Senin, 10 Agustus 2015

Menjadi Bintang Kristus



Pastoral Paroki selama ini jarang melibatkan kaum remaja. Atas dasar inilah KKI Keuskupan Pangkalpinang mengemas acara jambore remaja pertama untuk kevikepan Bangka Belitung. Pelaksanaan jambore terdiri dari tiga tahap, tahap pra, pro, dan post, tegas RD. Ludger Lusi Oke, salah seorang panitia SC dalam pertemuan perdana dengan panitia OC Paroki Sungailiat pada 25 Januari 2015 di auditorium Hotel Tanjung Pesona.

Menariknya sejak diawal pertemuan perdana itu panitia SC berusaha sekuat tenaga untuk menyiapkan materi pra jambore, maka sejak bulan Maret 2015, pra jambore dimulai di paroki masing-masing. Pra jambore dijalankan di paroki masing-masing selama tiga atau empat bulan. Dalam pra jambore kaum remaja diberi masukan seputar ajaran Gereja tentang kitab suci, liturgi, hierarki Gereja, dan Komunitas Basis Gerejawi (KBG). Puncak acara dijalankan di Pantai Hotel Tanjung Pesona Sungailiat dari tanggal 26 – 29 Juni 2015. Peserta dari tujuh paroki sekevikepan Bangka Belitung (Babel) berjumlah 338 orang. Seluruh peserta inap di tenda-tenda.

Selama kegiatan Jambore dari tanggal 26-29 Juli 2015 di Pantai Hotel Tanjung Pesona, dapat kita melihat dan mengalami bahwa dari keseluruhan rangkaian kegiatan Jambore I Remaja Katolik sekevikepan Bangka Belitung, dapat dibagi atas tiga bagian:

Pertama, berpusat pada Kristus. Dalam bagian ini anak remaja Katolik sekevikepan Bangka Belitung hadir dan terlibat didalam perayaan Ekaristi (misa pembukaan dihadiri 17 pastor dengan konselebran utama: Mgr. Hilarius Moa Nurak, SVD uskup Keuskupan Pangkalpinang, harian: RD. Yosep Antingpatimura, dirdios KKI Keuskupan Pangkalpinang dan RD. Indra Jati, sekretaris Panitia SC, dan misa penutupan kembali ditutup juga oleh konselebran utama Bapak Uskup Pangkalpinang). Juga mereka diajak untuk ikut terlibat didalam adorasi sakramen Mahakudus, lomba quis bahan ajaran resmi Gereja dan Kitab Suci, dan terlibat aktif di dalam kelompok-kelompok Sharing Injil Tujuh Langkah yang kini ngetrend dipakai di setiap KBG-KBG di Keuskupan Pangkalpinang.

Kedua, membangun Communio. Pada bagian ini anak-anak remaja Katolik dibagi dalam kelompok-kelompok diskusi yang menjadi narasumber RD. Servasius Samuel, permainan yang dikemas oleh panitia acara SC, pembangunan karakter, tidur di tenda-tenda, dan kelompok kebersihan.

Ketiga, melaksanakan Misi. Di bagian ini keterlibatan anak remaja terlihat dalam pentas seni dan budaya, yang kemudian ‘Waka-waka, this time for Africa, become this time for Pangkalpinang’. Melaksanakan Misi ini akan berlanjut dalam kegiatan post jambore di paroki masing-masing dengan modul pertemuan yang akan disiapkan oleh SC, sebagai tindak lanjut kegiatan Jambore I di Tanjung Pesona Sungailiat. Inilah yang kita harapkan dan kita tunggu dari Panitia SC dan Komisi KKI Keuskupan Pangkalpinang.

Akhir dari pertemuan kaum remaja sekevikepan itu, kini mereka bergabung dalam sebuah group jejaring sosial FB JARI I Kevikepan Babel disana bisa terbaca berbagai kegiatan remaja dimasing-masing paroki. Jejaring inilah yang selalu mempertemukan kaum remaja dan pendamping mereka untuk selalu saling berbagi. ***

Jumat, 05 Juni 2015

Participatoris Church: Ungkap Mgr. Hila Dalam Serah Terima Para Pejabat Gereja Keuskupan Pangkalpinang



Janji Para Pejabat Gereja di depan Uskupnya

Perlengkapan misa tersusun begitu rapi di atas Meja Altar. Sedangkan baju-baju misa dengan warna hijau bergantungan di cabang pohon di depan pintu masuk ke gua Maria Ratu Para Imam. Begitu juga kabel-kabel sound systemnya. Terlihat di depan gua Maria di halaman belakang Keuskupan Pangkalpinang, terpasang dua buah tenda. Menariknya, hiasan tenda-tenda itu, seakan didominasi oleh kain-kain berwarna putih dan merah, terpampang menjadi ‘Merah Putih’. Sehingga seperti ada upacara kenegaraan. Padahal moment (4/6/2015) itu, tepat pukul 10.00 wib sebenarnya adalah sebuah upacara serahterima pejabat Gereja dilingkungan Keuskupan Pangkalpinang, dalam perayaan resmi Gereja, perayaan Ekaristi Kudus.

Koor dan Umat yang hadir dalam Upacara Serahterima
Koor upacara serah terima dikomando oleh Novisiat KKS. Bapa Uskup, Keuskupan Pangkalpinang dalam kata pengantarnya menjelaskan bahwa hari ini (4/6/2015), terasa sangat lain dari biasanya. Biasanya upacara semacam ini terjadi didalam ruangan seperti di gereja Katedral atau di kapel Keuskupan. Namun, tidak ada masalah. Karena serah terima para pejabat Gereja di lingkungan Keuskupan kita kali ini, terjadi dihalaman terbuka dan di depan gua Maria Ratu Para Imam. Sangat bagus terjadi disini, karena serah terima ini tidak hanya disaksikan oleh kehadiran umat dan para pastor serta para suster tetapi justru disampaikan oleh Bunda kita Maria, Bunda Gereja dan Bunda Para Imam.

Sementara dalam kotbah, Bapa Uskup menjelaskan struktur Gereja Keuskupan Pangkalpinang. Dalam penjelasan Bapa Uskup, beliau menyebutkan bahwa ada perubahan jabatan didalam struktur Keuskupan kita. Karena itu, upacara ini adalah upacara serah terima.

Vikjen Lama RD. FX. Hendrawita akan digantikan oleh RD. Lucius Poya Hobamatan. RD. Lucius Poya Hobamatan sekaligus menjadi pastor paroki Katedral St. Yoseph Pangkalpinang. RD. FX. Hendrawita akan menjadi rektor seminari Mario Jhon Boen. Kita berharap, seminari kita akan lebih bagus dan menghasilkan imam kita yang bagus pula. Kemudian jabatan vikep utara yang dulunya dipegang oleh RD. Lucius Poya Hobamatan akan diganti oleh RD. Frans Tatu Mukin.

Koselebran dalam Upacara Serahterima
Sedangkan jabatan vikep selatan yang dulunya ditangani oleh RD. Frans Tatu Mukin, akan dipegang oleh RD. Stanis Bani. Lalu, ekonom yang selama ini dijabat oleh RD. Pieter Patrisius Padiservus diganti oleh Bapak Damian Yulianto. RD. Pieter Patrisius Padiservus diangkat menjabat Ketua Yayasan Rumah Sakit Katolik Bhakti Wara Pangkalpinang. Pergantian pejabat Gereja ini akan disahkan setelah para pejabat baru ini menyatakan kesediaannya dengan membuat perjanjian di depan Uskup Keuskupan Pangkalpinang dan para saksi: Sr. Lusie, KKS dan Bapak Amung Chandra.

Pernyataan Kesediaan Para Pejabat Gereja Baru
Dalam kotbah juga Mgr. Hilarius Moa Nurak, SVD menjelaskan kepada para pejabat Gereja yang baru dan segenap umat yang hadir soal ‘Participatoris Church’. Mgr. Hila memulai dengan hasil sidang para uskup se-Asia di Bandung, tahun 1990 bahwa Gereja adalah Communion of Communities. Communion of Communities diterjemahkan ‘Gereja adalah persekutuan komunitas-komunitas’. Didalam persekutuan komunitas-komunitas itu salah satu unsur penting ialah soal kepemimpinan. Kepemimpinan dalam Gereja Partisipatif yang menjadi visi Keuskupan kita adalah kepemimpinan yang partisipatoris. Artinya bahwa di dalam Gereja ada partisipasi dari umat di KBG-KBG dan partisipasi juga harus dari para pemimpin Gereja. Jika partisipasi ini hanya satu pihak saja, maka Gereja kita akan pincang.

Di Paroki, para pastor menjadi pemersatu KBG-KBG. Maka kepemimpinanya tetap ada, hanya dijalankan dalam Cinta Kasih. Disinilah terjadi perpaduan antara pastisipasi top down dan button up. KBG-KBG diarahkan pada pengembangan karisma-karisma umat, sehingga partisipasi umat terlaksana. Maka, umat bukan pekerja Gereja. Maka ditingkat Keuskupan, Uskuplah menjadi pemersatu di setiap paroki-paroki.

Kolegalitas dalam Ekaristi Kudus
Belajar dari bacaan pertama tentang Tobit dan Rafael yang mengunjungi rumah Rahael, disana diceritakan bahwa tuan rumah berdialog dengan para tamu. Rumah Rahael menjadi hidup. Belajar dari kisah Tobit ini, maka imam harus turun ke umat di KBG-KBG. Sehingga di KBG-KBG ada hospitalitas, ada kehidupan. Merujuk pada kisah Tobit ini, Mgr. Hila menekankan salah satu ciri kepemimpinan partisipatis yaitu hospitalitas, ada kehidupan didalam keluarga dan didalam KBG-KBG. Pemimpin harus membawa hospitalitas - kehidupan baru, cinta kasih dan keterbukaan didalam keluarga dan KBG-KBG. Sehingga ‘Participatoris Church’ menjadi lebih nampak didalam Gereja Keuskupan kita. Memang sesuai dengan visi Keuskupan kita, hal ini sudah berjalan tetapi belum optimal. Karena itu, dengan pergantian ini, visi-misi dan spiritualitas Keuskupan kita semakin optimal untuk dijalankan.

Upacara serah terima para pejabat Gereja Keuskupan Pangkalpinang berlangsung hampir satu setengah jam, dalam perayaan ekaristi kudus. Setelah selesai acara, bertempat di rumah Keuskupan, terlaksana acara ramahtamah bersama dengan penuh kekeluargaan. ***

Sabtu, 25 April 2015

Menyiapkan Katekumen Menjadi Anggota Gereja yang Handal



Asli bukunya dapat dilihat

Buku ini ditulis oleh Mgr. Oswald Hirmer, seorang Uskup di Afrika Selatan. Data tentang Mgr. Oswald Hirmer dapat dibaca didalam: http://en.wikipedia.org/wiki/Oswald_Georg_Hirmer. Buku ini diperuntukan bagi calon anggota baru dalam Gereja Katolik, yang sering kita sebut ‘Katekumen’. Didalam buku ini berisi bahan-bahan pertemuan untuk katekumen dengan jarak waktu yang cukup lama. Bahan pertemuan sebanyak 47 kali pertemuan dan ditambah dengan beberapa bahan pertemuan mistagogi. Dari keseluruhan isi buku yang ditulis Oswald Hirmer di Afrika Selatan sebagai bahan pertemuan untuk Lumko, sebuah institut misiologi dan kebudayaan Gereja di Afrika Selatan.

Buku yang dalam bahasa Inggris dengan judul ‘Our Journey Together’ – Catechetical Sessions For Christian Initiation Of Adults’ kemudian diadaptasi oleh Team Singapore Pastoral Institute Catechetical Office, antara lain: Wendys Louis (eds), Josephine Leow, dan Doris Woon, yang diilustrasi oleh Rev. Joseph Cyril Reutens.


Contoh 'code' pada pertemuan ke-11: Air Pembebasan
Menarik dari buku ini adalah bahan-bahan yang disampaikan sangat simpel, jelas, dan singkat. Karena itu, para fasilitator atau pengajar yang menyiapkan para calon anggota Gereja baru, membutuhkan waktu yang singkat untuk membaca dan mudah dipahami bahannya. Metode dari pertemuan ini pun sangat simpel, yaitu lebih banyak para fasilitator atau pengajar menggali kedalaman materi-materi yang ada didalamnya melalui ‘code’ dan pertanyaan singkat, padat, dan pendek. Metode yang disungguhkan dalam buku ini terdiri dari tiga bagian, yaitu Our Life (Kehidupan Kita), God’s Word (Sabda Tuhan), dan A step forward on our way (selangkah maju dijalan kita). Dan lebih menarik lagi, setiap langkah ini selalu disertai dengan gambar-gambar atau cerita-cerita singkat yang disebut ‘code’.

RD. Frans Mukin, penerjemah 'Perjalanan Kita Bersama'
Pada tahun 2005, buku ini sudah dikerjakan oleh RD. Frans Mukin dan mendapat sambutan yang sangat bagus oleh RD. FX. Hendrawinata, vikjen Keuskupan Pangkalpinang pada tanggal 10 Januari 2005. Dengan demikian, menurut hemat saya, para fasilitator atau pengajar yang setia menyiapkan para calon anggota Gereja baru, dapat memakainya dengan melalui tahap demi tahap yang tercantum didalam buku tersebut. Sehingga para katekumen pun setia mengikuti proses untuk menjadi anggota Gereja baru yang setia juga dalam menumbuhkan imannya akan Kristus yang bangkit.

Akhir kata, semoga buku yang diberi judul oleh RD. Frans Mukin (penerjemah) ‘Perjalanan Kita Bersama – Pendewasaan Awal Seorang Kristiani’ menjadi referensi untuk keuskupan kita. Hal ini diharapkan oleh kita semua, karena didalam buku ini menampilkan metode-metode AsIPA (Asian Integral Pastoral Approach) yang akan diketahui oleh katekumen sedini mungkin untuk nantinya menjadi anggota Komunitas Basis Gerejawi yang kini menjadi fokus dan lokus Keuskupan Pangkalpinang. **al**

Jumat, 17 April 2015

Kunjungan Pastoral Bapa Uskup Pangkalpinang Ke Stasi Air Sena



Sejak sepulang dari kunjungan ad limina di Roma, sepulang ke Indonesia, Bapa Uskup Pangkalpinang langsung mengadakan kunjungan pastoralnya ke wilayah Kepulauan Anambas: di stasi Tarempa, stasi Mengkait dan stasi Air Sena (7-14/3), Paroki Tanjung Pinang, Pulau Bintang Kepulauan Riau.

Umat Stasi Air Sena Jemput Bapa uskup
Dalam kunjungan Bapa Uskup Pangkalpinang ke Stasi Air Sena, Mgr. Hilarius Moa Nurak, SVD dijemput umat stasi Air Sena di pelabuhan Air Sena setelah sepulang dari stasi Mengkait. Kunjungan Mgr. Hila ke stasi Air Sena kali ini dengan banyak kegiatan. Mulai dari menerima sakramen Krisma bagi umat, merayakan ekaristi bersama, hingga dialog bersama umat.

Dalam acara dialog bersama umat di Stasi Air Sena, Bapa Uskup menekakan fokus pastoral keuskupan Pangkalpinang yang sedang diperjuangkan, yaitu cara hidup menggereja yang baru. Cara hidup menggereja baru yang dimaksudkan Bapa Uskup adalah Komunitas Basis Gerejawi (KBG) harus berjalan di Stasi Air Sena ini. Umat harus saling mendukung. Dukungan umat selain KBG harus berjalan, juga dukungan yang nyata adalah umat harus menabung di Credit Union (CU). Karena melalui CU, orang miskin akan saling menolong. Orang miskin menolong orang miskin, ucap Mgr. Hila.

Bapa Uskup photo bersama Kriswan/wati Stasi Air Sena
Selain itu, Bapa Uskup meminta umat Air Sena untuk secepatnya menyiapkan lahan membangun gedung gereja yang baru. Pasalnya, semakin banyak umat, gedung gereja lama tidak muat lagi. Khas gedung gereja yang baru harus peduli lingkungan hidup, dengan tanaman-tanaman yang menghijau dihalaman gedung gereja, lanjut Bapa Uskup.

Dengan bertumbuhan umat yang banyak dan penataan gedung gereja yang menarik, akan menarik wisatawan untuk berkunjung ke Air Sena, dengan itu akan menambah pemasukan bagi umat lokal. Jika di Tarempa sudah dibentuk paroki, jelas Air Sena pun akan ikut berkembang. Air Sena akan dibangun sebuah klinik kesehatan dan dilayani oleh para suster, maka akan ada biara susteran di Air Sena nanti, janji Uskup kepada umat Stasi Air Sena.

Bapa Uskup beraudiens di depan umat Stasi Air Sena
Dengan suara kenabian dan hak mengajar, Bapa Uskup pun meminta ibu-ibu Air Sena, supaya jangan berjudi. Lebih baik uangnya ditabungkan di CU demi untuk pendidikan anak-anak di masa depan. Dengan melalui pendidikan ini, jelas bahwa kalau sudah ada klinik di Air Sena, tenaga-tenaga perawat tidak akan didatangkan dari luar. Tenaga-tenaga lokallah yang akan dipakai untuk bekerja di klinik kita, tegas Bapa Uskup dengan penuh semangat.

Janji Bapa Uskup kepada Umat Stasi Air Sena, menurut Fransiskus Xaverius Caili, setidaknya gagasan dan rencana Bapa Uskup ini akan didukung oleh pastor paroki juga. Bapa Uskup selalu menegaskan bahwa ‘rencana ini harus terlaksana’, tetapi jika tidak didukung pastor parokinya, iya...kami yang tinggal di pulau ini, akan bekerja sendirian. Lebih lanjut Caili, salah satu keluarga muda dan sekaligus aktivis stasi Air Sena mengungkapkan bahwa situasi Air Sena sudah berkembang sekarang. Makin terbuka, juga makin banyak umat. Umat perlu bekerjasama dan saling mendukung, sehingga ide Bapa Uskup, bisa terlaksana. *fxc/al*

Diterbitkan oleh 'majalah BERKAT' bulan April 2015.