Minggu, 10 Oktober 2010

JURNALIS KATOLIK MEMBAWA BERKAT BAGI SEMUA

Utusan dari paroki-paroki Dekenat Bangka Belitung mengikuti latihan jurnalis bagi tabloid Berkat, tabloid milik Keuskupan Pangkalpinang. Latihan diselenggarakan kerjasama antar Komisi Sosial dan Depag Bimas Katolik Propinsi Babel. Latihan di Wisma Aksi 1 Pangkalpinang, 26-28 Agustus 2010.

Bang Gaudiensius, redaktur Media Indonesia sedang memberikan materi "Menulis Berita" kepada peserta.
Peserta utusan dari Paroki Sungailiat (Sta. Maria PSR), Pangkalpinang (St. Yosep), Mentok (Sta. Maria Pelindung Para Pelaut, Belinyu (Sta. Maria Perawan Tak Bercela, Koba (St. F. Xaverius), Tanjung Pandan (St. Regina Pacis) dan beberapa komunitas kategorial. 
Katrin (utusan Tanjung Pandan) sedang praktek mewawancarai Rm Stef Tomeng Pr (direktur Tabloid Berkat)
Saatnya peserta rekreasi dan santai untuk mengopi. Mudah-mudahan setelah dilatih mampu membawa berkat bagi umat paroki masing-masing.
Syalom. fbr



Sabtu, 09 Oktober 2010

FKUB KAB. BANGKA 2010-2015

Pertemuan Forum Komunikasi Antar Umat Beragama Kabupaten Bangka di Kantar Departemen Agama di Sungailiat (06/10/2010)

Para peserta mendengar pengarahan dari ketua FKUB lama (2004-2010). "Pengurus ada tetapi belum dioptimalkan. Ada kegiatan jika ada persoalan. Selain itu, sekretariatnya pun belum ada, masih menumpang."
Utusan dari setiap agama duduk mendengar laporan pengurus lama dan siap untuk memiliki kepengurusan FKUB Kab. Bangka yang baru. Sebelum pemilihan yang baru, setiap utusan diberi waktu untuk mencolonkan diri menjadi pengurus inti.
Utusan dari Mesjid-mesjib di Kab. Bangka duduk berdiskusi, memilih salah beberapa orang menjadi pengurus inti
Utusan dari Konfu Chu dan Budha.
Utusan dari Kristen dan Katolik (Leo Agung Heriyanto dan Alfons Liwun) Utusan dari Hindu tidak hadir.
Inilah wajah baru pengurus FKUB Kabupaten Bangka. Mudah-mudahan ke depan, perannya semakin nampak bagi hidup kerukunan semua umat beragama. *fbr*

Selasa, 05 Oktober 2010

FILOSOFI HUMANIORA DARI MASYARAKAT KAWALIWU


oleh: Alfons Liwun


Seorang warga Kawaliwu di pesisir pantai Kawaliwu
Hantaran:
Kawaliwu, sebuah desa yang dulu menjadi bagian dari Kecamatan Tanjung Bunga, Kabupaten Flores Timur, Propinsi Nusa Tenggara Timur. Dalam kebersamaannya dengan desa-desa lain dalam wilayah Kecamatan Tanjung Bunga, Kawaliwu dikenal dengan nama baru yaitu Desa Sinar Hading. Sebuah desa yang terpatri di sepanjang pantai utara - berhadapan dengan Laut Flores - 20-an kilo meter dari Kota Larantuka, Ibu Kota Kabupaten Flores Timur dan 500-an kilo meter dari Waiklibang, Ibu Kota Kecamatan Tanjung Bunga. 

Kawaliwu dalam Struktur Kecamatan:
Nama baru yang disandang Kawaliwu – Sinar Hading, ketika masih bergabung dengan Kecamatan Tanjung Bunga, hemat saya disebabkan oleh tiga alasan berikut ini. 


Pertama, alasan geografis. Kawaliwu terletak di sepanjang sebuah teluk yang dikenal dengan nama ’Teluk Hading.” Dari nama Teluk Hading ini, ditambah satu kata ”sinar” sinonim dengan cahaya atau nur atau terang. Penempatan ”Sinar” di depan kata Hading dipandang sebagai sesuatu yang nyata bahwa di Kawaliwu tempat terbitnya matahari, sumber sinar atau cahaya bagi bumi.  Dengan begitu nama Kawaliwu dalam perspektif baru adalah ”dari Teluk Hading terpancang cahaya yang terus bersinar, memancarkan cahaya tanpa redup.

Kedua, alasan historis. Menyingkap sejarah Kawaliwu, tidak mudah seperti membalikan telapak tangan. Sejarah Kawaliwu, masih sangat tertutup rapih oleh para leluhur, pemuka adat dan para penatuah dalam masyarakat Kawaliwu. Karena para penatuah dan pemuka masyarakat Kawaliwu sampai dengan saat ini memikirkan dan menghayati satu pemahaman yang ditradisikan oleh nenek moyang mereka (Kaka Bapa) bahwa jika sejarah Kawaliwu diungkapkan maka akan mengalami kehancuran yang meliputi kekacauan antar suku, antar daerah dan bahkan akan ada bencana alam yang hebat dalam dunia ini. Dengan demikian berbicara tentang sejarah di Kawaliwu, pasti akan berbeda dengan sejarah-sejarah desa yang ada di sekelilinginya dan bahkan sejarah-sejarah daerah lain pada umumnya.


Mungkin alasan yang kedua ini untuk menjawabi situasi baru pada tahun 2006, ketika ada pemekaran Kecamatan Tanjung Bunga. Posisi Kawaliwu menjadi ibu kota pemekaran kecamatan dari Kecamatan Tanjung Bunga. Kini Kawaliwu menjadi Ibu Kota Kecamatan Lewolema. 


Sebagai ibu kota Kecamatan Lewolema, Kawaliwu semakin eksis dalam bersinar bagi keempat desa lain yang ada di sekitarnya (Desa Bantala – Lewotala, Desa Balukhering – Belogili, Desa Painnapan – Lamatou, dan Desa Leworahang). Mengapa demikian, karena historisnya berbeda dengan sejarah keempat desa lain. Kelima desa – dalam Kecamatan Lewolema harus bekerjasama untuk membangun masyarakat yang ada di desa-desa ini. Mengapa kerjasama ini penting? Paling kurang ada beberapa alasan yang cukup diterima untuk saling bekerjasama. Alasan yang disampaikan ini merupakan refleksi atas pengalaman hidup selama di Lewolema dan sekaligus memandang baru dalam pola pikir yang luas.


Pertama, alasan geografis. Dari kelima desa dalam Kecamatan Lewolema, ada dua desa yang tidak memiliki laut, yaitu Desa Lewotala dan Desa Lamatou. Ada tiga desa yang memiliki laut yaitu desa leworahang, desa Belogili dan Kawaliwu. Kelima desa memiliki hak tanah diwilayahnya berdasarkan peranan suku-suku yang khas pula. Tanah yang diolah untuk perkebunan dan pertanian.


Rata-rata baik di laut maupun di darat bisa menghasilkan sesuatu untuk kebutuhan perekonomian dalam Kecamatan Lewolema. Selain hasil laut dan hasil darat, masih ada hasil dalam kerak bumi Lewolema yaitu tenaga uap panas dari sumber Ile Kdeka dan Ile Wai Kerewak. Selain itu masih ada barang tambang yang usianya masih muda seperti emas, timah dan minyak bumi di pesisir pantai Kawaliwu, Belogili dan Leworahang. 


Kedua, alasan historis. Dari perjalanan sejarah desa-desa di Lewolema, hampir semua desa memiliki suku raja tua. Suku-suku itu adalah suku Koten, Kelen, Hurit dan Maran. Suku-suku raja tua ini dipandang sebagai suku-suku yang memiliki hak yang besar. Mereka dilihat sebagai pembangun dan pendiri desa-desa tersebut.


Sejarah kelima desa menuturkan bahwa masing-masing desa memiliki pendirinya. Pendirinya itu berasal dari Ile Jadi dan dari Tena Mao. Pertanyaannya muncul, mengapa dari asal usulnya berbeda tetapi di setiap desa memiliki raja tua. Apakah karena tiap-tiap desa itu saling berdekatan? Apakah kelima desa ini telah terjadi suatu urbanisasi yang tersembunyi? Mungkin inilah yang harus digali oleh para penerus Lewolema. 


Bagi saya, ada dua pola pikir yang menetralkan perspektif kelima sejarah desa di Kecamatan Lewolema. Kedua pola berpikir yang netral ini, dasarnya dari tutur kata bapak Hendrikus Haju Liwun (orangtua saya). Bahkan pertanyaan saya tadi pun muncul dari apa yang disampaikan oleh orangtua saya. Maka argumentatifnya sebagai berikut:


Pertama, kalau di kelima desa itu sama-sama punya raja tua, artinya sejarahnya berasal dari asal usul pendiri yang sama. Pendiri itu bisa berasal dari Ile Jadi bisa juga berasal dari Tena Mao. Pendirinya tampil dalam dua wajah. Maksudnya supaya pertambahan anggota dalam setiap desa itu semakin banyak dan bisa mengolah tanah yang ditempati sekarang. Jika kelima desa itu memiliki raja tua yang sama, lalu posisi suku-suku yang lain ada dimana? Inikan ketidakadilan yang dibangun pendiri dalam berbagai hal.


Kedua, agar konteks keadilan antar semua suku, suku raja tua harus mengaturnya secara bijaksana. Konteks pengaturannya adalah semua raja tua yang ada dalam kelima desa berkumpul dan berbicara bersama-sama mencari jalan keluar dari ”benang kusut” dalam sebuah persoalan antar desa. Maka konteks baru yang ditempatkan dalam habitus baru antar desa agar semua suku masuk dalam permainan peranan yang sama dan saling menghargai satu sama lain adalah ”konteks humaniora” atau pola pikir kemanusiaan yang adil dan beradab. Pola itu bisa kita baca dalam contoh gambar berbentuk manusia berikut ini:

Folosofis Kemanusiaan Kawaliwu menuju keadaban publik 
Sejak dulu filosofis kemanusiaan Kawaliwu ini telah muncul dalam setiap derak langkah manusia Kawaliwu. Bukti yang paling riil dan nyata yang sampai sekarang hidup dalam desa ini adalah:

Pertama, ”kawin mawin”. Kawin mawin selain untuk menambah hidup keberlangsungan sebuah suku tetapi juga menambah jumlah sebuah desa. Dalam kawin-mawin, pihak Opu (pihak laki-laki) datang kepada pihak Blake (pihak perempuan). Kehadiran Opu menjalankan proses kawin-mawin dengan pihak Blake yang dimulai dengan ”hupo sura”, pinang hingga menjalankan perkawinan.

Dalam proses ”hupo sura” Opu dan Blake berjumpa, membicarakan soal kecocokan atau tidak kedua pasangan yang mau menikah. Selain berbicara soal hal tadi, Blake akan berbicara soal belis (mas kawin). Bagi masyarakat Kawaliwu, mas kawin berupa gading dan sarung tenun khas Kawaliwu atau khas desa lain kalau salah satu pihak berasal dari luar Kawaliwu. Mas kawin pertama-tama dipandang bukan harga seorang perempuan tetapi lebih dari itu sebagai pengikat tali kekerabatan antar suku. Setelah proses ini mencapai kata sepakat biasanya Blake akan mengeluarkan ”sirih pinang” untuk dimakan, sebagai tanda bahwa kesepakatan telah sampai finis dan siap untuk tahap berikutnya yaitu meminang. 

Proses meminang adalah proses Opu mengantar hasil kesepakatan sebelumnya. Yang diantar adalah berapa banyak dan besar gading yang telah disepakati. Selain itu, ada beberapa sarung tenun khas desa yang bersangkutan dan sirih pinang serta bahan makanan untuk makan bersama. Opu akan dijemput oleh Blake di depan rumah dan siap dengan sirih pinang sebagai tanda penjemputan. Sebelum diberi sirih pinang, pihak Blake akan mengecek apakah hasil kesepakatan itu telah dibawa semua atau belum. Dalam tahap meminang ini Opu dan Blake akan berbicara soal waktu dan tempat kedua pasang akan menikah. Ini tahap terakhir dalam proses adat perkawinan. Selanjutnya perkawinan akan diurus oleh Opu dengan pihak Gereja. Opu akan menyerahkan proses keberlangsungan perkawinan kepada pihak Dewan Pastoral Paroki/Stasi yang siap untuk mengurusnya. 

Kedua, ”kesuburan pengolahan tanah.” Mayoritas masyarakat Kawaliwu adalah petani, berkebun di atas lahan garapan miliki suku. Mengapa? Karena pola pikir masyarakat Kawaliwu bahwa segala hak milik tanah (=eta/newa) adalah hak milik adat, bersama. Yang mengatur di dalamnya adalah pihak raja tua.

Dan dalam proses pengolahan tanah, raja tua begitu penting, karena mereka adalah pemilik otonomi ”nuke-huke” Maka jelas bahwa didalam sistem pengolahan tanah, paling kurang ”raja tua” harus ada. Proses demikian, kita belum menemukan peran perempuan yang adalah simbol kesuburan. Memang, kesuburan bukan hanya pada pihak laki-laki tetapi juga perempuan. Lalu pertanyaan kita, dimana peran perempuan dalam kesuburan tanah? 

Sebelum kita melihat peran perempuan, saya mengajak anda untuk melihat keberadaan sebuah ”lahan olahan/kebun” masyarakat Kawaliwu.
Melihat gambar tadi, sebagai masyarakat Kawaliwu, langsung mengetahui letak pusat kesuburan sebuah kebun-lahan garapan. Hedik Era, dalam dialek bahasa Lamaholot, terdiri dari dua kata. Kata ”Hedik” artinya berdiri tegak sedangkan kata Era artinya bibit. Maka secara sederhana ”Hedik Era” adalah pusat pembibitan/persemaian yang merupakan pusat kesuburan dalam sebuah lahan garapan/kebun. Dari ”Hedik Era” akan mengalir kesuburan bagi semua tanaman yang ada dalam sebuah lahan garapan/kebun.

”Hedik Era” adalah simbol persemaian bibit-bibit yang baik dan unggul. Hedik Era dalam istilah masyarakat Kawaliwu, ”Nuba Nogo Gunu”, Tempat Ratu Kesuburan. ”Hedik Era” terbuat dari beberapa lempeng batu yang menjadi lantai/tempat pijakan ”Era”, sebatang kayu yang sudah dikupas kulitnya lalu dipancang ke dalam tanah di bagian kepala batu tempengan tadi, sebagai simbol aliran rahmat kesuburan yang dihasilkan antara ”Rera Wulan Tana Ekan.” (Kaka Bapa). Di ujung bagian atas kayu tadi terdapat sabut kelapa bagian dalam yang diikat kuat menutup ujung kayu, sebagai simbol pertemuan - persekutuan Rera Wulan Tana Ekan.

”Hedik Era” boleh kita sebut sebagai ”Nuba Nogo Gunu”. Sebagai ”Nuba Nogo Gunu”, tempat Ratu Kesuburan” peran perempuan ada disana. Peran perempuan dapat kita lihat dalam ritus kesuburan sebuah lahan garapan/kebun. Seorang Raja tua akan memakaikan sarung (=kewatek) kepada seorang perempuan di Hedik Era. Sebagai tanda bahwa kesuburan sudah ada. Sehingga seluruh tanaman perlu dirawat dengan baik. Inilah tugas selanjutnya bagi si pemilik lahan garapan/kebun.

Penutup 
Masih banyak contoh dalam kehidupan masyarakat Kawaliwu yang mencermin hidup damai baik antar suku maupun antar keluarga. Folosofi humaniora Kawaliwu memberikan kepada publik ramai bahwa masyarakat Kawaliwu sangat menghargai manusia, laki-laki dan perempuan. Kehadiran manusia, laki-laki dan perempuan merupakan kehadiran yang saling melengkapi. Kehadiran keduanya saling memberikan makna tersendiri. Maka segala hak dan kewjiban yang ada dalam suku perlu dipertimbangkan dan dimaknai secara seimbang. Hak dan kewajiban laki-laki dan perempuan sama. Tidak ada yang lebih besar dan tidak ada yang lebih tinggi atau rendah. Sama-sama mempunyai peran yang khas dalam suku dan keluarga.

Hak dan kewajiban yang selama ini diatur secara dipaksakan harus dibedakan dari hak dan kewajiban Raja tua. Kalau Raja tua dalam sebuah desa maka laki-laki dan perempuan ada dalam suku dan keluarga. Tidak etis jika laki-laki dinomorsatukan dan perempuan dinomorduakan.

Mudah-mudahan dengan sepotong refleksi atas realitas yang hidup dalam masyarakat Kawaliwu ini memberikan angin segar bagi laki-laki yang selama ini dituanagungkan. Dan memberikan pencerahan baru bagi keberanian perempuan untuk mendapat hak dan kewajibannya secara seimbang. ”Sama-sama punya ”Rera Wulan Tana Ekan”, dan sama-sama pula dalam melayani ”Rera Wulan Tana Ekan.” ***

Sabtu, 25 September 2010

OLAH ALAM SELARAS ALAM

Senja terpatri. Mengukir panorama senja yang misterius. Alam menunjukan keindahannya, dengan bahasa yang bisu. Senja mulai berlalu, pratanda hari menjelang malam. Kicauan burung bergembira ria, menghantar senja menuju kegelapan malam.

Di depan gubuk tua itu, berdiri tegak, sebatang pohon "khas Bangka". Ranting-ranting telah mulai rontok, kulit terkelupas, rumput menjalar dan alang-alang mengelilinginya. Di samping pohon yang berusia tiga tahun hanyut dilalap api, membisu-menampakan suatu misteri yang harus direfleksikan.

Apa yang harus direfleksikan pada pohon itu? Velly, asal Hakok, istri Arjuno memberikan tanggapan atas pohon ini sebagai "salib yang berdiri tegak dan awan putih mengelilinginya." Suatu tanggapan rohani. Membahasakan sebagai seorang yang memiliki kerohanian yang baik.

Bagi saya, pohon ini punya bahasa misteri. Apa yang misteri? Pohon pernah hidup. Hidupnya memberikan keteduhan bagi siapa saja yang pernah berteduh di bawahnya. Pohon ini pernah punya daun, dan daunnya kini menjadi pupuk yang memberikan kesuburan bagi tanaman yang ada di sekitarnya. Alang-alang, rumput-rumput dan segala jenis tanaman kecil lainnya di sekitar, menghijau. Menghijau, tanda bahwa pohon itu memberikan kesuburan bagi sesamanya.

Pohon itu, punya dahan dan ranting-ranting. Bagi saya, dahan menjadi bahan material seperti balok atau papan untuk manusia yang membutuhkan membangun rumah. Ranting-rantingnya memberikan petunjuk akan ada kehidupan baru. Tanpa sadar, ranting-ranting itu seakan memohon datangnya air kehidupan. Tanpa sadar, ia memohon kepada Sang Khalik akan panas yang membantu fotosintesis bagi tanaman lain.

Walaupun, telah tiada, telah diganti dengan pohon lain yang telah hidup menggantikan hidupmu. Pohon sengon, jenis tanaman yang cocok untuk menggantikannya. Daunnya lebat hijau. Ranting-rantingnya banyak. Tunasnya manis, sehingga kedatangan banyak semut yang mau mencicipi gula yang sengon hasilkan. Sengon, pohon yang cocok untuk menyuburkan tanah, memberikan kehidupan baru.

Sengon, jenis tanaman untuk bahan baku triplex, untuk keperluan bahan bangun rumah penduduk. Sengon, tanaman alternatif Pulau Bangka yang gersang oleh serakahnya manusia, penambang legal dan illegal timah.Sengon lebih gampang diurus ketimbang pohon sawit yang kini menjadi prioritas para pengusaha pertanian dan perkebunan di Bangka. Sengon cocok untuk memulihkan ekosistem tanah Bangka. Sengon yang subur di Bangka, akan membantu dunia yang kini panas. Pemanasan global telah merusak alam. Tapi pemanasan global bisa diatasi dengan menanam jenis pohon hijau, salah satunya adalah sengon.

Mari, kita tanam sengon di Pulau Bangka untuk menyelamatkan banyak kehidupan termasuk penduduk Pulau Bangka dan penduduk dunia. **fbr**

Jumat, 17 September 2010

CERPEN


MENGENDUS JEJAK ANGEL YANG LARA
oleh: Alfons Liwun


Jarum jam dindingku terus berdetak. Sahabat-sahabat di kamar sebelahku lelap tertidur pulas karena keseharian pontang panting merajut nasib. Entah mimpi apa gerangan mereka. Namun terdengar dari kejauhan suara binatang malam yang dari tadi terus mendendangkan mazmur pujian bagi Sang Khaliknya. Oh…, begitu indahnya, tarik suara di gelap gulita, bisik hati kecilku untuk ingin terus mendengarkannya.  

Aku berdiam sejenak. Meresapkan alunan musik jagat itu bersama seluruh pengalaman hidup siang tadi yang duka lara atas kepergiaan untuk selama-lamanya, Paus Yohanes Paulus II, Pemegang Takhta Petrus Gereja Katolik. Terhanyut, seakan menepis pada hulu yang sedang mendendangkan pujian itu. Dalam keheningan syaldhu, gejolak jiwa hatiku seolah bangkit menyatakan sesuatu. Kubiarkan… sekali lagi, kubiarkan mengalir terus, semakin cepat hingga bergeming pada rasa untuk meneruskan pada akal yang mampu menterjemahkan arti sesuatu itu.

Aku diam lagi. Mengalir dalam akalku sebuah lukisan berciri khas parasnya cantik, putih, kurus, tinggi, sebahu rambutnya, mancung hidungnya, dan lesung pipinya. Aku tersentak kaget dan terpukau. Rasa-rasanya aku kenal si gadis ini. Kuurut keningku sembari mengingat siapa sebenarnya dara manis itu. Sejenak aku tertegun, kemudian mengangguk-angguk.Kukenang semakin jauh dan sekali lagi terhanyut di tepian sebuah kenangan yang manis. Kutemui dia, si gadis manis sedang menyesal, rambutnya yang lurus terurai rapih kini, kusam tak terawat. Parasnya yang dulu mulus, sekarang tumbuh jerawat-jerawat cinta yang bagaikan cendawan di musim hujan.

“Angel…, kenapa kamu sampai begitu”, tanyaku sedikit mencari tahu. Angel diam-tak menggubris sepatah katapun. Sekali lagi kutanya Angel. “Ngel…, kenapa kamu senyap?” Angel menyibakkan helai-helai rambutnya dan muncullah secuil senyum cantik yang menghiasi bibir mungilnya. Seolah-olah mengekspresikan tidak ada masalah apa pun.

“Pak…, Angel lagi mikirin masa depan. Angel sudah tidak sekolah lagi. Sudah keluar dari SMA Negeri itu. Karena Angel nyesal, sekolah itu tidak disiplin, sarana tidak mencukupi kurikulum yang ada sekarang.” Aku diam dan terus merenung. Aku kembali menatap dalam wajahnya, membaca ekspresi jiwa penyesalannya. “Pak…, selain itu, Angel merasa sekolah ini pun tidak akan membantu saya di masa depan. Lihatlah…, banyak anak disini!, tambahnya.

Kuamati lagi wajahnya yang polos dan dengan gaya bahasa khas orang pulau, sekali lagi Angel bergeming, “Jike pak pergi, kemanekah kami harus mengadu?.”Aku diam, kaget! Hatiku luluh, kedua bola mataku terasa berat untuk menatapnya lagi. “Pak… Angel tanya, jawablah Angel dengan sejujurnya. “Pak, mau pindah ya…?” Dalam kebingungan aku tetap diam. Tetapi dalam hatiku, menyatakan sebuah penegasan. Rupanya Angel sudah tahu akan pemindahanku di tempat kerja yang baru. Aku pura-pura kaget! Dan untuk menghilangkan muncul pertanyaan yang lain dan kesedihan hatinya, kuajaknya untuk berdialog.

“Angel…, sudah saatnya juga pak harus pindah. Pertemuan dan kebersamaan kita, telah mengukir sebuah buku kehidupan. Temu dan pisah adalah hal yang biasa. Tetapi satu hal pasti, pak selalu kenang Angel, ketika kebersamaan kita di sekolah, di Gereja di saat Angel melantunkan mazmur, di saat kita latihan THS-THM, dan di saat kita berkunjung ke pulau-pulau lain.” Rasanya berat untuk mengingat semuanya. Sejenak, kami berdiam. “Angel…, maukah pak pindah?”, lanjutku.

Dengan ekspresi yang sulit kubaca, terlihat parasnya yang sangat lain, kulitnya yang putih serentak memerah. “Pak…, Angel tak punya apa-apa untuk dibawa dan dikenang, Angel hanya minta satu hal ini. “Pak… harus ingat Angel dan teman-teman Angel yang lain. Angel… tetap mengharapkan pak di pulau!”, katanya. “Pak, dengarkah suara Angel?” tambahnya. Hatiku duk-dak, bibirku gemetaran mau kata apa lagi pada Angel. Aku hanya mengangguk dan mengangguk.“Sudahlah Angel! Pak akan mendoakanmu dan teman-teman Angel”, dengan ekspresi seadanya, aku menyakinkannya.

Aku sadar, tercengang melihat detak jarum panjang jam yang menunjukan pukul 03.15 dini hari. Aku perlahan beranjak ke pembaringan dengan sejuta harapan agar Angel dan teman-temannya selalu mengenang kebersamaan selama di Pulau Tujuh. Dalam kegelapan kamar, aku bukannya langsung terlelap. Namun, pikiran dan perasaanku masih terbawa oleh pengalaman pertemuan tadi. Aku berusaha sekuat tenaga untuk mengatup mataku. Tetapi apalah saya, satu demi satu seberkas pengalaman kebersamaan pengalir dalam ingatan. Bahwa kami telah bersama membangun kelompok kaum muda dengan sarana THS-THM, Pencinta Alam, majalah dinding di pastoran, pengadaan Radio FM yang diberi nama “Lumen FM 96 MHz, Kesebelasan Sepak Bola, Keenaman Volley Ball, dan Basket Ball. Juga terlintas dalam anganku, kebersamaan kami membentuk kelompok belajar di pastoran, bersama-sama memperjuangkan “peraturan poin” di Dinas Pendidikan Siantan, saat-saat kemah Pramuka bersama, dan sebagainya, dan sebagainya. Akhirnya seluruh pengalaman kebersamaan terbawa dalam kalbu bersama mazmur pujian semesta.

Keesokkan harinya, ketika fajar mulai mekar menyelimuti jagat, kala itu jam 06.30, terasa getaran MC HP, seakan membangunkan aku dari pembaringan. Aku perlahan mengangkat HP disamping lalu mengamatinya, terbaca panggilan tak terjawab. Aku ingin mencaritahu siapa gerangan itu. Kubuka hanya tercatat nomor pribadi. Aku bertanya dalam hatiku. Betulkah, kamu muridku dari seberang sana? Aku mengamati sekali lagi HP. Lampu berwarna ungu disampingnya mengisyaratkan ada SMS yang masuk. Sambil meluruskan posisi badan, aku membuka dan membacanya. Ternyata ada dua pesan pendek dari nomor yang berbeda. Dari nomor: 081636383XX: “Pak mulai hari ini, Angel kerja jaga wartel Flamboyan KUD, Jl. Ponogoro No. 87 Terempa Siantan”. Aku tercengang dan mengangguk-angguk begitu dalam, sambil kutatap langit biru yang begitu jauh dari balik jendelaku yang usang. Dan pada nomor berikutnya 085667041XX: “Pak, rindu ga ama kami? Sejak Pak pergi, hati kami rasa sepi. Sepi semuanya…termasuk paskah tahun ini!” Sekali lagi kurenung, teringat lagi paras Angel Laura, yang namanya sering disebut-sebut dalam suara Radio Lumen FM 96 MHz. 

Aku hanya diam seribu bahasa. Tetapi, satu hal yang pasti, biarpun selaksa seruan dan nada sedih datang dari seberang, pada akhirnya aku hanya memadukan semuanya itu dalam semangat perjalanan hidupku. Aku hanya menjerit dalam nada doaku: “Terpujilah Engkau, Tuhan, karena besar kasih setia-Mu, kami selalu berjumpa kapan dan dimana saja. Amin!” 

Kupersembahkan cerpen ini buat Angel dan teman-temannya 
Di Terempa, Air Sena, dan Mengkait - Kepulauan Anambas – Natuna. 
Dari sahabatmu 
*). al***

CERPEN


SEPENGGAL KISAH BUATMU DIULTAHMU...
oleh: Alfons Liwun
Senja kian beranjak malam, seiring dengan jarum jam di dinding teras itu. Dentuman mesin tua di bengkel melengking, seakan sedang menanjak bukit batu dihadapannya. Beberapa insan yang bekerja di situ mulai mudik, entah kemana. Bunga-bunga di tepi teras berdangdut ria, perlahan menghantar kepergian para pemudik yang keseharian beraktivitas. Dedaunan bambu bersorak-sorak seolah-olah menjemput kehadiran Rio yang sedang keluar dari panther tumpangannya. Takkala, di sudut kiri taman itu, berdiri tegak arca beato Damian, menebarkan cinta tanpa pamrinya kepada setiap tamu entah itu pengunjung maupun hadirin pada setiap kali ada pertemuan. Dalam kebisuaannya, ia menghitung-hitung para pengunjung yang datang dan pergi dari wisma itu.

“Mungkinkah Bernadett, gadis mungil berambut sebahu, yang lagi senyum imut-imutan itu berkeinginan untuk meneruskan roh beato Damian?”, geming Rio dalam benaknya. “Ah…! Tidak mungkin. Karena saat ini, dara manis itu lagi penasaran untuk menjadi seorang pejuang keadilan gender,” lanjut Rio, sambil menapaki satu demi satu tangga pendopo itu.

Suasana Puri senja itu riuh. Rio sejenak tertegun, mengamati alam sekitarnya. “Kenapa ya…, kok keadaannya lain kali!”, bisiknya kepada penjaga meja chek in tamu. “Oh…tidak, biasalah!”, respon Ria dengan secuil senyumnya. Jawab Rio hanya mengangguk-angguk. Namun, respon Ria membuatnya penuh tanya; dan untuk menepis setiap lamunan yang berbaur gender, ia mengotak-ngatik tust HP yang digenggamnya, sambil berjalan menuju kamar yang sudah disiapkan panitia.

Rio berbaring sejenak. Mencoba melemaskan saraf-saraf badan, untuk menghilangkan rasa penat karena lelah duduk dalam panther. Rio mencoba untuk membangkitkan berbagai realita hidup yang pernah dialaminya. Helai demi helai sampul kalbu terbuka. Berbagai tokoh perkasa muncul. Tokoh ‘bapa’ yang lebih banyak menguasai sanubari. Tokoh ‘ibu’ yang seharusnya lebih dekat tetapi hanya bercahaya redup. Sepenggal tanya terberesit dalam benak Rio. “Mampukah engkau mengimbangi soko guru yang masih redup?” Penggalan tanya ini terus mengiang dalam batin, dan sekaligus modal utama Rio untuk mengikuti pelatihan gender yang diselenggarakan atas kerjasama Sekpas dan JMP KWI.

Ruang itu penuh guyon dan senyum ceriah pemerhati gender. Sebuah mimpi untuk mengimbangi soko guru dalam batin Rio mulai menebar. Pasang surut menginterior nilai baru kandas pada tepian dinding sukma. Batin yang selama ini dikuasai ‘bapa’ seakan-akan surut. Sedang dalam pergulatan batin, Rio menatap gadis manis di sebelahnya yang begitu sibuk mencatat satu demi satu apa yang didengarnya. Keningnya mengkerut, pipinya memerah, rambutnya jatuh semampai di depannya, jari jemarinya gemetaran, karena kesal menjawabi perintah ‘bapa’. Pergulatannya bukan membatini namun mencatat dan mencatat demi tugas yang diberikan. “Oh…bapa, sampai kapankah engkau larut dalam hatiku?, Untunglah dia masih loyal pada ‘bapa’, “ gerutu Rio dalam benaknya. “Ia taat, setia, mungkin juga sampai mati”, guyon Rio dalam kepalanya. “Apakah kesetiaan, ketaatan dan loyalitasnya merupakan sebuah tanggungjawabnya dengan nurani yang bening?,” lanjut Rio dalam permenungannya. 

Rutinitas kegiatan pun terus mengalir. Waktunya berdiskusi. Alam Puri begitu cerah mempesona, memberikan kehangatan bagi kelompok Bernadett yang sedang asyik berdiskusi di teras depan Puri. Rio ingat betul akan teks yang diberikan tim untuk didiskusikan. Tim menginstruksikan supaya teks Kejadian 2:18-25, dibaca dan berusaha menangkap isi teks berdasarkan konteks ‘gender’. Namun apalah daya, peserta tetap mengikuti apa yang pernah mereka dengar dan diajarkan pada masa silam. Bahkan tetap berpendirian bahwa teks itu tidak boleh dibolakbalik lagi. Harus tetap seperti itu. Catatan-catatan kritis berbau “patriliniar” yang diberikan beberapa kaum pria pun ditolak. Entah kenapa, yang penting kita tetap mengikuti isi teks Kitab Suci, jawab suara terbanyak saat itu. “Tidak jadi soal, yang terpenting kita tetap maju untuk berjuang,”cetus Rio dalam benaknya. Tanda untuk kembali berkumpul pun berdering. Semua kelompok sibuk ke ruang pertemuaan itu. Suasana pleno penuh bersaudaraan. Tidak ada persoalan tajam yang ditonjolkan saat itu. Pertemuan itu, diakhiri dengan pemetaan jadwal dan rencana untuk dilaksanakan di setiap tempat kerja. 

Suasana kebersamaan ini ternyata mencapai titik kulminasi berkelanjutan. Awan gemawan yang kian berarak dari ufuk timur sana, tak pernah bertepi. Entah kemana, tapi persisnya sesuai dengan arah hembusan angin saat itu. Gumpulan awan perlahan-lahan bergerak, meninggalkan lazuardi biru yang memayungi atap wartel Palupi. Langit cerah, secerah paras Bernadet bersama sahabatnya yang sedang asyik memecahkan persoalan baru. Rio dengan gaya elegan perlahan-lahan memasuki ruangan itu. Ekspresi kebersamaan dengan saling bersalaman pun muncul. Suasana jadi lain. Problem yang dihadapi tuntas dibahas bersama. Acara kembali ditutup dengan makan bersama yang telah disiapkan. Rasa-rasanya suasana keakraban itu begitu singkat. Ya…, maklumlah hari istirahat satu-satunya dalam sepekan. Kami semua bubar ke rumah masing-masing.

Bagi Rio, masih ada banyak waktu untuk mengelilingi kota tua serumpun sebalai. Menikmati kota tua dikala rintik-rintik itu memang membahagiakan. Kesibukan lalu tintas pun berkurang. Hiruk pikuk pedagang nampak begitu mengasyikan. Pedagang kaki lima, begitu istimewa menunjukan satu wajah lama dari kelas bawah. Burung-burung walet begitu gembira melayang-layang di udara. Dalam suasana yang membahagiakan itu, Asah sahabat Rio yang mengikutinya mengajak untuk menikmati suasara TB. Gramedia.

“Ayo…bang, kita mampir dulu di toko buku itu.” Kami pun berteduh di sana. Suasana yang mempesonakan dengan banyak alternatif yang ditawarkan Gramedia, tidak membuat kami luluh untuk bertahan lama. Kami keluar lagi untuk mencari kendaraan pulang. “Mat sore… hati-hati ya dalam perjalanan,” pesan SMS dara manis dari seberang sana. “Oh…Bernardett terima kasih atas hatimu…, bisik Rio dalam permenungan menuju kota sepintu sedulang. “Memang…kamu layak jadi sahabatku,” geming Rio lagi. Dengan perhatian yang begitu mengasyikan itu, suasana hati Rio jadi lain. Bahkan bukan hanya itu saja, dalam perjalanan waktu, relasi kami tetap dibangunkan supaya tidak menghilangkan semangat perjuangan awal.

Pengalaman hidup dalam kebersamaan itu, memang sulit untuk ditinggalin. Pasti ada yang menjadi materai yang melewat dalam batin. Materai kebersamaan salah satu sisi manusiawi. Mungkinkah hal ini tetap dan terus untuk membangun kebersamaan? Ya… berjalan proses waktu dan kejujuran hati untuk mengakui. Dapatkah materai kebersamaan manusiawi menjadi sebuah kerinduan yang kian memanggil manusia untuk berjumpa dan membangun persaudaraan sejati? Bila masih mungkin, tetap akan berjumpa!

Disaat-saat kebahagian dan kegembiraan yang kita alami itu, satu fragmen hidup yang berpangkal dari kehadiran manusia adalah hari dan tanggal kelahiran. Suatu kebahagian yang menghadirkan dunia tangis dan senyum. Suatu mata rantai kebersamaan untuk disatupadukan. Suatu peristiwa yang mengagumkan untuk memperoleh perjuangan, karunia, dan berkat berlimpah dari Tuhan. Bersama kegembiraan dan kebersamaan kita, walau terbentang suatu garis linear yang panjang, tapi Rio menetap mengukir dalam sanubari akan kehadiran dan perjumpaan kita. Untuk itu semua, Rio dengan tulus ikhlas mengucapkan "SELAMAT ULANG TAHUN BERNARDETT… SEMOGA KIAN SUKSES!” (**al**)

Senin, 06 September 2010

TANGGAPAN ATAS NOVEL MAWAR MERAH


Tulisan ini, merupakan tanggapan saya atas, "Mawar Merah" sebuah novel karya Gerry Gobang. Tanggapan saya ini, saya beri judul: 
"Novel impian jadi kenyataan?"

Sekilas membaca “Mawar Merah” pikiran saya pun melalangbuana, untuk mengejar “Mawar Merah” itu, sambil bertanya pada diri saya begini. “Apa itu “Mawar Merah”, sehingga saya pun harus mengejarnya? Sesuatu yang idealiskah, “Mawar Merah”? Atau sesuatu yang nyata, ada?” 

Impian untuk mengejar cita-cita yang pernah direncanakan adalah tugas setiap orang yang telah membuat rencana dalam hidupnya. Dalam proses mewujudkan cita-cita, nyatanya bahwa ada banyak orang mencapai cita-cita yang direncanakan itu, dengan begitu mulus, tanpa halangan sedikitpun. Namun, tak bisa dipungkiri bahwa nyatanya juga, ada begitu banyak orang pun yang berjuang mewujudkan cita-citanya dengan menemukan atau menghadapi berbagai tantangan dalam hidup.

Segala rintangan dalam hidup, hanya dua fokus yaitu rintangan dari dalam (interen) dan dari luar (eksteren). Rintangan interen yaitu dari diri orang yang membuat dan yang memperjuangkan mewujudkan cita-cita itu. Sebaliknya rinrangan eksteren adalah dari luar diri, yang begitu kuat mempengaruhi pembuat rencana sehingga rencana yang dibuat anjlok - terbawa pengaruh - lupa rencana sendiri yang telah lama diperjuangkannya. 

Jika “Mawar Merah” adalah sesuatu yang ideal, yang direncanakan maka konsekuensi logisnya, “Mawar Merah” selalu diperjuangkan. Mengapa “Mawar Merah” masuk dalam prioritas yang direncanakan? Apakah karena tuntutan sebuah masa, dimana secara sosial, statusnya dihargai yang dikultuskan secara publik? Atau karena secara esensial, sebuah panggilan yang menukik dari dalam, untuk semua orang? Pertanyaan kedua ini, ternyata lemah dalam proses mewujudkan “Mawar Merah.”

Sebaliknya pertanyaan pertama, saya tempatkan menjadi sebuah catatan perlu direfleksikan, karena zaman ketika “Mawar Merah” menjadi prioritas, telah menjadi fokus teladan. Ketika zaman bergeser dengan pola pandang yang berbeda terhadap “Mawar Merah”, maka “Mawar Merah” yang diperjuangkan bisa tergantikan dengan kekuatan efek pengaruh dari luar. “Mawar Merah” yang idealis, ternyata mendapat perwujudan dalam bentuk “Mawar Merah” yang lain. 

Hemat saya, ”Mawar Merah” yang idealis yang diwujudkan dalam ”Mawar Merah” yang lain, sama-sama memiliki nilai yang sama baik secara sosial maupun secara religius. Keduanya sama baik jika dihayati dalam konteks keragaman nilai dan ditekuni dalam konteks sosial yang baru, yaitu bahwa sama-sama merupakan suatu panggilan-suatu anugerah dan tanggungjawab. 

”Mawar Merah” dalam horison holistik, menurut saya bukan terletak hanya pada buahnya. Ingat, secara kristiani, ”buah yang baik sangat tergantung dari pohonnya.” Orang hanya bisa memakai mata dan hati untuk melihat dan merasakan pesona '"Mawar Merah"  setelah itu baru mampu memberikan jawabannya, bukan dari wujud nampak pandang. tanpa punya hati untuk merasakan. Karena sesuatu riil yang nampak mata, maka bisa saja, ”sebuah panorama” yang menghadirkan bayangan semu. 

Hemat saya, ”Mawar Merah” karya Jonas Klemens Gregorius Dori Gobang, bukan sebuah karya yang idealis belaka. Karya ”Mawar Merah” yang dirilis Gerry Gobang adalah karya yang bertolak dari sebuah cita-cita yang idealis, diperjuangkannya dengan sekuat tenaga untuk mewujudkan kenyataan. Kenyataan yang riil yang diwujudkannya sekarang, merupakan sesuatu yang baru, yang dikejarnya. Secara ratio murni, memang sulit dinyatakan. Karena ada begitu banyak hal yang terkandung di dalam kenyataan riil secara sosial maupun dalam personal pribadi.

Rasanya bahwa gerakan sosial dengan berbagai entri poin lebih mendasar mempengaruhi ketimbang kekuatan pribadi. Bahkan kejernihan intelek yang menjadi ”pisau bedah” menembus cakrawala sosial yang begitu luas, rasanya tidak mampu mempertahankan keorisinalan idealisme awal. Filosofi Martin Heidegger, ”keterlemparan di tengah samudra” yang menuntut kemampuan intelek ternyata tak terjawabkan. Maka yang ada hanyalah kemampuan pribadi untuk memilah-milah fokus dan tidak sesat dalam perjuangan untuk mewujudkan ”Mawar Merah” yang nyata. Sepadan dengan Paul Ricouer yang menyatakan bahwa ”dari kumpulan angsa putih ternyata terselubung seekor angsa hitam,” saya sendiri menegasikan demikian. ”Dari sekian mawar merah, terdapat didasarnya "Mawar Hijau.” ”Mawar Hijau” inilah yang tidak nampak, tetapi ada di antara ”Mawar Merah.” ”Mawar Merah” menjadi gerbang masuk dan melalui ”Mawar Merah” itu Gerry Gobang menelusurinya dan pada entri poin (fokus hidup), Gerry memilih ”Mawar Hijau.” Artinya ”Mawar Merah” itu diwujudkannya dengan sesuatu yang baru, tidak mengubah esensi tetapi tampak dipelupuk mata, ”Mawar Hijau.” 

Teman Gerry yang baik. Inilah sedikit catatan saya. Hemat saya, bisa jauh dari apa yang diharapkan. Tetapi saya mencobanya untuk menemukan sesuatu dari ”Mawar Merah”, rilisanmu. Saya pikir, cocok untuk kalangan muda dan sekaligus untuk para pejuang penggapai ”Mawar Merah.” Biar para pejuang ”Mawar Merah”, tidak stress dan tidak putus asah ketika, ”Mawar Merah” yang menjadi cita-citanya tercapai dengan wujud ”Mawar Hijau.”

Salam,
Alfons Liwun dan Bie Lie.
From Bangka.

"Mawar Merah" 
nyata menjadi
"Mawar Hijau"