada di Kawaliwu-Kecamatan Lewolema Kabupaten Flores Timur, mungkin orang Kawaliwu akan hidup lebih makmur dan bahagia secara ekonomi. Namun apakah mimpi saya itu terwujud? Tentu tidak mungkin. Dan tidak akan terjadi. Walau demikian, satu hal yang menarik bahwa Tuhan memberikan alam Kawaliwu yang demikian adanya ini dengan maksud tertentu, biar lebih giat, lebih bijaksana dan lebih berintelektual mengola alam yang sekarang menjadi pijakan hidupnya. Bukan pergi keluar dan merantau di Malaysia. Mat berjuang saudara-saudariku yang terkasih. Yesus menyertai perjuang anda dan memberkati kelimpahan usaha anda. salam harmoni selalu...

Selasa, 20 Agustus 2013

SHARING INJIL TUJUH LANGKAH DI KBG ST. THERESIA KANAK-KANAK YESUS 1 PAROKI SUNGAILIAT

Tim AsIPA Paroki Sungailiat Bangka berkunjung ke KBG Sta. Theresia Kanak-Kanak Yesus 1 Paroki Sungailiat. Kunjungan itu terasa hangat. Tim disambut oleh belasan orang Fasilitator KBG Sta. Theresia di rumah Bapak Thomas Jusman, Hari Minggu, 18 Agustus 2013, pukul 18.00 wib. Kunjungan ini merupakan suatu kunjungan yang membahagiakan. Karena Fasilitator KBG ini mau menerima Tim dan sekaligus mau merasakan kebersamaan dengan Tim menjalankan Sharing Injil Tujuh Langkah, yang sedang hangat dianjurkan oleh Post Sinode II Keuskupan Pangkalpinang. 

Dalam kunjungan itu, Tim menyampaikan bahwa Sharing Injil Tujuh Langkah merupakan Sharing Yesus kepada Umat-Nya. Jadi Sharing Injil bukan hal baru dalam Gereja Katolik. Karena bukan hal baru, dan merupakan cara Yesus sendiri menyampaikan ajaran-Nya, maka KBG pun semestinya mengikuti cara Yesus ini. Supaya umat di KBG mampu mendengarkan Sabda Yesus, merenungkannya, menghayatinya dan melaksanakan misi Yesus itu dalam kehidupan sehari-hari.

Dengan pengantar singkat, kemudian dilanjutkan dengan animasi Sharing Injil Tujuh Langkah bersama Fasilitator KBG Sta. Theresia 1. Fasilitator terlihat begitu antusias mengikuti langkah demi langkah yang dipandu secara bergilir oleh Bapak Leo Agung Heriyanto dan Bapak John Djanu Rombang. Setelah tahap demi tahap dilaksanakan ternyata, Fasilitator KBG Sta. Theresia 1 mampu mengikuti dan mensharingkan pengalaman hidup yang begitu mendalam. Bahwa selama ini, KBG kami telah menjalankan Sharing Injil Tujuh Langkah, hanya pada langkah ke-6 dan ke-7 kami masih bingung dan belum paham pada langkah ini, ucap Bapak Yosef Ardiyanto Totong, ketua KBG dan Bapak Ferdinand, salah seorang Fasilitator KBG Sta. Theresia 1. Karena itu, Tim pun mencoba mempraktekan langkah ke-6 dan ke-7 dengan melibatkan Fasilitator KBG itu. 

Apa hasilnya? Ternyata mereka pun mengikutinya dengan baik dan lancar. Karena mereka pun dilibatkan dalam langkah ke-6 dan ke-7. Berpartisipasi pada langkah yang menjadi halangan bagi mereka, ternyata dilalui dengan mudah tanpa banyak pertanyaan. Bagus dan begitu indah rasanya, ucap kalimat pujian dari Bapak Yosef Ardiyanto Totong demikian. Lanjut Bapak Ardiyanto: "O...bagus sekali langkah ini. Ternyata selama ini rupanya metode ini jauh lebih membawa orang pada keheningkan dan membagikan Sharing Injil antar anggota KBG. Dan syukur bahwa sharing-sharing yang kita dengar tadi, jauh lebih meneguhkan harapan anggota KBG ketimbang kotbah yang dibawakan dalam ibadat sabda tanpa imam. Luar biasa!". KBG Sta. Theresia 1 berencana untuk mengundang lagi Tim untuk kunjung ke KBGnya untuk anggota KBGnya yang lebih banyak lagi."

Dalam kunjungan Tim itu, teks Kitab Suci yang dibacakan adalah Injil Markus, 9:33-37. Langkah ke-6, tahap Sabda Kehidupan, Fasilitator KBG Sta. Theresia 1 memilih kalimat "Menjadi Pelayan bagi sesama." Kalimat inilah yang mendorong Fasilitator KBG Sta. Theresia 1 untuk terus melayani supaya dalam nama Yesus, karya pelayanan kita semakin mengedepankan Kristus sendiri.Selamat melaksanakan Sabda Kehidupan semoga semakin semangat untuk menjadi pelayan baik untuk diri sendiri, keluarga, KBG dan Gereja Universal. ***

SAMBUT RP. BERNARDUS WINDYATMOKO, MSF DAN PISAH RP. ALOYSIUS KRISWINARTO, MSF

Pisah sebuah moment yang berharga untuk selalu dikenang. Mengapa selalu dikenang? Tentu meninggalkan sesuatu yang menjadi kenangan itu sendiri. Paling kurang ada peristiwa-peristiwa hidup yang telah menggoreskan sebuah pisah yang membahagiakan atau pun pedih. Namun peristiwa-peristiwa pedih itu akan terhapuskan bila peristiwa-peristiwa yang membahagiakan itu lebih mendominasi sebuah peristiwa hidup itu sendiri.

Peritiwa-peristiwa pedih pun akan menjadi sebuah kebahagiaan bila orang yang ditinggalkan akan selalu belajar dan terus belajar untuk menimbah peristiwa itu untuk semakin memaknai hidup itu sendiri.
 Mgr. Hilarius Moa Nurak, SVD memimpin misa serah teriama pastor Paroki Sungailiat Bangka, dari RP. Aloysius Kriswinarto, MSF kepada RP. Bernardus Windyatmoko, MSF.

Dalam Kotbah Uskup Pangkalpinang menyampaikan kepada umat Sungailiat bahwa RP. Win telah berpartisipasi secara tidak langsung kepada umat Katolik Keuskupan Pangkalpinang melalui gambar karikaturnya dalam buku Marilah Melangkah Maju Dalam Persaudaraan-Pedoman Umat Katolik Keuskupan Pangkalpinang 2000-2010. Dan kini RP. Win sendiri memberikan diri secara langsung dalam pelayanan hidupnya bagi umat Paroki Sungailiat. Jadi RP. Win bukan orang baru. Beliau orang lama, kita patut bersyukur, beliau mau hidup dan melayani kita saat ini.

 Dalam kata sambutan RP. Aloysius Kriswinarto, MSF, mengucapkan terima kasih banyak atas perhatian dan kerjasama umat yang mendukung karya pelayanannya selama lebih kurang lima tahun di Paroki Sungailiat. Kerjasama kita akan berlanjut baik dalam doa maupun dalam karya pelayanan kita. RP. Kris berkarya di Paroki Keluarga Kudus Banteng, Yogjakarta. Jika ada yang mau ke Yogjakarta, jangan lupa singgah di Paroki tempat karya saya yang baru, undang RP. Kris untuk umat Sungailiat.

 RP. Bernardus Windyatmoko, MSF, yang sering dikenak Rm. Koko kini menjadi pastor Paroki Sungailiat sejak 1 Agustus 2013. Beliau adalah seorang imam yang dikenal sebagai karikartunis di Majalah Hidup. Dengan karikartunis beliau sudah menyapa banyak umat termasuk umat Paroki Sungailiat. Kerjasama antar kita, itulah ajakannya untuk membangun Paroki Sungailiat. Semoga ke depan Gereja Paroki Sungailiat semakin maju dalam karya pelayanan bagi sesama.

Bpk. Yosep Ardiyanto Totong, wakil umat dalam kata sambutannya, beliau mengucapkan terima kasih yang berharga untuk Rm. Kris yang sudah setia dan dengan gigih berjuang untuk melayani umat Sungailiat selama lebih kurang 5 tahun (7 September 2008-1 Agustus 2013). Mudah-mudahan pelayanan Rm. Kris selalu dikenang dan membuat umat yang ditinggalkan ini semakin meneladani hidup Yesus sendiri. 
Kepada Rm. Koko (Win), beliau mengucapkan selamat datang dan selamat berkarya di Paroki Sungailiat. Umat kami terkadang unik Romo. Walau demikian, Rm. Koko harus berani merasakan kerjasama umat Sungailiat yang unik ini. 
 Dalam misa serah terima (17/8/2013), koor yang disersembahkan oleh OMK St. Aloysius Gonzaga, sangat memuaskan umat yang hadir. Komentar Pak Pie Pie, salah satu umat Sungailiat, misa kita malam ini sangat membahagiakan karena suara koor begitu bagus dan indah. Paroki kita mempunyai warna yang khas dan lain, ketika ada anak muda yang ikut berpartisipasi dalam Gereja. Apalagi, kehadiran dokter Bernadeth, yang sekarang berkarya di RS Arsani Sungailiat Bangka, yang menjadi dirigen koor OMK. Beliau peduli dan mau melayani umat khususnya OMK. Luar biasa dokter...., ungkap salah seorang umat yang tidak mau menyebut namanya. Jika setiap minggu ada koor semacam ini, mungkin Gereja Sungailiat semakin bersemangat untuk menghayati makna Ekaristi. Oh....rupanya, OMK, sebagai kelompok kategorial, semestinya menjadi "vitamin" dalam KBG, sehingga KBG itu sendiri semakin memberikan makna perwujudan sebuah Gereja secara riil di tengah kehidupan umat Katolik.

 Setelah misa serah terima Pastor Paroki yang baru, bersama umat dari 16 KBG mengadakan ramah tamah bersama bapak uskup, pastor, suster dan seluruh umat yang hadir di halaman Gereja. Pada kesempatan itu, OMK tampil lagi dengan beragam kostum budaya dan lagu-lagu daerah berdasarkan asal usul umat Katolik Sungailiat. Ada lagi dari Timur, ada lagu di Jawa, ada lagu dari Sumatera dan lebih hebat lagi OMK menyanyikan lagi Tiong Hoa. Terlihat Robert, salah seorang anak muda dari Flores, begitu susahnya menyanyikan lagu Tiong Hoa. Kesannya, seakan lidahnya bolak balik dan melengkung sana sini, tapi vokalnya terbata-bata. Wo....susah be menyanyikan lagu ini. Hebat, begitu pede Robert bersemangat menyanyikan lagu itu.

 Selain acara ramah tamah dibawakan oleh OMK, tak ketinggalan anak-anak Katolik yang selama ini bersekolah di SMP St. Maria Goretti, membawakan tarian sebagai bentuk doa yang ditarikan untuk para hadirin yang hadir. Bukan hanya itu, mereka pun melalui Ibu Veronika Sulistyowati mengajak umat yang hadir untuk ikut berdoa dalam bentuk tarian secara bersama-sama. Iya...makna Gereja Partisipatif muncul, semua anggota umat berperan dan mengambil bagian dalam karya pelayanan hidup bersama. Salut dech....Kapan-kapan bisa muncul lagi dengan beragam gerak tari. Qui Benecantat bis orat. Siapa yang bernyanyi bagus, ia berdoa dua kali. 

Diakhir acara ramah tamah, mbah Pardi, muncul dan memberikan salam kepada Rm. Kris. Entah pesan apa yang disampaikan mbah Pardi, hanya mereka berdualah yang tahu. Tuhan hanya menyaksikan saja. Namun yang jelas, mbah Pardi mengucapkan terima kasih atas pelayanan Romo Kris dan secara khusus berdoa untuk keluarga beliau. 

Rupanya, cinta Tuhan selalu bersemi dalam hati setiap orang. Orang tergerak untuk berkarya hanya karena cinta Yesus itu. Cintalah yang mempertemukan kita semua dalam beragam bahasa, cara berpikir dan cara pandang. Cintalah yang menyatukan berbagai orang dengan latar belakang yang berbeda-beda. Namun jauh dari itu, cinta pulalah yang menghidupkan semua orang yang percaya kepada Kristus untuk tetap mencintai Allah dalam mencintai sesama. Mat jalan Rm. Kris, semoga tetap semangat berkarya dan melayani umat di Paroki Banteng, Yogjakarta. Salam harmoni untuk communio. ***

Rabu, 12 Juni 2013

SHARING PENGALAMAN RD. LUCIUS POYA HOBAMATAN: INSPIRASI UNTUK KBG DI KEUSKUPAN LAIN




Komunitas Basis Gerejawi: Cara Baru Hidup Menggereja di Abad 21, merupakan tema utama yang menjadi refleksi para peserta dari Keuskupan Agung Makasar, Keuskupan Agung Jakarta, Keuskupan Agung Semarang, Keuskupan Agung Ende, Keuskupan Agung Pontianak, Keuskupan Pangkalpinang, Keuskupan Tanjung Karang, Keuskupan Bandung, Keuskupan Purwokerto, Keuskupan Denpasar, Keuskupan Banjarmasin, Keuskupan Tanjung Selor, Keuskupan Manado, Keuskupan Larantuka, dan Keuskupan Jayapura. Pertemuan itu diselenggarakan oleh Komisi Kateketik (Komkat) KWI pada 20-23 Mei 2013 di Wisma Kare Makasar, Sulawesi Selatan. Melalui pertemuan ini, Komkat mengajak animator dan animatris atau dalam istilah Gerejawi kita, fasilitator untuk merefleksi kembali bagaimana menghidupi KBG di setiap keuskupan di Indonesia.
 
Hadir dalam pertemuan itu selain peserta sebanyak 42, juga para staff Komkat KWI dan RD. M. Purwatma sebagai pemberi catatan kritis dan proses pertemuan. Yang lebih menarik dan khusus lagi RD. Lucius Poya Hobamatan, Pastor Paroki Tembesi Batam. Pada kesempatan malam harinya (21/5/2013), RD. Lucius Poya diberi kesempatan untuk mensharekan pengalaman ber-KBG selama ini di Pulau Batam. Beliau menyampaikan sharing pergulatannya merintis dan mengembangkan KBG di tempat tugasnya, Paroki Tembesi, Batam. Rm. Poya, dengan gaya rambutnya yang khas memulai sharing pengalamannya dengan refleksi demikian. 

Situasi umat Paroki Tembesi, kebanyakan buruh galangan kapal dan industri elektronik. Upah minimum buruh Rp 1.150.000. Untuk buruh yang masuk dari jasa outsourcing. Upahnya bisa hanya tinggal sekitar 750 ribu rupiah. Upah yang minim seperti itu, maka buruh cenderung mengejar lembur untuk menambah penghasilan. Maka mereka pun mengabaikan soal iman.

Banyak juga dari antara umat di paroki merupakan orang-orang buangan yang menghuni rumah-rumah liar. Mayoritas umat berpendidikan SMP ke bawah. Kebanyakan umat beretnis Batak, Flores, Jawa, dan lain-lain. Maklumlah Batam, banyak orang pingin datang mencari pekerjaan. Pada saat awal kedatangan saya, ada trauma karena pernah ada ‘perang etnis’ antara Batak dan Flores. Jumlah umat 7.500 jiwa dengan 1.500 keluarga muda. Tuntutan kerja yang tinggi melemahkan perhatian pada iman. Iman pun sekedar menjadi obat bius. Dari situasi umat semacam itu, saya diminta mempersiapkan tempat tersebut menjadi paroki. Dari tugas menjadi pastor paroki di situ, saya merenung: untuk apakah imamat saya? Apakah cukup hanya menjadi pelayan sakramen? Apakah juga menjadikan Gereja menjadi sakramen keselamatan bagi dunia? Apa prioritas pelayanan: membangun gedung gereja atau membangun communio? Apa yang mau dilakukan bagi umat: memberi kail atau memberi ikan?

Berdasar data riil, saya mengunjungi umat. Kunjungan untuk membangun visi paroki. Dalam refleksi bersama umat ketika kunjungan, muncul jawaban-jawaban umat yang menjadi kondisi riil dan dambaan umat. Mereka mengalami bahwa di wilayah itu primoldialisme tinggi dan kehidupan iman lemah karena tuntutan hidup tinggi. Gereja ya hanya soal sakramen dan mingguan. Kurang percaya diri karena pemahaman iman lemah. Apatisme tinggi: urusan gereja adalah urusan pastor, uskup, bruder, dan suster.

Dari kunjungan itu lahirlah agenda pertama: membentuk tim, awalnya lima orang, untuk menganimasi pembentukan communio yang sudah menjadi visi keuskupan sejak Sinode tahun 2000. Umat menanggapi dengan mengusulkan adanya Kotak Persembahan Keluarga, Kotak 1000. Spiritualitas janda miskin menumbuhkan solidaritas untuk menjadi persekutuan. Meski ada respon positif, toh tetap ada yang tidak setuju.

Tahap berikutnya adalah membentuk 4 KBG. Keempatnya mendapat kunjungan ekstra. Dengan kunjungan, banyak hal bisa didapatkan. Ketika keempat KBG ini mulai bertumbuh, wilayah-wilayah lain diberi cerita untuk menyemangati membangun komunitas. Ketika paroki diresmikan, baru ada 12 KBG. Mereka ini juga yang menjadi Dewan Pastoral Paroki. Dalam perjalanan, muncul masalah ada banyak umat yang tidak mau masuk KBG. Mereka ini ditangani langsung oleh saya.  KBG pun berkembang menjadi 24. KBG bertemu setiap minggu malam karena hanya di hari itulah mereka mempunya kesempatan untuk bertemu. Hari lain mereka lembur. Umat mendapat keuntungan ekonomis dengan masuk komunitas. Ketika tidak bersatu dalam komunitas, mereka sulit cari kerja. Namun karena masuk komunitas, mereka bisa saling berbagi informasi kerja.

Sejak 2004, saya mengembangkan KBG. Saya terbantu dengan metode AsIPA. Dengan pengalaman mini yang saya terima ketika belajar AsIPA di Paroki Tanjungpinang. Dari pengalaman yang sedikit itu saya mencoba. Dalam refleksi saya, KBG tanpa AsIPA tidak mungkin, sebab bahan-bahan AsIPA sederhana dan dapat membantu membentuk komunitas, membangun iman serta mendorong aksi sosial berdasarkan iman Katolik dan Magisterium Gereja. Bahan-bahan AsIPA dikembangkan di dekenat. 2005-2006 dengan mengajak tim untuk melatih bahan-bahan AsIPA.

Bagi saya, kalau hanya menjadi peserta, bahan AsIPA baru diinternalisasikan 35%. Namun ketika menjadi fasilitator, saya dan fasilitator lain bisa menangkap 100% karena membantu peserta memahami. Setelah selesai proses pelatihan, fasilitator mengikuti retret dan Jalan Salib, baru kemudian peserta menerima salib perutusan. Disinilah fasilitator telah siap untuk masuk ke dalam KBG.

Di tahun berikut, terbentuklah 48 KBG baru. Selama 10 tahun ini, setiap tahun saya melatih utusan komunitas-komunitas untuk berlatih AsIPA. Sekarang sudah ada sekitar 400 fasilitator. Munculnya KBG membawa efek besar dalam kehidupan paroki. Hampir di semua KBG ada pendampingan anak dan remaja. Mereka mempunyai modul-modul sendiri berdasarkan tahun liturgi. Muncul juga dengan sendirinya kebutuhan akan pelatihan liturgi yang baik dan benar. Setiap hari Minggu keempat, KBG-KBG kumpul dan membahas permasalahan yang ada. Muncul juga pemberdayaan sosial ekonomi lewat Credit Union.

Kotak Persembahan Keluarga, yang umumnya berisi Rp 1.000 rupiah dipergunakan untuk pembangunan gereja dan karya kasih. Dengan KBG, sudah ada gereja yang cukup memadai bagi umat. Dananya 100% dari umat sendiri. Dana tersebut juga bisa untuk memberi beasiswa sekolah, bahkan sudah bisa menyekolahkan seorang anak menjadi katekis. Dengan KBG, reaksi tanggung jawab sosial umat bisa sangat cepat. Memang aksi keluar umat belum banyak. Tetapi sekarang mulai berkembang kesadaran politis. Salah satu aksi sosial dari KBG yang biasa dan mempersatukan mereka adalah KBG menyepakati bahwa apapun yang terjadi harus selalu berbahasa Indonesia. Di KBG ada legio, dan lain-lain. Kelompok kategorial terjadi dan ada di Komunitas Basis Gerejawi.

Dari pengalaman yang demikian, muncul juga tantangan. Karena pekerjaan sistem kontrak, mobilitas umat sangat tinggi: datang dan pergi. KBG bukan hal mudah bagi para (calon) imam. Kehadiran saya di Paroki Tembesi sekarang,  untuk memelihara para fasilitator. Setiap bulan ada rekoleksi, memelihara skill dan pemahaman baru. Dengan pertumbuhan KBG, imamnya juga semakin sibuk. Sebab, kebutuhan akan iman semakin tinggi. Sehingga imam pun semakin berfungsi sebagai gembala dan harus mau belajar banyak hal.

Dari rangkaian pengalaman saya, saya menemukan hal yang mendasar, ternyata KBG menolong memaknai kegembalaan saya. Sebagai gembala, saya tidak hanya memberi makan umat, namun datang dan memahami situasi umat. KBG juga menolong memahami Gereja sebagai kandang, suatu tempat di mana gembala dan domba berada bersama. KBG juga menolong memahami tema SAGKI 2000, “Gereja yang mendengarkan”. KBG juga menolong memahami semangat Gaudium et Spes, “kegembiraan dan harapan, suka dan duka manusia adalah kegembiraan dan harapan, suka dan duka Gereja”. KBG juga menolong tetap menjadi murid. Dihadapan orang yang pendidikannya rendah, sungguh terpahami mengapa Yesus menggunakan perumpamaan. KBG menolong membangun kepemimpinan bersama umat: ada bersama umat, bekerja sama dengan umat, dan lain-lain. Maka jelaslah KBG sebagai cara hidup menggereja yang baru: harus mempunyai dua sisi kebutuhannya, imamnya merasa butuh dan awam juga merasa butuh. ***