Kamis, 26 September 2013

KBG ST. DOMINIKUS SHARING INJIL TUJUH LANGKAH BERSAMA TIM AsIPA PAROKI SUNGAILIAT



Rencana Tim AsIPA Paroki Sungailiat untuk berkumpul bersama anggota KBG St. Dominikus terwujud pada Selasa, 24 September 2013, dari pukul 16.00-17.30 wib.KBG St. Dominikus adalah sebuah wilayah di Paroki Sungailiat yang cukup luas. Wilayah ini terbentang dari Kampung Deniang hingga Kampung Kayu Arang, terletak di sepanjang jalan Sungailiat menuju Kota Belunyu. Wilayah ini terdiri dari tiga kampung yaitu Kampung Deniang, Kampung Cit dan Kampung Kayu Arang. KBG yang dipimpin oleh Don Pedro Efendi ini dihuni oleh 21 Keluarga dengan jumlah anggota umat 63 orang. Di wilayah Kampung Dening ada 10 KK, Kampung Cit ada 6 KK dan Kampung Kayu Arang ada 5 KK. 

Rupanya masih ada lagi yang belum terdaftar di statistik Paroki Sungailiat. Menurut ibu Agnes Mang Sioe Ngian, salah satu anggota KBG yang hadir saat itu, menyampaikan bahwa sebenarnya lebih kurang ada satu atau dua KK yang belum terdaftar. Mungkin terlupakan. Walau demikian, dalam perayaan ekaristi sebulan sekali pada selasa minggu ketiga, satu atau dua keluarga ini sering mengikutinya. Jadi mungkin ke depan akan didaftarkan ulang lagi anggota KBG St. Dominikus supaya jumlah KK dan umatnya diketahui secara pasti.

Sharing Injil 7 Langkah, satu cara yang simpel untuk anggota KBG membaca, merenungkan dan mensharingkan pengalaman Injil dan hidup sehari-hari. Dengan sharing Injil ini kita dibantu untuk terlibat dalam doa dan sharing Injil di KBG. Maka pemimpin yang selama ini ditugaskan memimpin ibadah hanya sebagai fasilitator, pemandu atau pelancar saja. Tidak ada kotbah lagi dalam ibadah. Kotbah hanya saat misa, begitulah isi singkat yang disampaikan Alfons Liwun dalam pengantar memulai Sharing Injil bersama umat KBG St. Dominikus.

Rm. Koko hadir mendampingi Tim AsIPA Paroki
Sharing Injil 7 langkah berjalan lancar. Dilangkah keenam tentang tugas apa yang mau dilaksanakan, umat KBG St. Dominikus sepakat untuk menjalankan Sharing Injil pada selasa kedua dan keempat tiap bulan. “Sharing semacam ini perlu dilakukan terus. Dengan kita melakukan sharing injil, tiap-tiap anggota KBG akan berjumpa terus untuk saling berbagi pengalaman. Dengan begitu, kita akan saling kenal satu sama lain,” ungkap ibu Franses Kabrini Novialy, ibu Alexander Giovanini yang sedang belajar di SMA St. Yosep Pangkalpinang. Lebih lanjut, ibu yang sering disapa Novi ini meminta kepada Tim AsIPA Paroki agar KBG St. Dominikus harus didampingi terus hingga bisa melakukan sendiri Sharing Injil 7 Langkah. Harapan KBG ini disambut baik oleh Tim AsIPA.

Sharing Injil dengan topik Yesus berumur 12 tahun diajak orangtua-Nya merayakan paskah di Yerusalem (Luk.2:41-52), kemudian KBG St. Dominikus memilih Sabda Kehidupan, “pergilah jadikanlah Keluarga Kudus Nazaret menjadi teladan hidup”. Melalui Sabda Kehidupan yang dipilih ini, Romo Bernardus Windyatmo, MSF, Romo yang sering dikenal kartunis di Majalah Hidup dengan nama Romo Koko ini, menegaskan bahwa kita adalah saudara-saudari Yesus. Menjadi saudara-saudari Yesus adalah mereka yang melakukan Sabda-Nya dalam hidup setiap hari. Rupanya Sharing Injil kali ini terhubung dengan bacaan harian pada hari Selasa (2/09/2013).Sharing Injil 7 langkah kemudian ditutup dengan berkat penutup oleh Romo Koko, yang hadir mendampingi Tim AsIPA Paroki Sungailiat. **al**

Kamis, 12 September 2013

PENGALAMAN PERDANA DI DANAU TOBA - PRAPAT SUMATERA UTARA



Danau Toba di Sumatera Utara itu benar bahwa sebuah keajaiban dunia. Danau terbesar dan mungkin terindah yang pernah saya lihat selama hidup saya. Di tepi danau ini terbentang berbagai hotel dan rumah penduduk. Mereka mengalami kelimpah Tuhan melalui danau itu. Air yang bagus untuk diminum, untuk mengaliri pertanian, untuk memelihara ikan air tawar dan lain-lain. Keindahan danau ini lebih nampak lagi bahwa di tengah danau itu ada Pulau Samosir dengan luas panjang 150 km dan lebarnya 75 km. Pulau Samosir kini menjadi sebuah Kabupaten Samosir. Dan di puncak Pulau Samosir itu masih ada danau lagi yang merupakan sumber air untuk masyarakat Samosir juga, selain Danau Toba.

Di danau Toba itulah, saya ikut berlayar bersama rekan-rekan peserta temu Kitab Suci seregio Sumatera mengalami kebaikan Tuhan. Berlayar dengan kapal motor yang besar dan berbagai kapal motor lain yang memuat hasil bumi masyarakat serta kapal motor penumpang dan kapal motor besar yang memuat mobil dan kendaraan bermotor lainnya. Seakan-akan saya berada di tengah laut mengelilingi Kabupaten Flores Timur, dari Larantuka menuju Solar, Adonara, dan Lembata.

Untuk mengeliling Pulau Samosir yang seluas itu, kita dengan kapal motor dengan kecepatan tinggi selama satu hari penuh, dari jam 6 pagi dan ketemu lagi di tempat yang sama pada jam 6 sore. Wah....danau kok luas begini? Hebat ya? Bukan hanya itu, masih ada keajaiban lain yang diberikan oleh danau Toba itu. Disekitar danau itu terbentang dinding-dinding bukit barisan yang mengeliling danau itu. Bukit-bukit itu ada yang sudah dimanfaatkan untuk lahan pertanian dan perkebunan tapi ada juga yang belum, masih ditumbuhi pohon-pohon besar yang menjadi hutan lindung negara.
Hutan lindung itu ditumbuhi pohon-pohon yang mungkin akan menjadi bahan baku kertas dan triplex.

Di tepi danau hidup masyarakat suku Batak dengan marga yang berbeda-beda bahkan dengan pluralis agamanya. Luar biasa indah dan mengagumkan. Relasi terlihat harmonis dengan rumah berdempetan dan jalinan kerja yang saling membangun. Marga-lah yang menjadi pengikat hubungan kekeluargaan. Alangkah indahnya, Tuhan, Engkau memberikan keharmonisan dalam bentuk marga-marga yang terikat dengan relasi budaya yang bagus.
 
Akhirnya saya bermimpi, jika danau ini ada di Kawaliwu-Kecamatan Lewolema Kabupaten Flores Timur, mungkin orang Kawaliwu akan hidup lebih makmur dan bahagia secara ekonomi. Namun apakah mimpi saya itu terwujud? Tentu tidak mungkin. Dan tidak akan terjadi. Walau demikian, satu hal yang menarik bahwa Tuhan memberikan alam Kawaliwu yang demikian adanya ini dengan maksud tertentu, biar lebih giat, lebih bijaksana dan lebih berintelektual mengola alam yang sekarang menjadi pijakan hidupnya. Bukan pergi keluar dan merantau di Malaysia. Mat berjuang saudara-saudariku yang terkasih. Yesus menyertai perjuang anda dan memberkati kelimpahan usaha anda. salam harmoni selalu...

Selasa, 20 Agustus 2013

SHARING INJIL TUJUH LANGKAH DI KBG ST. THERESIA KANAK-KANAK YESUS 1 PAROKI SUNGAILIAT

Tim AsIPA Paroki Sungailiat Bangka berkunjung ke KBG Sta. Theresia Kanak-Kanak Yesus 1 Paroki Sungailiat. Kunjungan itu terasa hangat. Tim disambut oleh belasan orang Fasilitator KBG Sta. Theresia di rumah Bapak Thomas Jusman, Hari Minggu, 18 Agustus 2013, pukul 18.00 wib. Kunjungan ini merupakan suatu kunjungan yang membahagiakan. Karena Fasilitator KBG ini mau menerima Tim dan sekaligus mau merasakan kebersamaan dengan Tim menjalankan Sharing Injil Tujuh Langkah, yang sedang hangat dianjurkan oleh Post Sinode II Keuskupan Pangkalpinang. 

Dalam kunjungan itu, Tim menyampaikan bahwa Sharing Injil Tujuh Langkah merupakan Sharing Yesus kepada Umat-Nya. Jadi Sharing Injil bukan hal baru dalam Gereja Katolik. Karena bukan hal baru, dan merupakan cara Yesus sendiri menyampaikan ajaran-Nya, maka KBG pun semestinya mengikuti cara Yesus ini. Supaya umat di KBG mampu mendengarkan Sabda Yesus, merenungkannya, menghayatinya dan melaksanakan misi Yesus itu dalam kehidupan sehari-hari.

Dengan pengantar singkat, kemudian dilanjutkan dengan animasi Sharing Injil Tujuh Langkah bersama Fasilitator KBG Sta. Theresia 1. Fasilitator terlihat begitu antusias mengikuti langkah demi langkah yang dipandu secara bergilir oleh Bapak Leo Agung Heriyanto dan Bapak John Djanu Rombang. Setelah tahap demi tahap dilaksanakan ternyata, Fasilitator KBG Sta. Theresia 1 mampu mengikuti dan mensharingkan pengalaman hidup yang begitu mendalam. Bahwa selama ini, KBG kami telah menjalankan Sharing Injil Tujuh Langkah, hanya pada langkah ke-6 dan ke-7 kami masih bingung dan belum paham pada langkah ini, ucap Bapak Yosef Ardiyanto Totong, ketua KBG dan Bapak Ferdinand, salah seorang Fasilitator KBG Sta. Theresia 1. Karena itu, Tim pun mencoba mempraktekan langkah ke-6 dan ke-7 dengan melibatkan Fasilitator KBG itu. 

Apa hasilnya? Ternyata mereka pun mengikutinya dengan baik dan lancar. Karena mereka pun dilibatkan dalam langkah ke-6 dan ke-7. Berpartisipasi pada langkah yang menjadi halangan bagi mereka, ternyata dilalui dengan mudah tanpa banyak pertanyaan. Bagus dan begitu indah rasanya, ucap kalimat pujian dari Bapak Yosef Ardiyanto Totong demikian. Lanjut Bapak Ardiyanto: "O...bagus sekali langkah ini. Ternyata selama ini rupanya metode ini jauh lebih membawa orang pada keheningkan dan membagikan Sharing Injil antar anggota KBG. Dan syukur bahwa sharing-sharing yang kita dengar tadi, jauh lebih meneguhkan harapan anggota KBG ketimbang kotbah yang dibawakan dalam ibadat sabda tanpa imam. Luar biasa!". KBG Sta. Theresia 1 berencana untuk mengundang lagi Tim untuk kunjung ke KBGnya untuk anggota KBGnya yang lebih banyak lagi."

Dalam kunjungan Tim itu, teks Kitab Suci yang dibacakan adalah Injil Markus, 9:33-37. Langkah ke-6, tahap Sabda Kehidupan, Fasilitator KBG Sta. Theresia 1 memilih kalimat "Menjadi Pelayan bagi sesama." Kalimat inilah yang mendorong Fasilitator KBG Sta. Theresia 1 untuk terus melayani supaya dalam nama Yesus, karya pelayanan kita semakin mengedepankan Kristus sendiri.Selamat melaksanakan Sabda Kehidupan semoga semakin semangat untuk menjadi pelayan baik untuk diri sendiri, keluarga, KBG dan Gereja Universal. ***

SAMBUT RP. BERNARDUS WINDYATMOKO, MSF DAN PISAH RP. ALOYSIUS KRISWINARTO, MSF

Pisah sebuah moment yang berharga untuk selalu dikenang. Mengapa selalu dikenang? Tentu meninggalkan sesuatu yang menjadi kenangan itu sendiri. Paling kurang ada peristiwa-peristiwa hidup yang telah menggoreskan sebuah pisah yang membahagiakan atau pun pedih. Namun peristiwa-peristiwa pedih itu akan terhapuskan bila peristiwa-peristiwa yang membahagiakan itu lebih mendominasi sebuah peristiwa hidup itu sendiri.

Peritiwa-peristiwa pedih pun akan menjadi sebuah kebahagiaan bila orang yang ditinggalkan akan selalu belajar dan terus belajar untuk menimbah peristiwa itu untuk semakin memaknai hidup itu sendiri.
 Mgr. Hilarius Moa Nurak, SVD memimpin misa serah teriama pastor Paroki Sungailiat Bangka, dari RP. Aloysius Kriswinarto, MSF kepada RP. Bernardus Windyatmoko, MSF.

Dalam Kotbah Uskup Pangkalpinang menyampaikan kepada umat Sungailiat bahwa RP. Win telah berpartisipasi secara tidak langsung kepada umat Katolik Keuskupan Pangkalpinang melalui gambar karikaturnya dalam buku Marilah Melangkah Maju Dalam Persaudaraan-Pedoman Umat Katolik Keuskupan Pangkalpinang 2000-2010. Dan kini RP. Win sendiri memberikan diri secara langsung dalam pelayanan hidupnya bagi umat Paroki Sungailiat. Jadi RP. Win bukan orang baru. Beliau orang lama, kita patut bersyukur, beliau mau hidup dan melayani kita saat ini.

 Dalam kata sambutan RP. Aloysius Kriswinarto, MSF, mengucapkan terima kasih banyak atas perhatian dan kerjasama umat yang mendukung karya pelayanannya selama lebih kurang lima tahun di Paroki Sungailiat. Kerjasama kita akan berlanjut baik dalam doa maupun dalam karya pelayanan kita. RP. Kris berkarya di Paroki Keluarga Kudus Banteng, Yogjakarta. Jika ada yang mau ke Yogjakarta, jangan lupa singgah di Paroki tempat karya saya yang baru, undang RP. Kris untuk umat Sungailiat.

 RP. Bernardus Windyatmoko, MSF, yang sering dikenak Rm. Koko kini menjadi pastor Paroki Sungailiat sejak 1 Agustus 2013. Beliau adalah seorang imam yang dikenal sebagai karikartunis di Majalah Hidup. Dengan karikartunis beliau sudah menyapa banyak umat termasuk umat Paroki Sungailiat. Kerjasama antar kita, itulah ajakannya untuk membangun Paroki Sungailiat. Semoga ke depan Gereja Paroki Sungailiat semakin maju dalam karya pelayanan bagi sesama.

Bpk. Yosep Ardiyanto Totong, wakil umat dalam kata sambutannya, beliau mengucapkan terima kasih yang berharga untuk Rm. Kris yang sudah setia dan dengan gigih berjuang untuk melayani umat Sungailiat selama lebih kurang 5 tahun (7 September 2008-1 Agustus 2013). Mudah-mudahan pelayanan Rm. Kris selalu dikenang dan membuat umat yang ditinggalkan ini semakin meneladani hidup Yesus sendiri. 
Kepada Rm. Koko (Win), beliau mengucapkan selamat datang dan selamat berkarya di Paroki Sungailiat. Umat kami terkadang unik Romo. Walau demikian, Rm. Koko harus berani merasakan kerjasama umat Sungailiat yang unik ini. 
 Dalam misa serah terima (17/8/2013), koor yang disersembahkan oleh OMK St. Aloysius Gonzaga, sangat memuaskan umat yang hadir. Komentar Pak Pie Pie, salah satu umat Sungailiat, misa kita malam ini sangat membahagiakan karena suara koor begitu bagus dan indah. Paroki kita mempunyai warna yang khas dan lain, ketika ada anak muda yang ikut berpartisipasi dalam Gereja. Apalagi, kehadiran dokter Bernadeth, yang sekarang berkarya di RS Arsani Sungailiat Bangka, yang menjadi dirigen koor OMK. Beliau peduli dan mau melayani umat khususnya OMK. Luar biasa dokter...., ungkap salah seorang umat yang tidak mau menyebut namanya. Jika setiap minggu ada koor semacam ini, mungkin Gereja Sungailiat semakin bersemangat untuk menghayati makna Ekaristi. Oh....rupanya, OMK, sebagai kelompok kategorial, semestinya menjadi "vitamin" dalam KBG, sehingga KBG itu sendiri semakin memberikan makna perwujudan sebuah Gereja secara riil di tengah kehidupan umat Katolik.

 Setelah misa serah terima Pastor Paroki yang baru, bersama umat dari 16 KBG mengadakan ramah tamah bersama bapak uskup, pastor, suster dan seluruh umat yang hadir di halaman Gereja. Pada kesempatan itu, OMK tampil lagi dengan beragam kostum budaya dan lagu-lagu daerah berdasarkan asal usul umat Katolik Sungailiat. Ada lagi dari Timur, ada lagu di Jawa, ada lagu dari Sumatera dan lebih hebat lagi OMK menyanyikan lagi Tiong Hoa. Terlihat Robert, salah seorang anak muda dari Flores, begitu susahnya menyanyikan lagu Tiong Hoa. Kesannya, seakan lidahnya bolak balik dan melengkung sana sini, tapi vokalnya terbata-bata. Wo....susah be menyanyikan lagu ini. Hebat, begitu pede Robert bersemangat menyanyikan lagu itu.

 Selain acara ramah tamah dibawakan oleh OMK, tak ketinggalan anak-anak Katolik yang selama ini bersekolah di SMP St. Maria Goretti, membawakan tarian sebagai bentuk doa yang ditarikan untuk para hadirin yang hadir. Bukan hanya itu, mereka pun melalui Ibu Veronika Sulistyowati mengajak umat yang hadir untuk ikut berdoa dalam bentuk tarian secara bersama-sama. Iya...makna Gereja Partisipatif muncul, semua anggota umat berperan dan mengambil bagian dalam karya pelayanan hidup bersama. Salut dech....Kapan-kapan bisa muncul lagi dengan beragam gerak tari. Qui Benecantat bis orat. Siapa yang bernyanyi bagus, ia berdoa dua kali. 

Diakhir acara ramah tamah, mbah Pardi, muncul dan memberikan salam kepada Rm. Kris. Entah pesan apa yang disampaikan mbah Pardi, hanya mereka berdualah yang tahu. Tuhan hanya menyaksikan saja. Namun yang jelas, mbah Pardi mengucapkan terima kasih atas pelayanan Romo Kris dan secara khusus berdoa untuk keluarga beliau. 

Rupanya, cinta Tuhan selalu bersemi dalam hati setiap orang. Orang tergerak untuk berkarya hanya karena cinta Yesus itu. Cintalah yang mempertemukan kita semua dalam beragam bahasa, cara berpikir dan cara pandang. Cintalah yang menyatukan berbagai orang dengan latar belakang yang berbeda-beda. Namun jauh dari itu, cinta pulalah yang menghidupkan semua orang yang percaya kepada Kristus untuk tetap mencintai Allah dalam mencintai sesama. Mat jalan Rm. Kris, semoga tetap semangat berkarya dan melayani umat di Paroki Banteng, Yogjakarta. Salam harmoni untuk communio. ***

Rabu, 12 Juni 2013

SHARING PENGALAMAN RD. LUCIUS POYA HOBAMATAN: INSPIRASI UNTUK KBG DI KEUSKUPAN LAIN




Komunitas Basis Gerejawi: Cara Baru Hidup Menggereja di Abad 21, merupakan tema utama yang menjadi refleksi para peserta dari Keuskupan Agung Makasar, Keuskupan Agung Jakarta, Keuskupan Agung Semarang, Keuskupan Agung Ende, Keuskupan Agung Pontianak, Keuskupan Pangkalpinang, Keuskupan Tanjung Karang, Keuskupan Bandung, Keuskupan Purwokerto, Keuskupan Denpasar, Keuskupan Banjarmasin, Keuskupan Tanjung Selor, Keuskupan Manado, Keuskupan Larantuka, dan Keuskupan Jayapura. Pertemuan itu diselenggarakan oleh Komisi Kateketik (Komkat) KWI pada 20-23 Mei 2013 di Wisma Kare Makasar, Sulawesi Selatan. Melalui pertemuan ini, Komkat mengajak animator dan animatris atau dalam istilah Gerejawi kita, fasilitator untuk merefleksi kembali bagaimana menghidupi KBG di setiap keuskupan di Indonesia.
 
Hadir dalam pertemuan itu selain peserta sebanyak 42, juga para staff Komkat KWI dan RD. M. Purwatma sebagai pemberi catatan kritis dan proses pertemuan. Yang lebih menarik dan khusus lagi RD. Lucius Poya Hobamatan, Pastor Paroki Tembesi Batam. Pada kesempatan malam harinya (21/5/2013), RD. Lucius Poya diberi kesempatan untuk mensharekan pengalaman ber-KBG selama ini di Pulau Batam. Beliau menyampaikan sharing pergulatannya merintis dan mengembangkan KBG di tempat tugasnya, Paroki Tembesi, Batam. Rm. Poya, dengan gaya rambutnya yang khas memulai sharing pengalamannya dengan refleksi demikian. 

Situasi umat Paroki Tembesi, kebanyakan buruh galangan kapal dan industri elektronik. Upah minimum buruh Rp 1.150.000. Untuk buruh yang masuk dari jasa outsourcing. Upahnya bisa hanya tinggal sekitar 750 ribu rupiah. Upah yang minim seperti itu, maka buruh cenderung mengejar lembur untuk menambah penghasilan. Maka mereka pun mengabaikan soal iman.

Banyak juga dari antara umat di paroki merupakan orang-orang buangan yang menghuni rumah-rumah liar. Mayoritas umat berpendidikan SMP ke bawah. Kebanyakan umat beretnis Batak, Flores, Jawa, dan lain-lain. Maklumlah Batam, banyak orang pingin datang mencari pekerjaan. Pada saat awal kedatangan saya, ada trauma karena pernah ada ‘perang etnis’ antara Batak dan Flores. Jumlah umat 7.500 jiwa dengan 1.500 keluarga muda. Tuntutan kerja yang tinggi melemahkan perhatian pada iman. Iman pun sekedar menjadi obat bius. Dari situasi umat semacam itu, saya diminta mempersiapkan tempat tersebut menjadi paroki. Dari tugas menjadi pastor paroki di situ, saya merenung: untuk apakah imamat saya? Apakah cukup hanya menjadi pelayan sakramen? Apakah juga menjadikan Gereja menjadi sakramen keselamatan bagi dunia? Apa prioritas pelayanan: membangun gedung gereja atau membangun communio? Apa yang mau dilakukan bagi umat: memberi kail atau memberi ikan?

Berdasar data riil, saya mengunjungi umat. Kunjungan untuk membangun visi paroki. Dalam refleksi bersama umat ketika kunjungan, muncul jawaban-jawaban umat yang menjadi kondisi riil dan dambaan umat. Mereka mengalami bahwa di wilayah itu primoldialisme tinggi dan kehidupan iman lemah karena tuntutan hidup tinggi. Gereja ya hanya soal sakramen dan mingguan. Kurang percaya diri karena pemahaman iman lemah. Apatisme tinggi: urusan gereja adalah urusan pastor, uskup, bruder, dan suster.

Dari kunjungan itu lahirlah agenda pertama: membentuk tim, awalnya lima orang, untuk menganimasi pembentukan communio yang sudah menjadi visi keuskupan sejak Sinode tahun 2000. Umat menanggapi dengan mengusulkan adanya Kotak Persembahan Keluarga, Kotak 1000. Spiritualitas janda miskin menumbuhkan solidaritas untuk menjadi persekutuan. Meski ada respon positif, toh tetap ada yang tidak setuju.

Tahap berikutnya adalah membentuk 4 KBG. Keempatnya mendapat kunjungan ekstra. Dengan kunjungan, banyak hal bisa didapatkan. Ketika keempat KBG ini mulai bertumbuh, wilayah-wilayah lain diberi cerita untuk menyemangati membangun komunitas. Ketika paroki diresmikan, baru ada 12 KBG. Mereka ini juga yang menjadi Dewan Pastoral Paroki. Dalam perjalanan, muncul masalah ada banyak umat yang tidak mau masuk KBG. Mereka ini ditangani langsung oleh saya.  KBG pun berkembang menjadi 24. KBG bertemu setiap minggu malam karena hanya di hari itulah mereka mempunya kesempatan untuk bertemu. Hari lain mereka lembur. Umat mendapat keuntungan ekonomis dengan masuk komunitas. Ketika tidak bersatu dalam komunitas, mereka sulit cari kerja. Namun karena masuk komunitas, mereka bisa saling berbagi informasi kerja.

Sejak 2004, saya mengembangkan KBG. Saya terbantu dengan metode AsIPA. Dengan pengalaman mini yang saya terima ketika belajar AsIPA di Paroki Tanjungpinang. Dari pengalaman yang sedikit itu saya mencoba. Dalam refleksi saya, KBG tanpa AsIPA tidak mungkin, sebab bahan-bahan AsIPA sederhana dan dapat membantu membentuk komunitas, membangun iman serta mendorong aksi sosial berdasarkan iman Katolik dan Magisterium Gereja. Bahan-bahan AsIPA dikembangkan di dekenat. 2005-2006 dengan mengajak tim untuk melatih bahan-bahan AsIPA.

Bagi saya, kalau hanya menjadi peserta, bahan AsIPA baru diinternalisasikan 35%. Namun ketika menjadi fasilitator, saya dan fasilitator lain bisa menangkap 100% karena membantu peserta memahami. Setelah selesai proses pelatihan, fasilitator mengikuti retret dan Jalan Salib, baru kemudian peserta menerima salib perutusan. Disinilah fasilitator telah siap untuk masuk ke dalam KBG.

Di tahun berikut, terbentuklah 48 KBG baru. Selama 10 tahun ini, setiap tahun saya melatih utusan komunitas-komunitas untuk berlatih AsIPA. Sekarang sudah ada sekitar 400 fasilitator. Munculnya KBG membawa efek besar dalam kehidupan paroki. Hampir di semua KBG ada pendampingan anak dan remaja. Mereka mempunyai modul-modul sendiri berdasarkan tahun liturgi. Muncul juga dengan sendirinya kebutuhan akan pelatihan liturgi yang baik dan benar. Setiap hari Minggu keempat, KBG-KBG kumpul dan membahas permasalahan yang ada. Muncul juga pemberdayaan sosial ekonomi lewat Credit Union.

Kotak Persembahan Keluarga, yang umumnya berisi Rp 1.000 rupiah dipergunakan untuk pembangunan gereja dan karya kasih. Dengan KBG, sudah ada gereja yang cukup memadai bagi umat. Dananya 100% dari umat sendiri. Dana tersebut juga bisa untuk memberi beasiswa sekolah, bahkan sudah bisa menyekolahkan seorang anak menjadi katekis. Dengan KBG, reaksi tanggung jawab sosial umat bisa sangat cepat. Memang aksi keluar umat belum banyak. Tetapi sekarang mulai berkembang kesadaran politis. Salah satu aksi sosial dari KBG yang biasa dan mempersatukan mereka adalah KBG menyepakati bahwa apapun yang terjadi harus selalu berbahasa Indonesia. Di KBG ada legio, dan lain-lain. Kelompok kategorial terjadi dan ada di Komunitas Basis Gerejawi.

Dari pengalaman yang demikian, muncul juga tantangan. Karena pekerjaan sistem kontrak, mobilitas umat sangat tinggi: datang dan pergi. KBG bukan hal mudah bagi para (calon) imam. Kehadiran saya di Paroki Tembesi sekarang,  untuk memelihara para fasilitator. Setiap bulan ada rekoleksi, memelihara skill dan pemahaman baru. Dengan pertumbuhan KBG, imamnya juga semakin sibuk. Sebab, kebutuhan akan iman semakin tinggi. Sehingga imam pun semakin berfungsi sebagai gembala dan harus mau belajar banyak hal.

Dari rangkaian pengalaman saya, saya menemukan hal yang mendasar, ternyata KBG menolong memaknai kegembalaan saya. Sebagai gembala, saya tidak hanya memberi makan umat, namun datang dan memahami situasi umat. KBG juga menolong memahami Gereja sebagai kandang, suatu tempat di mana gembala dan domba berada bersama. KBG juga menolong memahami tema SAGKI 2000, “Gereja yang mendengarkan”. KBG juga menolong memahami semangat Gaudium et Spes, “kegembiraan dan harapan, suka dan duka manusia adalah kegembiraan dan harapan, suka dan duka Gereja”. KBG juga menolong tetap menjadi murid. Dihadapan orang yang pendidikannya rendah, sungguh terpahami mengapa Yesus menggunakan perumpamaan. KBG menolong membangun kepemimpinan bersama umat: ada bersama umat, bekerja sama dengan umat, dan lain-lain. Maka jelaslah KBG sebagai cara hidup menggereja yang baru: harus mempunyai dua sisi kebutuhannya, imamnya merasa butuh dan awam juga merasa butuh. ***

Rabu, 29 Mei 2013

RUMUSAN HASIL AKHIR DAN REKOMENDASI PERTEMUAN ANIMATOR DAN ANIMATRIS KBG

KBG: Cara Baru Hidup Menggereja Abad 21

Dengan Semangat Konsili Vatikan II, Kita Mengungkapkan
dan Mewujudkan Iman Melalui Komunitas Basis

Komisi Kateketik KWI mengadakan pertemuan animator dan animatris Komunitas Basis Gerejawi (KBG) di Wisma Kare – Makasar selama empat hari, Senin – Kamis,  20-23 Mei 2013. Pertemuan ini diikuti oleh 42 peserta dari 15 Keuskupan di Indonesia, yaitu Keuskupan Agung Makasar, Keuskupan Agung Jakarta, Keuskupan Agung Semarang, Keuskupan Agung Ende, Keuskupan Agung Pontianak, Keuskupan Pangkalpinang, Keuskupan Tanjung Karang, Keuskupan Bandung, Keuskupan Purwokerto, Keuskupan Denpasar, Keuskupan Banjarmasin, Keuskupan Tanjung Selor, Keuskupan Manado, Keuskupan Larantuka, Keuskupan Jayapura. Para peserta dari 15 Keuskupan ini diundang untuk merefleksikan bagaimana KBG dihidupi.

A.  LATAR BELAKANG PERTEMUAN
Tahun ini, Gereja Katolik mencanangkan Tahun Iman untuk memperingati 50 tahun Konsili Vatikan II. Salah satu buah pemikiran dari Konsili Vatikan II adalah Gereja sebagai Umat Allah. Untuk melihat Gereja sebagai Umat Allah, kita melihatnya secara konkrit dalam pertemuan-pertemuan di mana jemaat berkumpul dalam komunitas basis. Namun tidak semua pertemuan kelompok kecil adalah yang dicita-citakan sebagai KBG.

Yohanes Paulus II mengatakan bahwa KBG adalah cara hidup menggereja abad 21 yang didasarkan cara hidup Jemaat Perdana. Cara hidup gereja perdana adalah cara hidup menggereja yang otentik. Maka, KBG bukanlah organisasi namun suatu cara hidup menggereja. Tentang sebutannya, bisa bermacam-macam. Intinya, yang disebut KBG adalah kelompok kecil, umat di tingkat akar rumput yang berupaya menghidupi cara hidup sebagaimana ditunjukkan oleh cara hidup Jemaat Perdana. Itulah yang kami gumuli dalam pertemuan ini. Dari proses tersebut, kami diharapkan semakin memahami KBG sebagai cara hidup menggereja.

Komunitas Basis di tingkat ASIA lahir dalam pertemuan FABC di Bandung pada tahun 1990-an dengan istilah communion of communities. FABC membentuk suatu desk untuk mengembangkan komunitas basis. Desk ini dinamakan AsIPA (Asian Integral Pastoral Approach). Karena di tingkat ASIA saja ada koordinasi, maka di tingkat nasional pun kita perlu membentuk semacam ‘kepengurusan’ yang mengelola dan mengembangkan gerakan KBG.

SAGKI 2000 mengamanatkan pengembangan Komunitas Basis Gerejawi sebagai cara hidup menggereja menuju Indonesia baru. Karena itu, dibentuklah Lembaga Pelayanan Komunitas Basis (LPKB). Namun pada tahun 2005, LPKB dibubarkan dan kemudian pengelolaan KBG menjadi salah satu desk dari Komisi Kateketik KWI. Sejak itu, pengembangan KBG secara nasional tidak terkoordinasikan dengan baik. Disadari bahwa setelah 12 tahun berjalan, ternyata perkembangan sangat beragam dan cenderung stagnan. Berdasarkan keprihatinan tersebut, Komisi Kateketik KWI mengundang para animator dan animatris KBG dari 15 Keuskupan untuk berproses dalam sharing, refleksi, dan penyegaran kembali tentang KBG.

B.   TUJUAN PERTEMUAN
1.   Penyegaran kembali para animator dan animatris KBG dari 15 Keuskupan dalam proses sharing dan refleksi untuk menemukan hal-hal pokok yang bisa ditimba untuk mengembangkan KBG.
2.  Membangun koordinasi dan komitmen untuk menghidupkan kembali KBG sebagai cara hidup menggereja dengan berpedoman pada cara hidup Jemaat Perdana.

C.  PROSES PERTEMUAN
Pertemuan diawali dengan perayaan ekaristi yang dipimpin oleh Mgr. John Liku Ada’ (Ketua Komisi Kateketik KWI) didampingi Rm. FX. Adisusanto, SJ (mewakili Sekretaris Eksekutif Komkat KWI) dan Rm. Sani Saliwardaya, MSC (Ketua Komkat Keuskupan Agung Makasar).

Mengawali keseluruhan proses sharing dan refleksi, Ibu Affra Siowarjaya dan Rm. Lucius Poya, Pr menjelaskan alat yang simpel namun terbukti berhasil membangun KBG. Alat itu berupa metode yang dikembangkan oleh AsIPA, yaitu Sharing Injil 7 langkah. Sharing injil 7 langkah menjadi salah satu cara untuk menumbuhkan 3 bintang dalam KBG: persaudaraan mendalam, berpusat pada diri Yesus dalam Sabda-Nya, dan melaksanakan aksi bersama dalam kehidupan sehari-hari. Maka, aksi yang dibuat oleh KBG sungguh berhubungan dengan inspirasi dari Sabda Allah sendiri.

Proses hari kedua diawali dengan Sharing Injil 7 Langkah dalam kelompok-kelompok kecil dengan mengambil bacaan dari Markus 9:30-37. Kemudian kami melanjutkannya dengan perayaan ekaristi. Sesi pertama hari ini diawali dengan ibadat singkat penghormatan Kitab Suci. Lalu kami dibagi dalam enam kelompok untuk mensharingkan pengalaman menghidupi dan mengembangkan KBG di masing-masing keuskupan. Hasil dari sharing itu kami bawa dalam pertemuan pleno. Dari hasil pertemuan pleno, ditemukan hal-hal pokok pemahaman dan penghayatan ber-KBG. Sore harinya, kami diajak untuk mendalami bersama dalam kelompok besar modul AsIPA model B/1 tentang “Jemaat Kristen Basis adalah Sebuah Rumah Tangga dan Keluarga bagi Siapa pun juga”. Kemudian dalam kelompok kecil, kami diajak mendalami modul AsIPA model B/2 tentang “Komunitas Basis Gerejawi Merupakan Suatu Perwujudan Konkrit Gereja”.

Malam harinya, Rm. Lucius Poya, Pr menyampaikan sharing pergulatannya merintis dan mengembangkan KBG di paroki tempat tugasnya. Beliau adalah seorang Imam Diosesan Keuskupan Pangkalpinang yang sekarang bertugas di Paroki Tembesi, pulau Batam, dan menjadi Pastor Vikep Kevikepan Kepulauan Riau. Dalam merintis dan mengembangkan KBG di tengah situasi umat parokinya yang kebanyakan merupakan kaum buruh dan berpendidikan rendah, beliau menemukan nilai-nilai pelayanan imamatnya, makna kepemimpinan partisipatif dan juga semangat Gaudium et Spes dari Konsili Vatikan II. Kemudian, Rm. Purwatma, Pr memberikan refleksi teologis tentang KBG berdasarkan dokumen-dokumen FABC dan Ecclesia in Asia (EA). Menurut Rm. Purwatma, Pr, KBG sebagai cara baru hidup menggereja dimaksudkan agar Gereja lebih mampu menghadirkan Kerajaan Allah di tengah dunia. Maka indikator yang ditunjukkan FABC maupun EA perlu dipertimbangkan secara serius dalam pengembangan KBG. KBG berpusat pada iman. KBG harus menjadi persekutuan yang berdialog dan bekerjasama dengan semua orang, bahkan persekutuan yang menjadi ragi yang merubah masyarakat dari dalam.

Proses hari ketiga diawali dengan perayaan ekaristi yang digabungkan dengan Sharing Injil 7 Langkah. Kemudian kami dibawa kepada pendalaman tentang kepemimpinan partisipatif dengan modul AsIPA model B/7b tentang “Sikap-sikap dari Seorang Pemimpin yang Memberi Arah”. Dalam modul ini, kami pertama-tama diajak menimba inspirasi sikap-sikap kepemimpinan yang memberi arah dari Yesus berdasarkan beberapa teks Kitab Suci (Mat. 20:25-26; 2Kor. 1:24; Gal. 2:11; Luk. 23:34; Mrk. 3:20). Ketika sungguh didalami dalam kebersamaan, teks-teks Kitab Suci tersebut sungguh kaya inspirasi akan sikap-sikap pemimpin yang memberi arah. Selanjutnya, kami diajak berproses membangun sikap-sikap dari pemimpin yang melihat dirinya sebagai pemimpin yang memberi arah atau animator. Lalu sikap-sikap tersebut kami sampaikan dalam role play. Setelah penampilan role play masing-masing kelompok, kami berdialog tentang berbagai hal tentang KBG.

Proses hari keempat diawali dengan merancang tindak lanjut dari pertemuan ini bagi pengembangan KBG di masing-masing keuskupan. Setelah itu, kami pun menyepakati rekomendasi-rekomendasi untuk pengelolaan dan pengembangan KBG selanjutnya.

D.  HAL-HAL POKOK YANG KAMI TEMUKAN
Berdasarkan proses sharing dan refleksi selama pertemuan ini, kami menemukan beberapa hal pokok, yaitu:
1.    Pemahaman dan penghayatan ber-KBG di masing-masing Keuskupan sangat beragam
a.  Beragamnya istilah untuk menyebut KBG: KBG, KUB (Kelompok Umat Basis), Kombas (Kelompok Basis), Mawar (Lima Warga), Lingkungan, Kring, Blok, Rukun, WR (Wilayah Rohani), Kampung, Sektor, Komsel (Komunitas Sel).
b.  Beragamnya penghayatan KBG: ada yang memahami KBG sebagai cara hidup menggereja dalam lingkup teritorial tertentu dan tempatnya berdekatan, ada pula yang memahami KBG sebagai cara hidup menggereja berdasarkan kategori tertentu dan lintas teritori.
c.   Meskipun ada beragam pemahaman dan penghayatan tentang KBG, namun ada modal untuk mengembangkan KBG, yaitu kemauan untuk berkumpul secara rutin dalam kelompok kecil.
2.    Ciri-ciri pokok KBG
Meneladan cara hidup Gereja Perdana sebagai cara hidup menggereja yang otentik, ada 4 ciri pokok KBG, yaitu:
a.    Anggota KBG hidup dalam suatu lingkungan tertentu.
b.    Sharing Injil sebagai dasar pertemuan dalam KBG.
c.  KBG bertindak secara nyata dan melakukan segala sesuatu secara bersama berdasarkan iman.
d.    KBG harus berhubungan dengan Gereja Universal.
3.  Perlunya kepemimpinan yang partisipatif dan memberi arah untuk menggerakkan dan mengembangkan KBG
Beberapa unsur sikap kepemimpinan semacam itu yang kami pandang penting untuk dikembangkan oleh para fasilitator KBG:
a. Seorang pemimpin suka melatih orang-orang meskipun memakan banyak waktu dan sering kali mengalami kegagalan.
b. Seorang pemimpin mempercayai orang lain. Ia yakin semua orang bahkan orang yang sangat miskin sekalipun memiliki banyak talenta (kharisma) dan kehendak baik.
c. Seorang pemimpin mengisi suatu komunitas dengan semangat antusiasme, keyakinan dan komitmen. Ia memberi jiwa dan roh ke dalam komunitas.
4.    Perlunya dukungan penuh dari seluruh lapisan umat beriman
Belajar dari beberapa keuskupan yang telah mengembangkan dan menghidupi KBG dengan baik, ternyata kunci keberhasilannya terletak pada adanya dukungan penuh dari seluruh lapisan umat beriman, mulai dari Uskup, para imam, para fasilitator / penggerak KBG dan umat beriman lainnya. Hal tersebut nampak dalam:
a. Dukungan penuh Uskup menggerakkan para imam dan umat untuk mengembangkan dan menghidupi KBG.
b. Sinode atau Musyawarah Pastoral se-keuskupan menyepakati KBG sebagai cara hidup menggereja yang mau diterapkan di keuskupannya. Sehingga, disusun pula strategi-strategi pastoral yang relevan, misal: pembentukan kelompok, pelatihan fasilitator terus menerus, mendorong para imam dan calon imam untuk menggerakkan KBG.
c.  Kunjungan, sapaan dan kehadiran para imam di tengah jemaat memberikan dukungan dan menggerakkan umat untuk membentuk KBG.
d.  Dukungan segenap lapisan umat beriman secara konsisten mendukung tetap diupayakannya pembentukan KBG meski harus melalui proses dan perjuangan yang tidak mudah dan memakan waktu yang lama, entah lima atau sepuluh tahun.
5.    Hal-hal positif yang terjadi dengan bertumbuhkembangnya KBG
Dengan bertumbuhkembangnya KBG, ada beberapa hal positif yang sungguh dirasakan di paroki-paroki yang mengembangkan KBG:
a. Semangat persaudaraan dan saling memperhatikan dalam kehidupan jemaat di paroki semakin kuat.
b.    Keberanian anggota KBG untuk mengemukakan pendapat dan memimpin orang lain.
c.    Saling mengenal satu sama lain antar anggota KBG.
d.    Keterlibatan dan partisipasi umat dalam kehidupan menggereja semakin meningkat.
e.  Solidaritas internal jemaat paroki maupun eksternal dalam kehidupan masyarakat semakin bertumbuh.
f.   Terjadi kemandirian ekonomi dan pemberdayaan masyarakat yang sangat nyata.
6.    Tantangan ke depan bagi pengembangan KBG
a.    Mobilitas tinggi
Globalisasi yang dimotori oleh dunia komunikasi membuat percepatan dalam banyak hal. Orang dengan mudah bergerak dari tempat yang satu ke tempat yang lain, orang menjadi tidak mudah menetap di suatu tempat. Ini tentu menjadi suatu tantangan dalam membangun KBG yang didasarkan pada lingkup teritorial tertentu dan tempatnya berdekatan.
b.    Generasi informasi di era digital.
Umat di masa depan adalah generasi informasi di era digital, dengan model perjumpaan yang baru dan cara komunikasi baru. Era digital menawarkan semua dalam genggaman, informasi dapat diakses di manapun juga, tanpa perlu perjumpaan langsung. Ini tentu menjadi tantangan dalam komunikasi iman, khususnya komunikasi iman dalam KBG yang mengandalkan perjumpaan secara langsung.

E.   RENCANA TINDAK LANJUT
Setelah mengalami proses melalui sharing dan refleksi selama empat hari, para peserta pertemuan animator dan animatris KBG merencanakan tindak lanjut sebagai berikut:
1.    Keuskupan Agung Makasar
·   Menyampaikan hasil pertemuan kepada Uskup, Vikep dan Pastor Paroki.
·   Mempraktekkan pengembangan KBG dan menambah jumlah fasilitator.
·   Pembekalan fasilitator di tingkat Kevikepan dan Paroki.
2.    Keuskupan Agung Jakarta
·  Membawa hasil refleksi bersama tentang KBG ini untuk disampaikan kepada Uskup, Kuria dan Tim Pastoral Keuskupan.
·  Visitasi ke dekenat untuk mengumpulkan ketua-ketua lingkungan untuk mensosialisasikan kepada ketua-ketua lingkungan tentang Sharing Injil 7 langkah.
·     Meningkatkan intensitas pelatihan fasilitator.
3.    Keuskupan Agung Semarang
·   Memperkenalkan dan melatih metode AsIPA sebagai modul pertemuan-pertemuan kelompok kecil.
·    Menyampaikan hasil pertemuan ini kepada Dewan Karya Pastoral Keuskupan.
·   Membuat tulisan berdasarkan pengalaman dalam pertemuan ini: “Metode AsIPA sebagai roh dan penggerak paguyuban umat di tingkat basis”.
4.    Keuskupan Agung Ende
·      Menyampaikan hasil pertemuan ini kepada Uskup.
·      Mengadakan pelatihan fasilitator KBG dengan metode AsIPA.
·      Mendampingi fasilitator KBG.
5.    Keuskupan Agung Pontianak
·      Merevitalisasi kelompok-kelompok KBG yang sudah ada.
·      Mengadakan pelatihan dan kaderisasi fasilitator KBG dengan menggunakan metode AsIPA.
6.    Keuskupan Pangkalpinang
·      Memantapkan hasil sinode kedua yang sudah memberi isyarat bahwa KBG menjadi prioritas Keuskupan.
·      Sharing Injil menjadi agenda wajib pertemuan KBG. Maka, metode AsIPA menjadi metode utama pertemuan KBG.
·      Mengoptimalkan tempat pelatihan KBG yang sudah ada.
7.    Keuskupan Tanjung Karang
·      Menyampaikan hasil pertemuan ini kepada Uskup dan para imam.
8.    Keuskupan Bandung
·      Menyampaikan hasil pertemuan kepada Dewan Karya Pastoral.
·      Mengintensifkan lagi gerakan KBG yang sudah dimulai tahun 2011.
·      Menentukan paroki/lingkungan tertentu sebagai pilot project.
·      Menyelenggarakan pelatihan dan pendampingan penggerak KBG.
9.    Keuskupan Purwokerto
·     Sejalan dengan arah haluan Keuskupan dan fokus pastoralnya, tahun 2014 menjadi titik tolak mengembangkan KBG sebagai gerakan bersama di seluruh Keuskupan Purwokerto.
·  Mengusulkan untuk dibentuknya desk KBG di bawah Dewan Pastoral Keuskupan yang memelihara pengembangan KBG secara berkesinambungan di Keuskupan Purwokerto.
·    Mengusulkan kepada Dewan Imam untuk memasukkan tema “Kepemimpinan dan Peran Imam dalam KBG” sebagai bahan retret, pelatihan maupun triduum persiapan pembaharuan janji imamat.
·      Metode AsIPa menjadi model bagi modul-modul pertemuan KBG.
10.    Keuskupan Denpasar
·      Mensosialisasikan hasil pertemuan ini lewat majalah Keuskupan (Agape).
·   Mengadakan training fasilitator tingkat keuskupan: “Pemberdayaan dan Pengembangan KBG melalui metode AsIPA”.
·    Mengembangkan metode AsIPA sesuai konteks Keuskupan Denpasar.
11.    Keuskupan Banjarmasin
·      Melaporkan hasil pertemuan kepada Bapa Uskup dan para Pastor Paroki.
·      Mengadakan pelatihan fasilitator di tingkat Keuskupan dan paroki.
·      Mengadakan evaluasi hasil yang telah dicapai.
·      Menerapkan metode AsIPA.
12.   Keuskupan Tanjung Selor
·      Melaporkan hasil pertemuan kepada Uskup.
·      Menyampaikan hasil pertemuan ini pada para Imam dan Dewan Pastoral Paroki.
·      Membentuk tim pelatih fasilitator dan mengadakan pelatihan fasilitator di tingkat Keuskupan dan Dekenat.
13.    Keuskupan Manado
·      Melaporkan hasil pertemuan ini kepada Uskup.
· Memulai pembentukan dan membina KBG sampai jadi dengan pilot projectparoki Kakaskasen.
·      Menggunakan metode AsIPA untuk pengembangan KBG.
14.    Keuskupan Larantuka
·  Menambah tim fasilitator dengan pelatihan-pelatihan AsIPA di tingkat Keuskupan dan Dekenat.
·      Mendampingi fasilitator di KBG.
15.    Keuskupan Jayapura
·      Penguatan KBG di setiap paroki dengan mengadakan pelatihan penggerak KBG.
·      KBG menggunakan metode AsIPA.
·      Komitmen terus mengembangkan KBG sebagai cara baru hidup menggereja.

F.   REKOMENDASI
Para peserta pertemuan animator dan animatris KBG menyampaikan rekomendasi sebagai berikut:
1.    Untuk Keuskupan-keuskupan:
·      Uskup dan para Imamnya mendukung dan memfasilitasi pengembangan KBG dan penggunaan metode AsIPA serta menjadikannya sebagai prioritas dan fokus pastoral Keuskupan.
·   Membentuk divisi / desk yang secara khusus menangani KBG. Divisi / desk ini tidak cukup hanya di bawah Komkat Keuskupan namun perlu di bawah Tim / Dewan yang mempunyai jaringan langsung dengan para pastor Paroki.
·      Mengadakan pelatihan fasilitator KBG di tingkat Keuskupan / Kevikepan / Dekenat / Paroki.
·      Memberikan dukungan dana untuk pengadaan modul dan pelatihan.
·    Dewan Imam Keuskupan memasukkan tema “Kepemimpinan dan Peran Imam dalam KBG” sebagai bahan retret, pelatihan maupun triduum persiapan pembaharuan janji imamat.
2.    Untuk Komkat KWI:
·      Menyampaikan hasil pertemuan ini kepada semua Uskup se-Indonesia.
·  Memberi dukungan dana dan memfasilitasi pelaksanaan pengembangan KBG di setiap Keuskupan.
·      Mengembangkan metode AsIPA sesuai konteks Indonesia.
·      Menyiapkan materi / bahan-bahan AsIPA yang lengkap untuk pelatihan-pelatihan Fasilitator.
·      Secara berkala, mengevaluasi pelaksanaan KBG di tingkat nasional.
·      Secara berkala, mengadakan pertemuan dan pelatihan fasilitator KBG di tingkat nasional.
·      Melibatkan diri secara serius dalam pengelolaan dan pengembangan KBG secara nasional.
·      Bekerja sama dengan Komisi Seminari untuk memperkenalkan KBG kepada Seminari-seminari Tinggi sebagai cara bereklesiologi, merenungkan Kitab Suci, mempersiapkan homili dan mengembangkan spiritualitas.
3.    Untuk KWI:
·   Perlu lembaga / komisi khusus yang mengembangkan KBG atau menghidupkan kembali LPKB.
·  Para Uskup yang berhasil mengembangkan KBG mensharingkan kepada semua Uskup buah perkembangan KBG bagi dinamika hidup menggereja di Keuskupannya.

Demikian rumusan hasil akhir dan rekomendasi pertemuan animator dan animatris KBG. Semoga berguna bagi pengembangan dan pengelolaan KBG yang lebih baik lagi di Keuskupan-keuskupan Indonesia. Tuhan memberkati.
                               
Wisma Kare – Makasar, 23 Mei 2013
Para Peserta Pertemuan Animator dan Animatris KBG KomKat KWI