Rabu, 18 Desember 2013

Membangun KBG: Kerjasama Kaum Tertahbis dan Keluarga

Pastor: "Linda, nanti pastor kunjung ke rumahmu"
Berawal dari kunjungan kaum tertahbis, umat akan mengetahui bahwa kaum tertahbis adalah yang pertama agen pastoral Gereja, walaupun Gereja itu sendiri dipahami sebagai "Umat Allah".

Melalui kunjungan kepada keluarga-keluarga, umat akan merasa disapa dan terpanggil untuk hidup dalam persekutuan dengan Gereja Universal. Kunjungan kaum tertahbis merupakan cara pastoral awal ketika Gereja sebagai Umat Allah hadir secara lokal.

Mama: Pak, kata Linda nanti malam Pastor kunjung ke rumah kita
Menerika kaum tertahbis dalam sebuah keluarga, sama dengan menerima "anggota keluarga sendiri"? Mengapa? Karena kaum tertahbis berasal dari anggota keluarga. Keluarga adalah seminarium kecil, menjadi bibit unggul untuk menjadi Gembala Umat.

Gereja tanpa kaum tertahbisa sama dengan "sumur tanpa dasar". Begitu juga, kaum tertahbis tanpa keluarga sama dengan "sayur tanpa garam". Maka enaknya adalah berjalan bersama-sama membangun persekutuan sejati yaitu "Gereja Abadi" dimana Yesus adalah tuan rumah Gereja itu sendiri.

Pastor mengobrol dengan keluarga Linda
Panggilan hidup untuk membangun persekutuan merupakan panggil Roh Kudus. Panggilan ini membutuhkan jawaban dari semua Umat Allah: kaum tertahbis dan awam. Panggilan menuju partisipasi bersama merupakan cara yang pas untuk membangun Gereja. Maka visi-misi-spitirtualitas Keuskupan Pangkal pinang yang baru "Menjadi Gereja Partisipatif" merupakan sebuah gerak bersama menjadi anggota Gereja yang partisipatif.
Jadi Gereja Partisipatif bukan hanya kaum tertahbis tetapi semua umat beriman yang telah dibaptis turut ambil bagian dalam membangun Gereja Partisipatif dengan tiga bintang menjadi misi utama kita, berpusat pada Kristus, membangun persekutuan dalam KBG dan melaksanakan misi Yesus membangun Kerajaan Allah.

Natal: kerjasama keamanan dengan sesama yang lain
Natal, pesta dan peringatan Yesus lahir, masuk dan hidup bersama seluruh makhluk. Kehadiran-Nya disambut gegap gempita oleh para Malaikat di Surga. Wakil para kudus yang menghuni Surga. Kehadiran-Nya juga disambut dengan penuh keserhanaan dan gegap dan kegembiraan oleh para gembala dan para ahli perbintangan dari Timur Tengah, wakil sukacita makhluk di bumi.

Maka pesta dan peringatan Natal, moment membangun kebersamaan, menuju misi Gereja yang melaksanakan tiga bintang tadi. Langkah demi langkah Gereja melaksanakan kebersamaan dengan semua manusia agar damai seperti di surga hadir juga dalam bumi ini. 

Selamat Natal 2013 dan Tahun Baru 2014.

Selasa, 19 November 2013

HASIL LOMBA KBG ST. ANDREAS PANGKALPINANG

Christo, Juara 1 Lomba Melukis

Laurensius Patrick, Juara II Melukis
Wiro, Juara III Melukis
Maria Nurdiana, Juara I Mewarna Tingkat SD Kelas 1-3

 
Natashia, Juara II Mewarnai Tingkat SD Kelas 1-3
Edward, Juara III Mewarnai Tingkat SD kelas 1-3
Klara, Juara I Mewarnai Tingkat TK

Carlos Fernando, Juara II Mewarnai Tingkat TK
Nesia, Juara III Mewarnai Tingkat TK

Peserta Lomba Lektor
Peserta Lomba Mewarna bersama pendampingnya

Peserta Lomba Melukis bersama pendampingnya

Orangtua menghantar anaknya untuk ikut perlombaan

Ketua KBG memberikan pengantarahan untuk acara perlombaan

Peserta mendengarkan penganrahan ketua KBG

Nauli, peserta terkecil ikut lomba mewarnai.

Peserta terkecil mewarnai gambar dengan gonta-ganti tangan. Kalau tangan kiri capek, ganti tangan kanan. Ha....
 Terima kasih adik2ku yang sudah meluangkan waktu untuk ikut dalam perlombaan ini. KBG itu milik kita semua, anak-anak, laki-laki, perempuan, remaja, kaum muda dan orang dewasa.
Mari kita membangun KBG kita ke arah tiga bintang: berpusat pada Kristus, membangun persekutuan, dan menjalankan misi bersama-sama.

ANEKA LOMBA MENJELANG PESTA PELINDUNG KBG ST ANDREAS PAROKI BERNADETH PANGKALPINANG



Membidik Arah KBG St. Andreas Paroki Bernadeth:
Kemana arah KBG St. Andreas berlabu? Ini suatu pertanyaan yang harus selalu kita sadari sehingga sebagai satu komunitas beriman, tidak kehilangan arah hidup kita. Arah hidup itu penting sehingga kerja dan aktivitas kita tidak terlepas dari keterikatan kita sebagai umat yang beragama Katolik, beriman kepada Yesus yang selalu hidup.

Sebagai anggota KBG St. Andreas, tempat labu kita adalah Kerajaan Surga. Untuk sampai pada Kerajaan Surga, Sinode II Keuskupan Pangkalpinang, sebagai Pedoman Pastoral Keuskupan, Post Sinode II, menghendaki supaya kita perlu mempunyai Visi, Misi, dan Spiritualitas (bdk. MGP, No. 155-1557).

Visi kita, secara ringkas  adalah “Menjadi Gereja Partisipatif”. Menjadi Gereja Partisipatif, kita sebagai satu umat beriman senantiasa dibimbing oleh Allah Tritunggal, kapan dan dimana saja dalam keseluruhan hidup kita. 

Untuk mewujudkan visi, kita punya misi. Misi kita ialah membangun KBG, yang mengarah pada tiga bintang, sehingga KBG kita inklusif (terbuka terhadap dunia luar), dialogal (dialog dengan dunia sekitar), berakar pada iman dan ajaran Gereja, peduli terhadap lingkungan hidup, profetis (membawa suara kenabian), berpihak pada yang miskin, transformatif (berubah ke arah lebih baik dalam cara berpikir, kerja dan berdoa), kekeluargaan dan memberdayakan. 

Supaya visi dan misi kita semakin hari semakin jelas dan terarah, kita mempunyai spiritualitas. Spiritualitas adalah Roh penggerak, pendorong, semangat hidup. Kita ingat dalam Injil Luk. 6:43-45. Buah yang baik berasal dari pohon yang baik. Tidak mungkin buah yang baik berasal dari pohon yang tidak baik. Itu artinya bahwa Roh dapat dilihat dari buah-buah perilaku yang dinyatakan didalam kehidupan setiap hari melalui relasi dengan sesama dan alam sekitarnya. Menghasilkan perilaku yang baik dalam kenyataan hidup karena relasi yang baik dan benar dengan pokoknya yaitu Allah sendiri. Maka spiritualitas kita adalah spiritualitas kemuridan dan hamba Allah, yang kita dapat belajar dari pribadi Yesus Kristus.

Aneka Lomba Pesta Pelindung KBG St. Andreas Paroki Bernadeth Pangkalpinang:
Dalam pelaksanaan perlombaan untuk acara Pesta Pelindung KBG, St. Andreas, para pengurus KBG menyerahkan pelaksanaan tugas kepada beberapa orang anggota KBG kita menjadi koordinator utama. Untuk lomba mewarnai, tingkat TK dan SD Kelas 1-3, Ibu Rosa Lili menjadi koordinator utamanya. Sedangkan untuk melukis tingkat SD Kelas 4-6, Ibu Suyati dan untuk lomba Lektor tingkat SMP-SMA, Ibu Jujui Sagala.
Dari rangkaian perlombaan ini, diumumkan hasilnya sebagai berikut:

Untuk lomba mewarnai tingkat TK, juara ke-3, atas nama: Nesia, Juara ke-2, diraih oleh Carlos Fernando dan Juara pertama dipegang oleh Klara. Untuk lomba mewarnai tingkat SD Kelas 1-3, Juara pertama diraih oleh Maria Nurdiana, Juara ke-2 oleh Natashia dan Juara ke-3 oleh Edward. Untuk lomba melukis, Tim juri memutuskan, juara ke-3 dipegang oleh Wiro, Juara ke-2 oleh Laurensius Patrick, dan Juara pertama oleh Christo. Sedangkan untuk lomba lektor tingkat SMP-SMA, Juara pertama diraih oleh Margaretha Windi, Juara ke-2 oleh Maria Laurensia, dan Juara ke-3 oleh Maria Wulan.Demikian pengumuman Tim Juri, atas perhatian kami mengucapkan terima kasih. Terima kasih juga kami sampaikan kepada anak-anak kita yang belum memiliki kesempatan untuk juara. Sedang untuk lomba gaple bagi bapak-bapak lintas anggota KBG lain sedang dalam proses lomba. 

Photo-Photo Lomba dan Hasil Mewarnai dan Melukis:
Peserta Lomba Lektor dan Tim Juri


Peserta Melukis SD Kelas 4-6
Christo Juara 1 Melukis
 
 


Peserta mewarnai Tingkat TK dan SD Kelas 1-3

bersambung ke File lain...
 

 





 

Rabu, 13 November 2013

Refleksi: Pejabat Negeri Ini Semestinya Belajar Dari Pertobatan Zakheus




Refleksi ini ditulis berdasarkan bahan bacaan Minggu Biasa XXXI pada Penanggalan Liturgi 2013, Tahun C/1
 


Ceritera tentang Zakheus, bagi orang Kristen, tidak asing lagi. Karena ceritera ini sudah ditulis oleh Penginjil Lukas dalam Kitab Suci Perjanjian Baru, bab 19 ayat 1 sampai dengan ayat 10. Ceritera tentang Zakheus hanya ada dalam Lukas. Dan karena itu adalah salah satu kekhasan Lukas yang melukiskan bagaimana pertobatan itu terjadi. Bisa saja Lukas menulis hal ini karena pada zamannya, pertobatan itu rasanya sulit dilakukan oleh para penguasa, khususnya para kepala pajak seperti Zakheus, kepala pajak di Yerikho.


Zakheus: Kepala Pajak Di Yerikho
Nama Zakheus sama dengan kata Zakkay, yang artinya bersih dan benar. Ia orang Yahudi yang bertugas sebagai kepala pajak di Yerikho. Zakheus merupakan pejabat pajak Yerikho, yang merupakan perpanjangan tangan kepala pajak penjajah Romawi. Salah satu pertanyaan yang menyentil diri Zakheus adalah mengapa banyak orang mengucilkan dirinya dan keluarganya? Pertanyaan ini, sederhana sekali untuk dijawab. Karena masyarakat Yerikho sedikitnya mengenal cara kerjanya. Apa cara kerjanya? Rupanya, kerja Zakheus, menagih pajak di Yerikho melebihi wajib pajak yang sudah ditetapkan oleh pemerintahan Romawi. Karena menagih lebih dari itu, masyarakat Yerikho pasti akan marah. Ungapan rasa dan sikap marah ialah mengucilkan dirinya dan keluarganya.

Refleksi kita adalah masih adakah cara kerja Zakheus ini, di negeri ini yang bernota bene beragama yang mengajarkan berdosa bila menagih lebih dari target yang sudah ditentukan? Jika ada, maka hukuman yang ditanggungnya harus melebihi pasal-pasal dari regulasi hukum negeri ini. Karena pembuat regulasi bernuansa “muatan” tertentu.

Zakheus: “mengapa saya dan keluarga saya dikucilkan?”
Rupanya berbulan-bulan mungkin juga bertahun-tahun Zakheus menyadari akan situasi hidupnya. Bahwa ia dan keluarganya dikucilkan oleh banyak orang, karena gaya hidup dan harta kekayaan yang ia miliki. Kesadaran Zakheus ini menandakan bahwa ia tidak baik hidup dengan cara dan kerja yang demikian. Berangkat dari kesadaran dirinya ini, Zakheus nekad untuk keluar dari dirinya dan lingkungan keluarganya dengan tidak tahu malu lagi, berlari dalam kerumunan banyak orang untuk melihat atau bertemu dengan Yesus. Kerumunan banyak orang, membuatnya tidak dapat bertemu Yesus, apalagi badannya pendek. Situasi ini membuatnya nekad lagi. Nekadnya ialah ia berlari cepat-cepat mendahului kerumuman banyak orang dan memanjat pohon ara, supaya dapat melihat Yesus dari atas pohon.

Refleksi kita adalah, apakah ada pejabat publik atau sekurang-kurangnya kepala pajak yang kaya berperilaku seperti Zakheus di negeri ini yang mampu menyadari dirinya lalu berusaha untuk berjumpa dengan Tuhan-nya? Jika ada, maka mungkin saja tidak ada slogan basmi koruptor. Mungkin lebih jauh, tidak ada sekolah hukum dan tidak ada ruang pengadilan di negeri ini.

Perjumpaan Zakheus dengan Yesus: suatu perjumpaan intim
Usaha Zakheus untuk berjumpa dengan Yesus, merupakan suatu usaha yang tidak gampang. Karena usaha yang tidak gampang, tentu mendatangkan hasil. Apa hasilnya? Zakheus tidak hanya berjumpa dengan Yesus, tetapi juga Yesus berjumpa dengan dia. Terkadang kita sudah berusaha untuk berjumpa dengan Yesus, tetapi Yesus belum mempunyai waktu yang cocok untuk menemui kita. Bisa saja, Yesus sudah mempunyai waktu yang pas untuk bertemu dengan kita, tetapi kita-lah yang selalu sibuk sehingga Yesus hadir dalam hidup kita hanya sebagai penonton doank.

Perjumpaan Zakheus dengan Yesus dan Yesus pun mau berjumpa dengan Zakheus, merupakan suatu pertemuan yang sungguh-sungguh intim. Keintiman perjumpaan kedua belahpihak ini, diminta oleh Yesus sendiri. “Zakheus, turunlah engkau, hari ini SAYA mau menumpang di rumahmu.” Permintaan Yesus ini, bagi Zakheus merupakan suatu moment perubahan arah hidupnya. Dan ternyata benar! Ketika sampai di rumah, Zakheus dengan kekuatan seluruh dirinya menyatakan dengan tegas komitmen perubahan hidupnya. “Jika seluruh kekayaan yang kumiliki ini, kudapat dengan tidak benar, setengahnya akan kuberikan kepada orang-orang miskin.” Ungkapan Zakheus ini menandakan bahwa pertobatannya tidak main-main. Pertobatannya bukan hanya diujung bibir, dengan janji yang muluk-muluk. Tetapi pertobatannya dilanjutkan dengan aksi nyata. Setengah harta miliknya akan diberikan kepada orang-orang miskin.

Refleksi kita adalah adakah para pejabat di negeri ini yang mau menerima Tuhan-nya dan menjadikan Tuhan-nya pusat seluruh hidupnya, yang mampu mengubah arah hidupnya? Jika ada dan mampu, mungkin saja di negeri ini tidak ada orang yang disebut miskin, terlantar, dan kaum papa.

Rumah: tempat pendidikan pribadi-pribadi yang berkualitas
Mungkin satu pertanyaan ini, yang harus kita dalami dengan lebih jernih. Mengapa Yesus mengajak Zakheus untuk menumpang di rumahnya? Yesus tentu menyadari akan peran sebuah rumah. Yesus tahu bahwa diri-Nya pernah dibesarkan dan dididik oleh Maria dan Yosep dalam rumah. Sehingga Dia marah jika rumah dijadikan sarang penyamun, seperti Bait Allah. Alasan ini mendasar sehingga Dia harus menyucikan Bait Allah dengan cara yang luhur.

Yesus mengajak Zakheus untuk menumpang di rumahnya, Yesus tahu bahwa rumah sebagai tempat pertama dan utama panti pendidikan itu, telah sirna. Karena itu, Yesus pergi ke rumah Zakheus untuk menyucikan rumah itu sehingga rumah kembali berfungsi sebagai rumah yang suci dan mampu menjadi tempat untuk menyucikan seluruh anggota keluarganya. Karena mampu menyucikan anggota keluarga, maka Zakheus dan seisi rumahnya memiliki kekuatan penuh untuk menyatakan komitmen memberikan setengah dari milikinya untuk orang-orang miskin. Rumah disini, kembali bermanfaat untuk membangkitkan semangat hidup baru, dan menjadikan manusia yang tinggal dan bertamu di rumah itu, bermanfaat untuk banyak orang.

Refleksi kita adalah masih adakah pejabat di negeri ini yang menjadikan rumahnya bersih dan suci, sehingga tidak menjadi sarang penyamun bagi dirinya dan orang lain yang datang di rumahnya? Jika ada, mungkin saja tidak ada rumah yang digrebek para aparat dan penegak hukum.

Kompendium:
Zakheus, pejabat publik di Yerikho yang boleh kita sebut “Raja maling” pajak rakyat. Dengan cara dan strateginya, ia berusaha untuk memperkaya dirinya dan keluarganya. Rupanya cara dan strategi yang dibuatnya, ia mendapat hukuman secara sosial. Ia dikucilkan oleh masyarakat setempat. Hukuman sosial, membuatnya jerah. Sikap jerahnya, ia buktikan dengan pergi keluar dari rumah dan keluarganya dan mau berjumpa dengan Yesus. Usahanya tidak sampai disitu. Ia berlari dalam kerumunan banyak orang yang mengucilnya dengan tidak tahu malu. Ia ingin mengubah cara hidupnya. Ia mau menjadikan Yesus sebagai pusat hidup dan dimulai dari rumahnya sendiri.

Usahanya menjadikan Yesus sebagai pusat hidup yang dimulai dari rumah, menguatkan diri dan keluarganya untuk berkarya bagi orang lain, yaitu dengan cara membagikan setengah dari hak miliknya untuk rakyat kecil. Cara mengubah hidup Zakheus ini, menjadikan dirinya “sehat kembali” dengan masyarakat. Ia kembali hidup bersama-sama dengan masyarakat.

Para pegawai pajak atau pejabat publik di negeri ini, ada yang mau seperti Zakheus? Rasanya sulit sekali. Mengapa? Karena pertobatan mereka tidak seperti Zakheus. Pertobatan mereka tidak terjadi. Kalau terjadi, itu hanya diadili di depan penegak hukum. Ketika diadili toh masih mau membela diri. Kalau diputuskan di depan hukum pun, di sel masih meneruskan “rumah sebagai sarang penyamun”. Jika sudah genap waktu ketika dihukum pun tidak jerah, semakin membuat rakyat marah. Pertobatan sungguh-sungguh tidak terjadi. Pertobatan hanya janji dibibir saja. Sedangkan, rakyat selalu dikondisikan dengan raskin, dana pembangunan daerah tertinggal, dan lain-lain.

Kapan Zakheus di negeri ini, yang lama dipenjarakan berdasarkan tahun penangkapannya atau tahun diadilinya? ***