Selasa, 21 Februari 2012

KOMUNITAS BASIS ST. GABRIEL - BUKIT BETUNG PAROKI SUNGAILIAT

Ketua komunitas St.Gabriel, Bapak Hilarius Benyamin. Komunitas ini terdiri orang-orang Flores dan beberapa keluarga dari suku Tiong Hoa. Komunitas ini hanya mengandalkan ketua komunitas. Minim fasilitator. Namun sejak lebih kurang tiga tahun lalu (2009), Bapak Paulus Benediktus pindah dari Sta. Theresia 1 ke komunitas Gabriel. Maka St. Gabriel mendapat seorang fasilitator yang sangat aktif, baik untuk pendalaman iman di kelompok maupun pemberdayaan untuk sekolah minggu anak-anak.

Wilayah komunitas St. Gabriel seluruh daerah Bukit Betung. Dalam pengelolaan jadwal kegiatan, komunitas Gabriel memang sudah teratur, tetapi faktor kehadiran anggota kelompok masih memprihatinkan. Padahal kelompok ini memiliki cukup banyak orang muda. Berdasarkan sensus umat Paroki Sungailiat, komunitas St. Gabriel memiliki 18 Kepala Keluarga, dengan jumlah umat 59 orang yang terdiri dari 35 orang laki-laki dan 24 orang perempuan.

Dari jumlah umat yang tercatat itu, umur 0-10 tahun berjumlah 14 orang; 10-20 tahun sebanyak 6 orang, 21-30 tahun, 11 orang; 31-40 tahun, 10 orang; 41-50, 4 orang dan 51 tahun ke atas, sebanyak 14 orang. Jumlah ini terkalkulasi ke dalam segi pendidikan maka, jumlah yang masih TK dan SD sebanyak 34 jiwa; SMP berjumlah 10 orang dan SMS hanya 8 orang.

Komunitas St. Gabriel memiliki kegiatan rutin, yaitu (1). Misa bulanan komunitas pada hari Senin minggu II, jam 18.00. (2). Ibadat tobat rutin, terjadi masa prapaskah dan masa Adven, sedang mingguan hanya ada di gereja paroki atau stasi. (3). Ibadat komunitas yang lain berupaka doa dan pendalaman iman setiap minggu pada hari senin yang mencakup APP, Bulan Rosari, PDPL, Bulinas, Bulan Kitab Suci, dll. (4). Pesta Pelindung St. Gabriel, 29 September setiap tahun. (5). Prgram khusus, lihat program tahunan komunitas. Mudah-mudahan ke depan, komunitas ini semakin maju dalam partisipasi misa/kegiatan komunitas.*al*

Sabtu, 18 Februari 2012

KOMUNITAS BASIS ST. THERESIA II PEMALI PAROKI SUNGAILIAT

Komunitas Sta. Theresia 2 termasuk komunitas inti dalam Stasi Pemali. Stasi Pemali mempunyai sebuah bangunan gereja yang lumayan cantik dengan pelindung ”Sta. Theresia dari Kanak-Kanak Yesus. Umat komunitas Sta. Theresia 2 terdiri dari orang-orang Tiong Hoa dan orang Jawa serta beberapa keluarga suku Batak dan Flores. Komunitas ini memiliki banyak aktivis. Dalam kegiatan komunitas, Theresia 2 cukup baik dan teratur dan sebagian besar aktif. Wilayahnya meliputi Pemali, Air Ruay, Sigambir, dan Air Duren (Pohing).

Berdasarkan data sensus paroki pada akhir tahun 2010 sampai awal 2011, komunitas ini beranggotakan 75 jiwa, dengan 27 kepala keluarga. Jumlah umat yang demikian itu, laki-laki sebanyak 36 jiwa dan 39 jiwa perempuan. Berdasarkan jumlah umat tersebut, dapat terbaca bahwa umat yang berumur 0-10 tahun sebanyak 13 jiwa; 10-20 tahun berjumlah 9 jiwa, 21-30 tahun, 11 jiwa; 31-40 tahun 15 jiwa; 41-50 tahun 6 jiwa dan 51-60 tahun sebanyak 7 jiwa serta 61 tahun keata ada 5 jiwa. Umat yang tidak memberikan data umur sebanyak 9 jiwa.

Dari data yang disensuskan paroki itu, muncul bahwa dari segi pendidikan umat komunitas Sta. Theresia 2 terbanyak mengeyam pendidikan sekolah menengah atas, dengan jumlah 25 orang. Sedang TK hanya 1 jiwa, SD sebanyak 12 jiwa, SMP berjumlah 10 jiwa, PT sebanyak 9 jiwa dan tidak memberikan data pribadi soal pendidikan sebanyak 18 jiwa.

Dalam hal partisipasi umat dalam berbagai kegiatan di stasi maupun komunitas komunitas ini terlihat cukup bagus. Umat bukan hanya terlibat pada waktu misa komunitas tetapi juga dalam kegiatan pendalaman iman mingguan dalam komunitas yang telah dijadwalkan.

Kegiatan rutin komunitas Sta. Theresia 2 terdiri dari (1). Misa bulanan komunitas setiap hari Selasa III dalam bulan, jam. 18.00. (2). Ibadat tobat umum di komunitas pada masa adven dan prapaskah sedangkan pengakuan dosa secara pribadi terjadi di gereja stasi 30 menit sebelum misa minggu pagi jam 08.00. (3). Ibadat kelompok yang lain yaitu pendalaman iman di komunitas setiap minggu hari selasa, jam 18.00. (4). Pesta pelindung komunitas yang dilaksanakan setiap tahun tanggal 1 Oktober, pesta Sta. Theresia dari Kanak-Kanak Yesus. (5). Program rutin lain dapat dilihat dalam program tahunan komunitas. 

Satu harapan untuk komunitas ini, supaya setelah Sinode 2 Keuskupan Pangkalpinang, komunitas ini dapat dimekarkan menjadi dua komunitas. ***

Jumat, 17 Februari 2012

KOMUNITAS BASIS ST. THOMAS AQUINO – CHOI HIN PAROKI SUNGAILIAT

Komunitas Basis yang berpelindungkan St. Thomas Aquino ini meliputi wilayah dusun Choi Hin, Merawang, Rebo, dan Si Hin. Sebagian besar anggota komunitas ini adalah saudara kita dari suku Tiong Hoa, satu keluarga dari Jawa dan beberapa keluarga dari Flores. Pekerjaaan rata-rata buruh (TI, pelabuhan, petani, peternak, dll). Komunitas ini anggota kebanyakkan perempuan. Selama ini seluruh kegiatan kelompok diprakarsai oleh Bapak Agus Suratidjo, seorang guru SD di SD Negeri 17 Tanjung Ratu. Kesulitan yang dialami kelompok ini selain pekerjaan yang memakan waktu hingga malam dan bahkan kerjanya sampai pada hari Minggu, juga karena wilayahnya terlalu luas dan jarak tempat tinggal yang berjauhan  satu dengan yang lain.


Komunitas St. Thomas Aquino hingga saat ini diketuai oleh bapak Agus Suratidjo. Beliau seorang guru SD di Tanjung Ratu. Sensus Paroki mencatat, komunitas St. Thomas mempunyai 22 kepala keluarga, dengan jumlah anggota anak-anak sampai dewasa sebanyak 40 jiwa yang terdiri dari 20 laki-laki dan 20 perempuan. Dari jumlah umat yang tinggal di komunitas St. Thomas itu, 19 jiwa menamatkan sekolah dasar, 4 jiwa SMP, 7 jiwa SMP dan PT sebanyak 3 jiwa; sedang 7 jiwa tidak memberikan data pribadinya.

Keterlibatan umat dalam berbagai kegiatan komunitas, paling banyak yaitu mengikuti perayaan ekaristi bulanan. Sedangkan kegiatan yang lain sangat sulit karena jarak tempat tinggal lumayan jauh dan juga karena wilayah ini sangat luas. Dari segi umur kita bisa membaca bahwa orang-orang yang terlibat dalam kegiatan komunitas berkisar umur 31-50 tahun yaitu 17 jiwa. Sedangkan umur 50 ke atas hanya 7 orang dan umur remaja hanya 2 orang.

Komunitas St. Thomas Aquino memiliki kegiatan rutin antara lain: (1). Misa komunitas yang dilaksanakan pada Minggu IV dalam bulan (2). Ibadat Tobat  pada adven dan Prapaskah, sedang tobat mingguan dapat dilaksanakan di gereja paroki (3). Ibadat lain, sesuai dengan bahan dari paroki (APP, Bulan Rosari, Bulinas, PDPL, Bulan Kibab Suci, Bulan Maria, Adven dll) (4). Pesta Pelindung, 28 Januari setiap tahun (5). Program khusus, dapat dilihat dalam program tahunan komunitas. (*)

Kamis, 16 Februari 2012

KOMUNITAS BASIS GEREJANI ST. YOHANES PEMANDI PAROKI SUNGAILIAT

Wilayah komunitas basis ini meliputi lingkungan Bedukang dan Air Hantu. Komunitas ini terdiri dari orang-orang yang berasal dari suku Flores dan satu-dua keluarga suku Tiong Hoa di Air Hantu. Hampir seluruh anggota kelompok adalah para pekerja TI, maka sulit diajak untuk berkumpul. Mereka lebih sibuk dengan kerja menambang timah. Apalagi pulang kerjapun sudah terlalu malam. Dengan alasan seperti ini maka rasanya sulit untuk mereka hadir dalam setiap kali ada pertemuan doa, bahkan misa kelompok. Sampai dengan saat ini, sudah ada keluarga yang menetap di komunitas ini.

Berdasarkan sensus umat yang dilaksanakan oleh paroki pada akhir tahun 2010 sampai dengan awal 2011, KBG St. Yohanes Pemandi memiliki 28 Kepala Keluarga, dengan jumlah umat 72 jiwa; 42 jiwa laki-laki dan 30 jiwa perempuan. Dari jumlah umat itu, umur 0-10 tahun sebanyak 23 jiwa, umur 10-20 tahun, 7 jiwa, 21-30 tahun 21 jiwa, 31-40 tahun ada 16 jiwa, umur 41-50, sebanyak 4 jiwa dan umur 51-60 ada 3 jiwa dan 61 tahun ke atas ada 2 jiwa. Data sesuai dengan umur ini sebenarnya mengindikasikan bahwa umur anak-anak merupakan terbanyak di komunitas ini. Setelah itu umur produktif, umur yang aktif bekerja. Dengan begitu ada konsekuensi logisnya bahwa kegiatan-kegiatan komunitas tidak banyak yang terlibat karena lebih sibuk bekerja.

Dari jumlah umat yang ada itu, umur SD berjumlah 24 jiwa, SMP sebanyak 11 jiwa, SMA berjumlah 6 orang, dan 39 jiwa tidak memberikan data tentang pendidikan. Jika kita melihat jumlah pendidikan yang ada di komunitas ini, maka komunitas ini sebenarnya punya tenaga untuk menjadi fasilitator dan pemimpin, namun karena kesibukan bekerja, komunitas ini cukup sulit untuk melakukan suatu kegiatan yang melibatkan banyak umat. Tenaga fasilitator di komunitas ini dibantu oleh Bapak Yohanes Djanu Rombang dari paroki.

Komunitas Basis St. Yohanes Pemandi selama ini dipimpin oleh bapak Mateus Modang dan operasional kegiatan dijalankan oleh isterinya, ibu Maria Bona. Kegiatan rutin: (1). Misa komunitas Minggu II dalam bulan (2). Ibadat tobat, pada adven dan pra paskah, sedang mingguan dilaksanakan di gereja paroki. (3). Ibadat lain, sesuai dengan bahan / kegiatan dari paroki (APP, Bulan Maria, Bulinas, PDPL, Bulan Kibab Suci) (4). Pesta Pelindung, 24 Juni setiap tahun (5). Kegiatan khusus, dapat dilihat dalam program tahunan. Sejak 2011, komunitas basis ini mempunyai sebuah kapel dan sekaligus difungsikan untuk tempat sekolah minggu bagi anak-anak dari komunitas ini. (*)

KOMUNITAS BASIS GEREJANI ST. DOMINIKUS DENIANG PAROKI SUNGAILIAT

Sampai dengan Desember 2007, komunitas ini dipimpin oleh seorang guru SD, Bapak Agustinus Wuriyanto. Setelah itu tampuk pimpinan diganti oleh bapak Vincentius Edie Amuk, sampai dengan 21/2/2008. Kemudian sejak Mei 2008 sampai dengan saat ini, KBG yang berjarak lebih kurang 20-an kilometer dari paroki pusat ini diganti lagi oleh bapak Petrus Don Pedro. Seorang MC yang bagus dan cukup cekatan dalam setiap kegiatan yang direncanakan bersama.

Mgr. Hilarius bersama umat KBG St. Dominikus (februari 2008)
Berdasarkan sensus umat yang dilaksnakan pada akhir 2010 sampai awal 2011, komunitas St. Dominikus mempunyai 21 Kepala Keluarga; dengan jumlah anggota umat Katolik sebanyak 64 jiwa yaitu 30 laki-laki dan 34 perempuan. Dari jumlah ini, dapat diklasifikasikan bahwa umur sekolah mulai dari TK atau Play Gorup, berjumlah 6 jiwa, SD: 17 jiwa, SMP: 11 jiwa, SMA: 17 jiwa dan PT: 1 jiwa. Lebih kurang 12 jiwa tidak mau memberikan data soal pendidikan yang dijalankannya.

Keterlibatan umat dalam kegiatan komunitas ini, masih sebatas misa komunitas. Kegiatan lain belum banyak. Kendalanya jarak antar tempat tinggal umat lumayan jauh. Selain itu, kita boleh memahaminya dari sisi umur umat yang menetap di komunitas ini. Dari sisi umur, umat Komunitas St. Dominikus berkisar 61 ke atas sebanyak 10 jiwa, 51-60 tahun berjumlah 11 jiwa, umur 41-50 tahun sebanyak 8 jiwa, 31-40 tahun berjumlah 8 jiwa, 21-30 tahun, 7 jiwa; 10-20 tahun, 10 jiwa dan 0-10 tahun, 6 jiwa. Maka diprediksikan partisipasi umat untuk kegiatan misa, pendalaman iman umat dan kegiatan lain-lain berkisar umur 31-50 tahun. Sedang umur muda dan tua jarang mengikuti kegiatan komunitas.

Jadwal rutin kegiatan rutin komunitas ini adalah (1). Misa Minggu I dalam bulan, (2). Ibadat tobat yaitu adven dan pra paskah, sedangkan setiap minggu boleh hanya dilaksanakan di gereja paroki. (3). Ibadat lain, sesuai dengan bahan dari paroki (APP, Bulan Maria, Bulinas, PDPL, Bulan Kitab Suci,dll) (4). Pesta Pelindung, setiap tahun tanggal 8 Agustus. (5). Kegiatan khusus           lain dapat dilihat dalam program tahunan komunitas.

Komunitas basis ini memiliki wilayah paling luas di paroki ini. Wilayahnya meliputi Simpang Bedukang, Deniang, Kayu Arang sampai Mapur. Sedangkan situasi umat, sebagian besar adalah umat sederhana yang saling berjauhan antara yang satu dengan yang lainnya. Ketika ketua kelompok masih dipimpin oleh almahrum bapak Agus Wuriyanto,  kelompok ini cukup aktif dan tekun baik dalam rutinitas pertemuan umat maupun dalam perayaan ekaristi. Semangat ini pun tidak pudar ketika ketua kelompok digantikan oleh Bpk. Vincentius Eddy (Ko Amuk) dan sekarang Bpk. Don Pedrosa. (*)

Sabtu, 11 Februari 2012

SAMBUT-PISAH ROMO MSF SUNGAILIAT

Kendaraan parkir di depan gereja dengan rapi, seperti misa pada malam minggu. Umat dari komunitas-komunitas berdatangan. Mereka menempatkan kursi-kursi yang telah disusun di lapangan badminton, depan aula paroki. Tidak disangka bahwa antusias umat pada acara pisah-sambut pastor MSF yang bertugas di Paroki Sungailiat, begitu banyak. Lebih kurang tiga ratusan umat yang hadir pada Rabu malam (1/2/2012)

“Kami bersyukur atas kehadiran umat yang begini banyak. Acara ini tidak ada panitia khusus. Protokolnya pun main tembak saja tadi. Kami senang dan bangga karena umat menanggapi undangan kami walaupun hanya lewat warta paroki saja”, ungkap Pastor Kris, parochus Sungailiat dalam kata sambutan pisah-sambut Rm. Vincentius Wahyu Harjanto MSF dan Rm. Fransiscus Asisi Budyono MSF.

Sejak 1 Maret 2011, Rm. Vincentius Wahyu Harjanto, MSF bertugas di Sungailiat, sebagai pastor pembantu paroki. Rm. Wahyu, begitulah yang sering disapa umat, lebih kurang setahun bertugas di Paroki yang berpelindungkan Santa Maria Pengantara Segala Rahmat. Walau hampir setahun menjalankan tugas, sudah merasa krasan. Sudah betah. Karena Sungailiat cukup menarik, cetus romo doktor spiritualitas ini.
  
”Saya teringat Rm. Wahyu, setiap kali kalau mau misa komunitas di St. Gabriel. Romo selalu telephon saya. Karena, romo belum hapal jalan dan rumah-rumah umat komunitas Gabriel,” ungkap Paulus, seorang fasilitator dari Bukit Betung, ketika memberikan kesan dan pesannya. ”Apalagi Rm. Wahyu seorang figur kebapaan yang dekat dengan umat, humor dan penyampaian kotbahnya singkat namun berisi,” lanjut seorang anggota umat yang hadir, enggan disebut namanya. Tidak heran jika ada banyak simpatisan yang hadir.

Rm. Wahyu pandai masak. Ketika ibu masak di pastoran libur imlek, romo yang pernah bertugas di Filipina ini berinisiatip untuk mengurus dapur dan masak. Selain hobi masak, juga berbakat seni. Bakat seni dapat dirasakan ketika natal 2011 yang lalu. Rm. Wahyu mengolah secara kreatif kertas-kertas dan barang-barang plastik yang telah dibuang menjadi bermacam barang-barang hiasan di gereja. Bahkan barang-barang bekas seperti kertas-kertas itu dihancurkan atau dipadatkan lalu dibentukya menjadi arca-arca Yesus, Maria, Tiga Raja, gembala, dan lain-lain lalu dicat kemudian diletakkan di kandang natal.

Bakat seninya diterima bukan hanya orang tua tapi juga anak-anak. Anak-anak rajin mengikuti latihan tablo natal dan dengan percaya diri tampil pembuka upacara natal 2011. Sehingga tidak heran, ketika acara penyerahan kado, Lorens Djanu Rombang (4) dengan senyum menyerahkan kado keluarganya untuk Rm. Wahyu. Sebuah ungkap perhatian dan daya tarik tersendiri baginya.

”Rasanya begitu cepat kebersamaan Rm. Wahyu dengan umat Sungailiat. Bagiamana pun ada saat untuk perjumpa, ada saatnya untuk berpisah, pindah tugas. Pindah tugas, suatu hal yang biasa. Artinya dengan pindah tugas, umat di tempat lain mendapat pelayanan.

Kata Wililem, salah seorang peserta komunitas St. Theresia 1 yang hadir, “Iyalah, mana mau lagi romo disini. Apalagi di Tarakan romo ini bukan kapten, tapi seorang jendral. Lebih tinggi pangkatnya. Makanya perlu pindah.” Mungkin inspirasi ini muncul ketika kata sambutan Rm. Wahyu yang menyampaikan tugasnya di Tarakan, yaitu sebagai pastor di paroki dan menjadi staf pengajar di seminari. Wah...benar juga kata pak Wililem tadi. Rm. Wahyu akan mengajar calon pastor. Benar, sesuai dengan bidang Rm. Wahyu yang selama ini menjadi dosen untuk para calon imam.

Rm. Wahyu telah berangkat ke Jakarta (2/2/2012) dan akan ke Keuskupan Tanjung Selor Kalimantan Timur. Tapi kita ingat bahwa Rm. Wahyu telah menjadi teladan bagi kita, kata pak Ardijanto. Romo telah menunjukan banyak hal untuk umat Sungailiat. Tidak heran kalau malam itu anak muda jadi iklan di baju yang kemudian diberikan kepada Rm. Wahyu biar ketika Rm. Wahyu di Tarakan tidak melupakan mereka. Bukan hanya anak muda St. Aloysius Gonzaga, ibu-ibu paroki tampil dengan suara emasnya untuk memberi kenangan tersendiri bagi romo. Hanya satu ucapan untuk Rm. Wahyu, terima kasih dan Tuhan memberkati. Untuk Rm. Budi, selamat datang dan selamat bertugas di Paroki Sungailiat. *al*

Kamis, 02 Februari 2012

DESTINATION KE SITUS MEGALITIK KAWALIWU

Jalan masuk ke "Lango Bele" hampir 1,5 kilo meter dari jalan raya Kawaliwu-Larantuka.Pohon-pohon di sekitarnya masih asli. Kata orang Kawaliwu, pohon-pohon itu secara alamiah tidak pernah ditebang atau disentuh oleh tangan manusia. Kalau pohon-pohon itu tumbang artinya secara alamiah karena sudah rapuh dan mati sendiri.

Rata-rata pohon-pohon itu terdiri dari pohon beringin, rita, dan pohon-pohon lain yang ditanam oleh orang Kawaliwu, termasuk pohon kepala, jambu mete dan kemiri.

Perjalanan dari jalan raya ke lango bele, lebih kurang 20 menit, jika kita berjalan santai. Kalau mau cepat mungkin hanya 10 menit. Jalan masuk ke lango bele, jalan setapak, berbatu-batu dan lumayan mendaki. Jika kita sudah masuk dalam "kawasan hutan asli" dari jauh kita sudah mendengar suara-suara alam semakin terasa, seperti di hutan belantara. Dari jauh kita melihat atap "koko" atau korke dan "Lango Bele". Juga ada sebuah rumah klan di sebelah kanan, rumah klan larita (Lango suku Ritan). Selain lango dan koko, juga ada hoku. Hoku adalah rumah kecil yang dipakai untuk menyimpan hasil kebun.

Koko atau korke, rumah tua, peninggalan nenek moyang Kawaliwu. Rumah ini sebagai tempat "penyatuan ide, pikiran, dan membuat kesepakatan." Atau sekarang boleh kita sebut sebagai "rumah demokrasi". Rumah "pupu taan uin tou, gaan taan gewahan ehan." Artinya di dalam rumah ini, seluruh kepala klan yang hadir membuat sepakat untuk suatu keputusan. Setelah keputusan itu sudah diputuskan oleh pemimpin lewotana atau kepala penatua, keputusan itu diangkat ke pada Rera wulan Tana Ekan. Seluruh kepala klan mengangkat keputusan kepada Tuhan untuk diberkati, dilindungi dan direstui sehingga dapat terlaksana dengan baik dan lacar.

Keputusan yang telah menjadi sebuah kesepakatan dinyatakan dalam suatu upacara khusus di dalam "megalitik Kawaliwu". Tempat menyembahkan kepada nenek moyang. Agar keputusan yang sudah diambil tadi direstui.

 Sebuah upacara khusus yang didalamnya, para penatua yang berkumpul, mengangkat doa-doa secara ceremonial. Doa-doa itu biasanya dipimpin oleh pemimpin, atau penatua yang mampu "mara".

Ceremonial ini disertai dengan pemecahan telur dan pemotongan binatang. Suatu upacara korban yang menyatakan bahwa Rera Wulan dan Tana Ekan, bertautan erat yang tak boleh dipisahkan. Tautan erat ini melambangkan persatuan dan karena itu, persatuan Rera Wulan Tana Ekan, perlu diikuti oleh seluruh klan (suka) yang ada di Kawaliwu. Meminjam kalimat biblis, "barangsiapa yang melekat dengan Aku, ia berbuah banyak. Barangsiapa yang menjauh dari Aku, akan Kubuang."

Situs megalitik, sebuah situs prasejarah di Kawaliwu. Batu-batu tipis yang berukuran besar, disusun membentuk sebuah ruang dengan ukuran yang diperkirankan lebar 13 meter dan panjang 25 meter dengan ketinggian 1,5  meter. Ruang seluas ini sebagai tempat pemujaan terhadap nenek moyang Kawaliwu.

Dikeliling ruang megalitik itu berdiri batu-batu yang dipasang tegak disetiap sudut dan pertengahan situs. Situas megatilik Kawaliwu diperkiran berumur 4.0000 tahun. Sampai dengan saat ini banyak wisatawan asing datang melihat dan sekaligus merayakan pemujaan bersama di dalam situas ini. Orang Kawaliwu, hampir setiap tahun menerima wisatawan asing yang berkunjung ke situs Kawaliwu.

Bagi wisatawan asing yang mau berkunjung bisa dengan pesawat terbang dari Den Pasar ke Maumere kemudian dengan mobil ke Larantuka. Dari Larantuka ke Kawaliwu hanya 15 km. Di Kawaliwu wisatawan dapat menikmati panorama alam situs Kawaliwu, Sun Set Kawaliwu dan Air Panas Kawaliwu dengan pemandangan indah pantai Kawaliwu. Selamat datang dan menikmatinya. ***