Senin, 25 Juni 2012

”ITAE MISSA EST"


Gereja St. Agustinus - Kawaliwu Keuskupan Larantuka Flores
Judul di atas boleh diterjemahkan secara harafiah, ”Pergilah, kamu diutus.” Persis kita dengar dalam Injil Matius hari minggu (2-3 Juni 2012). Tanpa perutusan, sikap sosial kita lemah. Bisa saja dibilang kurang gaul atau kuper. Tanpa mempunyai sikap keterbukaan dengan dunia luar, ”seperti kodok di dalam tempurung.” Berteriak terus menerus tetapi tidak diketahui sumber bunyinya. Gereja dalam dirinya sendiri, tanpa terbuka dengan dunia luar, Gereja sebatas altar. Gereja lengkap jika altar dan pasar, bertautan secara koheren-kompherensif. Tautan secara erat-tak terpisahkan.

Karena itu, perayaan kebersamaan, yaitu Ekaristi mewujudkan persatuan dengan Allah Tritunggal Mahakudus dan mempunyai nilai ”Itae Missa Est.” Pergilah, kamu diutus.” Itu artinya bahwa setelah kita bersatu dengan Allah Tritunggal, kita bertemu dengan Allah, kita diharapkan membawa damai sukacita bersama Allah tadi dalam kehidupan nyata kita. Almahrum, Rm. Mangun Wijaya menyebutnya dengan Gereja yang hidup jika dirayakan dalam kebersamaan sekeliling altar dan dalam kebersamaan pula Gereja hidup di dalam dunia nyata (pasar).

Nilai perutusan itu oleh Paulus merupakan makna terdalam dari apa yang disebutnya dalam bacaan kedua dalam surat kepada umat di Roma (Rm. 8:14-17), sebagai ”anak-anak Allah.” Sebagai anak-anak Allah, didalam dirinya, Allah hidup dan Allah sendiri memakainya sebagai utusan-Nya di tengah dunia.

Bie Lie ngobrol bersama pengurus Kopdit Obor Mas Maumere Flores
Sebagai utusan-Nya, Kitab Ulangan (4: 32—34, 39—40) memberikan kekuatan bagi kita bahwa orang beriman perlu menyadari dan memahami dirinya kapan dan dimanapun ia ada Allah adalah pimpinan-Nya. Allah hidup didalam dirinya, dalam untung dan malang, dalam suka dan duka. Karena itu, entah  dalam kecemasan atau dalam kegembiraan, Allah adalah Allah yang hidup, yang mendorong umat-Nya untuk tetap hidup dalam persatuan dengan Allah Tritunggal Mahakudus. Allah yang telah hidup dalam diri kita – komuni suci yang kita terima, menyertai dan hadir nyata dalam kehidupan nyata kita setiap hari. Communio dengan Allah, nyata dalam communio dengan sesama. Makna communio ini dinyatakan secara real dalam hidup kemasyarakatan kita. Dengan begitu, kita melakukan perinta Yesus, ”Itae Misa Est.” ***

Jumat, 22 Juni 2012

"AKU ADALAH HAMBA ALLAH"


Renungan Minggu 23-24 Juni 2012

Pemandangan dari Terempa ke Air Sena Kep. Anambas Kep. Riau
Nabi Yesaya dalam Yes. 49: 1- 6, menceriterakan bahwa sejak dalam kandungan ibunya, ia telah dipanggil Allah. Panggilan Allah atas dirinya dimaksudkan untuk sebagai seorang hamba Allah, yaitu nabi Allah. Seorang hamba Tuhan, dipanggil Tuhan mewartakan kabar sukacita kepada semua orang. Yesaya tampil kehadapan Israel dengan banyak keraguan. Bahwa ia masih kecil, tidak mampu berbicara, dan takut dengan situasi bangsanya saat itu.

Namun dalam situasi demikian, Allah yang memanggilnya itu senantiasa mendampinginya. Sehingga, ia sendiri dalam pewartaannya, tanpa sadar laksana ”anak panah yang runcing” yang mampu menembus keresahan hati umatnya dan mendorong umatnya untuk keluar dari belenggu hidup mereka. Dalam situasi demikian, banyak godaan dan tantangan, ia sendiri dilindungi Tuhan seperti anak panah ada didalam kotaknya. Dalam keadaan yang maha berat yang menghadapi situasi umat yang tegar tengkuk, Yesaya mau melayani Tuhan dengan banyak kekurang dalam dirinya.

Pemuda Kawaliwu di Pantai Sinar Hading Kawaliwu
Seperti Nabi Yesaya, Para rasul pun dipanggil Yesus untuk menjadi hamba-Nya. Mereka dipanggil dari situasi keluarga dan latar belakang budaya yang berbeda. Dalam perbedaan itu, mereka tetap setia dan bersatu dengan Kristus Yesus. Seperti Daud keturunan Isa, (Kis. 13: 22-26) mereka pun menyatakan diri bahwa mereka adalah saksi Yesus. Dan karena itu pewartaan mereka adalah pewartaan Kabar Gembira dari Allah.

Penginjil Lukas, (Luk. 1: 57-66,80), melukiskan secara eksplisit, Yohanes Pembaptis sebagai nabi terakhir Perjanjian Lama dan mengawali Perjanjian Baru. Bukan hanya itu, ia adalah seorang hamba Allah. Sebagai seorang hamba Allah, ia meninggalkan keluarganya dan pergi ke padang gurun.

Ia pergi ke padang gurun untuk menyiapkan dirinya, untuk menjadi seorang hamba Allah. Di padang gurun, ia mengikuti sekolah iman dari Allah. Di padang gurun, ia melatih pastoralnya untuk bagaimana berbicara dan menampilkan diri di depan umum. Maka dengan semangat dari perjuangannya di padang gurun, Yohanes muncul tema ”pertobatan” yang diusunginya ketika ia berkatekese dengan orang di sungai Yordan. "Bertobatlah...berilah dirimu dibaptis...Allah akan mengampuni dosamu." Tobatnya, pembaharuan hidup dari hidup usang menjadi hidup baru. Dan hidup baru yang dikehendakinya itu adalah hidup dalam 'Roh Kudus dan air" yang diperbaharui oleh Yesus.

Seperti Yesaya, para rasul, dan Yohanes Pemandi, kita pun telah mengambil tugas dari Yesus untuk menjadi seorang nabi, hamba Allah. Bersedia mewartakan Kabar Gembira kepada sesama kita di dalam masyarakat yang lebih luas. Beranikah kita menjadi hamba Allah dengan harta yang terpendam dalam diri kita? ***

Sabtu, 26 Mei 2012

HIDUPLAH DALAM ROH


Yang dimaksudkan dengan Roh disini adalah ’Roh Kudus, Roh Kebenaran’, Roh Penghibur, yang kita dengar dalam bacaan-bacaan suci pada Hari Raya Pentekosta. Roh Kudus berlawanan dengan roh jahat, setan, iblis, atau dalam bahasa Rasul Paulus ”perbuatan daging.”

Hiduplah menurut Roh.” Itu berarti hidup menurut daya karya Roh Kudus, Roh Kebenaran. Karena Roh Kudus itu telah ada didalam diri setiap orang beriman yang sudah dibaptis dan diteguhkan oleh penguatan atau krisma.
Roh Kudus mempersatukannya

Bagaimana hidup menurut Roh Kudus, Roh Kebenaran, Roh Penghibur? Yohanes memberikan penegasan kepada kita bahwa, Bapa di Surga telah mengutus Roh Penghibur ke dalam dunia untuk mendampingi para murid Yesus, untuk memberikan kesaksian. Kesaksian yang dimaksud itu, dimaknai oleh Paulus, rasul para bangsa dalam bacaan kedua yaitu supaya setiap orang yang percaya kepada Kristus hidup dalam kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri, tidak berbuat cabul, tidak hawa napsu, tidak menyembah berhala, tidak mabuk dan pesta pora.

Keutamaan-keutamaan yang ditegaskan rasul Paulus diatas hanya mampu dijalankan dalam hidup orang kristiani jika setiap orang yang percaya kepada Kristus, didalam dirinya dituntun oleh Roh Kebenaran. Didalam diri orang yang percaya itu, membuka hatinya, membiarkan Roh Kudus bekerja dengan lebih leluasa, biarlah Roh Kebenaran mengubah cara hidup kita menuju kebenaran dalam Roh.

Hidup menurut Roh, memaknainya dengan cara hidup yang nyata, bukan hanya dengan kata-kata. Artinya, kata-kata diwujudnyatakan antar sesama. Kata-kata dieksplisitkan didalam saling membantu satu sama lain. Dengan cara demikian, kita yang adalah murid-murid Yesus, sungguh-sungguh menghidupkan daya karya Roh Kudus di dalam dunia. Begitu cara kita bersaksi.**

Senin, 21 Mei 2012

MEMBANGUN KEBERSAMAAN-KEADABAN CINTA

Membangun sebuah jati diri yang kokoh dan kuat ditengah arus globalisasi dewasa ini, rasanya sulit sekali. Hampir semua unsur yang dipandang mapan dan bertahun-tahun tahan uji dalam badai zaman selama ini, seakan-akan mulai rontok dan pelahan-lahan roboh! Lalau pertanyaannya, apa yang menjadi dasar untuk sebuah kepribadian yang kokoh dan kuat untuk hidup era sekarang ini?

Dalam buku Alexander Paulus yang berjudul "Success in Life Through Positive Words", mengatakan "pikiran dan kata-kata" sangat mempengaruhi paradigma baru dewasa ini. Dengan mengutip pokok pikiran William James, Paulus mau mengatakan bahwa sebuah ide atau pikiran yang muncul akan melahirkan suatu perasaan atau emosi atas apa yang dipikirkan dan baru kemudian perilaku. Jadi suatu perkataan sebagai akibat dari perasaan atau emosi. Emosi menggerakkan perasaan dan dari perasaan yang dinyatakan dalam tindakan, kita menemukan perilaku.

Jadi, jika kita mau membangun sebuah jadi diri yang kokoh dan kuat dewasa ini, ingat dimulai dari pikiran, emosi dan berperilaku. Jika tiga hal pokok ini selalu disadari, maka jati diri yang ada, yang melekat pada diri seseorang akan selalu disadarinya selama dia bergaul dengan sesama.

Lihatlah serumpun bambu, mereka kokoh dan kuat karena mereka berdiri bersama, berdekatan satu sama lain dan saling menguatkan jika ada bahaya laten dari luar diri mereka. Pikiran, emosi, dan berperilaku hendaknya menjadi satu rantai yang bertautan erat satu sama lain. Kebersatuan didalam satu tubuh, menguatkan diri seseorang. Dengan kuat dan kokoh, seseorang itu memberikan perilaku yang baik kepada sesamanya. Dengan begitu, kita telah membangun sebuah keadaban baru, yaitu keadaban cinta. ***

Selasa, 03 April 2012

SEMBAH TUAN MA DAN TUAN ANNA MENJELANG PROSESI JUMAT AGUNG DI KOTA REINHA LARANTUKA

Pagi itu pukul 08.00 waktu kota Larantuka, Flores Timur, NTT. Dari kota Rewido Sarotari, dengan sepeda motor menuju Katedral Reinha Rosari. Kami singgah sebentar untuk mengikuti Jalan Salib dan sekaligus bertemu dengan Rm. Noeldy Koten, teman sekelas dulu di Ritapiret dan SFTK Ledalero.

Setelah jalan salib, kami duduk ngobrol di pastoran, lalu kami mencari lilin dan baju serta DVD lagu2 rohani yang akan kami bawa kembali ke Bangka.Kami belanja sebentar lalu berjalan kaki menuju Lokea, kapel tuan anna. 
Kota Larantuka terasa sepi. Kendaraan dalam kota tidak berjalan lagi. Akses transportasi dinonaktifkan. Dimana-mana orang berjalan kaki, dari kapel tuan ma ke kapel tuan anna, atau sebaliknya. Walau panas, tetapi tidak mengurung niat banyak peziarah untuk istirahat. Banyak tamu dan rombongan dari luar keluar masuk kapel tuan ma dan tuan anna untuk mempersembahkan niat dan doa-doa mereka. 

Suasana itu hening dan terasa sunyi. Hening karena aktivitas orang tanpa suara. Hanya didalam kapel terdengar lagu-lagu rohani mengiringi doa-doa umat dan peziarah. Bukan hanya itu, hening karena, hari itu Jumaat Agung. Kebiasaan yang bertahun-tahun yang dialami umat Katolik Larantuka, jika mau merayakan Jumaat Agung. Sunyi karena aktivitas umat tidak seperti biasa. Umat dan peziarah dari luar, hanya berjalan kaki di siang bolong itu, untuk berdoa dan merenungkan perjalanan spiiritualitas hidupnya sebagai murid Kristus.

Lebih kurang pukul 12.30, kami kembali ke kota Rewido. Kami istirahat dan makan siang. Setelah itu kami kembali ke kapel San Juan untuk ikut prosesi laut. Banyak motor laut atau kapal laut dan sampan (berok) telah siap untuk ditumpangi oleh siapa saja yang mau ikut ziarah laut. Bahkan siang itu, jika ada kapal besar yang ada di pelabuhan kota Larantuka dimohon untuk ikut ziarah laut. Walau kapal sudah banyak untuk ikut ziarah, namun tidak sebanding dengan banyak umat yang datang. Karena itu banyak umat juga yang lewat darat dan menunggu di pinggir pantai, termasuk pelabuhan Larantuka.Siang itu panas sekali, tetapi tidak mematahkan semangat umat untuk ikut dan berziarah.

Ziarah menjelang prosesi Jumat Agung di Kota Larantuka, bukan aktivitas iman yang baru. Namun merupakan suatu ziarah iman yang sudah berabad-abada lama. Tahun 2010, genap 500 tahun, sejak zaman portugis masuk Kota Larantuk, 1510.

Ziarah laut, dari pantai kota Rewido menuju pantai use, kapel tuan anna. Ziarah laut, mengingatkan umat beriman, bahwa Allah yang membebaskan umat-Nya dari perbudakkan, pulang ke tanah terjanji melalui Laut Merah.
Di dalam proses perjalanan itu, umat yang berziarah ikut berdoa dan mengumandangkan lagu-lagu rohani khas Larantuka.

Ziarah Laut akhirnya mempertemukan iman yang terdalam yaitu bersama tuan ma dan tuan anna mengikuti kisah sengsara Yesus Kristus, Sang Juruslamat pada penderitaan-Nya menuju Kalvari. Ziarah hidup kita pun pada akhirnya bersatu dengan Sang Guru Ilahi, Yesus Kristus mengalami firdaus yang bahagia bersama dengan Allah Bapa. ***

Kamis, 29 Maret 2012

JADWAL MISA TRI HARI SUCI 2012 PAROKI SUNGAILIAT KEUSKUPAN PANGKALPINANG


Kamis Putih           : Kamis, 5 April 2012.
Waktu Misa               : Pukul 18.00 - 21.00 WIB.
Jadwal adorasi per KBG akan dibaca di papan pengumuman di depan gereja paroki.
Jumat Agung           : Jumat, 6 April 2012.
Waktu Misa               : Pukul 15.00 - 18.00 WIB.

Malam Paskah       : Sabtu, 7 April 2012.
Waktu Misa              : Pukul 19.00 - 21.00 WIB.

Minggu Paskah     : Minggu, 8 April 2012.
Waktu Misa               : Pukul 07.45 - 10.00 WIB.

SELAMAT PASKAH

Senin, 26 Maret 2012

PENGURUS DAN STAFF KOPDIT KABARI KE PANTAI RAMBAK

Pantai Rambak terdapat di Rambak, Kabupaten Sungailiat, Bangka, Propinsi Kepulauan Bangka Balitung. Pantai Rambak, obyek wisata baru yang akhir-akhir ini muncul ke publik. Pantai yang berpasir putih dengan panjang hampir belasan kilo meter ini mengundang banyak wisatawan lokal untuk tiap minggu bertandan ke pantai itu.

Tidak heran, ketika libur Nyepi, (23/3/2012), pengurus dan staff  Kopdit Kabari pergi ke pantai itu untuk membuang suntuk dari rutinitas setiap hari dan membangkitkan semangat baru untuk optimis bekerja di dalam lingkungan Kabari Pangkalpinang.

Bukan hanya pengurus dan staff saja. Tapi bagi pengurus dan staff yang sudah berkeluarga, diharapkan membawa keluarganya. Dan karena itu, terlihat di halaman Kopdit sebelum pergi ke pantai, ada beberapa keluarga dari pengurus dan staff hadir untuk mengikuti liburan itu.

Siang itu, terasa panas sekali. Apalagi ketika berada di tepi pantai. Panas matahari yang menyenyat dan ditambah lagi panas yang terpantul dari butiran pasir-pasir putih. Walau demikian, para pemanggang ikan yang berada di bawah pohon pandan itu, bertahan dan tetap semangat bahkan tak terasa panas lagi karena gurauan yang dimunculkan oleh berapa orang begitu lucu, seakan-akan menghilangkan sengatan sinar mentari.

Sedang para ibu dan beberapa bapak memanggang ikan, Om Pendi, menebarkan pukat di pesir pantai Rambak. Om Pendi yang sehari-hari sebagai satpam Kopdit itu berharap, agar hasil pukatnya dapat menyumbang ikan atau sotong satu atau dua ekor untuk lauk siang itu. Namun, harapan itu pupus, karena telah membuang tenaga dan waktu, tetapi seekor pun tidak dapat. Maka spirit yang harus kita katakan kepada om Pendi, ”Bertolaklah lebih ke dalam lagi”, karena ikan atau sotong pasti ada di laut yang dalam. Laut yang dangkal itu, tidak ada ikan atau sotong lagi. Sebab TI apung adalah penyebab, pengusiran ikan dan sotong. IT apung, perusak ekosistem tepi pantai dan pantai itu sendiri.

Memukat tidak selalu dapat. Tidak mendapat ikan atau sotong, siang itu, bukan berarti makan siang tidak ada lauk. Tetap ada lauk ikan tenggiring, kerisi, jebung dan sotong yang dibeli di pasar pagi Pangkalpinang oleh Novi, seorang pengurus yang dipercayakan untuk mengurus lauk makan siang di Pantai Rambak bagi pengurus dan staff Kabari.

Jam makan siang 14.15. Pencinta Kabari, sibuk mencari tempat duduk untuk menikmati hidangan makan siang. Ada yang di dalam pondok yang disewa, ada juga di bawah pohon-pohon yang ada di sekitar pondok. Tidak ada restoran di pantai itu. Yang ada hanya pondok-pondok sederhana dengan fasilitas serba kayu yang bisa dipakai untuk tempat duduk. Pondok-pondok itu, buatan satu atau dua keluarga masyarakat Rambak, untuk mencari sepeser ketika hari minggu atau hari libur tiba. Walau demikian, banyak orang berbondong-bondong ke pantai itu untuk menikmati panorama pantai yang indah nan pesona serta mandi di laut yang lumayan bersih dari limbah industri domestik.

Setelah santap siang, terlihat ada beberapa anggota yang mandi. Mandi, bukan hanya karena menikmati laut yang masih jernih, tapi mungkin lebih dari itu mendinginkan kulit yang berjam-jam tersengat mentari di siang bolong itu. Mandi, tak terbilas. Karena serba terbatas. Kalau bilas, sebotol air biasa bayar dua ribu rupiah, kalau mau butuh air yang banyak satu jerigent, dengan harga 15 ribu rupiah. Maka jika anda punya kesempatan ke Pantai Rambak, siaplah ”payung” sebelum hujan.

Setelah mandi, para pengurus dan staff mengikuti beberapa permainan yang disiapkan oleh Novi dan Mumui, Instruktur permainan. Permainan, simbol kebersamaan. Karena di dalam permainan itu, banyak pengurus dan staff serta keluarga yang ikut berpartisipasi dalam permainan itu. Diakhir permainan itu, ada lomba lari cepat 20-an meter. Pak Widodo, salah satu peserta yang lumayan gemuk, yang telah berjuang sungguh-sungguh lari, ya...akhirnya menerima kekalahannya. Karena, mana bisa yang tua dapat mengalahkan yang masih mudah, yang fullpower dan gesit berlari. Yang terpenting, Pak Wid, yang sering disapa anggota kabari itu, telah memotivasi para peserta lomba.

Sebelum pulang ke Pangkalpinang, para pengurus dan staff serta anggota keluarga, berpose bersama-sama di tepi pantai. Photo, kenangan indah untuk masa depan. Kenangan, yang mengingatkan kita bahwa kita pernah bersua di Pantai Rambak. Kenangan, yang menandakan bahwa kebersamaan pernah terjalin; tak akan ada yang mengingkari. Semua akan mengagumi dan terbangun dari dan oleh serta untuk kebersamaan. Bahwa kebersamaan itu ada juga dalam membangun satu tema pokok: Kopdit Sehat, Anggota Sejahtera!