Jumat, 27 Juni 2014

Bukan Hanya Sebatas Mendengar Tapi Melakukan

(refleksi hidup hari ini)

1.  Teks Kitab Suci Hari ini Matius 19: 21-29:
21Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga. 22Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga? 23Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!"

24"Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu. 25Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu. 26Tetapi setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan tidak melakukannya, ia sama dengan orang yang bodoh, yang mendirikan rumahnya di atas pasir. 27Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, sehingga rubuhlah rumah itu dan hebatlah kerusakannya."

28Dan setelah Yesus mengakhiri perkataan ini, takjublah orang banyak itu mendengar pengajaran-Nya, 29sebab Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat mereka.

2.  Penjelasan Teks Kitab Suci:
Ketika membaca dan merenungkan Sabda Yesus ini dengan lebih teliti, secara garis besar, muncul dalam benak saya pertanyaan berikut ini yang menggesek hati saya. ‘Siapa sih sebenarnya menjadi murid Yesus?’ ‘Apakah murid Yesus itu adalah pendengar setia Sabda-Nya atau pelaksana yang rajin dan setia Sabda Yesus, ataukah menjadi pendengar dan pelaksana Sabda Yesus itu?’

Ternyata seorang murid Yesus rupanya tidak hanya sebatas ‘berdoa’ melulu. Memang dalam ‘doa-doa’ baik doa secara pribadi atau doa-doa dalam kebersamaan, selalu kita menyapa Yesus dengan sapaan yang khas. Ayat 21 teks ini, Yesus menyebut bahwa dalam doa-doa itu kita menyapa-Nya dengan Tuhan. Menyapa-Nya dengan Tuhan, tidak salah. Tepat sekali, karena ketika kita mengucapkan ini, Yesus telah dimuliakan dalam Surga. Dan tentu ucapan atau sapaan kita ini berangkat dari ungkapan hati yang tulus ikhlas sebagai berimanan kita.

Kata Tuhan yang dipakai Matius berasal dari kata Yunani ‘kyrios’ yang artinya ‘tuan.’ Kata kyrios disebut Matius dalam hubungan dengan penghakiman. Maka pada ayat ke-22-23, Yesus menyebut ‘pada hari terakhir’... Itu artinya bahwa sebagai murid Yesus selama hidupnya, titik ukur keberimanan kita kepada Yesus, hanya Dia-lah yang tahu. Namun titik ukur ini secara jelas sudah ditegaskan pada awal ayat 21. Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, Tuhan, masuk ke Surga tetapi mereka yang melakukan Sabda Tuhan. Disini jelas sekali, Yesus mengetahui siapa sih sebenar menjadi murid-Nya. Maka kita boleh merumuskan disini, siapa sih menjadi murid Yesus itu? Murid Yesus sejati ialah mereka yang beriman kepada-Nya dengan sepenuh hati. Maksud adalah mereka yang tidak hanya mendengarkan Sabda Tuhan dengan setia tetapi dengan setia juga melaksanakan dalam hidup riil setiap hari. Lalu menjadi murid Yesus hanya sebatas mendengar atau melakukan saja, ia bukan menjadi murid Yesus yang sejati. Karena titik ukurnya ialah mendengar dan melakukan sebagai suatu kesatuan proses yang nyata-dan timbal balik, maka boleh jadi siapapun boleh menyatakan diri sebagai murid Yesus, namun titik ukuran ini terbongkar ketika hari penghakiman. Di hari inilah, kesejatian sebagai murid akan diketok palu, masuk surga atau neraka.

Lalu pada ayat 24-27, Yesus menyampaikan kejelasan lagi soal menjadi murid-Nya dengan membandingkan orang yang membangun rumah di atas batu atau di atas pasir. Yesus memuji kesejatian murid-Nya bahwa siapa pun murid-Ku yang mendengar dan melakukan Firman, dialah orang yang bijaksana. Karena apa yang dilakukannya itu sama dengan orang yang membangun rumah di atas batu. Pasalnya, ia sudah melihat ke depan situasi hidupnya. Bahwa selama hidup ini pasti saja ada tantangan dan halangan yang bisa saja datang baik secara alamiah maupun secara buatan tangan orang-orang lain atau nabi-nabi palsu. Dengan cara berpikir dan berpola hidup untuk masa depan, jelas bahwa apa yang telah dilakukannya itu mampu mengatasi segala cobaan dalam hidup.

Hal ini jauh berbeda sekali dengan orang yang mengatakan diri sebagai murid Yesus, tetapi ia hanya mendengarkan Sabda Tuhan atau hanya melakukan Sabda Tuhan. Lalu ia berpresiden bahwa Yesus itu adalah mahakasih karena itu Yesus pasti mengampuni kesalahan orang. Orang yang hanya mampu memilahkan ini, Yesus menyamakannya dengan orang bodoh, yang memabngun rumah di atas pasir. Dan jelas bahwa ketika rintangan dan halangan apa saja yang datang, tentu akan roboh dan hancur berantakan. Biasanya orang seperti ini lalu memiliki kemampuan untuk menyalahkan Tuhan. Mengapa Tuhan tidak ada saat aku mengalami situasi seperti ini? Dan lain-lain lagi pertanyaan yang memojokan Tuhan.

Pengajaran Yesus tentang siapa sih murid-Nya ternyata membuka mata hati para pendengar-Nya, tentu termasuk kita-kita ini. Sikap para pendengar yang muncul adalah mengagumi dan tercengang akan pengajaran Yesus, karena pengajaran-Nya itu amat berwibawa, punya otoritas yang berasal dari Bapa-Nya. Sikap ini mau menyampaikan kepada kita bahwa ternyata menjadi murid-Nya tidak hanya sebagai pendengar setia dan rajin berdoa, tetapi sebenarnya setia dan rajin juga dalam melaksanakan Sabda Tuhan yang sudah didengar itu. Bisa beriman kepada Yesus karena mendengarkan, tetapi iman tanpa berbuatan adalah mati. Dengan pengajaran Yesus ini, sebenarnya mau mengkritik para ahli Taurat yang hanya hebat membuat banyak aturan dan menjadi pengajar yang hebat tentang Taurat tetapi tidak mampu melakukannya dalam hidup mereka.

3.  Relevansinya Untuk Hidup Kita:
a.    Berdoa yang terus menerus dan rajin, ternyata tidak menjamin masuk Surga. Berdoa yang terus menerus dan rajin itu sangat baik. Tetapi bukan hanya sebatas itu. Berdoa adalah menambah ‘amunisi’ untuk menjadi kekuatan dalam melakukan isi doa. Atau dengan bahasa Matius tadi, bukan hanya mengambil Tuhan, tetapi juga melakukan Sabda Tuhan. Hubungan doa dan kenyataan hidup adalah satu kesatuan yang utuh.

b.    Kesejatian menjadi murid Yesus hanya diketahui oleh Yesus ketika kita sudah meninggal. Tidak ada orang yang mampu mengetahui atau mengukurnya. Ukurannya memang jelas ‘mendengar dan melakukan Sabda Tuhan secara nyata dalam hidup. Tetapi untuk mengetahui, hanya pada Yesus sendiri. Kalau dipikir-pikir menjadi murid Yesus yang sejati (bijaksana-orang yang membangun rumah di atas batu) dan menjadi murid Yesus yang tidak sejati (bodoh-orang yang membangun rumah di atas pasir), hanya ukuran tipis didalam batin setiap orang. Karena ukurannya ada didalam batin, sangat sulit diketahui oleh sesama, hanya dapat diketahui oleh Yesus sendiri.

c.    Perziarahan hidup manusia beriman kepada Yesus, tentu mengimpikan keselamatan abadi. Supaya dapat mencapai hal itu, Yesus mengatakan seorang murid-Nya harus mendengarkan dan menjadi pelaku Sabda-Nya. Yang mendengar dan menjadi pelaku Sabda-Nya adalah orang yang bijaksana, sedang yang tidak melakukan kedua-duanya atau hanya satu diantara keduanya itu disebut-Nya sebagai orang bodoh.

Orang bijak akan masuk Surga dan orang bodoh akan diusir-Nya. Bukan hanya diusir-Nya tetapi bahkan Yesus pun tidak mengenal orang itu atau menyangkalnya. Kalau dipikir-pikir, sudah menjadi murid-Nya: sudah hanya mendengarkan Sabda-Nya atau hanya melakukan Sabda-Nya, malah diusir dan disanksikan-Nya serta dianggap sebagai pelaku kejahatan pula. Untuk hal ini, yang mau ditegaskan Yesus disini ialah bagaimana cara berpikir dan memahami secara mendalam menjadi murid Yesus secara holistik.


Akhirnya, dengan kita membaca dan memahami dengan lebih baik Sabda Tuhan hari ini, kita dapat menghayati bagaimana menjadi murid-Nya yang sejati. Bahwa kesejatian menjadi murid Yesus ialah mendengarkan Sabda-Nya dan melakukan Sabda-Nya itu dalam hidup sehari-hari. **al**

Senin, 23 Juni 2014

Yesus Memberikan Peringatan kepada Manusia yang tidak mau Mengintrospeksi Dirinya

(refleksi hidup hari ini)

Teks Kitab Suci hari ini: Matius 7: 1-5
1"Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi. 2Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu. 3Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui? 4Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: Biarlah aku mengeluarkan selumbar itu dari matamu, padahal ada balok di dalam matamu. 5Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu."

Penjelasan Teks Kitab Suci:
‘Menghakimi’ sama katanya dengan ‘mendiskreditkan’, ‘menghukumi’, dan ‘membuat seseorang malu atau terpojok’. Apalagi, tindakan ini dilakukan di depan beberapa orang atau publik. Perilaku semacam ini tentu tidak bersikap bijak, intoleran, dan lebih dari itu memunculkan sikap sombong angkuh, dan mau menang sendiri dari orang yang melakukan, disatu sisi. Dan disisi yang lain, akan memunculkan sikap benci, jengkel, amarah, dan dendam kusumat dari yang mengalami tindakan itu. Tidak heran, jika Yesus memberikan peringatan kepada kita pada ayat 1, ‘Jangan kamu menghakim, supaya kamu tidak dihakimi.’ Pernyataan Yesus ini terasa sepele namun memiliki efek yang besar untuk hidup sebagai satu masyarakat Allah.

Tindakan menghakimi, akan memunculkan efek balas dendam di masa yang akan datang (ayat 2). Seolah-olah, seseorang yang mengalami akibat penghakiman itu, dalam hati dan pikirannya akan berkata, ‘tunggu saatnya kamu, pasti kamu akan mengalami hal yang sama pada suatu saat’. Ungkapan ini pun terlihat sepele. Namun, punya efek juga pembalasan yang akan dialami. Jika ungkapan ini didengung terus menerus, iya....semacam ‘doa’ yang berisi negatif-kutukan yang akan terjadi. Mengapa? Dalam hidup manusia tidak terlepas dari gejolak hal positip dan negatif. Bagaikan sebuah roda yang terus berputar dan pada saatnya akan mengalami sikap hidup negatif.

Karena itu, harus perlu bersikap hati-hati dan bijaksana dalam hidup ini. Sikap hati-hati ialah sikap diri yang mampu mengendalikan sesuatu keinginan. Sikap hati-hati sama dengan sikap waspada. Ini hal positip yang perlu dilakukan. Karena itu, dalam mengungkapkan atau mengambil tindakan sesuatu kepada orang lain, perlu dipikirkan dan dibarengi dengan sebuah pertimbangan yang matang, soal efektivitas hidup ke depan. Sikap bijaksana ialah sikap mempertimbangkan hal positip yang seharusnya lebih banyak dari pada hal negatif, sehingga yang muncul adalah positip thinking. Terhadap sikap hati-hati dan bijaksana ini, (ayat 3-4), Yesus mendukung dengan mendalami kedua sikap ini dengan sebuah solusi yang amat efektif, yaitu lebih baik dan bijak bila diri sendiri mengoreksi diri terlebih dahulu, sebelum keluar dari diri mengoreksi orang lain yang ada disekitar kita. Karena bukan orang lain tidak mampu mengoreksi diri orang lain, tetapi justru dia tahu diri, bahwa dirinya juga tidak lebih baik dari orang lain.

Jika sikap keberanian kita tidak mengoreksi diri sendiri, itu artinya bahwa kita membiarkan diri untuk tetap berada dalam ‘lumpur’ lalu tanpa sadar mengajak orang lain, masuk dalam lumpur yang sama. Jika inilah yang dilakukan, Yesus akan menyapa kita dengan sebutan yang sangat tidak manusiawi: ‘hai kamu orang munafik’ (ayat 5). Munafik adalah sikap menggeneralisasi kebenaran dalam dirinya dan dengan sikap berani mempersalahkan orang lain.

Relevansinya Untuk Hidup kita hari ini:
a.     Introspeksi diri sama dengan memeriksa batin. Introspeksi diri ialah usaha untuk masuk ke dalam diri sendiri. Masuk ke dalam diri lalu mengenal diri dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Keduanya harus diakui, harus diterima dengan sikap jujur dan tawakhal. Kelebihan ditingkatkan dalam membangun relasi baik dengan Tuhan maupun dengan sesama. Kekurangan diri juga harus berani untuk diperbaiki. Memperbaiki sendiri tentu banyak orang akan berpikir gampang. Jika ini yang selalu dipikirkan maka perbaikan tidak akan terjadi. Memperbaiki diri pun harus dalam relasi dengan Allah, sehingga kita mampu dan jujur dihadapan Allah. Perbaikan diri dalam relasi dengan Allah itu, harus nyata bahwa benar sudah diperbaiki dalam hidup dengan sesama. Ini wujud konkrit.

Ternyata tindakan mengintrospeksi diri tidak gampang dilakukan. Bahkan tidak terus menerus dijalankan. Ini kesulitan. Sehingga terkadang banyak orang jatuh dalam sikap lebih mudah menghakimi atau mempersalahkan orang lain, ketimbang diri sendiri. Lebih parah lagi, karena situasi menjepitnya, seseorang lalu mempermalukan seseorang atau orang lain di depan publik. Tidak mudah orang mempersalahkan dirinya sendiri. Selalu mencari jalan untuk mempersalahkan orang lain.

Hari ini, warta Yesus mengingatkan kita, supaya lebih giat berusaha untuk mengenal diri sendiri sebelum mengenal diri orang lain. Memang terkadang orang lain terlihat lebih ‘menarik’, lebih dibilang ‘seksi’ karena gemuk, kurus, ramping sehingga mau mengenal orang lain lebih dalam lagi. Namun, ini terasa hanya lahiriah saja. Lebih bijaksana diri sendiri perlu berusaha untuk mengenal diri sendiri. Mungkin lebih baik dan bermartabat, semestinya setiap saat selalu mempunyai waktu luang walau hanya sedetik atau semenit melihat dan memahami diri dan tindakan kita. Sehingga apa yang dibuat nanti, tidak menjadi batu sandungan untuk orang lain bahkan bagai bumerang yang kembali menghantam diri sendiri.

b.     Introspeksi diri bukan kemudian menjadi bersikap egoisme diri atau menjadi orang yang tertutup. Karena itu, dalam berpola pikir tentang manusia, manusia adalah dinamis bukan statis. Manusia dinamis, adalah manusia yang berziarah meningkatkan kelebihan dan memperbaiki kekurangan. Tidak ada manusia yang tidak mampu memperbaiki kelemahan atau meningkatkan kelebihan. Yang tidak mampu itu adalah makhluk infrahuman. Karena itu, tentu membutuhkan orang lain untuk menyemangati bukan mengkerdilkan atau mengotak-kotaknya.

Akhirnya, selamat mengintrospeksi diri dan selamat berziarah untuk menjadi manusia yang dinamis yang melihat kehidupan baru di masa depan.***

Sabtu, 21 Juni 2014

Pilihlah Yang Terpenting Dalam Hidup Ini

(refleksi hidup hari ini)

Teks Kitab Suci
25"Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian? 26Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di sorga. Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu? 27Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya?

28Dan mengapa kamu kuatir akan pakaian? Perhatikanlah bunga bakung di ladang, yang tumbuh tanpa bekerja dan tanpa memintal, 29namun Aku berkata kepadamu: Salomo dalam segala kemegahannyapun tidak berpakaian seindah salah satu dari bunga itu. 30Jadi jika demikian Allah mendandani rumput di ladang, yang hari ini ada dan besok dibuang ke dalam api, tidakkah Ia akan terlebih lagi mendandani kamu, hai orang yang kurang percaya? 31Sebab itu janganlah kamu kuatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai?

32Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu. 33Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu. 34Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari."

Penjelasan Teks Kitab Suci dan Relevansinya Untuk Hidup kita:
Teks Kitab Suci hari ini dikisahkan oleh Penginjil Matius dengan amat menarik. Amat menarik karena Yesus berbicara soal hidup yang menyentuh kebutuhan pribadi seseorang. Apa kebutuhan pribadi seseorang itu? Perhatikan pada ayat 25. Bahwa disana Yesus membicarakan soal makan-minum dan pakaian. Makan minum menyangkut kebutuhan lahiriah supaya tubuh kita tidak merasa lapar dan haus secara alamiah. Selain itu diayat yang sama ini, Yesus pun berbicara soal pakaian yang dipakai untuk menutup tubuh. Ada korelasi antara tubuh dan pakaian. Relasi erat itu menyangkut, tubuh kita yang semakin besar dan subur oleh karena makanan dan minuman perlu ditutupi dengan pakaian agar tidak dianggap pornografi. Tidak dianggap tidak sopan santun. Kalau tidak ditutupi, akan memunculkan persoalan baru. Persoalan menyangkut pelanggaran tatakrama hidup sebagai makhluk sosial.

Karena tuntutan menyangkut hal ini, orang lalu ribut-bersungut-sungut tentang mana yang lebih penting. Kepentingan atau kebutuhan hidup lalu bergeser. Pergeseran nilai hidup inilah yang mengundang Yesus untuk angkat bicara dengan meminta tiap-tiap orang melihat, memahami, dan merefleksikan lebih dalam soal pilihan hidup mana yang lebih diutamakan dalam hidup ini.

Yesus mengundang para pendengar-Nya dengan membuat perbandingan. Perbandingan yang diangkat Yesus pun, secara alamiah yang ada disekitar kita. Itu artinya Yesus mau supaya kita manusia pun perlu mempelajari apa yang diberikan Allah melalui alam ciptaan-Nya. Terlihat sangat lucu bahwa manusia yang berakal budi, diminta Yesus untuk belajar dari burung-burung, yang tidak berakal. Sebuah kritikan besar Yesus untuk manusia. Bahwa sebetulnya, tidak perlu kuatir akan hidup soal makan dan minum. Manusia dengan akal budi yang diberikan Allah harus jauh lebih hebat: hebat dalam pengaturan hidup, hebat dalam membuat pilihan yang lebih penting, dan hebat dalam pengelolaan ekonomi hidup yang ada; yang dimiliki manusia.

Untuk melihat, memahami dan merefleksikan soal pengutamaan kebutuhan makan-minum, Yesus memberi contoh tentang burung-burung di langit (ayat 26-27). Bahwa burung-burung itu, tidak bekerja tetapi justru bisa hidup. Hidup burung-burung ternyata disediakan juga oleh Allah. Bahkan burung-burung pun tidak banyak memikirkan hal soal makan dan minum, tetapi dengan cara mereka, mereka bisa hidup. Mereka terbang kesana kemari, dan hinggap. Mereka lalu dipelajari oleh manusia modern sehingga menghasilkan ‘burung-burung besi.’ Ha..., ternyata berguna juga iya burung-burung ini.

Hal yang sama soal makan minum, Yesus pun menekankan soal pakaian (ayat . 28-31). Jelas bahwa Yesus tidak meminta bahwa manusia harus berpakaian yang mewah dan yang berkualitas tinggi. Karena apa? Karena Yesus lebih menekankan kekudusan dan kesucian tubuh manusia. Mengapa? Karena didalam tubuh manusia itu ‘kemah Allah’. Allah yang sedang bekerja-mendorong manusia untuk lebih hidup, hidup yang mengutamakan diri-Nya sendiri, bukan soal makan minum dan pakaian. Maka tidak heran, Yesus meminta kita manusia untuk belajar dari bunga bakung. Juga belajar dari kemewahan Salomo tidak tertandingkan dengan keindahan dan keelokan bunga bakung di ladang.

Setiap perbandingan yang diangkat Yesus, selalu diakhiri dengan pertanyaan untuk para pendengarnya. Mana yang lebih diutamakan, makan-minum atau hidup, pakaian atau tubuh manusia? Pertanyaan ini sudah jelas bahwa Yesus meminta kita memilih soal hidup dan tubuh. Bahwa hidup itu perlu dimaknai secara luas, bukan hanya berjuang untuk mendapatkan makan-minum dan pakaian. Bahwa hidup itu adalah proses. Proses untuk sampai pada persekutuan dengan Allah dalam Yesus. Bukan hidup itu proses hanya sampai pada makan-minum dan berpakaian saja.

Memang hidup itu adalah sebuah pencarian. Pencarian hanya untuk mencapai makan minum dan pakian adalah hidup bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah (ayat 31). Mereka lupa bahwa apa yang dibutuhkan itu telah disediakan oleh Allah. Tinggal bagaimana manusia yang memiliki akal budi itu mengatur, mentana, mengola, dan mengendalikan diri atas segala kepentingan atau kebutuhan tambahan dalam hidup ini. Bisa jadi bukan mereka lupa, tetapi mereka tidak mengenal Allah, karena makan minum dan pakaian adalah ‘topeng’ yang menutup mata mereka untuk melihat dan berjumpa dengan Allah.

Bagi orang yang memaknai hidup dengan mengutamakan hidup sebagai perjuangan dan pencarian makna hidup hingga ber-communio dengan Allah dan memaknai tubuh sebagai ‘kemah Allah’ yang hidup dari tubuh dan darah Kristus, boleh mengutama Kerajaan Allah. Karena mengutamakan Kerajaan Allah (ayat 33-34), Allah dengan tidak henti-hentinya senantiasa menyertai, membimbing dan menuntun kita untuk kuat dan sehat dalam bekerja dan menjadikan kita berkat bagi sesama kita (Mat. 1:23; 18: 20; 28: 20). Karena itu, jangan kuatir soal makan-minum dan pakaian, tetapi gunakan hidup sebagai baiknya untuk merawat tubuh, karena tubuh adalah ‘kemah Allah’, ‘kemah rohani’ yang melaluinya kita manusia mencapai hidup sempurna dalam Yesus. ***

Jumat, 20 Juni 2014

Fokus Pengabdian Manusia: Kepada Allah atau Kepada Harta?

(Reflection of life today)

Text from Matthew 6: 19-24:
19 "Do not lay up treasures on earth, where moth and rust earth destroy, and where thieves break in and steal. 20th but for yourselves treasures in heaven, where moth and rust do not destroy, and where thieves do not break in and steal. 21 For where your treasure is, there will your heart be. 22nd eye is the lamp of the body. If your eyes are good, your whole body of light; 23 if your eye is bad, your whole body gelaplah. So if the light in you is darkness, how great is that darkness. 24 No one can serve two masters ., for either he will hate the one and love the other, or he will be devoted to the one and despise the other. Ye can not serve God and Mammon to. "

Explanation Text:
Evangelist Matthew remind everyone in this life. Firstly , verse 19, which begins with the phrase 'please'. Do not collect treasure on earth. Why? Because the treasure in the earth will gradually destroyed by moth and rust and will be an attraction of others so that others do not have good intentions to come steal it. Secondly, verse 20, Jesus encouraged people to collect treasures in heaven. Because, the treasure which has been 'deposited' man in heaven, will not moth, will not rust, and will not be stolen oranga another. Because only God who determines the pin and guard our deposit.

Collecting treasure for life is a positive attitude and a way of life. But keep in mind that how to get the treasure and the way we behave towards property, that is what needs to be seen again, so do not bring bad effect either for themselves or for others. Because of the way we behave to the property, this is particularly emphasized in this text in paragraph 21. Attitude is too focused and forgotten treasures will be other things that his own spiritual life.

It turns out, how do I get the treasure on earth would make someone else to arouse the desire of all sorts. In fact people will be jealous and have a nasty strategy to get the treasure collected. God will bind us again this attitude, which is contrary to the Law of God himself, 'do not steal' (7), 'do not wish to have your neighbor unjustly' (10).

Of our attitude toward wealth and how we get it, God confirmed to us about ourselves, that within us there are two attitudes are always at odds with each other, ie between 'light and dark' (cf. verse 22). That attitude and how to obtain a true treasure comes from the 'bright' glowing from within. That the light that comes out of us that have been placed by God since man was created. So human beings are basically good and spiritual. His body needs a 'treasure' for life. But the spirit or light given by God it will redirect his life to the Giver of Life.

The darkness of life will emerge if people just focus on collecting treasures alone (cf. verse 23) He no longer directs his life to follow the direction of light that continues to direct his life towards communion with the Eternal Light. Even the attitude that focuses on property, gradually, will cover the divine light that always leads to the treasure of his life. So that the whole self and life, treasure the primary focus in life.

Jesus at the end of this text asking people to make accurate choices in life. Preference will be determined humans, are clearly demonstrated by Jesus himself. That man can not serve two masters (cf. verse 24). Because if you serve two masters, will bring that attitude to love one and hate the other. If this attitude is maintained in life, fairness, honesty, virtue love law, be gone.

Meaning Text For Life Struggle:
Life is a struggle (est vitae militia). Everyone struggles lead to happiness in life. Outer and inner happiness. Happiness was born when basic needs are met such as food, clothing, shelter, and others exist. Inner happiness, such as serenity, comfort, and life rohanih also be a balancing outward life. Both happiness is not dilepaspisahkan each other. It takes what we often call the harmony or conformity.

The struggle of life to gain happiness, of a claim of Jesus. Jesus wanted the life that used not only for self, family and tribal interests, but also to the interests of many people, across families, tribes, and cultures. Therefore, counsel of Jesus in order to put God first is the basic thing. Why? In order not to bring up the attitude of envy, jealousy, pride, and greed both from themselves and from others around us. In other words, promoting the property for a happy life it is okay, but that's not important.


Foremost of these are treasures gained through with a fine and dignified, able to share, to help one another, as the way we deposit a heavenly life. Because it will not moths, will not rust, and will not be stolen by others. The more we deposit to God, multiplies interest. Here may we sandingkan with a servant who received two talents received two talents more profit and a servant who received five talents gained five talents more. God with an attitude to the Fatherhood will invite servant two talents and five as' O good and faithful servant .... come and obey what the master's happiness. (Matt. 25:21, 23). 'For every person who has, to him shall be given, so it abundantly. But who does not have, anything that belongs to him would be taken from him "(Matthew 25:29). ***

Rabu, 14 Mei 2014

Paskah Ekuimene Bersama SMK Negeri 1 Sungailiat Kabupaten Bangka



Hidup rukun dan toleransi umat beragama di SMK Negeri 1 Sungailiat, sangat dijunjung tinggi oleh para guru, karyawan, dan para siswa-siswi SMK Negeri 1 Sungailiat, Kabupaten Bangka, kian tampak. Pasalnya, untuk perayaan Paskah Ekuimene tahun 2014 ini, justru masuk dalam program kegiatan OSIS SMK Negeri 1 yang bersangkutan. Sekolah melalui OSIS-nya memfasilitasi kegiatan ini. Pengurus OSIS terlihat sibuk mempersiapkan ini tatkala berada di lokasi Paskah Ekuimene bersama antar siswa-siswi dan para guru kristen, di Pantai Matras, salah satu pantai yang menjadi ajang pariwisata bagi masyarakat Pulau Bangka.

Keterlibatan pengurus OSIS mendukung kegiatan Paskah Ekuimene, antara lain: ketika siswa-siswi dan para guru kristen beribadah, mereka mengambil telur paskah lalu menyembunyikan di beberapa titik tempat, yang akan menjadi acara cari telur bersama antar siswa-siswi kristen. Selain itu, keterlibatan pengurus OSIS juga nampak dalam menyiapkan makanan untuk makan bersama dan memanggang ikan untuk menjadi santap bersama, ungkap Elias Sitinjak, S.Ag, guru agama Katolik di SMK Negeri 1 dan sekaligus menjadi ketua panitia Paskah Ekuimene bersama.

Lebih lanjut, Pak Elias, menegaskan bahwa kegiatan ini didukung oleh Kepsek dan para guru yang lain. Dukungan sekolah itu berupa dana. Dana itulah yang kami kelola untuk melaksanakan kegiatan ini. Bagi saya, ini sesuatu yang luar biasa. Karena sekolah memberikan kesempatan bagi anak-anak didik kami yang beragama kristen untuk merayakan Paskah Ekuimene ini (29/4). Inilah yang patut kami banggakan.

Kegiatan Paskah Ekuimene bersama bertempat di Pantai Matras itu, diikuti oleh lebih kurang 40-an siswa-siswi yang beragama kristen dan ditambah dengan tiga guru yang mengajar agama kristen di SMK Negeri 1. Paskah Ekuimene diawali pada pukul 09.30 yang dimulai dengan ibadat ekuimene bersama. Lagu-lagu pujian kepada Tuhan Yesus dikomandankan bersama-sama, kemudian doa, dan selanjutnya pembacaan Firman bersama lalu pujian dan doa penutup. Dalam pembacaan Firman bersama yang dipimpin oleh Alfons Liwun, katekis di Paroki Sungailiat, diambil dari Injil Yohanes 20: 24-29. Setelah baca Firman bersama, Alfons Liwun mengajak siswa-siswi untuk memetik ayat-ayat, atau kata-kata yang mengesan atau menantang atau menarik untuk dibaca secara lantang, supaya para peserta lain ikut merasakan ayat atau kata-kata itu. Setelah proses itu berakhir, baru diberikan penegasan tentang teks Injil yang dibacakan bersama itu.

Alfons Liwun mengajak para siswa-siswi yang merayakan Paskah Ekuimene bersama itu untuk melihat dan memahami tiga hal pokok yang disampaikan Penginjil Yohanes. Pertama, tentang Rasul Tomas. Tomas adalah salah satu dari deretan ke-12 rasul. Tomas memiliki kepribadian yang berbeda dengan ke-11 rasul lain. Kepribadian macam mana yang ditunjukan Tomas ketika Yesus menampakan diri-Nya kepada para rasul lain? Tomas, seorang yang bersikap ragu-ragu. Ia mau melihat Yesus yang bangkit jika ada buktinya. Dan buktinya itu, tidak main-main. Yesus harus menampakan diri-Nya lagi, supaya ia bisa menyentuh  luka-luka Yesus. Meminta bukti menandakan bahwa Tomas tidak bersikap rendah hati. Tomas terkesan orang sombong, tidak mau mendengarkan pewartaan para rasul yang lain. Ia merasa diri lebih hebat, ketimbang para rasul lain. Pertanyaan refleksi untuk kita adalah adakah diantara kita yang bersikap dan berjiwa seperti Tomas? Memang terkadang, kita merasa bahwa kita memiliki ilmu yang hebat. Ilmu yang menunjukkan kebenaran jika ada bukti yang pasti. Ilmu semacam ini baik, tetapi ada ilmu keimanan yang terkadang tidak perlu bukti, tetapi kita perlu menerima pewartaan kebenaran dari orang lain.

Kedua, membangun persekutuan atau dalam ilmu ekklesiologi sering disebut membangun communio. Unsur ‘communio’ ini sangat penting. Tomas dalam Injil Yohanes tadi, dia tidak ada ketika Yesus menampakkan diri-Nya. Penginjil Yohanes tidak menyebutkan pada waktu itu Tomas pergi ke tempat lain. Namun, satu hal yang pasti bahwa dalam persekutuan yang dijanjikan Yesus, Tomas tidak ada. Karena tidak ada maka ketika Yesus yang sudah bangkit itu menampakkan diri-Nya, Tomas tidak tahu.

Efek dari ketidakhadiran Tomas dalam persekutuan itu ialah bahwa Tomas tidak dapat menerima karya pewartaan para rasul lain bahwa Yesus sudah bangkit. Selain itu, syallom yang dibawakan Yesus pun tidak dialami Tomas. Tidak heran kalau hati Tomas mengalami kegetiran, ketakutan, dan kecemasan. Perasaan Tomas ini diungkapkannya, dengan bersikap tidak percaya. Kalau pun percaya, ia butuh bukti.

Pertanyaan refleksi untuk kita adalah apakah ‘percaya’ perlu membutuhkan bukti-fakta nyata? Tidak! Percaya adalah ungkapkan hati kepada Yesus Kristus. Percaya memang terkadang butuh bukti. Tetapi berbeda dengan ‘percaya’ yang satu ini. Percaya ini membutuhkan ‘persekutuan’ atau ‘communio’. Selain itu, pertanyaan refleksi lain adalah apakah kita sering hadir sebagai umat kristen, dalam ibadat pada hari Minggu atau hari-hari lain yang diperintahkan oleh Gereja kita masing-masing? Kehadiran kita bersama adalah wujudnyata dalam membangun persekutuan. Dalam persekutuan itulah, Yesus yang bangkit itu hadir dan membawa syallom untuk kita. Dalam persekutuan, itulah Kristus menunjukkan janji-Nya yang tak pernah dibatalkan oleh kuasa manusia. Janji Yesus boleh kita baca dalam Mat. 1: 23; 18: 20; 28: 20b.

Terkadang, kita banyak omong tentang Yesus, tetapi tidak percaya, tidak beriman. Omong tentang Yesus hanya sebatas ilmu yang kita peroleh. Bukan berasal dari ungkapan iman kita. Orang yang banyak omong tentang Yesus, mengatakan bahwa ia percaya, tanpa berkomunio dengan Yesus dan sesama adalah plin plan. Ia sama dengan Tomas.

Ketiga, Berbahagialah orang yang tidak lihat namun percaya. Perkataan Yesus ini, bertolak belakang dengan sikap dan cara berpikir Tomas. Tentu, Yesus yang bangkit juga mau mengkritik kita yang hanya mengandalkan ilmu pengetahuan dan pembuktian-pembuktian ilmu yang rational. Pernyataan Yesus ini mengetuk pintu hati kita dengan satu pertanyaan ini. Apakah para pengikut Yesus zaman sekarang ini pernah melihat Yesus secara langsung? Jelas bahwa hanya para rasul dan murid perdana Yesus, yang mengalami kehadiran Yesus secara langsung. Tentu kita pengikut-Nya zaman ini, tidak. Tetapi mengapa kita mau menjadi pengikut Yesus atau mengapa kita percaya kepada Yesus? Hal ini karena janji-Nya. Bahwa janji-Nya untuk senantiasa menyertai orang yang percaya kepada-Nya selalu tepat. Janji-Nya tidak pernah terbatalkan oleh siapapun dan oleh apapun. Janji-janji Yesus itu, seperti dikisahkan penginjil Matius dalam Injil, 1:23; 18: 20, dan 28: 20b. Dia senantiasa menyertai umat-Nya sampai akhir zaman. Dengan janji-Nya ini, banyak orang menaruh harapan, menaruh kepercayaan bahwa akan selamat setelah hidup ini.

Acara Paskah Ekuimene bersama anak-anak SMK Negeri 1 yang beragama Katolik dan Kristen itu, kemudian dilanjutkan dengan pelbagai games yang telah disiapkan oleh Panitia. Selanjutnya, sebagai tanda kebersamaan sebagai satu komunitas SMK Negeri 1, mereka makan bersama. Makan bersama membangun keutuhan persaudaraan dan sekaligus meningkatkan toleransi antar siswa-siswi Kristen dan OSIS SMK Negeri 1 Sungailiat. Syallom dan terima kasih SMK Negeri 1 Sungailiat Kabupaten Bangka. ***

Selasa, 29 April 2014

Paroki Sungailiat Menghayati 'Communion of Communities' Dalam Paskah Bersama Antar KBG-KBG

Memaknai Gereja tidak hanya sebatas fisik. Diharapkan pemaknaan Gereja harus sampai pada Gereja adalah 'communio', persekutuan umat Allah yang telah dibaptis dalam Nama Bapa, Putera dan Roh Kudus. Sebagai sebuah persekutuan, Kristus adalah pusatnya. Kristus adalah fokus yang daripada-Nya umat Allah belajar tentang berpusat pada Allah, communio, dan bermisi. Belajar pada Allah berarti belajar bagaimana Allah Bapa, Putera dan Roh Kudus bersekutu dan hidup sepanjang masa dalam wujudnya Cinta Kristus yang telah tanpa pamrih menebus dosa umat manusia.

Sebagai sebuah persekutuan yang menghidupkan Cinta Kasih Kristus yang bangkit, Paroki Sungailiat melaksanakan aksi nyata bersama yaitu perayakan paskah bersama. Paskah bersama tahun ini (2014) bernuasa agak lain. Bahwa setiap umat yang ada di dalam KBG-KBG membangun kebersamaan dalam melaksanakan Aksi Puasa Pembangunan (APP) melalui puasa dan pantang serta mati raga. Jalan yang diambil ini sebagai ungkapan fisik umat KBG untuk bersekutu dalam Kristus menyongsong Paskah 2014.

Kebersamaan dalam KBG-KBG terungkap secara nyata dalam kebersamaan selama pekan suci. Kebersamaan ini tidak hanya sampai disitu. Kebersamaan berlanjut terus hingga puncak kebersamaan yang dirayakan pada 'pesta paskah bersama' di Tanjung Pesona pada minggu, 27 April 2014. Acara kebersamaan ini dimulai pukul 10.00 wib. Acara kebersamaan itu terungkap dalam partisipasi dari setiap KBG-KBG baik KBG yang berdekatan dalam kota hingga KBG-KBG yang berada di luar kota Sungailiat. KBG Sta. Lucia dari Tuing hadir dengan lima mobil. KBG St. Yoh. Pemandu Bedukang hadir dengan dua mobil. Sedangkan KBG-KBG dalam kota dan sekitarnya hadir baik dengan kendaraan pribadi maupun dengan kendaraan carteran KBG-KBG yang bersangkutan.

KBG-KBG datang dengan baju berwarna merah, sehingga Pantai Tanjung Pesona siang itu disulap menjadi 'Pantai Merah Meriah' alias laskar Roh Kudus. Tidak hanya itu, 'laskar merah' hadir dan membangun kebersamaan melalui berbagai game yang disiapkan oleh Panitia Paskah, yang dikomando oleh Bpk. Leo Rachman, cs. Tim game yang dipimpin oleh Bpk. Adrianus Djanu Rombang terlihat tersenyum ria pratanda bahwa kegembiraan dan harapan adalah kegembiraan dan harapan bersama. Kebersamaan dalam game menandakan kebersamaan dalam membangun KBG-KBG. Dengan kebersamaan membangun KBG-KBG, maka secara tidak langsung wajah KBG adalah juga wajah Paroki. Iya...begitulah Paroki adalah communio of communities, persekutuan dari komunitas-komunitas yang ada didalam paroki. 

Dalam kebersamaan ini hadir anggota KBG tua-muda, anak dan remaja dan kaum muda, merasakan sebuah persekutuan yang telah lebih dahulu ditunjukkan oleh Kristus sendiri. Kebersamaan itu tidak hanya sampai pada kebersamaan di Pantai Tanjung Pesona. Kebersamaan itu terus menerus dibangun dan dihidupkan sehingga Gereja yang adalah communio terus eksis sebagai ungkapan communio abadi kita kelak di Surga. Hallelu......




Photo-photo lain dalam Perayaan paskah bersama KBG-KBG Paroki Sungailiat di Pantai Tanjung Pesona 27 April 2014:

Paskah Merah Ibu2 Paroki Sungailiat



Panitia Perayaan Paskah Bersama Paroki 2014

KBG-KBG berpartisipasi dalam game2




Sabtu, 26 April 2014

Kanonisasi Paus Yohanes XXIII dan Paus Yohanes Paulus II Oleh Paus Fransiskus 27 April 2014 Di Vatikan Roma



(Tulisan ini hanya mengenal pribadi kedua pribadi Paus)
 
Paus Yohanes XXIII lahir di Sotto il Monte, Italia, 25 November 1881 dengan nama aslinya Angelo Guiseppe Roncali. Paus Yohanes XXIII dipilih menjadi Paus menggantikan Paus Pius XII, 28 Oktober 1958 dalam usia 77 tahun, dan menjadi Paus dalam Gereja Katolik ke-261. Setelah menjadi Paus, ia sendiri merasa bahwa Gereja Katolik yang dipimpinnya ‘pengap’ karena itu Gereja akan menjadi lebih segar jika ‘jendela-jendela dibuka’ ungkap Paus Yohanes XXIII kepada salah seorang stafnya, pada awal 1959, ketika ia sedang membuka jendela-jendela di kamarnya.

Gagasannya untuk membuka jendela-jendela, ternyata bukan hanya sebuah gagasan kosong. Dalam bimbingan Roh Kudus, bertempat di Basilika St. Paulus, 25 Januari 1959, Paus Yohanes XXIII mengumumkan akan diadakan sebuah Konsili. Maka mulailah ia membentuk komisi-komisi untuk persiapan Konsili. Setelah semua komisi menyiapkan diri dengan matang, tepat pada tanggal 11 Oktober 1962, bertempat di Basilika St. Petrus-Roma,  Konsili dinyatakan secara resmi dibuka. Konsili yang kita kenal sampai dengan sekarang ini adalah Konsili Vatikan II.

Namun, sementara Konsili Vatikan II sedang berlangsung, pada tanggal 3 Juni 1963, Paus Yohanes XXIII meninggal dunia. Pada tanggal 3 September 2000, bersama dengan Paus Pius IX, ia dibeatifikasi oleh Paus Yohanes Paulus II, peringatan Paus Yohanes XXIII, setiap tahun tanggal 11 Oktober, sekaligus peringatan pembukaan secara resmi Konsili Vatikan II. Dokumen-dokumen Konsili Vatikan II hingga sekarang menjadi sebuah dokumen Gereja Katolik yang sangat terkenal baik bagi umat Katolik maupun bagi umat dari agama-agama lain.

Paus Yohanes Paulus II, lahir di Wadowice-Polandia, 18 Mei 1920, dengan nama kecil Karol Jozef Wojtyla. Selama menjadi Uskup Polandia, Paus Yohanes Paulus II turut berpartisipasi dalam Konsili Vatikan II. Dua dokumen hasil Konsili Vatikan II yang merupakan pokok-pokok pikirannya yang berdasarkan pengalaman hidupnya selama masa Nazi di Polandia adalah ‘pernyataan tentang kekebasan beragama’ (Dignitatis Humanae) dan ‘Konstitusi Pastoral tentang Gereja dalam dunia modern (Gaudium et Spes). Kedua dokumen ini sangat aktual untuk dunia dewasa ini.

Karol Jozef Wojtyla atau Paus Yohanes Paulus II dipilih menjadi Paus sejak 16 Oktober 1978. Dalam sejarah Gereja Katolik, Paus Yohanes Paulus II adalah Paus ke-264. Dan selama menjadi Paus, Karol Jozef Wojtyla merupakan Paus yang paling banyak berkunjung ke negara-negara lain. Ada sekitar 129 negara yang dikunjunginya selama menjadi Paus. Termasuk didalamnya negara Indonesia, yang dikunjungi Paus Yohanes Paulus II pada tanggal 8-12 Oktober 1989 di beberapa kota di Indonesia: Jakarta, Medan, Maumere, Yogjakarta, dan Dilli (sekarang Timor Leste). Ketika kunjungannya ke Indonesia, Paus memuji toleransi hidup beragama di Indonesia. Katanya, ‘Di muka bumi ini, tidak ada negara yang begitu toleransi seperti Indonesia.’

Selama menjadi Paus, Paus Yohanes Paulus II membeatifikasi 1.340 orang dan mengkanonisasi 483 beata-beato, dan ini merupakan yang paling banyak selama lima abad terakhir. Paus Yohanes Paulus II, meninggal pada tanggal 2 April 2005, dalam usia 84 tahun, 319 hari. Belum sampai 5 tahun, penggantinya, Paus Benediktus XVI memberikan sebuah gelar venerabillis kepadanya. Dan bertepatan dengan pesta Kerahiman Ilahi, kedua Paus, Paus Yohanes XXIII dan Paus Yohanes Paulus II dikanonisasi menjadi santo oleh Paus Fransiskus, 27 April 2014 di Vatikan Roma.

Kita sebagai satu Umat Allah dalam bahtera Santo Petrus, patut bersyukur dan bersukacita kepada Allah atas karya agung yang dialami oleh kedua Paus kita. Kepada kedua Paus kita, telah berkarya dalam Kristus dan keduanya telah menjawabi panggilan suci Allah untuk melayani seluruh umat manusia. Kita patut berdoa bagi kedua paus ini dan sekaligus kita mohon kepada kedua Paus ini untuk terus mendoakan Gereja kita.

*). dari berbagai sumber.