Sabtu, 18 Agustus 2012
Sabtu, 04 Agustus 2012
DUDUK...
Duduk... apa itu?
Duduk, meletakkan ”kedudukan” kita di atas sebuah tempat yang datar seperti
kursi, bangku, atau tempat lain yang datar yang menjadi tempat untuk duduk.
Duduk... adalah
sebuah sikap bertahan, berkanjang terhadap suatu prinsip. Duduk...adalah posisi
tubuh kita, bisa mendengarkan suatu ajaran atau kotbah atau wejangan dari
seseorang. Duduk adalah penyerahan diri seutuh kepada pribadi yang sedang
mengadakan sesuatu.
![]() |
| Temu Fasilitator waktu luang Sinode II |
Kebertahanan dalam iman menandakan bahwa kita telah menjadi pengikut
Kristus, tegas Paulus kepada umat di Efesus (Ef. 4: 17, 20—24).
Kebertahanan adalah suatu sikap teguh dalam duduk. Kebertahanan, sikap komit.
Mau merasakan kekuatan Allah.
Dan lebih bernilai
lagi, ketika kebertahanan itu terungkap dalam mujizat, 5 roti dan 2 potong
ikan, yang membuat banyak orang menjadi kuat. Bertahan duduk, seperti yang
diminta Yesus dalam Injil Yohanes (Yoh. 6: 24—35), menegaskan, mau
mengalami rahmat Allah. Rahmat Allah yang turun dari surga untuk umat-Nya,
sehingga semua orang yang hadir menjadi satu saudara-saudari, satu Gereja yang
teguh dalam beriman.
Terkadang, kita pun
tidak bertahan untuk ”duduk”. Kita ingin cepat-cepat. Yesus mengajak kita untuk
tetap duduk, dan teguh dalam iman, agar kita mengalami rahmat Allah. Mujizat
dalam hidup. ***
Jumat, 03 Agustus 2012
PESTA PERAK 25 TAHUN MENJADI USKUP KEUSKUPAN PANGKALPINANG
Bapa Uskup Keuskupan Pangkalpinang, Mgr. Hilarius Moa Nurak, SVD menjadi
uskup di Keuskupan Pangkalpinang sejak 2 Agustus 1987, 25 tahun yang lalu. Dan sejak
tanggal 2 Agustus 1972, Mgr. Hila genap 40 tahun menjadi imam di Tarekat SVD
(Societas Verbum Dei).
| Saat Kunjung di KBG Sta. Elisabeth Sungailiat |
Menjadi uskup di wilayah Keuskupan Pangkalpinang dengan beberapa pulau,
Mgr. Hila dikenal dengan sebutan “Bishop of Sea”. Seorang uskup
di wilayah kepulauan memang tidak gampang. Tuntutannya adalah fisik dan mental
yang kuat dan tangguh. Selama 25 tahun, Mgr. Hila telah menghadapi semuanya
ini. Tidak heran jika fisiknya sudah menurun, kelihatannya rambut mulai
beruban, dan sudah beberapa kali sakit, sehingga operasi ganti klip jantung.
Walau demikian Bapa Uskup sampai dengan saat ini tegar dalam berkarya dan
dengan tekun mengunjungi umatnya dari setiap paroki. Spiritnya ini justru
meneladani Ibu Maria, yang selalu peduli dan setia mengunjungi
saudara-saudarinya.
| Saat kunjung ke KBG St. Dominikus Sungailiat |
Dalam karya Mgr. Hila selama 25 tahun ini, beliau telah begitu gegap
gempita membangun apa yang selama ini telah kita sebut Komunitas Basis
Gerejawi (KBG). Perjuangannya supaya KBG-KBG mekar di paroki-paroki
Keuskupan Pangkalpinang. Bahkan sejak Sinode I KBG menjadi prioritas utama
karya pastoral Gereja Keuskupan Pangkalpinang. Perjuangannya terhadap KBG lebih
teguh lagi ketika KBG dibakukannya dalam Sinode II.
Dalam berbagai kunjungannya ke paroki-paroki, Mgr. Hila selalau menekankan
dan mengajak umatnya untuk memprioritaskan hidup pada KBG. Karena KBG itu
sendiri adalah Rumah dan Sekolah bagi Umatnya. KBG sebagai rumah,
didalamnya tiap anggota saling kenal satu sama lain dan bahkan saling membangun
persaudaraan baik antar umat di KBG maupun lintas KBG. KBG sebagai sekolah,
didalamnya tiap-tiap anggota mendapat pendidikan dan memberikan
karisma-karismanya untuk karya pelayanan bersama. Ad multos annos, Mgr.
Hila. We love you, we need you. ***
Sabtu, 28 Juli 2012
MUJIZAT ITU NYATA
Adolf. Heuken
SJ dalam Ensiklopedi Gereja III (1993) memberikan pemahaman kepada kita tentang
mujizat sebagai berikut. ”Mujizat adalah tanda yang menampakan kekuasaan Allah
yang menyelamatkan. Selain itu, mujizat adalah kejadian yang tidak dapat
diterangkan oleh pengalaman kita yang berdasarkan pengamatan alam dan karena
itu bersifat luar biasa.”
Lebih lanjut,
pastor SJ itu menegaskan, ”Peranan mujizat ialah membuka hati dan akalbudi
manusia supaya mengambil sikap positif terhadap tindakan dan Sabda Allah.
Mujizat tidak memaksa orang untuk percaya namun memanggil manusia untuk
menerima pesan Allah.”
Bacaan-bacaan
suci minggu ini (HM. Biasa XVII-28-29/7/2012) mengedepankan suatu peristiwa
harian yang direfleksi lebih dalam mengandung suatu mujizat. Kejadian yang
begitu manusiawi sekali itu adalah ”makan - makanan.” Dalam peristiwa makan itulah, Allah hadir dan menyertakan campurtangan-Nya.
Allah hadir dan membuka mata hati setiap manusia untuk menerima pesan yang
disampaikan Allah melalui peristiwa makan.
Makan, secara
biologis dipaham untuk mengeyangkan rasa lapar. Bunyinya pemahaman ini agak
duniawi. Tetapi makan sebenarnya adalah Allah mau membagi kemurahan-Nya melalui
bahan makanan bagi manusia yang sudah kooperatif dengan Allah dalam membangun
dunia, begitulah bacaan pertama menegaskan (2Raja-raja 4:42-44).
Selain itu,
dalam bacaan kedua (Ef. 4:1-6) melukiskan, peristiwa makan, menunjukkan Allah
hadir dan bersama manusia memelihara ikatan kesatuan, baik antar sesama maupun
dengan Allah sendiri. Dan dengan lebih tegas, Yohanes (6:1-15), menunjukkan
suatu kejadian yang luar biasa dalam tulisannya bahwa makan bersama yang diadakan
Yesus di Gunung Horeb itu telah mendatangkan kebersamaan, persatuan, dan
komunio yang saling berbagi.
Dalam
kebersamaan-Nya dengan khalak ramai yang datang, termasuk perempuan dan
anak-anak kecil yang hadir, Yesus mau menyatakan bahwa kebersamaan umat dengan
diri-Nya adalah sebuah Gereja. Gereja perlu pemersatu. Dan pemersatu yang inti
itu adalah ”makan bersama” dan ’kesatuan Gereja dengan hierarkinya” yaitu para
rasul dan pendiri Gereja itu sendiri.
Mujizat 5 ketuk
roti dan 2 potong ikan, sama dengan 5000 laki-laki menunjukkan bahwa kehadiran
Kristus dalam peristiwa itu menghadirkan anugerah yang luar biasa bagi manusia,
bagi Gereja-Nya. Memang benar bgeitulah, mujizat itu nyata! Maka pertanyaan
refleksi untuk kita adalah ”apakah sebagai orang Katolik yakin bahwa Allah dalam
diri Yesus selalu hadir dalam hidup kita? Apakah kita selalu berpusat pada-Nya,
membangun communio dengan Yesus dan sesama serta bermisi bagi dunia seperti
anak kecil yang sanggup memberi dari kepunyaannya sendiri? ***
Sabtu, 21 Juli 2012
BELARASA
Hati terpanggil untuk
melakukan tindakan menolong, merasakan, keberpihakan, dan mau membantu. Semua
makna ini, dilakukan dengan kejujuran, ketulusan, dan niat yang jernih.
Yeremia dalam (23:1-6) menerawang jauh, bahwa akan genap janji Allah. Janji Allah yang
dimaksudkan itu ialah ”Tunas Daud.” Tunas Daud yang belarasa, yang bersikap
adil terhadap bangsa-Nya. Bersikap peduli dan mau mengangkat derajad umat-Nya
yang sedang dalam penindasan.
Tunas Daud yang
disampaikan Yeremia, ternyata memiliki kepribadian yang unik. Paulus kepada
umat di Efesus (2:13-18), memberikan ciri keunikkan itu. Bahwa unik karena keberanian-Nya
menyatukan segala konflik perbedaan, segala persoalan hidup yang tercerai berai
dengan darah-Nya sendiri. Bahwa kalian yang dulu jauh, kini dekat karena darah
Kristus. Darah pemersatu dan darah perdamian bangsa. Darah-Nya mengingatkan
suatu kedekatan umat dengan diri-Nya sendiri. Darah-Nya adalah pengorbanan
untuk banyak perbedaan, persoalan dalam hidup dan memberikan meterai untuk
tetap berjuang bersama dengan Dia.
Belarasa, yang
diungkapkan-Nya dalam pengorbanan, darah-Nya sendiri itu, hidup terus dan
menyegarkan umat-Nya. Markus dalam Injil, melukiskan kerinduan umat-Nya untuk
tetap hadir dan ada bersama-Nya dalam makan bersama.
Karena, makanan yang
dikonsekrirkan adalah diri-Nya sendiri. Dari pada-Nya mengalir aliran-aliran
air yang menyegarkan jiwa-jiwa yang letih lesuh. Maka pertanyaannya adalah
”apakah darah-Nya yang mengalir dalam jiwa kita, memberikan kehidupan juga bagi
orang lain yang ada di sekitar kita?” Lima roti dan dua potong ikan, (Mrk.6:30-34) telah
memberikan kehidupan baru, maka kita pun harus berani memecah-mecahkan diri dan
memberikan kepedulian bagi sesama kita. ***
Kamis, 19 Juli 2012
"KITA DIPANGGIL SEPERTI AMOS"
Pernahkah kita
menyadari diri sebagai orang yang terpanggil, untuk menjadi seorang nabi? Lalu
ingatkah kita, kapan dan dimana, kita dipanggil Tuhan untuk tugas seorang
nabi?Adalah Amos, dia seorang pemungut buah ara hutan. Bukan
hanya itu, dia juga seorang peternak domba. Dia berasal dari Tekoa (1:1). Latar
belakang hidupnya seperti ini, Amos tetap menyadari hidupnya sebagai seorang nabi.
Seorang yang ditugaskan Tuhan untuk mewartakan kebenaran dan keadilan Allah di
Kerajaan Israel yang waktu itu dalam situasi sosial yang kacau balau.
Rupanya
pewartaannya, menjadi kontroversial dengan para imam di Betel, yang mengangap
Amos sebagai seorang nabi bayaran. Karena itu kehadiran Amos menjadi saingan
bagi mereka. Sehingga tidak heran, Amos pun diusir dari Israel untuk pergi ke
Yehuda. ”Pelihat, pergilah, enyahlah ke tanah Yehuda. Carilah makananmu di sana
...”(7:12). Nabi, dianggap melawan tatanan sosial yang sudah ada. Dianggap
merusak situasi yang sudah baku.
Kehadiran Amos,
membuka ruang bagi hadirnya kebenaran dan keadilan. Kehadiran Amos, mau
memberikan terang Sabda Allah bagi Raja Yerobeam yang tengah hidup dalam
kemewahan.
Kehadiran Amos,
menyadari kita bahwa sesulit apapun dalam hidup setiap hari, nilai keadilan dan
kebenaran, tidak dapat direduksi dengan nilai-nilai ekonomis. Keadilan dan
kebenaran adalah keutamaan secara sosial dan edukasi dalam mewujudkan
perdamaian yang beradab.
Nilai-nilai ini pun
diperjuangkan oleh Rasul Paulus dalam bacaan kedua. Bahwa kebenaran dan
keadilan hadir saat ini jika orang harus bertobat, memberi pengampunan terhadap
setiap orang yang bersalah, berdosa. Dan membuka ruang hati kita untuk penerima
masukan dari Yesus, sehingga karya perutusan-Nya menjadi tidak sia-sia. ***
Senin, 09 Juli 2012
"Negative Thinking"
| Sebuah Pabrik di Simpang Bedukang Kab. Bangka (2011) |
Negative thinking,
diartikan sebagai pikiran negatif. Apa yang dipikirkan
seseorang itu memiliki nilai-nilai yang negatif, baik maksudnya maupun
tujuannya. Negative thinking dari seseorang dapat dipahami oleh orang lain,
bila sudah diungkapkan entah itu melalui verbal ataupun melalui non verbal.
Negative thinking
pun rupanya ada dipikiran seorang nabi, namanya Yehezkiel (bdk. Yeh. 2: 2 – 5).
Ketika ia diutus oleh Allah untuk mewartakan Sabda Allah kepada umat Israel,
Yehezkiel sendiri menolak. Dia menolak karena negative thinking terhadap umat
Israel. Bahwa Israel sendiri adalah bangsa pemberontak.
Karena itu, ia takut
bila diutus Allah ke Israel. Tetapi, Allah tetap meyakinkan Yehezkiel agar
tugas perutusan itu dilaksanakan. Allah meyakinkannya bahwa misi tetap
dijalankan, tidak bisa tidak. Walaupun umat Israel dengan situasi semacam itu.
Soal Israel, yang pemberontak itu mendengar Sabda Allah atau tidak, itu bukan
urusan Yehezkiel.
![]() |
| Brisur ancaman menjelang Pilgub Babel 2007 |
Negative thinking
juga ada didalam diri rasul Paulus (2Kor. 12: 7 – 10). Paulus merasa bahwa apa
yang dipikirkan secara negatif itu, merupakan ”beban dalam karya perutusan”.
Karena itu, dia meminta kepada Kristus agar diambil dari dirinya sehingga ia
mewartakan Sabda Allah dengan lebih tenang.
Negative thinking
juga adalah dalam diri umat Nazareth yang sedang mendengarkan pewartaan Yesus.
Mereka bukan mengagumkan kehebatan Yesus, tetapi berpikir negatif terhadap
latar belakang Yesus.
Negative thinking,
sering ada dan berakar dalam diri umat katolik. Sehingga terkadang muncul
ketakutan, kecemasan dan kecut terhadap keputusan/hambatan yang dihadapi dalam
hidup. Apalagi dalam hubungan dengan hidup sebagai anggota gereja. Banyak orang
takut, cemas, dan malu menjalankan tugas perutusan Kristus. Seperti Yehezkiel
dan Paulus, kita pun hendaknya semakin dekat dengan Kristus agar terus menerus
dimotivasi Kristus untuk hidup dalam ”Positive thinking.” ***
Langganan:
Postingan (Atom)
-
Catatan kecil ini dibuat oleh Alfons Liwun dari Pengantar RD. Frans Mukin pada pelatihan fasilitator KBG-KBG Paroki Regina Pacis-T...
-
Isi tulisan Mas Bambang Harsono: Saya kutip kembali isi tulisan Mas Bambang Harsono berikut ini: DOA HORMAT THS-THM. Manakah yang be...
-
(sebuah catatan kritis terhadap tulisan Mas Bambang Harsono tentang: DEMO (Pertunjukan) sebagai sarana Promosi THS-THM) Tulisan ...


