Jumat, 17 September 2010

CERPEN


MENGENDUS JEJAK ANGEL YANG LARA
oleh: Alfons Liwun


Jarum jam dindingku terus berdetak. Sahabat-sahabat di kamar sebelahku lelap tertidur pulas karena keseharian pontang panting merajut nasib. Entah mimpi apa gerangan mereka. Namun terdengar dari kejauhan suara binatang malam yang dari tadi terus mendendangkan mazmur pujian bagi Sang Khaliknya. Oh…, begitu indahnya, tarik suara di gelap gulita, bisik hati kecilku untuk ingin terus mendengarkannya.  

Aku berdiam sejenak. Meresapkan alunan musik jagat itu bersama seluruh pengalaman hidup siang tadi yang duka lara atas kepergiaan untuk selama-lamanya, Paus Yohanes Paulus II, Pemegang Takhta Petrus Gereja Katolik. Terhanyut, seakan menepis pada hulu yang sedang mendendangkan pujian itu. Dalam keheningan syaldhu, gejolak jiwa hatiku seolah bangkit menyatakan sesuatu. Kubiarkan… sekali lagi, kubiarkan mengalir terus, semakin cepat hingga bergeming pada rasa untuk meneruskan pada akal yang mampu menterjemahkan arti sesuatu itu.

Aku diam lagi. Mengalir dalam akalku sebuah lukisan berciri khas parasnya cantik, putih, kurus, tinggi, sebahu rambutnya, mancung hidungnya, dan lesung pipinya. Aku tersentak kaget dan terpukau. Rasa-rasanya aku kenal si gadis ini. Kuurut keningku sembari mengingat siapa sebenarnya dara manis itu. Sejenak aku tertegun, kemudian mengangguk-angguk.Kukenang semakin jauh dan sekali lagi terhanyut di tepian sebuah kenangan yang manis. Kutemui dia, si gadis manis sedang menyesal, rambutnya yang lurus terurai rapih kini, kusam tak terawat. Parasnya yang dulu mulus, sekarang tumbuh jerawat-jerawat cinta yang bagaikan cendawan di musim hujan.

“Angel…, kenapa kamu sampai begitu”, tanyaku sedikit mencari tahu. Angel diam-tak menggubris sepatah katapun. Sekali lagi kutanya Angel. “Ngel…, kenapa kamu senyap?” Angel menyibakkan helai-helai rambutnya dan muncullah secuil senyum cantik yang menghiasi bibir mungilnya. Seolah-olah mengekspresikan tidak ada masalah apa pun.

“Pak…, Angel lagi mikirin masa depan. Angel sudah tidak sekolah lagi. Sudah keluar dari SMA Negeri itu. Karena Angel nyesal, sekolah itu tidak disiplin, sarana tidak mencukupi kurikulum yang ada sekarang.” Aku diam dan terus merenung. Aku kembali menatap dalam wajahnya, membaca ekspresi jiwa penyesalannya. “Pak…, selain itu, Angel merasa sekolah ini pun tidak akan membantu saya di masa depan. Lihatlah…, banyak anak disini!, tambahnya.

Kuamati lagi wajahnya yang polos dan dengan gaya bahasa khas orang pulau, sekali lagi Angel bergeming, “Jike pak pergi, kemanekah kami harus mengadu?.”Aku diam, kaget! Hatiku luluh, kedua bola mataku terasa berat untuk menatapnya lagi. “Pak… Angel tanya, jawablah Angel dengan sejujurnya. “Pak, mau pindah ya…?” Dalam kebingungan aku tetap diam. Tetapi dalam hatiku, menyatakan sebuah penegasan. Rupanya Angel sudah tahu akan pemindahanku di tempat kerja yang baru. Aku pura-pura kaget! Dan untuk menghilangkan muncul pertanyaan yang lain dan kesedihan hatinya, kuajaknya untuk berdialog.

“Angel…, sudah saatnya juga pak harus pindah. Pertemuan dan kebersamaan kita, telah mengukir sebuah buku kehidupan. Temu dan pisah adalah hal yang biasa. Tetapi satu hal pasti, pak selalu kenang Angel, ketika kebersamaan kita di sekolah, di Gereja di saat Angel melantunkan mazmur, di saat kita latihan THS-THM, dan di saat kita berkunjung ke pulau-pulau lain.” Rasanya berat untuk mengingat semuanya. Sejenak, kami berdiam. “Angel…, maukah pak pindah?”, lanjutku.

Dengan ekspresi yang sulit kubaca, terlihat parasnya yang sangat lain, kulitnya yang putih serentak memerah. “Pak…, Angel tak punya apa-apa untuk dibawa dan dikenang, Angel hanya minta satu hal ini. “Pak… harus ingat Angel dan teman-teman Angel yang lain. Angel… tetap mengharapkan pak di pulau!”, katanya. “Pak, dengarkah suara Angel?” tambahnya. Hatiku duk-dak, bibirku gemetaran mau kata apa lagi pada Angel. Aku hanya mengangguk dan mengangguk.“Sudahlah Angel! Pak akan mendoakanmu dan teman-teman Angel”, dengan ekspresi seadanya, aku menyakinkannya.

Aku sadar, tercengang melihat detak jarum panjang jam yang menunjukan pukul 03.15 dini hari. Aku perlahan beranjak ke pembaringan dengan sejuta harapan agar Angel dan teman-temannya selalu mengenang kebersamaan selama di Pulau Tujuh. Dalam kegelapan kamar, aku bukannya langsung terlelap. Namun, pikiran dan perasaanku masih terbawa oleh pengalaman pertemuan tadi. Aku berusaha sekuat tenaga untuk mengatup mataku. Tetapi apalah saya, satu demi satu seberkas pengalaman kebersamaan pengalir dalam ingatan. Bahwa kami telah bersama membangun kelompok kaum muda dengan sarana THS-THM, Pencinta Alam, majalah dinding di pastoran, pengadaan Radio FM yang diberi nama “Lumen FM 96 MHz, Kesebelasan Sepak Bola, Keenaman Volley Ball, dan Basket Ball. Juga terlintas dalam anganku, kebersamaan kami membentuk kelompok belajar di pastoran, bersama-sama memperjuangkan “peraturan poin” di Dinas Pendidikan Siantan, saat-saat kemah Pramuka bersama, dan sebagainya, dan sebagainya. Akhirnya seluruh pengalaman kebersamaan terbawa dalam kalbu bersama mazmur pujian semesta.

Keesokkan harinya, ketika fajar mulai mekar menyelimuti jagat, kala itu jam 06.30, terasa getaran MC HP, seakan membangunkan aku dari pembaringan. Aku perlahan mengangkat HP disamping lalu mengamatinya, terbaca panggilan tak terjawab. Aku ingin mencaritahu siapa gerangan itu. Kubuka hanya tercatat nomor pribadi. Aku bertanya dalam hatiku. Betulkah, kamu muridku dari seberang sana? Aku mengamati sekali lagi HP. Lampu berwarna ungu disampingnya mengisyaratkan ada SMS yang masuk. Sambil meluruskan posisi badan, aku membuka dan membacanya. Ternyata ada dua pesan pendek dari nomor yang berbeda. Dari nomor: 081636383XX: “Pak mulai hari ini, Angel kerja jaga wartel Flamboyan KUD, Jl. Ponogoro No. 87 Terempa Siantan”. Aku tercengang dan mengangguk-angguk begitu dalam, sambil kutatap langit biru yang begitu jauh dari balik jendelaku yang usang. Dan pada nomor berikutnya 085667041XX: “Pak, rindu ga ama kami? Sejak Pak pergi, hati kami rasa sepi. Sepi semuanya…termasuk paskah tahun ini!” Sekali lagi kurenung, teringat lagi paras Angel Laura, yang namanya sering disebut-sebut dalam suara Radio Lumen FM 96 MHz. 

Aku hanya diam seribu bahasa. Tetapi, satu hal yang pasti, biarpun selaksa seruan dan nada sedih datang dari seberang, pada akhirnya aku hanya memadukan semuanya itu dalam semangat perjalanan hidupku. Aku hanya menjerit dalam nada doaku: “Terpujilah Engkau, Tuhan, karena besar kasih setia-Mu, kami selalu berjumpa kapan dan dimana saja. Amin!” 

Kupersembahkan cerpen ini buat Angel dan teman-temannya 
Di Terempa, Air Sena, dan Mengkait - Kepulauan Anambas – Natuna. 
Dari sahabatmu 
*). al***

CERPEN


SEPENGGAL KISAH BUATMU DIULTAHMU...
oleh: Alfons Liwun
Senja kian beranjak malam, seiring dengan jarum jam di dinding teras itu. Dentuman mesin tua di bengkel melengking, seakan sedang menanjak bukit batu dihadapannya. Beberapa insan yang bekerja di situ mulai mudik, entah kemana. Bunga-bunga di tepi teras berdangdut ria, perlahan menghantar kepergian para pemudik yang keseharian beraktivitas. Dedaunan bambu bersorak-sorak seolah-olah menjemput kehadiran Rio yang sedang keluar dari panther tumpangannya. Takkala, di sudut kiri taman itu, berdiri tegak arca beato Damian, menebarkan cinta tanpa pamrinya kepada setiap tamu entah itu pengunjung maupun hadirin pada setiap kali ada pertemuan. Dalam kebisuaannya, ia menghitung-hitung para pengunjung yang datang dan pergi dari wisma itu.

“Mungkinkah Bernadett, gadis mungil berambut sebahu, yang lagi senyum imut-imutan itu berkeinginan untuk meneruskan roh beato Damian?”, geming Rio dalam benaknya. “Ah…! Tidak mungkin. Karena saat ini, dara manis itu lagi penasaran untuk menjadi seorang pejuang keadilan gender,” lanjut Rio, sambil menapaki satu demi satu tangga pendopo itu.

Suasana Puri senja itu riuh. Rio sejenak tertegun, mengamati alam sekitarnya. “Kenapa ya…, kok keadaannya lain kali!”, bisiknya kepada penjaga meja chek in tamu. “Oh…tidak, biasalah!”, respon Ria dengan secuil senyumnya. Jawab Rio hanya mengangguk-angguk. Namun, respon Ria membuatnya penuh tanya; dan untuk menepis setiap lamunan yang berbaur gender, ia mengotak-ngatik tust HP yang digenggamnya, sambil berjalan menuju kamar yang sudah disiapkan panitia.

Rio berbaring sejenak. Mencoba melemaskan saraf-saraf badan, untuk menghilangkan rasa penat karena lelah duduk dalam panther. Rio mencoba untuk membangkitkan berbagai realita hidup yang pernah dialaminya. Helai demi helai sampul kalbu terbuka. Berbagai tokoh perkasa muncul. Tokoh ‘bapa’ yang lebih banyak menguasai sanubari. Tokoh ‘ibu’ yang seharusnya lebih dekat tetapi hanya bercahaya redup. Sepenggal tanya terberesit dalam benak Rio. “Mampukah engkau mengimbangi soko guru yang masih redup?” Penggalan tanya ini terus mengiang dalam batin, dan sekaligus modal utama Rio untuk mengikuti pelatihan gender yang diselenggarakan atas kerjasama Sekpas dan JMP KWI.

Ruang itu penuh guyon dan senyum ceriah pemerhati gender. Sebuah mimpi untuk mengimbangi soko guru dalam batin Rio mulai menebar. Pasang surut menginterior nilai baru kandas pada tepian dinding sukma. Batin yang selama ini dikuasai ‘bapa’ seakan-akan surut. Sedang dalam pergulatan batin, Rio menatap gadis manis di sebelahnya yang begitu sibuk mencatat satu demi satu apa yang didengarnya. Keningnya mengkerut, pipinya memerah, rambutnya jatuh semampai di depannya, jari jemarinya gemetaran, karena kesal menjawabi perintah ‘bapa’. Pergulatannya bukan membatini namun mencatat dan mencatat demi tugas yang diberikan. “Oh…bapa, sampai kapankah engkau larut dalam hatiku?, Untunglah dia masih loyal pada ‘bapa’, “ gerutu Rio dalam benaknya. “Ia taat, setia, mungkin juga sampai mati”, guyon Rio dalam kepalanya. “Apakah kesetiaan, ketaatan dan loyalitasnya merupakan sebuah tanggungjawabnya dengan nurani yang bening?,” lanjut Rio dalam permenungannya. 

Rutinitas kegiatan pun terus mengalir. Waktunya berdiskusi. Alam Puri begitu cerah mempesona, memberikan kehangatan bagi kelompok Bernadett yang sedang asyik berdiskusi di teras depan Puri. Rio ingat betul akan teks yang diberikan tim untuk didiskusikan. Tim menginstruksikan supaya teks Kejadian 2:18-25, dibaca dan berusaha menangkap isi teks berdasarkan konteks ‘gender’. Namun apalah daya, peserta tetap mengikuti apa yang pernah mereka dengar dan diajarkan pada masa silam. Bahkan tetap berpendirian bahwa teks itu tidak boleh dibolakbalik lagi. Harus tetap seperti itu. Catatan-catatan kritis berbau “patriliniar” yang diberikan beberapa kaum pria pun ditolak. Entah kenapa, yang penting kita tetap mengikuti isi teks Kitab Suci, jawab suara terbanyak saat itu. “Tidak jadi soal, yang terpenting kita tetap maju untuk berjuang,”cetus Rio dalam benaknya. Tanda untuk kembali berkumpul pun berdering. Semua kelompok sibuk ke ruang pertemuaan itu. Suasana pleno penuh bersaudaraan. Tidak ada persoalan tajam yang ditonjolkan saat itu. Pertemuan itu, diakhiri dengan pemetaan jadwal dan rencana untuk dilaksanakan di setiap tempat kerja. 

Suasana kebersamaan ini ternyata mencapai titik kulminasi berkelanjutan. Awan gemawan yang kian berarak dari ufuk timur sana, tak pernah bertepi. Entah kemana, tapi persisnya sesuai dengan arah hembusan angin saat itu. Gumpulan awan perlahan-lahan bergerak, meninggalkan lazuardi biru yang memayungi atap wartel Palupi. Langit cerah, secerah paras Bernadet bersama sahabatnya yang sedang asyik memecahkan persoalan baru. Rio dengan gaya elegan perlahan-lahan memasuki ruangan itu. Ekspresi kebersamaan dengan saling bersalaman pun muncul. Suasana jadi lain. Problem yang dihadapi tuntas dibahas bersama. Acara kembali ditutup dengan makan bersama yang telah disiapkan. Rasa-rasanya suasana keakraban itu begitu singkat. Ya…, maklumlah hari istirahat satu-satunya dalam sepekan. Kami semua bubar ke rumah masing-masing.

Bagi Rio, masih ada banyak waktu untuk mengelilingi kota tua serumpun sebalai. Menikmati kota tua dikala rintik-rintik itu memang membahagiakan. Kesibukan lalu tintas pun berkurang. Hiruk pikuk pedagang nampak begitu mengasyikan. Pedagang kaki lima, begitu istimewa menunjukan satu wajah lama dari kelas bawah. Burung-burung walet begitu gembira melayang-layang di udara. Dalam suasana yang membahagiakan itu, Asah sahabat Rio yang mengikutinya mengajak untuk menikmati suasara TB. Gramedia.

“Ayo…bang, kita mampir dulu di toko buku itu.” Kami pun berteduh di sana. Suasana yang mempesonakan dengan banyak alternatif yang ditawarkan Gramedia, tidak membuat kami luluh untuk bertahan lama. Kami keluar lagi untuk mencari kendaraan pulang. “Mat sore… hati-hati ya dalam perjalanan,” pesan SMS dara manis dari seberang sana. “Oh…Bernardett terima kasih atas hatimu…, bisik Rio dalam permenungan menuju kota sepintu sedulang. “Memang…kamu layak jadi sahabatku,” geming Rio lagi. Dengan perhatian yang begitu mengasyikan itu, suasana hati Rio jadi lain. Bahkan bukan hanya itu saja, dalam perjalanan waktu, relasi kami tetap dibangunkan supaya tidak menghilangkan semangat perjuangan awal.

Pengalaman hidup dalam kebersamaan itu, memang sulit untuk ditinggalin. Pasti ada yang menjadi materai yang melewat dalam batin. Materai kebersamaan salah satu sisi manusiawi. Mungkinkah hal ini tetap dan terus untuk membangun kebersamaan? Ya… berjalan proses waktu dan kejujuran hati untuk mengakui. Dapatkah materai kebersamaan manusiawi menjadi sebuah kerinduan yang kian memanggil manusia untuk berjumpa dan membangun persaudaraan sejati? Bila masih mungkin, tetap akan berjumpa!

Disaat-saat kebahagian dan kegembiraan yang kita alami itu, satu fragmen hidup yang berpangkal dari kehadiran manusia adalah hari dan tanggal kelahiran. Suatu kebahagian yang menghadirkan dunia tangis dan senyum. Suatu mata rantai kebersamaan untuk disatupadukan. Suatu peristiwa yang mengagumkan untuk memperoleh perjuangan, karunia, dan berkat berlimpah dari Tuhan. Bersama kegembiraan dan kebersamaan kita, walau terbentang suatu garis linear yang panjang, tapi Rio menetap mengukir dalam sanubari akan kehadiran dan perjumpaan kita. Untuk itu semua, Rio dengan tulus ikhlas mengucapkan "SELAMAT ULANG TAHUN BERNARDETT… SEMOGA KIAN SUKSES!” (**al**)

Senin, 06 September 2010

TANGGAPAN ATAS NOVEL MAWAR MERAH


Tulisan ini, merupakan tanggapan saya atas, "Mawar Merah" sebuah novel karya Gerry Gobang. Tanggapan saya ini, saya beri judul: 
"Novel impian jadi kenyataan?"

Sekilas membaca “Mawar Merah” pikiran saya pun melalangbuana, untuk mengejar “Mawar Merah” itu, sambil bertanya pada diri saya begini. “Apa itu “Mawar Merah”, sehingga saya pun harus mengejarnya? Sesuatu yang idealiskah, “Mawar Merah”? Atau sesuatu yang nyata, ada?” 

Impian untuk mengejar cita-cita yang pernah direncanakan adalah tugas setiap orang yang telah membuat rencana dalam hidupnya. Dalam proses mewujudkan cita-cita, nyatanya bahwa ada banyak orang mencapai cita-cita yang direncanakan itu, dengan begitu mulus, tanpa halangan sedikitpun. Namun, tak bisa dipungkiri bahwa nyatanya juga, ada begitu banyak orang pun yang berjuang mewujudkan cita-citanya dengan menemukan atau menghadapi berbagai tantangan dalam hidup.

Segala rintangan dalam hidup, hanya dua fokus yaitu rintangan dari dalam (interen) dan dari luar (eksteren). Rintangan interen yaitu dari diri orang yang membuat dan yang memperjuangkan mewujudkan cita-cita itu. Sebaliknya rinrangan eksteren adalah dari luar diri, yang begitu kuat mempengaruhi pembuat rencana sehingga rencana yang dibuat anjlok - terbawa pengaruh - lupa rencana sendiri yang telah lama diperjuangkannya. 

Jika “Mawar Merah” adalah sesuatu yang ideal, yang direncanakan maka konsekuensi logisnya, “Mawar Merah” selalu diperjuangkan. Mengapa “Mawar Merah” masuk dalam prioritas yang direncanakan? Apakah karena tuntutan sebuah masa, dimana secara sosial, statusnya dihargai yang dikultuskan secara publik? Atau karena secara esensial, sebuah panggilan yang menukik dari dalam, untuk semua orang? Pertanyaan kedua ini, ternyata lemah dalam proses mewujudkan “Mawar Merah.”

Sebaliknya pertanyaan pertama, saya tempatkan menjadi sebuah catatan perlu direfleksikan, karena zaman ketika “Mawar Merah” menjadi prioritas, telah menjadi fokus teladan. Ketika zaman bergeser dengan pola pandang yang berbeda terhadap “Mawar Merah”, maka “Mawar Merah” yang diperjuangkan bisa tergantikan dengan kekuatan efek pengaruh dari luar. “Mawar Merah” yang idealis, ternyata mendapat perwujudan dalam bentuk “Mawar Merah” yang lain. 

Hemat saya, ”Mawar Merah” yang idealis yang diwujudkan dalam ”Mawar Merah” yang lain, sama-sama memiliki nilai yang sama baik secara sosial maupun secara religius. Keduanya sama baik jika dihayati dalam konteks keragaman nilai dan ditekuni dalam konteks sosial yang baru, yaitu bahwa sama-sama merupakan suatu panggilan-suatu anugerah dan tanggungjawab. 

”Mawar Merah” dalam horison holistik, menurut saya bukan terletak hanya pada buahnya. Ingat, secara kristiani, ”buah yang baik sangat tergantung dari pohonnya.” Orang hanya bisa memakai mata dan hati untuk melihat dan merasakan pesona '"Mawar Merah"  setelah itu baru mampu memberikan jawabannya, bukan dari wujud nampak pandang. tanpa punya hati untuk merasakan. Karena sesuatu riil yang nampak mata, maka bisa saja, ”sebuah panorama” yang menghadirkan bayangan semu. 

Hemat saya, ”Mawar Merah” karya Jonas Klemens Gregorius Dori Gobang, bukan sebuah karya yang idealis belaka. Karya ”Mawar Merah” yang dirilis Gerry Gobang adalah karya yang bertolak dari sebuah cita-cita yang idealis, diperjuangkannya dengan sekuat tenaga untuk mewujudkan kenyataan. Kenyataan yang riil yang diwujudkannya sekarang, merupakan sesuatu yang baru, yang dikejarnya. Secara ratio murni, memang sulit dinyatakan. Karena ada begitu banyak hal yang terkandung di dalam kenyataan riil secara sosial maupun dalam personal pribadi.

Rasanya bahwa gerakan sosial dengan berbagai entri poin lebih mendasar mempengaruhi ketimbang kekuatan pribadi. Bahkan kejernihan intelek yang menjadi ”pisau bedah” menembus cakrawala sosial yang begitu luas, rasanya tidak mampu mempertahankan keorisinalan idealisme awal. Filosofi Martin Heidegger, ”keterlemparan di tengah samudra” yang menuntut kemampuan intelek ternyata tak terjawabkan. Maka yang ada hanyalah kemampuan pribadi untuk memilah-milah fokus dan tidak sesat dalam perjuangan untuk mewujudkan ”Mawar Merah” yang nyata. Sepadan dengan Paul Ricouer yang menyatakan bahwa ”dari kumpulan angsa putih ternyata terselubung seekor angsa hitam,” saya sendiri menegasikan demikian. ”Dari sekian mawar merah, terdapat didasarnya "Mawar Hijau.” ”Mawar Hijau” inilah yang tidak nampak, tetapi ada di antara ”Mawar Merah.” ”Mawar Merah” menjadi gerbang masuk dan melalui ”Mawar Merah” itu Gerry Gobang menelusurinya dan pada entri poin (fokus hidup), Gerry memilih ”Mawar Hijau.” Artinya ”Mawar Merah” itu diwujudkannya dengan sesuatu yang baru, tidak mengubah esensi tetapi tampak dipelupuk mata, ”Mawar Hijau.” 

Teman Gerry yang baik. Inilah sedikit catatan saya. Hemat saya, bisa jauh dari apa yang diharapkan. Tetapi saya mencobanya untuk menemukan sesuatu dari ”Mawar Merah”, rilisanmu. Saya pikir, cocok untuk kalangan muda dan sekaligus untuk para pejuang penggapai ”Mawar Merah.” Biar para pejuang ”Mawar Merah”, tidak stress dan tidak putus asah ketika, ”Mawar Merah” yang menjadi cita-citanya tercapai dengan wujud ”Mawar Hijau.”

Salam,
Alfons Liwun dan Bie Lie.
From Bangka.

"Mawar Merah" 
nyata menjadi
"Mawar Hijau"

Kamis, 02 September 2010

GUA MARIA: ST. MARIA PENGANTARA SEGALA RAHMAT SUNGAILIAT



Repro: Alfons Liwun
Hantaran
“Santo Petrus heran melihat penghuni Surga begitu banyak. Dia kemudian bertanya kepada Yesus. “Yesus, kok penghuni Surga semakin banyak, padahal saya yang ditugaskan untuk menjaga pintu Surga saya terima sedikit kali yang masuk ke sini.” Yesus kemudian meminta Santo Petrus untuk mengecek kembali daftar hadir. Petrus kembali melaporkan bahwa memang saya terima sesuai dengan amal bakti umat yang telah mendukung Yesus. Mereka itulah yang saya terima untuk hidup berbahagia bersama kita disini. 

Ternyata, masuk ada jalur lain untuk masuk Surga. Jalur manakah itu? Ternyata Yesus tidak menolak jalan melalui Bunda-Nya sendiri, Bunda Maria. Petrus pun pergi bertemu Maria dan bertanya kepada Maria. ”Bu, apakah ada orang yang telah masuk Surga melalui Ibu? Dengan lantang Bunda Maria menjawab Petrus. ”Ya... mereka adalah anak-anakku, yang selalu berdoa Rosario. Mereka berdoa kepada Yesus, anakku melalui saya.”

Petrus pun tidak menjawab apa-apa. Dia kembali kepada Yesus dan berkata. ”Kalau begitu, selama ini percuma kalau diberi tugas untuk menjaga gerbang Surga ini. Ternyata masih ada jalan lain untuk masuk Surga dan hidup bahagia bersama Sang Guru. Jawab Yesus, ”Petrus, saudaraku. Tugasmu tidak sia-sia. Jalan untuk masuk Surga itu terbuka untuk semua orang yang beriman kepada saya. Kamu saya beri kunci untuk membuka pintu Surga. Soal masuk dan mengalami kebahagian adalah pilihan saya.”

Sepenggal ceritera tadi, merupakan sebuah ceritera yang dikisahkan oleh Uskup Pangkalpinang, Mgr. Hilarius Moa Nurak, SVD dalam acara pemberkatan peletakan batu pertama pembangunan Gua Maria Paroki Sungailiat. Paling kurang dengan ceritera ini  menguatkan dan mendorong umat Paroki Sungailiat yang selama ini memiliki kerinduan yang mendalam akan hadirnya gua Maria di Paroki Sungailiat. 

Alasan Hadirnya Gua Maria Paroki Sungailiat
Sesuatu yang telah lama direncanakan pasti akan ada. Apalagi rencana itu selalu dikuatkan dengan pola sosialisasi dan memohon dukungan dari banyak pihak. Bukan hanya itu, apalagi rencana itu selalu didoakan dan diminta secara terus menerus kepada Tuhan. Rencana itu akhirnya terjawab. Jawaban untuk menghadirkan Gua Maria pada moment yang tepat, yaitu sebagai hadiah yang tak terhingga 75 tahun Paroki Sungailiat (26 Juli 2009).

 Selain hadirnya gua Maria Sungailiat sebagai jawaban kerinduan umat yang selama ini mendoakan doa Rosario di depan arca Maria di dalam Gereja, juga sebagai sarana devosi bagi umat. Bahwa sebagai sarana devosi, umat Sungailiat memiliki kedekatan dengan Bunda Maria, dengan pelindung Paroki Sta. Maria Pengantara Segala Rahmat Sungailiat; juga ada banyak umat yang secara khusus masuk dalam anggota kelompok ”bentara Maria” yaitu Legio Maria. 

Pembangunan Gua Maria Sungailiat
Proses pembangunan Gua Maria dimulai dengan pengumuman kepada semua umat untuk memberikan informasi atau menggambar dena gua Maria, yang kemudian diberitahukan ke sekretariat Paroki. Hampir tiga bulan, ternyata tak ada informasi atau gambar dena yang masuk ke Paroki. Jalan lain yang ditempuh adalah koleksi photo-photo gua Maria yang umat kenal, yang selama ini dikunjung umat. Proses ini pun tidak ada informasi yang masuk ke Paroki.
Satu jalan yang ditempuh adalah proses pembangunan diserahkan kepada Panitia Pembangunan yang adalah Seksi Rencana Pembangunan dan Sosial Paroki. Di bawah pimpinan dan komando Carolus Willem Ruddy, (disapa sehari-hari Pak Wilem), proses pembangunan diterlaksana dengan mendatangkan Bruder Januar Husada, SSCC (Br. Yan, SS.CC) untuk melihat fokus penempatan arca Bunda Maria di sebelah kiri halaman rumah Katekis. Sesuai dengan petunjuk sang petunjuk, panitia mulai melaksanakan pembanunan. Maka tepat pada tanggal 27 Juli 2010, para tukang mulai mengukur dan memasang tiang pembangunan.

Mereka mulai dengan membangun tembok, latar belakang arca Maria berbentuk gua. Tukang yang didatangkan Pak Willem adalah kebanyakan adalah orang Melayu-Islam, Madura, tinggal di Kemujan Sungailiat. Hebatnya mereka membangun berdasarkan petunjuk sang panitia. Konsep-konsep yang dikumpulkan dan yang diungkapkan oleh Pak Willem, ternyata para tukang mampu untuk mengikutinya. Setelah gua diselesaikan, Pak Wilem mendatangkan arca Maria dari Serpong – Jakarta. Tinggi arca Maria lebih kurang 3 meter. Setelah selesai gua Maria, para tukang mulai menata halaman gua Maria dengan menanam rumput, bunga dan memasang pipa air. Halaman sekitarnya difinising oleh Pak Yohanes Jusman. Maka selesailah tempat devosi umat. Pembangunan Gua Maria berjalan hampir dua bulan. Umat sudah mulai pakai Gua Maria sejak 1 Oktober 2009. 

Gua Maria - Devosi kepada Bunda Maria
Bertepatan dengan penerimaan krisma sebanyak 185 orang pada tanggal 15 November 2009, Gua Maria dengan nama Sta. Maria Pengantara Segala Rahmat Sungailiat diresmikan dengan berkat oleh Mgr. Hilarius Moa Nurak, SVD. Kehadiran sebagai jawaban atas kerinduan umat Sungailiat bertahun-tahun, tidak hanya sampai disini. Kehadiran Gua Maria bermakna kalau umat selalu memanfaatkannya untuk berdoa dan devosi. Sebagai sarana doa dan devosi, terbuka untuk semua umat untuk melaksanakan peningkatan iman akan Yesus.

Dengan keterbuka kepada umum, maka jelas bahwa Gua Maria Sungailiat harus berada dalam kondisi yang bersih dan nyaman. Untuk mendukung kebersihan disekitar gua, maka kita perlu menjaganya dengan membuang sampah pada tong/kotak sampah yang disediahkan. Untuk kenyamanan, Gua Maria selalu dalam keadaan terang jika malam tiba. Lampu-lampu telah dipasang, tinggal dikontak dan hidup. Ke depan Gua Maria direncanakan akan dilengkapi dengan arca-arca jalan Salib yang cukup permanen dengan slide. Maka jika umat mau jalan salib, umat tidak perlu harus berjalan dan menitip jalan salib. Jalan Salib cukup dibantu dengan infokus dan layar data. Selain itu akan ada ruang doa permanen yang ada di sekitar gua Maria. Ini semua akan dihadirkan untuk mendukung devosi dan doa umat. 

Penutup:
Kehadiran Gua Maria Sungailiat merupakan dukungan banyak pihak baik umat Katolik internal Paroki maupun umat Katolik eksternal dari Paroki lain. Karena didukung oleh banyak pihak, maka Pastor, Suster dan DPP serta umat Paroki mengucapkan banyak terima kasih kepada banyak pihak yang telah dengan caranya masing-masing mendukung kehadiran sarana doa dan devosi ini.

Selain itu, juga dengan lapang hati, segenap umat mengucapkan terima kasih secara khusus kepada Panitia Pembangunan yang dikomando oleh Bapak Carolus Willem Ruddy yang telah terlibat secara penuh dalam proses pembangunan hingga selesai pembangunan. Mudah-mudahan ke depan, Gua Maria Sungailiat, sungguh-sungguh bermanfaat seperti ceritera Uskup Pangkalpinang dalam awal tulisan ini. Selamat memanfaatkan Gua Maria. ***

Jumat, 27 Agustus 2010

"DALAM KEBERSAMAAN MEMBANGUN KOMUNITAS BASIS GEREJANI"


Oleh: Alfons Liwun

Han dari suku Tiong Hoa, Tiara dan Hir dari Jawa dan Markus dari Iria Jaya. Mereka adalah siswa-siswi sekolah dasar negeri. Mereka merupakan murid Yesus. Wujud nyata kemuridan mereka nampak dalam hidup kebersamaan mereka di sekolah. Bahkan Yesus yang mereka ikuti dan imani dinyatakan secara berani dengan membuat tanda salib dalam doa mereka di dalam kelas ketika setiap kali masuk dan pulang sekolah. Suatu hari, sebelum pulang sekolah Han dipanggil guru kelasnya. ”Han, bapak beri waktu selama seminggu ini untuk melunasi SPPmu. Kalau tidak, Han tidak akan mengikuti ujian,”cetus guru kelasnya. Han binggung dan nampak loyo sekali ketika bertemu dengan ketiga temannya yang telah duduk menunggunya di sebuah sudut sekolah. ”Kami siap membantumu Han, kami akan meminta bantuan dari orangtua kami,” sepakat ketiga teman Han itu. Kesepakatan ketiga teman Han ternyata tidak digubris orangtua mereka. Karena kondisi orangtua ketiga teman Han pun, lumayan sulit secara ekonomi.

Cara hidup keempat siswa yang luwes, saling menghargai dan menghormati antara satu dengan yang lain, membuat mereka saling kenal secara mendalam. Cara hidup mereka ini memunculkan ide untuk membuat Barongsai dan mementaskan untuk umum. Tiara dari Jawa membawa kain batik, Markus dari Irian Jaya membawa beberapa warna cat yang diambilnya di bengkel bapaknya, Hir dari Jawa membawa sarang burung milik abangnya dan Han dari suku Tiong Hoa menggambar dan memberikan petunjuk untuk bagaimana cara membuat barongsai. Setelah jadi barongsai, Hir dan Markus dan diikuti kedua teman yang lain menuju tempat bakso yang kebetulan tempat itu ramai dikunjung orang. Di tempat Bakso itulah, barongsai dipentaskan oleh keempat anak sekolah dasar itu.

Pementasan keempat anak dengan keahliannya masing-masing telah mengubah lingkungan itu menjadi sebuah tempat yang hidup, penuh kegembiraan dan mampu menghibur masyarakat yang ada disekitarnya. Bahkan bunyian tutupan panci, pengganti gong yang ditabu Tiara mendorong penabu beduk di sebuah mesjid di dekat situ mengisi bunyian gendang dalam irama barongsai. Partisipasi masyarakat sekitarnya yang menonton pentasan barongsai dengan menyumbangkan dana kepada keempat anak; ternyata cukup untuk membantu Han melunasi SPPnya. Han akhirnya lolos dari tunggakan dan mengikuti ujian seperti anak-anak sekolah lainnya.

Kisah di atas merupakan penggalan film ”Cheng Cheng Po” yang disutradarai oleh B.W Purba Negara; yang dibuka oleh Romo Petrus Santoso, MSF pada acara rekoleksi sehari untuk para anggota DPP, ketua kelompok dan fasilitator Paroki Sungailiat di Aula Hotel Tanjung Pesona pada tanggal 10 Agustus 2010. Pemutaran film yang berdurasi ± 30-an menit itu, memukau ke-37 peserta rekoleksi yang selama ini menjadi aktivis di komunitas basisnya. Untuk menjawab keterpesonaan peserta, mantan sekretaris Uskup Semarang meminta peserta yang terbagi dalam kelompok kaum muda, kelompok keluarga muda dan kelompok keluarga tua untuk berdiskusi dan memberikan tanggapan atas isi ”Cheng Cheng Po” dan diharapkan untuk menemukan masalah apa yang terjadi dalam KBG serta memberikan solusi atas persoalan yang kini dihadapi dalam KBG.

Dalam rapat pleno peserta rekoleksi yang telah belajar bersama atas kisah Cheng Cheng Po, peserta memberikan tanggapan bahwa kisah dalam Cheng Cheng Po memunculkan nilai keprihatinan atas hidup, kepedulian kepada orang lain dalam semangat kebersamaan, berani mengambil resiko dan jeli dalam melihat peluang, daya juang untuk mengatasi masalah dalam kebersamaan yang kreatif.

Selain peserta menemukan nilai-nilai positip yang muncul, ternyata film Cheng Cheng Po yang diproduser oleh Bernadheta Rismisari dan Yosep Anggi Noen itu, membantu peserta menemukan masalah yang dihadapi peserta rekoleksi dalam kelompok basisnya, misalnya masa bodoh dari anggota komunitas mengenai pertemuan kelompok, jarak tempat pertemuan kelompok yang berjauhan, rasa kesukuan: lingkungan tidak mendukung, kendala komunikasi: berupa bahasa, kurang berani untuk sharing, kurang ada rasa semangat untuk berkumpul: karena ekonomi, pertemuan yang relatif lama dan bertele-tele, kurang kepedulian terhadap sesama, perlu regenerasi ketua kelompok apalagi banyak ketua kelompok yang telah lanjut usia, kurang promosi panggilan, keluarga yang tidak semuanya katolik, faktor usia anggota kelompok yang rata-rata tua/lansia, dan masih memilih-milih tempat yang dipakai untuk kumpul (masih pandang orang).

Dari nilai-nilai dan persoalan yang ditemukan itu, peserta juga diajak oleh pastor yang kini menjadi sekretaris Provinsial MSF regio Jawa untuk memecahkan persoalan dalam komunitas basis dalam semangat kebersamaan yang sesuai dengan semangat yang dimiliki oleh komunitas perdana (Kis. 2:41-47). Karena bagaimanapun persoalan yang dihadapi oleh anggota dalam komunitas basis, komunitas basis itu sendiri merupakan ujung tombaknya Gereja. Wajah Gereja sekarang ada di komunitas basis. Karena itu sesuai dengan dasar hukum kanonik kita, “setia anggota berusaha untuk membangun Tubuh Mistik Kristus” yang adalah tugas semua anggota Gereja untuk menyerahkan tenaganya (Kan. 210) yang  dengan “cara masing-masing” (Kan. 209) sesuai dengan situasi yang dihadapi KBG untuk mencapai tujuan yang menjadi cita-cita bersama.

Sebelum akhir rapat pleno rekoleksi, pastor yang sering disapa pastor Santoso ini, memberikan motivasi kepada para aktivis KBG Paroki Sungailiat tentang misi. Dulu, misi untuk bangsa-bangsa lain-mereka yang belum mengenal Kristus. Misi sekarang bukan hanya ini. Misi sekarang juga adalah untuk orang-orang yang sudah mengenal Kristus tetapi tidak mempraktekan cara hidup Kristus, pendampingan iman kepada yang beriman dan praktek imannya. Ini yang sekarang disebut Gereja Reevangelisasi baru. Kobarkan semangat misi dalam KBG dengan situasi KBG masing-masing. Rekoleksi ditutup dengan misa yang dipimpin oleh romo pendamping rekoleksi, Romo Petrus Santoso, MSF. **fbr**

Kamis, 26 Agustus 2010

"SIANTAN: PULAU IMPIAN"


Oleh: Alfons Liwun

Siantan adalah nama sebuah pulau besar dalam gugusan Kepulauan Anambas. Pusat Pulau Siantan berada di Tarempa, kota Kecamatan Siantan, dulu masuk dalam Kabupaten Kepulauan Natuna Propinsi Kepulauan Riau. Namun sejak tahun 2006 pusat Pulau Siantan menjadi pusat Kabupaten Kepulauan Anambas. Pusat Siantan yaitu Terempa terletak dibibit pantai Pulau Siantan. Kota tua sejak jaman Belanda dan Jepang, sebagai pusat kewardanaan Kepulauan Tujuh. Pulau Siantar sendiri dikelilingi oleh banyak pulau kecil. Mungkin inilah yang menjadi salah satu alasan Pulau Sintan menjadi ibu Kota Kabupaten Kepulauan Anambas.

Kepulauan Anambas ada beberapa pulau besar, seperti Pulau Matak, Pulau Jemaja dan Pulau Siantan sendiri. Ketiga pulau besar ini memiliki kedudukan yang sangat penting; yang besar pengaruhnya untuk pulau-pulau kecil di sekitarnya. Pulau Siantan adalah pusat Kabupaten, pusat pelabuhan Pelni dan pusat pangkalan pasukan Angkatan Laut untuk wilayah Laut Cina Selatan. Pulau Matak menjadi pusat pertambangan gas dan minyak bumi yang dikelola oleh perusahan Canoco Philips Indonesia Tbk. Sedang Pulau Jemaja dengan pusatnya di Letung, pusat Kecamatan Jemaja, tempat persinggahan kapal Pelni di tengah laut dan pusat lalu lintas laut untuk keluar masuk ke wilayah Kepulauan Anambas dan Kepulauan Natuna.

Dalam tulisan ini, saya hanya mau mengungkapkan pengalaman saya selama berkarya di Kepulauan Anambas selama akhir Februari 2001 sampai dengan akhir 2004. Dan dalam penjelasan saya selanjutnya, fokus tulisan ini lebih banyak menceriterakan selama saya berada di Pulau Siantan. Untuk pengalamaan di pulau-pulau lain, saya hanya menyentuh sedikit. Tetapi paling kurang bisa memberikan kepada kita informasi dan prospek kita untuk di masa datang.

Geografis:
Banyak ceritera penduduk di Pulau Siantan bahwa bentuk Pulau Siantan jika dipantau dari udara, Pulau Siantan berbentuk Singa yang sedang menerkam. Ceritera yang beredar dikalangan masyarakat luas ini ternyata mencerminkan suasana penduduk penghuni Pulau Siantan ini. Bahwa asal usul penduduk pulau ini berasal dari para ”lanun” atau sering diformulasikan dengan ”pulau bagi para bajak laut”. Tempoe doloe, Pulau Siantan sering menjadi tempat persinggahan bagi para lanun, karena letak dan geografis yang strategis. Terempa, kota bibir pantai, ada sebuah kampung yang disebut masyarakat setempat dengan sebutan “Kampung Teluk”. Di kiri kanan teluk itu, batu-batuan yang cukup besar yang membentuk semacam gua yang mengikuti aliran sungai hingga muara sungai. Tempat inilah menjadi tempat persembunyian dan tempat pengambilan air minum bagi para lanun.

Pulau Siantan bukan tempat yang datar. Dari kejauhan, bila kita menumpang kapal Pelni, kita bisa memandang barisan bukit yang mengelilingi sebuah gunung yang sering disebut penduduk setempat dengan nama Gunung Siantan. Barisan bukit dan gunung Siantan terlihat masih hijau sekali. Hijau karena banyak pohon yang besar. Masih hutan. Tetapi juga ada perkebunan penduduk yang ditanami dengan berbagai jenis tanaman produktif. Karena itu, Pulau Siantan dan sekitarnya masih banyak tercurah hujan dari bulan September hingga bulan April. Klimaks pencurahan hujan terjadi pada bulan Desember dan Januari. Sehingga pada bulan-bulan itu, Terempa yang adalah pusat perkotaan kecil di bibir pantai menjadi pusat pertemuan aliran air hujan dari bukit dan gunung dengan hamparan gelombang dari air laut. 

Demografis
Hikayat yang hidup di kalangan masyarakat, asal usul penduduk Pulau Siantan dan sekitarnya adalah adalah ”suku laut.” Suku Laut adalah suku yang hidup di atas permukaan air laut. Perahu adalah rumah mereka. Selain menjadi rumah juga menjadi sarana mata pencaharian mereka di laut. Maka jelas bahwa pola pikir dan pola peradaban jauh berbeda dengan penduduk di jaman sekarang.

Populasi suku laut yang menghuni di Pulau Siantan dan sekitarnya tersingkir ketika terjadi urbanisasi besar-besar pada jaman penjajahan Belanda dan Jepang. Banyak suku melayu berdatangan yang dibawa para penjajah. Menyusul etnis Tiong Hoa dari suku Hakka (Hek) dan kemudian suku-suku lain. Sedang menurut tuturan Om Johanes (penduduk setempat memanggil Om Pendek) salah seorang warga dari Flores, bahwa dia datang ke Pulau Tujuh sejak tahun 1954. Asimilasi penduduk membawa efek yang cukup berbeda. Suku Laut bergeser semakin jauh. Tempat persinggahan terakhir bagi suku Laut di Pulau Mengkait. Nama Mengkait inilah yang dipersonifikasikan sebagai wajah suku laut yang masih tersisa dan terkait di Pulau berjendela Batu Kembar di tengah laut Pulau Mengkait.

Dari Pulau Mengkait, suku Laut bersinar lagi untuk mencari tempat singgahan dan berasimilasi di Pulau Matak, tepatnya di Dusun Air Sena. Di kedua tempat ini, perahu yang dulunya menjadi rumah, kini hanya menjadi alat pencaharian ikan dan kekayaan laut lainnya. Rumah mereka dibangun di atas permukaan air laut /di bibir pantai dengan bentuk rumah panggung. Walaupun kelihatan Suku Laut itu berkembang, tetapi sangat lamban, karena populasi sedikit dan tersingkir oleh suku yang mayoritas yaitu suku melayu.

Suku Melayu yang menghuni Pulau Siantan dan pulau-pulau sekitarnya jelas berasal dari Melayu Malaysia. Ini merupakan suatu prediksi umum karena bahasa Indonesia-Melayu Malaysia begitu kentara. Selain dari segi linguistik (bahasa), bisa dilihat dari sisi adat istiadat. Suku Melayu menjadi mayoritas. Mereka berkembang selain menempati posisi di struktur kepemerintahan juga menyusup sampai ke daerah bukit dan pedalaman yang rata-rata bermata pencaharian petani, nelayani, pedagang, pegawai baik di kantor pemerintah maupun di sekolah-sekolah.

Edukasi
Penduduk di Pulau Siantan masih jauh dari sistem dan pengelolaan pendidikan yang memadai. Bisa saja karena jauh dari pusat propinsi dan ibu kota negara. Memang, kalau diukur soal bisa atau tidak penduduk Siantan dan sekitarnya memiliki kemampuan membaca, boleh terbilang bisa. Namun jika diukur ratio pengetahuan, hemat saya masih jauh dari harapan. Karena rata-rata orang yang bekerja di perkantoran pemerintah dan sekolah-sekolah, kebanyakan orang yang berasal dari luar daerah, seperti Tanjungpinang, Batam, Sumatera dan Jawa.
Masyarakat Pulau Siantan dan sekitarnya bisa membaca berkat sekolah Tiong Hoa, yang sekarang menjadi SMP Negeri 2 Siantan. Sebuah sekolah lama sejak dari jaman penjajahan Belanda dan Jepang.

Sekarang, di Pulau Siantan dan sekitarnya sudah banyak sekolah dasar milik pemerintah dan di Pulau Siantan sendiri hanya dua sekolah menengah pertama(negeri 1 dan 2)  (SMP) dan satu sekolah menengah atas negeri (SMAN). Kehadiran SMP dan SMA ini dirasakan sangat membantu penduduk. Kalau tidak ada sekolah semacam ini, pasti orangtua akan mengirimkan anak-anak untuk sekolah di Tanjungpinang, Batam, Pekan Baru dan Jawa. Kehadiran SMP dan SMA ini telah mencetak banyak anak dari Kepulauan Anambas yang melanjutkan pendidikan tinggi di Tanjungpinang, Batam, Sumatera dan Jawa. Ini sesuatu yang luar biasa. Hemat saya pada 2015, banyak anak Kepulauan Anambas akan memiliki posisi yang amat penting untuk pemerintahan Kabupaten Kepulauan Anambas apalagi didukung dengan adanya UU Otonomi Daerah. Mengapa tidak? Banyak kekayaan alam yang bisa dimanfaatkan pemerintah dan masyarakat untuk peluang pendidikan bagi anak-anak Kepulauan Anambas.

Harta Karun – pendukung Ekonomi masyarakat
Hampir di semua pulau Kabupaten Kepulauan Anambass, kelihatannya masih hijau karena hutannya masih banyak. Selain itu, hampir seluruh perkebunan masyarakat Siantan ditanami dengan berbagai jenis pohon-pohonan yang menghasilkan buah. Ada beberapa jenis tanaman besar yang menjadi tanaman populer dan sungguh-sungguh menghasilkan komoditi penduduk adalah tanaman cengkeh, kelapa, durian, dan duku. Selain sumber komoditi penduduk Pulau Siantan dan sekitarnya yang telah disebutkan tadi, juga tanaman kecil dari perkebunan berupa nanas, ubi, cabe dan padi yang ditanam di Kampung Batu Tambun dan sekitarnya.

Selain harta karun berupa hasil perkebunan dan pertanian, masih lagi harta karun yang ada di laut berupa ikan dan hewan laut lainnya. Ada banyak ikan yang berkualitas tinggi yang laku di pasaran Singapura, Malaysia, Hongkong, Thailan dan Vietnam. Ada dua jenis ikan yang sering dipelihara masyarakat adalah ikan napoleon dan krapu. Selain kedua jenis ikan ini masih lagi yang juga tidak kalah kualitas adalah jenis teripang/gamad, lovster/udang, akar bahar, sirip hiu putih, jenis siput, tenggiring, kerisi, dan berbagai jenis ikan-ikan karang.

Hasil laut yang dicari penduduk Pulau Siantan dan sekitarnya ini selain dijual juga menjadi konsumsi orang baik sudah diolah dalam bentuk kerupuk dan berbagai jenis olahan lain. Maka jelas, tingkat kualitas orang di pulau-pulau itu sangat tinggi. Hanya sekarang, tinggal bagaimana anak-anak Kepulauan Anambas itu didorong untuk masuk dalam pendidikan yang lebih lanjut. Maka harta karun yang termahal yang merupakan modal dasar daerah yaitu sumber daya manusia.

Harta karun alam yang belum dikelola secara maksimal di Pulau Siantan adalah air terjun Siantan. Keberadaan air terjun berjarak belasan km dari Terempa. Kalau melalui kapal motor/pompong, alat transportasi laut lebih kurang satu setengah jam. Jika memakai speedbod, kapal cepat lebih kurang 45 menit. Air terjun Siantan amat besar. Mata airnya di gunung Siantan dan mengalir sampai ke laut. Airnya putih bersih dan jernih. Garis tengah air terjun lebih kurang 10 meter. Dari air terjun Siantan bisa diola menjadi pembangkit listrik tenaga air (PLTA), irigasi pertanian, bisa menjadi sumber air bersih pengganti air mineral aqua di pasar Terempa dan bisa ditata untuk menjadi obyek pariwisata. Kekayaan alam yang memberikan peluang usaha baik bagi pemerintah maupun para pengusaha Kabupaten Anambas ini hingga sekrang belum diinvestasi dan dikelola secara baik.

Satu lagi harta karun yang begitu populis ceritera dari para penatua penduduk di Pulau Siantan adalah ”harta karun peninggalan jaman dulu.” Harta karun ini ada karena bersangkutpautan dengan letak pulau Siantan dan sekitarnya yang strategis dalam zona internasional, yaitu antara pulau-pulau Timur Jauh. Dalam hubungan perdagangan jaman dulu, banyak kapal dagang baik dari wilayah Cina, Jepang, Malaysia, Brunai Darusalam, Hongkong, Thailan dan Vietnam serta Persia – Arab yang lewati perairan Laut Cina Selatan. Dan ”bajak laut” yang hadir dalam dekade itu telah merampas dan menyembunyikan harta harun di sekitar Pulau Siantan. Maka Pulau Siantan dan sekitarnya serta di kedalaman Laut Cina Selatan masih berjuta-juta harta karun yang masih harus dicari dan diambil untuk kepentingan bangsa dan negara ini.

Sosio Budaya
Populasi mayoritas penduduk Pulau Siantan dan sekitarnya adalah suku Melayu, jelas bahwa mereka beragama Islam dengan budaza khas Melayu. Dalam situasi sosial, jelas bahwa mereka hampir menguasai seluruh bidang kehidupan masyarakat terkecuali bidang perdagangan yang dipegang oleh etnis Tiong Hoa.

Dalam relasi hidup antar masyarakat, boleh terbilang bagus. Karena Kota Kabupaten itu kecil maka terlihat bahwa mereka saling kenal. Selama saya berada di Kepulauan Anambas, tidak ada persoalan dalam hidup sosial. Persoalan yang sering menjadi masalah adalah para pendatang dari luar negeri seperti para nelayan Thailan dan Vietnam yang masuk dan mencuri ikan di perairan Laut Cina Selatan. Mereka ini ditangkap oleh Angkatan Laut dan ditawan di Terempa.

Selain berbudaya khas Melayu, juga etnis Tiong Hoa yang memegang perekonomian masyarakat membawa serta budaya leluhur mereka. Maka di Terempa khususnya di Tanjung Baru, terdapat sebuah Vihara Budha dan Kong Fu Chu yang mendukung hidup iman mereka.

Walaupun di Pulau Siantan dan sekitarnya terdapat beberapa suku, namun jarang terdengar terjadi kawin mawin antar etnis.

Sosio Religius:
Di Pulau Sintan dan sekitarnya, mayoritas agama Islam. Mereka memiliki sebuah mesjid yang cukup besar di perbatasan antara Kampung Teluk dan Kampung Bakar Batu. Sedang di Batu Tambun dan pulau-pulau kecil sekitarnya terdapat banyak surau/langgar.

Selain agama Islam juga ada agama Katolik, Kristen, Budha dan Kong Fu Chu. Untuk kristen terdapat dua buah gereja kristen yaitu di dekat SMP Negeri 2 dan di tepi Jalan Kampung Baru menuju Batu Tambun. Sedangkan untuk Katolik terdapat tiga buah Gereja. Di Terempa Gereja Katolik di Kampung Baru dengan tiga tempat yang berbasis Katolik yaitu Kampung Baru, Kampung Teluk, dan Kampung Tanjung Batu. Dua Gereja Katolik yang lain terdapat di Pulau Mengkait dan di Dusun Air Sena, Pulau Matak.

Dicatat secara khusus di sini bahwa pemeluk agama Katolik adalah penduduk setempat yaitu dari etnis Tiong Hoa dan suku Laut. Menurut tuturan Om Johanes (Om Pendek), Katolik berada di Pulau Tujuh karena ada perantauan orang Maumere – Flores. Mereka kemudian menikah dengan penduduk setempat dan menetap di beberapa tempat seperti di Letung, Mengkait, Air Sena dan Terempa. Walaupun menetap di beberapa tempat tadi, tetapi dalam perayaan-perayaan besar Gereja, mereka berkumpul di Gereja Katolik Terempa, yang dibangun pada tahun 1972 (bdk. buku Sejarah Gereja Indonesia II, hal. 302).

Sedang untuk agama Budha dan Kong Fu Chu, mereka punya satu tempat ibadat di Terempa khususnya di Kampung Tanjung-Batu Balai. Tempat ibadat mereka ini cukup bagus dan strategis, karena berada di tempat yang tinggi dan dibangun di atas batu besar, menghadap ke Laut Cina Selatan.

Dalam setiap perayaan besar agama masing-masing, hemat saya mereka saling mendukung. Artinya mereka saling memberikan ruang dan waktu serta peluang untuk menjalankan ibadat. Syukur bahwa tidak terjadi apa-apa. Relasi antar pemeluk agama terlihat begitu rukun.

Kompendium:
Tulisan yang disampaikan ini berupa informasi yang saya alami selama berada di Pulau Siantan dan sekitarnya. Rasanya bahwa kalau berada di wilayah ini, ”terasa begitu terasing”, baik secara informasi maupun transportasi. Padahal, wilayah ini amat-sangat potensial dari segi harta karun.

Karena itu, tulisan ini membantu siapa saja, untuk menoleh ke wilayah ini, agar program pembagunan untuk wilayah-wilayah RI perbatas cukup diperhatikan dan mendapat prioritas yang cukup. Sayang, kalau wilayah yang potensial ini tidak ditataola dengan maksimal.

Satu hal yang harus diprioritas dalam pembangunan adalah ”membuka jejaringan melalui sarana prasarana transportasi baik laut maupun udara untuk akses horison dari dalam keluar atau sebaliknya. Kapal Pelni yang selama ini beroperasi ke wilayah ini tidak terlalu cukup. Padahal kebutuhan untuk keluar-masuk cukup banyak dimanfaatkan masyarakat setempat dan para pengusaha yang mau berinvestasi di wlayah ini.

Akhirnya, saya ucapkan terima kasih atas kebaikan dan toleran untuk banyak masyarakat yang ada di Pulau Siantan dan sekitarnya. ***


Kamis, 29 Juli 2010

BOPENG WAJAH BANGKA

oleh: Alfons Liwun
Bangka dalam peta nasional.Posisinya strategis yaitu antara negara-negara tetangga seperti Singapura, Malaysia, Brunai Darussalam, Muangthai. Posisi ini membuat Bangka menjadi daerah yang cocok untuk pariwisata. Tulisan atas komentar beberapa foto di bawah ini sebenarnya mau menampilkan wajah Bangka yang tidak ramah lingkungan.

Bangka Pulau Timah. Itulah yang sering disebut banyak orang. Dan memang benar! Tapi coba perhatikan wajah pulau ini kalau tambang timah semakin marak mengakibatkan wajah Bangka "Bopeng" yang hampir tidak bisa diperbaiki lagi. Bahkan kalau perbaiki menjadi kesulitan.

 Bekas tambang timah, menjadi kolong yang seakan-akan menjadi "danau buatan" Timah telah diambil, tinggal kolong yang hampir tidak terawat.

 Rumah/kamp tambang timah yang ada di samping kolong. Sebuah pemandangan yang menghiasi wajah bopeng pulau Timah.
Alat berat yang membedah wajah pulau Bangka. Hanya menggali tapi sulit untuk revitalisasi. Hanya mengoperasi tapi tidak mampu menjahit kembali.
Tanah yang ditinggalkan seperti inilah. Tidak ada lagi kehidupaan baru. Hanya mengandalkan proses alamiah. Tanah tersobek, bio-hayati mati. Mau apakah wajah Bangka ini? Mudah-mudahan ke depan semua warga memperhatikannya dan merevitalisasi lagi. Bangunlah bumi selaras lingkungan dan ramah kehidupan

Wajah bopeng Bangka hanya bisa diperbaiki lagi oleh para penghuninya. Jangan pernah masa bodoh dengan lingkungan. Pemanasan global semakin menjadi, lapisan O3 (ozon) semakin lebar, dan hayati di bumi semakin tidak nyaman. Ayo...tanamlah pohon sebanyak-banyaknya baik di rumah, di tempat kerja maupun di kebun sendiri. Tanaman sengon, salah satu tanaman yang cocok untuk kondisi tanah di Pulau Bangka. Mau buktikan silakan. Saya sudah buktikan di kebun saya. **