Jumat, 06 Februari 2015

Tunggal Hati Seminari (THS) - Tunggal Hati Maria (THM):



(sebuah catatan kritis terhadap tulisan Mas Bambang Harsono tentang:
DEMO (Pertunjukan) sebagai sarana Promosi THS-THM)

Tulisan saya ini sebatas ulasan pribadi yang bertolak dari pengalaman yang sedikit yang saya miliki. Selain sebagai ulasan pribadi, juga saya berharap tulisan kecil saya dapat menjadi pelengkap untuk sesama anggota THS-THM dimana pun kita berada. Juga untuk menjawabi tulisan yang cukup mengagumkan dari ulasan Mas Bambang. Saya memulai ulasan kritis saya ini sebagai berikut.

A.  Secuil Pengalaman Kecil dari Kepulauan Anambas:
Pengalaman pribadi menjadi anggota THS-THM adalah sebuah pengalaman pribadi yang bagi saya sulit untuk dibagikan kepada orang lain. Mungkin ini alasan soal pribadi yang tidak pede karena penampilan saya yang bukan seperti seorang pesilat dan olaragawan, merasa belum banyak tahu, kurang percaya diri, takut dibilang sombong, takut dikatakan pengacau, dan lain-lain. Karena dengan alasan ini, saya pun secara pribadi ‘diam-diam’ saja seakan merasa belum tahu dan seolah-olah tidak peduli.

Saya datang ke Anambas, tepatnya di Tarempa bulan Februari 2001. Sebagai guru Agama Katolik baru, saya melihat bahwa setiap sore, anak-anak entah Katolik atau bukan Katolik mengikuti latihan berbagai perguruan silat dan karate. Waktu itu ada perguruan silat (baju putih), ada perisai diri (baju merah), ada silat melayu (baju hitam), ada taekwando (baju putih), ada inkaai (baju hitam) dan lain-lain ada di Tarempa-Anambas. Suatu sore, saya mengunjungi seorang anak SMP kelas I, namanya Ferdi, salah satu anak Katolik. Ketika saya sampai di rumah, saya melihat dia memakai baju putih dan celana putih-iya...pakaian silat. Saya tanya kepada dia, kamu ikut beladirinya? Dia jawab: iya pak. Sudah berapa tahun? Dia jawab lagi: lebih kurang tahun ketiga. Dalam hati saya, hebat sekali anak ini. Saya tanya lagi, memangnya siapa yang suruh kamu ikut latihan? Dia menjawab: orangtua saya. Kata orangtua, di pulau ini banyak beladiri, kamu juga harus ikut latihan, biar untuk menjaga diri. Saya pun hanya menjawab: o...baguslah, kalau didukung oleh orangtua!

Lewat beberapa bulan, Ferdi setiap sore main di pastoran. Kebetulan, di samping pastoran itu, ada rumah keluarganya. Dalam obrolan di pastoran itu, saya menggali banyak hal soal latihan silat yang dia geluti dan secara sengaja saya menggali pengalaman-pengalaman perguruan lain dan seluk beluk latihannya. Tanpa sadar, saya katakan kepada Ferdi, mengapa kalian tidak latihan saja di pastoran? Ferdi itu menjawab: pak, juga mau ikut latihan ya? Akhirnya saya menjawab: ajak aja beberapa temanmu untuk latihan saja di pastoran. Bawa teman-temanmu yang Katolik. Lewat beberapa minggu, Ferdi datang membawa tiga orang (2 katolik dan 1 budha). Pak, ini teman saya, satu Katolik dan satu Budha, mereka mau latihan disini.

Kesempatan inilah saya pakai untuk mengobrol dengan mereka soal beladiri. Saya dengan tegas katakan kepada mereka bahwa di Gereja kita punya beladiri Katolik namanya THS-THM. THS untuk laki-laki dan THM untuk perempuan. Mereka terkejut sekali. Mereka sepakat untuk mau ikut latihan saja di Gereja. Mereka berjanji akan menyampaikan kepada teman-teman Katolik yang lain untuk datang ikut latihan di pastoran. Hari Jumat waktu itu, Ferdi berhasil mengumpulkan sepuruh anak muda Katolik. Jumat sore, mulai pembukaan latihan. Saya ingat waktu itu, ada enam anak laki-laki dan empat perempuan yang datang ikut latihan. Selanjutnya mereka minta latihan seminggu dua kali. Acara latihan dimulai dengan kami duduk melingkar, berdoa-baca Kitab Suci, organisasi: saya menginformasikan tentang THS-THM, dan kemudian latihan fisik, lalu ada rekreasi berupa evaluasi dan sharing pengalaman dari sepuruh peserta latihan, dan ditutup dengan doa penutup.

Saya mencatat secara khusus sampai sekarang dalam hal evaluasi dan sharing dari kesepuluh anak muda ini. Pertama, mereka kagum bahwa di Gereja Katolik ada beladiri Katolik, ini tidak ditemukan dalam agama lain. Kedua, acara latihan mulai dengan doa dan baca Kitab Suci, lalu latihan fisik dan ditutup dengan doa lagi, mereka merasakan ada sesuatu yang baru. Ketiga, salam THS-THM. Mereka mencatat sebagai sebuah nilai untuk membangun keakraban dan persaudaraan diantara mereka. Keempat, latihan fisik dinilai mereka sebagai sebuah latihan yang berat tetapi berdaya guna untuk kesehatan dan pelenturan fisik. Mungkin karena mereka masih muda dan masih segar. Kelima, mereka menemukan ada banyak ilmu: soal Kitab Suci, doa, persaudaraan-keakraban, tekun dan berprinsip, keberanian, dan taat serta setia.

B.   Pendadaran Perdana
Karena saya waktu itu, berkas-berkas THS-THM sangat minim didapat, maka saya menetapkan bahwa setelah satu tahun baru ikut pendadaran pertama. Pendadaran saya minta mereka selama tiga hari libur sekolah. Pendadaran di pastoran dengan cara berkemah. Hebatnya, segala urusan pendadaran dan perlengkapan pendadaran, disiapkan oleh mereka. Saya waktu itu, muncul sikap rasa bangga. Karena mereka mulai berinisiatip dan mau taat dan setia ikut serta mau bekerja.

Urusan makan minum dan segala perlengkapan lain, mereka sendiri. Peserta yang ikut hanya lima orang saja. Saya bilang kepada mereka, walau lima orang saja, tetap ikut pendadaran. Proses acara dan latihan serta kegiatan pendadaran, saya berunding dengan Ferdi. Inti dari Pendadaran Perdana: Doa-Kitab Suci, Organisasi, Latihan Fisik, Permainan dalam Rekreasi (saya minta semua peserta menyiapkan satu permainan). Akhir dari pendadaran, kami ibadat bersama dan membuat evaluasi dan refleksi bersama. Mereka kelima peserta merasa terharu dan menangis, ketika acara terakhir saya membasuh kaki mereka. Acara membasuh kaki mereka, saya akalin dengan tidak masuk dalam rangkaian acara. Dari evaluasi pendadaran pertama ini, saya menemukan bahwa kelima orang ini, benar-benar matang dalam cara berpikir, tegas dalam prinsip dan berani dalam berbicara dan siap menjadi aktivis di Gereja kapan saja. Saya pun merasa terharu dengan komitmen mereka karena komitmen yang sudah mereka tuliskan itu mereka serahkan dibawah kaki Bunda Maria di gua Maria. Dan hal-hal buruk mereka, mereka bakar sendiri di depan gua Maria.

C.  Demo Kegiatan THS-THM
Selama melatih anggota THS-THM di Anambas, jujur bahwa soal ‘demo’ atau peragaan kegiatan THS-THM, saya justru tidak suka. Alasan jelas, seperti yang sudah saya berikan pada awal catatan tadi. Karena itu, yang namanya ‘demo’ atau peragaan kegiatan THS-THM, saya selalu menghindarinya. Namun, suatu hari saat itu, saya ulang tahun, pas dengan hari latihan, anggota THS-THM meminta saya untuk mengisi acara rekreasi setelah latihan. Saya jawab: saya tidak mau. Anggota THS-THM pun protes. Kata mereka, tidak bisa tolak pak, inikan organisasi.

Wah, ketika saya diprotes, saya malahan kelabakan. Karena saya kebingungan, anggota memberikan alternatif kepada saya: pertama, pak harus menunjukan kombinasi jurus menjadi ciri khas saya. Kedua, jika pak tidak menunjukkan, kami semua anggota akan melempar pak dengan telur busuk. Ketika mendengar begitu, saya tambah kebingungan. Mana tidak bingung, entah siapa yang menggerakan, saya terkejut anggota THS-THM itu dari rumah sudah membawa telur busuk masing-masing.

Saya kemudian meminta mereka untuk hening sejenak. Saya kemudian memutuskan untuk memilih alternatif kedua, dengan syarat, bahwa boleh melempar saya dengan telur busuk, asalkan saya berdiri di tengah barisan, lalu tiap-tiap mereka melempar telur busuk dari tempat masing-masing. Mereka menjawab begitu, sangat gembira. Saya katakan, tiap-tiap orang melempar dengan bergilir, berurutan. Mereka berunding, lalu mulai lempar. Sangat mengejutkan kepada mereka adalah dari duapuluh telur busuk yang kena ke badan saya, hanya satu yang pecah di badan saya. Yang lain, tidak pecah malahan pecah ketika jatuh di tanah.

Setelah acara pelemparan telur busuk itu selesai, maka muncul banyak spekulasi ini dan itulah. Saya hanya katakan bahwa, kesalahan kalian adalah melempar dengan ketakutan. Sehingga telurnya tidak pecah dibadan saya. Yang pecah dibadan saya itu, saya yakin orang yang melemparkannya itu, dia tidak berada dalam sikap yang emosional. Rupanya dugaan saya benar ketika saya menanyakan hal itu.

D.  Keanggotaan menjadi Banyak dan Meluas ke Non Katolik
Melalui lima orang pendadaran pertama, muncul banyak anak-anak SD, SMP dan SMA untuk mendaftarkan diri menjadi peserta. Aneh lagi, bukan hanya anak Katolik tetapi juga non Katolik (Budha), sedangkan dari anak-anak Islam yang mau saya secara pribadi tidak menerima. Cara saya tidak menerima anak-anak ini, saya panggil secara pribadi lalu saya menjelaskan kepadanya. Karena anak-anak ini adalah murid saya di sekolah maka mereka pun mengerti. Hanya mereka minta ijin kepada saya bahwa setiap kali latihan, mereka mau datang menonton. Saya katakan: iya, gak apa-apa kalau menonton.

Karena anggotanya semakin banyak, saya mulai membagi waktu untuk membuat pelatihan. Rencana seminggu dua kali untuk latihan itu saya bagi menjadi: latihan pertama untuk yang sudah pendadaran (tingkat 1) dan latihan kedua (pemula) bagi anggota baru. Sudah semakin banyak anak-anak yang ikut latihan maka saya percayakan yang sudah ikut pendadaran memberikan pelatihan. Ketika mereka memberikan latihan, saya selalu mendampingi mereka. Proses ini berjalan hingga empat setengah tahun. Di tahun ketiga, saya membentuk mereka (pendadaran kedua sampai keempat yang terselektif melalui pendadaran ulang) menjadi sebuah Tim. Waktu itu hampir lebih kurang belasan anak-anak muda. Tim belasan anak muda inilah, yang beberapa kali kemudian diundang oleh bapak asrama untuk memberikan pendadaran di asrama Batu Kucing, Tanjungpinang.

E.   Promosi THS-THM:
Saya merasa bangga ketika membaca tulisan Mas Bambang Harsono tentang ‘DEMO (Pertunjukan) sebagai sarana Promosi THS-THM’ Kebanggaan saya itu mempunyai dua alasan. Pertama, cara promosi yang disampaikan Mas Bambang Harsono, sangat tepat sekali. Karena sekarang sudah banyak media promosi. Ada banyak media promosi yang dicatat Mas Bambang Harsono itu, hemat saya tidak banyak media yang sulit kita masuk untuk mempromosikan THS-THM, apalagi kalau didengar bahwa dari Gereja. Juga kalau jadi masuk promosi, muncul lagi soal biaya, dan lain-lain. Kedua, promosi yang ditulis Mas Bambang sudah memiliki tujuan yang jelas. Ini sangat positif sekali.

Dari ulasan Mas Bambang soal promosi dengan tujuan dan bahan promosi yang disampaikan itu, saya sangat setuju. Karena, bagaimana pun juga itu merupakan daya tarik bagi orang supaya semakin banyak anggota atau peserta. Muncul pertanyaan yang menggelitik dihati saya: promosi mau mencari banyak anggota atau peserta ataukah mau supaya peserta atau anggota yang sudah ada itu, ditingkatkan kualitasnya, sehingga kualitas yang peserta atau anggota dapat itu menjadi nilai plus untuk menjadi bahan promosi? Ada banyak anggota atau peserta THS-THM tetapi kualitas yang dibangun dan diberikan itu, tidak atau kurang cukup, bisa saja peserta atau anggota THS-THM itu menjadi perusuh atau perusak dalam organisasi (mohon maaf jika hal ini kurang berkenan).

Saya lebih setuju lagi jika, promosi THS-THM secara internal. Promosi ini dapat menjadi sarana promosi yang bagus, kalau peserta atau anggota THS-THM memiliki ciri-ciri dan karakter kepribadian yang handel. Karakter yang handal, yang saya maksudkan disini: orang yang: setia, taat, tekun, inisiatip, kreatif, giat, ulet, berani berjuang, berani mengendalikan emosional, tidak gampang terpengaruh, kritis dan mau bekerjasama, tidak putus asa, rajin berdoa dan tekun baca Kitab Suci, merasa memiliki, mampu menyelesaikan masalah pribadi dan komunal, pola hidup sehat secara fisik, dan lain-lain. Kalau karakter ini sudah dimiliki maka nilai plus promosi dapat berjalan tanpa kita sadari.

F.   Penutup
Akhir kata, saya mohon maaf, jika ulasan singkat ini, tidak berkenan bagi semua anggota THS-THM yang membacakannya. Saya mengucapkan terima kasih kepada Mas Bambang atas tulisannya. Terima kasih juga kepada teman-teman anggota THS-THM yang sudah memberikan masukannya kepada Mas Bambang Harsono. Mudah-mudahan, catatan saya ini menambah bahan untuk kita refleksikan secara pribadi. Mungkin ada banyak juga, kita menyelami lebih dalam dari motto THS-THM: fortiter in re, suaviter in modo. Semoga Tuhan Yesus dan Bunda Maria, memberkati kita semua. Salam. ***

Sabtu, 31 Januari 2015

Refleksi pribadi atas Tulisan Bambang Harsono tentang doa Singkat THS-THM



Isi tulisan Mas Bambang Harsono:
Saya kutip kembali isi tulisan Mas Bambang Harsono berikut ini: DOA HORMAT THS-THM. Manakah yang benar mengenai doa singkat saat melakukan hormat organisasi?Doa-1:"Seluruh bumi, langit dan alam seisinya, kupersembahkan kepadaMu, Allah Tritunggal Maha Kudus, yang bersernayarn dan kupertahankan dalam hatiku".ataukah ini:Doa-2:“Terpujilah Allah Tritunggal Maha Kudus, bersemayam dalam hatiku, akan kupertahankan selalu”.Mohon pencerahannya…. Shalom.... Gloria....

Tahukah kita dasar kedua doa ini?
Ketika saya membaca kedua doa yang ditulis Mas Bambang Harsono di link FB Keluarga Besar THS-THM, jujur bahwa saya kembali disadarkan untuk menyimak lebih baik dan dalam dari kedua doa tersebut dengan mengajukan pertanyaan ini. Alfons Liwun: adakah dasar dari kedua doa ini? Lewat beberapa menit kemudian Mas Bambang Harsonomenjawab kepada saya demikian: saya kurang tau pasti kak Alfons... mungkin seperti Aku Percaya bentuk panjang dan bentuk pendek.... doa hormat ini seperti "chant" fungsinya....

Dokumen Pendadaran II di Ritapiret
Sambil saya membaca dan kemudian merenungkan beberapa jawaban lain dari saudara-saudariku, rupanya ada dua hal pokok yang muncul didalam diri saya. Kedua hal pokok itu, antara lain. Pertama, orang menerima doa yang diajarkan namun lupa untuk membaca, merenungkan, dan membandingkan dengan ‘tata gerak’ dari doa tersebut. Kedua, adakah dasar yang terdalam dari penjelasan Dewan Pendiri (DP) pernah dibuat dalam bentuk tulisan cetak entah dalam bentuk buku atau manukrip lainnya yang bisa menjadi dasar tertulis sehingga dalam pelaksanaannya, tidak melenceng jauh dari dasar doa yang diajarkan itu.

Refleksi Pribadi atas kedua doa yang ditulis Mas Bambang Harsono
Pengalaman pribadi ketika mengikuti latihan dari Tim Rm. M. Hadi S, tidak salah pada tanggal 2-6 Mei 1993 di Seminari Hokeng. Ketika itu, yang pertama kali diajarkan adalah ‘tata gerak’ tubuh. Dalam doa singkat saat melakukan hormat pada awal latihan:

a.    Peserta diajak berdiri siap –berdiri tegak dengan kedua tangan mengapit kedua sisi tubuh kiri-kanan.
b.    Kedua tangan kiri kanan terentang selurus bahu dengan telapak tangan menghadap ke bawah-ke bumi.
c.    Kedua telapak tangan dibalik ke atas-menghadap langit,
d.   Digerakkan secara perlahan-lahan, sampai kedua telapak tangan bertemu-berdiri tegak lurus badan.
e.    Setelah kedua telapak tangan bertemu lalu digerakkan perlahan-lahan turun sampai di kepala sudah membentuk ‘burung merpati’ dengan cara: ibu jari kanan mengatup dan ditutupi oleh kedua jari kelingking dan jari manis, sedangkan jari telunjuk dan jari tengah tetap berdiri, disanggah dengan telapak tangan kiri pas di atas pergelangan tangan kanan.
f.     Gerakan kedua tangan tadi yang sudah membentuk ‘burung merpati’ ditarik perlahan-lahan turun sampai di dada.
g.    Setelah itu kedua tangan kiri-kanan kembali mengambil sikap siap semula.

dokumen Ritapiret Pendadaran II photo di Gua Maria Fatima, Lela
Setelah tata ‘gerak tubuh’ ini diajarkan baru kemudian diajarkan bahwa ‘gerak tubuh’ tadi diikuti dengan sebuah doa.  Pertanyaannya disini: apa doanya? Doa yang saya ingat waktu itu dan sampai sekarang saya masih pakai ialah ‘wahai bumi langit, bersatulah pada Allah Tritunggal Mahakudus, bersemayam didalam hatiku dan kupertahankan seumur hidupku.’Lalu, jika doa ini diintegrasikan di dalam gerak ‘tata tubuh’ tadi maka menjadi: ‘wahai bumi’ (poin ‘b’), langit (poin ‘c’), bersatulah pada Allah Tritunggal Mahakudus (poin ‘d’), bersemayam didalam hatiku dan kupertahankan seumur hidupku (poin ‘e’ dan ‘f’). Gerakan doa di dalam hati yang diintegrasikan dalam gerak ‘tata tubuh’ ini dilakukan oleh setiap peserta dengan sikap ‘diam’. Sampai disini, sebenarnya apa maksud terdalam dari ‘doa dalam diam yang diintegrasikan dengan gerak ‘tata tubuh’ pun dalam diam?

Makna Doa dan Gerak ‘Tata Tubuh’ (bdk. Mazmur 8)
Aksi Nyata anggota THS Menanam pohon coklat di Mengkait
Refleksi doa dan gerek ‘tata tubuh’ dalam THS-THM, saya membandingkannya dengan doa dalam Mazmur 8. Jika kita membaca dan merenungkan dengan baik-baik, perlahan-lahan terhadap Mazmur 8 ini, sebenarnya bahwa ada hal yang sangat esensial didalam gerak ‘tata tubuh’ dan doa dalam THS-THM kita. Esensinya demikian: Allah Tritunggal Mahakudus telah menciptakan semua alam raya: makhluk human dan infrahuman. Makhluk human dan infrahuman ini selalu memuji dan memuliakan Allah sepanjang zaman, tanpa henti.

Makhluk human, saya bandingkan dengan peserta THS-THM, yang memuji dan memuliakan Allah Tritunggal Mahakudus melalui doa-Kitab Suci, latihan beladiri, rekreasi, dan membangun organisasi. Karya peserta THS-THM ini dalam sepakterjangnya, harus dimakna sebagai ‘lumen’-cahaya dari Allah Tritunggal Mahakudus. Sehingga kesetiaan, ketaatan, dan displin dalam THS-THM pun harus selalu ditautkan dengan kesetiaan, ketaatan, dan disiplin hidup kita kepada Allah Tritunggal Mahakudus.

Dengan begitu sikap dan doa serta gerak ‘tata tubuh’ kita dalam THS-THM patut dimaknai sebagai berikut:
a.    Sikap doa manusia kepada Allah Tritunggal Mahakudus  adalah selalu siap. Siap disini adalah seluruh tubuh tenang, hikmat, dan berkonsentrasi untuk membawa seluruh alam semesta untuk bertemu dengan Allah Tritunggal Mahakudus. Mana bisa mau bertemu dengan Allah Tritunggal Mahakudus, manusianya belum siap? Kan aneh sekali. Mau jumpa para pejabat, rekan kerja, pacar, bos kerja, dan lain-lain saja, kita siap. Bertemu dengan Allah Tritunggal Mahakudus yang adalah Penguasa seluruh bumi, manusia harus siap ‘ala THS-THM’.
b.   
Anggota THS-THM Anambas rekreasi di Air Terjun Tarempa
‘Wahai bumi langit’, (poin ‘b’ dan ‘c’). Peserta mengajak seluruh makhluk (sesama anggota yang hadir maupun yang tidak hadir-bahkan seluruh alam semesta beserta isinya) untuk memuji dan memuliakan Allah Tritunggal Mahakudus. Peserta yang mengajak itu adalah manusia yang menjadi ‘wakil’ dari seluruh ciptaan Allah. Hanya manusia yang berakal budi, memiliki dan selalu menyadari hal moral, berkehendak baik, dan memiliki kemampuan lebih dari segala ciptaan lain.
c.    ‘Bersatulah pada Allah Tritunggal Mahakudus’,(poin ‘d’). Isi ajakkan peserta itu memiliki arah yang jelas sebagai orang beriman Katolik, untuk bersatu-bersekutu dalam Allah Tritunggal Mahakudus-yang menjadi pusat dan sumber hidup iman kita. Disini patut dicatat bahwa hanpa pada Allah Tritunggal Mahakudus-lah, satu-satunya sumber dan pusat hidup iman Umat Katolik, tidak ada pusat dan sumber hidup iman kita yang lain-lain.

Anggota THS-THM Anambas menumpang pulag ke Tarempa setelah pelatihan
d.    ‘Bersemayam didalam hatiku dan kupertahankan seumur hidupku’, (poin ‘e’ dan ‘f’). Sebagai ungkapan iman pribadi dan kolektetif , menjadikan Allah Tritunggal Mahakudus melalui simbol ‘burung merpati’-Roh Kudus untuk masuk didalam diri saya, disini tidak hanya mengajak Roh Kudus masuk dalam diri saya lalu membiarkan begitu saja Roh Kudus, tetapi Roh Kudus yang sudah ada didalam diri saya, ‘kupertahankan seumur hidup saya.’ Jadi, makna yang lebih dalam dari itu ialah ‘saya yang sudah beriman kepada Allah Tritunggal Mahakudus, kupertahankan dan kubawa dalam hidup saya hingga mati. Disinilah ‘martyria’ saya diuji dalam melaksanakan karya hidup saya, termasuk taat dan setia saya pada organisasi THS-THM dan lebih umum pada Gereja Katolik dan Tanah Air.

Relevansi Doa singkat dalam THS-THM
Membangun sikap taat dan setia kepada pelatih, THS Ritapiret
Doa ini dimulai pada awal latihan dan kegiatan THS-THM dengan maksud: pertama, para peserta bersikap taat dan setia kepada para pelatih. Sebaliknya, para pelatih sungguh-sungguh menyiapkan latihan dengan baik, sehingga tidak salah, tidak menyimpang dari yang diajarkan. Kedua, proses selama latihan atau kegiatan THS-THM mendapat restu dan bimbingan serta berkat dari Allah Tritunggal Mahakudus. Ketiga, diharapkan supaya para peserta dan pelatih sungguh mengungkapkan sikap ‘rasa bersaudara’, ‘solidaritas’, ‘tidak bersikap sombong-rendah hati’, dan ‘saling menerima satu sama lain’.

Penutup
Akhirnya saya mengucapkan terima kasih kepada Mas Bambang Harsono yang sudah dengan kritis mengajukan pilihan kedua doa  di atas. Tidak lupa juga saya mengucapkan terima kasih kepada saudara-saudariku anggota THS-THM seluruh dunia, yang sudah memberikan postingan yang berguna untuk dijadikan refleksi dalam tulisan ini. Tulisan ini, hanya semacam refleksi pribadi. Jadi hanya untuk menambah wawasan kalau masih bingung, dan menambah ‘ruang hati’ kita ketika kita membaca dan merenungkan ini.

Salam Gloria.

Kamis, 29 Januari 2015

Review Nonton Film ‘Pesan dari Samudera’



(sebuah sharing pribadi)

1.        Pengantar Singkat:
Saya tidak ingat lagi kapan tanggalnya Metrotv menayangkan ‘Film Pesan Dari Samudra’. Tapi, saya hanya ingat bahwa waktu itu ditayangkan pada bulan Desember 2013. ‘Film Pesan Dari Samudra’ produser Miles Films saya tertarik menontonnya dilatarbelakangi oleh dua hal.

diambil dari film 'Pesan Dari Samudra'
Pertama, film Pesan Dari Samudra dibuat atau disutting di Desa Sinar Hading Kawaliwu, khususnya di ‘Tada Tu.’ Saya merasa bangga karena Kawaliwu menjadi tempat disuttingnya film ini. Latarbelakang saya pertama ini, terasa sedikit ‘egoisme’. Mengapa? Karena, film-film yang selama ini saya nonton hampir tidak ada yang disutting di Kawaliwu, masa film baru ini, dengan tempat Kawaliwu, saya tidak mempunyai waktu untuk menonton? Kan rasanya aneh sekali.

Kedua, produser film ini Ibu Mira Lesmana, orangnya terkenal dan berkelas tinggi. Produser yang sama juga pernah menyuting ‘Laskar Pelangi’ di Gantong Manggar Kabupaten Belitung Timur, Propinsi Kepulauan Bangka Belitung. Kedua latarbelakang inilah yang sungguh-sungguh mendorong saya untuk menonton bahkan karena merasa belum menangkap isi dan makna dari film ini, saya berusaha untuk mendapatkan film ini.

2.        Menganalisa Karakter Pelaku dan Relevansi Maknanya:
Saya membuat analisis para pelaku dalam film ini hanya sebatas pelaku terkenal dan pelaku tambahan. Dalam pelaku tambahan ini, saya memberikan catatan khusus untuk warga saya dari Kawaliwu.

Pertama, Samudra dengan nama Bintang Panglima. Samudra adalah anak-anak yang masih berpendidikan Sekolah Dasar (SD). Samudra mempunyai bapak namanya Sakti yang diperankan oleh Lukman Sardi dan ibunya Nara dengan nama aslinya Putri Ayudyn. Samudra tinggal di kota besar (Jakarta) dengan pola hidup yang berkecukupan. Samudra memiliki rumah yang mewah, hp, tv, kamar mandi, wc, dan tempat tidur yang bagus, dan lain-lain. Dari sisi ekonomi, boleh dibilang Samudra hidup berkecukupan. Dalam hidup yang berkecukupan dan hidup di kota besar seperti Jakarta, tentu semua orang, khususnya orang Kawaliwu merasa bahwa ‘Samudra orang kaya’, apalagi ketika pergi ke tempat yang jauh harus menumpang dengan ‘burung besi’.

Ekspresi wajah Samudra yang disampaikan kepada publik (umum) dalam film itu, ternyata hati-jiwanya tidak merasa bahagia. Ketidakbahagiaan Samudra, saya melihat ada dua hal pokok. Pertama, kedua orangtuanya begitu sibuk bekerja dan bekerja, tetapi lalai dalam perhatian batin kepada Samudra. Sakti, bapaknya begitu sibuk kerja di kantor, pertemuan dimana-mana ada waktu, tetapi ketika waktunya mengambil buku raport Samudra, muncul banyak alasan. Begitu juga dengan Nara, ibu Samudra, seorang dokter yang ditugaskan di Lawaloba, (aslinya: Kawaliwu) sebuah wilayah Timur Indonesia yang tidak bernama, dan jauh dari peradaban modern. Kesibukan dalam bekerja mencari nafkah ditempat yang terpencil, ternyata relasi-komunikasi dalam keluarga terganggu. Ancamannya ialah ‘perkawinan menjadi retak’ bisa-bisa cerai. Sampai disini sudah sangat jelas bahwa sibuk bekerja walaupun dunia sekarang sangat canggih (hp, tv, pesawat terbang), tetapi yang menjadi korban ialah ‘karaktek Samudra’. Kenyamanan-keamanan jiwa-raga Samudra, terganggu melihat ‘kesibukan kedua orangtuanya’.

Karena itu, Samudra termasuk anak yang hebat pada usia itu. Dia nekad untuk pergi mengunjungi keluarganya: opa dan oma dan lebih khusus lagi, ibunya Nara. Mana bisa anak Kawaliwu, atau sekurang-kurangnya anak-anak seumur SD seperti Samudra berani untuk pergi jauh dari bapaknya di Jakarta dan pergi mengunjungi ibunya yang begitu jauh di Lawaloba? Ternyata, kenekadan Samudra membuahkan hasil yang cemerlang. Samudra membawa pesan yang jelas. Menyatukan hati kedua orangtuanya, yang dirindukan selama ini oleh Samudra. Membangun kembali relasi baik dengan orang-orang pertalian keluarganya yang selama ini hilang (opa Hali dan Oma Hana, Thomas, dll).

Kedua, Nara dengan nama asli: Putri Ayudyn. Nara, berperan sebagai seorang dokter. Dokter yang ditempatkan di Lawaloba, sebuah desa terpencil. Karakter Nara, ditampilkan secara jelas: seorang pelayan untuk semua orang sakit, pemberani: mengambil keputusan untuk siap diutus ke Lawaloba dan meninggalkan kota metropolitan seperti Jakarta. Mana mau dokter hidup susah kalau ditempatkan di daerah seperti Lawaloba?

Disinilah Nara mengubah sebuah image kepada publik bahwa seorang dokter siap melayani kapan, dimana, dan bagaimanapun bahkan mengorbankan keluarganya. Bagi kita, masyarakat Kawaliwu atau masyarakat lain, kalau sudah menjadi dokter itu hidup senang. Ternyata, dokter yang ditampilkan dalam diri Nara, benar-benar seorang dokter yang sangat nasionalis, memiliki kepedulian dan perhatian kepada masyarakat yang tidak mampu yang berada di daerah-daerah yang susah. Walau Nara bekerja di tempat yang terpencil, Nara masih mampu membangun relasi dengan suaminya dan anaknya.

Dalam membangun relasi ini, ternyata ada link yang tak terpuaskan. Baginya, suaminya yang hidup dekat dengan anaknya, paling kurang bisa menjawabi keinginan anaknya yaitu datang ke sekolah dan mengambil raportnya.

Ekspresi Nara, sangat jelas. Hatinya untuk keluarga: suami dan anaknya di Jakarta, tetapi hatinya juga untuk pelayanan kepada orang-orang sakit di desa Lawaloba. Bagaimana kemampuan Nara membagi hatinya dalam karya pelayanan itulah yang patut kita simak dan refleksikan lebih jauh lagi. Disinilah unsur pengorbanan dan sukarela. Bukan suka saja tetapi tidak ada kerelaan, bukan juga hanya ada kerelaan tanpa rasa suka. Namun, sukarela adalah kata aktif yang penuh pengorbanan yang ditampilkan oleh Nara.

Ketiga, Sakti yang diperankan oleh Lukman Sardi. Dalam perannya, Sakti adalah seorang bapak rumah tangga. Dia rajin dan tekun dalam kerja. Dia begitu sibuk dalam mencari nafkah untuk keluarganya. Inilah tanggungjawab yang diembankan oleh Sakti. Hemat saya, ini hal yang wajar sekali. Dalam bekerja, ternyata merupakan suatu hal yang tidak mudah. Kerja yang bagus seperti Sakti yang ada di kantor ternyata memiliki banyak kesulitan. Kesulitan itu dapat kita temukan dalam relasi antar rekan sekantor seakan tidak nyambung, sehingga urusan-urusan yang bisa ditangani oleh rekan sekantor tidak dijalankan malahan menyita lagi waktu Sakti.

Kesulitan lain yang dialami Sakti adalah kemacetan kota Jakarta. Hiruk pikuk sebuah kota besar, ternyata membutuhkan waktu yang banyak, karena itu rencana dan proses kerja menjadi terlambat. Konsekuensi dari kesibukan, relasi Sakti dengan Nara menjadi renggang. Bahkan dengan Samudra, anak mereka sekali pun.

Samudra menjadi korban secara psikologis, dan puncaknya ketika Sakti tidak dapat hadir dalam penerimaan raport anaknya, Samudra. Mungkin tidak hanya ini, namun ketika Sakti dengan rela meiyakan Samudra pergi mengunjungi ibunya di Lawaloba dengan menumpang ‘burung besi’ sendirian. Padahal, Samudra begitu memiliki kerinduan besar akan kehadiran kedua atau salah satu orangtuanya untuk hadir dalam penerimaan raport sekolah dan sekaligu mendampingi perjalanan yang begitu jauh menuju Lawaloba.

Belajar dari peran Sakti dalam film ‘Pesan Dari Samudra’, kehebatan Sakti sangat nampak pada keputusannya untuk menyusul Samudra, setelah mendengar berita di layar kaca bahwa ada ‘gempa bumi’ yang menimpa Pulau Flores. Disini kita dapat mengetahui bahwa seluruh hidup dan perjuangan dalam kerja Sakti berujung pada ‘Samudra’. Sakti, tidak mau Samudra, mengalami kesulitan. Sakti tidak mau Samudra ditimpah bencana apapun termasuk gempa bumi.

Dalam pikiran dan hati Sakti, Samudra jauh lebih penting dan berarti bagi hidupnya. Karena itu, Sakti bisa meninggalkan segala pekerjaan dan kesibukan hiruk pikuk kota Jakarta, untuk menyusul Samudra, anaknya. Dalam dalam sebuah makna peran yang tersembunyi oleh pencerita Mira Lesmana dan Riri Riza yang ditulis dalam skenario oleh Prima Rusdi disana muncul martabat sebuah perkawinan yaitu ‘rekonsiliasi relasi antara Sakti dan Nara’ yang disaksikan oleh Samudra sendiri dan secara publik disaksi oleh peran-peran lain seperti Opa dan Oma, Taufik, Thomas dan warga masyarakat Lawaloba.

Keempat, Opa Hali dan Oma Hana. Peran opa Hali oleh ‘Andi Bersama’ dan peran oma Hana oleh ‘Jajang C. Noor’. Secara sepintas dilihat, saya menemukan bahwa opa Hali dan oma Hana pernah hidup di kota Jakarta. Opa Hali, peran dengan memiliki karakter khas orang Lawaloba yaitu keras dalam prinsip dan tegas dalam berbicara, serta memiliki daya juang dalam proses memperjuangkan hidupnya. Karakter opa Hali sangat terlihat lebih jelas dalam persoalan warisan yang namanya ‘tanah’. Disinilah opa Hali membuka wawasan masyarakat Lawaloba tentang ‘tanah’. Dalam persoalan tentang ‘tanah’ opa Hali seakan menyelidiki ‘tanah’ di Lawaloba, apakah sudah memuliki ‘surat tanah’ ataukah hanya sebagai peninggalan leluhur-nenek moyang Lawaloba.

Saya menemukan bahwa kontroversi cara berpikir opa Hali yang sudah lama tinggal di Jakarta dengan masyarakat Lawaloba soal tanah. Disatu pihak opa Hali mendukung ‘tanah’ warisan Lawaloba sebagai peninggalan nenek moyang namun disisi lain, opa Hali mau mengatakan bahwa ke depan ketika arus modernisasi yang kian meluas ini, persoalan tanah di Lawaloba tidak mudah dalam urusannya. Karena itu, sikap menutup diri dengan ‘menutup’ jalan setapak merupakan suatu sikap tidak toleransi kepada semua orang yang akan menggunakan jalan setapak tersebut.

Disisi yang lain, masyarakat Lawaloba yang mengambil sikap menutup jalan setapak dengan alasan ‘kehilangan tanaman’ yang ada adalah sebuah sikap baru, yang tidak biasa dilakukan oleh masyarakat Lawaloba yang pola berpikirnya sangat toleransi dengan sesama. Disinilah, makna kesosialan masyarakat Lawaloba yang selama ini hidup sebagai sebuah budaya, terasa mulai sirna. Masyarakat Lawaloba sekarang seakan-akan ‘telah menanam budaya baru’ dalam masyarakatnya yang dulunya sangat menjunjungi tinggi makna persaudaraan dan kekeluargaan.

Jika persoalan ‘tanah’ di Lawaloba tidak dipikirkan dengan baik dengan mengambil sikap: mau membuat surat tanah atau tetap mempertahankan hukum adat atas tanah itu. Bagaimana ‘tanah’ di Lawaloba diurus secara tertulis supaya ada bukti hitam diatas putih? Apakah dengan adanya sertifikat tanah di Lawaloba, hukum adat atas tanah menjadi tidak berlaku lagi? Inilah yang perlu dipahami dengan baik dan secermat mungkin. Atas persoalan ini, bagi saya sebagai warga ‘Lawaloba’, hukum adat atas tanah, sangat berguna dan kapan saja tetap berlaku. Hukum adat atas tanah, bisa melumpuhkan hukum baru dengan kepemilikan tanah yang bersertifikat.

Oma Hana jelas memiliki perannya dalam film ‘Pesan Dari Samudra’. Pesan adalah oma Hana berjiwa Jawa namun ia dengan logat khas Lawaloba. Oma Hana adalah seorang nenek, yang memiliki karakter sebagai seorang ibu rumah tangga tulen. Di rumah ia memasuk. Di rumah ia membentuk kelompok karya ‘menenun’. Menenun adalah sebuah karya warisan nenek moyang yang bernilai kemanusiaan manusia. Menenun dulu sangat digemari oleh ibu-ibu. Menenun, zaman sekarang jarang dilakukan ibu-ibu modern. Mereka berpikir, sudah tidak zaman lagi untuk menenun. Karena itu, di kebun tidak perlu lagi menanam kapas. Dua korelasi karya nenek moyang yang memiliki tautan yang erat sekali, dalam aktifitas yang sudah membudaya yaitu menenun. Didalam peran ini, oma Hana mau menunjukkan kepada masyarakat Lawaloba bahwa ‘menenun’ masih relevan dan berguna. Masih relevan karena aktifitas ini dilakukan oleh ibu-ibu sebagai sebuah pengungkapan karya seni dan sekaligus mengungkapkan karakter dasar ibu dalam tata budaya masyarakat Lawaloba.

Nilai yang lebih jauh adalah termaktub pembagian peran dalam masyarakat Lawaloba manakala laki-laki pergi bekerja di kebun. Dikatakan berguna dalam menenun adalah dulu menenun dilakukan dalam keluarga dan diperuntukan bagi anggota keluarga. Oma Hana menunjukkan bahwa ‘menenun’ memiliki nilai guna disana yaitu mendatangkan ekonomi rumah tangga. Mendatangkan ekonomi rumah tangga disini dikerjakan secara kelompok. Maka dikenal ada kelompok menenun ibu-ibu.

Kelima, Thomas yang dilakon oleh Bardi Diaz. Posisi Thomas dalam peran ini begitu aktif. Aktif Thomas sama dengan opa Hali. Maka boleh saya katakan disini, dimana ada opa Hali, disitu ada Thomas. Thomas dalam peran ini sangat penting sekali. Ia seperti terlihat menjaga opa Hali disatu sisi. Namun disisi ini, hemat saya, Thomas menunjukkan karakter sebagai anak kecil dan cucu yang mau mengikuti opanya. Dalam hal ini, saya mau katakan bahwa Thomas mengikuti opanya untuk belajar bagaimana hidup secara sosial sebagai masyarakat. Disana, Thomas berguru soal budaya, sosial, dan tutur berbahasa pada opa Hali.

Karakter Thomas yang ditampilkan ini, bagi saya kini tergerus juga dari situasi masyarakat Lawaloba. Disatu sisi, dalam film itu, kita tidak pernah tahu siapa orangtua Thomas. Saya melihat orangtua Thomas tidak muncul karena pergi merantau. Karena pergi merantau maka Thomas tinggal dengan opanya. Thomas dididik oleh opanya. Selain dididik, opa Hali juga memiliki peran-pengganti orangtua Thomas untuk menumbuhkembangkan Thomas.

Disini, ada sebuah kritikan besar terhadap ‘budaya baru’ dalam masyarakat Lawaloba. Ada banyak orangtua yang pergi merantau mencari uang untuk keluarganya. Namun, orangtua melupakan pendidikan terhadap anaknya. Orangtua merasa bahwa anaknya sudah cukup hidup dan dididik oleh opa dan omanya atau pun keluarga besarnya. Orangtuanya cukup mengirimkan uang untuk menyekolahkan atau menghidupkan anaknya. Disinilah pula, kita salah kaprah dalam memahami ‘pola pendidikan’.

Masyarakat Lawaloba berpikir bahwa pendidikan untuk anak itu tanggungjawab para guru dan sekolah. Lupa akan pendidikan dalam keluarga. Pendidikan yang paling pertama dan utama adalah terjadi didalam keluarga. Hal ini tidak terjadi karena seakan pendidikan untuk perkembangan anak didelegasikan kepada siapapun termasuk: opa, oma, guru dan anggota keluarga besar. Film ‘Pesan Dari Samudra’, jelas memberikan makna ini, supaya mata dan hati para orangtua terbuka untuk melihat dan berproses dalam ‘pendidikan karakter’ anak, tunas muda masyarakat Lawaloba. Pendidikan anak tidak bisa diwakili atau didelegasikan kepada siapapun. Hal ini dengan maksud, anak dapat mengenal orangtuanya. Jangan sampai orangtua anak kaget ketika pulang dari merantau, anaknya menyapa orangtuanya dengan ‘opu-bine’, ‘mama-tia’, dan lain-lain. Sangat berbahaya sekali!

Keenam, masyarakat Lawaloba. Lawaloba adalah sebuah nama baru, yang hemat saya tidak ada sama sekali ada hubungan dengan tempat aslinya desa Sinar Hading atau Kampung Kawaliwu-Igo Rian Sina. Nama ini adalah nama rekaan dalam film tersebut. Saya tidak tahu alasan mengapa produser memilih nama ini. Bagi saya, nama Lawaloba, saya tidak keberatan, nama itu hak produser dan penulis naskah film ‘Pesan Dari Samudra’. Yang saya mau katakan disini ialah ‘masyarakat Lawaloba’nya.

Gotong Royong Masyarakat Kawaliwu Merehab KOKO
Masyarakat Lawaloba adalah masyarakat yang rawan bencana. Karena wilayahnya berada pada lempeng luar garis gempa tektonik di Indonesia. Saya mencatat bahwa di Lawaloba ini sering terjadi banjir bandan dan tsunami yang besar pada 12 Desember 1992. Kalau sebelumnya gelombang laut yang tinggi tetapi tidak setinggi waktu tsunami 92. Sering angin kencang tetapi paling kurang tidak mematikan masyarakatnya, mungkin hanya merusak tanaman di kebun dan pohon-pohon perdagangan yang ditanam masyarakat.

Dengan situasi gempa dan tsunami 92, ada babak baru dalam masyarakat Lawaloba. Babak barunya apa? Saya mencatat ada tiga hal dasar. Pertama, pembangunan baru infrastruktur bangunan umum dan bangun rumah-rumah pribadi masyarakat. Kedua, struktur masyarakat lama terpecah dari tradisional-kolektif, menjadi ‘post tradisional-personal’.  Istilah ini sebuah istilah yang saya sebut secara pribadi. Ketiga, titik balik urban-perantauan yang besar.

Gempa bumi dan tsunami 92 mengisahkan banyak persoalan dalam kalangan masyarakat Lawaloba. Pertama, pembangunan infrastruktur. Infrastruktur rusak dan hancur seperti gedung balai desa, gereja, sekolah, sumur air minum, pasar, dan jalan, walaupun waktu itu jalan masih belum aspal. Dan rusak paling parah adalah rumah-rumah masyarakat. Nampak bahwa setelah gempa dan tsunami, masyarakat Lawaloba bisa menikmati jalan aspal. Selain jalan aspal, juga dibangun pasar (walau butuh waktu yang lama), balai desa baru, dan bantuan rumah murah. Dan perlahan-lahan masyarakat Lawaloba yang rata-rata beragama Katolik mulai membangun gereja, sekolah SD ditambah sekarang ada TK dan PAUD, dan sampai dengan sekarang menjadi pusat kecamatan Lewolema-kantor camat, puskesmas, jaringan telekom, dan lain-lain.

Sejalan dengan perkembangan Lawaloba setelah gempa dan tsunami, pola berpikir masyarakat pun berubah. Entah sadar atau tidak, mulai beralih dari tradisional-kolektif menjadi ‘post tradisional-persona’. Arah perubahan ini menjadi ‘kurang jelas.’ Disini ada dua arus yang cukup membawa perubahan yang besar. Pertama, pendidikan. Banyak para pelajar muncul. Dan konsekuensinya banyak juga para pelajar yang setelah tamat sekolah atau kuliah menetap di Lawaloba. Integrasi pola berpikir disini, saya melihat sebagai sebuah ‘perubahan’. Mengapa? Disatu sisi, para pelajar hidup dengan perjuangan yang sangat besar (cita-cita tinggi yang tak terungkapkan) supaya apa yang diperoleh selama sekolah dapat diterapkan dalam masyarakat, tetapi disini lain, mereka ini memiliki kesulitan, semacam ‘utopiah’. Sedangkan disisi lain, kedua, masyarakat Lawaloba dengan pendidikan terbatas sekolah dasar dan buta aksara atau melalui belajar informal dengan jalur perantauan dan menonton di tv, pun ikut perubah namun ‘rasanya lamban’. Perubahan-perubahan inilah akan mengikis pola berpikir baru-belum memiliki arah jelas dalam sebuah masyarakat yang perlahan-lahan bergeser dari masyarakat tradisional agraria-kolektifis ke arah ‘beradaban baru’ tanpa arah yang jelas.

Dengan latarbelakang masyarakat Lawaloba demikian, film ‘Pesan Dari Samudra’ memberikan beberapa catatan kritis bagi masyarakat ini. Pertama, soal keberadaan status tanah di Lawaloba. Tetap berlaku hukum adat atau beralih ke hukum positif yang ditutuntut harus disertifikatkan. Kedua, keluarga. Banyak terjadi urbanisasi keluar daerah untuk merantau khususnya ke Malaysia. Akibatnya, orangtua kurang mempunyai waktu untuk proses pendidikan anak atau kalau adapun pendidikan hanya dipikirkan atau diurus oleh seorang ibu rumah tangga. Ketiga, akibat arus perantauan yang besar itu, akan membawa efek masuk ke dalam Lawaloba yang cukup dahsyat, seperti cara berpikir, pola pandang terhadap tanah dan pekerjaan bertani, pergaulan hidup, mentalitas merasa tidak betah di Lawaloba, dan lain-lain.

3.        Keuntungan Bagi Masyarakat ‘Lawaloba’ Tentang Film Pesan Dari Samudra
Bagi saya secara pribadi, dengan dibuatnya film ‘Pesan Dari Samudra’ dan kemudian diputarkan di metrotv, saya melihat ada beberapa keuntungan baik untuk saya secara pribadi maupun untuk masyarakat Lawaloba sendiri. Pesan Dari Samudra juga bukan hanya ditujukan untuk masyarakat Lawaloba tetapi juga untuk masyarakat Indonesia yang berada pada garis lempeng luar rawan gempa dan tsunami.

Ibu-Ibu Kawaliwu memanen padi di Kebun Wai Pleme
Bagi masyarakat Lawaloba, film Pesan Dari Samudra memiliki keuntungan sebagai berikut. (a). Mempromosikan situasi kampung Lawaloba seperti soal kultur tanah dan masih mempunyai sistem hukum adat nenek moyang yang kuat. Selain itu, mempromosikan tanaman perdagangan dari masyarakat ini seperti pohon lontar, jambu mente, dan lain-lain. Juga mempromosikan sarana prasarana seperti pasar, puskesmas, dan lain-lain yang masih terbatas, dengan itu pemerintah tergerak hati untuk memulai pembangunan bangsa ini dengan sungguh-sungguh dari wilayah Indonesia Timur. (b). Mempromosikan tempat sutting film Pesan Dari Samudra, secara khusus ‘Tadatu’. Bagi masyarakay Lawaloba ‘Tadatu’ memiliki kisah dan sejarah hidup masyarakat yang tinggi, yang sering disebut oleh tua-tua ‘Se-Ma’. Siapa tahu, pada suatu waktu jika ada yang bisa menulis kisah dan cerita ‘Tadatu’ dapat mengundang lagi Mira Lesmana dan Riri Riza menjadi produser film tentang ‘Pesan Dari Tadatu’. (c). Mempromosikan pantai Lawaloba untuk menjadi ajang destinasi baru di wilayah Kabupaten Flores Timur. Bahkan bukan hanya pantai dengan pasir hitam yang bersih, sunset di sore hari tetapi juga kultur budaya seperti: rumah adat dan tarian, lodoana, tenun ikat, upacara-uacara adat, dan karya-karya seni daerah yang dikemas secara kreatif yang dimiliki masyarakat Lawaloba. (d). Menyadarkan masyarakat Lawaloba untuk menantisipasi jika terjadi gempa bumi dan tsunami di masa depan. Dengan itu, hal utama yang dituntut adalah warga masyarakat menghargai dan mencintai lingkungan hidup dengan menanam sebanyak mungkin pohon dan bakau di pesisir pantai.

Pantai Wai Kerewak Kawaliwu: destinasi Pantai Pesisir
Selain masyarakat Lawaloba mendapat keuntungan secara tidak langsung, juga bagi pemerintah dan masyarakat Indonesia, saya menemukan keuntungan berikut ini. Pertama, pulau-pulau di Indonesia berada pada garis lempeng gempa bumi dan tsunami. Dengan film ini, masyarakat Indonesia dapat mengantisipasi dan mencegah sebulum terjadinya gempa bumi dan tsunami. Kedua, membantu pihak pemerintah pusat dan daerah serta instansi terkait untuk memperhatikan wilayah Indonesia Timur dalam hal pembangunan baik secara fisik maupun secara mental-psikis. Dalam hal ini sarana prasaran pembangun jalan raya, puskesmas, rumah sakit, dan persediaan banyak dokter untuk melayani masyarakat di wilayah yang sulit dijangkau. Ketiga, menjaga stabilitas harga komoditi tanaman perdagangan khususnya kacang jambu mente. Pemerintah daerah dan pusat memikirkan pembangunan pabrik jambu mente yang berada didekat wilayah Ranatua-Larantuka atau kota-kota yang terdekat yang bisa dijangkau oleh masyarakat.

Keuntungan bagi saya secara pribadi adalah saya bangga akan penyutingan film Pesan Dari Samudra yang dilaksanakan di Lawaloba. Saya bangga karena Lawaloba yang jauh di Timur menjadi terbuka bagi banyak masyarakat lain yang menyaksikan film tersebut. Masyarakat lain tahu bahwa di wilayah Timur hidup apa adanya dan benar-benar ‘selaras alam’. Saya bangga karena dengan pembuatan film ini, masyarakat lain pun tahu tentang situasi masyarakat, adat istiadat, fisik saran prasaran dengan demikian tergerak hati untuk membangun wilayah Indonesia ini dengan lebih utuh.

4.        Penutup
Sebagai akhir dari tulisan saya yang belum sempurna ini, dari lubuk hati saya yang paling dalam, saya memohon maaf atas beberapa catatan yang saya berikan dalam tulisan saya ini. Mungkin saja, catatan-catatan yang saya ajukan ini tidak sejalan dengan cara masing-masing kita melihat, menonton, dan membuat analisa atas film Pesan Dari Samudra’ ini.

Lebih dalam dari itu, saya pun tidak lupa mengucapkan banyak terima kasih kepada para donatur pembuatan film ini, sehingga film ini sukses disutting dan ditayangkan di layar Metrotv, walaupun hanya tiga bulan saja pembuatan film ini.

Juga tidak lupa, saya mengucapkan terima kasih kepada para pelaku-peran dalam film ini. Saya bangga karena karakter pelaku sungguh dapat terbaca dengan jelas. Logat bahasa dalam bertutur benar-benar cocok untuk orang-orang dari Timur.

Saya pun tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada crew-crew pembuatan film ini, penata rias, sinemotografi, penulis skenario, pencerita, dan produser: Mira Lesmana dan Riri Riza.

Sebagai akhir dari tulisan ini, saya berpesan untuk para pemeran dan crew-crew film ini, kapan-kapan bisa berjalan lagi ke Lawaloba, bisa berjumpa dengan masyarakat di sana. Mudah-mudahan ke depan, lokasi-lokasi penyutingan film ‘Pesan Dari Samudra’ akan menjadi sebuah medan destinasi perfilman Indonesia, sehingga medan-medan itu terawat dan terjaga seperti ‘lokasi-lokasi pembuatan film “Laskar pelangi’ dari Belitung.***