Sabtu, 13 September 2014

Promosi Komunitas Basis Basis dan Fasilitator



sebuah sharing pengalaman pribadi

A.      Pengantar
Ada dua bagian pokok yang dibahas pada topik ini, yaitu Komunitas Basis Gerejawi (KBG) dan fasilitator yang menjadi ujung tombak di dalam KBG. Kedua topik ini akan dibahas secara sederhana dibawah ini, untuk membantu kita melihat situasi riil KBG kita saat ini dan sekaligus mengajak kita yang selalu terlibat dalam KBG tersebut sebagai seorang fasilitator.

Jujur bahwa kedua topik ini tidak dibahas secara ilmiah, tetapi dibahas berdasarkan sharing pengalaman yang saya alami sendiri baik di KBG-KBG di Paroki tempat saya bekerja, dan juga di KBG saya, dimana saya hidup dan beraktivitas didalamnya. Karena berdasarkan pengalaman pribadi dan kemudian terhubungan dengan makna sebuah pengetahuan awal, maka perlu juga didiskusikan lebih lanjut dalam pertemuan kita kali ini.

Ijinkanlah saya untuk beberapa waktu ini mensharing pengalaman saya ini. Dan sebelumnya, saya mengucapkan terima kasih yang berlimpah, atas kesediaan waktu kita semua untuk mengikuti dan diskusi lebih lanjut soal kedua topik ini.

B.       Istilah-Istilah KBG
Sidang Agung Gereja Katolik 2000 KBG sudah dibahas dengan baik. Namun ketika diimplementasikan di setiap keuskupan di Indonesia, ada banyak keuskupan tidak banyak mengalami perubahan yang dahsyat. Orang masih berkotak-katik hanya pada tataran sebutan. Kita bisa membayangkan saja, sebutan nama kelompok atau KBG saja masih dipersoalkan, bagaimana mau menjalankan KBG sesungguhnya? Rasanya sangat sulit sekali.

Menarik bagi saya ketika pertemuan Komisi Kateketik KWI, bulan Mei 2013 di  Aula Paroki Kare, Makasar, bukti bahwa orang berkotak-katik soal sebutan atau istilah itu masih muncul. Sehingga pada kesempatan itu, RP. F.X. Adi Susanto, SJ mengajak para peserta dari setiap keuskupan untuk tidak lagi melihat KBG sebagai sebuah istilah atau sebutan dalam pertemuan itu, tetapi lebih pada isi dan makna yang jauh lebih dalam dari sebatas istilah, sehingga ketika pulang ke keuskupan masing-masing, KBG dapat didorong untuk menjalankan fungsi Gereja Universal secara nyata.

Dalam diskusi perkelompok, saya baru tahu bahwa hampir di setiap keuskupan di Indonesia, menyebut istilah-istilah KBG dengan beragam sebutan.

1.Komunitas Basis (KomBas): untuk wilayah Gerejawi keuskupan-keuskupan di Irian / Papua.
2.Komunitas Basis Gerejani (KBG): untuk wilayah Gerejawi keuskupan Maumere, Ende, Ruteng, Wetebula, Kupang dan Denpasar.
3.Komunitas Basis Gerejawi (KBG): untuk wilayah Gerejawi keuskupan Pangkalpinang, Keuskupan Agung Pontianak dan Keuskupan Bandung.
4.Umat Basis (UB): untuk wilayah Gerejawi Keuskupan Larantuka.
5.Lima Warga (MaWar): untuk wilayah Gerejawi Tanjung Karang.
6.Lingkungan / Kring: untuk wilayah Gerejawi Keuskupan Agung Semarang, Keuskupan Agung Jakarta dan Keuskupan Palangkaraya.
7.Jemaat Basis Kristen (JBK), Jemaat Kristen Basis (JKB) dan Komunitas Kecil Kristen (KKK), istilah-istilah ini akan kita jumpai dalam berbagai sumber buku atau pun dalam media jejaring sosial seperti internet.

Dalam istilah-istilah bahasa asing KBG disebut dengan ‘Small Christian Communities  (SCCs)’. Singkatan ini sering kita jumpa dalam teks-teks modul atau bahan pertemuan AsIPA (Asian Integral Pastoral Approach). Ada juga menyebutnya, Basic Ecclesial Communities (BECs), ini kita jumpai dalam teks-teks atau bahan pemberdayaan fasilitator di institut Lumko, di Johannesburg, Afrika Selatan. Pengalaman hidup KBG di Afrika Selatan ini memunculkan apa yang sering disebut: Black Theologi (Teologi Hitam) dan pengalaman yang sama ini diteruskan di negara Philipina sehingga kita mengenal: People Power (Kekuatan Rakyat).

Sedangkan negara-negara lain dimana KBG tumbuh subur, KBG dikenal dengan istilah: Basic Christian Communities (BCCs). Istilah ini muncul negara-negara Amerika Latin. Maka dari sana sering dikenal dengan Buffalo Theologi (Teologi Kerbau) dan Liberation of Theologi (Teologi Pembebasan).

Dari sekian istilah ini, sebenarnya merujuk pada satu komunitas Katolik yang berada di basis dalam suatu paroki dan dalam hubungan yang lebih luas yaitu di dalam basis suatu masyarakat tertentu.

C.      Komunitas Basis Gerejawi
Bagian ini semacam review kecil yang mau menyedot makna yang mendalam dari ketiga kata ini: komunitas, basis, dan gerejawi.

1.    Komunitas (communion):
a.Kata ‘komunitas’ berasal dari sebuah kata Latin: communio, yang artinya persekutuan. Maka yang dimaksudkan dengan ‘persekutuan’ disini ialah persekutuan antar anggota, bukan sekedar harmonis tapi partisipasi atau ambil bagian dalam satu hal yang satu dan sama. Dengan begitu, penekanannya terletak pada ‘partisipasi’ sehingga partisipasi anggota komunitas menjadi semangat utama dalam persekutuan tersebut.
b.Pemahaman kata ‘komunitas’ berdasarkan proses pembentukan kata itu sendiri.
§ Komunitas dari kata Latin ‘cum – munire. Kata ‘cum’ artinya bersama, sedangkan kata ‘munire’ artinya saling memperkuat, saling meneguhkan, dan saling memperkaya satu sama lain. Berdasarkan arti kata-kata ini maka penekanannya pada ‘relasi antar anggota komunitas. Bahwa relasi atau hubungan antar anggota komunitas adalah sebuah relasi antar anggota secara timbal balik yang positif - yang saling meneguhkan satu sama lain.
§  Komunitas juga dibentuk dari kata ‘cum – unire. Kata ‘unire’ artinya ‘mempersatukan’ atau ‘membuat satu.’ Dari kata-kata ini dapat dimengerti bahwa komunitas menunjukan pada kehidupan bersama yang bersatu dan mempersatukan. Dan penekanan kata komunitas ini ialah pada anggota komunitas. Bahwa anggota komunitasnya berasal dari Rukun Tetangga (RT) dan bersaudara secara baik.
§  Masih satu lagi, kata komunitas terdiri dari kata ‘cum – unus - tas. Kata ‘unus’ artinya ‘satu’. Kata ‘tas’ ialah sebuah kata akhiran yang memiliki aspek abstrak. Tidak bisa didefinisikan artinya. Jika disandingkan kata komunitas ini dalam MGP No. 198, hasil sinode II kita maka komunitas, dari kata ‘cum’ dan unio, artinya: bersama-sama membentuk kesatuan, kebersamaan, dan persaudaraan. Maka komunitas adalah satu kesatuan umat oleh ikatan kebersamaan karena ada unsur tertentu yang mengikat. Penekanannya pada ‘unsur pengikat’. Maka disini unsur pengikatnya ialah ‘iman’ atau ‘teritori’(ketetanggaan).

2.    Basis (basic):
Kata basis sama dengan kata dasar, landasan, ‘akar rumput’, fundamen, dan unsur yang paling hakiki. Paham ini menjurus pada ‘sehimpunan orang dalam jumlah relatif kecil (Sinode I: 7-15 KK dan Sinode II: 15-20 KK), supaya mudah diorganisir dan pelibatan diri dimungkinkan.’

Kalau kata basis digabungan dengan komunitas maka menjadi ‘Komunitas Basis’. Sebutan ‘Komunitas Basis’, untuk umum suatu masyarakat. Artinya pada suatu masyarakat tertentu dengan latar belakang hidup yang berbeda pun, mereka tahu ‘komunitas basis’. Tetapi untuk wilayah Gerejawi tertentu (mayoritas Katolik atau Kristen), ketika menyebut Komunitas Basis, orang langsung berpikir: ‘KBG’ atau ‘UB’. Karena ciri khasnya muncul yaitu kata gerewi (ni) dan kata umat atau jemaat. Lain halnya dengan suatu masyarakat dimana Katolik atau Kristen menjadi minoritas, maka ciri khas kata gerejawi (ni) atau umat atau kristen harus nampak.

3.    Gerejawi
Kata mana yang mau kita pakai, kata Gerejani atau Gerejawi? Ini hanya soal teknis dalam bahasa Indonesia. Karena kata Gereja sendiri merupakan kata serapan dari bahsa asing portugis ‘Igreja’. Sehingga kata ini disebut Gereja untuk menunjukkan ciri khas ‘orang yang terpanggil’ secara jelas ada.

Karena itu, entah kata Gerejani atau Gerejawi, tidak perlu dipersoalkan. Keuskupan lain di Indonesia menyebut ‘Gerejani’ untuk membedakan kata Gereja dan dalam literatur dokumen Gereja kata ‘Gerejawi’. Sedangkan untuk Keuskupan Pangkalpinang memakai kata ‘Gerejani’ dengan maksud menyamakan kata ‘Gerejawi’ didalam literatur dokumen Gereja. Bahkan menurut bahasa Indonesia, lebih pas atau cocok kita menyebut kata ‘Gerejawi’ karena kata ini disamakan dengan kata yang berakhiran ‘wi’ seperti orang menyebut kata ‘surgawi’.

Satu makna lebih dalam dari kata Gereja, berdasarkan asal usul kata bahasa asing ialah kata Gereja dari kata Latin: ecclesia dan kata benda Yunani ekklesia dan kata kerja Yunani: ekkalein, yang berarti ‘memanggil keluar’. Secara harafiah, kata ini adalah ‘memanggil keluar, membentuk satu komunitas yang khusus, dan komunitas itu hidup karena memiliki iman yang sama kepada Allah-yang memanggilnya. Allah-lah yang memanggil keluar seseorang atau sekelompok orang dari sebuah kelompok tertentu atau suku bangsa tertentu. Komunitas inilah yang kemudian mempunyai 4 ciri yaitu satu, kudus, katolik, dan apostolik, itulah yang kita namakan Gereja.

D.      Kedudukan KBG dalam Paroki dan Masyarakat Luas:
Ada dual hal yang menurut hemat saya, cukup mendasar kedudukan KBG dalam posisinya dalam sebuah paroki dan suatu masyarakat umum. Kenyataannya bahwa sebagai sebuah paroki dalam bingkai semangat ‘communion of communities, KBG adalah sebuah basis persekutuan Gereja setempat yaitu paroki. Memang basis persekutuan yang paling dasar ialah keluarga. Keluarga-keluarga yang bertetangga itu membentuk persekutuan kecil yang namanya KBG.

Sedangkan dalam bingkai suatu masyarakat yang lebih luas, KBG sesungguhnya ialah basis masyarakat setempat. Karena itu, KBG kita tidak dimaknai inklusif disini sebagai komunitas yang terbuka-membuka dirinya untuk orang-orang lain, tetapi harus dilihat bahwa makna lain dari inklusif disini adalah ‘diperhitungkan’. Maksudnya ialah bahwa KBG kita termasuk komunitas yang diperhitungkan oleh kelompok-kelompok atau komunitas lain dalam suatu masyarakat yang lebih luas. Karena itu, jati diri KBG sebagai Gereja harus benar-benar nampak.

KBG berbasis subyek bukan objek. Subyek-subyek yang ada didalam basis gereja setempat dan basis masyarakat setempat perlu ditumbuhkembangkan jatidirinya. Disinilah sebenarnya KBG boleh kita sebut sebagai basis pemberdayaan subyek-subyek tersebut. Bagaimana jika subyek-subyek itu tidak diberdayakan, tentu jatidiri subyek-subyek tersebut sebagai Gereja akan ‘terang’ tetapi ‘terang’nya seadanya saja. Padahal tantangan dunia dewasa ini semakin membahana dengan menonjolkan individualisme, hedonisme, konsumerisme, dan lain-lain, yang cukup membuat jatidiri sebagai Gereja menjadi redup.

KBG yang terus menerus diberdayakan, subyek-subyeknya akan menjadi pribadi-pribadi yang terbebaskan dan saling meneguhkan satu sama lain. Dengan begitu, subyek-subyek yang ada didalam KBG itu dapat merasul baik secara internal maupun secara eksternal. KBG boleh kita katakan disini sebagai basis kerasulan kaum awam, karena di medan inilah kaum awam sungguh hidup dan mengabdi bagi saudara-saudri dan sesama yang lain.

Dalam kedudukan KBG kita ini baik sebagai satu paroki dan suatu masyarakat umum, hasil Sinode II kita dalam MGP No. 259, dikatakan bahwa KBG diberdayakan dengan mengarah pada tiga bintang yaitu: berpusat pada Kristus, membangun komunio dan menjalankan misi-Kerajaan Allah. Salah satu contoh yang boleh kita laksanakan ialah ‘merayakan pesta pelindung KBG’. Melalui perayaan pesta pelindung KBG, ketiga bintang pemberdayaan KBG dapat terlaksana, asalkan perlu dipersiapkan dengan baik.

Dalam pemberdayaan KBG, MGP No. 209-212 dan No. 260 juga mengisyaratkan supaya KBG harus memperlihatkan jatidirinya dalam bingkai 4 ciri khas KBG yaitu: teritori (15-20 KK), sharing Injil menjadi agenda utama pertemuan KBG, melaksanakan aksi nyata, dan KBG selalu terhubung dengan Gereja Universal. Jika salah satu ciri khas ini tidak nampak dalam KBG, maka bukanlah KBG, tetapi dengan nama yang berbeda-beda.

Jika yang ada hanya melaksanakan sharing Injil, aksi nyata, dan terhubung dengan Gereja Universal, maka kelompok ini disebut ‘kelompok umum’ atau ‘kelompok kategorial’. Jika yang tidak ada ialah sharing Injil maka kelompok itu disebut ‘kelompok aksi’ atau ‘LSM’. Jika yang ada hanya teritori, sharing Injil, dan terhubung dengan Gereja Universal maka kelompok itu kita sebut ‘kelompok doa’ atau ‘kelompok iman.’ Jika yang tidak ada ialah terhubung dengan Gereja Universal maka kita sebut ‘sekte’.

E.       Tujuan Ber-KBG:
Secara detail boleh kita sebut disini, tujuan kita ber-KBG:
a.    Meningkatkan dan menghidupkan Cara Baru Hidup Meng-Gereja.
b.    Membebaskan.
c.    Memberdayakan.
d.   Membangun KBG untuk mandiri dalam hal kerohanian, skill dan finansial.
e.    Mengejahwantahkan Gereja Universal secara nyata, sebagai wujud Kerajaan Allah di tengah dunia.

F.       Apa yang sudah kita miliki dalam Kelompok kita saat ini?
Jujur bahwa sekarang kelompok-kelompok kita di paroki-paroki belum sempurna disebut KBG. Karena ke-4 ciri khas dan proses pemberdayaan KBG yang mengarah pada tiga bintang sedang dilakukan bersama-sama. Jika belum, maka lebih baik kita masuk dalam ‘goal setting’ KBG yang kita buat setiap tahun dengan sasaran dan target masing-masing.

Kita juga perlu jujur juga bahwa kenyataannya, kelompok-kelompok di paroki kita itu, telah memiliki beberapa hal, yang hampir dipastikan mampu menjadi sebuah KBG, yaitu:

a.Kelompok-kelompok dengan teritorial tertentu, dengan nama-nama khusus berdasarkan santo / santa pelindung
b.Kelompok-kelompok dengan pengurusnya masing-masing
c.Kelompok-kelompok ini sudah bertemu seminggu sekali atau seminggu dua kali
d.Isi pertemuan kelompok seminggu sekali atau seminggu dua kali dengan: doa rosario, Ibadat Sabda (HUT, arwah, dll)
e.Misa dengan ujud tertentu
f. Fasilitator
g.Jadwal rutin????
h.    Aksi Nyata?????

G.      Fasilitator
1.    Data Fasilitator:
Data fasilitator  yang diminta untuk diisi mencakup:
a.Identitas Fasilitator: nama, tempat/tgl. lahir, kelompok asal, tempat/tanggal. baptis, pendidikan akhir, pekerjaan, jabatan di KBG/DPP/DPHBP, Nmr HP/Pin BB, dll.
b.Identitas KBG/keadaan KBG: nama pelindung KBG, jumlah KK, jumlah anggota KBG, jumlah anggota lak-laki, jumlah anggota perempuan, jumlah Kaum Muda / OMK, jumlah anak remaja, jumlah anak-anak, jumlah fasilitator, jumlah fasilitator yang ikut pelatihan AsIPA, jumlah fasilitator yang belum ikut pelatihan AsIPA
c.Komitmen ikut Pelatihan AsIPA: apa motivasinya, apa target pribadi selama pelatihan, bagaimana komitmen anda selama pelatihan, dll.

2. Tim Pemberdayaan KBG
RD. Frans Mukin, menyebut fasilitator yang pernah mengikuti seminar AsIPA, dengan nama ‘Tim Pemberdayaan KBG.’ Hemat saya, lebih memilih untuk menyebut Tim Pemberdayaan KBG sebagai ‘Kelompok Fasilitator Inti’. Karena Tim Pemberdayaan KBG sudah ada didalam seksi-seksi Dewan Pastoral Paroki. Kelompok Fasilitator Inti ialah orang-orang yang menjadi fasilitator yang sudah mendapat pembekalan tentang fasilitator dan tema-tema lain dalam modul-modul AsIPA. Karena itu, ditangan Kelompok Fasilitator Inti inilah yang nanti akan melipatgandakan fasilitator baru di KBG mereka masing-masing.

Apa yang dijalankan oleh Kelompok Fasilitator Inti ini? Dibawah ini saya menggariskan beberapa poin berikut ini:
a.    Memulai dengan Kelompok Fasilitator Inti pemula. Mereka yang sudah pernah menjadi fasilitator ataupun belum pernah menjadi fasilitator di KBG tetapi belum dibekali pemberdayaan fasilitator melalui modul-modul AsIPA, mereka-mereka sedang dalam proses pembekalan inilah yang kita sebut ‘pemula.’
b. Kelompok Fasilitator Inti pemula ini harus berintegral dengan masyarakat setempat dan KBG. Kelompok Fasilitator Inti ini, setelah mendapat pelatihan atau pembekalan, mereka ini akan kembali ke KBG masing-masing. Dan akan tinggal dan beraktivitas dalam KBG-nya. Mereka bersama KBG-nya merasakan dan mengalami makna hidup ber-KBG yang disinari oleh Sang Sabda. Dan berusaha untuk membuka diri dengan masyarakat sekitarnya selain dengan sesama anggota KBG.
c.    Menyertakan – Informasi situasi KBG awal. Kelompok Fasilitator Inti ini harus mengetahui situasi KBG-nya. Mengumpulkan sebanyak mungkin informasi tentang KBG-nya. Termasuk didalamnya peta KBG, mengetahui batas-batas teritori KBG-nya, jumlah anggota KBG-nya, dan lain-lain.
d. Memilih daerah yang paling mungkin menjadi model. Setelah mendengar informasi awal KBG, terkadang Kelompok Fasilitator Inti terpanggil untuk memetahkan beberapa KBG untuk lebih dahulu dikembangkan untuk menjadi model. Prinsip ini baik dan sah-sah saja. Namun, ini butuh waktu yang lama. Karena itu, mungkin jauh lebih baik, perlu mendorong setiap KBG untuk bangkit dan bertumbuh bersama sebagai sebuah komunitas dalam Gereja Paroki. Tidak ada prinsip yang baku untuk menjadikan beberapa KBG menjadi model terlebih dahulu.
e.         Mengunjungi orang-orang potensial untuk menjadi fasilitator tahap pelatihan berikutnya. Karena Kelompok Fasilitator Inti berasal dari KBG-nya sendiri, maka fasilitator perlu mengenal dan memahami anggota-anggota KBG-nya yang potensial. Setelah itu, berani untuk mendekati orang-orang yang potensial itu, untuk menjadi fasilitator berikutnya dengan melalui proses pelatihan atau pembekalan lewat modul-modul AsIPA.
f.    Kondisi awal Kelompok Fasilitator Inti ini. Dalam Kelompok Fasilitator Inti perlu saling mengenal satu sama lain lebih mendalam sejak dari awal. Sehingga dalam perjalanan, situasi-situasi antara mereka semakin diperbaharui untuk menjadi sebuah Kelompok Fasilitator Inti yang lebih berpotensi dan dewasa untuk berperan bagi kepentingan Gereja.
g.   Kelompok Fasilitator Inti memiliki pengetahuan dasar untuk bekerja. Supaya Kelompok Fasilitator Inti ini bisa bekerja sebagai fasilitator yang diandalkan dalam KBG, perlu pelatihan melalui modul-modul AsIPA dan pemberdayaan secara berkelanjutan. Bila perlu sebulan sekali mereka bisa saling berjumpa lagi untuk terus menerus belajar baik tentang Kitab Suci, Gereja, dan lain-lain maupun kegiatan pembaharuan rohani seperti rekoleksi atau retret.

3.     Kelompok Fasilitator Inti dan KBG
Relasi Kelompok Fasilitator Inti dengan KBG, bagaikan ‘sayur dengan garam’. Sama-sama saling keterkait satu sama lain. Sehingga sangat mungkin ada kemajuan bersama dalam beberapa poin berikut ini; yang menjadi perhatian bersama.

a. Kelompok Fasilitator Inti ini harus menyatu dengan strateginya. Setelah pelatihan dan kemudian pemberdayaan terus menerus, fasilitator harus mempunyai strategi yang sama untuk tetap bertahan dalam pemberdayaan KBG. Apa yang dijalankan bersama dan yang menjadi kesepakatan bersama, saling membantu dalam pelaksanaan. Tidak bisa tidak bahwa ada yang menjalankan, ada yang tidak; bahkan saling bersungut di belakang-belakang, ketika mau menjadi fasilitator di KBG-KBG. Hasil kesepakatan bersama tidak dijalankan, atau dijalankan pun, tidak maksimal.
b. Kelompok Fasilitator Inti ini harus mempunyai hubungan kepercayaan. Antara satu fasilitator dengan fasilitator yang lain, saling kenal, akrab, dan membangun persaudaraan diantara mereka. Dengan begitu, muncul saling percaya satu sama lain. Saling percaya satu sama lain, akan membantu anggota KBG untuk maju bersama.
c.    Kegiatan pertama yang dilakukan harus mempunyai daya tarik yang kuat: mukjizat. Setelah pelatihan bersama, dan telah sepakat untuk dijalankan di KBG, perlu semangat untuk mendorong satu sama lain, baik antar fasilitator maupun fasilitator dengan anggota KBG. Semangat kebersamaan dan persaudaraan yang muncul, perlu dimaknai dalam arti yang baru sebagai  sebuah ‘mukjizat’.
d.Kegiatan harus melibatkan sebanyak mungkin umat dari kalangan bawah. Anggota KBG terdiri dari berbagai lapisan: kaya-miskin, kecil besar, tua-muda-anak-anak, yang rajin-yang malas, yang baik-yang brengkek. Semuanya itu adalah anggota KBG yang satu dan sama menjadi anggota Gereja. Satu hal yang lebih bijak, bila fasilitator terlebih dahulu merangkul sebanyak mungkin mereka yang selama ini terpinggirkan-minoritas baik secara ekonomi, psikologis, maupun secara etnis.
e.Memimpin refleksi setelah kegiatan. Kelompok Fasilitator Inti harus mampu mengadakan refleksi-refleksi yang membangun-mendidik, dan mendorong untuk maju dalam banyak kegiatan lain. Hal ini akan membantu-memotivasi pelibatan fasilitator.
f.Kegiatan berhasil jika mobilisasi pendidikan yang diperlukan, mengkonsolidasi keuntungan KBG. Pemberdayaan dan pelatihan fasilitator harus mengarah pada keuntungan membangun subyek-subyek dalam KBG. Sehingga anggota KBG pun mengetahui bahwa rutinitas pertemuan fasilitator membantu perkembangan KBG. Dengan demikian, anggota KBG memiliki kepedulian untuk mendukung. Bahkan tertarik untuk mau menjadi fasilitator baru.
g.    Kekuatan KBG ialah organisir umat. Kekuatan KBG ialah bagaimana fasilitator mengorganisasi anggota KBG. Karena itu, KBG perlu mempunyai jadwal pertemuan yang jelas dan pasti. Jadwal pertemuan ini dibicarakan bersama dan melibatkan banyak pihak. Jadwal kegiatan harus dibuat jauh-jauh hari, biar membantu anggota KBG dalam pembuatan agenda pribadi dan keluarga.
h. Konsolidasi Kelompok Fasilitator Inti dan perluasannya. Kelompok Fasilitator Inti, perlu memperluas anggota baru dan sekaligus perluas dalam banyak hal seperti soal pengetahuan, spiritual, psikologi, dan lain-lain.
i. Kelompok Fasilitator Inti menyimpulkan pengalaman-pengalaman dan melakukan kritik dan kritik diri. Pengalaman-pengalaman kebersamaan dalam Kelompok Fasilitator Inti perlu dievaluasi. Dalam evaluasi itulah setiap anggota memberikan kritik atas pengalaman hidup bersama, dan juga saling coreksi (coreksio fraternal). Sehingga persekutuan semakin terjamin dan persaudaraan antar anggota semakin mewarnai hidup kelompok ini.

H.      Kompendium
1. Dengan memahami arti komunitas secara baik, maka kita akan memahami maksud kita ber-KBG. Kebersamaan, persekutuan dan partisipasi bersama dalam KBG sebagai makna Gereja secara benar. Karena kebersamaan, persekutuan dan partisipasi dalam KBG merupakan ekspresi persekutuan Tritunggal Mahakudus.
2.  KBG dibangun berdasarkan spirit yang sama dan dalam visi yang sama. Karena itu, KBG jangan menjadi alat politik dan kekuasaan orang-orang tertentu.
3.  Kelompok Fasilitator Inti, hendaknya menjadi ‘garam bumi’ dan ‘terang dunia’ untuk KBG-nya. Dari diri kelompok inilah fokus anggota KBG tertuju untuk membangun Gereja Partisipatif yang bermula dari KBG-KBG.



*) pertemuan pengantar kelompok fasilitator inti

Paroki Sta. Bernardeth, selasa, 26 Agustus 2014 di Aula

Paroki Sta. Bernardeth

Sumber Materi ini:
1. http://www.fabc.org/offices/olaity/asipa.html
2. A. Margana, Komunitas Basis Geraj Menggereja Kontekstual, Kanisius: Yogjakarta: 2004, p. 75-92.
3. Pedoman Pastoral Keuskupan Pangkalpinang, Menjadi Gereja Partisipatif, Obor: Jakarta, 2012, No. 198-200, p. 108-110; bdk. F.X. Sugiyana, Pr., Lingkungan—Aktualisasi Jemaat Perdana Di Zaman Modern, Kanisius: Yogjakarta, 2013, p. 15-16.
4. Enrique P. Batangan, dkk, 'Komunitas Basis Gerejani - Katalisator Untuk Pemerdekaan, Kanisius: Yogakarta, 2002, p. 29-52.

Selasa, 12 Agustus 2014

Membangun Gereja Partisipatif Melalui Sharing Injil

(Pemberdayaan Fasilitator Se-Bangka Belitung)
Hari Ketiga, Sabtu, 2 Agustus 2014

Akhir pekan, biasanya ada banyak orang menyiapkan diri untuk mengalami malam minggu bersama, baik dengan pasangannya maupun dengan keluarga besarnya. Ini berbeda dengan para peserta Fasilitator. Pagi-pagi, mereka sudah bergegas ke ruang meetting untuk memulai kegiatannya dengan merayakan Ekaristi. Ekaristi pagi itu diberikan kepada Paroki Koba dan Paroki Belinyu. Maka pemimpin Ekaristi ialah RD. Yosef Setiawan dan didampingi oleh RD. Stanis Bani. Dalam kata pengantar RD. Yosef mengajak para fasilitator menjadi seorang pemberani yang menyuarakan kebenaran seperti yang dikisahkan oleh Injil Matius 14:1-12 yang mengisahkan tentang Yohanes Pembaptis dipenggal kepalanya oleh Herodes karena menyuarakan kebenaran. Bahwa Herodes tidak pantas mengambil Herodias menjadi isterinya, karena Herodias sendiri adalah isteri saudaranya.

RD. Yosef Setiawan dan RD. Stanis Bani
Pengantar singkat RD. Yosef ini kemudian ditandaskan lagi dalam kotbah singkatnya dengan topik PAS... Pas makan, semua ikut makan, pas minum, semua ikut minum walaupun terkantuk-kantuk dalam mengikuti acara. Dan ketika ada acara pesta keluarga, ketika anak Herodias menarik dan menggugah Herodes, Herodes berjanji untuk memberikan setengah dari kekayaannya untuk Herodias jika anaknya menari dan menggugah hati Herodes. Apa yang terjadi setelah menari? Memang pas, Herodias justru meminta kepala Yohanes, Herodes pun tidak segan-segan memerintahkan kepada prajuritnya untuk memenggal kepala Yohanes. Sikap Herodes yang demikian, karena sakit hati terhadap Yohanes, karena Yohanes berani menegur seorang raja yang berjiwa menjadi penguasa ini. Fasilitator akan diutus ke tengah-tengah KBG-KBG, tentu disana akan membawa semangat-semangat Injili. Beranikah kita meneladani Yohanes Pembaptis?

Setelah perayaan Ekaristi, para peserta melanjutkannya dengan sarapan pagi. Sarapan pagi sebagai penopang raga setelah jiwa rohani dikuatkan oleh Tubuh Kristus. Kedua kekuatan ini terpadu, communio, sehingga para peserta terlihat bersemangat mengikuti rangkai acara akhir pekan itu dengan riang gembira walaupun acara-acara akhir pekan ini begitu panjang dan melelahkan.

Kelompok diskusi pendalaman modul
Para peserta dibagi dalam enam kelompok kecil dan didampingi oleh seorang Tim SC untuk mendalami modul A/5 tentang Melaksanakan Sharing Injil. Waktu yang disediahkan dua jam setengah itu, ternyata tidak cukup. Karena tidak hanya melaksanakan Sharing Injil Tujuh Langkah, tetapi disana peserta secara perlahan-lahan mendalami langkah demi langkah dalam Sharing Injil Tujuh Langkah. Peserta berusaha untuk memahami makna langkah demi langkah, sehingga ketika pulang ke KBG-KBG masing di setiap paroki dapat menjalankannya dengan baik dan benar. Pemahaman ini juga terkorelasi dengan apa yang sudah dipelajari di KBG-KBG Paroki Sungailiat ketika hari sebelumnya telah menjalankan Sharing Injil bersama dengan KBG-KBG Paroki Sungailiat. Dari pengalaman Sharing Injil bersama di KBG-KBG peserta kemudian mendapat masukan dari Tim SC berdasarkan modul A/5. Salah satu anggota KBG St. Yosep Sungailiat, Ibu Yovita Djanu Rombang mengisahkan bahwa KBG kami memang belum maju, kami mendapat banyak majukan dari peserta yang kunjung ke KBG kami. Walaupun mendapat banyak masukan, tetapi yang lebih penting bagi kami, KBG sudah menjalankan Sharing Injil, dimana disana hampir semua anggota KBG: orangtua, OMK, dan anak dan remaja pun ikut berpartisipasi. Anggota KBG, kan semua orang yang tinggal di dalam KBG itu. Prosesnya agak lambat karena anak-anak pun harus diajak untuk berterlibat didalam Sharing Injil ini.

Kelompok diskusi peserta
Selain itu, anggota KBG dari St. Gabriel, Bukit Betung, Paulus Benediktu mengisahkan bahwa di KBG kami, yang menjadi fasilitator adalah anak-anak SD. Memang mereka memfasilitatsi dengan membaca secara perlahan-lahan, seakan masih dengan cara menunggu giliran. Mungkin banyak waktu yang perlu dibutuhkan. Namun, di KBG kami mau menegaskan bahwa anak-anak pun adalah pelaku di KBG, karena itu kami KBG St. Gabriel pun memberi ruang untuk anak-anak menjadi fasilitator. Memang banyak kekurang karena masih ada yang tidak menjaga ketenangan lalu langkah demi langkah itu kami modif sesuai dengan lingkungan KBG kami. Modif langkah demi langkah ini, tidak sesuai teks AsIPA namun tujuan kami ialah untuk membangun komitmen menjadi orang yang setia pada Kristus.

Kelompok diskusi peserta
Dari pengalaman ke KBG, peserta boleh belajar banyak hal soal Sharing Injil. Salah satu Tim SC, bapak Agust Supriyanto yang diuntus ke KBG St. Vincentius menceritakan bahwa di KBG saya belajar banyak hal. Mulai dari fasilitator yang memfasilitasi Sharing Injil langkah demi langkah hingga bagaimana gaya dan sikap seorang fasilitator dalam Sharing Injil itu. Terlihat bahwa fasilitator mau mendominasi semuanya. Terlihat juga bahwa fasilitator memilih ayat Kitab Suci yang panjang-panjang, dan banyak anggota KBG yang belum mau terlibat. Ini semua pengalaman yang menarik. Sehingga pulang ke KBG masing-masing paling tidak sudah ada pengalaman dan teori dalam modul A/5 menjadi bahan bekal untuk menghidupkan KBG masing-masing.

Dari pelaksanaan Sharing Injil hingga pendalaman langkah demi langkah, ternyata membutuhkan energi yang tidak sedikit. Fasilitator siang itu terlihat agak lesuh namun, jiwa yang telah dikuatkan oleh Sabda dan Ekaristi dalam misa pagi tadi, mengobarkan semangat mereka untuk makan siang dan kemudian istirahat siang. Keletihan, memang melemahkan fisik, tetapi kembali dijinakan oleh istirahat siang.

Kelompok diskusi peserta
Bangun istirahat siang, fasilitator langsung ke ruang minum untuk menikmati minuman dan kue-kue yang telah disiapkan Sun Jaya Hotel. Selanjutnya, rangkaian acara berikutnya, peserta tetap dibagi dalam kelompok-kelompok kecil mendalami modul B/7A-C. Para peserta didampngi oleh Tim SC lagi untuk mendalami model kepemimpin di KBG dengan berfokus belajar dari Yesus Kristus, Sang Pemimpin Agung. Modul demi modul didalami. Dan diakhir modul, peserta menyiapkan role play-drama singkat dari modul B/7A untuk divisualkan kepada publik untuk dinilai oleh semua peserta. Hebat, bahwa dalam waktu singkat lebih kurang lima menit, peserta dalam kelompok mampu menyiapkan drama singkat yang mencerminkan gaya kepemimpinan yang selama ini dijalankan di KBG-KBG atau paroki-paroki. Pendalaman modul B/7A-C hingga jam 19.30, jalam makan malam. Selanjutnya, setelah makan malam, diadakan pleno melihat visualisasi setiap kelompok tentang gaya kepemimpin dan kemudian dilanjutkan dengan rencana kerja per setiap peserta, KBG, dan paroki-paroki, sebagai buah-buah dari keseluruhan rangkaian pertemuan ini.

Kelompok diskusi peserta
Setelah keseluruhan rangkaian acara itu, Panitia OC mengundang seluruh peserta fasilitator dari setiap paroki dan SC untuk rekreasi bersama di halaman depan Sun Jaya Hotel, sambil berkaraoke bersama dengan berbagai macam lagu-lagu.


Tepat pukul 12.00 wib, acara rekreasi ditutup. Ada banyak peserta yang pulang ke paroki masing-masing, seperti Paroki Belinyu, Bernardeth, dan Pangkalpinang. Sedangkan peserta yang lain, tetap di Sun Jaya Hotel untuk menuntup rangkaian acara pertemuan fasilitator dalam misa bersama umat di Gereja Paroki Sungailiat, tanggal 3 Agustus 2014. Misa penutupan yang dipimpin oleh RD. FX. Hendrawinata, vikjen Keuskupan Pangkalpinang yang didampingi oleh RP. Bernardus Windyatmoko, RP. FA. Budiono, RD. Stanis Bani dan RD. Markus Malu. Setelah misa, seluruh peserta fasilitator, ketua-ketua KBG dan DPP serta anggota koor Shaporseaon diundang untuk santap siang bersama di aula paroki. Tepat pukul 13.00 wib seluruh peserta kembali ke paroki masing-masing. Selamat jalan saudara-saudariku, selamat membangun communio di KBG dan paroki masing-masing. Tahun depan kita berjumpa lagi di paroki lain.***

Sabtu, 09 Agustus 2014

Membangun Gereja Partisipatif Melalui Sharing Injil (Pemberdayaan Fasilitator Se-Bangka Belitung)

Hari Kedua, Jumat, 1 Agustus 2014

RD. Felix Atawoolo
Pagi Jumat, 1 Agustus 2014, di Sun Jaya Hotel terlihat sepih. Sepih bukan berarti tidak ada aktivitas. Tetapi dalam sepih itu para fasilitator bergegas dari kamar masing-masing menuju ruang pertemuan. Pagi itu, RD. Felix Atawollo, Pastor Paroki Mentok, telah bersiap-siap dengan pakaian khasnya sebagai seorang imam Tuhan. Perayaan Ekaristi pagi itu didaulatkan kepada Paroki Mentok dan Tanjungpandan, paroki Mentok bertugas memimpin perayaan ekaristi dan paroki Tanjungpandan ditugaskan untuk mengatur lagu, disana ada Sr. Angelina Sinaga dan Ibu Elisabeth Erny Susanto. Misa pagi itu pun dimulai, lagu pembukaan dikumandankan dan RD. Felix berjalan menuju meja pertemuan yang dijadikan altar.

Pastor Paroki Mentok, dalam kata pengantar dan kotbahnya mengulas tentang teks Kitab Suci Injil Matius 13:54-58 tentang Yesus ditolak dari Nasaret dan bertepatan dengan tanggal itu (1/8) Kalenderi Liturgi mencatat pesta Santo Alfonsus Maria de Liguori. Dan Rd. Felix, mantan pastor rekan Paroki Sungailiat, 2004-2007, mengulas sedikit tentang materi pertemuan pada hari sebelumnya. Sedikit menyentuh riwayat hidup Santo Alfonsus, mantan pastor rekan Paroki Koba (2007-2014) ini menandaskan bahwa Santo Alfonsus adalah seorang imam, uskup dan pujangga Gereja. Dia telah menunjukkan teladannya hingga akhir hayatnya sebagai seorang imam yang baik. Lalu teks Matius menggambarkan situasi Yesus ditolak oleh orang Nasaret, karena mereka tahu Yesus itu seorang anak tukang kayu dan ibunya seorang ibu rumah tangga biasa. Menyinggung soal ‘Gereja Bagai Pohon’, RD. Felix memunculkan sebuah pertanyaan nakal untuk direnungkan para fasilitator yang hadir saat itu. Bagaimana kalau KBG itu bagai sebuah pohon atau bunga bongsai atau bunga plastik yang ada dirumah kita masing-masing. Itu artinyanya KBG diatur sesuka hati kita. Ini yang tidak boleh terjadi. Jika sekarang masih ada, inilah yang perlu diadakan perubahan. Karena KBG hidup dari Kitab Suci, Yesus Kristus, Allah Tritunggal Mahakudus.

Mgr. Hilarius Moa Nurak, SVD
Setelah selesai perayaan, seluruh peserta diajak untuk sarapan dan kemudian dilanjutkan dengan materi lanjutan Mgr. Hilarius Moa Nurak, SVD. Dalam pertemuan lanjutan itu, Bapa Uskup Keuskupan Pangkalpinang tetap berpedoman pada materi sebelumnya yaitu Gereja Bagai ‘Pohon’. Beliau menekankan bahwa sudah terlalu lama fokus perhatian kita pada struktur per struktur dalam Gereja kita. Memang ini baik. Tetapi lebih baik lagi, struktur perlu diperbaharui, supaya spiritualitas pelayanan selalu dijalankan. Inilah satu hal yang mendorong Gereja kita sehingga hasil Sinode II telah menggariskan perubahan struktur di Keuskupan Pangkalpinang turun ke bawah ke kevikepan. Sehingga komisi-komisi di keuskupan dulu, sekarang ditarik turun ke kevikepan, dengan begitu spiritualitas pelayanan semakin lebih dekat di paroki dan KBG-KBG.

Perubahan semacam ini memang beresiko, tetapi lebih beresiko lagi kalau tidak berubah. Memang ketika KBG-KBG dikembangkan ada banyak masalah yang muncul dan dari banyak masalah itu tentu menjadi penghalang untuk tumbuhnya KBG-KBG. Namun, Gereja bagaimanapun selalu terus menerus berubah (ecclesia semper reformanda). Karena lebih baik berubah daripada tidak berubah, karena akan lebih beresiko ke depannya. Menungkapkan Mgr. Hila ini terbaca sebagai ‘suara kenabian’ bagi situasi Gereja kita di masa depan.

Mgr. Hilarius Moa Nurak, SVD
New Way of Beeing Church-Cara Baru Hidup Menggereja
Mgr. Hilarius lebih lanjut menunjukkan perubahan hidup itu dalam Kitab Suci. Bahwa ternyata Yesus Kristus telah memulai hal yang baru. Yesus memulainya dengan mengajak orang-orang disekitarnya untuk bertobat. ‘Bertobatlah, sebab Kerajaan Allah sudah dekat’ (Mat. 4:17). Ternyata ajakkan Yesus ini mendapat tantangan lebih besar dari lingkungan mereka, orang Yahudi. Terhadap berubahan hidup ini, Mgr. Hila menunjukkan beberapa teks Kitab Suci yang diajarkan oleh Yesus supaya melaksanakan perubahan dalam hidup itu: Mat. 5: 38-39; Mat. 5: 43-44; Mat.  6: 1-4; Mat. 6: 19-21, dll. Lalu perubahan itu dilanjutkan oleh para Rasul Yesus. Perubahan aktivitas hidup Para Rasul terlihat secara fisik ada, sebagai contoh tempat berkumpul Gereja Perdana. Ditunjukkan para Rasul disana dengan beralih dari sinagoga-sinagoga ke rumah masing-masing para pengikut Yesus. Inilah muncul yang kita sebuah sebagai ‘Gereja Rumah Tangga’ (Kis. 2: 41-47; 4:32-37). Para rasul menyadari bahwa berubah itu sangat bermanfaat untuk hidup Gereja Perdana ke depan, sehingga lebih berkembang dan maju lagi.

Iya...benar sekali. Ternyata perubahan itu juga dilanjutkan Rasul Paulus dengan membentuk komunitas Kristen di Antiokhia (Kis.11:26). Perubahan ini yang membawa kekristenan dapat keluar dari lingkungan satu budaya kepada bangsa-bangsa lain. Rasul Paulus menjadi Rasul para bangsa.

Hal lain yang ditegaskan Mgr. Hila dalam pertemuan hari kedua, sambil mengutip buku Sri Paus Fransiskus: 'Evangelii Gaudium' adalah bahwa gerakkan-gerakkann kecil seperti ME, CFC, dan lain-lain dalam Gereja adalah sumber daya yang memperkaya Gereja. Karena gerakkan-gerakkan ini pun merupakan daya Roh Kudus. Melalui perubahan dengan muncul banyak gerakkan dalam Gereja, akan muncul mula misi Gereja. Gereja akan selalu membuka pintu bagi orang lain, bagaikan seorang Bapa yang baik yang senantiasa menunggu anaknya yang hilang pulang kembali ke Rumah-Nya (Luk. 15:11-32).

Setelah bersama fasilitator selama dua hari (31 Juli-1 Agustus), Mgr. Hila siang itu juga, langsung ke Batam, berdasarkan jadwal kunjungan pastoralnya yang telah dijadwalkan selama setahun.

Gereja Partisipatif dan Sharing Injil
Ini tema pokok yang mau digarisbawahi oleh RD. Frans Mukin, pastor paroki Katerdral St. Yosef Pangkalpinang dan sekaligus sebagai vikep Kevikepan Selatan, Bangka Belitung. Tema kedua setelah Mgr. Hila ini, disampaikan oleh RD. Frans dengan empat hal dasar dalam tulisannya untuk 50-an fasilitator se-Babel yang hadir dalam pertemuan tersebut.

RD. Frans Mukin, Vikep Kevikepan Selatan (Ba-Bel)
Pertama, Gereja Partisipatif. Gereja partispatif adalah Visi Gereja Keuskupan Pangkalpinang yang disepakati melalui Sinode II Keuskupan Pangkalpinang. Untuk membangun Gereja Partisipasi, salah satu tantangan yang muncul saat ini ialah modernitas. Moderenitas dalam banyak hal menjadi ancaman terhadap penghayatan iman Katolik. Gereja Partisipatif (GP) memberi gambaran mengenai semangat kebersamaan dalam kerja sama dan persaudaraan sejati dalam cara hidup menggereja. Gereja Partisipatif juga memberi gambaran perilaku saling membagi, dan memberi kontribusi untuk kepentingan bersama. Perilaku saling berbagi melahirkan rasa kebersamaan yang tinggi dan itu menjadi modal untuk mewujudkan tugas perutusan gereja sebagaimana dikehendaki oleh Kristus sendiri. Gereja Partisipatif yang membuka peluang kepada banyak anggota bekerja sama dan berpartisipasi. Namun, jika modernitas yang kian kuat ini dalam bentuk seperti kurang kebersamaan lagi dalam keluarga-makan bersama dalam keluarga, maka akan berpengaruh pada ketidakaktif anggota dalam hidup ber-KBG dan menggereja.

Kedua, KBG (Komunitas Basis Gerejani). Merupakan  perwujudan gereja yang kongkrit di level akar rumput, yakni di teritori-ketetanggan. KBG yang kongkrit berpusat pada Kristus, melalui Perayaan Sakramen dan Pertemuan Pendalaman Firman Tuhan, dan lain-lain. Melalui berbagai kegiatan ini, KBG akan menjadi ‘bangunan’ communion, bersosok komunitas yang mengedepankan spirit pesekutuan. KBG sebagai Wujud Gereja yang kongkrit melaksanakan misi yang diberikan oleh Kristus.

Ketiga, Membangun Partisipatif. Gereja Partisipatif adalah visi Gereja Keuskupan Pangkalpinang, ia seperti Mimpi Kehidupan Menggereja yang hendak dibawa kepada kenyataan. Partisipasi bukan sesuatu yang mudah, apalagi untuk agenda hidup menggereja. Partisipasi dan kerjasama mengandaikan kemampuan untuk berkorban demi kepentingan bersama, kesanggupan untuk tidak ingat diri, mengesampingkan kepentingan diri sendiri. Mengingat perilaku partisipastif tidak mudah dimiliki, dan harus diperjuangkan, maka memang ia harus dipelajari dan dilatih.  Belajar berpartisipasi di dalam KBG yang kecil lebih mudah dibandingkan mempelajarinya di ruang yang luas seperti Paroki. Mempertimbangkan betapa tidak mudah berlangkah menuju Visi Gereja Partisipatif, maka Sinode Keuskupan mematok sebuah Misi yang harus dilaksanakan untuk meraih Visi. Misi itu adalah Pengembangan KBG.

Keempat, Sharing Injil. KBG bukan sebuah kelompok di dalam Gereja, ia adalah Gereja itu sendiri, meskipun di tatanan akar rumput. Sebagai gereja para anggotanya berkumpul di dalam Nama Tuhan, menjadikan kehidupannya berpusat pada Kristus, melalui perayaan-perayaan Sakramen dan Sabda Tuhan yang dibaca dan direfleksikan bersama.  Tantangan dalam membangun partisipasi di dunia modern membuat orang kebanyakan lebih tertarik hidup bagi dirinya sendiri. Salah satu jalan yang ditempuh agar warga KBG sungguh dapat belajar mempraktekkan partisipasi dalam konteks kehidupan bersama sebagai Gereja adalah pelaksanaan Sharing Injil. Dalam AsIPA, terdapat beberapa Sharing Injil. Salah satunya ialah Sharing Injil Tujuh Langkah. Dengan sharing injil, anggota KBG mendapatkan inspirasi yang mendorong mereka untuk melakukan aksi nyata, partisipasi dipraktekan atau dilaksanakan melalu aksi dan program. Metode sharing Injil Tujuh Langkah, dikemas sedemikian rupa untuk memungkinkan para anggota berjumpa dengan Kristus, terutama melalui ayat-ayat yang dipetik, lalu dijadikan sebagai mutiara bagi kehidupan untuk menjadi inspirasi dan motivasi bagi pelaksanaan aksi nyata yang direncanakan nanti. Tidak ada inspirasi yang lebih sempurna untuk mendorong kepada pelaksanaan aksi atau agenda KBG selain Sabda Tuhan sendiri. Sasaran Sharing Injil adalah pertemuan pribadi dengan Kristus melalui ayat-ayat yang dipilih, yang diyakini bahwa Kristus memberi pesan kepadanya untuk sesuatu yang harus menjadi perhatiannya, oleh sebab itu Sharing Injil terus menerus dipelajari dengan baik.

Ekspos Ke KBG-KBG Paroki Sungailiat
Peserta yang terdiri dari 6 orang dari 6 paroki dan Tim SC serta peserta sebelas orang dari Paroki tuan Rumah, Paroki Sungailiat mulai jam 16.00-21.00 diutus ke KBG-KBG. http://alfonsliwun.blogspot.com/?zx=e7f1af6bd2c123b4 Peserta dari paroki tuan rumah, akan turun ke KBG-KBGnya. Tujuan kunjung ke KBG-KBG adalah supaya para peserta dapat berjumpa dengan anggota KBG-KBG. Peserta membangun kebersamaan dengan KBG-KBG yang dikunjungi mereka. Dalam kunjungan itu, peserta mengadakan Sharing Injil bersama anggota KBG-KBG. Peserta mengalami langsung Sharing Injil dengan anggota KBG. Disinilah, mereka saling belajar satu sama lain. Saling bertumbuh bersama sebagai satu anggota Gereja.

Ibu Agustina Elis, fasilitator KBG St. Don Bosco Sungailiat
Salah seorang fasilitator KBG di KBG St. Don Bosco menceritakan bahwa memang benar, disana kami saling belajar. KBG kami belum sempurna. Maka kami mau disempurnakan oleh peserta yang datang ke KBG kami. Siapa tahu peserta membawa ‘angin segar’ bagi KBG kami. KBG kami dikungjuungi oleh RD. Markus Malu, pastor paroki Regina Pacis Tanjungpandan dan Ibu Agnes Ese Belen, fasilitator dari Paroki Koba. Sebagai fasilitator Sharing Injil dalam pertemuan KBG itu, Agustina Elis, yang juga salah satu anggota Tim AsIPA Paroki, terus menceritakan bahwa saling belajar itu penting sehingga ke depan kita semakin sempurna, dan sebagai anggota KBG, akan mendorong KBG untuk lebih maju lagi. Sehingga segala masukan dari fasilitator yang berkunjung ke KBG kami, akan kami terima demi untuk memperbaiki pertemuan di KBG kami.

Mas Sulityo Benediktus, staaf sekretariat Paroki Bernardet
Lain hal dengan cerita dari seorang peserta pertemuan, Mas Sulistio Benediktus, mantan staff Majalah Berkat dan kini staff di sekretariat Paroki Bernardeth Pangkalpinang. Mas Sulist menceritakan bahwa di salah satu KBG yang ia kunjung, fasilitator KBG-nya mensharingkan pesan teks Injil begitu panjang. Banyak waktu yang tersita sehingga anggota KBG lain pun harus menunggu sharingnya. Proses Sharing Injil Tujuh Langkah, kan tidak ada rangkuman, tetapi di KBG itu, malahan fasilitator KBG itu meminta salah seorang anggota KBGnya untuk memberikan rangkuman. Inilah yang perlu diperhatikan, supaya langkah demi langkah itu, dapat dijalankan dengan baik.


Akhirnya, para peserta yang pulang dari KBG-KBG, tempat ia diutus mengalami banyak pengalaman hidup. Sebuah pengalaman yang perlu selalu disempurnakan agar tiap-tiap orang sungguh-sungguh mengalami Kristus yang bangkit itu. Acara hari kedua, diakhiri dengan membawa seribu satu pengalaman dari setiap KBG dalam mimpin indah di malam hari kedua itu. Semoga impi indah itu berdayaguna untuk feedback di KBG-KBG masing-masing di setiap paroki nanti. Salam harmoni. ***

Rabu, 06 Agustus 2014

Peserta Pertemuan Fasilitator Sekevikepan Bangka Belitung Kunjung Ke KBG-KBG Paroki Sungailiat

KUNJUNGAN KE KBG-KBG PAROKI SUNGAILIAT
01-Agust-14
KBG TUJUAN WAKTU TEMPAT NO NAMA PESERTA ASAL PAROKI KETERANGAN
Sta. Elisabeth 17.00 Ibu Afan 1 RD. Fidelis S. Atawollo Mentok  
2 Nn. Cintiawati Bernardeth  
3 Bpk. Petrus Kusnadi Belinyu  
St. Yosep 19.00 Bpk. Yosep Servino 1 Sr. Blandina Katedral  
2 Bpk. Pagar A. Tamanggor Koba  
3 Sdri. Monike Belinyu  
St. Antonius 18.00 dr. Mulyono 1 RD. Yosef Setiawan Belinyu  
2 Ibu Theresia Fani Koba  
3 Ibu Shito Katedral  
St. Petrus 18.00 Bpk. Yohanes 1 Sr. Eligia Katedral  
2 Bpk. Antonius Siagian Tanjung Pandan  
Sta. Theresia 1 18.00 Bpk. Guntoro 1 Bpk. Ignasius Sunarno Bernardeth  
2 Ibu Agustina Nona Sina Koba  
3 Sr. Anjelina Sinaga Tanjung Pandan  
Sta. Maria Goretti 17.00 Ibu Diana 1 RD. Stanis Bani Koba  
2 Sdri. Katarina Ratih Belinyu  
3 Bpk. Yohanes Mudadi Tanjung Pandan  
St. Fransiskus Xaverius 19.00 Bpk. Bambang R 1 RD. Vincent Tamba Bernardeth  
2 Bpk. Herman Mentok  
3 Bpk. Marcel Supartono Bernardeth  
St. Vincentius 18.30 Bpk. Simon 1 Sr. Ernesta, PRR Koba  
2 Bpk. Michael Bekti Katedral  
3 Bpk. Agust Supriyanto Bernardeth  
St. Sisilia 18.00 Ibu F. Cit Lan 1 Bpk. Tarsisius Sumarlan Belinyu  
2 Elisabeth Erny Susanto Tanjung Pandan  
3 Bpk. Alfons Liwun Sungailiat  
St. Don Bosco 18.00 Ibu Afa 1 RD. Markus Malu Tanjung Pandan  
2 Ibu Agnes Ese Bolen Koba  
St. Dominikus 16.00 Bpk. V. Edie Amuk 1 Ibu Indri Katedral  
2 Bpk. Silvester Mentok  
3 Bpk. Yohanes Bernardeth  
St. Gabriel 19.00 Bpk. F. Edi 1 RD. Frans Mukin Katedral  
2 Bpk. Alfin Mentok  
3 Ibu Veronika Yuliana Belinyu  
Sta. Theresia 2 18.00 Ibu Abi 1 Nn. Kristina Roulina B. Katedral  
2 Bpk. Adi Mentok  
3 Bpk. Stefanus Sutikno Tanjung Pandan  
St. Yohanes Pemandi 16.30 Kapel 1 Bpk. Thomas Sugito Bernardeth  
2 Bpk. Hartono Mentok  
3 Fr. Alfons Mentok  

Selasa, 05 Agustus 2014

Membangun Gereja Partisipatif Melalui Sharing Injil

(Pemberdayaan Fasilitator Se-Bangka Belitung)
Hari Pertama, Kamis 31 Juli 2014

Sun Jaya Hotel Sungailiat, Hotel ditengah Kota Sungailiat
Sun Jaya Hotel, yang terletak di belakang SPBU Kota Sungailiat atau di samping tugu Pahlawan Kota Sungailiat, siang itu (31/7) mulai dipadati para peserta fasilitator yang berasal dari paroki-paroki sekevikepan Selatan, Bangka Belitung. Para peserta fasilitator sebanyak lima orang setiap paroki bersama pastor parokinya, memasuki pintu gerbang Sun Jaya Hotel. Mereka disambut oleh Panitia Organizing Commitee (OC) Paroki Sungailiat, yang dikomandani oleh Bpk. John Djanu Rombang. Para peserta dipersilakan meregistrasi dan kemudian panitia mengantar satu persatu peserta menuju kamar penginapan masing-masing. Selanjutnya para peserta diantar untuk makan siang bersama. Suasana hotel siang itu, begitu ramai.

Peserta yang hadir diajak untuk melihat pameran photo turba Mgr. Hilarius Moa Nirak SVD
Candatawa memecahi suasana panas siang bolong itu. Pasalnya, dari sekian banyak peserta yang berkumpul, mereka saling bertemu kangenria karena hampir beberapa tahun belakangan ini baru ketemu lagi. Persaudaraan terlihat begitu indah. Mereka saling merangkul, cipika-cipiki, ketika saling berjumpa satu sama lain. Panitia OC terus menerus melayani para peserta yang datang. Ada peserta yang langsung diantar masuk kamar makan, dan yang lainnya mulai istirahat siang untuk siap-siap melanjutkan acara pada pukul 16.00wib yang diawali pertemuan fasilitator ini dengan misa pembukaan.

Konsebrasi para pastor bersama Bapak Uskup
Sekitar pukul 16.00 wib, para peserta sudah berkumpul di ruang metting, siap-siap untuk membuka pertemuan fasilitator se-kevikepan Bangka Belitung dengan misa pembukaan. Misa pembukaan langsung dipimpin oleh Mgr. Hilarius Moa Nurak, SVD, Uskup Keuskupan Pangkalpinang dan didampingi oleh para pastor paroki se-kevikepan Bangka Belitung; Pastor RD. Markus Malu, pastor paroki Sta. Regina Pacis-Tanjungpandan Belitung, Pastor RD. Stanis Bani, pastor paroki St. Fransiskus Xaverius Koba, sekaligus sebagai Ketua Komisi KBG Kevikepan Bangka Belitung, Pastor RD. Vincentius Tamba, pastor paroki Sta. Bernardeth Pangkalpinang, pastor RD. Frans Mukin, pastor Paroki Katedral St. Yosep, sekaligus sebagai Vikep Kevikepan Selatan, Bangka Belitung, RD. Fidelis Serani Atawollo, pastor Paroki Sta. Maria Pelindung Para Pelaut Mentok, Pastor RD. Yosef Setiawan, pastor Paroki Sta. Maria Dikandung Tanpa Noda Belinyu, RP. Bernardus Windyatmo, MSF, pastor Paroki Sta. Maria Pengantara Segala Rahmat Sungailiat, dan hadir juga pastor RD. Philipus Seran, sekretaris Uskup dan sekaligus sekretaris Pangkalpinang Integral Pastoral Approach (PIPA).

Bpk Uskup Keuskupan Pangkalpinang, Mgr. Hilarius Moa Nurak, SVD
Dalam kata pengantar misa pembukaan, Mgr. Hila, mengucapkan selamat datang para bapak dan ibu, suster dan pastor yang mau datang untuk mengikuti acara pertemuan fasilitator ini. Kehadiran kita saat ini merupakan suatu bentuk partisipasi kita. Lebih jauh, kehadiran kita ini merupakan tanda bahwa kehidupan Gereja saat ini dan akan datang, membutuhkan keterlibatan kita semua. Apalagi, visi Gereja kita adalah ‘Menjadi Gereja Partisipatif’’. Melalui visi ini, arah misi kita adalah memberikan peluang pengembangan KBG-KBG di Paroki kita. Pengembangan KBG-KBG saat ini dan ke masa depan, akan membutuhkan kita-kita ini menjadi fasilitator. Fasilitator menjadi ujung tombaknya KBG-KBG kita. Karena itu, kehadiran kita ini juga adalah tanda bahwa kita mau belajar, mau meningkatkan kualitas sebagai seorang fasilitator KBG.

Bpk Uskup memotong tumpeng HUT
Setelah selesai misa pembukaan, acara dilanjutkan dengan makan bersama. Kesempatan makan bersama inilah, para fasilitator membangun keakraban dan persaudaraan dengan bapak Uskup Keuskupan Pangkalpinang, yang pada tanggal 2 Agustus merayakan 27 menjadi Uskup Keuskupan Pangkalpinang dan 43 tahun tahbisan Imamat, serta berumur 72 tahun. Kesempatan ini juga diberi kesempatan bagi seorang imam, seorang suster, dan seorang awam berbagi pengalaman perjumpaan mereka bersama bapak Uskup selama ini. Panitia OC dengan dukungan KBG Paroki Sungailiat telah menyiapkan tumpeng HUT dan kue HUT.

Bpk. Uskup, Narasumber Fasilitator se-Babel
Rangkaian acara pertemuan ini kemudian dilanjutkan pada pukul 19.00 wib dengan narasumber Mgr. Hilarius Moa Nurak, SVD. Mgr. Hila membawakan tema ‘Gereja bagai Pohon’ yang diinspirasi dari dogmatik Gereja, Lumen Gentium No. 6. Seperti dalam Perjanjian Lama wahyu tentang Kerajaan sering disampaikan dalam lambang-lambang, begitu pula sekarang makna Gereja yang mendalam, kita tangkap melalui pelbagai gambaran. Gambaran-gambaran itu diambil entah dari alam gembala atau petani, entah dari pembangunan ataupun dari hidup keluarga dan perkawinan. Semua itu telah disiapkan dalam kitab -kitab para nabi. .... Gereja itu  tanaman atau ladang Allah (lih 1Kor 3:9). Diladang itu tumbuhlah pohon zaitun bahari, yang akar Kudusnya ialah para Bapa bangsa. Disitu telah terlaksana dan akan terlaksanalah perdamaian antara bangsa Yahudi dan kaum kafir (lih Rom 11:13-26). Gereja ditanam oleh Petani Sorgawi sebagai kebun anggur te rpilih (lih Mat 21:33-43 par.; Yes 5:1 dst.). Kristuslah pokok anggur yang sejati.
Dialah yang memberi hidup dan kesuburan kepada cabang-cabang, yakni kita, yang karena Gereja tinggal dalam Dia, dan yang tidak mampu berbuat apa pun tanpa Dia (lih Yoh 15:1 -15).

Ekspresi Bpk. Uskup, mengajak fasilitator untuk melihat Gereja secara baru
Sebuah pohon itu kuat jika ditopang oleh akar yang kuat. Kalau akar sudah kuat, maka batang, cabang, ranting-ranting, daun akan subur dan akan menghasil buah-buah yang baik. Gereja bagai pohon, akar-akar pohon adalah KBG-KBG. KBG-KBG akan hidup dari Kitab Suci, Yesus Kristus, Allah Tritunggal Mahakudus. Persekutuan Trinitas, Bapa, Putra dan Roh Kudus menjadi persekutuan yang hendak dibangun dalam KBG-KBG. Model Gereja yang mendapat perwujudan konkrit dalam KBG-KBG adalah juga inspirasi dari LG No. 1-4, dimana dalam dokumen ini kita temukan fungsi Tritunggal. KBG-KBG mendapat inspirasi Trinitas sebagai model persekutuan. Supaya KBG-KBG itu dapat hidup, Sharing Injil harus dijalankan dengan baik. Sehingga akar-akar pohon yang kuat yang mampu menopong batang, cabang, ranting, daun dan buah bagaikan KBG-KBG pun harus melaksanakan Sharing Injil yang baik sehingga bukan buah yang memberi makan akar, tetapi akar-akar atau KBG-KBG-lah yang memberi makan batang, cabang, ranting, daun, dan buah. Dalam hal ini, KBG akan dapat menjalan missio ke dalam (missio ad intra) dan missio ke luar (missio ad extra).

Diakhir sesi Mgr. Hila, kembali beliau menegaskan bahwa aneka gambaran Gereja, tergantung pola pandang kita tentang Gereja. Sudah saatnya, Gereja mengutamakan communio. Communio itu mulai dari akar hingga batang, cabang, ranting, daun dan buah. Sehingga buah-buah yang nyata akan nampak menjadi misi Gereja yang nampak pula. Jika kita mengutamakan struktur, maka akan berpengaruh juga pada cara pandang kita tentang struktur.


Dalam proses sehari ini, terlihat fasilitator begitu antusias karena acara dikemas dengan baik dan berjalan dengan lancar. ***